Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'air asia'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

  • Ngobas Blog
  • Your World

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 16 results

  1. Berikut ini foto-foto jenazah yang ditemukan beberapa hari yang lalu (disturbing pictures) : Mari kita sama sama doakan mereka meurut agama kita masing masing ndral.
  2. Foto diambil oleh mesin pemotret yang dikendalikan dari jarak jauh. Lokasi bagian badan pesawat AirAsia QZ8501 yang jatuh di Laut Jawa sudah berhasil diketahui dan difoto. Ketua Tim SAR Indonesia, Bambang Sulistyo, mengatakan lokasi badan utama pesawat sudah ditemukan pada hari Selasa 13 Januari 2015 oleh kapal Angkata Laut Indonesia. Tapi foto di dasar laut itu diambil oleh mesin pemotret yang dikendalikan dari jarak jauh milik AL Singapura. Bambang tidak bisa memastikan apakah ada jenazah penumpang di dalam bagian utama tersebut, seperti yang diperkirakan selama ini. Proses pencarian jenazah di badan utama tersebut dihentikan karena sudah gelap dan penyelam akan dikerahkan pada Kamis, 15 Januari, jika cuaca memungkinkan. Pesawat AirAsia penerbangan QZ8501 dari Surabaya ke Singapura yang membawa 162 penumpang dan awak jatuh di kawasan Selat Karimata pada Minggu 28 Desember. Hingga saat ini lebih dari 40 jenazah sudah ditemukan dan diperkirakan sebagian besar jenazah berada di dalam bagian badan pesawat, sehingga penemuan ini penting dalam proses pencarian jenazah. Beberapa puing-puing pesawat lainnya, termasuk bagian ekor, sudah berhasil ditemukan. Mesin perekam data penerbangan dan pembicaraan di ruang pilot juga sudah ditemukan. Pilot QZ8501 sempat meminta perubahan arah dan ketinggian penerbangan sebelum kehilangan kontak namun sampai saat ini belum diketahui penyebab jatuhnya pesawat itu.
  3. Dua jenazah korban AirAsia QZ8501 kembali ditemukan di hari ke-13 pencarian, 9 Januari 2015. Kedua jasad saat ini diangkat ke Kapal Mahakarya Geo Survey (MGS) yang berada di perairan Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Kedua jenazah itu berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Mereka duduk bersebelahan, dan diangkat dari laut bersama kursi yang mereka duduki. Ada tiga kursi yang terangkat, dan dua kursi berisi jasad mereka. Untuk jasad pria terlihat masih mengenakan gendongan bayi di dada. Saat ini kedua jenazah telah dimasukkan ke kantong jenazah. Semula Kapal MGS diberitakan menemukan satu jenazah. Namun dalam proses evakuasi terungkap bahwa jenazah yang ditemukan ternyata dua, bukan hanya satu. Sementara sebelumnya, dua jenazah lain telah lebih dulu ditemukan dan diangkat ke Kapal KN Pacitan milik Basarnas serta Kapal Diraja Kasturi milik Malaysia. Saat ini kedua jenazah telah dibawa ke RSUD Sultan Imanuddin, Pangkalan Bun. Sampai hari ini, sudah sekitar 46 jenazah yang ditemukan Tim SAR Gabungan di bawah komando Badan SAR Nasional. Total ada 162 orang yang berada di dalam pesawat AirAsia nahas yang jatuh ke laut pada Minggu, 28 Desember 2014.
  4. Sepekan pencarian pesawat AirAsia belum juga menemukan kerangka utama badan pesawat. Semua kekuatan telah dikerahkan. Namun buruknya kondisi cuaca masih menjadi kendala tim gabungan untuk menyusuri perairan di wilayah Selat Karimata. Meski demikian, Direktur Operasional Badan SAR Nasional (Basarnas) Marsekal Pertama TNI SB Supriyadi mengisyaratkan ada secercah harapan, meski belum signifikan. "Dari hasil pencarian menggunakan sonar detector, ada dua titik yang posisinya mulai terdeteksi masuk radar," kata Supriyadi di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Sabtu petang 3 Januari 2014. Titik lokasi yang menjadi dugaan tim pencari unsur laut itu mengarah pada benda yang dicurigai sebagai badan pesawat. Namun Supriyadi belum bisa memastikan dugaan tersebut, lantaran titik itu bisa saja mengarah pada kapal tenggelam, atau hanya sekadar benda-benda berupa besi yang tenggelam. Sedianya pendeteksian lebih lanjut bisa dilakukan dengan cara menurunkan robot air untuk merekam dugaan benda tersebut dengan menggunakan kamera. "Tapi lokasi di sana sangat ekstrem," ujarnya. Ombak setinggi empat meter, angin berkecepatan mencapai 35 knot, dan hujan lebat menjadi kendala utama para pencari unsur laut. Alat yang digunakan untuk merekam bawah laut juga terpengaruh oleh liarnya gelombang dan arus deras. "Jarak pandang hanya dua meter. Artinya area di disitu butek," ujarnya. Supriyadi mengatakan, saat ini tim unsur laut masih terus bergerak untuk berupaya memecahka misteri dua titik lokasi yang masuk deteksi radar sonar di area los contact terakhir QZ 8501. "Mudah-mudahan semua bisa bukti apapun bisa kami temukan lagi sebagai bukti keberadaan pesawat AirAsia itu," ujarnya. Perkembangan terakhir, tim pencari gabungan insiden jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 telah berhasil mengevakuasi 30 jenazah sampai hari ini, Sabtu 3 Desember 2014. Seluruh jenazahnya sudah tiba di Surabaya dan sebagian besar sudah melalui proses identifikasi oleh tom DVI Polda Jawa Timur. Dari jumlah itu, empat orang jenazah diantaranya sudah diserahkan ke korban dan menyusul ada dua jenazah yang baru teridentifikasi hari ini. Badan SAR Nasional mengatakan cuaca buruk masih menjadi kendala utama operasi pencarian dan evakuasi para korban dan badan pesawat. Pesawat AirAsia dengan nomor penerbangan QZ8501 hilang dalam perjalanan dari Surabaya menuju Singapura pada Ahad pagi lalu. Terdapat 155 penumpang dan tujuh awak di pesawat tersebut, tujuh orang diantaranya berkewarganegaraan asing. Sumber: CNN Indonesia
  5. Semangat bercampur lelah menjadi satu bagi para penyelam Badan SAR Nasional yang ada di Kapal Nasional 101 Purworejo. Rasa kecewa menghampiri karena di pencarian hari keenam, Jumat (2/1), tak satupun penyelam berhasil mengevakuasi korban jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501. Kapal ditumpangi para penyelam itu harus berputar haluan menuju Pelabuhan Panglima Utar Kumai, 20 nautical mile sebelum tiba di zona pencarian. Ganasnya laut belum memberikan kesempatan bagi mereka untuk menceburkan diri mencari para korban QZ8501. "Paling tidak, coba kami bisa menyelam sekali saja untuk memastikan ada tidaknya serpihan atau korban di zona itu. Kalau pun tidak ada, kami lega karena ada kepastian," kata Charles Batlajery, Komandan Operasi SAR Basarnas Special Group di KN Purworejo. Charles dan 24 rekannya telah memendam rasa kecewa itu sejak awal operasi penyelamatan. Sejak melaut dari Dermaga Kali Jabat, Tanjung Priok, Jakarta, Minggu (28/12), belum sekalipun mereka mengevakuasi korban maupun benda yang diduga terkait AirAsia QZ8501. Padahal tim khusus Basarnas yang dibentuk tahun 2012 itu telah membawa peralatan evakuasi bawah laut terbaik mereka. Cuaca buruk dan gelombang tinggi selalu menggagalkan upaya pencarian mereka sejak Senin (29/12). Jumat pagi, ketika KN Purworejo berangkat sekitar pukul 06.00 WIB, cuaca sebenarnya terlihat cerah. Namun begitu meninggalkan Muara Kumai, langit mulai mendung, alam enggan bersahabat. Goncangan begitu terasa ketika kapal menghantam ombak setinggi dua hingga tiga meter. Mengawali perjalanan, penyelam Basarnas sudah mempersiapkan peralatan canggih mereka. Remote Operation Vehicle (ROV) atau alat pendeteksi benda bawah laut yang selama ini tersimpan rapi dalam bungkusnya, telah 100 persen siap digunakan. Berjalan dengan kecepatan tinggi, KN Purworejo pada 08.45 WIB sudah melewati KRI Banda Aceh. Kapal milik TNI Angkatan Laut itu merupakan titik utama evakuasi korban AirAsia QZ8501 di laut lepas. Pukul 13.41 WIB, Kapten Adil Triyanto memutar arah saat melihat benda semacam life vest di sisi kanan geladak. Kecepatan kapal diturunkan seminimal mungkin agar para evakuator Basarnas dapat mengecek benda tersebut. Seorang penyelam BSG terlihat siap menunggu perintah Charles untuk terjun ke laut. Opsi penyelaman tak diambil karena benda itu disinyalir sampah kapal pencari ikan. Benar saja, benda bercorak kuning itu memang tak ada kaitannya dengan AirAsia QZ8501. Benda bertuliskan aksara Mandirin itu ternyata jeriken. Setelah peristiwa itu, KN Purworejo terus berlayar menuju dermaga Kumai. Pencarian akan kembali dilakukan pagi ini, Sabtu (3/1). Charles berharap timnya dapat segera berkontribusi positif pada proses pencarian pesawat milik taipan Malaysia Tony Fernandes yang mengangkut 162 orang tersebut. Meski memendam kekecewaan, tak satupun dari awak kapal akan pulang sebelum puing dan seluruh jasad ditemukan. Sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang. Sumber: CNNIndonesia
  6. Tidak ada seorang pun menduga, peringatan pengguna salah satu forum di China pada 15 Desember mengenai akan jatuhnya pesawat AirAsia, betul-betul terjadi. Jika anda bisa berbahasa China, silakan lihat sendiri di sini, dan apabila anda tak memahami bahasa China, silakan cek di sini alih bahasa otomatis oleh Google Translate. Para pengguna forum bbs.tianya.cn hari itu, 15 Desember tidak begitu menghiraukan pesan dari pengguna tak dikenal tersebut. Pengguna lain malah menertawakan dan mengejeknya saat menyangkutpautkan peringatannya mengenai akan hilangnya AirAsia dengan jatuhnya MH370 dan MH17 dari Malaysia Airline. Dengan gamblang dirinya menegaskan bahwa AirAsia akan menjadi target berikutnya. Ia sempat mewanti-wanti jangan sampai pembaca terbang menggunakan pesawat Malaysia dalam waktu dekat. Amerika Serikat ada di balik itu semua, menurutnya. Setelah peringatannya menjadi nyata, dan postingan forumnya dibanjiri komentar, belakangan diduga pengguna yang memposting tulisan itu agen intelijen China atau hacker yang berhasil mengintip misi rahasia Amerika Serikat yang disebut Black Hand, lalu ingin berbuat sesuatu untuk menyelamatkan penumpang maskapai penerbangan Malaysia. Situs berita Vietnam, SaoOnline, 21 Juli lalu menerbitkan sebuah berita bahwa seorang yang pernah menjadi petugas keamanan nasional yang juga seorang model, Dong Yen Ngoc mengaku mengetahui operasi intelijen barat yang mengancam penerbangan Malaysia. Lihat di sini (saoonline.com) untuk membuka berita tersebut, dan cek di sini versi google translate. Namun Dong Yen Ngoc enggan menyebut nama maskapai secara spesifik. Dirinya menulis: “Setahun yang lalu saya menerima sumber intelijen mengingatkan jika ingin pergi keluar negeri, hindari pergi lewat 2 maskapai Malaysia dan satu perusahaan lagi (saya takkan sebutkan agar tak mengganggu kenyamanan banyak orang). Maka saya bertanya apakah di Vietnam? Pertanyaan saya tidak dijawab. Dia hanya mengatakan, berikutnya akan lebih buruk, dia hanya berusaha membantu saya agar tetap hidup.” Banyak pihak meyakini bahwa Duong Yen Ngoc saat ini masih seorang intelijen Vietnam, yang karena tidak tega, model iklan dan artis Vietnam ini memposting peringatan di akun facebooknya di sini. Meski peringatan kedua agen intelijen di atas tidak bisa dikatakan berhasil, namun tidak bisa juga disebut gagal, sebab faktanya tidak seorang pun warga Cina atau Vietnam yang menjadi korban. Atas kejadian ini banyak pengguna sosial media yang menyadari betapa status atau postingan yang dianggap sepele sesungguhnya bisa mencegah terjadinya hal buruk, bahkan menyelamatkan banyak nyawa. Di bawah ini sederet daftar kecelakaan pesawat Malaysia setahun terakhir: MH370, Malaysia Airlines Boeing 777 pada 8 Maret hilang tanpa jejak saat terbang dari Kuala Lumpur menuju Beijing. Setelah pencarian yang panjang di Samudera Hindia, tak secuil puing pun ditemukan. Empat bulan kemudian, tepatnya pada 4 Oktober, beberapa peralatan pesawat ditemukan di 3000KM barat Australia berupa sonar, kamera and sensor bahan bakar. 239 penumpang dan awak dinyatakan tewas. MH17, Malaysia Airlines Boeing 777 pada 17 Juli ditembak jatuh di wilayah udara Ukraina saat melakukan penerbangan dari Amsterdam ke Kuala Lumpur. 298 penumpang dan awak, tewas. QZ8501, AirAsia tipe Airbus A320-200, hilang saat terbang dari Surabaya menuju Changi. 162 penumpang dan awak tewas. Bagaimana mungkin 3 pesawat berbasis negara yang sama, yakni Malaysia, jatuh dalam waktu kurang dari 1 tahun? Professor Jeff Rosenthal menjelaskan bahwa kemungkinan pesawat jatuh hanyalah 0.00001% dan persentase kecelakaan justru jauh lebih tinggi di saat anda dari pintu rumah menuju bandara, dibandingkan saat memasuki pintu pesawat hingga keluar dari pintu pesawat, menurut data statistik. Tentunya perlu kita semua ketahui, di bawah ini daftar maskapai pesawat komersial asal Malaysia: Sudah dua orang yang diduga intelijen Cina dan Vietnam, bahkan salah satunya artis terkenal, yang berani mempertaruhkan karir bahkan nyawanya untuk menyelamatkan orang-orang. Sekarang giliran anda untuk berbuat sesuatu, bagikan artikel ini untuk memberitahu yang lain. Jangan sampai jatuh lebih banyak korban.
  7. PK-AXC, Airbus A320-200 yang dioperasikan oleh maskapai Indonesia AirAsia, yang hilang. Registrasi PK-AXC bisa dilihat di bagian belakang fuselage (badan) pesawat. Foto diambil pada 7 September 2011 di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. AirNav Indonesia memastikan bahwa perintah agar pesawat AirAsia QZ8501 menaikkan ketinggiannya tak pernah dijawab oleh pesawat yang membawa 162 orang itu. Hanya berjarak dua menit dari komunikasi terakhir, pesawat AirAsia QZ8501 hilang kontak dengan Air Traffic Control (ATC) Bandara Soekarno-Hatta. Direktur Safety dan Standard AirNav Indonesia Wisnu Darjono mengungkapkan, pada pukul 06.12, ATC Bandara Soekarno-Hatta berkomunikasi dengan pilot AirAsia QZ8501. Dia meminta untuk bergeser ke kiri untuk menghindari cuaca buruk. Izin itu diberikan dan akhirnya pesawat bergeser 7 mil dari posisi awal. Namun, kata Wisnu, pilot kembali meminta mengubah posisinya ke ketinggian 38.000 kaki. "Request to higher level," ujar Kapten Irianto, pilot Airasia QZ8501, yang saat itu menerbangkan pesawatnya di ketinggian 32.000 kaki. Setelah itu, Wisnu mengatakan bahwa petugas ATC Bandara Soekarno-Hatta menjawab langsung permintaan itu. "Intended to what level?" tanya petugas, seperti ditirukan Wisnu. Pilot menyatakan ingin terbang di ketinggian 38.000 kaki tanpa menyebutkan alasannya. Pihak ATC Bandara Soekarno-Hatta kemudian mengontak ATC Bandara Changi Internasional, Singapura, untuk melakukan koordinasi. "Hanya butuh waktu 2-3 menit untuk berkomunikasi dengan Singapura. Dari situ, kami memberikan izin agar pesawat naik 34.000 kaki," ucap Wisnu. Saat itu, pesawat diberikan izin naik ke 34.000 kaki karena pada saat yang sama pada level 38.000 kaki masih terdapat pesawat, yakni AirAsia 502. "Saat kami sampaikan jawaban agar naik ke 34.000 kaki, sudah tidak ada lagi jawaban sekitar pukul 06.14," papar Wisnu. ATC Bandara Soekarno-Hatta kemudian mengontak pesawat-pesawat di sekitar AirAsia QZ8501 untuk juga membantu menghubungi pesawat itu. Ketika itu, pesawat masih terdeteksi di radar ATC. Namun, upaya itu menemui kegagalan karena tak ada lagi jawaban dari pesawat naas itu. Pukul 07.55, pesawat AirAsia QZ8501 dinyatakan resmi hilang kontak. Posisi terakhir diduga berada di sekitar Tanjung Pandan, Belitung, dan Pontianak, Kalimantan Barat. Upaya pencarian pesawat masih terus dilakukan oleh berbagai pihak.
  8. Sejumlah pakar terkait penerbangan menyatakan pembacaan awal atas data yang diyakini sebagai "bocoran" layar monitor menara pengawas lalu lintas udara, mendapatkan pesawat AirAsia QZ8501 terbang dengan kecepatan terlalu pelan untuk naik melewati awan kumulonimbus (CB). "Meski semua penjelasan kemungkinan penyebab hilangnya penerbangan AirAsia adalah spekulasi pada saat ini, kami tak bisa mengabaikan ada kejadian yang sangat mirip, yakni kecelakaan Air France 447 (AF447)," ujar blogger yang menekuni dunia penerbangan, David Cenciotti, seperti dikutip dari theavionist.com oleh AFP. Cenciotti menambahkan, rendahnya ground speed yang tertera dalam "bocoran" layar pemantau radar tersebut bisa jadi disebabkan sudah ada hantaman keras angin dari arah depan pesawat. (Baca: Muncul "Bocoran" Gambar Layar ATC untuk Posis Terakhir AirAsia QZ8501) Sementara itu, konsultan Whitesky Aviation yang berbasis di Jakarta, Gerry Soejatman, spontan menyebut kecepatan yang tertera dalam "bocoran" layar pemantau radar itu sebagai "extremly low". "Ketika pesawat berada di bawah kecepatan yang diperlukan stall, kemungkinan dia akan jatuh," ujar Gerry. (Baca juga: Analisis Awal: AirAsia QZ8501 Terlambat Naikkan Ketinggian?) Pertanyaannya, dengan klaim pilot pesawat ini sudah berpengalaman, kenapa kecepatan itu bisa terlalu rendah? Sudah ada turbulensi Gerry menambahkan, bukti yang ditemukan sejauh ini masih menyatakan insiden QZ8501 hanya terkait dengan cuaca. "Sebagai faktor utama atau pendukung (belum dapat dipastikan juga)," ujar dia seperti dikutip dari AFP. Dari data yang sudah terpublikasi sampai Selasa malam, kata Gerry, pilot telah membelokkan pesawat ke kiri dari jalurnya semula, bersamaan dengan meminta izin menara pengawas (ATC) untuk naik ke ketinggian 38.000 kaki. Seperti sudah diberitakan sebelumnya, izin dari ATC diberikan langsung untuk pembelokan arah tetapi tidak untuk menambah ketinggian ke jarak yang diminta. AirNav Indonesia mengaku mengambil waktu dua hingga tiga menit untuk berkoordinasi dengan menara kontrol di Singapura. Saat itu, QZ8501 hanya mendapatkan izin naik sampai ketinggian 34.000 kaki terlebih dahulu dengan alasan kepadatan jalur udara pada saat itu. (Baca juga: Dua Menit yang Penuh Tanda Tanya dari AirAsia QZ8501). Ketika pesawat dihubungi kembali untuk menegaskan izin menaikkan ketinggian hingga 34.000 kaki, menurut AirNav Indonesia, kontak sudah terputus. AirNav menyebutkan komunikasi terputus total pada pukul 06.14 WIB, sekalipun pesawat masih terlihat di layar pemantau radar. "Namun, (dari data ini) ada indikasi pesawat tetap menaikkan ketinggian tanpa menunggu persetujuan. Kalau benar begitu, turbulensi kemungkinan sudah terjadi dan pilot memutuskan menyelamatkan pesawat ketimbang menunggu persetujuan ATC (untuk menambah ketinggian)," kata Gerry. Adapun Athony Brickhouse, anggota perkumpulan penyidik keselamatan udara, menyatakan bukan baru kali ini pada penerbangan dengan rute yang sudah ditentukan mengalami sebuah kejadian dan pilotnya langsung berupaya melakukan sesuatu untuk mengatasinya tanpa menunggu persetujuan ATC. "Penerbang pada umumnya cenderung menghindari badai sebisa mungkin, untuk memberikan kenyamanan kepada para penumpangnya," kata Brickhouse, yang juga adalah asisten profesor di Embry-Riddle Aeronautical University, seperti dikutip AFP. "Saat ini, fakta bahwa pesawat tersebut mencoba menghindari cuaca buruk, tidak memberikan banyak gambaran tentang apa yang terjadi," imbuh Brickhouse. Sejumlah analisis memperkirakan pesawat AirAsia QZ8501 hilang setelah gagal melewati awan kumulonimbus (cumulonimbus/CB). Bila kasus AF447 dianggap serupa, dalam insiden tersebut yang terjadi adalah pitot pesawat membeku ketika memasuki CB. Pitot merupakan piranti serupa tabung yang terpasang di bagian depan pesawat untuk mengukur tekanan udara di sekitarnya. Ketika alat ini beku, pilot akan kesulitan mengukur kecepatan pesawatnya sendiri dan bisa salah membuat keputusan. Dalam data bocoran tersebut, terpantau ground speed QZ8501 adalah 353 knot. Dari beberapa referensi penerbangan, kecepatan aman yang dibutuhkan dalam kondisi tersebut seharusnya di kisaran 480 knot sampai 500 knot, atau air speed sekitar 0,8 mach.
  9. Kopilot pesawat Hercules C130 dari Lanud Halim Perdanakusuma, Letnan Satu Penerbang Tri Wibowo, mengaku melihat sekitar delapan jasad manusia terombang-ambing di Selat Karimata. Tiga dari delapan jasad itu, kata Tri, saling bergandeng tangan satu sama lain. "Ada tujuh sampai delapan orang. Tiga (di antaranya) lagi bergandeng tangan," kata Tri di kokpit pesawat dalam penyusuran wilayah perairan selatan Kalimantan. Selain jasad manusia, Tri juga melihat beberapa obyek lainnya, seperti tas koper, pelampung, dan serpihan yang diduga milik pesawat AirAsia QZ8501. Menurut Tri, informasi tersebut telah dia sampaikan ke KRI Budi Utomo yang terlibat dalam proses evakuasi. "Ada Koper-koper dan kayak ada orang pakai pelampung. Saat ini sudah dilakukan proses evakuasi," ucap dia. Sebelumnya diberitakan, untuk mengecek kebenaran mengenai penampakan obyek-obyek yang diduga milik pesawat AirAsia QZ8501, Panglima Komando Operasi Lanud Halim Perdanakusuma Marsekal Muda Dwi Putranto beserta tim Basarnas melakukan pengecekan dengan menggunakan helikopter ke Selat Karimata, tepatnya di sekitar perairan Teluk Air Hitam, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Selasa 30 Desember 2014. Dwi berangkat dari Bandara Iskandar, Pangkalan Bun, sekitar pukul 13.00. Sebelum naik ke atas pesawat, Dwi mengatakan bahwa dia memang harus mengecek langsung ke lokasi untuk memastikan informasi yang ia terima dari para kru pesawat Hercules C130.
  10. Pesawat AirAsia hilang kontak dalam penerbangan dari Surabaya, Jawa Timur, menuju Singapura pada Ahad pagi, 28 Desember 2014. Pesawat jenis Airbus A320-200 ini membawa 155 penumpang. Hingga pukul 10.20, pesawat ini belum tiba di tujuan. Berikut ini informasi tentang AirAsia tersebut: Nomor Penerbangan: QZ8501 Jadwal Terbang: 05.20-08.30 Nomor Regristrasi : PK-AXC Komposisi Kru Kapten: Iriyanto Kopilot: Remi Emmanuel Plesel Staf Pramugari Senior: Wanti Setiawati Pramugari/pramugara: Khairinusi Haidar Fauzi, Oscar Desano, dan Wismoyo Ari Prambudi Teknisi: Saiful Rakhmad Jumlah penumpang: 138 dewasa, 16 anak, dan 1 bayi Bagasi: 106 Collies/1.305 kilogram Kargo: nihil
  11. Pesawat Air Asia jurusan Surabaya-Singapura hilang kontak pada pagi hari tadi, Minggu 28-12-2014. Hingga kini, seluruh pihak terkait belum dapat memastikan keberadaan pesawat jenis Air Bus 320 tersebut. Sebanyak 155 penumpang yang mayoritas warga negara Indonesia berada dalam pesawat dengan nomor penerbangan QZ 8501. Berikut nama-nama penumpang yang ada di dalam pesawat, berdasar manifes penumpang Air Asia. 1. Abraham, Viona Florensia 2. Alain Oktavianus 3. Andriani, Ratri Sri 4. Andriany, Vicencia Sri 5. Ang, Sharon Michelle 6. Ang, Steven Michael 7. Angelina, Ong 8. Anggara, Lindawati 9. Anggraini, Monica 10. Anggreni, Linda 11. Ann Satiago, Jamine Rose 12. Ardhi, Jayden Cruz 13. Ardhi, Reggy 14. Astutik, Yuni 15. Aurelia, Thiaza 16. Biantoro, Djarot 17. Biantoro, Kevin 18. Chandra, Ghani 19. Choi, Chi Man 20. Choi, Zoe Man Suen 21. Claudia Ardhi, Marianne 22. Clemmency Ardhi, Michele 23. Darmaji, The 24. Diani, Inda 25. Djoni, Kaylee C 26. Djoni, Martinus 27. Emmanuel, Angeline Esthiek 28. Ernawati, Ernawati 29. Evientri Wahab, Musaba 30. Febriantus, Edward 31. Fei, Joe Jeng 32. Fernando, Adrian 33. Gani, Susilo 34. Giovani, Justin 35. Giovani, Nico 36. Go, Feilensia Sularmo 37. Gunawan, David 38. Gunawan, Jie Charly 39. Gunawan, Jie Stephanie 40. Gunawan, Jie Steven 41. Gunawan, Jie Stevie 42. Gunawan, Kayla Audrey 43. Gunawan, Kenneth Matthew 44. Gunawan Syawal, Hendra 45. Halim, Hindarto 46. Hamid, Hayati Lutfiah 47. Handyani, Finna 48. Handoyo, Rony 49. Haripin, Sukiatna 50. HarjaSubagio, Prawira 51. Hartono, David 52. Harwon Lioe, Caroline 53. Ho, Juliana 54. Hutama, Christiano Leoma 55. Indri, Jo 56. Jauw, Monita Wahyuni 57. Jessica, Jessica 58. Jong, Ang Mie 59. Josal, Shiane 60. Kho, Kosuma Chandra 61. Kho, Vera Chandra 62. Kerisputra, Sesha Aldi 63. Kerisputri, Felicia Sabrina 64. Kristiyono, Kristiyono 65. Kusuma, Nelson 66. Kusumo, Wirantono 67. Lee, Kyung Hwa 68. Liangsih, Indahju 69. Liene, Fransisca Lanny Winat 70. Ligo, Ekawati 71. Lim, Tan Koen 72. Liman, Susandhini 73. Limantara, Juanita 74. Linaksita, Grayson Herbert 75. Linaksita, Kaithleen Fulvia 76. Linaksita, Tony 77. Linggarwati, Sri 78. Megawati, Megawati 79. Merry, Merry 80. Muttaqin, Abdullah 81. Noventus, Andrian 82. Nurwatie, Donna Indah 83. Octaviani, Lanny 84. Oei, Jimmy Sentosa Winata 85. Oktavianus, Denny 86. Ong, Sherlly 87. Pai, Soemamix Saeran 88. Park, Seongbeom 89. (bayi): Park, Yuna 90. Permata, Gusti Ayu Putriyan 91. Poo, Andri Wijaya 92. Pornomo, Christien Aulia 93. Pornomo, Ferny Yufina 94. Puspitasari, Ruth Natalia M 95. Putri, Gusti Ayu Made Keish 96. Ranuwidjojo, Mulyahadikusum 97. Ratna Sari, Ria 98. Romlan, Siti 99. Santoso, Fiandi 100. Santoso, Karina 101. Santoso, Nikolas Thed 102. Sari, Lia 103. Sebastian, Yonatan 104. Sentoso, Samuel Joyo 105. Sholeh, Marwin 106. Sia, Soetikno 107. Sidartha, Gusti Made 108. Sii, Shung Huei 109. Soesilo, Elbert 110. Soetanto, Aris 111. Soetanto, Lina 112. Soetjipto, Cindy Clarissa 113. Soetjipto, Kevin Alexander 114. Soetjipto, Rudy 115. Soewarno, Yenni 116. Su, Bundi 117. Sukianto, Kartika Dewi 118. Sulastri, Sulastri 119. Suryaatmadja, Hanny 120. Suseno, Djoko 121. Suseno, Naura Kanita Rosada 122. Susiyah, Susiyah 123. Tamus, Herumanto 124. Thejayakusuma, The Meiji 125. Theodoros, Hendra 126. Theodoros, Raynaldi 127. Theodoros, Winoya 128. Usin, Suriani 129. Utomo, Soesilo 130. Wahyuni, Eny 131. Wen, Oktaria 132. Wicaksana, Bima Aly 133. Widjaja, Adreas 134. Widjaja, Djoko Satryo Tanoe 135. Widodo, Eko 136. Widodo, Florentina Maria 137. Widodo, Nanang Priyo 138. Widyawati, Anna 139. Wijaya, Alferd 140. Wijaya, Bob Hartono 141. Wijaya, Marilyn 142. Wijaya, William 143. Wijaya Kwee, Indar Prasetyo 144. Winata, Boby Hartono 145. Winata, Inggrid Jessica 146. Muntarjo, Nataliana 147. Yani, Indri 148. Yongki, Jou 149. Youvita, Elisabeth 150. Youvito, Brian 151. Yuanita, Jou Christine 152. Yulianto, Albertius Eka Sury 153. Yulianto, Indra 154. Yulianto, Sthephanie 155. Yuni, Indah
  12. Maskapai asal Malaysia kembali dirundung masalah jelang penutup tahun 2014. Setelah pada awal Maret lalu, pesawat Malaysia Airlines MH370 dinyatakan hilang dari radar, kini AirAsia QZ8501 juga mengalami kasus serupa. Stasiun berita CNN edisi Minggu, 28 Desember 2014, menganalisa dua kejadian yang sepintas terlihat mirip itu. Namun, menurut analis penerbangan CNN, Paul Goelz, dua kejadian tersebut sangat berbeda. Goelz berpendapat, ada empat hal yang membedakan dua insiden pesawat itu. 1. Tidak ada intrik Ketika MH370 menghilang, transponder yang berfungsi untuk mengidentifikasi keberadaan pesawat terlihat seperti sengaja dimatikan. Kedua pilot berhenti melakukan transmisi radio dan maskapai itu membuat sebuah putaran misterius dan melenceng dari rute yang seharusnya. Diduga pesawat masih terus terbang hingga jejaknya lenyap. Kekhawatiran bahwa pesawat dibajak dan munculnya tindakan teror tidak bisa dihindari.Namun, dalam kasus AirAsia, hal tersebut tidak ada. "Otoritas yang berwenang dapat melakukan komunikasi normal dengan pilot sebelum dinyatakan menghilang dari radar. Di saat cuaca terlihat begitu buruk, pilot kemudian meminta izin untuk menaikkan ketinggian agar bisa keluar dari situasi itu," ungkap Goelz. 2. Wilayah perairan dangkal Area perairan di mana MH370 tenggelam merupakan wilayah perairan dalam dan terkesan misterius. Dasar laut di wilayah itu tidak pernah dipetakan di beberapa tempat, sehingga sulit membuat perbaikan pada ping pesawat. Sementara, dalam kasus AirAsia, jika pesawat jatuh di perairan, maka kemungkinan besar puing hanya tenggelam di wilayah lautan yang tidak terlalu dalam. Sehingga, lebih mudah untuk menemukan puing pesawat. 3. Belajar dari kejadian MH370 Beberapa jam usai pesawat jet Malaysia Airlines menghilang pada Maret lalu, semua pihak bingung. Bahkan, kebingungan kian bertambah, saat para pejabat berwenang menyampaikan pernyataan. Informasi yang mereka sampaikan ke publik saling bertolak belakang atau membingungkan. Keluarga penumpang dan kru juga mengeluh mengenai cara perlakuan mereka. Sementara, dalam kasus AirAsia, baik pemerintah dan pejabat maskapai terlihat menggunakan pendekatan yang lebih sesuai. Keluarga penumpang AirAsia terus diberikan dukungan agar bisa melalui mimpi buruk ini. Sementara, CEO AirAsia, Tony Fernandes, berkicau di akun Twitternya, yang saat ini menjadi prioritas dia hanya para penumpang dan kru pesawat. Dia pun berjanji akan melakukan apa pun untuk menemukan pesawat. Menurut analis penerbangan, Will Ripley, cara Fernandes mengatasi krisis ini benar-benar meyakinkan. "Dalam kasus ini, terlihat baik otoritas dan maskapai saling berkoordinasi dengan baik. Mereka juga menempatkan keluarga penumpang sebagai prioritas utama dalam situasi yang buruk ini," kata Ripley. Menteri Transportasi Malaysia, Hishammuddin Hussein, juga menuliskan dukungannya: "Saya akan ada di sana bersama kalian". Awal mula pencarian pun, tulis CNN, dilakukan secara efisien. Pejabat berwenang Indonesia secara cepat langsung memetakan sebuah rencana pencarian, mengerahkan kapal-kapal milik Angkatan Laut, juga menerima bantuan dari Pemerintah Malaysia, Australia dan Singapura. 4. Pencarian tidak berlangsung lama CNN memprediksi keberadaan pesawat segera diketahui dalam 12 jam mendatang, sebab lokasi pesawat kehilangan kontak lebih akurat dibandingkan yang dialami Malaysia Airlines. Selain itu, wilayah area pencarian lebih sempit dan dangkal, sehingga memungkinkan proses pencarian lebih mudah. "Kita tidak akan melihat upaya proses pencarian seperti yang terjadi dalam kasus Malaysia Airlines MH370. Bahkan, tidak terlalu mengejutkan bagi saya, jika pesawat akan ditemukan dalam 12 jam mendatang, sebab kedalaman perairan sekitar 150 kaki. Bandingkan dengan 10 ribu atau 20 ribu kaki di Samudera Hindia," papar mantan Direktur Kantor Administrasi Penerbangan Federal untuk Penyelidikan Kecelakaan, Steven Wallace. Sementara, kendati telah memakan waktu selama 10 bulan, puing MH370 hingga kini belum ditemukan.
  13. Tony Fernandes Ketika industri musik gagal beradaptasi dengan internet, Tony Fernandes memutuskan untuk berhenti bekerja. Dia meninggalkan pekerjaannya untuk mewujudkan impian masa kecilnya, membangun maskapai penerbangan murah pertama di Asia. Fernandes membeli Air Asia dari pemerintah Malaysia pada September 2001 hanya 25 pence atau sekitar Rp3.500. Namun Fernandes tidak memiliki pengalaman menjalankan perusahaan penerbangan. Untungnya ia memiliki tim pemasaran yang handal. "Kami melihat pasar dan berpendapat bila harga tiket dipangkas 50%, maka akan ada potensi pasar yang sangat besar," kata Fernandes. Potensi pasar ini menjadi incaran Fernandes dan perusahaan ini terus berkembang. Tahun 2002, Air Asia memulai bisnis ini dengan dua pesawat dan sekarang memiliki 86 pesawat yang menerbangkan sekitar 30 juta orang ke seluruh dunia. Dua perusahaan Setelah sukses dengan penerbangan jarak dekat, Air Asia memperluas jangkauan dengan melayani penerbangan jarak jauh dengan maskapai baru Air Asia X. Fokus perusahaan baru ini berbeda dengan Air Asia, satu untuk melayani rute penerbangan jarak dekat dan satu lagi untuk penerbangan jarak jauh. Manajemen kedua perusahaan juga terpisah, ada dua tim marketing dan merk dagang yang berbeda antara Air Asia dan Air Asia X. "Kami memiliki dua tim kru pesawat, dua tim pilot dan teknisi. Jadi sangat berbeda tetapi saling membutuhkan, tanpa menjadi parasit dan menjadi lebih baik dibandingkan yang lain," jelas Fernandes. Disamping itu, dua maskapai penerbangan ini memiliki kesamaan, efesiensi merupakan kunci untuk mendapatkan keuntungan dan menjamin margin keuntungan yang sehat. Keinginan Fernandes di masa kecil untuk memiliki maskapai penerbangan murah, bermula ketika dia masih belajar di sekolah asrama di Inggris Selatan. Keinginan untuk pulang ke kampung halamannya ke Malaysia di waktu liburan tidak dapat dilakukan karena harga tiket pesawat yang mahal. "Saya selalu bermimpi memiliki maskapai penerbangan jarak jauh yang murah," kata Fernandes. "Untuk penerbangan pertama pesawat Air Asia X, saya menolak untuk meluncurkannya di Australia dan Cina dan semua orang menganggap itu kuno. Tetapi saya ingin, penerbangan pertama saya dari London ke Kuala Lumpur." "Itu sangat menyentuh bagi saya 35 tahun kemudian," kata Fernandes. Air Asia kini memiliki Air Asia X yang melayani rute jarak jauh Karyawan dan penumpang Fernandes menerapkan gaya manajemen keliling. "Jika Anda duduk di menara gading dan hanya melihat laporan keuangan, Anda akan melakukan kesalahan besar," kata Fernandes. Selama beberapa hari dalam setiap bulan, dia akan bekerja di lapangan atau bersama awak kabin di pesawat. "Ketika kami mengganti pesawat dari jenis 737 ke Airbus, Air bus lebih tinggi dari landasan dan kru saya mengatakan kita butuh belt loaders (kendaraan pengangkut barang). Dan harganya sekitar satu juta dolar. Kami memutuskan untuk memasukan tas-tas secara manual," tutur pria yang dekat dengan pengusaha Inggris Richard Branson tersebut. Metode manual ini dihapus ketika Fernandes bekerja di lapangan dan membantu memasukkan barang ke pesawat Airbus. Ia mengaku hampir sakit pinggang gara-gara memasukkan barang secara manual. "Andai saja saya tetap memaksakan cara manual, maka akan ada banyak orang yang sakit pinggang," katanya. Fernandes mengatakan bagi dia karyawan adalah yang utama, kemudian nomor dua konsumen. "Jika Anda memiliki pekerja yang bahagia mereka akan menjaga konsumen Anda." "Anda bisa mendapatkan uang yang Anda inginkan di dunia ini, dan Anda bisa mendapatkan ide brilian tetapi jika anda tidak memiliki karyawan, lupakan saja," katanya.
  14. Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Indroyono Soesilo mengatakan total ada 16 kapal dan lima pesawat yang terjun ke lokasi pencarian pesawat AirAsia QZ8501 yang hilang pada Minggu 28 Desember 2014. Mereka masih memusatkan pencarian di sekitar Teluk Pandan dan perairan Belitung. "Saya dapat laporan terakhir dari KSAD tadi pagi, saat ini sejumlah kapal sudah mulai mencari lagi, kita bergerak terus dibawah koordinasi Basarnas." kata Indroyono. Menteri Indroyono juga mengatakan akan meminta Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia untuk mengerahkan kapal riset Barunajaya VII yang dilengkapi dengan teknologi echo sounder. Kapal ini mempunyai pengalaman menemukan kapal Bahu Gajah yang tenggelam di Selat Sunda. Ia juga pernah menemukan pesawat Adam Air yang tenggelam di Selat Makassar tahun 2007 dan membantu menemukan KM Gurita 1996 di Teluk Sabang. Berikut nama-nama kapal, pesawat, dan tim yang dikerahkan untuk pencarian AirAsia QZ8501: TNI Angkatan Laut: - KRI Bung Tomo - KRI Yos Sudarso - 3 unit Korvet KRI Sultan Hasanudin - KRI Simaputra - KRI Pattimura - Kapal Patroli Todak - Landing Platform Docks (LPD) KRI Banda Aceh - 2 unit Kapal Baruna Jaya IV - Kapal Penyapu Ranjau KRI Pulau Rengat - 2 unit pesawat kapal patroli maritim CN235 - 1 unit pesawat Casa 212 - 2 unit Helikopter Bel - 3 Tim Detasement Jalamangkara Deck Operation - 1 Tim Pasukan Katak - 1 Tim Penyelam Kapal Bantuan Asing Malaysia: - 3 unit Korvet (Kapal Diraja Lekeu, Kapal Diraja Lekir, Kapal Diraja Pahang) Singapura: - 1 unit Freegate - 1 unit LPD
  15. Pakar penerbangan Singapura menilai otoritas Indonesia perlu memperbaiki cakupan radar posisi dan radar cuaca untuk bandara serta rute penerbangan. Hal itu merujuk hilangnya pesawat AirAsia dengan rute Surabaya-Singapura bernomor penerbangan QZ 8501, Minggu 28 desember. Pakar penerbangan Singapura Mike Daniel mengatakan, selama lebih dari tiga dekade pengalamannya dengan Federal Aviation Administration (FAA), pesawat biasanya mengubah ketinggian dan rute untuk menghindari cuaca buruk. "Itulah apa yang Anda harapkan untuk dilakukan oleh pilot. Indonesia dikenal tidak memiliki cakupan radar posisi dan radar cuaca terbaik. Mereka (Indonesia) perlu memperbarui hal itu untuk bandara dan rute penerbangan," katanya. Daniel menilai insiden QZ 8501 mirip dengan hilangnya pesawat Malaysia Airlines dengan rute Kuala Lumpur-Beijing yang membawa 239 penumpang pada 8 Maret 2014. Menurut Daniel, operator seharusnya memiliki pengawasan konstan dan kewaspadaan terhadap lokasi pesawat tersebut. "Salah satu hal pertama yang harus dilakukan otoritas adalah mengkonfirmasi posisi pesawat," katanya. Sementara itu, pejabat Kementerian Perhubungan Indonesia Hadi Mustofa Djuraid mengatakan kontak dengan pesawat AirAsia tersebut hilang di Laut Jawa antara Kalimantan dan pulau Belitung, timur garis pantai Sumatra. "Cuaca memang tidak bagus di lokasi hilang kontak tersebut. Kami mendapat laporan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika," katanya.
  16. Petugas menulis data pesawat Air Asia QZ 8501 yang terbang dari Surabaya menuju Singapura di Kantor Otoritas Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Minggu, 28 Desember 2014 Pilot senior Stephanus Geradus menduga faktor cuaca jadi penyebab hilangnya kontak pesawat AirAsia QZ8501. Di atas langit Tanjung Pandan selama ini memang diketahui banyak terdapat awan tebal. Apalagi pada Desember di mana musim hujan mulai tiba. Mantan Presiden Asosiasi Pilot Garuda ini mengatakan, salah satu ciri khas langit di Tanjung Pandan selalu diselimuti awan tebal. Karena itu wajar jika sebelum hilang kontak, pilot pesawat QZ8501 sempat meminta izin untuk berubah arah ke kiri. "Itu bisa dipastikan pilot menghindari awan aktif," kata Stephanus Gerardus Setitit, Ahad (28/12), kepada CNN Indonesia. Awan aktif adalah awan yang terbentuk pada fase kedua. Pada fase ini awan biasanya berbentuk keriting dan rentan jadi pemicu petir. Apalagi pada bulan Desember saat ini pertumbuhan awan di atas Tanjung Pandan cukup signifikan. Awan aktif menurut Stephanus ditakuti oleh para pilot. Karena itu sebisa mungkin awan ini selalu dihindari. Nekat masuk ke awan aktif membuat pesawat akan mengalami guncangan. Karena itulah biasanya pesawat dilengkapi dengan teknologi yang bisa membaca jenis awan, termasuk Airbus A320 yang hilang kontak tadi pagi. "A320 itu termasuk teknologi terakhir," ujar Gerardus. Mungkin saja menurutnya teknologi pembaca awan di pesawat tersebut mengalami gangguan sehingga pesawat menabrak awan aktif dan terganggu sistemnya saat benturan dengan awan terjadi. Terkait rute M635 itu sendiri, menurut Gerardus dari namanya sendiri itu adalah rute internasional. Melalui rute ini pula penerbangan Singapura - Australia melintas. Geradus melanjutkan, jika kondisi pesawat baik-baik saja, cuaca dengan awan tebal di atas Tanjung Pandan sebenarnya bukan masalah berarti. Namun menurutnya teknologi buatan manusia bisa saja mengalami kesalahan. Pesawat terbaru dengan teknologi mutakhir menurutnya bukan jaminan sebuah penerbangan tak mengalami kendala.
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy