Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'daging'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

  • Ngobas Blog
  • Your World

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 10 results

  1. Pemerintah menargetkan harga daging di pasaran mencapai Rp80 Ribu Per Kg selama bulan Ramadan. Untuk mencapai target ini, sejumlah operasi pasar pun ramai dilakukan. Namun, jelang Lebaran, harga daging justru terus mengalami kenaikan. Kenaikan tertinggi terjadi di Aceh yang mencapai Rp160 ribu per kg. Menanggapi hal ini, Ketua Umum Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia Sandiaga Uno mengungkapkan, kenaikan harga daging ini merupakan bukti ketidakefektifan operasi pasar yang dilakukan. Meskipun sempat mengapresiasi kerja keras pemerintah, Sandiaga menilai banyak yang perlu dibenahi untuk menjaga stabilitas daging sapi. "Kalau dilihat dari operasi pasar memang, kita lihat stabilisasi dari segi daging yang tipe daging beku. Tapi kalau daging segar belum tercapai harga yang diinginkan," kata Sandiaga saat ditemui di rumah dinas Saleh Husin, Jakarta, Rabu (6/7/2016). "Saya mengapresiasi langkah pemerintah, tapi terakhir malah seminggu sebelum lebaran harganya makin melambung, dan ini menunjukkan bahwa operasi pasar hanya di permukaan saja," jelasnya. Sandiaga pun menilai rantai pasok menjadi penyebab utama dari kenaikan harga daging sapi segar sepanjang bulan Ramadan. Untuk itu, pemerintah diharapkan dapat memangkas rantai pasok distribusi jauh-jauh hari sebelum Lebaran. "Yang harus diselesaikan itu adalah akar permasalahan, yaitu penyederhanaan rantai distribusi dan mengamankan pasokan," imbuhnya.
  2. Ketika Anda membiarkan apel yang sudah dikupas terkena udara, warna putih daging apel akan berubah perlahan-lahan. Pernahkan Anda bertanya-tanya mengapa daging tersebut berubah warna jadi cokelat? Menurut Today I Found Out, bagian daging apel berubah warna karena mekanisme perlindungan yang dimiliki apel untuk melawan bakteri dan jamur. Pemicu untuk ini adalah kerusakan sel-sel, seperti ketika Anda memotong apel, yang kemudian menghasilkan enzim tertentu di dalam sel yang terkena oksigen. Ketika ini terjadi, enzim bereaksi terhadap oksigen menciptakan lapisan teroksidasi yang menyediakan beberapa perlindungan terhadap benda asing. Lebih teknis, enzim yang disebut polifenol oksidase (juga dikenal sebagai tirosinase), yang terdiri dari enzim monophenol oksidase dan katekol oksidase, bila terkena oksigen akan menghasilkan senyawa fenolik dalam jaringan apel berubah menjadi orto-kuinon atau "o-kuinon". O-kuinon memberikan perlindungan dari bakteri dan jamur karena mereka membentuk antiseptik alami. O-kuinon sendiri tidak memiliki warna, tetapi mereka lebih bereaksi dengan asam amino dan oksigen untuk menghasilkan melanin. Melanin inilah yang menjelaskan bagaimana kita mendapatkan warna coklat pada sel-sel potongan apel. Jika Anda ingin potongan apel tetap berwarna putih, letakkan mereka di dalam lemari kulkas segera setelah dipotong atau sekaligus meletakkan potongan apel di suhu tinggi seperti ketika membuat pie apel. Langkah ini akan jauh melambatkan reaksi kimia dan proses oksidasi. Selain itu, Anda juga bisa melumurkan air lemon di bagian apel yang sudah dipotong agar warna daging tidak berubah cokelat. Air tersebut akan menghentikan oksidasi polifenol dari reaksi dengan oksigen karena asam di dalam air lemon.
  3. Pasar Beriman Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara terkenal menjajakan daging hewan yang dianggap kalangan tertentu ekstrem untuk di konsumsi. Satu di antaranya daging kucing. Di pasar ini, daging kucing untuk konsumsi dibandrol Rp 100 ribu per ekor untuk ukuran besar. Daging kucing memang cukup populer menjadi hidangan lauk. "Kalau sedang bisa Rp 75 ribu sampai 80 ribu. Yang kecil lebih murah lagi," ujar salah seorang Pedagang daging ketika ditemui reporter Tribun Manado Riyo Noor di lapak daging Pasar Beriman Tomohon. Daging Kucing yang diperjual belikan itu sudah dihilangkan bulu-bulunya. Biasanya sebelum diolah bulu-bulu kucing dibakar terlebih dahulu. Menurut Si pedagang, daging kucing dipasok dari luar daerah. Selain kucing dijajakan pula daging anjing dan kelelawar. Daging anjing biasanya dihitung per kilogram. Harga sekilo yakni Rp 30 ribu. Sementara daging kelelawar dijual paketan. 5 Ekor kelelawar dijual Rp 50 ribu. Selain kucing ada biawak Selain di Tomohon, wilayah induknya dulu, Minahasa juga ada pasar yang tak jauh beda. Pasar Langowan, Kabupaten Minahasa juga ditemui penjualan daging yang tak lazim. "Really its break my heart!!!" Tulis Dian Pratiwi di Facebook sambil mengunggah foto Biawak dan beberapa ekor kucing mati, pada Tribunnews.com ia menjelaskan, Sabtu (26/9/2015). "Saya fotonya tadi pagi di Pasar Langowan," jawab Dian Pratiwi saat diwawancarai Tribunnews via Facebook Messenger. Ibu rumah tangga asal Kecamatan Remboken, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara itu mengaku syok dengan apa yang ia lihat di Pasar Langowan Minahasa. Ia bersama suami dan anak-anaknya lama tinggal di Hamilton, Bermuda. Yakni sebuah wilayah di seberang laut Britania Raya di Samudra Atlantik bagian Utara. Letaknya sekitar 933 km dari pesisir Carolina Utara, Amerika Serikat. Ia bersama anaknya kini pulang kampung dan menetap di Remboken. Saat belanja di Pasar Langowan ia melihat pemandangan yang menurutnya memprihatinkan, ia kemudian memfoto dan mengunggah di Facebook. Kontan foto tersebut menjadi viral dan mengundang perhatian banyak netizen. Dalam foto tersebut terlihat dua biawak dengan luka berdarah di kepala sementara berjejer sekitar 7 ekor kucing mati yang sudah hangus atau dihilangkan bulu-bulunya. Biasanya dua jenis hewan ini akan dimasak rica-rica (masakan dengan banyak cabai). "Di sini apa-apa jadi lauk makan. Saya saja daging anjing tidak suka makan (di Minahasa masakan daging anjing sudah wajar saking seringnya dimasak dan jadi lauk-red) apalagi ini kucing dan biawak," jelasnya. Dian mengaku prihatin dengan kondisi ini Biawak yang mulai langka hewan yang seharusnya dilindungi sementara kucing atau anjing adalah hewan peliharaan yang membantu manusia tak selayaknya untuk dijadikan lauk makan. "Daging kucing per ekor Rp 40 ribu sementara biawak Rp 130 ribu tapi tergantung juga besar dan kecilnya," imbuh Dian. Biasanya maraknya daging makanan ekstrem seperti ular, biawak, kucing bahkan monyet yang dilindungi muncul saat akan digelarnya acara Thanksgiving atau pengucapan syukur, tradisi ini sudah berjalan secara turun temurun di wilayah Sulawesi Utara, terlebih di Minahasa. Namun anehnya kali ini muncul juga daging-daging seperti ini. "Saat-saat ini banyak kucing rumahan yang hilang, tampaknya sudah mulai marak, tak hanya anjing yang dipotas (diracun) namun kucing juga," jelas Dian.
  4. Di seluruh dunia, anjing dikenal sebagai hewan yang sangat dekat dengan manusia, bahkan disebut sebagai sahabat terbaik. Namun, hingga kini di berbagai daerah di Indonesia, hewan ini masih menjadi salah satu masakan yang digemari. Warung makan di tanah air, pada umumnya menyediakan menu daging kambing atau sapi, namun di Yogyakarta ada warung-warung yang juga menyajikan daging anjing dalam menu mereka. Sejumlah warung menyebutnya dengan tongseng jamu, karena dianggap punya khasiat menyehatkan badan. Ada ratusan warung semacam ini di Yogyakarta, yang biasanya mulai buka di saat sore hingga dini hari. Heru Purnomo kepada VOA menceritakan, daging anjing memiliki tekstur lebih lembut dibanding sapi atau kambing. Di tubuh, daging anjing juga terasa lebih panas. Meski memiliki anjing, Heru mengaku tidak risih memakan dagingnya, apalagi kebiasaan ini telah dia jalani sejak lebih dari 20 tahun yang lalu, ketika masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. “Saya juga punya anjing, tetapi saya tidak akan pernah membayangkannya ketika makan daging anjing. Bagi saya, saya menikmati ketika ini sudah jadi hidangan. Kalau misalnya ada anjing kampung di depan saya, kemudian dipotong dan saya mengikuti proses penyembelihan dari awal sampai akhir, kemungkinan saya juga tidak mau makan karena kasihan,” kata Heru Purnomo. Kebiasaan mengonsumsi daging anjing oleh sebagian masyarakat Indonesia kini sedang menjadi kontroversi. Organisasi perlindungan hewan, Animal Defenders Indonesia menyebut aktivitas ini tidak berperikemanusiaan. Apalagi, dalam proses penyiapannya, anjing diperlakukan tanpa perasaan sedikitpun. Doni Herdaru Tona dari Animal Defenders Indonesia kepada VOA menceritakan, selama proses transportasi dari berbagai daerah ke kota tujuan, seperti Jakarta, Solo, atau Yogyakarta, mulut anjing diikat dan kemudian dimasukkan ke dalam karung. Sebelum dimasak, anjing tidak disembelih seperti layaknya hewan lain, tetapi dibunuh dengan cara yang kejam, yaitu dengan dipukul kepalanya. Ada pula yang dibunuh dengan digantung atau ditenggelamkan di air. “Konsumen daging anjing ini datang dari perspektif bahwa daging anjing ini punya khasiat medis dan dagingnya murah. Mereka terjebak dalam jargon bahwa makan daging anjing bisa meningkatkan vitalitas seksual, memulihkan badan yang loyo setelah kerja seharian, bisa mengobati asma, bisa menambah trombosit bagi mereka yang sedang kena demam berdarah. Padahal semua itu tidak terbukti secara medis,” kata Doni Herdaru Tona. Animal Defender Indonesia terus melakukan kampanye penyadaran untuk menghapus anjing dari daftar menu makanan di Indonesia. Apalagi, tingkat konsumsinya saat ini masih sangat tinggi. Di Jakarta saja, dalam seminggu setidaknya ada seribu anjing yang masuk dari berbagai daerah, terutama Jawa Barat. Anjing-anjing ini sebagian datang dari peternakan, namun ada pula yang dicuri dari pemiliknya atau ditangkap dari hutan. Drh Widagdo Sri Nugroho, dosen dari Bagian Kesehatan Masyarakat Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Yogyakarta, menilai, kontroversi seputar konsumsi daging anjing adalah sesuatu yang wajar. Namun, dia sendiri menggolongkan anjing sebagai hewan yang tidak pantas dikonsumsi. “Sebenarnya ada pengelompokan hewan atau ternak produksi, dan itu lazim dikonsumsi manusia, misalnya sapi, kambing, domba, dan ayam. Nah, anjing itu termasuk yang tidak lazim untuk dikonsumsi sebagai sumber protein hewani,” kata Widagdo Sri Nugroho. Indonesia, Korea Selatan, Vietnam, China dan Philipina adalah sejumlah negara di dunia yang masyarakatnya masih gemar mengonsumsi daging anjing. Khusus di Indonesia, provinsi yang memiliki tingkat konsumsi tinggi antara lain Jakarta, Sulawesi Utara, Sumatera Utara, dan Yogyakara. Dari empat provinsi itu, menurut data Animal Defenders Indonesia, sekitar 225.000 ekor anjing dibunuh setiap tahunnya untuk dikonsumsi. (www.voaindonesia.com)
  5. Sebuah riset yang dilakukan oleh Organization for Economic Coooperation and Development menyebut bahwa orang-orang di seluruh dunia rata-rata mengkonsumsi 34 kilogram daging per orang selama satu tahun. Daging yang dimaksud adalah daging babi, sapi, unggas dan daging domba. Tentunya, angka tersebut tidak menyebar dengan merata di seluruh dunia. Beberapa negara merupakan 'karnivora' yang mengkonsumsi daging lebih banyak dibanding negara lain. Sedangkan, ada juga negara lain yang warganya hanya mengkonsumsi daging tidak lebih dari 12 tangkup burger per tahun. Harga daging yang terbilang mahal, membuat orang-orang di negara berkembang sedikit mengkonsumsi daging. Seperti halnya dengan aturan tradisi di India, yang kebanyakan adalah warga Hindu, yang membuat masyarakatnya memilih menjadi vegetarian. Dari riset tersebut, diketahui Amerika Serikat dan Australia adalah pelahap daging paling banyak di dunia. Rata-rata, dalam satu tahun, kedua negara itu mengonsumsi sekitar 90 kilogram daging per orang. Tentu saja, angka itu jauh dari jumlah konsumsi warga Indonesia yakni sebesar 10,69 kilogram per orang per tahun. Data dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balibangkes) Kementerian Kesehatan tentang diet total di Indonesia pada 2015, menyebutkan total konsumsi daging, unggas, dan ikan-ikanan masyarakat Indonesia ialah sebanyak 123 gram per hari. Konsumsi yang paling tinggi dari makanan sumber protein ini adalah ikan dan kerang sebanyak 78,4 gram, daging dan unggas 42,8 gram, dan sejumlah kecil jeroan 2,1 gram. Jumlah konsumsi itu masih jauh lebih sedikit daripada negara tetangga seperti Filipina, Vietnam, dan Malaysia yang masing-masing mengonsumsi daging sebesar 28,58 kg/tahun; 51,26 kg/tahun, dan 53,01 kg/tahun. Adapun, dari daftar negara yang disurvei, India dan Bangladesh menempati posisi buncit dengan jumlah konsumsi daging sebanyak 3,25 kg dan 3,24 kg per tahun. Berikut daftar negara pelahap daging terbanyak sepanjang 2015, seperti dikutip dari Techinsider. 1. Australia = 90,2 kilogram 2. Amerika = 90,04 kilogram 3. Argentina = 86,5 kilogram 4. Israel = 86 kilogram 5. Brazil = 78,04 kilogram 6. Uruguay = 75,7 kilogram 7. New Zealand = 72,79 kilogram 8. Chili = 69,8 kilogram 9. Kanada = 69,01 kilogram 10.European Union = 64,81 kilogram 11.Rusia = 60,84 kilogram 12.Arab Saudi = 53,85 kilogram 13.Malaysia = 53,01 kilogram 14.Korea = 51,48 kilogram 15.Vietnam = 51,26 kilogram 16.China = 49,85 kilogram 17.Afrika Selatan = 48,38 kilogram 18.Kazakhstan = 46,69 kilogram 19.Meksiko = 46,65 kilogram 20.Ukraina = 46,21 kilogram 21.Peru = 45,29 kilogram 22.Kolombia = 39,04 kilogram 23.Jepang = 35,67 kilogram 24.Iran = 29,22 kilogram 25.Filipina = 28,58 kilogram 26.Turki = 28,32 kilogram 27.Paraguay = 27,73 kilogram 28.Mesir = 23,44 kilogram 29.Thailand = 19,92 kilogram 30.Algeria = 16,89 kilogram 31.Sudan = 14,45 kilogram 32.Haiti = 13,39 kilogram 33.Pakistan = 12,54 kilogram 34.Indonesia = 10,69 kilogram 35.Ghana = 10,23 kilogram 36.Zambia = 7,80 kilogram 37.Nigeria = 6,54 kilogram 38.Mozambik = 6,35 kilogram 39.Tanzania = 6,25 kilogram 40.Ethiopia = 4,16 kilogram 41.India = 3,25 kilogram 42.Bangladesh = 3,24 kilogram
  6. Polres Kota Depok menyita sejumlah makanan mengandung formalin di Pasar Agung Jalan Proklamasi Sukmajaya. Makanan yang diketahui mengandung bahan pengawet mayat itu adalah tahu, daging sapi dan udang. "Dari hasil tes makanan mentah berupa tahu, daging sapi dan udang mengandung formalin," kata Kepala Satuan Narkoba Polres Kota Depok Komisaris Civick Tjangkung, Rabu (30/12) seperti diberitakan Antara. Civick memimpin langsung operasi pemeriksaan makanan mengandung zat berbahaya di sejumlah pasar tradisional dan supermarket di kawasan Depok tersebut. Selain tahu, daging dan udang, polisi juga menemukan tahu goreng dan ikan tongkol mengandung formalin. Tahu dan ikan tersebut dijual di Pasar Musi. Saat ini makanan-makanan tersebut diamankan petugas untuk diperiksa dan diproses lebih lanjut. "Makanan berformalin itu kebanyakan dari luar Depok seperti ikan tongkol dari Muara Karang dan daging dari Bojongsari," ujar Civick. Pemeriksaan terhadap makanan ini dilakukan sebagai salah satu kegiatan operasi cipta kondisi jelang tahun baru. Operasi cipta kondisi ini dilakukan merupakan perintah langsung dari Polda Metro Jaya untuk menjaga keamanan dan ketertiban di masyarakat jelang pergantian tahun.
  7. Daging merah dikaitkan dengan meningkatnya risiko stroke. Dan risiko stroke semakin meningkat ketika seseorang makan lebih banyak daging, berdasarkan sebuah studi terbaru. Para peneliti menganalisis data dari sekitar 11 ribu orang paruh baya yang tidak memiliki faktor risiko lain penyebab stroke, misalnya diabetes atau penyakit jantung. Penelitian dilakukan selama 23 tahun. Hasilnya, mereka yang mengonsumsi daging merah memiliki risiko 47 persen lebih tinggi mengalami stroke iskemik, yang disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah yang memasok darah ke otak, dibandingkan dengan mereka yang makan sedikit daging merah. Meskipun beberapa penelitian sebelumnya mengaitkan pola makan protein tinggi dengan stroke, penelitian ini membantu memperkuat bukti bahwa daging merah dapat menimbulkan bahaya,” kata Bernhard Haring dari Pusat Gagal Jantung di Universitas Wuzburg, Jerman. “Tidak apa-apa memakan daging merah, namun sebaiknya daging merah tanpa lemak, selama Anda membatasi jumlahnya,” kata Haring seperti dilaporkan oleh Reuters. Untuk menilai hubungan antara konsumsi protein dan risiko stroke, Haring meninjau data dari kuesioner tentang pola makan yang diisi oleh warga Amerika Serikat berusia 45 sampai 64 tahun. Penelitian tersebut dimulai pada 1987, para peserta diikuti sampai 2011 untuk melihat berapa banyak orang terkena stroke. Asupan daging olahan tertinggi seperti bacon, sosis dan dendeng dikaitkan dengan risiko stroke 24 persen lebih tinggi. Sementara, konsumsi tertinggi daging merah dikaitkan dengan meningkatnya risiko stroke sebesar 41 persen, dibandingkan dengan orang-orang yang tidak banyak mengonsumsi makanan-makanan tersebut. Stroke iskemik adalah kondisi medis yang disebabkan oleh terganggunya aliran darah ke dalam otak, akibat sumbatan pembuluh darah di dalam otak karena gumpalan darah. Sebelumnya daging merah juga dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker kolorektal. Oktober lalu, WHO menyebutkan bahwa hasil penelitian yang mereka lakukan menunjukkan bukti signifikan bahwa produk olahan daging merah berkontribusi terhadap peningkatan risiko kanker kolorektal pada manusia.
  8. Kamu penggemar ikan? Jika kamu perhatikan, ikan adalah salah satu bahan makanan hewani yang cepat matang. Ya, ikan hanya perlu dimasak beberapa menit saja untuk dapat mematangkan keseluruhan dagingnya. Bahkan beberapa jenis masakan ikan menggunakan daging ikan yang masih mentah dan dimakan begitu saja. Kenapa bisa begitu ya? Padahal daging lain seperti daging ayam atau sapi butuh waktu cukup lama untuk mematangkannya? Susunan otot ikan memang beda dengan susunan otot daging hewan darat pada umumnya. Ikan membutuhkan otot yang dapat membantunya bergerak dengan gesit di dalam air. Untuk itulah, otot ikan tersusun atas serat yang lebih tipis dan pendek dibandingkan serat pada otot hewan darat. Akibatnya, otot dalam daging ikan akan lebih mudah diurai, baik secara kimiawi (misalnya saat dimasak) atau secara mekanis (dikunyah atau dipotong). Inilah mengapa daging ikan dapat disantap meskipun dalam keadaan mentah. Bandingkan jika daging sapi yang disantap dalam keadaan mentah, pasti mulut dan gigi kita kita harus bersusah payah untuk mengunyahnya. Selain itu, ikan juga hampir tidak mempunyai jaringan ikat seperti tulang rawan, tendon, dan sebagainya. Ikan tidak memerlukan jaringan ikat yang bagi hewan darat sangat penting untuk menopang dan mengikatkan tubuh ke tulang-tulang mereka. Tentu saja ikan tidak butuh jaringan tersebut, mengingat tubuh ikan hampir seluruhnya merupakan otot (daging), dengan sedikit tulang di tengahnya. Pada hewan darat, jaringan ikat tersebut menyumbang cukup banyak protein yang saat dimasak berubah menjadi gelatin. Karena itulah, daging ikan tergolong lebih empuk dan kering setelah matang dibandingkan dengan daging hewan darat. Ikan yang tergolong berdarah dingin ini juga mengandung lemak yang sedikit. Semua hal di atas mengakibatkan daging ikan sudah dapat matang hanya dalam beberapa menit saja, tergantung pada ketebalan daging ikan yang kita masak.
  9. Memasak menggunakan api mengubah protein secara kimia. Dalam proses ini, akan terbentuk zat penyebab KANKER, "benzopiren" dalam beberapa makanannya, terutama yang sudah gosong. Dalam buangan gas, asap cerobong pabrik, dan asap rokok pun ditemukan benzopiren.
  10. DAGING yang dibekukan akan sulit bila dicairkan. Ada yang memilih mencairkan di dalam kulkas dan ada pula yang memilih menggunakan suhu kamar. Lalu, bagaimanakah cara yang tepat mencairkan daging beku? Untuk menjawab pertanyaan soal keamanan makanan dalam pencairan daging beku, maka ente bisa melihat ke dalam buku kuliner yang diterbitkan oleh National Restaurant Association Educational Foundation. Pencairan daging beku gak dilakukan dengan meninggalkannya begitu saja di atas meja, karena cara ini bukan merupakan yang paling aman untuk dilakukan. Melansir Thekitchn, cara terbaik dan mutlak dalam mencairkan daging beku adalah dengan meninggalkannya di dalam lemari es hingga benar-benar cair. Caranya adalah ambil daging yang akan dimasak, lalu taruh ke dalam wadah untuk tempat air yang mencair dari es yang menempel di dagingnya, letakkan pula piring di bagian bawahnya. Trik ini akan membuat bakteri, kuman, maupun kotoran yang ada di daging meleleh selama sekira 20 menit atau sekira satu hingga dua jam untuk daging berukuran besar. Ente pun juga bisa mencairkan di dalam microwave, hanya saja harus berhati-hati karena microwave bisa memasak daging sebelum dicairkan.
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy