Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'astronom'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

  • Ngobas Blog
  • Your World

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 3 results

  1. Tim ahli astrofisika dari Search for Extraterrestrial Intelligence (SETI) di University of California, Berkeley menemukan bintang aneh di galaksi Bimasakti. Salah satu dugaan yang muncul adalah kemungkinan itu adalah rumah bagi alien cerdas. Tim SETI dari California meyakini ada "sesuatu" yang besar menghalangi cahaya dari bintang di antara konstelasi Cygnus dan Lyra. Menurut para peneliti, temuan ini termasuk tak biasa sebab cahaya bintang jarang terhalang oleh sesuatu. Bintang aneh itu awalnya memiliki nama yang sulit, yaitu KIC 8462852. Kemudian tim peneliti menggantinya dengan WTF 001, dari kepanjangan What the Flux. Flux sendiri adalah cahaya yang diukur dari sebuah bintang yang menjangkau Bumi. Cahaya redup bintang yang berkala dinilai menjadi salah satu cara terbaik untuk menentukan apakah sistem bintang itu memiliki planet-planet di luar sistem tata surya yang mengorbit Matahari, atau lebih sering disebut sebagai eksoplanet. Walau bagaimanapun, biasanya planet-planet meredupkan sinar bintang tak lebih dari satu persen dan mereka melakukannya di dalam siklus reguler. Nah, "sesuatu" yang menghalangi cahaya WTF 001 ini mencapai 22 persen. "Tentu ini sangat aneh," ujar ahli astronomi Alan Duffy. "Sulit membayangkan bagaimana bisa cahaya bintang terhalang sebanyak 20 persen. Bintang itu raksasa. Bagaimana bisa?”, dikutip dari Sydney Morning Herald. Duffy juga menyatakan bahwa tim peneliti seperti kehabisan ide sebetulnya apa penyebab dari cahaya redup bintang WTF 001. Namun salah satu ahli astrofisika Jason Wright mengatakan kepada media The Atlantic, bahwa peradaban alien masuk ke dalam dugaan mereka. "Alien selalu menjadi dugaan akhir yang dipertimbangkan. Temuan ini menjadi sesuatu yang Anda harapkan dari apa yang telah dibentuk oleh para alien," tutur Wright. Sementara menurut astrofisikawan dari Yale University, Tabetha Boyajian, penjelasan ilmiah lain yang mendekati adalah adanya gerombolan besar komet yang turun mendekati massa sang surya.
  2. Bintang yang diberi nama WTF 001 oleh tim peneliti Search for Extraterrestrial Intelligence (SETI) dari California, AS memang menunjukan kecenderungan aneh. Dugaan adanya peradaban asing, mereka pun ingin menelitinya lebih jauh. Cahaya bintang WTF 001 dideteksi mengalami redup oleh sesuatu sebanyak 20 persen. Tim peneliti belum bisa memastikan apa yang menghalangi cahaya bintang raksasa itu, tapi sejumlah dugaan telah muncul seperti peradaban alien hingga pasukan komet. Dugaan kehidupan alien cerdas pun tak dipandang sebelah mata. Mereka yang meyakini bahwa ada peradaban asing yang hidup di sistem bintang WTF 001 ini perlu diteliti. Mengutip situs Sydney Morning Herald, tim astrofisikawan berencana menyiapkan teleskop radio yang mampu menentukan keberadaan sinyal yang mengindikasi adanya kehidupan luar Bumi yang sudah matang. "Alien selalu menjadi dugaan akhir yang dipertimbangkan. Temuan ini menjadi sesuatu yang Anda harapkan dari apa yang telah dibentuk oleh para alien," tutur salah satu anggota tim peneliti, Jason Wright. Sementara astrofisikawan dari Yale University, Tabetha Boyajian yang juga bekerjasama dengan Wright dan Andrew Siemion selaku direktur SETI, meyakini hal lain bahwa penghalang cahaya bintang itu kemungkinan dari gerombolan komet yang sedang turun mengarah ke Matahari. Hipotesanya itu berasal dari proyek Planet Hunters yang menemukan sinyal cahaya aneh saat sedang menggali data dari 150 ribu bintang yang dikumpulkan oleh observatorium Kepler. Yang jelas Boyajian menekankan hal-hal yang tak mungkin memengaruhi sinar bintang, di antaranya keberadaan bintang kerdil dan gumpalan debu dari ledakan asteroid atau planet. Wright turut menambahkan, selain dugaan peradaban alien, ia mengatakan bahwa pola cahaya bintang WTF 001 sifatnya konsisten dengan "kumpulan megastruktur" yang mengorbit sang bintang. Kemungkinan megastruktur tersebut terbentuk oleh penghimpun tenaga surya yang besar. 'Teori' itu berasal dari fisikawan Freeman Dyson yang meyakini bahwa peradaban canggih nan mapan bakal menggunakan "megastruktur" itu untuk mengumpulkan energi Matahari dalam jumlah masif. Pada intinya, penelitian mereka ini bakal menggunakan teleskop radio di Greenbank, West Virginia untuk melacak sinyal jelas dari energi elektromagnetik di rentang frekuensi kecil yang mampu mengindikasi teknologi radio. Kabarnya jika mereka berhasil menangkap hal-hal janggal, mereka akan menggunakan teleskop radio Very Large Array di New Mexico demi mendapatkan gambar secara jelas. "Sebagai peneliti, kami perlu mengatakan bahwa mungkin semuanya disebabkan oleh teknologi yang belum mutakhir. Namun tentu perlu dicoba untuk diteliti, itulah yang akan kami lakukan," ucap Siemion.
  3. Johny Setiawan adalah astrofisikawan muda asal Indonesia yang bekerja di Max Planck Institute for Astronomy (MPIA), Jerman. Hebatnya, ia orang non-Jerman yang dipercaya sebagai ketua tim proyek. Pria kelahiran Jakarta, 16 Agustus 1974 ini menamatkan S-1 dan S-3-nya di Freiburg, Jerman. Sebelumnya, engan teleskop 2,2 meter di La Silla, Cile, Johny berhasil menemukan planet baru: HD 11977 B. Planet ini berjarak 200 tahun cahaya dari bumi . Planet berukuran 6,5 kali Jupiter ini mengitari bintang raksasa HD 11977A. Sebelum merilis temuannya, Mei lalu, Setiawan memelototi bintang itu sejak 1999. Sebelumnya, pemuda kelahiran Jakarta, 16 Agustus 1974, ini juga menemukan dua bintang raksasa baru, HD 47536B dan HD 122430B, pada 2003. Para ahli astronomi telah mengkonfirmasi temuan planet alien (asing) di Galaksi Bima Sakti yang datang dari galaksi lain. Namanya, Planet HIP 13044b yang mengorbit bintang tua, HIP 13044. Planet mirip Yupiter ini sebenarnya lahir di galaksi lain, namun kemudian ditangkap oleh Bima Sakti sekitar 6 sampai 9 miliar tahun yang lalu. Efek samping dari kanibalisme galaksi membawa sebuah planet yang dulunya jauh kini berada dalam jangkauan para astronom untuk kali pertamanya. Planet ini ditemukan oleh tim astronom dari Max-Planck-Institut fur Astronomie (MPIA), Heidelberg, Jerman. Tim peneliti meneliti pergerakan HIP 13044 menggunakan teleskop di sebuah observatorium di selatan Eropa, La Silla Observatory di Chile. Setelah enam bulan pengamatan, mereka meneteksi gerakan-gerakan kecil yang melawan tarikan gravitasi planet yang mengorbit. Yang membuat bangga, astronom asal Indonesia, Johny Setiawan didaulat jadi pemimpin proyeknya. “Bagi saya, itu adalah kejutan besar,” kata pemimpin tim, Johny Setiawan dari MPIA, speerti dimuat SPACE.com, 18 November 2010. “Kami tidak mengharapkan itu pada awalnya.” Tim peneliti yang dipimpin Johny Setiawan membeberkan hasil observasinya secara online dalam situs Science edisi 18 November. Ukuran planet ini 25 persen lebih besar dari Jupiter. Ia mengorbit bintang HIP 13044 yang jaraknya 2.000 tahun cahaya dari Bumi di konstelasi Fornax. Planet HIP 13044b berada sangat dekat dengan bintangnya itu. Jarak terdekat dengan bintang induk sekitar 8 juta kilometer atau 5,5 persen jarak Bumi dan Matahari. Planet menyelesaikan orbit setiap 16,2 hari. HIP 13044b selamat dari fase penuaan bintang — yang juga akan dialami Matahari sekitar 5 miliar tahun lagi. Penemuan ini memaksa para astronom memikirkan kembali ide-ide mereka tentang formasi planet dan kelangsungan hidupnya. Apalagi, ini adalah planet pertama yang ditemukan mengelilingi bintang yang sangat tua dan miskin logam. Johny setiawan memperkirakan, nanti, saat Matahari memasuki fase penuaan, menjadi raksasa merah, Bumi mungkin tak akan selamat. “Planet-planet dalam, termasuk Bumi, mungkin tidak akan bertahan hidup,” kata Johny Setiawan. “Tapi Jupiter, Saturnus dan planet-planet luar mungkin pindah mendekat ke orbitnya, persis seperti yang kami deteksi.” Dalam kasus HIP 13044b, planet ini adalah korban yang selamat. Namun, ia tak akan hidup selamanya. Sebab, bintang induknya akan terus berkembang dalam tahap evolusi berikutnya. Planet ini akan tertelan. Planet HIP 13044b yang mengorbit bintang tua, HIP 13044. Gambaran Planet HIP 13044b

About Ngobas

Ngobas is All-in-One website that can be use by everyone for free to find friends and exchange information. The name Ngobas is derived from the abbreviation, which is Ngomong Bebas Originally Sedap, meaning that it is appropriate to speak according to the ethics of socializing.

CEO’s Greeting

I realize that information and communication are the main things in life. Ngobas is the right platform for that. We will always be connected wherever we are and that is the purpose Ngobas was built.

- Samuel Berrit Olam

×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy