Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'autopsi'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

  • Ngobas Blog
  • Your World

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 2 results

  1. Mengenai bagaimana Zefania Carina, anak semata wayang Karen Pooroe alias Karen Idol, jatuh dari lantai enam apartemen hingga kini belum diketahui secara pasti. Sebab, ketika peristiwa nahas itu terjadi, ia diduga sedang sendiri, sementara ayahnya pergi bekerja. Zefania Carina sejak beberapa waktu belakangan tinggal bersama ayahnya, Arya Satria Claproth. Sementara ibunya—Karen Idol—telah pisah rumah, mengingat ia dan sang suami tengah menjalani proses perceraian di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Yang jelas, tak tampak luka parah pada jenazah Zefania Carina. Hal tersebut disampaikan oleh Wemmy Amanupunyo, kuasa hukum sekaligus om dari Karen Idol. “Ya, saat itu juga meninggal dunia. Kondisinya baik. Bahkan seperti anak tidur, ya. Enggak ada yang luka. Lantai enam, lho. Jatuh dari lantai enam, tapi kondisinya bagus,” ujar Wemmy Amanupunyo ketika dijumpai di Rumah Duka RSUP Fatmawati, Jakarta Selatan, Sabtu (8/2). Perihal kejadian itu telah diketahui dan ditangani pihak kepolisian. Namun, menurut Wemmy Amanupunyo, pihak keluarga menolak jenazah Zefania Carina diautopsi. “Menurut keterangan dokter, luka dalam. Cuma, memang tidak mau divisum sama keluarga. Paling nanti hanya visum luar saja. Tapi, untuk diautopsi, enggak. Ditolak. Tadi polisi sudah datang dan sudah foto karena harus mendapatkan tanda tangan persetujuan tidak dilakukan autopsi,” tuturnya. Hal senada dikatakan pula oleh Bima Zeno Pooroe, adik Karen Idol. Menurutnya, sang kakak dan Arya Satria Claproth sama-sama tak bersedia buah hati mereka diautopsi. “Karen keberatan, bapaknya pun keberatan karena harus dibedah-bedah. Keluarga juga enggak mau. Tapi, kalau visum luar, yang saya lihat, cuma ada luka di sini (dahi). Saya enggak tahu karena saya enggak cek satu badan. Cuma, begitu saya buka kaki dan lain-lain, tidak ada lecet sama sekali. Itu makanya agak aneh, sih,” ucap Bima Zeno Pooroe. Zefania Carina, anak hasil pernikahan Karen Idol dan Arya Satria Claproth meninggal dunia pada Jumat (7/2) pukul 22.00 WIB setelah jatuh dari balkon lantai enam apartemen One Bell Park, Jakarta Selatan. Jenazahnya disemayamkan di RSUP Fatmawati dan akan dimakamkan di TPU Tanah Kusir pada hari ini, Minggu (9/2).
  2. Abdul Mun'im Idries baru saja menginjak lantai rumahnya di Cengkareng, Jakarta Barat. Tiba-tiba telepon genggam dokter forensik itu berdering. "Dok, bantu kami, dok. Ada korban penembakan." Mun'im mengenali suara itu: Kasat Serse Polres Metro Jakarta Barat, Kapten Idham Azis. Malam itu, Selasa 12 Mei 1998. "Di mana, Pak?" "Korban ada di RS Sumber Waras. Dokter meluncur saja ke pos polisi di Terminal Grogol." Tanpa mengganti baju, Mun'im segera menuju pos polisi tersebut. Sesampai di sana, ia diminta menunggu. Sampai pukul 23.00 WIB, tak ada kabar. Mun'im lalu berujar, "Pak, daripada menunggu tidak jelas, lebih baik saya berangkat ke Sumber Waras. Toh tidak jauh dan jalanan sepi, tinggal lurus saja." Usul Mun'im diterima. Polisi tak berseragam memboncenginya dengan sepeda motor. Dua petugas lain menemani, dengan sepeda motor berbeda. Jakarta sunyi mencekam. Para polisi itu memilih jalan tikus, bukan menyusuri jalan utama. "Pak dokter, kita tidak tahu siapa kawan siapa lawan. Ini semua demi keselamatan dokter," kata si petugas ketika ditanyakan soal pilihan rutenya seperti diceritakan Mun'im dalam buku "Indonesia X-Files: Mengungkap Fakta dari Kematian Bung Karno sampai Kematian Munir." Setiba di RS Sumber Waras, Mun'im baru tahu ada empat mahasiswa Universitas Trisakti tewas ditembak. Mereka adalah Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie. Mereka menjemput ajal di kampus usai berdemonstrasi. Demonstrasi didorong ekonomi Indonesia yang kolaps sepanjang 1997-1998. Banyak perusahaan gulung tikar, gelombang PHK massa menerjang. Rezim Orde Baru jadi target kemarahan. Para mahasiswa di seluruh Indonesia turun ke jalan, termasuk para mahasiswa Universitas Trisakti. Mereka bergerak dari kampus Trisakti di Jalan Kiai Tapa, Jakarta Barat, menuju Gedung DPR/MPR pada pukul 12.30. Namun mereka dihadang polisi dan militer di depan kantor Wali Kota Jakarta Barat. Mahasiswa coba bernegosiasi. Tetap dilarang ke Senayan. Mereka pun menggelar aksi di Jalan S Parman tersebut. Pada pukul 17.15 WIB, para mahasiswa mundur ke arah kampus. Ketika sebagian besar mahasiswa telah masuk ke halaman kampus, terdengar bunyi tembakan beberapa kali. Arahnya dari jembatan layang Grogol. Tak jelas siapa pelakunya. Saat tembakan reda, diketahui empat mahasiswa tewas. Sebelum autopsi, Mun'im harus membujuk keluarga korban yang melarang. "Bu, memang benar yang sudah wafat tidak mungkin bisa dihidupkan kembali. Akan tetapi almarhum masih mempunyai hak, hak untuk memperoleh keadilan..." kata Mun'im saat itu -- pakar forensik legendaris ini meninggal dunia pada 27 September 2013. Sekitar 15 menit negosiasi berlangsung. Akhirnya autopsi bisa dilakukan. "Masing-masing mendapat luka tembak pada daerah yang mematikan, bukan untuk melumpuhkan. Ini jelas dari lokasi luka tembak...Ada di dahi dan tembus ke daerah belakang kepala, ada di daerah leher, di daerah punggung, dan ada yang di daerah dada," tulis Mun'im. Semua tewas karena peluru tajam. Sesuai kesepakatan, Mun'im mengontak petugas Polres Jakarta Barat, memberi tahu bahwa autopsi kelar. Jarum jam menunjukkan pukul 04.00. Bukan diantar kembali ke rumah, Mun'im malah diajak ke Mapolda Metro. Kapolda Metro, Mayjen Pol Hamami Nata, telah menunggu. Mun'im menjelaskan hasil autopsi seraya menunjukkan proyektil peluru yang membunuh empat pemuda itu. Hamami termangu, matanya menerawang. "Saya sudah perintahkan kepada semua anak buah saya agar mereka tidak menggunakan peluru tajam. Mereka yang menghadapi pengunjuk rasa hanya dibekali peluru karet atau peluru hampa yang terbatas jumlahnya. Dari mana datangnya peluru ini?" ujar Hamami. Berulang kali Hamami menegaskan hal itu. Mun'im langsung menduga bahwa Polda Metro dikerjain. Entah oleh siapa.

About Ngobas

Ngobas is All-in-One website that can be use by everyone for free to find friends and exchange information. The name Ngobas is derived from the abbreviation, which is Ngomong Bebas Originally Sedap, meaning that it is appropriate to speak according to the ethics of socializing.

CEO’s Greeting

I realize that information and communication are the main things in life. Ngobas is the right platform for that. We will always be connected wherever we are and that is the purpose Ngobas was built.

- Samuel Berrit Olam

×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy