Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'berita duka'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

  • Ngobas Blog
  • Your World

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 4 results

  1. Kabar duka datang dari Agung Hercules. Pria 51 tahun ini mengembuskan napas terakhir setelah menderita penyakit kanker otak. Kabar kepergiaan Agung untuk selama-lamanya dibenarkan oleh sang sahabat, Ferdians Setiadi. Ia mengatakan Agung meninggal pukul 16.00 WIB. "Meninggal di Dharmais kurang lebih jam 4 sore, karena kanker otak," kata Ferdians kepada kumparan, Kamis (1/8). "Ada cerita kenapa sampai 3 kali, insyaallah nanti kalau misalnya ini, bisa dikupas sedikit-sedikit, dilanjutkan dengan terapi, kemo, radiasi di tahap pertama, lanjut kemo 6 bulan berturut-turut. Bismillah ikhtiar kita mendapat hasil terbaik," tutur Mira. Agung Hercules mengalami perubahan fisik usai menderita sakit kanker otak. Ototnya dulu besar. Rambutnya kala itu panjang tergerai hingga sebahu. Kini rambutnya harus dipangkas habis. Ototnya pun sekarang telah menyusut, tidak sebesar sebelumnya. Agung saat ini juga belum diperbolehkan untuk mengangkat barbel, yang dulu identik dengannya. Dalam video yang diunggah di kanal YouTube Agung Hercules TV pada Senin (29/7), Agung mengaku rindu dengan sosoknya dahulu. Ia ingin kembali mengangkat barbel dan memiliki otot yang kekar. Namun karena kesulitan berbicara, Agung tak bisa menyampaikan hal itu dengan lugas. Dia menjelaskannya lewat gerakan menggunakan barbel. “Aku enggak boleh (menunjukkan gaya barbelan). Aku ingin Agung yang seperti ini,” kata Agung sambil memeragakan gaya memperlihatkan otot tangan. Setelah itu ditampilkan fotonya yang dengan otot tangannya yang besar. Sebelum mengetahui Agung menderita kanker otak, Mira melihat perubahan dari diri suaminya. Jika biasanya cerewet, pelantun lagu ‘Astuti’ itu menjadi sulit bicara. “Tiba-tiba Mas Agung kesusahan dalam hal menyampaikan kata-kata. Sudah disusun rapi (kalimatnya), tapi begitu diucapkan ada yang salah, keserimpet. Biasanya omongnya cerewet, tiba-tiba kepotong-potong,” kata Mira, Senin (29/7). Agung Hercules masih sempat menjalani pekerjaan, salah satunya sebagai pembicara di Malang. Sehabis pulang dari Malang baru diketahui penyakit yang diderita oleh Agung. “Pulang dari sana ngedrop. Baru satu bulan kemudian ketahuan (penyakitnya Agung),” ucap Mira. Kendati demikian, Mira tidak menjelaskan lebih jauh mengenai hal itu. Yang jelas hingga kini, ia masih melatih sang suami untuk mengatasi kesulitan dalam berbicara. “Kesulitan berbicara itu yang menjadi pekerjaan rumah panjang,” tutup Mira.
  2. Muhammad Ridzky Khalid, putra pertama pembawa acara dan penyiar radio, Farhan (45), mengucapkan satu keinginan sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir karena leukemia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, Minggu (20/12/2015) pukul 13.40 WIB. "Sebelum dibawa ke RSCM (dari Rumah Sakit Pondok Indah), Ridzky bilang, 'Mau pulang, mau pulang, mau pulang ke rumah'," kata juru bicara keluarga Farhan, Erwin Parengkuan, di rumah duka di Jalan Pahlawan Nomor 30, Rempoa, Ciputat, Tangerang Selatan, Minggu (20/12/2015) malam. "Mungkin maksudnya pulang adalah itu (kembali ke Tuhan). Dia bilang itu sebelum tidak sadarkan diri, koma lebih kurang delapan hari," tambahnya. Ridzky, yang merupakan anak berkebutuhan khusus, dikatakan Erwin, tak mengeluh sakit ketika itu. "Ridzky anaknya tahan. Dia cukup kuat," tuturnya. Sementara itu, Farhan dan sang istri, Aryatri, mencoba tabah ketika kondisi putra mereka semakin memburuk. Keduanya setia mendampingi Ridzky hingga detik-detik terakhir hidupnya. "Farhan dan Aya sudah kuat. Mereka udah siap dengan kondisi Ridzky. Sudah diberi tahu dokter juga kalau kemungkinan besar agak sulit untuk survive. Ternyata leukemia itu bisa dideteksi setelah stadium IV," ucap Erwin. Ridzky menurut rencana akan dimakamkan pada Senin (21/12/2015) pukul 09.00 WIB di Tempat Pemakaman Umum Tanah Kusir.
  3. Todung Mulya Lubis sempat menjenguk Adnan Buyung Nasution saat masa kritisnya di Rumah Sakit Pondok Indah pada 20 September 2015. Di situlah Buyung menuliskan pesan tertulis. Dilansir Kompas.com, saat itu, Todung datang bersama keluarganya dan beberapa rekan pengacara datang pada siangnya. Mereka bertahan di sekitar tempat tidur Buyung hingga malam hari. Buyung, sebut Todung, menangis begitu melihat Todung dan rekan-rekannya. "Dia tidak bisa berbicara saat itu, jadi dia cuma bisa menangis, apalagi saat kita pegang tangan dia," ujar Todung di rumah duka, bilangan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Rabu (23/9/2015) siang. Tiba-tiba, Adnan Buyung memberikan isyarat dengan tangannya, meminta secarik kertas untuk menulis pesan. Dengan tertatih-tatih dan gerak patah-patah, Buyung berhasil menulis kalimat menggunakan spidol merah. "Jagalah LBH/YLBHI, teruskan pemikiran dan perjuangan untuk masyarakat miskin dan tertindas," demikian tulis Buyung. Tulisan itu tidak terbaca jelas. "Dia menulis sambil menangis. Lalu, saya jawab, 'iya Bang, iya,'" ujar Todung. Tak disangka, pesan itu adalah pesan terakhir Buyung kepada Todung dan rekan-rekannya. Senior, rekan kerja, sahabat, itu pun pergi untuk selama-lamanya, Jumat sekitar pukul 10.00 WIB. Meski begitu, pesan Buyung itu pun memiliki makna mendalam bagi Todung, yakni bukan hanya untuk dirinya, melainkan untuk penegak hukum di Indonesia. "Pesan bagi semuanya adalah, dia saja dalam sakitnya masih memikirkan negerinya, bangsanya. Dia seperti tidak bisa menerima sakitnya, 'kenapa saya tak bisa berbuat sesuatu lagi'. Itu pesannya. Tapi, ya namanya umur ya urusan Allah, kita doakan yang terbaik," ujar Todung.
  4. MOS (Masa Orentiasi Sekolah) adalah kebudayaan pengarahan di dalam Indonesia saat menempuh jenjang selanjutnya biasanya terdapat pada SMP,SMA/SMK dan Kuliah. MOS biasanya cendurung negatif atau yang menjadi kebaisaan orang Indonesia saat melakukan pengarahan adalah membebankan sesuatu pada siswa baru atau memberi pengarahan cenderung kepada fisik dan kekerasan mental, namun beberapa MOS bisa berakibat fatal pada siswa yang masih yang mengikutinya. Seperti yang dialami oleh siswa baru bernama Evan Christoper Situmorang (12), siswa di SMP Flora Pondok Ungu Permai, tewas setelah dua minggu mengalami sakit di kedua kakinya. Evan mengalami sakit di bagian kaki setelah berjalan hingga 4 kilometer atas perintah seniornya saat hari terakhir Masa Orientasi Sekolah (MOS) di sekolahnya. "Tanggal 9 Juli itu kan dia terakhir MOS di SMP Flora. Dia cerita sama saya disuruh jalan kaki dari sekolahnya di Pondok Ungu Blok A ke perumahan Puri. Lalu dari sana jalan kaki lagi ke POM bensin Pondok Ungu dan jalan lagi ke sekolah. Itu rutenya memutar dan ada sekitar 4 kilometer," ujar ibunda Evan, Ratna Dumiarti di rumahnya Sektor 5 Pondok Ungu Permai, Sabtu (1/8/2015). Ratna bercerita, kegiatan berjalan kaki sejauh itu merupakan kegiatan "cinta lingkungan" yang diadakan panitia MOS. Setelah pulang dari kegiatan itu, Evan mengeluh sakit di bagian kaki kepada ibunya. Kakinya keram dan biru-biru. "Kaki Evan sakit, bu," ujar Ratna menirukan keluhan anaknya. Ratna mengatakan, Evan masih tetap ingin masuk sekolah pada keesokan harinya. Bahkan, Evan bercerita bahwa dia sempat bermain futsal di sekolah. Setelah itu kondisi kakinya semakin bertambah parah. Melihat kondisi Evan yang semakin parah, Ratna mencoba mengobati Evan dengan berbagai pengobatan. Dia mengajak Evan untuk pijat refleksi dan berobat ke puskesmas. "Tapi dia itu enggak pernah mengeluh, tetap sekolah," ujar Ratna. Rasa sakit itu terus dialami Evan hingga dua minggu. Pengobatan yang dilakukan Evan hanya ala kadarnya. Ratna bercerita pada Selasa (28/7/2015), Evan jatuh di kamar mandi sekolah. Ratna menduga kaki anaknya kembali keram dan tak kuat berjalan hingga terjatuh. Evan Meninggal "Setelah itu saya ditelepon dari sekolah. Bilangnya anak saya kakinya keram enggak bisa jalan, enggak bisa berdiri. Saya ini juga guru ya, saya langsung jemput anak saya di sekolah," ujar Ratna. Setelah peristiwa jatuh di kamar mandi, Evan tidak masuk sekolah. Ratna kembali mengajak anaknya berobat di puskesmas. Pada Kamis (30/7/2015) sore, tiba-tiba Evan kejang-kejang. Ratna langsung panik melihat kondisi anaknya. Saat itu, ia mencari bantuan warga sekitar di lingkungan rumahnya yang sedang sepi saat itu. "Kata dokter, maaf bu, anak ibu sudah meninggal dalam perjalanan," ujar Ratna. "Saya enggak mau anak saya mati dokter. Saya enggak mau. Tapi suami saya bilang, ya sudah ikhlaskan saja," tambah Ratna.
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy