Jump to content
  • Kemerdekaan indonesia 74
  • Kemerdekaan indonesia 74
  • Kemerdekaan indonesia 74

Search the Community

Showing results for tags 'Sekolah Dasar'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

There are no results to display.

There are no results to display.

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 3 results

  1. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB. Saatnya Alvin beranjak dari tempatnya menimba ilmu di SDN Kebon Kacang 02 Petang, Tanah Abang, Jakarta Pusat menuju rumahnya. Sekolah Alvin terletak di jantung Ibu Kota, tepatnya di belakang pusat perbelanjaan Thamrin City. Akan tetapi, perjalanan Alvin untuk bisa bertemu orang tua dan saudaranya tak semudah yang dibayangkan. Bocah berusia 8 tahun itu saban harinya harus menempuh jarak sejauh 50 kilometer sebelum sampai ke rumah. Alvin tak mengeluh, kondisi seperti ini sudah ia lakoni sejak 6 bulan yang lalu saat kedua orang tuanya pindah ke Parung Panjang, Bogor. Dua kaki kecilnya dengan lincah berjalan menyusuri trotoar yang dipadati kendaraan. Mengenakan tas ransel berwarna merah, topi merah putih berlambang garuda dan seragam putih Alvin tampak bersemangat. Ia berhenti di depan SPBU Kebon Kacang dan menunggu angkutan umum yang biasa mengantarnya ke Stasiun Karet.Sesak udara di angkutan biru tak membuatnya menyerah. Sesampainya di Stasiun Karet, siswa kelas dua itu bergegas menuju loket untuk membeli tiket ke stasiun Parung Panjang seharga Rp 6.000. Memasuki stasiun, Alvin menunggu di tempat yang paling ujung agar dekat dengan gerbong wanita. "Biasanya duduk di gerbong wanita," ujar Alvin saat ditemui pada Senin (9/4). Baru 10 menit ia duduk di kursi KRL, anak ketiga dari lima bersaudara itu sudah harus bersiap di pintu gerbong untuk transit di stasiun Tanah Abang dan pindah ke gerbong lain tujuan Parung Panjang. Suasana stasiun Tanah Abang memang selalu ramai dan padat oleh pengunjung, terlebih di jam-jam pulang kantor. Duh, tak terbayang anak sekecil itu harus berdesakan bersama orang dewasa lainnya. Belum lagi, ia harus gerak cepat untuk mendapatkan tempat duduk, bila tak ingin berdiri selama 1,5 jam hingga sampai ke tujuan akhir, stasiun Parung Panjang. Selama di dalam gerbong, Alvin lebih banyak diam dan menikmati pemandang melalui kaca bening yang ada di gerbong KRL. Sesekali ia berjalan menyusuri gerbong, tak jarang beberapa orang yang ditemuinya bertanya-tanya. "Kamu naik KRL yang ngajarin siapa?" tanya seorang perempuan berambut panjang di sebelahnya. "Aku sendiri," jawab Alvin. "Ya Allah, anak gue seumuran dia ini, enggak tega lihatnya," sahut perempuan berkacamata yang duduk di depan Alvin. Setelah menempuh waktu 1,5 jam menggunakan KRL, akhirnya kereta mengantarkan Alvin di pemberhentian terakhir yakni stasiun Parung Panjang. "Habis dari stasiun, biasanya jalan kaki kalau enggak ada ongkos. Tapi kalau punya ongkos naik mobil (omprengan)," kata Alvin Langit semakin gelap, Alvin berlari kecil mengejar kendaraan roda empat berwarna hitam alias omprengan yang sedari tadi terparkir di seberang stasiun. Si sopir menjalankan omprengannya dengan hati-hati, karena jalan yang dilalui belum beraspal, berlubang, dan digenangi air. Jarak dari stasiun Parung Panjang menuju rumah Alvin masih sekitar 7 km atau 20 menit dengan mengendarai omprengan. Itu pun bila uang saku Alvin masih tersisa, berbeda saat uang jajannya habis di perjalanan. Alvin akan berjalan dari stasiun Parung Panjang menuju rumahnya. "Turun di mana dek?" tanya si sopir kepada Alvin. "Di minimarket Ceria," sahut Alvin. Rumah Alvin berada di paling ujung berdampingan dengan kebun yang terlihat tak terawat. Bangunan sederhana namun hangat. Di rumah itu, Alvin tinggal bersama ayah, ibu, tiga saudaranya, dan keluarga tantenya. Sesampainya di rumah, Alvin lantas melepas sepatu dan berganti baju. Lalu bermain dengan saudara-saudaranya, bertemu ibu dan teman-teman lainnya. "Saya bangga sama Alvin, saya merasa sedih apalagi kalau lihat Alvin tidur. Saya sedih banget lihat dia kecapekan," ujar Lasmawati, ibunda Alvin. Sebelum tertidur, ibu bertanya,"Ada PR enggak? Kalau ada dikerjain dulu," kata ibu. Alvin menggeleng, ia sibuk bercengkerama dengan adik bungsunya yang masih berusia 7 bulan. Ayah Alvin jarang pulang karena mencari nafkah untuk keluarga. "Kerjanya serabutan, kadang empat hari baru pulang bawa Rp70 ribu. Yah dicukup-cukupin aja," ujar wanita berusia 38 tahun itu. Saat azan magrib berkumandang, Alvin pulang ke rumah lalu beristirahat. Jarak 50 kilometer yang ia tempuh tentu membuat raganya lelah. Sumber: https://id.crowdvoice.com/posts/alvin-tempuh-jarak-50-km-dari-sekolah-ke-rumah-2KtG
  2. Tim Penyidik Perempuan dan Perlidungan Anak (PPA) Polres Metro Jakarta Selatan tengah melakukan pendalaman peristiwa terbunuhnya NA (8), siswa kelas 2 SD Negeri 07 Pagi Kebayoran Lama, usai bertengkar dengan R (8) saat lomba menggambar di sekolah, kemarin. Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Pol Wahyu Hadiningrat mengatakan tim penyidik PPA telah melakukan rapat koordinasi dengan perwakilan anak, pihak Kementerian Sosial, Kementerian Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA), ahli psikologi, TP2A, ahli pidana dan pihak sekolah. Menurut Wahyu, alasan R memukul NA diawali saling ejek. Siapa yang memulai ejekan tersebut masih dalam proses pemeriksaan. Ketika terjadinya kejadian tersebut, menurutnya, diawasi guru karena kejadiannya terjadi di sekolah. "Berapa kali NA dipukul, saat ini semuanya masih pemeriksaan. R sudah diperiksa dan didampingi oleh orangtua. Dia akan dikembalikan ke orangtua karena sedang menderita sakit cacar," jelas Wahyu kepada wartawan di Mapolres Metro Jakarta Selatan, Sabtu (19/9/2015). Menurut Wahyu, jenazah NA sedang dilakukan autopsi (pemeriksaan dalam) dan hasilnya akan keluar minggu depan. Namun untuk hasil visum dari korban seperti memar di kepala bagian belakang sudah diketahui. Saat ini penyidik PPA, menurut Wahyu, akan memeriksa kondisi psikis dari R melalui pemeriksaan psikologis forensik untuk pendalaman kasus ini. Untuk kasus ini pihak kepolisian akan merujuk kepada dua undang-undang (UU) yakni UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan UU Nomor 11 tahun 2011 tentang Sistem Peradilan Anak. "Semua yang kita lakukan prosedural berdasarkan UU. Sebelumnya kita lakukan pemeriksaan seperti biasa baru masuk ke sistem peradilan anak," pungkasnya.
  3. Anak SD Jaman Sekarang Ketagihan Seks Sungguh miris dan menggenaskan seorang siswi Sekolah dasar yang masih kecil dan layaknya belum mengetahui apa itu hubungan intim, kini malah ketagihan seks dan mengalami positif hamil. Seorang siswi sekolah dasar (SD) di Surabaya Timur mengaku kerap dicabuli pacar ibunya. Kini anak yang masih ingusan itu hamil lima bulan, dan dia dinyatakan mengalami ketagihan seks atau sex addict. Siswi SD tersebut tinggal berdua bersama ibunya yang telah lama bercerai dengan suaminya di sebuah rumah di Surabaya timur. Ibu siswi SD itu memiliki kedekatan khusus dengan seorang pria yang sering bermain ke rumahnya. “Dia (siswi SD) juga sering melihat ibunya dengan pria itu berhubungan intim,” kata Isa Anshori, ketua Divisi Data dan Riset, Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jatim. Kini, siswi yang duduk di kelas 6 SD itu ditangani jejaring lembaga swadaya masyarakat pemerhati anak Surabaya. Korban ditempatkan di shelter khusus. ”Dia mendapatkan program pemulihan psikis, serta untuk menghilangkan ketagihan seksnya,” jelasnya. Sebelumnya, LPA Jatim juga menemukan siswi SD yang hamil lima bulan. Selain dicabuli ayahnya sendiri, siswi SD berusia 15 tahun itu mengaku juga dicabuli guru agamanya di sekolah. Kasus yang menimpa siswi SD di Surabaya utara itu kini sudah ditangani Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Ayah maupun guru agamanya sudah diamankan. Maka dari itu perlunya perhatian lebih dan penuh akan anak anda, tidak peduli jenjang pendidikan anak anda, tapi anak tetaplah anak, besar atau kecil, dewasa atau muda. Jagalah anak anda sebaik mungkin jangan sampai merusak akhlaknya dengan seks dan hawa nafsu untuk keperluan pribadi. Memang jaman sekarang marak sekali kasus seperti ini pencabulan, pemerkosaan dan lain-lain. Maka dari itu berhati-hatilah dan rawat anak anda dengan sepenuh hati.
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy