Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'burung'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

  • Ngobas Blog
  • Your World

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 9 results

  1. Burung liar di sekitar bandara bisa menabrak pesawat terbang atau tersedot mesin jet sehingga membahayakan keselamatan penerbangan. Otoritas bandara sering memakai anjing atau bunyi keras untuk menghalau kawanan burung, namun menurut perusahaan Belanda, burung robot produksinya jauh lebih efektif.
  2. Pernah, nggak, di jalan atau di mall, ketemu cewek cantik banget dan pakaiannya minimalis, terus ereksi? Itu wajar banget, kok, bagi seorang cowok. Wajar di sini, bukan berarti wajar mikir aneh-aneh, ya.. Wajar di sini maksudnya kalau itu manusiawi. Hehe.. Selain itu, seringkali pagi-pagi penis mengalami ereksi. Emang ada pengaruhnya gitu sama waktu? Nggak, Sob! Ereksi itu nggak ada hubungannya sama sekali dengan waktu. Pada dasarnya, produktif hormon pemicu gairah seksual mengalami turun-naik tergantung usia, kematangan seksual, aktivitas sehari-hari, dan waktu tidur. Intinya, ereksi ini nggak bisa "dihindari" karena memang bisa terjadi kapan dan di mana saja. Penyebab terjadinya ereksi ini bisa disengaja dan tidak disengaja. Disengaja misalnya dipancing dengan sentuhan atau rangsang lain yang masuk lewat panca indera, seperti nonton film biru, dan sebagainya. Sedangkan yang nggak disengaja ini tergantung kebutuhan biologis tubuh, kayak bangun pagi, dan sebagainya.
  3. Kita sering memakan telur sebagai lauk, tetapi mungkin kita tidak tahu Fakta-Fakta menakjubkan dari sebuah telur.... 1. Cangkang telur terbuat dari karbonasi kalsium, yang juga menjadi bahan antasida. Cangkang telur ini memiliki berat 9-12% berat telur, dan berisi pori-pori yang memungkinkan oksigen, karbon dioksida, dan uap keluar 2. Menurut Iowa Egg Council, bahan utama putih telur adalah protein yang disebut albumen, dan juga berisi niacin (vitamin B3), riboflavin (vitamin B2), magnesium, potassium, sodium, dan belerang. Putih telur berisi 57% protein telur. 3. Warna kuning telur ditentukan oleh makanan induk ayam.Semakin banyak pigmen kuning dan orange yang dimakan induk ayam, semakin jelas warnanya. 4. Warna lain dalam telur bervariasi dengan usia dan faktor lainnya. Menurut Egg Safety Center, putih telur yang berawan menunjukkan bahwa telur sangat segar. Putih telur jernih menunjukkan telur mulai menua, putih telur berwarna pink atau warna- warni berati telur rusak, dan telur ini tak boleh dikonsumsi. 5. Darah yang kadang terlihat dalam telur berasal dari pecahnya pembuluh darah kecil di kuning telur. Seperti dikutip dari lifelittlemysteries, hal ini tidakk berarti telur tidak aman untuk dimakan. 6. Saat keluar, telur memiliki suhu sekitar 105 derajat Fahrenheit. Ketika dingin, cairan dalam telur berkontraksi, dan membentuk sel udara di antara dua lapisan ujung telur. Anda bisa melihat sel udara itu saat telur rebus dikupas. 7.Rata-rata induk ayam bisa menghasilkan 250-270 telur per tahun. 8. Telur putih disukai sebagian besar Amerika Serikat (AS), tapi telur cokelat lebih disukai di Inggris. Warna induk ayam mengindikasikan warna telurnya. Menurut American Egg Board, tak ada perbedaan signifikan antara warna telur. 9. Butuh waktu 24-26 jam bagi telur agar terbentuk di dalam induk ayam. Pertama, sel telur berkembang menjadi kuning di dalam ovarium. Pada ovulasi, folikel pecah, dan kuning telur dilepaskan ke dalam tabung yang disebut saluran telur. Pada perjalanannya melalui tabung ke rahim, albumen disimpan di sekitar kuning telur, dan kemudian membentuk membran di sekitar albumen. Cangkang terbentuk dalam rahim. Kemudian telur keluar, dan setelah sekitar 30 menit, proses bertelur bisa dilakukan lagi. 10. Sekitar 75 miliar telur diproduksi di AS tiap tahun, yaitu sekitar 10 % total telur dunia. Dari jumlah tersebut, 60 % digunakan untuk konsumsi, 9 % digunakan industri jasa makanan. Sisanya diproses dan digunakan untuk produk seperti mayones, marshmallow dan campuran kue. China merupakan pemasok telur terbesar, memproduksi sekitar 390 miliar telur tiap tahun, sekitar setengah pasokan dunia. 11. Kalkun juga bertelur, tapi Anda tak akan menemukan telur kalkun di toko. Kalkun butuh ruang untuk bersarang, sehingga mereka memiliki naluri keibuan kuat daripada ayam. Alhasil, mengambil telur mereka sulit dilakukan. Dinosaurus juga bertelur, dan terkadang ayah dinosaurus bertanggung jawab 'menduduki' mereka, menurut penelitian edisi Desember 2008 jurnal Science. 12. Bahkan, analisa sarang telur dinosaurus lain membantu memecahkan teka-teki kuno. Peneliti Canada melaporkan bahwa telur ada sebelum ayam, karena dinosaurus membentuk sarang dan bertelur jauh sebelum burung (termasuk ayam) ada yang merupakan hasil evolusi dari dinosaurus, menurut penelitian di jurnal Paleontologi 2008.
  4. Dinosaurus kecil mirip-unggas asal Amerika Utara menetaskan telur-telurnya dengan cara sama seperti yang dilakukan burung-burung pengeram - hal ini serta merta kian memperkuat kaitan evolusi antara burung dan dinosaurus. Salah satu dari sekian banyak misteri yang ingin diungkap oleh para paleontologi adalah mengetahui cara dinosaurus menetasi telur. Apakah telurnya dikubur dalam material sarang, seperti yang dilakukan buaya? Ataukah ditetaskan dalam sarang yang terbuka tanpa penutup, seperti yang dilakukan burung pengeram? Dengan mengacu pada sekumpulan telur yang ditemukan di Alberta dan Montana, peneliti Darla Zelenitsky dari University of Calgary, bersama David Varricchio dari Montana State University, secara ketat meneliti cangkang fosil telur milik dinosaurus kecil pemakan daging yang disebut Troodon. Dalam temuan yang dipublikasikan dalam edisi musim semi jurnal Paleobiology, mereka menyimpulkan bahwa spesies dinosaurus ini, yang diketahui meletakkan telurnya dalam posisi yang nyaris vertikal, mengubur telur-telur hanya pada bagian bawahnya ke dalam lumpur. Darla Zelenitsky dari University of Calgary, berkolaborasi dengan David Varricchio dari Montana State University, secara seksama meneliti cangkang fosil telur milik dinosaurus kecil pemakan daging yang disebut Troodon. (Kredit: Jay Im – University of Calgary) “Berdasarkan perhitungan kami, cangkang telur milik Troodon sangat mirip dengan burung pengeram, memberi petunjuk bahwa dinosaurus ini tidak sepenuhnya mengubur telur ke dalam material sarang seperti yang dilakukan buaya,” jelas Zelenitsky, asisten profesor geosains. “Telur maupun sedimen di sekitarnya menunjukkan tanda-tanda penguburan yang hanya bersifat parsial; memungkinkan dinosaurus dewasa bisa bersinggungan langsung dengan bagian sisi telur yang terbuka selama masa inkubasi,” kata Varricchio, profesor paleontologi. Meski gaya bersarang Troodon bersifat tidak lazim, “namun terdapat kesamaan dengan penetas khas di antara burung-burung Plover Mesir yang mengerami telur-telurnya sementara sebagian dari mereka menguburnya dalam substrat sarang berpasir,” tambah Varricchio. Para ahli paleontologi tiada henti berupaya menjawab pertanyaan tentang bagaimana dinosaurus menetaskan telurnya, namun selama ini terhalang akibat kelangkaan bukti seputar perilaku inkubasi. Sebagai kerabat dinosaurus yang paling dekat, buaya dan burung bisa menjadi media yang menyodorkan beberapa jawaban terkait. Para ilmuwan mengetahui bahwa buaya dan burung yang mengubur telurnya, terdapat lebih banyak pori-pori pada cangkang telurnya, memungkinkan terjadinya respirasi meski dalam keadaan terkubur. Berbeda halnya dengan burung-burung pengeram yang tidak mengubur telurnya; jumlah pori-pori pada telurnya lebih sedikit. Para peneliti menghitung dan mengukur pori-pori pada cangkang telur Troodon untuk menilai bagaimana terjadinya penguapan air yang melalui cangkang, kemudian dibandingkan dengan telur dari buaya, burung bersarang-gundukan dan burung pengeram. Mereka optimis metode ini juga bisa diterapkan pada fosil telur spesies-spesies dinosaurus lainnya untuk mengungkap cara inkubasi yang mereka lakukan. “Untuk sementara, penelitian khusus ini membantu membuktikan bahwa beberapa perilaku menetas seperti yang dilakukan unggas sudah berevolusi pada dinosaurus pemakan daging sebelum kemunculan unggas di muka bumi. Hal ini juga kian menambah bukti yang menunjukkan eratnya kaitan evolusi antara burung dan dinosaurus,” ungkap Zelenitsky
  5. “Suara yang dikeluarkan burung menawarkan beberapa analogi terdekat padabahasa,” tulis Charles Darwin dalam “The Descent of Man” (1871), selagi ia merenungkan tentang bagaimana manusia belajar berbicara. Darwin berspekulasi, bahasa mungkin memiliki asal-usul dalam nyanyian, yang “mungkin telah memunculkan kata-kata ekspresif berbagai emosi yang kompleks.” Kini para peneliti dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), bersama seorang sarjana dari Universitas Tokyo, menyimpulkan bahwa Darwin berada di jalur yang benar. Studi mereka menemukan keseimbangan bukti yang menunjukkan, bahasa manusia merupakan pencangkokan dari dua bentuk komunikasi yang ditemukan pada spesies lain dalam kerajaan hewan: pertama adalah nyanyian rumit burung, dan kedua, yang cenderung lebih bermanfaat, adalah jenis ekspresi informatif yang terlihat pada jenis variatif hewan lain. “Kombinasi adventif inilah yang memicu bahasa manusia,” kata Shigeru Miyagawa, seorang profesor linguistik di Departemen Linguistik dan Filsafat MIT, salah satu rekan penulis dalam studi ini. Gagasan ini dibangun berdasarkan hasil penelitian yang sebelumnya dikerjakan oleh para ahli bahasa: Noam Chomsky, Kenneth Hale dan Samuel Jay Keyser. Penelitian tersebut menyimpulkan adanya dua “lapisan” dalam semua bahasa manusia: lapisan “ekspresi”, melibatkan organisasi kalimat yang bersifat dapat diubah-ubah, serta lapisan “leksikal” yang berkaitan dengan inti dari isi kalimat. Dengan didasarkan pada analisis komunikasi hewan, serta memanfaatkan kerangka Miyagawa, ditemukan bahwa kicauan burung menyerupai lapisan ekspresi pada kalimat manusia – sedangkan gerakan komunikatif lebah, atau pesan suara dari primata, lebih menyerupai lapisan leksikal. Pada titik-titik tertentu, antara 50.000 dan 80.000 tahun yang lalu, kemungkinan manusia sudah menggabungkan kedua jenis ekspresi ini ke dalam bentuk bahasa unik yang kompleks. “Kedua sistem ini sudah ada sebelumnya,” kata Miyagawa, “seperti apel dan jeruk yang baru saja digabung menjadi jadi satu.” Keberadaan jenis adaptasi struktur ini bersifat umum dalam sejarah alam, tulis Robert Berwick, seorang profesor komputasi linguistik di Laboratorium MIT untuk Sistem Informasi dan Keputusan, Departemen Teknik Elektro dan Ilmu Komputer. “Di saat berevolusi, sesuatu yang baru seringkali dibangun dari bagian-bagian lama,” jelas Berwick, “Kami melihat hal ini berulang-ulang dalam evolusi. Struktur lama hanya dapat berubah sedikit, dan secara radikal memperoleh fungsi-fungsi yang baru.” Bab Baru dalam Buku Nyanyian Makalah baru berjudul “Munculnya Struktur Hirarkis dalam Bahasa Manusia,” yang dipublikasikan dalamFrontiers in Psychology ini, dikerjakan oleh Miyagawa, Berwick dan Kazuo Okanoya, seorang biopsikolog dalam bidang komunikasi hewan di Universitas Tokyo. Untuk menentukan perbedaan antara lapisan ekspresi dan lapisan leksikal, ambillah contoh kalimat sederhana: “Todd melihat seekor burung kondor.” Kita bisa dengan mudah membuat variasi dari kalimat ini, seperti, “Kapan Todd melihat seekor burung kondor?” Kalimat ini menata ulang elemen-elemen yang terjadi pada lapisan ekspresi, memungkinkan kita menambah kompleksitas dan mengajukan pertanyaan. Namun lapisan leksikalnya tetap sama karena melibatkan unsur-unsur inti yang sama: subjek, “Todd,” kata kerja, “melihat,” dan objek, “burung kondor.” Kicau burung tidak memiliki struktur leksikal. Sebaliknya, burung mempelajari melodi melalui apa yang disebut Berwick sebagai struktur “holistik”, di mana keseluruhan nyanyian memiliki satu arti, baik tentang kawin, wilayah kekuasaan ataupun hal-hal lainnya. Burung Finch Bengali, seperti yang dicatat para peneliti, bisa memutar kembali ke bagian melodi sebelumnya, memungkinkan hasil variasi yang lebih besar serta mengkomunikasikan hal yang lebih banyak; sedangkan burung bulbul diperkirakan mampu mengalunkan 100 hingga 200 melodi. Berbeda dengan jenis-jenis hewan lainnya, yang hanya memiliki model ekspresi paling dasar tanpa kapasitas melodi yang sama. Lebah berkomunikasi secara visual, menggunakan gerakan turun-naik untuk menunjukkan sumber makanan pada rekan-rekannya, primata lain bisa mengeluarkan berbagai suara untuk memberi peringatan akan adanya pemangsa atau pesan-pesan lainnya. Manusia menggabungkan kedua sistem ini untuk menghasilkan manfaat. Kita bisa mengkomunikasikan informasi penting, seperti halnya lebah atau primata – tapi, seperti halnya burung, kita juga memiliki kapasitas melodi dan kemampuan menggabung-ulang bagian-bagian bahasa yang kita ucapkan. Untuk alasan ini, kosakata kita yang terbatas dapat menghasilkan untaian kata-kata yang tampaknya tak terbatas. Para peneliti menunjukkan, awalnya manusia memiliki kemampuan bernyanyi, seperti yang diduga Darwin, kemudian berhasil mengintegrasikan unsur-unsur leksikal tertentu ke dalam nyanyian-nyanyiannya. “Bukanlah langkah yang sangat panjang untuk mengatakan bahwa apa yang sudah tergabung menjadi satu merupakan kemampuan dalam membangun pola-pola kompleks ini, seperti nyanyian, namun dengan kata-kata,” jelas Berwick. Seperti yang dicatat dalam studi ini, beberapa “pararel mencolok” antara penguasaan bahasa pada burung dan manusia meliputi fase hidup saat masing-masing melakukan hal yang terbaik dalam memilih bahasa dan bagian otak digunakan untuk bahasa. Kesamaan lain berkaitan dengan hasil observasi dari profesor linguistik Morris Halle, yang menunjukkan bahwa “semua bahasa manusia memiliki jumlah pola tekanan yang terbatas, yaitu sejumlah pola ketukan. Pada burung, juga terdapat jumlah pola ketukan yang terbatas ini.” Burung dan Lebah Para peneliti mengakui, diperlukan penelitian-penelitian empiris lebih lanjut terhadap subjek. “Ini barulah hipotesis,” ujar Berwick, “Namun inilah cara untuk membuat eksplisit pada apa yang diungkapan secara samar-samar oleh Darwin, karena sekarang kita tahu lebih banyak tentang bahasa.” Miyagawa menegaskan bahwa gagasan ini layak karena bisa menjadi subjek untuk bisa diteliti lagi, sebagaimana pola-pola komunikasi pada spesies lain lebih lanjut diteliti secara rinci. “Jika ini benar, maka bahasa manusia memiliki perintis di alam, dalam evolusi, yang benar-benar bisa kita uji saat ini,” katanya seraya menambahkan bahwa lebah, burung dan primata lainnya bisa menjadi sumber wawasan penelitian lebih lanjut. Penelitian linguistik berbasis di MIT ini sebagian besar dicirikan dengan penelurusan aspek-aspek universal pada semua bahasa manusia. Miyagawa, Berwick dan Okanoya berharap bisa mendorong peneliti lain untuk memikirkan universalitas bahasa dalam hal evolusi. Ini bukan sekedar konstruksi budaya acak, namun berbasis pada bagian kapasitas manusia dalam hal berbagi dengan spesies lain. Di saat yang sama, bahasa manusia bersifat unik dengan tergabungnya dua sistem independen di alam dalam spesies kita, memungkinkan kita menghasilkan linguistik yang tak terbatas, meski dalam sistem yang terbatas. “Bahasa manusia tidak sekedar bentuk yang unik, namun juga didasarkan pada aturan,” tegas Miyagawa, “Jika kami benar, bahasa manusia memiliki rintangan yang sangat berat pada apa yang bisa dan tidak bisa dilakukannya, berdasarkan pada pendahulunya di alam.”
  6. Gedung bertingkat dengan kaca yang luas ternyata musuh utama burung. Para pakar memperkirakan 100 juta burung di Amerika Utara tewas menabrak kaca gedung saat bermigrasi, akibat silau cahaya lampu. Simak gerakan matikan lampu berbagai organisasi pecinta lingkungan di kota-kota besar AS berikut ini.
  7. Seringkali kita melihat sekelompok burung terbang membentuk formasi unik. Salah satunya formasi 'V' yang paling umum terlihat di udara. Sebuah studi baru-baru ini menerbitkan penelitian mereka dalam jurnal Nature yang dipimpin para peneliti dari Royal Veterinary College Inggris, mengungkap misteri aneh dalam formasi kawanan burung terbang. Banyak ilmuwan telah menyadari dan memahami bahwa burung memanfaatkan energi udara ketika terbang dalam bentuk formasi 'V'. Ketika kawanan burung terdepan dalam formasi 'V' mengepakkan sayap, hal ini akan menciptakan pusaran udara yang membuat udara akan mendorong keatas kawan di belakangnya. Sehingga setiap burung yang berada di belakang kawanan formasi ini mendapat tumpangan gratis, menguntungkan dalam hal penggunaan energi. Burung benar-benar mengerti bagaimana menggunakan fenomena tersebut untuk keuntungan penerbangan mereka, sehingga sejak dahulu berbagai formasi mungkin pernah kita lihat di udara tetapi tujuannya tetap sama yaitu menciptakan pusaran udara. Mekanisme ini terlihat rumit, tetapi dalam formasi 'V' menunjukkan kesadaran luar biasa dan kemampuan burung untuk merespon rekan mereka. Kawanan burung yang terbang dalam formasi tampaknya telah mengembangkan pentahapan dan strategi untuk mengatasi jalur gelombang dinamis atau tubulensi akibat dari mengepakkan sayap. Pada umunya sebagian besar kawanan burung membentuk formasi 'V', tetapi ada juga formasi lain yang jarang terlihat. Dalam penelitian ini, tim ilmuwan memasang sensor pada sayap burung Ibis yang akhirnya ikut dalam formasi kawanan burung lain. Data yang diperoleh dari penerbangan kawanan burung Ibis, ilmuwan memperkirakan setidaknya setiap burung berada pada jarak satu meter dibelakang burung lain dan sekitar satu meter kesamping. Jadi ada titik aman dalam penerbangan formasi dimana setiap burung mendapatkan ruang dua meter kubik. Dalam formasi ini juga ditemukan burung lain yang saling bertukar posisi dan mengubah pemimpin yang berada digaris terdepan. Selain itu, manfaat tambahan formasi 'V' telah menunjukkan bahwa hewan burung mampu menghemat energi. Dari hasil penelitian tahun 2001 pada burung pelikan, diketahui denyut jantung sekawanan burung pelikan yang berada digaris belakang memiliki detak jantung lebih lambat daripada burung digaris depan. Dari sini terlihat, ketika burung terdepan merasa letih maka posisinya akan digantikan dengan burung lain. Itu sebabnya perjalanan kawanan burung mampu bertahan selama berjam-jam menempuh jarak ratusan kilometer.
  8. Dinosaurus kecil mirip-unggas asal Amerika Utara menetaskan telur-telurnya dengan cara sama seperti yang dilakukan burung-burung pengeram - hal ini serta merta kian memperkuat kaitan evolusi antara burung dan dinosaurus. Salah satu dari sekian banyak misteri yang ingin diungkap oleh para paleontologi adalah mengetahui cara dinosaurus menetasi telur. Apakah telurnya dikubur dalam material sarang, seperti yang dilakukan buaya? Ataukah ditetaskan dalam sarang yang terbuka tanpa penutup, seperti yang dilakukan burung pengeram? Dengan mengacu pada sekumpulan telur yang ditemukan di Alberta dan Montana, peneliti Darla Zelenitsky dari University of Calgary, bersama David Varricchio dari Montana State University, secara ketat meneliti cangkang fosil telur milik dinosaurus kecil pemakan daging yang disebut Troodon. Dalam temuan yang dipublikasikan dalam edisi musim semi jurnal Paleobiology, mereka menyimpulkan bahwa spesies dinosaurus ini, yang diketahui meletakkan telurnya dalam posisi yang nyaris vertikal, mengubur telur-telur hanya pada bagian bawahnya ke dalam lumpur. “Berdasarkan perhitungan kami, cangkang telur milik Troodon sangat mirip dengan burung pengeram, memberi petunjuk bahwa dinosaurus ini tidak sepenuhnya mengubur telur ke dalam material sarang seperti yang dilakukan buaya,” jelas Zelenitsky, asisten profesor geosains. “Telur maupun sedimen di sekitarnya menunjukkan tanda-tanda penguburan yang hanya bersifat parsial; memungkinkan dinosaurus dewasa bisa bersinggungan langsung dengan bagian sisi telur yang terbuka selama masa inkubasi,” kata Varricchio, profesor paleontologi. Meski gaya bersarang Troodon bersifat tidak lazim, “namun terdapat kesamaan dengan penetas khas di antara burung-burung Plover Mesir yang mengerami telur-telurnya sementara sebagian dari mereka menguburnya dalam substrat sarang berpasir,” tambah Varricchio. Para ahli paleontologi tiada henti berupaya menjawab pertanyaan tentang bagaimana dinosaurus menetaskan telurnya, namun selama ini terhalang akibat kelangkaan bukti seputar perilaku inkubasi. Sebagai kerabat dinosaurus yang paling dekat, buaya dan burung bisa menjadi media yang menyodorkan beberapa jawaban terkait. Para ilmuwan mengetahui bahwa buaya dan burung yang mengubur telurnya, terdapat lebih banyak pori-pori pada cangkang telurnya, memungkinkan terjadinya respirasi meski dalam keadaan terkubur. Berbeda halnya dengan burung-burung pengeram yang tidak mengubur telurnya; jumlah pori-pori pada telurnya lebih sedikit. Para peneliti menghitung dan mengukur pori-pori pada cangkang telur Troodon untuk menilai bagaimana terjadinya penguapan air yang melalui cangkang, kemudian dibandingkan dengan telur dari buaya, burung bersarang-gundukan dan burung pengeram. Mereka optimis metode ini juga bisa diterapkan pada fosil telur spesies-spesies dinosaurus lainnya untuk mengungkap cara inkubasi yang mereka lakukan. “Untuk sementara, penelitian khusus ini membantu membuktikan bahwa beberapa perilaku menetas seperti yang dilakukan unggas sudah berevolusi pada dinosaurus pemakan daging sebelum kemunculan unggas di muka bumi. Hal ini juga kian menambah bukti yang menunjukkan eratnya kaitan evolusi antara burung dan dinosaurus,” ungkap Zelenitsky.
  9. Macrocephalon maleo atau yang lebih dikenal dengan burung maleo, merupakan hewan endemik Pulau Sulawesi, yang ada di Sulawesi Tengah. Burung maleo bentuknya sekilas tampak seperti ayam, berjambul dan memiliki bulu dengan kombinasi warna hitam dan ciri khas bagian perutnya berwarna putih merah muda serta di bagian sekitar mata memiliki warna kuning dengan iris mata berwarna merah. Meskipun burung maleo ini dikategorikan sebagai burung, namun burung maleo sangat jarang terbang layaknya burung kebanyakan. Mereka lebih suka berjalan seperti ayam. Karena merupakan hewan endemik Sulawesi Tengah, maleo dijadikan satwa maskot Sulawesi Tengah berdasarkan surat keputusan SK. No. Kep. 188.44/1067/RO/BKLH tanggal 24 Pebruari 1990. Bahkan burung maleo juga sudah masuk dalam daftar CITES Apendix I dan IUCN Red List yang merupakan kategori terancam punah, karena mengingat burung maleo dalam beberapa tahun populasinya kian menurun. Keunikan Burung Maleo Keunikan dan ciri lain yang sangat khas pada burung maleo, yaitu memiliki “helm”. Helm maleo seperti jambul pada ayam, namun keras. Untuk membedakan maleo jantan dan betina adalah warna bulu hitam dan ukurannya. Maleo betina bulunya berwarna lebih gelap dan memiliki ukuran tubuh lebih kecil. Burung maleo memakan biji-bijian, serangga, semut dan buah. Uniknya, maleo dikenal sebagai burung yang paling setia atau disebut juga monogami yang berarti hanya memiliki satu pasangan. Dalam hidupnya, maleo hanya memiliki satu pasangan saja dan akan hidup bersama dengan pasangannya. Pada masa betina akan bertelur, maleo akan mencari lokasi yang berpasir dan hangat untuk tempatnya bertelur. Setelah mendapatkan lokasi bertelur, betina dan jantan akan menggali pasir tersebut dan meletakkan telurnya, kemudian mengubur telur tersebut dan meninggalkannya. Meskipun ukuran burung maleo relatif kecil, sekitar 50cm atau seukuran ayam, namun telur burung maleo memiliki ukuran 5 kali besar telur ayam. Maleo tidak mengerami telurnya dan memelihara anaknya. Setelah anaknya menetas, anaknya diharap akan dapat berjuang untuk hidup. Padahal untuk keluar dari dalam tanah bukan hal yang mudah untuk ukuran anak burung maleo. Namun, jika anak burung maleo dapat keluar sampai ke permukaan tanah, mereka sudah dapat terbang. Bagaimana? Sekarang sudah tahukan? Untuk lebih jelasnya mengenai burung maleo, hewan endemik Sulawesi Tengah, Anda dapat berkunjung ke GoCelebes.com yang merupakan website informasi tempat wisata d Pulau Sulawesi.
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy