Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'asal usul'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

  • Ngobas Blog
  • Your World

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 11 results

  1. Emas , benda yang sangat mahal dan berharaga. Benda yang satu ini selalu diidentikkan dengan perhiasan. Apalagi untuk wanita, hehehe. Coba, saja tanyakan kepada ibu kamu. Pasti, ibu memiliki benda yang satu ini. Emas, sebenarnya sudah dikenal sejak 40 ribu tahun sebelum Masehi. Luaaamaaa sekali, ya! Peristiwa itu ditandai dengan penemuan emas dalam bentuk kepingan di Spanyol. Pada saat itu, kepingan emas telah digunakan oleh manusia purba yang bernama Paleiothic Man. Ada juga yang mengatakan bahwa emas ditemukan oleh masyarakat mesir Kuno sekitar 3000 tahun sebelum masehi. Nah, Raja Tomb of Djer ini yang kabarnya mengenakan emas pertama kali di Mesir. Bukti ini semakin kuat, karena ia di kubur bersama perhiasannya. Dia adalah raja pertama dari dinasti mesir di Abydos, Mesir. Supaya emas itu awet, Orang Mesir memasukkan emas ke dalam daun. Mereka juga mencampur emas dengan logam lain untuk meningkatkan kandungan zat nya. Tak lupa untuk menghasilkan variasi warna emas sehingga emas bisa berubah menjadi warna hijau, merah, ungu, dan lain-lain. Nah, itulah asal usul emas . Oh, iya, hati-hati menyimpan benda berwarna kuning keemasan ini, karena sering menjadi incaran maling! Hehehe, iya dong kan harganya mahal.
  2. Warung Angkringan sangat akrab dikenal masyarakat, terutama di Jawa. Umumnya Angkringan berupa warung tenda sederhana dengan waktu operasi mulai sore hingga dini hari. Menu paling digemari dari warung yang kerap dianggap warung wong cilik ini tentu saja adalah Nasi Kucing (yang dalam bahasa Jawa disebut Sego Kucing). Biasanya lauk pauk seperti tempe sambal kering, teri goreng, sate telur puyuh, sate usus, sate ceker, dan ikan bandeng menjadi menu tambahan. Sedangkan untuk minuman, umumnya menjual wedang jahe, susu jahe, teh manis, air jeruk dan kopi. Dari Jogjakarta, Angkringan semakin mewabah dan menular hingga Jakarta. Tampaknya, selain unsur romantisme, warung sederhana ini juga jadi alternatif tempat nongkrong saat malam, apalagi harga makanannya relatif murah. Kata Angkring atau nangkring yang dalam bahasa Jawa mempunyai arti duduk santai. Angkringan memang sejatinya milik masyarakat kecil, atau wong cilik. Dan demikianlah awal-mula munculnya Angkringan, dari arus bawah yang juga ditujukan pada orang-orang rendahan. Angkringan di Jogjakarta dipelopori oleh seorang pendatang dari Cawas, Klaten bernama Mbah Pairo pada tahun 1950-an. Cawas yang secara adminstratif termasuk wilayah Klaten Jawa Tengah merupakan daerah tandus terutama di musim kemarau. Tidak adanya lahan subur yang bisa diandalkan untuk menyambung hidup, membuat Mbah Pairo mengadu nasib ke Jogjakarta. Mbah Pairo bisa disebut pionir angkringan di Yogjakarta. Usaha angkringan Mbah Pairo ini kemudian diwarisi oleh Lik Man, putra Mbah Pairo sekitar tahun 1969. Lik Man yang kini menempati sebelah utara Stasiun Tugu sempat beberapa kali berpindah lokasi. Seiring bergulirnya waktu, lambat laun bisnis ini kemudian menjamur hingga pada saat ini sangat mudah menemukan angkringan di setiap sudut Kota Jogja. Angkringan Lik Man pun konon menjadi yang paling dikenal di seluruh Jogja, bahkan di luar Jogja. Berbeda dengan angkringan saat ini yang memakai gerobak, di awal kemunculannya angkringan menggunakan pikulan. Pada masa Mbah Pairo berjualan, angkringan dikenal dengan sebutan ting-ting hik (baca: hek). Hal ini disebabkan karena penjualnya berteriak “Hiiik…iyeek” ketika menjajakan dagangan mereka. Istilah hik sering diartikan sebagai Hidangan Istimewa Kampung. Sebutan hik sendiri masih ditemui di Solo hingga saat ini, tetapi untuk di Jogja istilah angkringan lebih populer.
  3. Hampir di seluruh wilayah Nusantara, seruan ketika waktu sholat tiba selalu dibuka dengan suara bedug. Kemudian barulah azan berkumandang. Bahkan, suara bedug sangat populer di bulan Ramadhan. Iya, kan? Ngaku, deh. Akhirnya, bedug pun jadi identik dengan agama islam. Pertanyaanya, sejak kapan dan bagaimana bedug hadir di tengah-tengah masyarakat Indonesia? Apakah seiring dengan perubahan kendaraan religius dalam sejarah, ketika kerajaan-kerajaan Hindu-Budha runtuh berganti dengan masuknya islam? Beberapa literatur meyakini bedug tiba di bumi Nusantara seiring kedatangan Cheng Ho. Laksamana muslim Kaisar Ming itu menginginkan suara bedug di masjid-masjid, seperti halnya penggunaan alat serupa di kuil-kuil Budha di Cina. Namun, menurut studi M. Dwi Cahyono, arkeolog dari Universitas Negeri Malang, bedug terkait dengan masa prasejarah Indonesia di mana nenek moyang kita sudah mengenal nekara dan moko, sejenis genderang dari perunggu yang dipakai dalam minta hujan. Kata Bedug juga sudah disinggung dalam Kidung Malat, sebuah karya sastra dari abad ke 14-16 Masehi. Dalam Kidung Malat dijelaskan bahwa bedug dibedakan antara bedug besar (teg-teg) dengan bedug ukuran biasa. Bedug pada masa itu berfungsi sebagai alat komunikasi dan penanda adanya perang, bencana alam atau hal mendesak lainnya. Dibunyikan pula untuk menandai tibanya waktu. Maka ada istilah Jawa yang mengatakan, “Wis wanci keteg.” (sudah waktu siang). Kata ”keteg” diambil dari saat teg-teg dibunyikan. Kendati demikian, pengaruh Cina tidak lantas dikesampingkan. Ditilik dari sisi konstruksi, teknik pemasangan tali dan pasak untuk merekatkan selaput getar ke resonator pada bedug Jawa mirip dengan cara yang digunakan pada bedug di Asia Timur, seperti Jepang, Cina atau Korea. Bukti lain terlihat pada penampilan arca terakota yang ditemukan di situs Trowulan. Arca-arca prajurit berwajah Mongoloid itu tampak menabuh tabang-tabang, sejenis genderang yang terpengaruh budaya Timur Tengah. Bedug di Purworejo yang diklaim terbesar di Indonesia, bahkan dunia Kemungkinan itulah instrumen musik yang dimainkan orang-orang Cina Muslim di ibukota Majapahit. Menariknya, tabang-tabang sebenarnya merupakan instrumen musik yang sudah ada sejak masa Hindu-Budha. Di dalamnya ada pengaruh budaya India dan Semit Islam. Namun, diperkenalkan dan dimainkan oleh masyarakat Cina Muslim. Kesimpulannya, bedug bisa dikatakan contoh perwujudan akulturasi budaya waditra (instrumen musik membrafon) di mana secara fisiografis terjadi perpaduan antara waditra membrafon etnik Nusantara dengan wadistra sejenis dari luar, seperti India, Cina, dan Timur Tengah. Bedug akhirnya mem-budaya Cornelis De Houtman dalam catatan perjalanannya “D’eerste Boek” menjadi saksi atas keberadaan bedug yang sudah meluas pada abad ke-16. Ketika tiba di Banten, ia menggambarkan bahwa di setiap perempatan jalan terdapat genderang yang digantung dan dibunyikan memakai tongkat pemukul yang ditempatkan di sebelahnya. Fungsinya sebagai tanda bahaya dan penanda waktu. Kesaksian ini jelas merujuk pada bedug. Muktamar NU ke-11 tahun 1936 di Banjarmasin kembali mengukuhkan penggunaan bedug dan kentongan, bahwa pemakaian kedua alat tersebut di masjid-masjid sangat diperlukan untuk memperbesar syiar Islam.
  4. Misteri mengenai keberadaan ular naga sangat menarik untuk dikupas lebih lanjut. Banyak orang yang percaya akan keberadaan naga. Di China, keberadaan naga sangat diakui dan merupakan simbol dari kekuatan dan juga spiritual. Naga dianggap sebagai mahluk yang menandakan karma baik dan juga memberikan pembinaan bagi mereka yang ingin belajar ilmu spiritual dalam waktu yang lama. Dalam hal ini, tentu saja naga memperoleh kedudukan yang sangat terhormat. Dalam beberapa agama dan keyakinan tentu saja ada beberapa jenis naga yang memiliki definisi tersendiri. Dalam agama budha, anda akan menemukan bahwa naga merupakan simbol dari pendamping dan juga pelindung untuk umat Budha. Naga adalah mahluk yang berbentuk seperti ular. Bedanya adalah naga memiliki tangan dan kaki yang menyerupai kadal. Selain itu, beberapa filosofi bahkan mengatakan bahwa naga memiliki kemampuan untuk menyemburkan api. Inilah yang kemudian membuat naga tersebut memiliki bentuk dan juga ketangguhan yang sangat luar biasa. Naga juga memiliki beberapa keunikan tersendiri. Contohnya adalah ketika anda mendengar nama Hydra. Hydra adalah naga yang sangat terkenal dalam mitos Yunani. Jenis naga yang satu ini memiliki kepala dengan jumlah 5 buah dan tentu saja memiliki kekuatan yang sangat luar biasa. Naga jenis yang satu ini juga memiliki kulit yang kuat sehingga akan mampu untuk memberikan sesuatu yang sangat luar biasa. Bukan hal yang mustahil jika naga ini juga menjadi sebuah simbol yang sangat luar biasa. Akan tetapi, ada juga naga lainnya yang berasal dari kepercayaan china yaitu naga yang memiliki tanduk dan biasa disebut dengan naga yang memiliki kulit putih. Bagaimana asal-usul dari naga tersebut? Banyak yang mengatakan bahwa naga adalah mahluk yang dulu pernah ada dan hidup di masa lalu. Naga tersebut juga memiliki bentuk yang sangat mengerikan dan besar sebagaimana T-Rex atau Gigatosaurus. Tentu saja penampilan dari naga tersebut juga beda dibandingkan dengan yang anda bayangkan. Ada juga yang mengatakan bahwa naga itu dulunya merupakan jelmaan dari komodo raksasa. Dengan adanya naga tersebut maka banyak para ilmuwan yang ingin meneliti lebih jauh mengenai keberadaan dari mahluk yang satu ini. Dalam mitos lain, asal-usul naga juga sering dikaitkan dengan hal yang spiritual. Saat seseorang sedang melakukan semedi atau melakukan ritual tertentu, mereka mengakui didatangi sesosok ular dengan tubuh yang besar dan panjang. Mereka menyebut sosok tersebut sebagai naga yang sangat besar . Dalam hal ini tentu saja banyak orang yang menyebutkan bahwa naga tersebut juga memiliki tampilan yang sangat signifikan. Inilah yang kemudian membuat banyak orang sangat terpesona dengan adanya naga tersebut. Naga merupakan sesosok mahluk yang sangat luar biasa besar dan juga memberikan bentuk yang menakutkan. Akan tetapi, ada juga naga yang memiliki bentuk yang lembut dan indah. Naga juga ternyata memiliki jenis kelamin. Menurut kepercayaan dari China, naga yang memiliki jenis laki-laki akan memiliki bentuk fisik yang memiliki janggut di bagian tubuhnya. Sementara itu, ada sebuah mutiara yang terlihat di bagian dagu dari naga tersebut. Sementara itu, bagi naga yang memiliki jenis kelamin wanita maka perbedaan akan bisa dilihat dari bentuk hidungnya. Bentuk hidung dari naga tersebut lebih lurus. Pada bagian dagunya tentu saja tidak ada janggut yang terdapat didalamnya. Naga memiliki penampilan yang sangat luar biasa dan banyak orang sangat mengenal naga tersebut. Bagi orang yang percaya dengan ilmu spiritual dari China maka naga dilambangkan sebagai mahluk yang memiliki lambang pelindung. Bahkan dalam ilmu Feng Shui, naga juga memiliki bentuk yang sangat luar biasa. Naga adalah mahluk yang sangat luar biasa dan juga menjadi pelindung bagi semua orang. Naga juga dikaitkan dengan mahluk suci lainnya, salah satunya adalah dewi Kwan Im. Dewi yang membagi rezeki kepada semua orang. Diakui pula bahwa naga yang memiliki warna biru atau hijau akan memiliki lambang energi keberuntungan yang sangat luar biasa. Dengan adanya warna biru dan hijau pada naga tersebut tentu saja akan mampu memberikan sebuah manfaat yang sangat luar biasa. Tentunya hal ini juga akan mampu memberikan manfaat yang sangat signifikan bagi banyak orang nantinya. Naga yang ada dalam sejarah China ada banyak sekali jumlahnya. Dalam hal ini, naga dalam mitologi China juga akan mampu untuk memberikan sebuah penampilan yang sangat tangguh dan juga istimewa. Tentu saja hal ini akan mampu membuat naga tersebut sangat mudah untuk dikenal oleh banyak orang. Naga merupakan sosok yang sangat luar biasa dan istimewa. Tidak heran jika naga bisa menjadi sosok mahluk yang disukai oleh banyak orang di seluruh dunia.
  5. Pernah mencicipi manakan yang satu ini? Lontong balap, makanan khas kota Surabaya ini merupakan salah jajaran daftar menu makanan yang sering diburu orang. Lotong balap namanya terkesan cukup unik ya! makanan yang diterdiri dari potongan lotong, tauge,tahu goreng, lentho, bawang goreng, kecap dan sambal serta sate kerang sebagai pelengkapnya membuat banyak orang bertanya kenapa dinamakan lontong balap. Jika menilik asal muasalnya, makanan ini dijajakan dengan pikulan yang membawa gentong berisi makanan dan ditawarkan keliling kota. Memikul dagangan yang berat membuat si penjual harus berjalan cukup cepat. Sehingga banyak yang berasumsi bahwa dinamakan lontong balap karena si penjual berjalan dengan cepat sambil membawa dagangan.
  6. Hot Dog !! upss jangan disalah artikan dulu ya dear. Hot Dog bila diartikan dalam bahasa Indonesia memiliki arti anjing panas. Namun yang dimaksud ini bukan seekor binatang, melainkan makanan yang sering dijumpai dimana saja. Meskipun namanya Hot Dog namun bukan berarti makanan ini berisikan daging gugug yah!!! namun makanan ini merupakan suatu olahan daging sapi yang dibentuk memanjang menjadi sosis. Pada tahun 1852 di kota Frankfurt memang terkenal sebagai penghasil sosis. Diantara banyak orang pembuat sosis tersebut, salah satu orang memiliki anjing dachshund (anjing tekel) yangmana orang tersebut memiliki ide dan menganjurkan kepada rekan-rekannya untuk membuat sosis yang dilengkungkan sedikit mirip bentuk tubuh anjing tekel. Melihat bentuk sosis yang lucu, akhirnya sosis itu dijual dipasaran dengan nama sosis tekel. Pada tahu 1880-an di kota St. Louis, Missouri, Amerika Serikat, Antoine Feuchtwanger berketuranan Jerman yang berasal dari Frankfurt telah membawa makanan itu ke daratan Amerika. Sosis yang ia bawa dinamakan “frank, wiener dan lauvlain. Meskipun Feuchtwanger membawa dan memperkenalkan sosis tekel itu, namun Charles Feltman yang berasal dari Frankfurt juga telah menyempurnakan makanan tersebut. Berawal dari kehilangan pelanggan setianya, yang lebih menyukai makanan serba panas. Feltman akhirnya membuat suatu ide baru dengan menggabungkan sosis tekel tersebut dengan roti, yang dibalur dengan saus dan beberapa isian yang enak, serta disajikan saat panas. Meskipun makanan ini sudah terkenal, namun nama Hot Dog baru tercipta ketika seorang pelukis bernaman Ted Dorgan, yang melihat para penjual makanan tersebut. Ted menggambarkan suatu anjing yang dijepit pada roti dengan dibaluri oleh saus sambal dan tomat. Hingga akhirnya gambar yang dibuat Ted bersamaan dengan naman Hot Dog akhirnya dibaca oleh banyak orang di media. Hingga pada akhirnya nama Hot Dog menjadi terkenal. Perkembangan Hot Dog menjadi lebih popular di Amerika, meskipun asal muasal makanan ini dari Jerman. Dear, jangan salah sangka dulu ya, kalau Hot Dog itu bukanlah anjing panas ya, melainkan makanan yang dibuat dari daging sapi olahan.
  7. kotawa

    Asal Usul Cahkwe

    Ndral, sudah pernah makan cahkwe? Itu lho sejenis gorengan yang terbuat dari terigu, berbentuk persegi panjang yang dihidangkan dengan saus khusus untuk cahkwe. Nah, kali ini kita tidak akan membahas bagaimana cara membuat cahkwe ini melainkan kita akan mencari tahu asal usul dari cakwe tersebut. Penasaran? Yuk, simak informasi selengkapnya berikut ini. Cahkwe sebenarnya adalah salah satu penganan tradisional yang berasal dari Tionghoa. Cahkwe adalah dialek Hokkian yang berarti hantu yang digoreng, lho bagaimana bisa seperti itu ya, Dears? Nama ini berhubungan erat dengan asal usul penganan yang kecil namun sarat akan nilai sejarah. Nah, mari kita cari tahu lebih banyak tentang cahkwe. Cahkwe mulai populer pada zaman Dinasti Song, berawal dari matinya Jenderal Yue Fei yang terkenal akan nasionalismenya akibat fitnahan Perdana Menteri Qin Hui. Mendengar kabar kematian Yue Fei, rakyat Tiongkok kemudian membuat 2 batang kecil dari adonan tepung beras yang melambangkan Qin Hui dan istrinya lalu digoreng untuk dimakan. Ini dilakukan sebagai simbolisasi kebencian rakyat atas Qin Hui. Namun, kalau cakhwe disebut dengan berbagai nama di daratan Tiongkok sendiri karena perbedaan dialek daerah. You Tiao adalah nama umum Cakhwe dalam Bahasa Tionghoa dan sebenarnya diambil dari dialek Zhejiang. Sedangkan dalam dialek Hokkian disebut Cakhwe dari asalnya. Di dialek Chaozhou dan Shantou penganan ini disebut Zha Guo. Di daerah lain yaitu Anhui Cakhwe disebut dengan nama You Guozi. Kata Guo dalam nama-nama tersebut berarti kue. Wah, ternyata makanan ini banyak juga terdapat di luar negara kita dengan nama yang tidak jauh berbeda, Dears. Well, kalau di Indonesia sendiri, cahkwe dijual di toko atau kebanyakan dijajakan oleh pedagang kaki lima di beberapa daerah di tanah air. Cara penyajian pun beragam seperti di daerah Solo, Jawa Tengah, penyajiannya disertai susu kedelai. Sedangkan di daerah lain, Cakhwe disajikan dengan sambal asam cair. Di Pontianak dan Ketapang, Kalimantan Barat, Cakhwe umumnya manis dan kenyal. Disajikan dengan Lek Taw Zuan (Bahasa Tiochiu yg artinya mutiara kacang hijau). Lek Taw Zhuan adalah kacang hijau yang dibuang kulitnya dan dikukus dengan daun pandan. Setelah itu kacang hijau diberi gula kental dan disajikan bersama Cahkwe yang diiris kecil-kecil. Nah, bagaimana Dears ternyata cukup unik juga ya. Kalau di Jakarta kebanyakan cahkwe ini disajikan dengan saus asam manis. jadi ingin mencoba rasanya kalau cahkwe disajikan dengan susu atau saus lainnya. Kira-kira seperti apa ya rasanya?
  8. Kalian semua pasti sudah pada tahu bahwasanya pada tahun 2013 lalu, Oxford sudah memilih kata ‘selfie’ sebagai word of the year. Sungguh prestasi yang sangat membanggakan untuk sebuah kata. Namun saya yakin, banyak dari kalian yang bingung sekaligus mempertanyakan bagaimana awal mulanya kisah si ‘selfie’ ini bisa sampai terpilih dan mendunia, terkenal di mana-mana, tersohor hingga ke pelosok desa. Oleh karena itu, berangkat dari keresahan tersebut, maka kami berusaha semampu kami menghadirkan tulisan ini, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tak berkesudahan tentang darimana selfie ini berasal hingga bisa sampai seperti sekarang ini. Alkisah pada masa yang lampau, di jaman pertengahan di mana manusia masih hidup jauh-jauhan, hiduplah seorang perempuan yang hidup sebatang kara, dan membuat orang-orang bingung itu perempuan kenapa bisa sampai punya batang. Perempuan itu bernama Romlah, lahir dan besar di wilayah antah berantah entah di mana. Sejak kecil Romlah tinggal sendirian, tanpa keluarga, dan hingga dia dewasa, tak ada yang tahu siapa orang tua Romlah. Sungguh kasian Romlah, sudah tak punya keluarga, tak ada pula yang mau berteman dengannya. Mungkin Romlah dijauhi teman-teman sebayanya karena wajah romlah yang buruk rupa. Wajah Romlah memang berbeda dari orang kebanyakan. Sungguh kejam masyarakat memang, menyamakan Romlah dengan binatang, membuat Romlah jadi sering mengurung diri dalam kamarnya. Konon seorang pemuka masyarakat setempat pernah bercerita, dulu ketika sedang diadakan patroli keamanan oleh warga yang sedang melakukan ronda, tiba-tiba ditemukan seonggok bungkusan tak jelas juntrungannya. Tim ronda yang bertugas saat itu berada di posisi antara bingung atau gimana, awalnya berpikir kalau bungkusan itu paling hanyalah sekedar nangka belum mateng yang jatuh dari pohonnya. Namun tak lama berselang, ketika baru saja hendak melangkahkan kaki, tiba-tiba bungkusan itu bergerak menggeliat-geliat. Tim ronda pun kaget, dan sempat berpikir jangan-jangan isi bungkusan itu adalah bayi dinosaurus yang baru menetas, yah namanya juga orang dulu, gampang percaya begitu aja, kebetulan waktu itu film Jurassic Park lagi rame-ramenya. Maka salah satu dari tim ronda yang bertugas malam itu segera mengambil kayu lalu memukul-mukul bungkusan itu hingga diam. Dan ketika dibuka, betapa terkejutnya mereka semua menemukan bahwa ada seorang bayi mungil tak berdaya, bentuknya sudah tidak karuan. Dari situlah awal mula Romlah berasal. Romlah yang tak punya siapa-siapa akhirnya diangkat anak oleh warga setempat yang bernama Mahmud, dibesarkanlah Romlah oleh Mahmud dengan penuh kasih sayang. Hingga Romlah beranjak dewasa, dan Mahmud harus menghadapi kenyataan bahwa manusia tidak ada yang hidup abadi. Tepat ketika Romlah berusia 17 tahun, Mahmud pergi selama-lamanya meninggalkan dunia. Menurut kabar yang beredar, Mahmud meninggal karena keracunan makanan, gara-garanya malam hari dia kelaparan, melihat ada bungkusan maka segera disikat olehnya, garing-garing gitu rasanya. Ternyata eh ternyata itu bungkusan isinya bekas potongan kuku, seketika Mahmud meninggal dunia, keracunan bekas kuku sikil. Sepeninggal Mahmud Romlah pun makin kesepian karena tinggal sendirian, hidupnya gitu-gitu aja, bama beti, bangun makan berak tidur. Mau main keluar dia tak punya teman. Sungguh nahas nasib si Romlah ini memang. Beruntung di masa itu sudah ada internet yang masuk ke daerah tempat Romlah tinggal, dan kebetulan ada warnet yang buka di situ, 24 jam, tapi kadang-kadang tutup kalo yang jaga lagi males. Betapa bahagia hati Romlah, sebab internet adalah peluang baginya untuk memiliki teman, setidaknya di dunia maya pun tak mengapa. Dibuatlah akun Facebook oleh Romlah, dengan perasaan riang dan senang dia mengisi segala kolom untuk melengkapi profilnya. Sempat terpikir oleh Romlah untuk menggunakan nama samaran yang lebih keren, dari Romlah menjadi Ramona, serta menggunakan foto profil orang lain yang lebih cantik hasil googling, tujuannya tak lain semata adalah agar orang tertarik untuk menjadikannya teman. Namun Romlah teringat pesan Mahmud, bahwasanya manusia hidup haruslah apa adanya, banggalah dengan jati dirimu, siapapun kamu. “Romlah, bapak cuma bisa pesen ke kamu, jadi orang tuh mesti gerah terus gak boleh tenang, jangan urusin apa kata orang,” pesan Mahmud kepada Romlah sebelum meninggal. Maka jadilah sebuah akun Facebook bernama “Romlah,” dengan menggunakan foto profil sendiri. Berminggu-minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun waktu berjalan, jumlah teman yang dimiliki Romlah tetap saja 0. Sudah tak terhitung jumlah orang yang di-add Romlah untuk menjadi teman di Facebook, namun tak ada satupun yang mau terima permintaan pertemanan darinya. Pun sebaliknya tak ada pula yang meng-add Romlah untuk menjadikan teman. Romlah masih sendiri. Meski begitu, Romlah tak bersedih dan berkecil hati, dia tak henti berusaha, tetap rajin meng-upload fotonya sendiri. Karena semua foto Romlah diambil oleh dirinya sendiri, tanpa ada seorang pun yang mau fotoin dia, maka Romlah pun mengubah nama akun Facebook-nya menjadi “Romlah Selalu Foto Sendiri.” Memang nasib orang itu seperti kentut, tak ada yang tahu rupanya seperti apa. Selang beberapa tahun setelah mengganti namanya, suatu hari tak disangka-sangka ada orang yang mengiriminya pesan di Facebook, namanya Tarwis Driadi. Betapa senang perasaan Romlah saat itu, dedikasinya selama ini membuahkan hasil, akhirnya ada orang yang mau berinteraksi dengannya. Belum sempat membaca isi pesan tersebut, saking senangnya Romlah sampai lupa daratan, dia melompat-lompat kegirangan tak karuan sambil teriak-teriak hingga mengganggu pengunjung warnet yang lain saat itu. Salah seorang pengunjung yang kesal dengan kelakuan Romlah akhirnya iseng melemparkan upilnya ke samping tempat Romlah berada, tak disangka upil tersebut masuk ke mata Romlah yang sedang melompat-lompat. Karena pandangannya terganggu, keseimbangan Romlah pun goyah, kakinya tak bisa menapak sempurna sehabis melompat, jatuhlah Romlah ke lantai setelah sebelumnya kepalanya menabrak monitor komputer dan tangannya menyenggol botol minuman yang ada di atas meja. Botol minuman itu menumpahkan isinya ke atas colokan listrik hingga ke lantai, dan tubuh Romlah yang jatuh ke lantai mau tak mau tersetrum. Maka meninggallah Romlah saat itu juga. Meninggal gara-gara kelilipan upil. Penjaga warnet yang merasa kasihan (terhadap komputernya yang kena tabrak) pun akhirnya segera menghampiri tubuh Romlah. Karena penasaran akan apa yang menyebabkan Romlah sampai kegirangan, maka dibukalah komputer Romlah, dan layar menunjukkan halaman Facebook pada bagian inbox. Dibacalah pesan itu oleh sang penjaga warnet yang budiman. Ada pepatah yang bilang kalau gajah mati meninggalkan gading, dan manusia mati meninggalkan nama. Segera setelah membaca isi pesan tersebut, penjaga warnet yang budiman (ternyata namanya memang Budiman) segera membalas pesan dari Tarwis Driadi, memberi tahu bahwa Romlah sudah meninggal. Dan karena si Budiman tidak tahu siapa-siapa saja yang dikenal Romlah, Budiman berharap si Tarwis Driadi ini mau datang untuk mengurusi jenazah Romlah. Maka datanglah Tarwis Driadi ke daerah tempat Romlah tinggal, dan mengejutkannya, Tarwis datang membawa rombongan fotografer. Usut punya usut, si Budiman baru tahu kalau Tarwis Driadi ternyata adalah seorang fotografer ternama di Indonesia. Setelah mengurusi jenazah Romlah dan menguburkannya. Tarwis meminta izin kepada sang penjaga warnet, yang budiman, untuk membuka komputer yang terakhir dipakai si Romlah. Tujuannya adalah untuk melihat isi profil Facebook si Romlah. Dan dengan disaksikan para fotografer lainnya, Tarwis pun mengucapkan sepatah dua patah kata. “Rekan-rekan fotografer sekalian, saya jauh-jauh membawa anda ke sini untuk membuktikan janji saya akan sebuah fenomena baru di dunia fotografi. Sebuah style baru dalam ranah pemotretan yang saya sendiri baru temukan. Sayang, sang penemu style ini sudah terlebih dahulu meninggalkan kita.” Tarwis dan rekan-rekan fotografernya pun segera menundukkan kepala, mengheningkan cipta mendoakan Romlah sang inspirator. Lalu Tarwis melanjutkan kata-katanya, “Teman-teman bisa lihat sendiri gaya foto si Romlah Selalu Foto Sendiri ini, semuanya dilakukan secara mandiri, tanpa bantuan orang lain. Sungguh gaya foto yang kreatif, dan saya yakin ini akan menjadi fenomena baru di masyarakat.” Para fotografer itu pun menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan ucapan Tarwis, mereka terkagum-kagum melihat koleksi foto profil Romlah yang dilakukan sendiri itu. Ternyata, si Tarwis mengirimi pesan kepada Romlah adalah untuk mewawancarainya dan meminta agar Romlah mengajarinya teknik foto sendiri itu. Tarwis dan rombongan fotografer pun bertekad untuk meneruskan perjuangan Romlah, mereka berjanji untuk memperkenalkan gaya foto sendiri itu ke masyarakat luas. Saat itu juga mereka meniru gaya foto Romlah dan meng-upload-nya ramai-ramai ke situs jejaring sosial. Salah seorang fotografer kemudian bertanya kepada Tarwis, “Mas, ini kalo ada yang nanya gaya foto kayak gini, jawabnya gimana?” Tarwis pun terdiam dan berpikir sejenak, menimbang-nimbang jawaban atas pertanyaan yang sudah dilayangkan itu. Dan voila! Tiba-tiba langsung saja terbersit ide gemilang di kepala Tarwis. “Teman-teman sekalian, untuk mengenang dan menghormati jasa Romlah Selalu Foto Sendiri, bagaimana kalau kita menamai gaya foto sendiri ini sesuai dengan nama penemunya, yaitu gaya SELFI,’ singkatan dari Selalu Foto Sendiri,” kata Tarwis yang diamini oleh jamaah fotografernya. Maka sejak saat itu, dengan dimotori para fotografer ternama di Indonesia, gaya foto selfi pun terkenal di mana-mana. Dari Asia hingga Afrika, dari Surabaya hingga Somalia, dari yang muda hingga yang tua, semua tak henti-henti meng-upload foto mukanya sendiri ke jejaring sosial, dengan gaya selfi. Saking terkenal dan mendunianya, lama-kelamaan foto selfi pun sampai ke daratan Eropa, tepatnya Inggris. Dan untuk menyesuaikan dengan bahasanya, maka namanya pun berubah dari selfi menjadi selfie. Hingga akhirnya kamus bahasa Inggris Oxford menobatkan selfie sebagai word of the year. Istilah baru di dunia fotografi. Terima kasih Romlah. Jasamu tak terkira bagi jemaah gaul fakir internet dan haus eksistensi di jejaring sosial.
  9. Alkisah hiduplah seorang wanita muda di negeri antah-berantah. Dia dikenal sebagai kembang kerajaan di sana. Dengan sepatu kacanya, dia menapaki sepetak demi sepetak pemukiman warga. Tak heran, semua lelaki menengok kagum memerhatikan wajahnya. Beliau kerap disapa Princess. Princess Komariah. Princess Komariah merupakan sosok putri raja yang amat cantik, juga amat sederhana. Meskipun dia putri raja, tak ada sedikit pun pengawal kerajaan yang mendampinginya. Wanita yang memiliki hobi blusukan ini, kerap disapa penduduknya, apabila ketika sedang berjalan-jalan di pemukiman rakyatnya. “Mbak Perincess Komariaaah, aku mau selpi dong sama mbake,” sapa salah satu gadis desa dengan logat Jawa kental, seraya mengambil kaca di dalam baskomnya. Dia meminta selfie. Pada zaman ini, karena belum ada kamera, selfie merupakan kegiatan mengaca bersama. “Boleeeeh,” balasnya dengan senyum tipis, setipis kupis Pak Idris, sambil merapihkan rambutnya untuk berkaca bersama. Seperti pada umumnya, sang penduduk desa pun memulai selfie-nya dengan memberikan aba-aba. “Sijiiiii… loroooo… teeeee….” Mereka berpose. “Aaaaaaak! Kok aku masih kalah canti’ sih sama mbak perinces Komariaaah?!” Sang gadis desa terlihat kecewa berat, dia memasang muka penuh dengan dengki. “Ah, cantikan kamu kokkkk,” Princess Komariah pun tersenyum, sambil mengelus pipi kanan si gadis desa. “Ah! Mbak Perincess bohong! Mbak bilang gitu biar aku seneng aja, kan?!” Gadis desa itu menghempaskan tangan Princess Komariah. “Nggak, sayang. Bener kok. Kamu cantik. Hehe.” Princess Komariah tetap membalasnya dengan senyuman. “Halah bohong! Ngaku aja!” gadis desa tetap ngotot. Princess Komariah pun terlihat mulai geram dengan tingkah si gadis desa. “Beneraaan, sayaang, kamu cantik kok,” ujar Princess Komariah, kali ini dengan senyum terpaksa. Si gadis desa tetap keras kepala. Dia berpikiran kalau Princess Komariah berkata demikian hanya untuk menyenangkan hatinya. “Halah! Aku tau kok! Jujur aja kali! Aku gak papa kok! Dalam hati Mbak Princess, aku jelek, iya kan??!!! Dasar pembual!!!!” Mendengar ucapan si gadis desa, princess Komariah makin geram, dia mendekatkan wajahnya ke muka si gadis desa, lalu menarik kerah kebaya si gadis desa. “AIHSIANYING! BATU SIAH! WANI KA AING?!!!” Wajah Princess Komariah memerah darah, matanya tajam sambil memancarkan sinar laser. Belakangan diketahui, ternyata Princess Komariah adalah titisan teman Wolverine, Cyclops. Melihat kemarahan Princess Komariah, si gadis desa pun terkejut. Maagnya kambuh. Lalu dia pingsan, di genggaman Princess Komariah. Warga yang menyaksikan dari kejauhan pun langsung bergerumul, lalu bertanya-tanya. “MBAAK PERINCES NGAPAIN DIAAAA??????????!?!” Princess Komariah kebingungan. Dia mencoba menjelaskan, tapi warga enggan percaya. “Ya ampun! Ternyata Mbak Perinces orangnya jahat ya! Dimintain selfie aja marah-marah! Diambil hati banget! Kami kecewa!” ucap salah satu warga dari kerumunan. “Tuh, Nak! Kamu udah gede jangan kayak si Mbak Princess ya! Dikit-dikit diambil hati!” ucap warga yang lainnya, kepada anaknya. “Iya, jangan kayak si Mbak Princess!” Warga lain mulai ikut nyeletuk. “Iya! Jangan kayak si Mbak Per!” “Iya! Dasar Mba Per busuk! Gitu doang diambil hati!” saut warga yang lainnya. Sejak saat itu, sosok Princess Komariah yang tadinya dikenal sebagai sosok sederhana dan rendah hati, dikenal sebagai sosok yang dikit-dikit diambil hati. Berhari-hari warga mengucilkan Princess Komariah, sampai-sampai semenjak kejadian itu, warga desa pun membuat kurikulum baru yang berisi tentang pengajaran agar anak-cucunya tidak menjadi manusia yang dikit-dikit diambil hati. Sikap warga pun nggak sampai di situ aja, demi melahirkan generasi yang diharapkan, semua bayi yang baru lahir, dibisiki, “Kamu kalau udah gede, jangan mbaper ya, Nak!” Mbak Per, Mbak Per, dan Mbak Per. Itulah kata yang selalu diingat oleh warga desa pada abad itu. Hingga kini, istilah itu pun masih dikenang. Akan tetapi, seiring berkembangnya zaman, pengucapan mbakper terasa sulit, yang kemudian ejaannya luruh menjadi “Baper”.
  10. Pilot atau penerbang rupanya diambil dari nama Jean Francois Pilatre de Rozier yang lahir di Metz, Perancis, 30 Maret 1754. Pelopor pertama di dunia penerbangan itu meninggal di usia yang sangat muda yaitu 31 tahun. Awalnya Pilatre merupakan seorang guru kimia dan fisika Perancis. Ia juga mempelajari ilmu botani di perusahaan milik duc de la Rochefoucauld. Pada Juni 1783 ia hadir dalam penerbangan balon milik Montgolfier bersaudara. Pada 21 November 1783, ia ikut dalam penerbangan pertama kalinya dalam sejarah yang membawa manusia, ditemani oleh Marquis d'Arlandes. Selama penerbangan 25 menit menggunakan balon udara panas, mereka mengadakan perjalanan sejauh 12 kilometer dari Chateau de la Muette hingga Butte-aux-Cailles (yang kemudian menjadi daerah pinggiran Paris), dan mencapai ketinggian 3000 kaki. De Rozier meninggal ketika mencoba menyebrangi Selat Inggris ketika balonnya, yang merupakan kombinasi hidrogen dan balon udara panas, meledak pada 15 Juni 1785. Dengan kejadian ini, ia dan rekan sepenerbangannya, Pierre Romain, menjadi yang pertama tercatat dalam sejarah sebagai korban kecelakaan penerbangan. Istilah "pilot" kemudian diambil dari namanya, Pilatre. sumber: Tribun Jogja, Wikipedia
  11. Siapa yang nggak kenal batik? Batik (atau kata Batik) berasal dari bahasa Jawa "amba" yang berarti menulis dan "nitik". Kata batik sendiri meruju pada teknik pembuatan corak Motif Batik - menggunakan canting atau cap - dan pencelupan kain dengan menggunakan bahan perintang warna Motif Batik pada Baju Batik "malam" (wax) yang diaplikasikan di atas kain, sehingga menahan masuknya bahan pewarna. Dalam bahasa Inggris teknik ini dikenal dengan istilah wax-resist dyeing. Jadi kain Baju Batik adalah kain yang memiliki ragam hias atau corak yang dibuat dengan canting dan cap dengan menggunakan malam sebagai bahan perintang warna. Teknik ini hanya bisa diterapkan di atas bahan yang terbuat dari serat alami seperti katun, sutra, wol dan enggak bisa diterapkan di atas kain dengan serat buatan (polyester). Kain yang pembuatan corak Batik Solo dan pewarnaannya enggak menggunakan teknik ini dikenal dengan kain bercorak batik - biasanya dibuat dalam skala industri dengan teknik cetak (print) - bukan kain batik. Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik Busana Batik dan Blus batik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik Batik Solo adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya "Batik Cap" yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak "Mega Mendung", dimana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki. Ragam corak dan warna Desain Busana Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak Busana Batik dan Blus batik hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Namun batik pesisir menyerap berbagai pengaruh luar, seperti para pedagang asing dan juga pada akhirnya, para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh orang Tionghoa, yang juga mempopulerkan corak phoenix. Bangsa penjajah Eropa juga mengambil minat kepada batik, dan hasilnya adalah corak bebungaan yang sebelumnya enggak dikenal (seperti bunga tulip) dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung atau kereta kuda), termasuk juga warna-warna kesukaan mereka seperti warna biru. Batik tradisonal tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karna biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan masing-masing. Teknik Desain Busana Batik dan membatik telah dikenal sejak ribuan tahun yang silam. Tidak ada keterangan sejarah yang cukup jelas tentang asal usul Batik. Ada yang menduga teknik ini berasal dari bangsa Sumeria, kemudian dikembangkan di Jawa setelah dibawa oleh para pedagang India. Saat ini batik bisa ditemukan di banyak negara seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, India, Sri Lanka, dan Iran. Selain di Asia, batik juga sangat populer di beberapa negara di benua Afrika. Walaupun demikian, batik yang sangat terkenal di dunia adalah batik yang berasal dari Indonesia, terutama dari Jawa. Batik secara historis berasal dari zaman nenek moyang yang dikenal sejak abad XVII yang ditulis dan dilukis pada daun lontar. Saat itu motif atau pola batik masih didominasi dengan bentuk binatang dan tanaman. Namun dalam sejarah perkembangannya batik mengalami perkembangan, yaitu dari corak-corak lukisan binatang dan tanaman lambat laun beralih pada motif abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang beber dan sebagainya. Selanjutnya melalui penggabungan corak lukisan dengan seni dekorasi pakaian, muncul seni batik tulis seperti yang kita kenal sekarang ini. Jenis dan corak batik tradisional tergolong amat banyak, namun corak dan variasinya sesuai dengan filosofi dan budaya masing-masing daerah yang amat beragam. Khasanah budaya Bangsa Indonesia yang demikian kaya telah mendorong lahirnya berbagai corak dan jenis batik tradisioanal dengan ciri kekhususannya sendiri. Dikutip dari Berbagai Sumber.
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy