Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'alergi'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

  • Ngobas Blog
  • Your World

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 3 results

  1. Makan ikan itu menyehatkan. Masalahnya, ada saja anak yang akan mengalami alergi kalau makan ikan. Lantas, bagaimana asupan gizinya? Kandungan gizi dari seekor ikan dapat membantu pertumbuhan syaraf pada otak dan mempertajam sel motorik anak. Ikan laut memiliki kandungan protein yang lebih tinggi, dan akan lebih tinggi lagi ketika ikan dalam keadaan telah diolah seperti ikan kering, karena kadar air yang menyusut membuat kandungan protein meningkat. Faktanya ikan yang ditangkap dari lautan tidak secara langsung diolah melainkan didiamkan beberapa waktu hingga akhirnya sampai ke rumah. Pada saat itulah mikroba bertumbuh dan menurunkan kualitas ikan, yang mengakibatkan alergi bagi yang mengkonsumsinya. Alergi pada ikan biasanya merupakan bawaan keturunan. Kepada CNN Student, Prof. Ali Khomsan, seorang ahli gizi dari IPB, mengatakan bila dilatih makan ikan sejak dini, sedikit sedikit gejala alergi akan berkurang. Dia menyarankan memilih ikan segar dengan warna insang yang masih fresh. Seseorang yang mengalami alergi terhadap ikan memiliki tubuh dengan reaksi yang menganggap protein sebagai musuh. Sehingga tubuh mengeluarkan gejala pembengkakan, gatal, dan kulit memerah, bahkan hingga sesak bernafas. Untuk alternatif lain, jika anak sangat sensitif terhadap ikan, dapat digantikan dengan sumber protein lain seperti kacang polong dan kedelai. Sedangkan untuk zat omega 3 Orang tua dapat menggantinya dengan telur ayam yang khusus mengandung omega 3 tinggi.
  2. Para ibu hamil yang secara teratur berenang ternyata dapat meningkatkan resiko berkembangnya alergi pada anak yang akan mereka lahirkan nanti. Para ilmuwan meyakini bahwa adanya bahan kimia seperti klorin dari kolam renang dan senyawa lain yang bisa ditemukan dalam produk pembersih dapat menjadi sebab mengapa pewarisan alergi meningkat 5 kali lipat dalam kurun waktu 50 tahun terakhir ini. Paparan bahan kimia ini dapat mengubah sistem kekebalan janin dan menjadikan mereka lebih peka terhadap penyakit seperti eksim, asma, dan alergi serbuk sari. Peringatan ini dapat dari sebuah laporan British Journal of Dermatology. Satu teori yang dikenal dengan 'hipotesis kebersihan' menyatakan bahwa gaya hidup yang kelewat bersih telah menghasilkan generasi anak-anak dengan sistem imunitas yang tidak mengenal banyak kuman. Akibatnya, ketika mereka terkena iritasi baru, tubuh mereka cenderung bereaksi terhadap alergi. Dr. John McFadden, konsultan dermatologis di Institut St. John, mengatakan mereka masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. "Kami masih belum membuktikan apapun, kami tidak mengatakan ini adalah penyebabnya, ini adalah sebuah hipotesis, tetapi kami tahu bahwa kita menggunakan lebih banyak bahan kimia dibandingkan 50 tahun yang lalu, baik yang terdapat dalam produk perawatan tubuh, maupun makanan olahan." ujarnya. Dari penemuan ini, para ibu hamil masih didorong untuk terus berolahraga selama masa kehamilan. Olahraga renang juga tetap direkomendasikan oleh NHS (National Health Service) karena air diketahui membantu menyokong bobot tambahan mereka. Namun, yang perlu ditekankan adalah penggunaan bahan kimia yang tidak berlebihan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, Elizabeth Salter Green, direktur dari CHEM Trust, organisasi yang mengampanyekan perlawanan terhadap penggunaan bahan kimia buatan manusia secara berlebihan, mengatakan "Hal yang sudah kita ketahui adalah bahwa janin yang sedang berkembang di dalam rahim sangat rentan terhadap paparan bahan kimia."
  3. Anak-anak disarankan untuk makan produk kacang daripada mengkonsumsi kacang secara utuh karena berisiko tersedak. Penelitian yang dimuat dalam New England Journal of Medicine menunjukkan, makan produk kacang semenjak bayi dapat mengurangi risiko alergi secara dramatis. Uji coba ini dilakukan pada 628 bayi yang rentan terkena alergi kacang dan ditemukan adanya penurunan risiko lebih dari 80% . Peneliti dari King College London mengatakan bahwa untuk "pertama kalinya" risiko alergi bisa dikurangi. Namun para ahli memperingatkan sejumlah keluarga agar tidak bereksperimen dengan produk-produk kacang tanpa saran medis. Makan kacang setiap hari Sebelumnya, tim peneliti di London menemukan sejumlah anak Yahudi di Israel yang mulai memakan kacang sejak bayi memiliki tingkat alergi 10 kali lebih rendah dibanding dengan anak-anak di Inggris. Uji coba dilakukan pada bayi berumur empat bulan yang mengalami penyakit eksim - sebuah tanda awal alergi. Tes-tusuk kulit dilakukan kepada sejumlah anak yang belum terkena alergi kacang atau yang hanya bereaksi ringan. Anak-anak balita tidak diperbolehkan makan kacang secara utuh, karena berisiko tersedak, sehingga setengah dari mereka diberi makanan ringan yang terbuat dari kacang. Sedangkan setengah lainnya diminta untuk menghindari kacang. Bayi Sofia Magnuson, delapan bulan, sedang makan produk kacang sebagai bagian dari uji coba Uji coba itu menunjukkan bahwa pada setiap 100 anak, terdapat 14 anak yang terkena alergi pada usia lima tahun. Namun dengan adanya terapi jumlah ini turun 86% menjadi hanya dua dari setiap 100 anak. Bahkan tingkat alergi sejumlah anak yang sensitif terhadap kacang-kacangan turun dari 35% menjadi 11%. Pimpinan peneliti Prof Gideon Lack mengatakan: "Menarik bagi kita untuk menyadari bahwa pertama kalinya dalam kasus alergi, kita benar-benar dapat mencegah perkembangan penyakit. "Ini merupakan pergeseran yang nyata dalam budaya." Dia mengatakan bahwa anak-anak yang berisiko tinggi "perlu dievaluasi, mendapatkan tes-tusuk kulit dan saran diet, [sebelum], dalam banyak kasus, pengenalan awal tentang kacang".
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy