Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'ahok'.



More search options

  • Pencarian Berdasarkan Tag

    Jenis tag dipisahkan dengan koma.
  • Pencarian Berdasarkan Penulis

Jenis Konten


Forum

  • NGOBAS ANSWERS
    • Pertanyaan Umum
  • MEDIA MUDA
    • Berita Muda
    • Muda Anonim
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • PELACUR
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • KOMUNITAS
    • BELA DIRI
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • NgobasTV
    • ABOUT NgobasTV
    • EVENT
    • WESER
  • Ngobas Magz
    • Ruang Meeting
    • Redaksi
    • Tentang Ngobas Magz
    • Berita Ngobas Magz
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • KEUANGAN
    • Bukan-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • GAYA HIDUP
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • TEMPAT ISTIRAHAT
    • LAPOR KOMANDAN

Blog

There are no results to display.

There are no results to display.

Categories

  • Topik Berita
  • Acara
    • Dokumentasi Event
  • Officer

Product Groups

There are no results to display.


Cari hasilnya di...

Cari hasilnya yang...


Tanggal Dibuat

  • Mulai

    End


Pembaruan Terakhir

  • Mulai

    End


Saring dari jumlah...

Joined

  • Mulai

    End


Group


Situs


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Minat

Ditemukan 64 results

  1. Kisah hidup mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau karib disapa Ahok saat masih remaja difilmkan. Berjudul Anak HOKi, film ini dipoduseri oleh kakak Ahok, Harry Tjahaja Purnama. Menurut Harry, film ini menceritakan sisi lain Ahok, bukan sebagai politikus maupun perceraiannya. "Film ini dari awal tahun lalu sudah terinisiasi, jauh dari urusan politik. Film ini hanya entertain dan social value. Enggak ada sama sekali unsur politiknya," ungkap Harry Tjahaja Purnama usai jumpa pers di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (17/4). "Inspirasinya karena banyak teman-teman bertanya, 'Ahok muda seperti apa sih?' dan teman-teman bilang, ya udah bikin yuk filmnya," imbuhnya. Harry pun berharap film yang akan tayang Agustus mendatang ini tak hanya memenuhi rasa penasaran publik tentang masa muda Ahok, tetapi juga bisa menjadi hadiah untuk Ahok saat keluar dari penjara nanti. "Ahok tahu kisah remajanya mau difilmkan, tapi dia tidak tahu detail. Pemain-pemainnya saja dia enggak tahu, saya harap bisa jadi hadiah pas dia bebas nanti," tandasnya. Film Anak HOKi menggandeng Kenny Austin yang berperan sebagai Ahok muda. https://www.instagram.com/filmanakhoki/ Sumber: https://id.crowdvoice.com/posts/film-anak-hoki-bakal-jadi-kado-kebebasan-ahok-2Kuh
  2. berita_semua

    Akankah Ahok dan Veronica Bercerai?

    Sidang proses perceraian mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dengan sang istri, Veronica Tan, bakal digelar perdana di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Rabu (31/1/2018) hari ini. Humas PN Jakut Jootje Sampaleng mengatakan, sidang tersebut akan dimulai tepat pada pukul 09.00 WIB. “Kami sudah mengirimkan surat pemanggilan kepada penggugat (Ahok) dan pihak tergugat (Veronica) untuk menghadiri sidang perdana ini,” kata Jootje, Selasa (30/1/2018). Ia mengakui belum mengetahui apakah Ahok dan Veronica akan menghadiri persidangan tersebut. Namun, ia menjelaskan, Ahok maupun Veronica tidak diwajibkan menghadiri sidang perdana, melainkan cukup diwakili oleh kuasa hukum masing-masing. Dalam sidang perdana ini, majelis hakim akan menetapkan waktu mediasi kedua belah pihak. Pada saat mediasi itulah Ahok dan Veronica baru diwajibkan datang. Ahok kekinian berada di bilik Rumah Tahanan Mko Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. Ia harus menjalani hukuman dua tahun penjara karena dianggap bersalah dalam sidang kasus penodaan agama. Mabes Polri, Selasa (9/1) awal bulan ini, sudah menegaskan bakal memberikan izin kepada Ahok untuk dikeluarkan sementara dari selnya. Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Polri Komisaris Besar Martinus Sitompul mengatakan, izin keluar sementara kepada terpidana kasus penodaan agama itu untuk menghadiri mediasi di Pengadilan Negeri Jakarta Utara. "Bisa (diizinkan keluar penjara), tapi harus menunggu surat permohonan dari pengadilan," kata Kombes Martinus saat itu. Ahok, melalui kuasa hukumnya, mengajukan gugatan cerai ke PN Jakut pada 5 Januari 2018. Ahok menunjuk Josefina Agatha Syukur, sebagai kuasa hukumnya dalam persidangan perceraian ini. Josefina sendiri mengatakan, sebelum mengambil keputusan cerai, Ahok telah terlebih dahulu bertemu Veronica. Setelah pertemuan itu, Ahok memanggil sang adik—Fifi Lety Indra—dan dirinya ke Mako Brimob untuk menyerahkan surat kuasa agar mengurus perceraiannya. Dugaan Perselingkuhan Alasan Ahok menceraikan istrinya, Veronica Tan, diduga karena perselingkuhan. Isu perselingkuhan itu dipastikan saat mendapatkan surat penjelasan gugatan Ahok, Selasa (9/1/2018). Surat itu menunjukkan dugaan orang ketiga yang membuat retaknya rumah tangga Ahok dengan Veronica. Dalam surat yang diduga bagian dari gugatan cerai Ahok di Pengadilan Negeri Jakarta Utara itu disebutkan sebagai berikut: "Bahwa kehidupan perkawinan yang rukun, harmonis dan bahagia berubah drastis dikarenakan adanya perubahan sikap dari tergugat kepada penggugat sejak tahun 2010". Surat itu juga berisi tulisan bahwa Veronica memiliki kedekatan dengan teman dekatnya yang berinisial JT. Dalam surat tertulis nama jelas 'good friend-nya'. Putra sulung mereka juga juga pernah meminta ibunya untuk tak lagi berhubungan dengan JT, demikian tertulis dalam surat tersebut. Menanggapi hal tersebut, kuasa hukum Ahok, Josefina Agatha Syukur, tidak membenarkan isi surat tersebut. Tetapi dia juga tidak membantah untuk menunjukan dugaan isi surat cerai Ahok ke Veronica. "Mohon maaf, karena ini masalah pribadi, saya tidak bisa mengungkapkan apapun yang menjadi alasan Pak Ahok mengajukan gugatan," kata Josefina. Ia hanya menjelaskan seluruh alasan Ahok mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Jakarta Utara pada Jumat (5/1) itu sudah tertuang dalam surat gugatan. "Semua alasan sudah ada dalam gugatan kami. Mohon kita sama-sama menunggu persidangannya. Terima kasih," kata Josefina melalui pesan WhatsApp. Gimana menurut jendral?
  3. Minggu kemarin kita tau Ahok di vonis 2 tahun penjara, dan banyak orang yang membela. Baru kali ini saya melihat ada orang divonis (ya meskipun nggak final) tapi banyak yang membela. Sampai sampai Adi MS juga turut ambil adil, dia sosok musisi Indonesia terbaik. Inilah kebeneran, kebeneran yang di putar balikan. Saya yakin betul Ahok tidak salah, tapi kita liat aja nanti Jakarta akan jadi seperti apa kedepannyal.
  4. Berita duka dari rumah lembang berbarengan dengan divonisnya Ahok oleh pengadilan. Seorang security rumah Lembang yang bernama Gerard Umbu Samapati harus menghembuskan napas terkahir di usia 43 tahun dan meninggalkan tujuh orang anak. Berdasarkan informasi dari Usma yang juga sesama security di rumah Lembang, Gerard meninggal tak lama setelah menyaksikan berita divonisnya Ahok selama dua tahun. "Benar (meninggal dunia). Kaget dengar putusan hakim soal Ahok," katanya kepada merdeka.com, Selasa (9/5) Sejumlah timses perwakilan Ahok-Djarot dateng melayat ke rumah duka, dan menurut informasi mereka Gerard meninggal karena serangan jantung seusai mengetahui Ahok divonis oleh majelis hakim. Duh jadi sedih ya. Semoga diterima di sisi Tuhan.
  5. berita_semua

    Penyebab Ahok Kalah di Pilgub Jakarta Putaran II

    Pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022, Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat sekaligus petahana berdasarkan hasil quick count hasil pemungutan suara dinyatakan kalah. Pemenangnya adalah pasangan nomor urut tiga, Anies Rasyid Baswedan dan Sandiaga Salahuddin Uno. Hasil quick count Lingkaran Survei Indonesia (LSI Denny JA) menunjukkan pasangan Basuki dan Djarot hanya meraih 44,14 persen suara, sedangkan pasangan Anies dan Sandiaga meraih 55,86 persen suara. Data masuk sebanyak 96,29 persen. Hasil quick count Penelitian dan Pengembangan Harian Kompas menunjukkan pasangan Basuki dan Djarot hanya meraih 41,87 persen suara, sedangkan pasangan Anies dan Sandiaga meraih 58,13 persen suara. Data masuk sebanyak 94,7 persen. Kendati dinyatakan kalah, namun pemenang sah adalah yang akan diumumkan Komisi Pemilihan Umum DKI Jakarta berdasarkan hasil real count. Kekalahan pasangan petahana telah diprediksi sejumlah lembaga survei dan konsultan politik, sebelumnya. Saat pemungatan suara putaran pertama, pasangan Ahok, sapaan Basuki dan Djarot malah menang. Lalu, apa sebenarnya penyebab petahana kalah pada Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022? Peneliti dari lembaga survei sekaligus konsultan politik LSI Denny JA, Adjie Alfaraby dan Ardian Sopa pernah membeberkan sebelumnya. Berikut lima penyebab kekalahan pasangan petahana (incumbent) ini berdasarkan hasil riset LSI Denny JA yang dirangkum Tribun-Timur.com: 1. Kesamaan Profil Pemilih Pendukung, termasuk partai politik pengusung pasangan nomor urut satu, Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni yang kalah pada putaran pertama lebih banyak mengalihkan dukungan kepada pasangan Anies dan Sandiaga. Hal ini didasari kesamaan profil pemilih. 2. Kebijakan Tak Pro Rakyat Akibat kebijakan Pemprov DKI Jakarta yang dinilai tak pro kepada rakyat. Kebijakan tersebut, antara lain berupa penertiban kawasan pemukiman dan reklamasi di pantai Jakarta Utara. 3. Sentimen Anti-Ahok Faktor sentimen anti-Ahok karena kapitalisasi isu agama dan primordial. Ahok dianggap tak pas untuk memimpin pemerintahan DKI Jakarta karena bukan pemeluk agama yang mayoritas dipeluk warga DKI Jakarta. Berdasarkan asil riset LSI Denny JA, sekitar 40 persen pemilih yang beragama Islam di DKI Jakarta tidak bersedia dipimpin oleh Ahok yang non-Muslim. Mereka berupaya keras agar Ahok kalah dan tidak memimpin lagi DKI Jakarta. Selain itu, dia juga berasal dari kelompok etnis minoritas. 4. Kasar dan Arogan Karakter Ahok yang kasar dan arogan. Sikap mantan Bupati Belitung Timur itu dianggap bukan tipe pemimpin yang layak memimpin Jakarta karena omongannya kerap dianggap kasar. Puncaknya, ketika dia blunder soal ayat suci Alquran. Belum lagi sikapnya yang dinilai tidak konsisten, suatu ketika mencerca partai politik dan hanya ingin maju lewat jalur independen. Namun, selanjutnya ia berjuang mencari dukungan partai politik. 5. Kompetitor Baru Hadirnya kompetitor baru yang menjadikan pemilih memiliki alternatif dalam memilih pemimpin DKI Jakarta. Pasangan Anies dan Sandiaga, serta pasangan Agus dan Sylviana menjadi alternatif pemilih yang pro maupun kontra Ahok.
  6. berita_semua

    Ahok-Djarot Hanya Akan Kalah karena Tiga Hal Ini

    Raja Juli Antoni, juru bicara tim pemenangan pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat mengatakan, survei internal menunjukan suara pasangan nomor pemilihan dua telah menyalip perolehan dukungan Anies-Sandi. "Artinya, kemenangan Ahok-Djarot sangat tergantung kinerja kader partai dan relawan. Kami meminta kepada seluruh kader partai dan relawan untuk bekerja bahu-membahu," kata Toni sapaanya lewat pesan singkat yang diterima, Jumat (14/4/2017). Dirinya berharap untuk tidak merasa sudah menang sehingga berleha-leha. "Terus bekerja keras mengetuk pintu rumah dan pintu hari rakyat agar memilih Ahok-Djarot demi keberlangsungan fasilitas dan jaminan sosial yang telah dinikmati rakyat saat ini," katanya. Menurutnya, Ahok-Djarot hanya akan kalah karena tiga hal. Pertama, Ahok Djarot akan kalah karena ketidak-netralan penyelenggara pemilu. Sanksi DKPP kepada ketua KPU adalah peringatan serius agara KPU bekerja secara independen, netral dan tidak berpihak. "KPU mesti memastikan panitia pemungutan suara di TPS mengerti tugas meraka sehingga semua pemilih Ahok-Djarot mendapatkan hak konstitusional mereka, tidak seperti pada putaran pertama lalu. Jangan sampai undangan (C6) tidak sampai kepada pendukung kami yang kemudian dijadikan alasan untuk tidak memilih atau boleh memilih pada jam terakhir namun ternyata surat suara habis," kata Toni. Kedua, money politics atau politik uang. Sudah banyak laporan masuk bahwa basis Ahok-Djarot diserang pembagian sembako dengan alasan pasar murah. "Nampaknya praktik money politics akan semakin gencar dilakukan menjelang tanggal 19 April. Kami meminta Bawaslu untuk tegas mengawasi lapangan jelang pemilihan agar proses demokrasi tidak dicederai hal kotor semacam itu," ujarnya. Ketiga intimidasi. Masih banyak forum-forum pengajian dan rumah ibadah yang dipergunakan untuk mengintimidasi pemilih Ahok-Djarot dengan mempergunakan isu SARA. "Rizieq Shihab salah seorang pendukung utama Anies-Sandi di cermahnya terakhir di Surabaya mengajak para pendukungnya, pesilat dan jawara untuk datang ke Jakarta dengan alasan pengamanan yang sebenarnya merupakan bagian dari intimidasi. Namun saya percaya pendukung Ahok-Djarot sudah kuat melawan intimidasi dari hari ke hari. Saya berharap pihak keamanan dapat mengantipasi intimidasi dan teror yang akan menciderai proses demokrasi," kata Toni. Sumber: Tribunnews
  7. berita_semua

    Konsekuensi Kader PDI-P Kalau Ahok Kalah

    Seluruh kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) bertugas untuk memenangkan pasangan calon gubernur-wakil gubernur nomor pemilihan dua DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017. Terutama bagi kader yang merupakan anggota DPRD, DPR RI, serta menjadi Bupati, Wali Kota, dan Gubernur. Anggota DPR RI dari fraksi PDI-P, Charles Honoris mengatakan tiap anggota dewan telah diberikan wilayah pengampuan. Charles sendiri, wilayah pengampuannya di Kecamatan Kebon Jeruk. "Jadi saya punya tugas untuk bisa memenangkan (Ahok-Djarot) di Kebon Jeruk," kata Charles, di Jalan Cemara Nomor 19, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (7/3/2017). Tak hanya anggota dewan yang berasal dari daerah pemilihan DKI Jakarta, namun anggota dewan fraksi PDI-P dari seluruh Indonesia bertugas memenangkan Ahok-Djarot. Selain itu, PDI-P juga menurunkan kadernya yang menjabat Bupati, Wali Kota, dan Gubernur untuk memenangkan Ahok-Djarot. "Jadi kepala daerah, seperti Bupati dan Wali Kota dari PDI-P datang ke Jakarta, serta pimpinan DPRD untuk bekerja demi kemenangan Ahok-Djarot," kata Charles. Ada konsekuensi yang akan diterima tiap kader, jika Ahok-Djarot kalah di wilayah pengampuan. "Jadi itu nanti ada penilaian dari partai dan ibu Ketum (Ketua Umum Megawati Soekarnoputri). Pastinya ada dan bisa menjadi bahan evaluasi kinerja kader," kata Charles. Hasil survei Dari dua hasil survei yang diselenggarakan oleh lembaga survei Median dan Lingkaran Survei Indonesia (LSI), elektabilitas Ahok-Djarot menempati posisi kedua setelah pasangan calon gubernur-wakil gubernur nomor pemilihan tiga DKI Jakarta Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Elektabilitas Ahok-Djarot sebesar 39,7 persen dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno sebesar 46,3 persen. Sedangkan 14 persen responden lainnya masih undecided atau menyatakan belum memutuskan. Responden dalam survei ini sejumlah 800 warga DKI Jakarta yang mempunyai hak pilih. Survei dilakukan pada rentang waktu dari tanggal 21 sampai 27 Februari 2017, dengan margin of error sebesar plus minus 3,4 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen. (Baca: ) Peneliti menentukan sampel dalam survei ini dengan teknik multistage random sampling dan proporsional atas populasi di seluruh kotamadya di Jakarta dan faktor gender. Sumber pendanaan survei berasal dari dana mandiri pihak Median. Sedangkan berdasarkan survei LSI Denny JA terkait pasangan cagub-cawagub yang akan bersaing pada putaran kedua Pilkada DKI Jakarta 2017, elektabilitas Anies Baswedan-Sandiaga Uno dinyatakan mencapai 49,7 persen, sedangkan elektabilitas Ahok-Djarot 40,5 persen. Adapun survei tersebut dilakukan pada periode 27 Februari sampai 3 Maret 2017 terhadap 440 responden dengan cara tatap muka. Metode yang digunakan yakni multistage ramdom sampling, dengan margin of error survei ini kurang lebih 4,8 persen. Survei diklaim dibiayai anggaran internal LSI.
  8. berita_semua

    Ahok Pernah Ditawari Uang Dalam Jumlah Besar

    Mantan Direktur Utama (Dirut) PT MRT Jakarta Dono Boestami mengaku pernah menyaksikan sendiri Basuki Tjahaja Purnama ditawari sejumlah uang oleh pegawai negeri sipil (PNS) Pemprov DKI Jakarta. "Banyak yang bilang, Pak Ahok ini jujur dan bersih, tapi pernah tidak Anda mengalami langsung satu situasi dan melihat dengan mata kepala sendiri? Kebetulan saya pernah mengalami langsung," kata Dono dalam acara bedah buku A Man Called Ahok, di Hotel Sultan, Jakarta Pusat, Jumat (20/1/2017). Saat Dono masih menjabat sebagai Dirut PT MRT Jakarta, dia dipanggil oleh Ahok yang menjabat Gubernur DKI Jakarta. Saat dia hendak masuk ke dalam ruang kerja Ahok, ada seorang PNS DKI yang membawa berkas dan sebuah amplop. Setelah pegawai itu keluar, Dono dipersilakan masuk ke dalam ruang kerjanya. "Pak Ahok bilang, 'Pak Dono tahu enggak, itu apa?'. Itu uang, saya kaget juga," kata Dono. Dono sempat berpikiran, hari gini kok masih ada praktik suap. Kemudian Ahok menjelaskan, uang itu merupakan uang resmi. Di dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri), uang itu disebut sebagai upah pungut. "Saya iseng tanya, uangnya diapain? Karena pasti cukup besar (jumlahnya). Beliau bilang, 'Saya balikin'. Bingung juga, uang resmi saja dia balikin," kata Dono. Pada akhir kesempatan, Dono menyarankan agar Ahok tidak mudah marah ketika mendengar pernyataan yang tidak menyenangkan, alias tipis telinga. "Saya kebetulan dulu dipercaya Pak Jokowi menjadi Dirut PT MRTJakarta. Proyek ini tidak akan berjalan kalau tidak ada Jokowi-Ahok. Terkait kuping tipis, mungkin Pak Ahok bisa mengonfirmasi kembali," kata Dono, yang pernah bekerja bersama dengan Ahok selama 3,5 tahun.
  9. duniagelap

    Massa Aksi 161 Mulai Berdatangan

    Massa aksi yang terdiri dari anggota Ormas Front Pembela Islam (FPI) mulai memadati halaman dan Masjid Al-Azhar, Jalan Sisimangaraja, Kebayoran baru. Aksi yang diberi tajuk 161 ini diketahui merupakan bentuk protes terhadap Polri atas salah satu pimpinannya, yakni Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Anton Charliyan yang dianggap melakukan pembiaran sehingga terjadi penganiayaan terhadap anggota Ormas Islam tersebut oleh LSM Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI) . Massa akan melakukan long march dari Masjid Al-Azhar ke Markas Besar Polri di Jalan Trunojoyo. Pantauan Okezone di Masjid Al-Azhar, massa aksi sudah mulai berdatangan. Rencananya, sebelum melakukan long march, massa aksi akan terlebih dahulu melaksanakan Salat Dhuha yang dipimpin oleh Imam Besar FPI, Habieb Rizieq Shihab. "Saat ini jumlah massa aksi belum bisa dipastikan karena terus bertambah. Tapi diperkirakan nanti lima ribu orang," kata Ahmad Andi (33), salah satu koordinator aksi di lokasi. Peserta aksi berasal dari wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasu (Jabodetabek), Jawa Barat dan Banten. Meski terdapat sejumlah mobil polisi di pelataran masjid ini, tak tampak pengamanan yang berarti. Situasi lalu lintas di Jalan Sisingamangraja pun masih tampak normal. Ada dua tuntutan utama yang digaungkan dalam aksi ini, antara lain, menuntut Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian agar segera Mencopot Kapolda Jabar Irjen Pol. Kedua, menuntut Mabes Polri agar mencari dan menangkap aktor intelektual dan pelaku lapangan terhadap penyerangan dan penganiayaan massa Ormas Islam FPI oleh Massa Ormas LSM GMBI.
  10. berita_semua

    Debat Pilgub DKI! Anies Sindir Program Reklamasi

    Calon Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menegaskan integritas bukan hanya soal jujur. Ia pun menjabarkan integritas ialah jujur secara pribadi untuk menjalankan kepentingan publik. “Integritas bukan soal hanya jujur. Jujur secara pribadi, menjalankan kepentingan publik,” ujar Anies di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan Mantan Mendikbud menambahkan, ia bakal melakukan tata kelola yang berintegritas. Baginya ialah keberpihakan dalam berintegritas. Anies pun menyinggung program reklamasi Teluk Jakarta sebagai program yang tidak berintegritas. “Selalu mengikuti tata kelola, integritas adalah keberpihakan. Ketimpangan yang sedang dibuat, reklamasi adalah contoh,” imbuhnya. Oleh kaena itu, ia menjanjikan ketegasan dalam memimpin Ibu Kota. Termasuk mengusung nilai-nilai agama. “Kita harus tegas, trasnparansi dan dukungan rakyat sesuai nilai-nilai agama,” tandasnya.
  11. asliindonesia

    Lani Menangis Saat Bertemu Ahok

    Seorang perempuan yang terserang stroke menangis saat melihat calon gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Perempuan itu bernama Lani (55). Dia tinggal di Jalan Tipar Timur, Semper Barat, Cilincing, Jakarta Utara, daerah yang disambangi Ahok untuk berkampanye jelang Pemilihan Kepala Daerah Jakarta 2017. Lani terserang stroke sejak 2015 lalu. Dia mengaku kerap melihat Ahok di televisi. Lani senang akhirnya bisa melihat mantan Bupati Belitung Timur tersebut secara langsung. "Lihat orangnya biasa di TV," ucap Lani, Senin (2/1/2017). Lani sempat minta didoakan Ahok agar lekas sembuh dari penyakit stroke. Dia juga bersyukur karena mendapat Kartu Jakarta Sehat, sehingga biaya rumah sakit ditanggung Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. "Stroke, ngomongnya belok. Sudah setahun. Biasa berobat di Rumah Sakit Islam. Pakai KJS kalau bayar mahal," ucap Lani. Ahok meminta Lani untuk bersabar menghadapi stroke yang dideritanya. Dia mendoakan Lani untuk lekas sembuh. Ahok mengatakan, Lani bisa mengirimkan pesan langsung ke ponsel genggamnya jika ada keluhan. "Sabar aja Bu. Saya doain biar cepat sembuh. Bisa SMS saya kalau perlu apa-apa ya. Enggak apa-apa, kalau ada apa-apa SMS," ucap Ahok kepada Lani.
  12. Calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama kembali mengalami penolakan saat blusukan di Jati Padang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat (30/12). Salah satu orang yang menolak kedatangan pria yang akrab disapa Ahok ini adalah Ketua FPI Pasar Minggu Herianudin. Meski begitu, Ahok tidak akan melapor ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) berkaitan dengan penolakan itu. Sebab, menurut dia, Herianudin dan rekannya tidak menantang dirinya. "Enggak, dia juga enggak nantang gue. Enggak berani bilang '‎Saya menantang bapak kampanye. Dia juga cuma bilang 'Kenapa bapak wawancara orang rumah bukan warga KTP DKI?' Ya mau-mau saya dong. Kenapa enggak boleh? Langsung dia juga diam," kata Ahok. Mantan Bupati Belitung Timur itu pun menyebut, Herianudin tidak berbicara mengenai menolak kampanye. Karenanya, Ahok tidak akan memperpanjang urusan. "Kalau dia bilang 'Kami sebagai warga sini menolak kedatangan bapak,' lalu kami rekam nih, ya sikat," ungkap Ahok. Seperti diberitakan, Herianudin menyebut warga menolak kedatangan Ahok yang blusukan di Jati Padang. Ketika ditanya lebih lanjut, dia mempermasalahkan Ahok blusukan tanpa memberitahu kepada RT dan RW.
  13. Dalam perjalanan kunjungan kerja ke Kantor Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, mobil dinas Gubernur DKI Jakarta yang berpelat nomor DKI-1 dibuntuti oleh seorang pengendara sepeda motor. Orang tersebut mengikuti mobil ketika dalam perjalanan di daerah fly over Kampung Melayu, tepatnya di Jalan KH Abdul Syafei, Jakarta Timur. Sambil mengikuti mobil dinas gubernur, lelaki pengendara motor tersebut berteriak dengan mengucapkan kalimat takbir. Pelaksana tugas Gubernur Sumarsono yang berada di dalam mobil dinas spontan membuka kaca menyapa pengendara motor itu. "Saya buka kaca, oh dia mengira saya adalah Pak Ahok," kata Sumarsono di Puskesmas Pembina Kecamatan Duren Sawit, Jumat, 30 Desember 2016. "Mohon maaf, Pak, saya kira Pak Ahok," ujar Sumarsono menirukan ucapan pengedara motor itu. Sebagai Pelaksana Tugas Gubernur, Sumarsono mengimbau agar seluruh lapisan masyarakat tidak perlu untuk melakukan teriakan tersebut. "Saya kira tidak perlu teriakan seperti itu. Kalimat Allahu Akbar adalah kalimat suci." Yang penting, lanjut Sumarsono, mereka tahu kalau yang di dalam adalah dia. "Inilah suka duka memimpin Jakarta di tengah-tengah situasi politik seperti ini." kata Sumarsono. Akhirnya ketika sampai di Kantor Kecamatan Duren Sawit, ajudan Gubernur langsung mengganti pelat DKI-1 menjadi B-1549-RFS. Menurut Sumarosno penggantian pelat itu lebih bertujuan untuk menjaga suasana, bukan karena dia merasa terintimidasi. "Saya tidak merasa terintimidasi karena iru," katanya.
  14. orang_gila

    Faktor SARA Di Pilkada Jakarta

    Pemilihan kepala daerah (pilkada) di Provinsi DKI Jakarta makin seru. Bukan hanya isu dan tokohnya berskala nasional, tetapi karena trend terkini kandidat petahana berpeluang besar kalah. Setidaknya tiga survei mengkonfirmasi kecenderungan yang mengejutkan itu. Survei Indikator Politik Indonesia pimpinan Burhanuddin Muhtadi menyebut elektabilitas Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Syaiful Hidayat melorot tinggal 26,2 persen, dan kecenderungannya terus merosot. Agus Harimurti-Sylviana Murni menyodok dengan elektabilitas teratas (30,4 persen), sementara Anies Baswedan-Sandiaga Uno menempel ketat Basuki-Djarot (24,5 persen). Komposisi itu masih bisa berubah karena responden yang belum menentukan/merahasiakan pilihan masih tinggi (18,9 persen). Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pimpinan Denny JA mengungkap hasil lebih mencengangkan, karena elektabilitas Basuki-Djarot anjlok (10,6 persen) pascakasus penistaan agama Islam. Posisi Anies-Sandi teratas (31,90 persen), diikuti Agus-Sylvi (30,90 persen), dan responden yang belum menentukan pilihan cukup tinggi (26,60 persen). LSI menemukan faktor sentimen keagamaan sangat menentukan pergeseran perilaku pemilih di Jakarta. Kurangnya sensitivitas petahana membuat elektabilitasnya merosot tajam, nyaris tak tertolong. Survei terkini dari Poltrack Indonesia pimpinan Hanta Yudha menempatkan Agus-Sylvi 27,92 persen di posisi teratas, diikuti Basuki- Djarot (22,00 persen), dan Anies-Sandi (20,42 persen). Responden yang belum menentukan pilihan tetap tinggi (29,66 persen) sehingga masih sulit diprediksi kandidat yang akan lolos ke putaran kedua, apalagi pemenang pilkada. Selisih elektabilitas antar kandidat juga sangat ketat, masih berada dalam jangkauan margin of error. Anomali. Survei Indikator menunjukkan gejala anomali, karena mayoritas responden menyatakan puas dengan kinerja Pemprov DKI (69%) dan mayoritas responden yang sama juga percaya tidak boleh dipimpin oleh kandidat non-Muslim (52,6%). Keanehan itu disebut Yurgen Alifia (Selasar, 28/11) sebagai gejala doublethink (berpikir ganda/kontradiktif), mengutip kategori George Orwell tentang disonansi kognitif. Yurgen, kandidat master di Oxford University dan mantan wartawan televisi, menilai sikap kontradiktif pemilih karena hasil propaganda elite politik yang mendukung kandidat penantang. Termasuk para pemuka opini yang mengeksploitasi isu primordial/agama, dan hal itu dipandang negatif bagi perkembangan demokrasi yang rasional. Sebenarnya, jika kita bisa menyelami suasana kejiwaan pemilih –dan itu sudah dicoba oleh LSI melalui wawancara kualitatif– tidak ada keanehan dan anomali politik. Burhan terlalu berpikir linier, bahwa kepuasan responden akan mengarah pada pilihan dan kepercayaan baru untuk kandidat petahana. Padahal, bisa saja responden menilai keberhasilan kinerja pembangunan di Jakarta adalah hasil kerja kolektif (birokrasi Pemprov) dan bukan prestasi pribadi Basuki. Dalam konteks itu, para pemilih di Ibukota justru makin rasional, sebab mereka tahu anggaran (APBD) DKI Jakarta sangat besar dan aparat serta infrastruktur Pemprov cukup lengkap sehingga siapapun yang menjabat Gubernur dengan mudah dapat menjalankan tugas rutinnya. Ibaratnya, Basuki tidur saja atau ngomel-ngomel saban hari, program di Jakarta terus berjalan: pasukan oranye tetap membersihkan jalan dan sungai, para Lurah melayani pembuatan KTP dan izin domisili, para dokter dan perawat melayani warga di puskesmas dan seterusnya. Yurgen Alifia berspekulasi terlalu jauh dengan menyudutkan pemilih yang berpikir dan berperilaku ganda, tanpa menunjukkan bukti tambahan di luar survei. Padahal, di masa transisi pasca-Reeformasi sudah terlalu banyak kita menyaksikan ‘anomali’ dari kacamata politik linier. Misalnya, dalam pemilihan umum, warga diajarkan untuk “menerima uang/bingkisan (money politics), tetapi jangan pilih partai/kandidatnya”. Tidak tanggung-tanggung, para aktivis Organisasi Nonpemerintah yang kritis mengkampanyekan: “Ambil saja uangnya, jangan pilih partai/kandidatnya!” Jakarta Unfair. Jika sekarang, pemilih di Ibukota bersikap to the point, menikmati pelayanan Pemprov DKI dan menolak kandidat Basuki, apakah masih disebut ‘anomali’? Atau, justru itu konsekuensi sikap rasional-kalkulatif sebagai dampak dari kampanye Ornop yang kritis. Kita tahu saat ini Basuki tak hanya berhadapan dengan warga yang kecewa dengan berbagai kebijakan diskriminatifnya, tetapi juga mendapat tentangan keras dari Ornop yang dipelopori LBH Jakarta, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Urban Poor Consortium (UPC), dan lain-lain yang mengkritik keras tindakan penggusuran paksa dan pembangunan reklamasi pulau di Teluk Jakarta. Para aktivis jurnalis independen juga membuat film dokumenter Jakarta Unfair yang diputar di kampung-kampung dan kampus-kampus untuk menyadarkan publik betapa berbahaya arogansi kebijakan Basuki. Setelah dua tahun berkuasa, warga kini bisa melihat perbedaan yang mencolok dari gaya kepemimpinan Basuki (2014-2016) dengan Joko Widodo (2012-2014) yang digantikannya. Sebagian besar warga Jakarta pada Pilkada 2012 memilih Jokowi, bukan Basuki, dan sekarang menyaksikan betapa Basuki tidak bisa diandalkan untuk menunaikan “Janji-janji Jokowi”. Di sinilah kontradiksi yang parah, mengguncang kesadaran pemilih di lapisan memori terdalam. Jadi, bukan anomali atau kontradiksi sikap di permukaan seperti disimpulkan Yurgen dan Burhan. Pertanyaannya kemudian, faktor apakah yang menyebabkan pergeseran dahsyat itu sehingga di permukaan tampak seperti kontradiksi perilaku pemilih? Yurgen membantah faktor agama yang menyebabkan perubahan sikap pemilih, dengan merujuk survei-survei sebelumnya (SMRC dan Populi). Riset lebih serius dilakukan oleh Ken Miichi (Associate Professor pada Iwate Prefectural University, Jepang) yang mengkaji peran agama dan etnisitas dalam Pilkada DKI 2012 (Jurnal Current Southeast Asian Affairs, 2012). Riset itu membandingkan hasil Pilkada DKI dengan komposisi demografi Jakarta dan sikap pemilih. Jadi, bukan sekadar prediksi atau spekulasi. Komposisi Jakarta. Kita semua tahu, Pilkada DKI 2012 diikuti oleh empat pasangan kandidat, yaitu: Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (diusung PD dan PAN), Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama (PDIP dan Gerindra), Hidayat Nurwahid-Didik Rachbini (diusung PKS dan PAN yang terbelah), Alex Noerdin-Nono Sampurno (Golkar dan PPP). Pilkada berlangsung dua putaran, dengan hasil putaran pertama: Fauzi-Nachrowi (34,1 persen), Jokowi-Basuki (42,6), Hidayat-Didik (11,7), dan Alex-Nono (4,7). Lalu, pada putaran kedua, Foke-Nara (46,2) dikalahkan Jokowi-Basuki (53,8) dengan selisih cukup ketat (7,6). Sebelum mengecek alasan pemilih memberikan suara kepada kandidat jagoannya, kita perlu mengetahui komposisi warga Jakarta berdasarkan etnik dan agama. Ken Miichi menyajikan data yang menarik dari perbandingan komposisi etnik pada tahun 1960 dengan tahun 2000. Data tahun 1960 bersumber dari penelitian Lance Castle (peneliti dari Australia) dan data 2000 bersumber dari sensus nasional Komposisi etnik Jakarta menurut Ken Michi di tahun 1960 (dalam prosentase), Jawa (25,4), Betawi (22,9), Sunda (32,9), Chinese (10,1), Batak (1,0), Minang (2,1). Dan tahun 2000, Jawa (35,2), Betawi (27,6), Sunda (15,3), Chinese (5,5), Batak (3,6), Minang (3,2). Sementara itu, komposisi agama warga Jakarta berdasarkan sensus adalah: Islam (85,36), Protestan (7,54), Katolik (3,15), Budha (3,13), Hindu (0,21) dan Konghucu (0,06). Warga Betawi, Jawa, Sunda dan Minang kebanyakan beragama Islam. Warga Batak mayoritas Kristen, sedang warga Chinese mayoritas memeluk Budha atau Konghucu. Berdasarkan exit poll yang direkam Majalah Tempo (2012), alasan pemilih memberikan suara kepada kandidat pilihannya adalah sebagai berikut. Alasan pemilih mendukung Jokowi-Basuki terutama karena: dipandang memprioritaskan kepentingan publik (32,7), suka dengan program alternatif yang ditawarkan (31,9), dan kejujuran (12,2). Sementara itu, alasan pemilih mendukung Fauzi-Nachrowi terutama karena: program yang sudah dijalankan (31,7), mewakili kesamaan agama (25,9) dan memprioritaskan kepentingan publik (9,2). Di situ terlihat kesamaan sikap pemilih karena prioritas kepentingan publik dan suka dengan program kandidat, jadi pemilih Jakarta dapat dikatakan relatif rasional. Namun, Jokowi memiliki kelebihan karena dipandang jujur, mungkin karena pemilih belum mengetahui jelas rekam jejak mantan Walikota Solo (periode 2005-2012) itu. Sedangkan pendukung Fauzi Bowo cukup besar yang berdasarkan kesamaan agama (25,9), bandingkan dengan Jokowi yang hanya didukung (0,5) karena kesamaan agama. Kesamaan etnik/suku tidak terlalu signifikan, karena memilih Jokowi hanya 4,9 dan memilih Foke hanya 4,6 persen. Mengapa Foke dipersepsi publik lebih agamis/Islamis, dengan asumsi mayoritas pemilih Jakarta beragama Islam? Lalu, mengapa Foke tetap kalah, meskipun didukung mayoritas pemilih Muslim? Itu pertanyaan yang menarik, apalagi bila dibandingkan dengan alasan pemilih pada Pilkada DKI 2007 yang menghadapkan Fauzi Bowo-Prijanto (diusung 20 partai besar dan kecil) dengan lawannya Adang Daradjatun-Dani Anwar (hanya diusung oleh PKS). Berdasarkan exit poll LSI 2007, maka pemilih mendukung Fauzi-Prijanto karena: kapabilitas kandidat (28,5), karakter kandidat (19,5), suka dengan program atau isu kampanye (18,1), kesamaan latar belakang agama-suku-dll (7,5), ikut dukungan partai (6,9), dan lain-lain (19,4). Terlihat pergeseran sikap pemilih Foke dari segi kesamaan agama-suku, pada pilkada 2007 hanya 7,5 persen, namun pada pilkada 2012 melonjak menjadi 25,9 persen. Apakah itu dukungan yang wajar karena pemilih Jakarta makin relijius, ataukah terjadi proses “religionisation” (agamaisasi) di masa kampanye, sebagaimana dinyatakan Ken Miichi, sambil mengutip konsep Robert Hefner. Fauzi Bowo pada pilkada 2007 dipersepsi bersifat moderat dan inklusif, merangkul semua golongan. Sementara penantangnya (Adang-Dani) dipersepsi (melalui kampanye media) bersifat “radikal dan militan” sehingga mengancam kemajemukan warga Jakarta. “Jika Adang-Dani yang didukung PKS menang, maka Jakarta akan berubah menjadi kota Taliban”, begitu propaganda massif tersebar di lapangan, menakut-makuti warga Jakarta bahkan sampai hari tenang. Tetiba, pada pilkada 2012, wajah toleran Foke berubah menjadi “militan dan intoleran” karena dinilai terlalu dekat/mengakomodir kelompok-kelompok garis keras. Foke memenangi pilkada 2007 karena mensiasati isu SARA dengan menyudutkan lawannya (Adang-Dani) dalam stigma negatif. Pada pilkada 2012, Foke terjebak permainannya sendiri dan dikalahkan Jokowi yang dengan cerdik membalikkan isu SARA serupa. Jadi, kita lihat dalam konteks Pilkada Jakarta, isu SARA bukan strategi jitu untuk memenangkan kandidat, tetapi efektif menyudutkan dan mengalahkan lawan dengan stigma negatif. Sekarang, bagaimana dengan Pilkada 2017? Apakah isu SARA masih bisa dipakai untuk menjegal kandidat pilihan atau lawan politik? Basuki masih punya waktu dua bulan untuk mengubah keadaan, menjalani proses hukum atas dugaan penistaan agama (bisa diputuskan bersalah atau bebas) dan berperilaku seperti korban (playing victim) atas fitnah dan tekanan massa. Agus Harimurti dan Anies Baswedan bisa terjebak dengan permainan isu sensitif itu, jika tak waspada, terutama para relawan pendukungnya yang bersemangat di lapangan dan ranah media sosial. Dalam kaitannya dengan Aksi Damai 4 November 2016 (411) yang mendesak Polri agar menahan Basuki sebagai tersangka kasus penistaan agama, Agus berkomentar positif, karena itu bagian dari hak demokrasi, menyampaikan pendapat (31/10/2016). Sementara Anies terlihat menjaga jarak obyektif dari aksi 411, tetapi memberi nasihat kepada Basuki saat berjumpa dalam acara talk show Mata Najwa (26/11/2016). “Kata-kata dapat merenggangkan hubungan, kata-kata dapat mempersatukan hubungan. Seperti apa yang terjadi dengan pak Basuki kan seperti itu, diungkapkan lalu disesali. Dan, efeknya luar biasa,” ujar Anies, disambut tepuk tangan audiens. Pengamat yang obyektif menganalisis berbagai survei politik dalam sejarah Indonesia kontemporer, tak kan meremehkan faktor SARA. Bahkan, unsur SARA bisa menjadi pembentuk identitas nasional atau memperkuat afiliasi politik. Dengan pemahaman SARA yang tepat, terutama agama, orang tak akan mengalami anomali atau doublethink.
  15. Guest

    Ahok emosi diserang Sandiaga Uno

    Calon Gubernur DKI Jakarta nomor urut dua Basuki Tjahaja Purnama nampak emosi usai diserang Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta nomor urut tiga Sandiaga Salahuddin Uno soal keberpihakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) terhadap Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Basuki, atau akrab disapa Ahok, memberikan tanggapan dengan nada tinggi tak lama setelah Sandiaga memaparkan program-programnya. Dia menuduh pasangan yang diusung Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu sedang membangun opini. "Ini terlalu banyak bangun opini," ucap Ahok dalam debat bertajuk "Rosi & Kandidat Pemimpin Jakarta" yang ditayangkan KompasTV dari Ballroom Djakarta Theatre XXI, Kamis (15/12). Ucapan itu keluar saat Sandiaga memaparkan pedagang kecil yang digusur oleh Pemprov DKI Jakarta. Bagi Sandi, PKL selaku UMKM memberikan Pendapatan Daerah Bruto (PDB) paling besar dibandingkan sektor-sektor lainnya. "UKM mestinya dibantu dengan pelatihan malah tidak diberdayakan, bagaimana permodalan diberi, kami punya data Portofolio dari Bank DKI di mana permodalan UKM di bawah 40 persen, padahal 99 persen dari unit usaha kita, PDB kita ada pada UKM," papar Sandi. Ahok lantas menjawab, sengaja tidak memberikan kredit sembarangan kepada UMKM. Sebab, banyak kredit yang dikucurkan justru mengalami kemacetan, sehingga Bank DKI tidak bisa memberikan pembiayaan baru kepada pengusaha kecil lainnya. "Kami sengaja tidak berikan kredit sembarangan, dulu Rp 400 miliar macet, kami beri Rp 1 triliun setahun, kalau tidak displin atur uang, tidak masuk uang ke bank. Dengan cara disiplin membayar Rp 2000, dipercaya uang kecil maka dipercaya uang besar. Ini uang rakyat, kami mengapresiasi keadilan sosial, bukan bantuan sosial," jawab Ahok.
  16. Calon Gubernur DKI Jakarta inkumben, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, bercerita tentang awal mula kedekatannya dengan keluarga angkatnya. Ahok merupakan anak kandung pasangan Indra Tjahaja Purnama dan Buniarti Ningsih. Namun Ahok juga diangkat sebagai anak oleh keluarga muslim asal Bugis bernama Andi Baso Amier dan Hajjah Misribu. Kedekatan Ahok dengan keluarga angkatnya bermula dari persahabatan ayahnya dengan Andi Baso Amier. Menjalin hubungan yang baik membuat keduanya bersumpah untuk menjadi saudara sampai akhir hayat. Ahok dengan keluarga angkatnya tertangkap kamera saat berada dalam ruang tunggu persidangan. Saat itu, Ahok baru saja menjalani sidang perdana atas kasus dugaan penistaan agama. Nana Riwayatie, kakak angkatnya, terlihat merangkul Ahok dari belakang. Sedangkan wajah Ahok tampak sembap. "Bapak saya sama bapaknya (ayah Nana) ngangkat anak, angkat saudara. Lalu dari keluarga (bilang) mesti diteruskan," ujar Ahok di Rumah Lembang, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu, 14 Februari 2016. Bahkan, saat ayah angkatnya meninggal dunia pada 1990, Ahok ikut melayat ke rumah duka. Bahkan Ahok dipaksa memandikan jenazah ayah angkatnya sebelum dikuburkan. "Jadi memang mereka berdua mengikat saudara sampai anak-anaknya dibilang begitu. Maka kami ikutilah," tutur Ahok. Ahok mengaku sangat sedih karena dituduh telah menistakan agama Islam. Dalam nota keberatan yang ia sampaikan kepada majelis hakim, Ahok mengatakan, jika benar ia menistakan agama Islam, sama saja ia telah menistakan orang tua dan saudara angkatnya sendiri. Saat membacakan nota keberatan itu, suara Ahok terbata-bata. Ahok mengaku kala itu teringat mendiang orang tua kandung dan orang tua angkatnya. Kesedihannya memuncak saat ia ingat ayahnya kerap membantu keluarga muslim. Namun ia justru dituduh menistakan agama. "Kok, sedih banget begitu, ya. Orang tua saya dari dulu bantu muslim. Bapak angkat saya juga muslim yang taat. Masak sih saya menghina, menistakan bapak saya sendiri dan ibu saya sendiri. Emosilah kami (Ahok dan Nana) perasaan kayak gitu ," ujar Ahok.
  17. berita_semua

    Ahok Dipeluk Kakak Angkatnya Seusai Sidang

    Terdakwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dipeluk kakak angkatnya, Nana Riwayatie, seusai menjalani sidang perdana dugaan penodaan agama di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Jalan Gajah Mada, Selasa (13/12/2016). Gubernur DKI Jakarta non-aktif, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), menjalani sidang perdana kasus dugaan penodaan agama yang didakwakan kepadanya di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara yang digelar di bekas gedung PN Jakarta Pusat di Jalan Gajah Mada, Selasa (13/12/2016). Seusai sidang, Ahok masuk ke sebuah ruangan di gedung pengadilan itu. Sebuah foto yang diterima Kompas.commenunjukkan suasana di dalam ruangan itu. Foto tersebut memperlihatkan Ahok dengan raut wajah sedih dan kepala agak menunduk dipeluk seorang perempuan berjilbab dari belakang. Perempuan itu tidak lain adalah kakak angkatnya, Nana Riwayatie. Raut wajah Nana juga tak berbeda dengan Ahok yang menunjukkan kesedihan. Ahok tampak memegang tangan kakak angkatnya itu. Pada saat membacakan eksepsi atau nota keberatan, Ahok juga tak kuasa menahan tangis saat bercerita tentang kedekatannya dengan keluarga angkatnya yang Muslim. Dalam nota keberatannya, Ahok mengatakan, dalam kehidupan pribadinya, dia banyak berinteraksi dengan teman-temannya yang beragama Islam. Selain itu, kata Ahok, dia juga memiliki keluarga angkat, yaitu keluaga almarhum Baso Amir, yang merupakan keluarga Muslim yang taat. (Baca: Kenangan Ibu Angkat yang Buat Ahok Menangis di Persidangan) Ahok juga mengatakan bahwa ia belajar dari guru-gurunya yang beragama Islam dari kelas I SD sampai III SMP. "Saya tahu harus menghormati ayat suci Al Quran," kata Ahok di hadapan majelis hakim.
  18. Bukan hanya ratusan umat Islam dari berbagai ormas yang ikut meramaikan sidang penodaan agama oleh Basuki T Purnama alias Ahok. Tapi, massa pendukung Ahok juga turut memadati suasana jalan di depan PN Jakarta Pusat. Pendukung Ahok mendukung proses pengadilan berjalan adil. Ahok menurut mereka, telah meminta maaf kepada publik. ''Kami ada di belakang Ahok,'' ucap salah seorang orator, Selasa (13/12). Tak seperti massa aksi umat Islam, massa pendukung Ahok lebih banyak menyanyikan lagu -lagu kebangsaan. Mereka terus mengangkat isu-isu kebhinekaan. Karena itu, massa menggunakan pakaian putih itu menghadiri orang-orang dari berbagai suku dan agama. Massa pendukung Ahok dan umat Islam dipisahkan oleh tiga mobil Baracuda milik polisi. Hingga saat ini, ratusan massa telah memadati jalan depan PN Jakpus.
  19. Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menangis dalam persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara. Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah berkomentar mengenai hal itu. "Kalau saya jadi Ahok, saya juga nangis," kata Fahri di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (13/12/2016). Menurut Fahri, Ahok mengalami benturan jiwa terkait kasus dugaan penistaan agama. Ia menilai kasus itu menusuk jiwa Ahok yang paling dalam karena yang menyerang Mantan Bupati Belitung Timur itu adalah unsur struktur. "Saya bisa mengerti orang seganas Ahok bisa menangis. Karena soal hati ini kan di dalam. Tapi karena ini ada hubungannya dengan struktur keyakinan jadi orang menangis," kata Fahri. Fahri mengakui tidak mudah menjadi orang yang tegar. Apalagi ada dramatisasi yang luar biasa yang dikhawatirkan terpengaruh tekanan dari luar. "Akting dilakukan orang yang tingkat pengendalian dirinya tinggi. Kalo dia harus akting, tidak sesuai dengan karakter dia selama ini. Saya nonton dan lihat dia menangis, ada yang menggoncang sendi keyakinan dia," kata Fahri. Fahri menuturkan pasal penistaan agama bukan soal hukum, tetapi soal keyakinan. "Beda dengan korupsi atau kasus umum. Apalagi mendatangkan reaksi dari banyak orang tentu mengguncang," kata Fahri. Sebelumnya, Gubernur nonaktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok meneteskan air mata saat membacakan nota keberatan atas dakwaan penistaan agama Jaksa Penuntut di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat, Selasa (13/12/2016). Ahok tak kuasa menahan kesedihan kala menceritakan bagaimana dirinya dibesarkan oleh keluarga muslim asal Bugis, (alm) Andi Baso Amier dan (almh) Masaribu Aba bin Aca. Ahok yang mengenakan batik kuning motif hitam mulanya menceritakan latar belakang dirinya mengutip Surat Al Maidah ayat 51 di Kepulauan Seribu, ucapan yang membuatnya kini duduk di kursi terdakwa kasus penistaan agama. Ia menegaskan, tak ada niat sedikit dirinya untuk menistakan kitab suci umat muslim, Al Quran, apalagi agama Islam. Ucapan itu terlontar karena dirinya kerap mendapat 'serangan' dari oknum politikus yang menggunakan Surat Al Maidah ayat 51 karena tidak ingin bersaing secara sehat dalam pilkada. Ahok pun sadar, bahwa ada tutur bahasa darinya yang tidak sesuai saat itu. "Ada ungkapan, bahwa hanya Allah atau Tuhan yang tahu, apa maksud ucapan seseorang," ucap Ahok.
  20. Bantuan itu memberikan keuntungan politik bagi saingan Ahok.
  21. London School of Public Relations (LSPR) meminta nama Buni Yani yang sudah ditetapkan sebagai tersangka kasus penghasutan terkait SARA tidak lagi dikait-kaitkan dengan kampus mereka. Buni Yani sudah mengundurkan diri sebagai dosen di kampus ini. Pembantu Umum Ketua I LSPR-Jakarta DR Andre Ikhsano menyampaikan, LSPR telah menerima pengajuan surat pengunduran diri Buni Yani tanggal 8 Oktober 2016 lalu. Atas dasar itu, LSPR kemudian memberhentikan Buni Yani. "Tanggal 8 Oktober 2016 LSPR telah menyetujui surat yang diajukan. Berdasarkan surat persetujuan tersebut, bapak Buni Yani telah dinyatakan berhenti dari LSPR-Jakarta," tulis Andre dalam keterangan yang diterima detikcom, Rabu (23/11/2016). LSPR-Jakarta juga telah menyampaikan pernyataan sikap melalui akun resmi media sosialnya 11 Oktober 2016 lalu. Di situ ditegaskan bahwa LSPR sebagai institusi pendidikan bebas dari aktivitas politik praktis. Pernyataan Buni Yani yang kemudian menyeretnya jadi tersangka itu bersifat pribadi, tidak ada kaitannya dengan LSPR. LSPR Jakarta sendiri berharap Pilkada DKI Jakarta 2017 bisa berjalan dengan baik dengan mengedepankan semangat kekeluargaan dan kebersamaan.
  22. Clement

    Buni Yani jadi tersangka!

    Penyidik Subdit Cyber Crime Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya menetapkan Buni Yani sebagai tersangka terkait penyebaran video Gubernur DKI Jakarta (nonaktif) Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Sosok yang berprofesi sebagai dosen ini dinilai memenuhi unsur menyebarkan informasi SARA. "Hasil pemeriksaan, konstruksi hukum pengumpulan alat bukti, malam ini pukul 20.00 WIB dengan bukti permulaan yang cukup saudara BY kita naikan statusnya sebagai tersangka," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Awi Setiyono dalam jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (23/11/2016). Polisi menyebut penetapan Buni sebagai tersangka bukan masalah penyebaran video Ahok saat berdialog dengan warga Kepulauan Seribu. Akan tetapi, postingan di status Facebooknya itu, Buni yang dinilai telah menyebarkan informasi yang dapat menimbulkan kebencian dan permusuhan. Penyidik menjerat Buni dengan Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) juncto Pasal 45 ayat 2 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Pasal pertama dengan ancaman maksimal 6 tahun penjara dan atau denda maksimal Rp 1 miliar. Pasal 28 ayat (2) UU ITE menyatakan setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras dan antargolongan (SARA). "Penyidik memiliki alat bukti yang cukup kuat untuk menetapkan Buni sebagai tersangka dalam kasus tersebut. Di antaranya keterangan saksi dan keterangan saksi ahli," pungkas Awi.
  23. WNI Diaspora di AS untuk kedua kalinya mendukung Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat (Ahok-Djarot) sebagai calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta 2017. Ini adalah acara kedua mereka mendukung Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat (Ahok-Djarot) sebagai calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta 2017. Alasan mereka mengadakan acara ini karena mereka sangat prihatin sekali dengan keadaan di tanah air akhir-akhir ini. Utomo Lukman salah seorang relawan Teman Ahok Los Angeles yang juga anggota PDI Perjuangan mengatakan bahwa "NKRI hidup dengan berlandaskan Pancasila. Mari kita semua bersatu padu. Jangan sampai terpecah belah." Acara yang didahului dengan nyanyian Indonesia Raya dipimpin oleh relawan Ahok, Yanti Walter, ini juga dihadiri oleh beberapa tokoh masyarakat seperti Buce Lie, wakil dispora Los Angeles. Beliau juga mengatakan sangat prihatin sekali dengan keadaan di tanah air dan tidak mengerti apa yang sebenarnya sebenarnya terjadi. “Sangat disayangkan kalau memang itu karena ketidaksukaan pada Ahok karena UU di Indonesia jelas-jelas menyatakan bahwa siapa yang lahir di Indonesia artinya adalah Indonesia,” kata Buce. Pertemuan di Food Court Hongkong Plaza, West Covina ini diselenggarakan Oleh Utomo Lukman, Erwina Hawadi, Jeffrey Sangari, Ina Herkata, Toar Lumingkewas, Eki Gondosaputro, dan Prima Bernardus atas initistif mereka dan permintaan masyarakat Indonesia Los Angeles yangg resah melihat keadaan di tanah air. "Pada prinsipnya kita tidak ingin melihat NKRI terpecah belah" kata Toar. Erwina menambahkan "Kita kan juga jadi gelisah membaca berita dari tanah air yang ujung-ujungnya malah saling berantem, dan adu domba. Hati-hati, ini juga sudah masuk berita dunia lho. Pasti ada yang tepuk tangan melihat kita pada berantem." Pertemuan ini ditutup dengan doa bersama untuk keutuhan NKRI dan dukungan mereka kembali kepada Ahok-Djarot untuk memimpin Jakarta. Pesan masyarakat Indonesia yang hadir pada pertemuan di Los Angeles, California ini adalah agar Ahok tetap tabah, sabar, dan terus bekerja keras untuk kemakmuran ibu kota Jakarta. [www.voaindonesia.com]
  24. Presiden Front Betawi Bersatu (FBB) Amirulloh memberikan dukungan kepada Calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok meskipun yang bersangkutan berstatus sebagai tersangka penodaan agama. Amirulloh menilai kinerja Ahok selama menjadi Gubernur DKI Jakarta sudah baik secara prinsip. Amirulloh mengaku tidak masalah jika dukungannya itu bertentangan dengan masyarakat Betawi yang getol menolak Ahok. Menurut dia, permasalahan dugaan penistaan agama yang menjerat Ahok tidak bisa di sangkut pautkan dengan Pilkada 2017. "Sekarang yang dipertentangkan kan masalah SARA. Masalah Al-Maidah, begini-begini. Tapi itu kan urusan Pilkada, memilih kan hak asasi kita," ujar Amirulloh di Rumah Lembang, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat, 18 November 2016. Amirulloh menjamin kelompoknya bisa menyumbangkan 1 juta suara untuk pasangan Ahok-Djarot. Menurut dia jumlah anggota FBB yang ada di seluruh Indonesia mencapai 3 juta orang, adapun yang ada di Jakarta sebanyak 1 juta. Menurut Amirulloh FBB adalah kelompok yang mempersatukan semua orang dari berbagai suku agama, ras, dan antargolongan. Untuk itu penting menjaga ketertiban agar Jakarta tetap aman, nyaman, kondusif, saling koordinasi, saling menghormati, dan menghargai. Dia berjanji mengawal Ahok selama masa kampanye untuk menghindari penolakan dari berbagai kelompok. "Makanya dengan saya ketemu Pak Ahok ini saya merasa terpanggil. Saya kan Putra Betawi, kenapa calon kandidat kok dihalang-halangi. Kan semua kan udah ada dasar hukumnya," kata Amirulloh. Sebagai Putra Betawi Amirulloh mengaku harus bersikap nasionalis karena kelompoknya berasal dari semua suku, agama, ras, dan golongan yang memiliki KTP DKI Jakarta. "Saya sudah siap dukung Pak Ahok dengan 1 juta suara. Kalo mau dibuktikan silakan," kata dia.
  25. panji_ukbar

    Siapa yang ga ssetuju AHOK dipenjara?

    Pagi ini hari Rabu tanggal 16 November 2016, Ahok ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penistaan agama. Namun belum ada pengadilan di kejaksaan penuntut umum berapa lama bapak Ahok dipenjara. Menurut saya sebagai orang yang objektif, Ahok gak bersalah, siapa yg yakin Ahok gak bersalah? Dan saya tidak mau ahok di penjara
×

Important Information

Kami menggunakan cookie. Mereka tidak menakutkan, tetapi beberapa orang berpikir mereka. Terms of Use & Kebijakan Privasi