Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'TKI'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

  • Ngobas Blog
  • Your World

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 2 results

  1. Setahun lalu, majikan Erwiana Sulistyaningsih Hong Kong dipenjara karena menganiaya pembantu rumah tangganya. Sampai sekarang, situasi PRT migran belum banyak berubah. Setelah kasusnya menjadi perhatian luas tahun 2014, seorang tenaga kerja Indonesia (TKI) Erwiana Sulistyaningsih menjadi aktivis yang mendesak perubahan kondisi kerja bagi lebih 300.000 pekerja rumah tangga migran di Hong Kong. Majikan Erwiana, Law Wan-tung kemudian dijatuhi hukuman penjara enam tahun. Sejak itu, Erwiana menjadi simbol pembelaan hak-hak buruh migran perempuan. Banyak yang berharap, kasus Erwiana bisa membantu kondisi pekerja rumah tangga migran. Hari Minggu (27/03) film dokumenter "Erwiana: Justice for All" (Erwiana: Keadilan Bagi Semua) diluncurkan di Hongkong. Film itu bercerita tentang situasi para pekerja rumah tangga migran di Hongkong. Erwiana dan banyak TKI lain juga hadir dalam pemutaran perdana film itu, yang mengisahkan tentang berbagai kesulitan yang mereka hadapi. "Ada cerita tentang pelecehan, kecurangan dan eksploitasi oleh agen perekrutan, banyak sekali kasus, dan tidak hanya menyangkut perempuan," kata Erwiana dalam perbincangan dengan kantor berita AFP. "Kami belum melihat banyak perubahan. Masih banyak kasus migran, yang tidak pernah mendapatkan keadilan." Sebagian besar PRT migran di Hong Kong berasal dari Indonesia dan Filipina. Erwiana dan kawan-kawan aktivisnya mengatakan, baik negara asal pekerja maupun negara penerima harus menekan agen perekrutan swasta, yang sering memasang biaya sangat tinggi bagi para migran, sehingga mereka terjerumus dalam lilitan utang, bahkan sebelum mulai bekerja. Sampai sekarang, paspor para pekerja migran masih sering disimpan oleh agen atau majikan, untuk mencegah para pekerja melapor atau melarikan diri. Salah satu tuntutan utama para aktivis adalah penghapusan aturan kewajiban "hidup dalam" bagi PRT di Hong Kong. Aturan itu memaksa mereka untuk tinggal bersama majikan mereka. Sehingga hampir mustahil mereka bisa melapor atau pindah kerja, jika mendapat perlakuan kasar dari majikannya. Erwiana Sulistyaningsih disambut para simpatisannya ketika tiba di pengadilan Hongkong, 27 Februari 2015 Para aktivis dan organisasi solidaritas sudah berulang kali menuntut perubahan aturan itu, bahkan sebelum kasus Erwiana. Tapi tuntutan mereka tidak didengar otoritas Hongkong. Awal bulan ini, kelompok Justice Centre merilis laporan tentang situasi pekerja migran Hongkong. Menurut laporan itu, satu dari enam pekerja rumah tangga migran, atau sekitar 50.000 orang, berada dalam kondisi "kerja paksa". Sebuah laporan Komite Komite Anti Penyiksaan PBB dari Desember 2015 mendesak pemerintah Hong Kong untuk mereformasi undang-undangnya, untuk melindungi korban kerja paksa dan perdagangan manusia. Law Wan-tung, majikan Erwiana dijatuhi hukuman penjara 6 tahun oleh pengadilan Hongkong, Februari 2015 "Saya sedih. Teringat pengalaman saya. Dan berbagai aksus serupa terus terjadi dan terjadi lagi," kata Erwiana. Film dokumenter "Erwiana: Keadilan Bagi Semua" yang dirilis di Hongkong itu menceritakan kisah-kisah perempuan, yang meninggalkan negara asal mereka, karena terdorong kemiskinan dan untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi keluarga dan anak-anak mereka. Film dokumenter itu dibuat sebagian besar di Hongkong oleh pembuat film asal Amerika Serikat, Gabriel Ordaz. Tadinya film itu hanya akan ditunjukkan di lingkungan universitas-universitas Hongkong. Tapi sekarang Gabriel Ordaz mengatakan, dia akan membawa film itu ikut dalam festival internasional, agar pesan yang dibawa film itu bisa dikenal luas.
  2. Setelah kasus nelayan Papua yang terdampar beberapa waktu lalu di Papua Nugini disuruh berenang kembali ke Tanah Air oleh tentara Papua Nugini, setelah perahunya dibakar (klik beritanya di sini ), ini ada lagi kisah menyedihkan. Seorang tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Binjai, Sumatera Utara, bernama Anita Purnama Boru Huahuruk yang meninggal di Malaysia, jenazahnya dibuang ke laut. Sontak, kekejian itu mengundang reaksi keras dari anggota Komisi IX DPR, Rieke Diah Pitaloka. Ia pun mengeluarkan pernyataan sikap kepada pemerintah di bawah pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar melakukan penyelidikan atas penyebab kematian TKI tersebut. "Jika memang Anita terbukti meninggal karena dianiyaya, pemerintah SBY harus meminta keterangan dan meminta pemerintah Malaysia memproses siapa pun yang telah melakukan kekejaman terhadap Anita sehingga meninggal," kata Rieke SBY, lanjut Rieke, harus memastikan juga hak-hak ketenagakerjaan Anita, apakah benar diberikan oleh sang majikan. "Hak ketenagakerjaan yang diberikan tidak boleh sebagai alasan untuk tidak diusutnya kasus ini secara pidana," ujarnya. Hingga saat ini, menurut keluarga korban, pemerintah belum ada yang menghubungi pihak keluarga. Menurut mereka, Anita berusia 35 tahun dan berangkat ke Malaysia pada Agustus 2013 melalui jasa seorang perempuan yang akrab disapa Ibu Umi. Di Malaysia, Anita sempat bekerja di restoran selama dua bulan, setelah itu pindah kerja, karena tidak tahan dengan majikannya. Anita terakhir berkomunikasi dengan keluarga pada 30 Januari 2014 lewat pesan pendek (SMS). Isinya, Anita mengaku sudah capek bekerja dan ingin kembali ke kampung halamannya. Anita juga sempat mengirimkan dua kali gajinya, sebanyak Rp 5 juta, kepada pihak keluarga. Jenazah Anita yang ditaruh dalam sebuah peti diketemukan oleh nelayan. Kepolisian Binjai lalu menginformasikan kepada keluarga Anita. Menurut polisi, jenazah Anita diperkirakan sudah empat hari di laut. Sebelum dimalamkan pada Sabtu (8/1), pihak keluarga sempat membuka isi peti jenazah. Menurut Anna, salah satu seorang saudara Anita, salah satu mata almarhum sudah tidak ada, di bagian leher juga ada bekas hitam seperti dicekik. Jenazah Anita juga tidak mengenakan pakaian lengkap dan sebagian besar badannya sudah rusak dan membusuk. Didalam peti juga ditemukan paspor, uang sebesar 1 ringgit Malaysia, cincin, dan kalung emas milik Anita. "Saya mohon kepada media dan masyarakat pemerhati masalah TKI untuk terus mengawal kasus ini sehingga kebenaran benar-benar menjadi hak dari TKI," kata Rieke.
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy