Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'budaya'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • CLINIC NGOBAS
    • Coronavirus
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • Ngocol
    • Ngocol Video
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • ABOUT NgobasTV
    • EVENT
    • WESER
    • LAPOR KOMANDAN

Calendars

  • Calendar

Blogs

  • Ngobas Blog
  • Your World

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Categories

  • Files
  • Games
  • E-Book

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 10 results

  1. Jepang adalah salah satu negara yang dipuji memiliki budaya jujur yang tinggi. Barang-barang yang hilang atau tertinggal di tempat umum akan dikembalikan kepada pemiliknya. Semua itu sudah diajarkan sejak dini di sekolah-sekolah Jepang. Jake Adelstein baru selesai makan siang dan berencana untuk membeli pancake. Ketika hendak mengambil uang, ia baru menyadari jika dompetnya terasa ringan dari biasanya. Padahal ia baru dari mesin ATM dan menarik uang tunai 100.000 yen. Saat diperiksa ternyata uang tersebut tak ada dalam dompet. Merasa ada sesuatu yang janggal ia pun menelepon operator bantuan ATM dan menanyakan terkait transaksi di ATM, akan tetapi menurut operator itu tak ada informasi mengenai transaksi itu. Ia pun disarankan untuk melapor ke polisi. Jake kemudian membuat sebuah laporan kehilangan di kantor polisi Shibuya dan menceritakan kembali kejadiannya kepada salah seorang polisi. Setelah selesai, polisi tersebut memberi Jake nomor kasus yang ia laporkan dan meminta Jake untuk tidak menghilangkannya. Keesokan harinya, pada pukul 10 pagi, ia mendapat telepon dari Kantor Polisi Shibuya untuk datang ke stasiun untuk mengambil uangnya dengan membawa identitas diri. Jake pun menuju ke tempat yang disebutkan oleh polisi tersebut dan setelah mengisi selembar kertas, uangnya pun dikembalikan. “Saya ingin meninggalkan hadiah untuk orang yang menyerahkannya (uang),” kata Jake. Namun, petugas tersebut menjawab bahwa orang yang menemukan uang tersebut menolak untuk mengklaim hadiah dan merahasiakan siapa yang menemukan. Mark Kareles pendiri Mt. Gox Co yang merupakan bursa Bitcoin terbesar di dunia yang kolaps pada 2014 itu juga mengagumi kejujuran sebagian besar orang Jepang. “Ketika saya pertama kali tiba (di Jepang), terkadang saya meninggalkan laptop saya di bangku taman dan saya kagum bahwa barang itu akan tetap ada saat saya kembali. Atau orang akan mengejar saya dengan laptop dan mengembalikannya,” ujar Mark. Untuk kenyamanan penduduknya Jepang memang membentuk Lost and Found Centre yang menjadi pusat barang-barang hilang. Tak hanya uang atau dompet, polisi Tokyo juga akan menindak kehilangan payung, syal atau sarung tangan termasuk penemuan uang 1 atau 5 yen. Ketika seseorang kehilangan barang di Jepang, biasanya mereka langsung datang ke Lost and Found Center. Barang-barang yang hilang akan disimpan selama 3 hingga 4 hari lalu setelah itu akan diserahkan Metropolitan Police Lost & Found Center yang berada dekat stasiun Lidabashi. Sarung tangan, payung hingga syal yang tertinggal di metro atau tempat umum dapat ditemukan di tempat itu. Asalkan harus melaporkan terlebih dahulu dan menunjukkan bukti kepemilikan barang serta identitas diri. Jika ingin meminta orang lain yang untuk mengambil barang yang hilang di Lost and Found Center, maka mereka harus membuat surat kuasa untuk dibawa oleh orang yang diminta untuk mengambil barang tersebut. Pada 2016, Tokyo Metropolitan Police Department's Lost and Found Center menangani sejumlah uang yakni sekitar 3,67 miliar yen atau setara 32 juta dolar AS yang hilang. Dalam prosesnya, menurut pihak kepolisian Tokyo, sekitar tiga perempat dari total uang yang hilang itu berhasil dikembalikan kepada pemiliknya. Benda sepele seperti payung yang ketinggalan di tempat publik atau di metro juga ditangani oleh kepolisian setempat. Di tahun yang sama, pihak Lost and Found Center menangani 381.135 payung. Mereka yang menemukan atau kehilangan uang 1 hingga 5 yen pun akan ditangani oleh pihak kepolisian. Anak-anak juga dibiasakan untuk melakukan hal jujur tersebut. Seperti yang dilakukan Mayako Matsumoto yang mengembalikan sebuah dompet berisi sekitar 100 dolar AS kepada pihak kepolisian dengan ditemani oleh ibunya. Pihak kepolisian mengapresiasi kejujuran Mayuko dengan memberinya imbalan beberapa permen. Kebiasaan itu tak terjadi secara tiba-tiba namun melalui pendidikan sejak dini. “Sekolah di Jepang memberi kelas terkait etika dan moralitas, dan siswa belajar membayangkan perasaan orang-orang yang kehilangan barang atau uang mereka sendiri. Jadi tak jarang melihat anak-anak membawa koin 10 yen ke kantor polisi itu, kata seorang profesor di Kansai University, Toshinari Nishioka. Selain itu, ada aturan yang menaungi terkait barang-barang yang hilang. Undang-Undang Jepang pada pasal 28 dari Lost Property Act menyatakan bahwa seseorang yang telah kehilangan barang harus membayar kepada para penemu antara 5 hingga 20 persen dari nilai barang yang ditemukan. Namun, hadiah itu hanya bisa diklaim dalam jangka waktu satu bulan. Tapi tak jarang juga mereka yang menemukan tak meminta imbalan. Dalam beberapa laporan menyebutkan tindakan kriminal di Jepang terutama perampokan menurun dari 5.988 kasus di tahun 2005 menjadi 3.056 kasus di tahun 2014. Atau jika dihitung per populasi yakni 4,72 kasus per 100.000 populasi di tahun 2005 turun menjadi 2,41 kasus per 100.000 populasi di tahun 2014. Laporan lain yakni dari United Stated Department of State Bureau of Diplomatic Security juga memberi status kriminal di Jepang pada level rendah atau low. Status itu berlaku untuk semua jenis tindak kriminal, termasuk kondisi dan keamanan transportasi yang baik. Bagaimana dengan Indonesia? Kejujuran memang masih ada di negeri ini tapi hanya bagi segelintir orang. Putri, penulis di salah satu media di Indonesia pernah kehilangan dompet di salah satu angkutan umum di Jakarta, sekitar tiga tahun lalu. Putri kemudian melapor kasus kehilangan itu ke pihak yang berwajib namun hingga saat ini, dompet tersebut tak kembali kepadanya. Dompet yang di dalamnya terdapat kartu identitas yang dapat memudahkan dalam mendapat petunjuk sang pemilik saja jarang dikembalikan, bayangkan barang seperti payung, syal, atau sarung tangan yang tentu tak ada identitas pemilik yang menempel di barang tersebut. Mereka yang berjalan di tempat umum kadang menjadi target dari para tangan nakal alias pencopet. Belum lagi tindakan perampokan yang berujung pada pembunuhan dan tindak kriminal lainnya. Kasus perampokan di Indonesia dari 9.742 pada 2008 naik menjadi 11.758 kasus di tahun 2014. Jika melihat ke Jepang, faktor pendidikan terkait kejujuran sudah dilakukan sejak dini menjadi salah satu faktor penting, sedangkan Indonesia hingga saat ini masih memperdebatkan terkait sistem pendidik full day school. Upaya tersebut diwacanakan untuk meningkatkan pendidikan karakter dari siswa siswi di Indonesia. Basisnya adalah kejujuran, toleransi, disiplin, hingga rasa cinta Tanah Air. Namun, sistem ini dikatakan tak tepat jika dilakukan di wilayah pedesaan dengan berbagai alasan. Sehingga masih banyak PR terkait pendidikan bagi pemerintah Indonesia, termasuk pendidikan terkait kejujuran.
  2. Partner

    Seminar Nasional RUU PTEBT

    Halo jendral, kenalkan ada Sobat Budaya yang sangat peduli dengan budaya-budaya di Indonesia. Kali ini Sobat Bdaya akan mengadakan Seminar, Seminar Nasional RUU PTEBT dengan Tema: "Budaya Indonesia Kini dan yang Dinanti". Selengkapnya bisa kunjungi di
  3. Pelecehan seksual sering dialami orang-orang dimana aja terutama pada wanita. Budaya ini sejak lama sudah ada dan mementingkan hawa nafsu. Ternyata di Indonesia sendiri budaya ini sangatlah dianggap hal biasa, karena selalu menyalahkan wanita yang salahnya terletak pada menunjukan auratnya ataupun berjalan sendiri pada malam hari. Mari dukung semua korban pelecehan seksual untuk menyadari bahwa hal ini adalah hal yang sangat-sangat merugikan, dan juga menjadi pelajaran untuk semua bahwa pelecehan seksual perlu diperhatikan lebih, serta menjadi kewaspadaan dalam diri sendiri.
  4. Suasana di kantor inkubator teknologi MuckerLab di Santa Monica, California. Para wirausaha dengan akar imigran menjelaskan arti menjadi bagian dari sebuah 'startup'. Mengelola sebuah perusahaan dengan sebuah mesin treadmill di dalam kantor, di pusat Silicon Valley, bukanlah sesuatu hal yang dibayangkan Monisha Perkash ketika ia dan orangtuanya pindah dari Nepal ke Amerika Serikat. "Ketika saya pertama kali pindah ke sini, saya ditelepon ayah saya, yang tinggal di Texas, dan ia mengatakn, 'Monisha, saya sudah cari di seluruh peta dan saya tidak bisa menemukan Silicon Valley di mana pun," ujar Perkash. Silicon Valley adalah sebuah wilayah di California yang terbentang dari San Francisco ke San Jose, dan bukan saja merupakan lokasi raksasa-raksasa teknologi seperti Google, Apple dan Facebook. Perkash mengatakan karakteristik penting Silicon Valley adalah bahwa tempat itu sebuah budaya yang mewujudkan kewirausahaan. Budaya ini menular, dan menyentuh Perkash ketika ia datang ke Silicon Valley. "Awalnya orangtua saya sangat bingung. Saya telah mulai kuliah pengantar kedokteran dan diterima di fakultas kedokteran, dan ketika saya memutuskan tidak mengambilnya, mereka tidak paham kenapa," ujar Perkash, salah satu pendiri dan CEO Lumo Bodytech. Ia dan dua kawannya ingin membentuk sebuah perusahaan baru (startup) bidang teknologi untuk meningkatkan kehidupan orang-orang. Mereka kemudian mendirikan Lumo Bodytech untuk mengembangkan alat sensor yang dapat dipakai di badan. Salah satu produk mereka, Lumo Run, dapat dipakai di pergelangan tangan pelari untuk melacak pergerakan orang tersebut. Dipasangkan dengan ponsel, alat itu menyedikan pelatihan personal untuk pelari. Sensor lain, Lumo Lift, dipakai di bagian kerah pakaian dan bergetar ketika pemakai membungkuk, sebagai pengingat untuk duduk tegak. Perjalanan Para Pendiri Salah satu pendiri dan COO Lumo Bodytech, Charles Wang mengatakan sensor-sensor itu membantu memperbaiki postur tubuh dan mengurangi risiko cedera dan sakit punggung. "Ada banyak penelitian yang menunjukkan bahwa postur sangat berkaitan dengan sakit punggung, kesehatan punggung," ujar Wang, yang lahir dari orangtua yang berasal dari Taiwan. Ia awalnya mengikuti jalur yang diinginkan banyak orangtua imigran untuk anak-anaknya. Wang adalah seorang dokter dan sempat praktik sebelum memutuskan menjadi wirausaha. Ia mengatakan orangtuanya sangat mendukung. "Saya kira untuk mereka, hal ini adalah, 'Bisakah kamu mencari sesuatu yang sangat kamu pedulikan dan kamu lakukan dengan bersemangat'," ujar Wang. Pendiri ketiga, CTO (kepala divisi teknologi) Andrew Chang, mengatakan bahwa menjadi bagian dari sebuah startup tidak seperti pekerjaan-pekerjaan sebelumnya yang ia kerjakan. "Kecepatan pergerakan pekerjaan ini tidak bisa dibandingkan, kecepatan membuat keputusan, berjalannya bisnis dan lain sebagainya, karena dalam bidang ini sangat kurang birokrasi." Chang menambahkan, "Ada banyak orang di sini yang sangat ingin mengubah dunia. Kita ada di satu titik dimana kita memiliki semua infrastruktur teknis untuk memungkinkan hal itu terjadi, untuk membuat sekelompok orang melakukan perbaikan dramatis yang dapat memantul ke seluruh dunia karena sedemikian terhubungnya kita sekarang ini." Membuat Orangtua Bangga Perkash mengatakan keterhubungan dan karakteristik kolaboratif Silicon Valley telah mendorong budaya startup. Keberhasilan perusahaan telah menjadi sumber kebahagiaan untuk orangtuanya, tambahnya. "Saya ingin membuat mereka bangga, dan saya ingin mereka tahu bahwa dengan memberi kita peluang untuk mengejar keinginan kita, mengejar mimpi kita, telah mendorong saya maju. Jadi dalam banyak hal, saya melakukan apa yang saya lakukan untuk menghormati mereka," ujar Perkash. Kepada siapa pun yang ingin mengikuti jejaknya, Perkash menyarankan agar tidak takut gagal tapi melihatnya sebagai peluang untuk belajar. (www.voaindonesia.com
  5. Keanekaragaman budaya Indonesia merupakan daya tarik yang luar biasa, berbagai upaya dilakukan untuk semakin memperkenalkan produk buatan Indonesia, kesenian, dan kuliner secara global. Di AS, upaya itu juga datang dari komunitas Indonesia sendiri dengan diselenggarakannya acara Made in Indonesia.
  6. Ada banyak hal di dunia ini yang terlalu memukau untuk diungkapkan. Berbagai keindahan sekaligus keanehan tidak akan tuntas dijelajahi oleh manusia seorang diri. Maka, untuk bisa menikmati keunikan bisa juga dilakukan lewat foto. National Geographic Traveler Photo Contest merupakan salah satu kontes foto bagi orang yang suka menjelajah. Mereka inilah yang memotret semua fenomena yang mereka alami selama di perjalanan. Total sebanyak 17.000 entri dari berbagai kategori, seperti Travel Portraits, Outdoor Scenes, Sense of Place and Spontaneous Moments, telah diterima dan diseleksi oleh panitia. Anuar Patjane Floriuk berhasil meraih hadiah utama, berupa National Geographic Photo Expedition ke Kosta Rika dan Panama untuk 2 orang, atas hasil foto bawah airnya bersama ikan paus di Roca Partida, sebuah pulau di pesisir barat Meksiko. “Foto ini sebenarnya tidak direncanakan sama sekali, ketika saya sedang mengambil foto di sekitar kepala paus tiba-tiba paus tersebut mulai berenang ke arah tim penyelam,” kata Floriuk yang berasal dari Tehuacán, Puebla, Meksiko. Dia menambahkan “Setelah itu tim penyelam memberikan ruang kepada paus dan anaknya untuk lewat, ketika alur dan komposisi foto saya rasa pas barulah shutter kamera saya tekan.” Kompetisi ini telah memasuki tahun ke 27, dan seluruh fotografer, profesional ataupun amatir, diperbolehkan untuk mengumpulkan foto mereka. Penasaran seperti apa hasil foto para pemenang? Cek yuk, disini. First Place Winner: Whale Whisperers Menyelam bersama paus bungkuk dan anaknya yang baru lahir di Roca Partida, Revillagigedo, Meksiko. (Gambar oleh : Anuar Patjane) Second Place Winner: Gravel Workmen Tempat kerja para pemecah kerikil ini dipenuhi dengan debu dan pasir. Tiga pekerja ini melihat melalui kaca jendela di tempat kerja mereka yang terletak di Chittagong, Bangladesh. (Gambar oleh: Faisal Azim) Third Place Winner: Camel Ardah Camel Ardah adalah salah satu lomba unta tradisional di Oman, dimana seorang joki mengendarai dua unta sekaligus. Tugas joki adalah menjaga unta agar berlari sejajar, salah satu unta tidak boleh lebih cepat atau lebih lambat dari unta satunya. Tujuan diadakan lomba ini untuk menunjukkan kekuatan dan keindahan unta Arab beserta jokinya. (Gambar oleh: Ahmed Al Toqi) Merit Winner: A Night at Deadvlei Malam sebelum bertolak ke Windhoek, mereka menghabiskan beberapa jam di Deadvlei. Bulan bersinar cukup terang untuk menyinari bukit pasir tersebut dari kejauhan meski langit begitu gelap, sehingga Bima Sakti dan awan Magellan terlihat begitu indah. (Gambar oleh: Beth McCarley) Merit Winner: Catching a Duck Dua anak lelaki mencoba untuk menangkap bebek di aliran air terjun yang terletak di Provinsi Nong Khai, Thailand. (Gambar oleh: Sarah Wouters) Merit Winner: Romania, Land of Fairy Tales Hutan putih yang terbentang di desa Pestera. (Gambar oleh: Eduard Gutescu) Merit Winner: Highlanders Pemotongan jerami secara tradisional di Polandia. Banyak orang yang masih menggunakan sabit dan garpu rumput untuk menata jerami. (Gambar oleh: Bartłomiej Jurecki) Merit Winner: White Rhinos Malam sebelum foto ini diambil, mereka berjuang seharian untuk mendapatkan foto badak putih ini, entah itu bersembunyi di rerumputan sambil menjaga jarak sejauh 30 meter untuk keselamatan mereka, namun hasil foto tidak ada yang sesuai harapan. Pagi harinya ketika si fotografer terbangun, dia melihat 3 badak putih tersebut berkumpul di depannya persis. Foto ini diambil di Suaka Ziwa Rhino, Uganda. (Gambar oleh: Stefane Berube) Merit Winner: Kushti, Indian Wrestling Kushti adalah gulat tradisional India dimana pegulat hanya menggunakan cawat, kemudian mereka memasuki arena yang terbuat dari tanah liat, yang dicampur dengan garam, lemon, dan mentega. Setelah selesai bergulat, mereka beristirahat dengan bersandar di dinding, menutupi kepala dan badan mereka dengan tanah agar keringat mereka terserap dan terhindar dari demam. (Gambar oleh: Alain Schroeder) Merit Winner: Sauna in the Sky Sauna dengan tinggi 2,800 meter ini terletak di Dolomites. Monte Lagazuoi, Cortina, timur Italian Alps. (Gambar oleh: Stefano Zardini) Gimana? Keren-keren, kan, karya mereka? Cobain ikut yuk, jangan lupa share ke temanmu, ya!
  7. Beberapa waktu lalu kontingen SMP 115 Jakarta, berada di Washington DC sebagai duta seni di festival anak-anak sedunia. Ketika itu penampilan mereka tidak hanya mampu memukau para penonton, tetapi juga menjadi daya tarik bagi pelajar dari negara lain untuk menjalin persahabatan dengan mereka. VOA Indonesia: http://www.voaindonesia.com Ngobas: http://ngobas.com
  8. Sebagai manusia yang terlahir di tanah Sunda, sudah pasti harus mampu berbahasa Sunda. Pun begitu juga bagi Anda yang lahir di tanah Jawa, sudah pasti mampu berbahasa Jawa secara paseh. Hal tersebut merupakan hal yang lumrah. Namun saya sangat bersyukur, ada satu hal yang membuat saya lagi-lagi bersyukur, yakni saya tak dilahirkan di Negeri Ukraina. Bukan... Bukan karena wilayah Ukraina adalah wilayah yang sangat rawan konflik, tapi karena memang sampai detik ini, saya tak mengerti bahasa Ukraina. Oke saya skip saja basa basinya. Langsung menuju ke pokok permasalahan. Dalam bahasa Sunda, dikenal dengan pengelompokkan bahasa, yakni bahasa halus dan bahasa kasar. Pun begitu juga dalam bahasa Jawa maupun bahasa yang lainnya. Mungkin. Entah apa yang melatarbelakangi pembagian bahasa kasar dan halus tersebut. Namun yang jelas, penggunaan tatanan bahasa halus jelas dipakai untuk berbicara dengan orang yang dianggap lebih tua. Ada yang menggelitik dari satu kata bahasa Indonesia, namun bila diartikan ke dalam bahasa Sunda, memiliki banyak sekali kosakata. Kata tersebut adalah kata : JATUH. Dan mungkin juga ada beberapa kata yang lainnya yang tak kalah menarik untuk dibahas. Tapi saya bukanlah seorang ahli tata bahasa Sunda, jadi saya cuma mau membahas masalah kata JATUH saja. Arti dari kata JATUH dalam bahasa Sunda memiliki banyak kosakata : 1. Geubis = bahasa Sunda halus 2. Labuh = bahasa Sunda kasar 3. Murag = untuk benda yang jatuh 4. Ragrag = jatuh dari ketinggian (contoh : dari atas tangga, pohon toge, genteng dan lain sebagainya) 5. Tisoledat = jatuh terpeleset karena kondisi licin 6. Tigatruk = jatuh karena tersandung 7. Tikoshewang = jatuh karena tidak seimbang 8. Tigolesat = jatuh terpeleset (lagi) karena kondisi licin 9. Tigebrus = jatuh ke lubang 10. Tikusruk = jatuh ke arah depan 11. Tijengkang = jatuh ke arah belakang 12. Tiseureuleu = jatuh terpeleset (lagi) karena kondisi licin 13. Tijungkel = jatuh terlempar (terjungkal) 14. Tikosewad = jatuh tersandung 15. Ngagulundung = jatuh terguling 16. Ngagubrag = jatuh kasar 17. Ngagolosor = jatuh terus meluncur 18. Tijalikeu = jatuh keseleo 19. Morosot = jatuh meluncur ke bawah 20. Tijungkir = jatuh sampai terbalik 21. Ticengklak = jatuh sampai menimbulkan efek sakit pada bagian otot 22. Ngagorolong = jatuh meluncur ke bawah (untuk benda) 23. Tigulitik = jatuh berguling-guling 24. Tikucuprak = jatuh ke dalam genangan air 25. Titiliktikan = jatuh karena jalan yang tak stabil (biasanya untuk balita) 26. Tigedebrug = jatuh badan seutuhnya 27. Tigejebur = jatuh ke dalam air sampai menimbulkan bunyi riak air 28. Tisorodot = jatuh meluncur dengan medan mulus (biasanya perosotan) 29. Tikudawet = jatuh karena menginjak sesuatu (biasanya menginjak celana sendiri yang kepanjangan) 30. Titotolonjong = seolah-olah akan jatuh ke depan, namun masih bisa ditahan oleh kedua kaki 31. Tigorobas = jatuh sampai menimbulkan jejak karena medan yang lembek 32. Titajong = jatuh karena kaki sendiri atau kaki orang lain (secara tidak sengaja) 33. Tilelep = jatuh ke dalam kolam atau sungai atau laut 34. Tiguling = jatuh berguling-guling 35. Titanic = jatuh semua sama kapal-kapalnya 36. Jatuh dari lantai 13 = MODDIAARRR Yang membuat saya bingung adalah, bagaimana cara mengucapkan kata : Jatuh Cinta dalam bahasa Sunda, bila berpedoman pada kata-kata di atas.....
  9. Mendengar kata ‘Jepang’ pasti yang tersirat adalah kemajuan dan ilmu teknologinya yang maju. Walau pada tahun 1945 Jepang hancur lebur oleh kedahsyatan Bom Atom tidak jauh dengan Kemerdekaan Indonesia, Saat ini Jepang sudah menjadi negara yang sangat maju dan canggih. Berbeda sekali dengan Indonesia yang masih banyak pejabat yang justru berebut kekuasaan dan korupsi. Keberhasilan Jepang bukan tanpa kerja keras karena Jepang di bangun dengan pondasi yang sangat baik tidak hanya masyarakatnya tapi juga pejabat-pejabat negaranya yang serius untuk mengurus negara. Berikut ini merupakan kisah dari seorang bloger Indonesia yang bekerja di jepang yang mencatat tentang 10 Kebiasaan Orang Jepang Yang Menjadikan Jepang menjadi Negara yang sangat maju: 1. Budaya Baca Jangan kaget kalau anda datang ke Jepang dan masuk ke densha (kereta listrik), sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku atau koran. Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca. Banyak penerbit yang mulai membuat man-ga (komik bergambar) untuk materi-materi kurikulum sekolah baik SD, SMP maupun SMA. Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, dsb disajikan dengan menarik yang membuat minat baca masyarakat semakin tinggi. Budaya baca orang Jepang juga didukung oleh kecepatan dalam proses penerjemahan buku-buku asing (bahasa inggris, perancis, jerman, dsb). Konon kabarnya legenda penerjemahan buku-buku asing sudah dimulai pada tahun 1684, seiring dibangunnya institute penerjemahan dan terus berkembang sampai jaman modern. Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang sudah tersedia dalam beberapa minggu sejak buku asingnya diterbitkan. 2. Malu Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dan pertempuran. Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena “mengundurkan diri” bagi para pejabat (mentri, politikus, dsb) yang terlibat masalah korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Efek negatifnya mungkin adalah anak-anak SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya jelek atau tidak naik kelas. Karena malu jugalah, orang Jepang lebih senang memilih jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum. 3. Hidup Hemat Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Di masa awal mulai kehidupan di Jepang, saya sempat terheran-heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar jam 19:30. Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00. 4. Loyalitas Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan. Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun. Ini mungkin implikasi dari Industri di Jepang yang kebanyakan hanya mau menerima fresh graduate, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri sesuai dengan bidang garapan (core business) perusahaan. 5. Inovasi Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat. Menarik membaca kisah Akio Morita yang mengembangkan Sony Walkman yang melegenda itu. Cassete Tape tidak ditemukan oleh Sony, patennya dimiliki oleh perusahaan Phillip Electronics. Tapi yang berhasil mengembangkan dan membundling model portable sebagai sebuah produk yang booming selama puluhan tahun adalah Akio Morita, founder dan CEO Sony pada masa itu. Sampai tahun 1995, tercatat lebih dari 300 model walkman lahir dan jumlah total produksi mencapai 150 juta produk. Teknik perakitan kendaraan roda empat juga bukan diciptakan orang Jepang, patennya dimiliki orang Amerika. Tapi ternyata Jepang dengan inovasinya bisa mengembangkan industri perakitan kendaraan yang lebih cepat dan murah. 6. Pantang Menyerah Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah. Puluhan tahun dibawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua akses ke luar negeri, Jepang sangat tertinggal dalam teknologi. Ketika restorasi Meiji (meiji ishin) datang, bangsa Jepang cepat beradaptasi dan menjadi fast-learner. Kemiskinan sumber daya alam juga tidak membuat Jepang menyerah. Tidak hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi dan kayu, bahkan 85% sumber energi Jepang berasal dari negara lain termasuk Indonesia. Kabarnya kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi, maka 30% wilayah Jepang akan gelap gulita Rentetan bencana terjadi di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki , disusul dengan kalah perangnya Jepang, dan ditambahi dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo . Ternyata Jepang tidak habis. Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan bahkan juga kereta cepat (shinkansen) . Mungkin cukup menakjubkan bagaimana Matsushita Konosuke yang usahanya hancur dan hampir tersingkir dari bisnis peralatan elektronik di tahun 1945 masih mampu merangkak, mulai dari nol untuk membangun industri sehingga menjadi kerajaan bisnis di era kekinian. Akio Morita juga awalnya menjadi tertawaan orang ketika menawarkan produk Cassete Tapenya yang mungil ke berbagai negara lain. Tapi akhirnya melegenda dengan Sony Walkman-nya. Yang juga cukup unik bahwa ilmu dan teori dimana orang harus belajar dari kegagalan ini mulai diformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan). Kapan-kapan saya akan kupas lebih jauh tentang ini. 7. Kerja Keras Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun). Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil dalam 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan 47 hari untuk membuat mobil yang bernilai sama. Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan “agak memalukan” di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk “yang tidak dibutuhkan” oleh perusahaan. 8. Kerjasama Kelompok Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu bersifat individualistik. Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut. Fenomena ini tidak hanya di dunia kerja, kondisi kampus dengan lab penelitiannya juga seperti itu, mengerjakan tugas mata kuliah biasanya juga dalam bentuk kelompok. Kerja dalam kelompok mungkin salah satu kekuatan terbesar orang Jepang. Ada anekdot bahwa “1 orang professor Jepang akan kalah dengan satu orang professor Amerika, hanya 10 orang professor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok” . Musyawarah mufakat atau sering disebut dengan “rin-gi” adalah ritual dalam kelompok. Keputusan strategis harus dibicarakan dalam “rin-gi”. 9. Mandiri Sejak usia dini anak-anak dilatih untuk mandiri. Irsyad, anak Orang Indonesia yang bekerja di Jepang yang paling gede sempat merasakan masuk TK (Yochien) di Jepang. Dia harus membawa 3 tas besar berisi pakaian ganti, bento (bungkusan makan siang), sepatu ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar minuman yang menggantung di lehernya. Di Yochien setiap anak dilatih untuk membawa perlengkapan sendiri, dan bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri. Lepas SMA dan masuk bangku kuliah hampir sebagian besar tidak meminta biaya kepada orang tua. Teman-temen seangkatan saya dulu di Saitama University mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, mereka “meminjam” uang ke orang tua yang itu nanti mereka kembalikan di bulan berikutnya. 10. Jaga Tradisi & Menghormati Orang Tua Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang kehilangan tradisi dan budayanya. Budaya perempuan yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih ada dan hidup sampai saat ini. Budaya minta maaf masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari anda naik sepeda di Jepang dan menabrak pejalan kaki , maka jangan kaget kalau yang kita tabrak malah yang minta maaf duluan. Sampai saat ini orang Jepang relatif menghindari berkata “tidak” untuk apabila mendapat tawaran dari orang lain. Jadi kita harus hati-hati dalam pergaulan dengan orang Jepang karena “hai” belum tentu “ya” bagi orang Jepang Pertanian merupakan tradisi leluhur dan aset penting di Jepang. Persaingan keras karena masuknya beras Thailand dan Amerika yang murah, tidak menyurutkan langkah pemerintah Jepang untuk melindungi para petaninya. Kabarnya tanah yang dijadikan lahan pertanian mendapatkan pengurangan pajak yang signifikan, termasuk beberapa insentif lain untuk orang-orang yang masih bertahan di dunia pertanian. Pertanian Jepang merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.
  10. Tatanan sosial di Bali dibangun atas pembagian strata sosial yang dibagi ke dalam: 1. Brahma, merupakan strata tertinggi yang diisi oleh para rohaniawan. 2. Ksatria, merupakan strata yang diisi oleh para bangsawan dan pejabat kerajaan 3. Waisya, merupakan strata yang diisi oleh para prajurit dan pedagang 4. Sudra, strata untuk masyarakat biasa. Meski bergelut dengan hantaman arus globalisasi yang dibawa bersamaan dengan para turis dan pedagang asing, serta derasnya informasi dan teknologi yang masuk, kebudayaan khas yang telah lama mengakar tetap kokoh sebagai ciri khas mereka. Nama masing-masing individu dapat dilihat sebagai penunjuk strata sosial sekaligus eksistensi budaya yang ada di Bali, misal: Ida Bagus atau Ida Ayu merupakan nama yang dipakai oleh para Brahmana. Anak Agung Cokorda atau Dewa merupakan nama yang digunakan oleh para Ksatria. I Gusti merupakan nama yang digunakan bagi para Waisya, dan Wayan, Made, Nyoman, Ketut digunakan oleh para Sudra.
×
×
  • Create New...