Jump to content
  • Kemerdekaan indonesia 74
  • Kemerdekaan indonesia 74
  • Kemerdekaan indonesia 74

Search the Community

Showing results for tags 'data center'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

There are no results to display.

There are no results to display.

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 13 results

  1. Data center ini dahulu digunakan sebagai bunker anti nuklir pada masa perang dingin Data center ini dapat bertahan dari sebuah serangan bom atom, sekedar mengingatkan bahwa sebuah bom atom memiliki daya rusak lebih besar dari 50 megaton (50 juta ton TNT) Menggunakan tenaga listrik yang dihasilkan dari dua mesin disel Maybach MTU yang memproduksi 1,5 megawatt listrik. Mesin ini sebenarnya didisain untuk kapal selam, dan hanya beberapa orang di perusahaan pionen yang dapat menjalankannya. Terletak 30 meter di bawah lapisan granit yang berada tepat di bawah Stockholm , Pionen memiliki luas 1.110 meter persegi. Akses internet dengan redundasi tiga lapis, jaringan itu terbuat dari serat optik melalui tiga jalur yang berbeda di bawah gunung. Pionen merupakan salah satu tempat dengan koneksi internet terbaik di Eropa Utara. Pionen berisikan NOC yang mengontrol lima dari data center yang dimiliki Bahnhof, salah satu ISP terbesar di Swedia. Fasilitas tersebut juga berfungsi sebagai tempat hosting colocation jadi apabila ingin, Anda dapat menempatkan server Anda di situ (saya yakin harganya tidak murah) Lingkungan kerja Pionen dilengkapi dengan rumah kaca, air terjun, akuarium air asin sebesar 2.600 liter dan sinar matahari buatan untuk menjaga kenyamanan karyawan 15 karyawan senior bekerja full time di Pionen Berikut gallerynya ndral:
  2. LinkedIn memperkenalkan data center pertamanya di luar Amerika Serikat, yakni di Singapura, dengan luas lebih dari 2.000 meter persegi. Data center terbaru ini merupakan satu dari enam data center yang dimiliki LinkedIn secara global. Sejauh ini, LinkedIn telah menginvestasikan dana sebesar SG$80 juta (sekitar Rp778 miliar) untuk data center itu, yang diharapkan mampu memperkaya pengalaman pengguna LinkedIn yang terus bertumbuh di wilayah Asia Pasifik, termasuk meningkatkan kecepatan dan akses terhadap layanan LinkedIn. Sejak Januari 2013, jumlah anggota LinkedIn di Asia Pasifik bertumbuh lebih dari dua kali lipat hingga mencapai lebih dari 85 juta anggota hingga akhir 2015. Angka ini mencakup lebih dari 16 juta anggota di Asia Tenggara dengan lebih dari 5 juta anggota berada di Indonesia. Selama periode yang sama, pendapatan LinkedIn di Asia Tenggara meningkat lebih dari 3 kali lipat. Data center terbaru di Singapura tersebut akan dimanfaatkan untuk mengelola berbagai akses dan trafik LinkedIn yang berasal dari wilayah Asia Pasifik serta akan membantu mengelola satu per tiga trafik LinkedIn secara global. Selain itu, data center ini juga akan melengkapi kebutuhan penyimpanan dan pemrosesan LinkedIn yang terus bertumbuh mencapai 34% pada tahun ini. “Asia Pasifik merupakan wilayah dengan pertumbuhan jumlah anggota LinkedIn di luar Amerika Serikat. Kami terus berinvestasi untuk memastikan pengguna mendapatkan pengalaman dan pelayanan terbaik, seiring dengan berkembangnya bisnis kami di wilayah ini,” kata Olivier Legrand (Managing Director of LinkedIn in Asia Pacific). “Dengan membangun data center yang dekat dengan para pengguna dan klien di wilayah ini, kami terus berupaya untuk menyediakan layanan yang lebih cepat dan andal. Selain itu, kami ingin berpartisipasi aktif untuk memfasilitasi berbagai kesempatan ekonomi di ASEAN, termasuk Indonesia, Singapura, dan Malaysia.” pungkas Legrand. LinkedIn bekerja sama dengan Singapore Economic Development Board (EDB) sebagai upaya untuk menancapkan eksistensinya di wilayah ini melalui Singapura, termasuk salah satunya adalah pembangunan data center. Hal ini dilakukan untuk mendukung visi EDB yang ingin menjadikan Singapura sebagai pusat digital di Asia.
  3. Raksasa Internet Google berencana membangun pusat data baru yang berlokasi di Tennessee, Amerika Serikat pada awal 2016. Tidak tanggung-tanggung, Google menginvestasikan Rp 8,19 triliun untuk membangun fasilitas itu. Rencananya seluruh proses pembangunan bakal rampung dalam waktu dua tahun ke depan. Data center yang akan dibangun ini menjadi pusat data kelima belas milik Google, dan bakal beroperasi layaknya pusat data yang lain. Di sini Google akan menyokong jaringan Internet di mana seluruh informasi akan disimpan dan diakses oleh pengguna Google. “Keamanan data adalah hal yang sangatlah penting. Satu dari tiap 10 pekerja di sini akan memiliki peran untuk mendukung keamanan,” tegas Ron Bailey, wakil presiden Business development with The Greater Jackson County Chamber of Commerce in Scottsboro, Alabama. Awal 2015 lalu Google sempat mengungkap isi salah satu pusat data mereka. Tempat yang diklaim sebagai salah satu 'otak informasi' Google ini dihiasi oleh deretan sistem komputer besar bak labirin raksasa yang membingungkan. Ruangan yang juga dihiasi oelh pemandangan untaian kabel berwarna-warni inilah yang akan menjadi tempat pemprosesan permintaan pencarian internet dari orang-orang di seluruh dunia. Sistem-sistem komputer ini menjalankan lebih dari 100 ribu server yang memiliki cangkupan ke seluruh dunia dan saling berinteraksi dengan kecepatan super cepat, yaitu 10Gb/s pada jaringan 'Jupiter'. Untuk bisa memenuhi kebutuhan netizen dunia, Google menyadari pihaknya harus membangun sendiri fasilitas yang mumpuni. “10 tahun lalu, kami menyadari kami tidak bisa membeli sebuah jaringan pusat data yang bisa memenuhi kombinasi kebutuhan dari skala dan kecepatan yang kami butuhkan, maka dari itu kami membangun sendiri infrastruktur jaringan untuk perangkat keras dan perangkat lunak bagi pusat data kami, ungkap Amin Vahdat dari Google. Saat ini, generasi terbaru dari jaringan 'Jupiter' milik perusahaan yang didirikan oleh Larry Page dan Sergey Brin ini telah mengalami meningkatkan kapasitasnya menjadi 100 kali lebih efektif, dengan menyalurkan lebih dari satu petabit/detik dari total bandwidth bitesection. Data center terbaru milik Gogle ini akan membantu mengatur lalu lintas informasi netizen di seluruh dunia, bersama dengan fasilitas lainnya yang berada di Singapura, Taiwan, Finlandia, Belanda, Irlandia, Belgia, dan tentunya Amerika Serikat. Google ingin menjaga performanya sebagai perusahaan yang terkenal sebagai analisis 'Big Data' dan dikenal memiliki infrastruktur dengan kecepatan dan performa yang bisa diandalkan. “Dengan mempunyai infrastruktur komputer yang terdistribusi secara luar biasa nantinya kami dapat menyediakan jaringan 'berkelas dunia' yang bisa menghubungkan server bersama.” kata Vahdat.
  4. Perusahaan tenaga nuklir Rosenergoatom sedang membangun pusat data (data center) raksasa di Rusia. Data center itu terletak di dekat pembangkit listrik tenaga nuklir Kalinin, kota Udomlya, sebelah utara Rusia. Ditargetkan pusat data itu akan mengkonsumsi energi hingga 80 megawatt untuk menghidupkan 10.000 server. Energi yang digunakan berasal dari pembangkit listrik tenaga nuklir yang bersebelahan. Sekitar 10 persen dari kapasitas data centersudah dialokasikan lembaga dan perusahaan pemerintah. Sementara itu, sisanya sekitar 90 persen akan dikomersilkan untuk perusahaan-perusahaan swasta. Rosenergoatom telah mendekatiFacebook dan Google untuk menggunakan kapasitas penyimpanan yang tengah dibangun. Penawaran tersebut bersifat "win-win solution". Sebab, peraturan baru di Rusia mengharuskan perusahaan asing untuk menyimpan data warga Rusia di negara terbesar tersebut. Jika sesuai jadwal, gedung tahap pertama data center akan rampung pada Maret 2017 mendatang. Pembangunan gedung itu dipercayakan pada kontraktor lokal CHD Engineering. Untuk gedung saja, proyek data center raksasa diprediksi akan menelan biaya hingga 975 juta dollar AS atau setara Rp 13,4 triliun. Itu belum termasuk pembangunan infrastruktur TI.
  5. Sistem pendingin pada data center adalah sistem yang memakan listrik paling besar. Dengan pengaturan otomatis melalui software, konsumsi daya listrik dapat dipangkas hingga 30 persen. Dewasa ini penggunaan internet bagai aktivitas pokok yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Mulai berkirim email, komunikasi melalui mobile phone, media sosial, transaksi perbankan, dan sebagainya dilakukan lewat internet. Dengan internet saat ini semua memang serba mudah. Namun, pernahkah terpikir ada badan yang mengelola aktivitas virtual sehingga percakapan Anda melalui internet tetap tersimpan dengan aman? Bayangkan saja, data tersebut bahkan masih bisa dilihat setelah beberapa tahun kemudian. Pusat data atau yang biasa disebut data center merupakan lokasi yang aman untuk hosting web server. Data center-lah yang dirancang untuk menjamin bahwa server dan data yang dirumahkan pada lokasi tersebut terlidungi dari risiko kehilangan dan pelanggaran keamanan. Ada beberapa fakta mengenai data center yang penting diketahui. Pentingnya data center di era "big data" Aktivitas virtual yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia memerlukan data center sebagai penjamin keamanan. Bayangkan, dengan adanya pusat data, data yang disimpan dan diunggah dapat diakses di mana dan kapan saja tanpa khawatir akan hilang ditelan zaman. Selain itu, peran data center juga penting bagi aktivitas lain seperti, sistem dalam mesin ATM, e-commerce dan banyak lagi. Tak banyak yang tahu, bahwa semua aktivitas itu diolah dan terekam di dalam beberapa server di suatu lokasi bernama data center. Keberadaan data center menjadi krusial meski kadang tak disadari oleh kita sebagai pengguna. Bayangkan, bila server di Google Mail mendadak mati dan tak berfungsi, bagaimana bisa berkirim email? Contoh lain, bila data center yang menyimpan semua transaksi perbankan mati, tentu sangat mengganggu aktivitas para nasabah, bukan? Nasabah akan kesulitan mengambil atau melakukan transfer uang. Selain itu, peran data center juga penting bagi aktivitas lain seperti, sistem dalam mesin ATM, e-commerce dan banyak lagi. Tak banyak yang tahu, bahwa semua aktivitas itu diolah dan terekam di dalam beberapa server di suatu lokasi bernama data center. Tak mudah mengelola data center Mengelola data center tidaklah mudah. Banyak hal dapat menyebabkan perangkat dalam data center menjadi rusak atau terganggu. Suhu ruangan, misalnya. Server, sebagai salah satu perangkat di dalam data center, pada dasarnya mengeluarkan suhu panas sehingga rentan sekali. Apabila terlalu panas, server bisa mati. Sementara itu, suhu yang lembab dapat menyebabkan perangkat di dalamnya mengalami korsleting. Bila terjadi korsleting, perangkat tersebut bisa terbakar. Oleh karena itu, suhu ruangan di dalam data center harus diperhatikan dan dijaga dengan baik. Adapun ancaman lain yang menyebabkan keberlangsungan (uptime) data center terganggu adalah terputusnya pasokan listrik. Inilah ancaman utama bagi data center, terutama pada negara yang pasokan listriknya kurang baik. Penggunaan generator sebagai back up daya dan Uninterruptible Power Supply (UPS) berfungsi sebagai perangkat yang menahan aliran listrik agar perangkat di data center dapat bertahan sampai generator siap memasok listrik. Server pada data center tidak boleh mati walaupun hanya sebentar. Bila terlanjur mati akan memakan waktu yang lama untuk mulai menghidupkannya (start up) kembali. Dapat dibayangkan, bagi aplikasi kritikal seperti perbankan dan penyedia layanan telekomunikasi, hilang fungsi satu menit karena server mati bisa mengakibatkan kerugian miliaran rupiah. Contoh kasus, bila server yang mencatat data biaya penggunaan telepon mati, maka data penggunaan telepon pelanggan akan tidak terdeteksi. Untuk menjaga agar keberlangsungan data center selalu terjaga, diperlukan infrastruktur fisik yang pintar dengan sistem monitoring terpadu. Hal itu berguna untuk memantau dan mencegah segala ancaman yang mengakibatkan matinya perangkat pada data center. Data center memerlukan infrastruktur fisik terbaik Untuk menjaga agar keberlangsungan data center selalu terjaga, diperlukan infrastruktur fisik yang pintar dengan sistem monitoring terpadu. Hal itu berguna untuk memantau dan mencegah segala ancaman yang mengakibatkan matinya perangkat pada data center. Dalam hal ini, Manajemen Infrastruktur Pusat Data atau Data Center Infrastructure Management (DCIM) menjadi penting. Sebagai tambahan, penggunaan software DCIM juga disarankan. Software haruslah berupa aplikasi hasil perpaduan data dari sensor-sensor yang tersebar di seluruh area data center. Dalam perangkat lunak itu akan mencakup data temperatur, data kelembaban, data penggunaan listrik perangkat pada data center, dan banyak lagi. Kondisi dari seluruh area data center dapat termonitor dengan baik dalam satu layar. Dengan demikian, pengelola data center akan diuntungkan dengan efisiensi penggunaan listrik, sebab pengatur sistem pendinginan di dalam area data center akan terjadi secara otomatis. Seperti diketahui, sistem pendingin pada data center adalah sistem yang memakan listrik paling besar. Dengan pengaturan otomatis melalui software, konsumsi daya listrik dapat dipangkas hingga 30 persen. Efisiensi dalam jangka panjang dapat memangkas biaya yang harus dikeluarkan perusahaan. Tak hanya itu. Peranti lunak DCIM juga dapat membantu pengelola data center untuk menghitung dengan cepat kapasitas data center-nya. Selain menjadi peluang efisiensi biaya, hal tersebut juga mempengaruhi kecepatan tim IT untuk mendukung bisnis. Misalnya, pada bank yang berencana untuk menambahkan service internet banking bagi nasabah. Langkah itu berpengaruh pada meningkatnya data yang akan muncul. Selain itu juga meningkatkan jumlah arsitektur IT, seperti server, storage, dan network yang dibutuhkan. Pada banyak kasus, biasanya pengelola data center memiliki cadangan kapasitas di dalam pusat data itu, antara lain berupa server, space atau ruangan ataupun hal lain yang sudah disiapkan bila suatu saat bisnis menuntut penambahan aplikasi. Hal ini biasa disebut over provisioning. Pada dasarnya, cadangan kapasitas memakan biaya karena penggunaannya tidak optimal. Dengan menggunakan solusi DCIM, operator data center dengan cepat dapat menemukan kapasitas yang penuh sehingga bisa memberikan rekomendasi untuk menggunakan kapasitas cadangan agar optimal. Dengan begitu, data center dapat digunakan secara efisien dan menghemat biaya IT bagi perusahaan.
  6. Berbicara soal ruang server hingga pusat data atau data center mungkin sudah bukan hal tabu. Jika dulu hanya jadi "makanan" bagi perusahaan telekomunikasi atau perbankan, kini kedua hal itu sudah menjadi komponen penting di era teknologi canggih. Tetapi, sayangnya, pengetahuan akan pentingnya ruang server atau data center tak diikuti dengan standar penyediaannya. Masih sering ditemukan ruang server dengan infrastruktur sekadarnya. Artinya, asalkan ada ruang server saja, itu sudah cukup. Orang sama sekali tak memperhatikan aspek-aspek yang sebetulnya diperlukan dalam membangun, pengadaan, serta keamanan data center. Masalah pengadaan yang sekadarnya pada data center bisa berakibat fatal. Bayangkan saja, di dalam rak-raknya terdapat server berisi aplikasi dan database, perangkat jaringan dan perangkat lainnya yang terkait dengan sistem operasional perusahaan sehari-hari. Untuk itu, keamanan dinilai sangat penting, karena keberadaan data center merupakan denyut nadi perusahaan. Penyebab terhentinya operasional Di dunia teknologi informasi, disaster tidak diartikan secara harfiah. Kasus terhentinya operasional pada data center, misalnya. Apapun penyebabnya sudah dikategorikan sebagai data center disaster. Untuk itulah, perlakuan pada data center harus khusus, mulai dari struktur bangunan, sumber daya, fasilitas, infrastruktur dan segala hal yang berkaitan dengannya harus sudah memenuhi kaidah dan standar keilmuan yang ada. Salah perlakuan, operasional data center dapat terganggu dan menimbulkan bencana. Bencana alam tentu bisa jadi salah satu penyebab terhentinya operasional. Untuk itulah, lokasi data center begitu diperhitungkan, jangan sampai berada di kawasan yang berpotensi terkena bencana alam. Selain bencana alam, terhentinya operasional juga bisa disebabkan oleh gangguan teknis maupun ulah manusia. Untuk gangguan teknis, penyebabnya kerap tidak terduga. Beberapa kelalaian yang mengakibatkan terganggunya data center diantaranya, kesalahan proses dan input data, pengubahan data, penyebaran virus komputer, perusakan hingga pencurian. Beberapa contoh diantaranya adalah kegagalan arus listrik dan pendingin yang tidak berfungsi, padahal keduanya dibutuhkan agar panas yang ditimbulkan oleh server bisa distabilisasi. Bila hal itu terjadi, akibatnya bisa jadi fatal, mulai gangguan pada software, hardware, hingga jaringan komunikasi. Suhu terlalu lembab juga dapat menyebabkan korsleting pada perangkat di dalamnya. Sementara itu, hal lain harus diperhatikan lainnya adalah kebersihan. Rak-rak server yang berdebu juga dapat mengakibatkan gangguan. Faktor terakhir yang bisa menyebabkan terhentinya operasional data center ialah ulah manusia baik yang bersifat lalai (tidak sengaja) atau disengaja. Beberapa kelalaian yang mengakibatkan terganggunya data center diantaranya, kesalahan proses dan input data, pengubahan data, penyebaran virus komputer, perusakan hingga pencurian. Untuk itulah, keamanan data center sangat dibutuhkan. Jika keamanan sudah direalisasi, kelalaian akibat ketersengajaan atau yang tidak disengaja dapat diminimalisir. Peluang terjadinya data center disaster juga semakin kecil. Tak pelak, perlu standar keilmuan dan prosedur khusus pada segala hal yang berhubungan dengan data center. Standar tersebut dikeluarkan oleh beberapa institusi, di antaranya Uptime Institute dan Telecommunication Industry Association (TIA). Anda mungkin masih ingat dengan ledakan salah satu perangkat pada data center di Jakarta 2012 lalu? Dilansir dari Kompas Tekno, (Baca: UPS di Duren Tiga Terbakar, Beberapa Situs Web Tak Dapat Diakses), kejadian tersebut dipicu oleh salah satu perangkat di dalam data center tersebut mengeluarkan percikan api. Singkat cerita, usai kebakaran kecil dapat ditangani, asap masih terus muncul. Petugas pemadam kebakaran pun menyiramkan air. Berangkat dari hal tersebut, muncul dilema tersendiri. Sudah tepatkah penanganan kejadian tersebut? Di sisi lain, semua perangkat dalam data center sama sekali tak boleh bersentuhan dengan air.
  7. Setelah rencana pembangunan lahan pertanian penampung energi matahari, Apple kembali mengumumkan akan mendirikan dua pusat data baru di Eropa senilai 1,7 miliar euro atau setara Rp 24 triliun. Pusat data akan didirikan di Athenry, Irlandia Barat dan Viborg di sentral Denmark. Tiap fasilitas akan menggunakan energi terbarukan sebanyak 100 persen dan menyediakan layanan online seperti iTunes, iMessage, dan Siri dari pelanggan Apple di Eropa. "Kami bersyukur Apple melanjutkan kesuksesan di Eropa dan bangga bahwa investasi kami mendukung komunitas di seluruh benua," ujar sang CEO, Tim Cook pada situs resmi Apple. Cook melanjutkan, "investasi baru yang signifikan ini mewakili proyek terbesar Apple di Eropa sampai masa sekarang. Kami senang dalam memperluas operasi, menciptakan ratusan pekerjaan lokal dan memperkenalkan sejumlah rancangan bangunan ramah lingkungan kami." Kedua pusat data yang akan berukuran sekitar 166 ribu meter persegi, diharapkan bisa mulai beroperasi pada 2017 mendatang, lengkap dengan tambahan manfaat bagi komunitas lokal di sana. Fasilitas di Irlandia akan melingkupi ruang edukasi outdoor dan skema untuk penanaman kembali pohon-pohon di daerah sekitar. Sementara di Viborg, Denmark, kelebihan panas yang dihasilkan oleh server akan dimanfaatkan untuk menghangatkan rumah lokal. Sebelumnya, Apple juga mengumumkan telah berinvestasi sebesar US$ 850 juta atau sekitar Rp 10,7 triliun untuk membangun solar farm di Monterey, California. "Kami sadar bahwa perubahan iklim akan benar terjadi. Waktu untuk membicarakannya sudah lewat dan kini waktunya untuk bertindak," ujar Cook.
  8. Emerson Network Power dipilih oleh T-Systems untuk membangun salah satu data center modular terbesar mereka di Spanyol. T-Systems mengklaim, data center ini mampu mencetak keuntungan dari tingginya pertumbuhan layanan awan di Eropa. Proyek tersebut bahkan baru-baru ini menerima penghargaan Data Center Market untuk kategori proyek paling inovatif di Spanyol dan mendapatkan pengakuan dari Uptime Institute dalam hal reliabilitas Tier III dengan ketersediaan mencapai 99,98%. Didesain dan dibangun khusus oleh Emerson, fasilitas ini terintegrasi dan bekerja di lokasi tetapnya di Barcelona, Spanyol. Fasilitas ini terdiri dari 38 modul terintegrasi, sekitar 300 rak, dan memiliki kapasitas modular 1,1 MW. Fasilitas ini juga merupakan fasilitas Tier III, yang bisa memberikan ketersediaan 99,982%, redudansi infrastruktur, dan lain-lain. Pembangunan data center ini menjadi dasar program konsolidasi dan transformasi T-Systems yang memungkinkan kami memberikan layanan awan ke seluruh Eropa. Sangatlah penting bagi kami untuk sukses menggunakan data center ini secepatnya demi memenuhi visi T-Systems di masa mendatang. Desain fasilitas baru ini begitu efisien sehingga memungkinkan T-Systems mengurangi konsumsi listrik secara umum sebesar 30%. Hasilnya, T-Systems bisa meraih untung dari penghematan biaya operasi. Sementara itu Scott Borbour (Business Leader of Emerson Network Power) menuturkan, biasanya kontruksi seperti ini memakan waktu 24-36 bulan, namun berkat kemampuan di bidang daya, manajemen panas, kontruksi modular, pihaknya mampu menyelesaikan dalam waktu sembilan bulan. Hal ini memungkinkan Emerson mempercepat penggunaan fasilitas T-Systems dan membantu mereka mewujudkan tujuan bisnis mereka.
  9. Perusahaan teknologi ramai-ramai hengkang dari Rusia. “Pionir”-nya adalah Microsoft yang memindahkan kantornya dari Moskow ke Praha, Republik Ceko. Disusul kemudian dengan Adobe yang menutup kantornya karena merasa aktivitas operasional bisa dilakukan tanpa harus memiliki kantor lokal di Rusia. Yang terakhir adalah Google yang menutup lokasi R&D dan memindahkan seluruh engineer-nya ke tempat lain. Tren ini pun diperkirakan akan berlanjut seiring beredarnya rumor Facebook dan Twitter yang akan melakukan hal yang sama. Masalah utama kaburnya perusahaan teknologi itu adalah aturan baru di Rusia yang mengharuskan perusahaan teknologi global menyimpan seluruh data secara lokal alias di dalam wilayah hukum Rusia. Aturan ini telah diumumkan sejak awal tahun dan resmi berlaku 17 Desember ini. Aturan itu lahir dari kekhawatiran pemerintahan Putin akan nasib data pengguna internet Rusia di tangan perusahaan teknologi tersebut. Putin pernah melontarkan tuduhan kalau perusahaan teknologi seperti Google dan Microsoft dengan sengaja mengumpulkan data pengguna dan menyerahkannya ke lembaga intelijen AS, CIA. Putin bahkan menghimbau warga Rusia untuk tidak menggunakan layanan perusahaan teknologi asal AS agar tidak dimata-matai. Dengan aturan baru ini, perusahaan teknologi global harus menempatkan server-nya di dalam Rusia untuk tetap dapat beroperasi. Namun aturan ini dirasa memberatkan bagi perusahaan teknologi. Selain ketakutan akan intervensi pemerintah Rusia, aturan ini juga memberatkan dari sisi operasional karena harus membangun data center baru di Rusia. Jika ditilik, aturan yang berlaku di Rusia itu mirip aturan PP. No 82/2012 yang dirilis pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Salah satu pasal di PP No. 82 menyebut, semua layanan publik yang digunakan masyarakat Indonesia harus memiliki data center dan DRC (disaster recovery center alias data center cadangan) di wilayah hukum Indonesia. Menurut pemerintah, aturan ini bertujuan memudahkan penegak hukum jika terjadi masalah terkait pengguna maupun layanan sebuah perusahaan internet. Saat ini, PP No. 82 ini dalam tahap penggodokan di level Peraturan Menteri sebelum menjadi landasan hukum yang tetap. Jika resmi berlaku, pilihan pahit menghadang Google, Microsoft, Facebook, dan perusahaan internet global lain: mematuhi aturan tersebut atau hengkang dari Indonesia? Jika menilik kasus Rusia ini, mereka sepertinya tidak segan hengkang daripada mematuhi aturan.
  10. Pionen Data Center Nama tempat tersebut adalah Pionen, yang merupakan pusat data di bawah tanah dan dimiliki oleh Bahnhof, nama Bahnhof sendiri sangat identik dengan sebuah usaha layanan penyedia internet terbesar Swedia. Tempat data tersebut ternyata terletak 30 meter di bawah batu-batu granit. Dibangun di bekas tempat perlindungan bom saat perang, sehingga tempat itu dapat menahan serangan langsung terhadap bom hidrogen. Dua mesin diesel Maybach MTU dari kapal selam digunakan untuk catu daya cadangan. Bersama-sama mereka menghasilkan 1,5 megawatt listrik. Pintu masuk memliki 40 cm tebalnya.
  11. Rak berisi kartrid Blu-Ray di data center Facebook Umumnya, data center menggunakan perangkat berbasis magnet atau flash sebagai media simpan data. Tapi, purwarupa penyimpan data milik Facebook ini berbeda, sebab ia menggunakan keping Blu-Ray yang disatukan untuk membentuk sebuah “cold storage”. Rancangan media simpan yang disebut Facebook sebagai masa depan data center ini unik. Setidaknya ada sekitar 10 ribu keping Blu-Ray yang dipakai untuk menghasilkan ruang simpan data sebesar 1 peta byte. Keping-keping ini disimpan dalam sebuah rak yang bisa menampung 24 “rumah” keping. Di setiap “rumah” tadi terdapat 36 kartrid dan setiap kartrid mampu menampung 12 keping Blu-Ray. Total seluruh keping Blu-Ray yang bisa ditampung satu rak ini adalah 10,368 keping. Sebuah “robot” pun ditugaskan untuk mengatur ruang simpan data ini. Robot dalam rupa lengan otomatis ini bisa mencari lokasi spesifik dari kartrid yang dibutuhkan lalu membukanya dan memilih keping spesifik yang dibutuhkan untuk dibaca atau tulis. Lalu, apa alasan Facebook memilih keping Blu-Ray ketimbang perangkat magnetis atau flash yang saat ini umum dipakai? Menurut Jay Parikh (Facebook VP of Infrastructure Engineering) biaya adalah alasan utamanya. Dengan sistem Blu-Ray ini, data center bisa menghemat biaya hingga 50 persen dibanding jika menggunakan media magnet atau flash. Selain biaya, penggunaan Blu-Ray juga dinilai lebih hemat energi hingga 80 persen, umur data yang bisa disimpan pun relatif lebih lama, sekitar 50 tahun. Kendati lebih hemat dari sisi biaya dan energi, namun Facebook tetap harus berhati-hati saat akan memindahkan purwarupanya ini ke sistem berjalan. Pasalnya, kecepatan baca dan tulis dari keping Blu-Ray adalah beberapa kendala yang harus dipikirikan. Itu sebabnya penyimpan data ini baru digunakan Facebook untuk melakukan arsip terhadap data-data yang jarang diakses, seperti pencadangan foto atau video pengguna. Bukan penyalin data utama yang umumnya butuh kinerja baca tulis yang tinggi.
  12. Bikin data center itu tak mudah. Perlu waktu lama, bisa sampai 2 tahun, dan memakan biaya yang besar. Yang bikin lama antara lain adalah pembangunan bangunan/gedung untuk data center. Sedangkan yang bikin mahal adalah sistem pendinginan dan konsumsi listrik untuk operasional. Maka ini biasanya adalah bisnis jangka panjang. Lalu bagaimana jika perusahaan perlu data center dalam waktu cepat dan hanya perlu menggunakannya selama dua atau tiga bulan? Misalnya untuk perusahaan pertambangan di lokasi terpencil yang tak punya pasokan listrik PLN? Bisakah mereka membuat sebuah data center? Jawabnya adalah bisa. Namun tentu saja tidak perlu membuat bangunan permanen untuk itu. Selain mahal, juga butuh waktu lama! Juga berisiko tinggi. Kalau mau cepat, silakan pilih data center prefab (pre-fabricated). Ini adalah data center yang bisa dibangun sesuai kebutuhan. Modular dengan konsep bak balok-balok lego. “Bukan hanya modular, tapi memungkinkan data center dibangun di atas container yang mobile. Ini teknologi terbaru Schneider. Belum ada yang punya selain Schneider,” kata Michael Kurniawan (Business Vice President, PT Schneider Electric IT Indonesia) dalam jumpa pers Schneider Electric Data Center Solution Day 2014 di Jakarta akhir April lalu (30/4). Data center, tambah Michael, sekarang menjadi hal yang penting, kritikal untuk dimiliki semua perusahaan. Dengan model prefab, menurut Siegfried Drexlar (Enterprise Business Development Manager, ISX Data Center Solutions, IT Business, Schneider Electric Asia Pacifif & Japan), waktu membangun data center bisa dipercepat menjadi 5 – 6 bulan saja. Prefab data center, jelas Drexlar, bahkan bisa ditempatkan di dalam ruangan. Produk ini ditawarkan dalam tiga model: container, skids (tanpa atap/dinding) dan ruang modular. “Manfaatnya adalah dari awal mengurus densitas yang berbeda-beda sejak awal, misalnya untuk raised cooling dan lain-lain. Tidak ada limitasinya. Footprint keseluruhan dikurangi, begitu juga biaya tanah,” urainya lagi. Data center prefab bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Jadi perusahaan bisa saja mulai dengan 10%, lalu memperluas ruang jika dibutuhkan. “Ada banyak desain rujukan dari Schneider,” kata Drexlar sambil mengatakan di seluruh dunia sudah ada 600 proyek untuk prefab data center. “150 proyek di AS, di sektor pertambangan dan gas, juga pertahanan. Kebanyakan single container untuk militer, pemerintahan untuk keperluan disaster recovery,” tambahnya. Kendati teknologi ini tergolong baru, pengguna prefab di Asia pun sudah ada. “Ada 22 container di Asia dari 10 perusahaan,” ungkap Enrique Werner (Business Development Vice President, APJ, AST Modular) kepada InfoKoamputer. Para pengguna prefab data center ini, tutur Werner, berada di negara Cina, Korea, dan Malaysia. Lalu apakah data center prefab cocok untuk Indonesia? Menurut Michael, ya. “Prefab memberikan peluang untuk berkembang dengan sangat cepat. Perusahaan telekomunikasi bisa untuk tambah 1MW setiap bulan misalnya. Bisa dipakai di healthcare, rumah sakit,” katanya.
  13. Perkembangan data yang semakin cepat tak ayal sedikit memaksa penyedia data center untuk lebih meluaskan kapasitasnya. Dewasa ini, kehadiran jejaring sosial pun disinyalir menjadi salah satu penyumbang data terbesar di dunia. Untuk menambah kapasitas data center agar lebih cepat, jejaring terpopuler di dunia, Facebook menggandeng Emerson untuk bekerjasama mengerjakan bangunan data center kedua Facebook di Luleå, Swedia. Luleå 2 akan menjadi proyek pilot untuk “rapid deployment data center” (RDCC) Facebook atau data center yang bisa digunakan secara cepat. Facebook dalam hal ini bekerja sama dengan tim desain data center Emerson Network Power untuk mendesain RDCC. Adapun RDCC Facebook sendiri menggabungkan sejumlah elemen desain modular, termasuk material pra fabrikasi dan pemasangan di tempat demi meningkatkan kecepatan pemanfaatan sekaligus mengurangi penggunaan material. “Kami bekerjasama dengan Facebook untuk memahami keinginan dan kebutuhan mereka, lalu bersama-sama kami mengembangkan solusi yang terpadu, hemat biaya, dan sesuai dengan keinginan mereka,” ujar Scott Barbour (Global Business Leader, Emerson Network Power). Barbour menambahkan, kerjasamanya dengan Facebook ini juga menunjukkan kompetensi Emerson dalam hal konstruksi modular serta memperlihatkan ide masa depan. Emerson mampu memberikan solusi data center yang inovatif, global, dan cepat digunakan yang mencakup desain, konstruksi, perlengkapan infrastruktur penting, sistem manajemen bangunan, dan layanan. “Karena kami sangat fokus pada efisiensi, kami tak pernah berhenti mencari cara untuk mengoptimalkan data center kami, termasuk mempercepat waktu pembangunan dan mengurangi penggunaan material. Kami sangat senang bekerjasama dengan Emerson untuk memulai konsep RDCC di Luleå dan menerapkannya pada skala data center Facebook,” jelas Jay Park (Director of Data Center Design, Facebook). Luleå 2 memiliki luas sekitar 125 ribu kaki persegi (sekitar 11.613 meter persegi) dan Emerson akan mengirim lebih dari 250 modul atau item yang mudah dikirim (shippable) termasuk power skid, pengatur udara yang menguap, tempat pengolahan air, dan solusi superstruktur data center. Data center ini akan dibangun di sebelah bangunan data center pertama Facebook di Luleå, yang online pada Juni 2013. Seperti data center sebelumnya,Luleå 2 akan menjadi salah satu data center paling efisien dan berkesinambungan di dunia, dengan pasokan daya 100% dari energi terbarukan dan menghadirkan desain server, storage, mekanis, dan listrik terbaru dalam Open Compute Project.
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy