Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'Pendidikan'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

There are no results to display.

There are no results to display.

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 19 results

  1. Pengumuman Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) akan dilakukan mulai hari ini pada pukul 17.00 WIB melalui laman http://pengumuman.snmptn.ac.id/. "Kami mohon bagi peserta yang lulus seleksi untuk mencermati dan mentaati pengumuman resmi yang dikeluarkan oleh masing-masing PTN, terutama dengan ketentuan persyaratan penerimaan juga jadwal dan tempat jadwal ulang (registrasi) 2018," kata Sekretaris Panitia SNMPTN 2018 Joni Hermana, di Jakarta pada Selasa, 17 April 2018. Selain itu, registrasi calon mahasiswa yang lulus seleksi PTN dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan ujian tulis Seleksi Bersama Masuk PTN (SBMPTN). Registrasi atau pendaftaran ulang di PTN masing-masing dijadwalkan pada 8 Mei 2018. Di hari yang sama, ujian SBMPTN dilakukan. Tujuannya, kata Joni, agar siswa yang lulus SNMPTN tidak lagi mengikuti SBMPTN sehingga bisa memberi kesempatan bagi siswa lain untuk diterima di PTN. SNMPTN merupakan jalur masuk perguruan tinggi negeri (PTN) melalui jalur nilai rapor. Sedangkan SBMPTN dilakukan dengan sistem ujian. Joni menginformasikan bagi siswa yang ingin melihat hasil SNMPTN bisa masuk melalui laman pengumuman.snmptn.ac.id Masukkan nomor pendaftaran pada kolom yang telah disediakan. Selanjutnya masukkan tanggal lahir. Baru kemudian klik tombol lihat hasil seleksi," ujarnya. Selain itu, pengumuman bisa diakses melalui laman resmi PTN seperti http://snmptn.itb.ac.id, http://snmptn.ui.ac.id, http://snmptn.ugm.ac.id, http://snmptn.ipb.ac.id, http://snmptn.its.ac.id, http://snmptn.unair.ac.id, ttp://snmptn.undip.ac.id, http://snmptn.unsri.ac.id, http://snmptn.untan.ac.id, http://snmptn.unhas.ac.id, http://snmptn.unand.ac.id, dan http://snmptn.unsyiah.ac.id. Sumber: https://id.crowdvoice.com/posts/hasil-snmptn-2018-akan-diumumkan-mulai-sore-ini-2KtZ
  2. Menanamkan pelajaran pada anak agar sifat dan sikap mereka terbentuk secara sempurna ternyata bukan tugas mudah. Orangtua harus tahu bagaimana cara mendidik anak yang baik serta benar. Termasuk di antaranya adalah apa saja nilai-nilai yang harus ditanamkan pada anak agar terus terbawa hingga dewasa. Berikut adalah beberapa cara yang bisa diterapkan. Pertama, ajarkan kemandirian serta tanggung jawab sejak dini. Orangtua umumnya akan memiliki rasa khawatir yang berlebihan terhadap anaknya. Jangan lagi merasa khawatir berlebihan dan bersikap over protektif. Ajari anak untuk mengetahui benda apa saja yang menjadi miliknya serta merapikannya kembali setelah bermain. Ajarkan anak juga untuk mempersiapkan barang-barang kebutuhan sebelum berangkat sekolah. Orangtua juga dapat memberi uang saku serta mengajari anak untuk menabung. Kedua, ajarkan pada anak juga agar memiliki rasa ingin tahu. Jawab setiap pertanyaan anak mengenai benda yang baru dilihat di sekitarnya. Hindari memberikan jawaban tidak tahu dan apabila anak tidak suka bertanya, berikan umpan terkait benda-benda atau makhluk hidup yang ada di sekitarnya. Cara mendidik anak yang baik selanjutnya adalah dengan menumbuhkan kemampuan anak dalam memberi pendapat. Jangan acuh terhadap pendapat anak karena akan membuat anak menjadi minder serta tidak berani dalam menyampaikan pendapatnya. Berikan respon saat anak memberi pendapat dan berikan juga pujian positif. Keempat, ajarkan anak agar memiliki rasa sosial serta empati pada orang lain atau kejadian di sekitarnya. Di antaranya, orangtua dapat mengajari anak untuk memberi kepada mereka yang membutuhkan dan berikan penjelasan terkait tindakan tersebut. Terakhir, berilah contoh yang baik pada anak. Orangtua tidak hanya memberi arahan namun juga contoh nyata agar anak dapat meniru perbuatan baik yang dilakukan orangtua. Demikian adalah beberapa cara mendidik anak yang baik. Untuk semakin meningkatkan pengetahuan orangtua terkait bagaimana mendidik anak, kini tersedia program Wyeth Parenting Club yang diadakan oleh Wyeth. Wyeth sendiri merupakan perusahaan yang memproduksi susu khusus anak-anak serta produk kesehatan lainnya.
  3. Tema “Jangan Tutup Sekolah Kami” yang diangkat dari kasus yang terjadi di Moro-Moro, Wilayah Register 45, Kabupaten Mesiji, Lampung. Tema ini sepertinya harus lebih menjadi perhatian masyarakat di tengah ramainya pemberitaan politik tanah air. Karena diundang untuk ikut dalam Hangout dalam topik ini, saya pun mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai kasus tersebut hingga akhirnya menemukan sebuah film dokumenter yang diunggah di Youtube. Setelah menyaksikan video lengkap, saya mendapat sedikit gambaran bagaimana kondisi siswa dan guru yang ada disana, serta menjadi tahu apa yang menjadi penyebab, hingga 400 siswa terancam harus kehilangan kesempatan mendapatkan hak belajarnya. Dari gambaran yang saya dapatkan tersebut, muncul pertanyaan dalam hati, tidak adakah koordinasi antara lembaga yang berwenang di Indonesia sehingga harus mengorbankan masa depan anak-anak yang merupakan generasi penerus bangsa? Dari semua referensi yang saya baca dan saya saksikan, berikut informasi yang saya dapatkan sehingga pembaca dapat memiliki gambaran bagaimana kondisi disana. Sekolah yang dibangun atas dasar swadaya masyarakat ini memang berada di Wilayah Register 45, yang merupakan lahan sengketa dan berada dalam kewenangan Kementerian Kehutanan. Alasan tidak dikeluarkannya izin kelas jauh untuk sekolah yang ada disana, karena Pemkab tidak ingin melanggar Undang-Undang No.18 tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan. Awal berdiri pada tahun 2000, kelas jauh ini menginduk pada SDN 04 Indraloka II, Kecamatan Way Kenanga, Kabupaten Tulang Bawang yang jaraknya 12 KM dari dusun Morodewe (salah satu dusun di Moro-moro) agar mendapatkan legalisasi dari pemerintah. Situasi berubah setelah terjadi pemekaran wilayah pada tahun 2008, yaitu pemecahan Daerah Otonomi Baru (DOB) Kabupaten Tulang Bawang Barat dan Kabupaten Mesuji dari Kabupaten Induk Tulang Bawang, karena secara administrasi, letak wilayah kelas jauh di Moro-moro menjadi terpisah dengan sekolah induknya, sehingga sekolah di Moro-moro harus menginduk pada sekolah yang ada di Kabupaten Mesuji. Dari cerita yang disampaikan di kronologis penutupan sekolah di Morodewe, tergambar susahnya mencari sekolah induk baru untuk sekolah tersebut, hingga akhirnya mereka menemukan SD 2 Boku Poso namun dengan ketentuan kegiatan belajar harus dilaksanakan di Sekolah Induk tersebut, dengan alasan bahwa pelayanan pendidikan kelas jauh sudah tidak diperbolehkan oleh pemerintah. Menurut keterangan Narasumber, penggerak gerakan #savemoro-moro kemarin, jarak dari Moro-moro ke sekolah induk sekitar 10 kilometer, pulang pergi berarti 20 kilometer, artinya harus ada kendaraan yang mengantar mereka untuk pulang pergi sekolah. Dari cerita yang saya rangkum diatas, ada beberapa poin yang ingin saya soroti : Saling Lempar Tanggung Jawab karena alasan kewenangan Masalah pendidikan ini tentu berada dibawah tanggungjawab Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Lampung, namun karena Dinas Pendidikan ini berpegang pada peraturan bahwa kewenangan untuk pemberian rekomendasi izin pendirian sekolah ada di Pemerintah Daerah, maka seolah menyerahkan solusi penyelesaian masalah ini pada pihak Pemkab (Pemerintah Kabupaten) Dilain pihak, Pemkab yang memegang kewenangan untuk pemberian rekomendasi pendirian sekolah merasa tidak dapat mengeluarkan izin karena sekolah-sekolah tersebut berada di wilayah kewenangan kementrian kehutanan. Keputusan ini bisa dimaklumi karena pihak Pemkab mungkin takut bila kebijakannya akan melanggar Undang Undang yang dapat menimbulkan sanksi, tetapi seharusnya dilakukan koordinasi dengan Dinas Kehutanan dan diberikan solusi yang berpihak pada pendidikan anak-anak. Rendahnya Inisiatif Penyelesaian Masalah Bila kelas jauh sudah tidak diperbolehkan oleh pemerintah, maka seharusnya dinas pendidikan beinisiatif mengajak Pemkab dan Dinas Kehutanan untuk berdiskusi mencarikan solusi yang lebih baik dibandingkan dengan memutuskan agar siswa di Moro-moro mengikuti kegiatan belajar di sekolah induk yang jaraknya sangat jauh. Dengan jarak tempuh yang jauh berarti harus ada tambahan biaya yang dikeluarkan untuk ongkos pulang pergi, belum lagi waktu dan energi yang harus terbuang lebih banyak dan tentu bisa berakibat pada kemunduran prestasi siswa. Karena UUD 1945 pasal 31, sudah memberikan jaminan kepada semua warga negara untuk mendapatkan pendidikan, maka seharusnya kasus seperti ini tidak terjadi, karena hal ini berarti pemerintah tidak melaksanakan kewajiban untuk memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anak di Moro-moro. Kasus yang terjadi di Moro-moro mungkin hanya satu kasus yang terangkat ke media, dan mungkin masih ada kasus-kasus serupa di pelosok tanah air. Belajar dari kasus ini, sangat diharapkan pihak dinas pendidikan lebih berinisiatif untuk berkoordinasi dengan lembaga-lembaga terkait bila menemukan kasus-kasus serupa, dan mencarikan solusi terbaik yang tidak memberatkan siswa. Semoga masalah pendidikan anak-anak di Moro-moro dapat diselesaikan dengan solusi yang tidak memberatkan siswa sehingga anak-anak bisa kembali ceria dan bersemangat belajar dan menjadi generasi penurus bangsa yang berkualitas.
  4. Apabila seseorang menyebutkan tentang pendidikan anak usia dini dalam Islam, mungkin pemikiran kita akan tertuju pada sebuah pendidikan yang keras. Namun, sangat jauh berbeda karena pendidikan dalam Islam merupakan pendidikan yang sangat pas sesuai dengan porsi dan aturannya. Lalu, apa saja yang terdapat dalam hal tersbut? Pendidikan anak usia dini dalam Islam meliputi banyak hal. Beberapa hal tentang pendidikan anak dalam Islam ini meliputi beberapa hal. Hal-hal dibawah ini tentunya tercantum dalam Quran Surat At-Tahrim ayat 6. Lalu apa saja bentuk pendidikannya? Pendidikan pertama, merupakan pendidikan dalam beribadah. Begitulah yang dimaksud dengan pendidikan anak usia dini dalam Islam. Memang tidak mudah, namun semuanya juga tidak sulit karena Islam sudah memberikan porsinya dengan pas dan teratur. Apabila anda seorang yang sibuk, tidak perlu khawatir karena ini pengetahuan cara mendidik anak dengan baik dan benar kini sudah terangkum pada Wyeth Parenting Club. Wyeth Parenting Club ini kita dapat mengetahui tips dan trick mengenai pendidikan anak usia dini. Dalam klub ini, juga terdapat berbagai fitur dalam sebuah web yang memudahkan kita dalam pengasuhan anak. Selain itu, kita tidak perlu repot-repot menuju lokasi parenting club ini, karena parenting club ini bisa kita dapatkan melalui smartphone kita. Cukup sekali klik dan semuanya akan terlihat. Selamat mencoba cara mendidik buah hati melalui cara baru yang lebih modern pada link berikut : https://www.parentingclub.co.id/smart-stories/alasan-si-kecil-perlu-mendapatkan-pendidikan-anak-usia-dini
  5. Anak-anak kita berlari terus menerus dibawah ancaman cambuk bernama waktu. Setiap keterlambatan akan disambut kekhawatiran, pemberian label dan perlakuan yang tidak mengenakan. Pendidikan dianggap sebagai proses menyiapkan anak-anak untuk menghadapi kehidupan. Persepsi orang dewasa mengenai kehidupan sebagai sebuah kompetisi menjadi acuan utama dalam merancang pendidikan, pendidikan yang berdaya saing global. Logika kompetisi ini yang kemudian melahirkan sirkuit balap pendidikan. Pendidikan Ibarat Sirkuit Balap Indikator utama sirkuit balap adalah kecepatan. Siapa yang paling cepat mencapai garis akhir akan menjadi juara. Sorak sorai, ucapan selamat dan hadiah menjadi milik sang juara. Sementara, mereka yang tertinggal diabaikan, dicemooh atau bahkan dikeluarkan pada musim balap selanjutnya. Semakin bergengsi sebuah lomba balap, semakin besar dana yang harus disediakan untuk mengikutinya. Semakin sengit pula suasana persaingan antar pembalap dan tim. Suasana di lapangan semakin panas, berbagai cara dilakukan agar bisa menang. Bukan hanya pembalap, pabrikan pun ikut berlomba. Mereka siap mengeluarkan dana besar untuk menyiapkan mobil balap yang paling canggih. Mereka mencari calon pembalap yang paling berpotensi menjadi juara. Dalam sirkuit balap pendidikan, sekolah menjadi pabrikan dan siswa menjadi pembalap. Sekolah negeri yang berkewajiban mendidik semua anak berubah menjadi selektif. Mereka lebih suka menerima murid yang kemampuan akademisnya menonjol, yang memudahkan sekolah mencapai target. Anak-anak yang lemah kemampuan akademisnya dipaksa menyingkir ke “sekolah biasa”. Anak-anak dituntut belajar semakin dini. Menjamurlah les yang menjanjikan anak mampu calistung (baca, tulis, berhitung) secara kilat. Taman kanak-kanak menyiapkan kurikulum tambahan agar anak belajar calistung. Seleksi masuk SD tidak mensyaratkan calistung, tapi orangtua tahu anaknya harus bisa calistung untuk mengerjakan Ujian Tengah Semester hanya 3 bulan setelah duduk di kelas 1. Bila anak di sekolah terlihat kurang mampu mengikuti pelajaran, sekolah menambah les khusus. Semua harus lulus ujian nasional demi nama baik sekolah. Orangtua pun tidak mau kalah, anak-anak dikirim ke bimbingan belajar, apalagi bila anaknya lemah di suatu pelajaran. Kurikulum 2013 semakin menambah beban anak dengan waktu belajar yang 36 jam. Apa artinya? Ditambah 4 jam lagi maka anak-anak Sekolah Dasar menanggung beban setara dengan jam kerja orang dewasa. Anak-anak belajar banyak hal sehingga kehabisan waktu untuk belajar mengenai dirinya sendiri. Pada titik ekstrim, ada orangtua yang berkonsultasi menanyakan potensi anak dan arah studi anaknya yang baru berusia 3 bulan. Logika semakin cepat semakin baik menjadi acuan orangtua karena menyaksikan sistem pendidikan yang seperti sirkuit balap. Anak-anak terus menerus dituntut berlari mengejar target agar menjadi juara di sirkuit balap. Pendidikan sebagai Taman Ki Hadjar Dewantara telah mengkritik kecenderungan untuk mengajar calistung pada anak sebelumnya masanya. Pendidikan bukanlan sirkuit balap, tapi sebuah taman. Setidaknya ada 3 ciri pendidikan sebagai taman yaitu pertama, kemerdekaan. Kita datang ke taman karena kesukarelaan, bukan paksaan dari pihak lain. Pendidikan bukanlan menuntut anak, tapi menumbuhkan kesukarelaan anak untuk belajar. Bukan terpaksa belajar, tapi gemar belajar. Kedua, ketertiban. Meski kita merdeka datang ke taman, tapi bukan berarti bebas sesuka hati. Pendidikan mendidik anak-anak untuk berlaku tertib. Bukan tertib yang paksakan, tapi tertib yang tumbuh dari kesadaran untuk menjaga kegembiraan bersama. Ketiga, kebahagiaan. Orang datang ke taman bukan bertujuan untuk mendapatkan piala atau jadi juara, tapi datang untuk bersenang hati. Pendidikan bukan untuk mencetak manusia juara, tapi manusia bahagia. Kebahagiaan dapat dicapai bila anak bisa mengaktualisasikan potensi dirinya. Setiap anak mempunyai kodratnya sendiri. Pendidik tidak bisa memaksa atau mendikte, tapi hanya bisa menuntut tumbuhnya kodrat tersebut. Selanjutnya, pencapaian kebahagiaan tercapai ketika anak bisa menggunakan potensi dirinya untuk memberi manfaat pada orang lain. Gagasan Ki Hajar Dewantara ini kembali di tegaskan oleh Menteri Anies Baswedan. “Ki Hajar Dewantara menyebutkan bahwa pendidikan sebagai taman, yakni tempat yang menyenangkan, tempat anak-anak datang dengan senang hati, dan pulang dengan berat hati,” ujarnya di Kompas. Mewujudkan Taman Pendidikan Upaya mengubah pendidikan dari sebagai sirkuit balap menjadi sebuah taman harus didukung oleh semua pihak. Kementrian pendidikan dan kebudayaan harus mengubah indikator keberhasilan pendidikan. Keberhasilan pendidikan jangan lagi diukur dari kecepatan lulus, tapi dari kebahagiaan yang dirasakan dan manfaat yang diberikan peserta didik. Perubahan indikator akan mengubah proses, mekanisme dan budaya yang berkembang dalam lingkungan pendidikan. Guru harus lebih sering berinteraksi dengan murid untuk mendengarkan aspirasi dan memahami peserta didik. Bantu peserta didik mengenali dan mengoptimalkan potensinya. Anak bukan kertas kosong yang dipaksa belajar, tapi subyek pembelajaran yang butuh penguatan dari guru. Orangtua perlu belajar mengenai tumbuh kembang anak. Berhenti mengenakan standar pada anak. Hargai keunikan anak termasuk menghargai potensi dan kecepatan belajar anak. Bersikaplah menjadi pendukung, bukan penuntut terhadap anak. Jadikan kebahagiaan sebagai acuan dalam mendidik anak.
  6. Dewasa ini kita mengenal satu dunia yang disebut dunia maya sebagai hasil rekayasa imajinasi manusia. Dunia maya ini memiliki karakteristik yang menembus batas-batas kenormalan yang ada di dunia nyata. Berdasarkan ide kreatif dan pola pikir maka terciptalah sebuah dunia virtual yang seharusnya tidak ada menjadi ada. Berbagai contohnya adalah dunia film animasi, dunia game, dan dunia internet. Lalu bagaimana hubungannya dengan augmented reality (AR)? Augmented reality adalah penggabungan dua dunia, yaitu dunia nyata dan dunia maya. Tetapi di sini kita lebih berfokus pada penambahan objek dunia maya pada dunia nyata. Augmented reality (AR), sesuai namanya, adalah teknologi yang mampu menyuguhkan informasi dan gambaran tambahan secara virtual (virtual computer-generated imagery) mengenai suatu obyek fisik di dunia nyata ketika obyek tersebut dapat dikenali melalui metode computer vision dan object recognition, dan dianalisis oleh komputer menggunakan perangkat lunak aplikasi AR. Komponen perangkat keras (hardware) utama untuk melayani penerapan augmented reality meliputi display, tracking, peralatan masukan data (input devices), dan CPU. Dalam bidang medis, AR digunakan dalam hal yang cukup penting. Contoh penggunaannya adalah pada pemeriksaan sebelum operasi, seperti CT Scan atau MRI, yang memberikan gambaran kepada ahli bedah mengenai anatomi internal pasien. Dari gambar-gambar ini kemudian pembedahan direncanakan. Realitas tertambah dapat diaplikasikan sehingga tim bedah dapat melihat data CT Scan atau MRI pada pasien saat pembedahan berlangsung. Penggunaan lain adalah untuk pencitraan ultrasonik, di mana teknisi ultrasonik dapat mengamati pencitraan fetus yang terletak di abdomen wanita yang hamil. Ar juga sedang marak digunakan dalam bidang advertising. Salah satu contoh produk yang menggunakan Augmented Reality di Indonesia adalah Sosro Heritage, di mana pada kemasan teh tersebut kita dapat melihat keindahan alam Indonesia dalam bentuk digital, misalkan kemasan teh yang bergambar Candi Borobudur, maka yang terjadi adalah di kemasan teh akan muncul sebuah Candi Borobudur dalam bentuk digital 3D. Harian Kompas juga telah memperkenalkan fitur baru yang mampu meng-‘kolaborasi’-kan pengalaman nyata membaca Kompas versi cetak dengan “pengalaman virtual” menjelajahi konten tambahan pada edisi Kompas AR yang berada di dunia maya melaluiteknologi Augmented Reality (AR). Pembaca Kompas cetak yang menemukan berita atau iklan yang dilengkapi fitur AR (dapat dikenali dari adanya ikon Kompas AR) tinggal mengarahkan konten tersebut menghadap webcam yang terpasang pada PC atau laptopnya. Aplikasi AR akan mengenali konten tersebut, yang lantas me-load konten tambahan pada layar komputer mereka. Lalu bagaimana dengan manfaat aplikasi ini di dunia pendidikan? Tentunya sangat banyak sekali. Dengan penggabungan konsep dunia nyata dan dunia maya, seorang guru yang menggunakan software berbasis AR akan dengan mudah menjelaskan suatu objek 3D dalam pembelajaran secara mudah dan fun kepada siswanya. Misalkan dalam pembelajaran “Planet dan Galaksi”, Guru dengan mudahnya menampilkan visual beberapa planet, ukurannya dan pergerakannya terhadap matahari. Berikut contoh video aplikasi Augmented Reality yang dipasarkan oleh PT WinnerTech Lintas Nusa. Informasi lebih lanjut tentang software ini silahkan kontak CS kami pada jam kerja.
  7. Kerjasama di bidang pendidikan dengan kota Busan dilakukan Pemerintah Kota Surabaya, karena menganggap banyak hal posistif yang bisa ditiru oleh Surabaya dari Busan. Rektor Dong Eui Universiti, Busan memberikan keterangan terkait kerjasama pendidikan dengan Pemerintah Kota Surabaya, Kamis 24 September 2015 (Foto: VOA/Petrus). Dilansir dari VOA Indonesia, kota Surabaya dan Kota Busan di Korea Selatan semakin intensif meningkatkan hubungan kerjasama khususnya di bidang pendidikan, setelah kedua kota menjalin hubungan sister city sejak 20 tahun lalu. Ratusan pelajar serta guru sekolah menengah di Surabaya telah dikirim ke Busan untuk mengikuti program pertukaran pelajar dan pelatihan guru, sebagai upaya meningkatkan kualitas pendidikan di Kota Surabaya. Kerjasama di bidang pendidikan dengan kota Busan dilakukan Pemerintah Kota Surabaya, karena menganggap banyak hal posistif yang bisa ditiru oleh Surabaya dari Busan. Menurut Yanuar Hermawan selaku Kepala Sub Bagian Kerjasama Luar Negeri, Pemerintah Kota Surabaya, etos kerja serta karakter yang kuat dari orang Korea menjadi salah satu alasan menjadikan sistem pendidikan di Busan sebagai acuan. Menurut Yanuar, keberhasilan pembangunan suatu daerah ditentukan salah satunya oleh keberhasilan pendidikan, dari generasi mudanya. “Belajar tentang sistem pengajaran secara komprehensif ya, jadi sistem belajar mengajar, terus penyediaan infrastruktur, dan juga materi tidak kalah penting. Artinya kita melihat Korea itu kan, karakter buildingnya kan kuat dan itu memang mau tidak mau kita melihatnya dari basic, pendidikan," kata Yanuar Hermawan, Kasubbag Kerjasama Luar Negeri Pemkot Surabaya. "Bagaimana menciptakan generasi yang mandiri, bagaimana menciptakan generasi yang tidak gampang menyerah dan itu juga hal-hal yang bisa kita pelajari untuk bisa kita terapkan disini, karena pendidikan, ya saya pikir kita semua sepakat pendidikan adalah yang penting untuk bisa meningkatkan kualitas generasi,” imbuhnya. Sejak lima tahun terakhir Pemerintah Kota Surabaya rutin mengirimkan delegasi pendidikan ke Busan, yaitu kelompok guru sekolah menengah dan juga pelajar serta mahasiswa untuk belajar di Busan. Yunsook Jun selaku Wakil Kepala Institut Pendidikan dan Pelatihan Dong Eui University mengatakan, pengajaran dan pelatihan yang diberikan kepada guru-guru dari Surabaya telah diberikan seperti sistem pengajaran di Korea, dimana para guru diajarkan untuk dapat menjadikan para murid lebih aktif, dan mampu mengungkapkan pendapat secara bebas. “Kami disini mengajarkan sistem pengajaran Korea kepada para guru, jadi bagaimana mengajarkan guru-guru di Indonesia mengenai bagaimana mengajarkan murid-murid bisa lebih aktif di kelas. Jadi bukan hanya guru yang menerangkan, tapi murid-murid juga beraktifitas seperti melakukan presentasi maupun bertanya kepada guru, artinya supaya murid-murid lebih aktif,” kata Yunsook Jun, Wakil Kepala Education Training Institut, Dong Eui University. Keunggulan sistem pendidikan di Busan, Korea Selatan juga diakui Caroline, salah seorang mahasiswi asal Indonesia. Menurutnya sistem pendidikan di Korea mengharuskan para murid untuk bekerja keras agar memperoleh hasil yang baik. Semangat kerja keras yang dimiliki orang Korea, merupakan salah satu kunci keberhasilan pendidikan di Busan. “Kalau aku bilang disini kemauan buat belajarnya, kalau disini itu bisa dibilang mereka itu kerja keras buat belajar, kalau orang SMA (di Indonesia) dari jam 7 pagi sampai jam 2 (siang), disini juga sama jam 7 pagi sampai jam 2 (siang) tapi setelah selesai jam 2 mereka ada program belajar lagi di sekolah sampai jam 9 malam,” kata Caroline, Mahasiswi Indonesia di Busan, Korea Selatan. Caroline, mahasiswi Kyungsung University di Busang berharap, pemerintah Indonesia lebih memperhatikan perbaikan dan kemajuan pendidikan sebagai kunci keberhasilan sebuah bangsa. Kendala berupa tenaga pengajar yang terbatas khususnya di daerah terpencil, serta dana pendidikan yang masih sangat minim di beberapa daerah, harus menjadi perhatian serius pemerintah Indonesia untuk memajukan dunia pendidikan di tanah air. “Karena kita kurang ada dukungan dari pemerintah misalnya kurang dana dari pemerintah, pasokan gurunya itu kurang ke daerah-daerah. Mungkin di kota-kota besar kayak Jakarta, Surabaya, itu guru-gurunya tidak kurang, di daerah kita bisa lihat sedikit banget. Jadi mereka juga yang dari daerah susah buat ke kota besar untuk melakukan pendidikan," kata Caroline. "Terus yang aku lihat sekarang itu, daripada kota besar, orang-orang daerah lebih mempunyai kemauan untuk belajarnya lebih tinggi, jadi kalau misalnya kita bisa kirim guru atau kita bisa nyumbang dana buat orang daerah datang ke kota besar untuk belajar itu lebih efektif, jadi persaingannya juga lebih tinggi,” imbuhnya.
  8. Setiap Menit, Empat Anak Putus Sekolah Berdasarkan laporan Education for All Global Monitoring Report yang dirilis UNESCO 2011, tingginya angka putus sekolah menyebabkan peringkat indeks pembangunan rendah. Indonesia berada di peringkat 69 dari 127 negara dalam Education Development Index. Sementara, laporan Departeman Pendidikan dan Kebudayaan, setiap menit ada empat anak yang putus sekolah. Banyak faktor yang mempengaruhi tingginya angka putus sekolah di Indonesia. Namun faktor paling umum yang dijumpai adalah tingginya biaya pendidikan yang membuat siswa tidak dapat melanjutkan pendidikan dasar. Data pendidikan tahun 2010 menyebutkan 1,3 juta anak usia 7-15 tahun terancam putus sekolah. 54% Guru di Indonesia Tidak Memiliki Kualifikasi yang Cukup untuk Mengajar Guru merupakan ujung tombak dalam meningkatkan kualitas pendidikan, dimana guru akan melakukan interaksi landsung dengan peserta didik dalam pembelajaran di ruang kelas. Melalui proses belajar dan mengajar inilah berawalnya kualitas pendidikan. Artinya, secara keseluruhan kualitas pendidikan berawal dari kualitas pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru di ruang kelas. Secara kuantitas, jumlah guru di Indonesia cukup memadai. Namun secara distribusi dan mutu, pada umumnya masih rendah. Hal ini dapat dibuktikan dengan masih banyaknya guru yang belum sarjana, namun mengajar di SMU/SMK, serta banyaknya guru yang mengajar tidak sesuai dengan disiplin ilmu yang mereka miliki. Keadaan ini cukup memprihatinkan, dengan prosentase lebih dari 50% di seluruh Indonesia. Menurut data Kemendiknas 2010 akses pendidikan di Indonesia masih perlu mendapat perhatian, lebih dari 1,5 juta anak tiap tahun tidak dapat melanjutkan sekolah. Sementara dari sisi kualitas guru dan komitmen mengajar terdapat lebih dari 54% guru memiliki standar kualifikasi yang perlu ditingkatkan dan 13,19% bangunan sekolah dalam kondisi perlu diperbaiki. Hal ini seharusnya menjadi salah satu titik berat perbaikan sistem pendidikan di Indonesia, mengingat semakin maju-nya suatu negara bermula dari pendidikan yang berkualitas, pendidikan yang berkualitas bermuara dari pembelajaran yang berkualitas, pembelajaran yang berkualitas dimulai dari pengajar yang berkualitas pula. Menurut Education Development Index (EDI), Indonesia berada pada posisi ke-69 Berdasarkan data, perkembangan pendidikan Indonesia masih tertinggal bila dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya. Menurut Education For All Global Monitoring Report 2011 yang dikeluarkan oleh UNESCO setiap tahun dan berisi hasil pemantauan pendidikan dunia, dari 127 negara, Education Development Index (EDI) Indonesia berada pada posisi ke-69, dibandingkan Malaysia (65) dan Brunei (34). 34% Sekolah di Indonesia Kekurangan Guru Distribusi Guru tidak merata. 21% sekolah di perkotaan kekurangan Guru. 37% sekolah di pedesaan kekurangan Guru. 66% sekolah di daerah terpencil kekurangan Guru dan 34% sekolah di Indonesia yang kekurangan Guru. Sementara di banyak daerah terjadi kelebihan Guru. Sumber: Teacher Employment & Deployment, World Bank 2007 Sebaran indeks kualitas Guru di Indonesia setengah nilai maksimal indeks Sebaran indeks kualitas Guru di Indonesia setengah nilai maksimal indeks dimana nilai maksimal adalah 11. Sumber: Analisis Data Guru 2009, Ditjen PMPTK 2009 Delapan Standar Nasional Pendidikan diharapkan mengangkat kualitas pendidikan di Indonesia UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang dijabarkan diantaranya dalam Peraturan Pemerintah No 19 tahun 2005 mengenai Delapan Standar Nasional Pendidikan diharapkan mampu mengangkat kualitas pendidikan di Indonesia.
  9. Waktu itu saya pernah di tanya oleh adik tingkat saya yang baru saja masuk di Universitas saya. Dia bertanya, "Kak, prospek kerja jurusan kita apa ya?". Saya dengan gampang menjawab "saya tidak tahu". Jujur saja, saya kuliah bukan karena ingin mencari kerja, atau sengaja mengambil jurusan saya saat ini sebagai batu loncatan saya dalam mencari kerja. Saya kuliah karena saya ingin kuliah. Hanya ingin mencari pengalaman. Banyak orang beranggapan bahwa kuliah itu semacam alat untuk mempermudah mereka dalam mencari pekerjaan, agar mereka bisa mengalahkan mereka yang tidak kuliah. Hal semacam itu memang tidak dapat disalahkan. Karena memang banyak perusahaan saat ini menggunakan standar pendidikan, yang bahkan minimal S1. Tentu saja orang berbondong-bondong untuk kuliah karena mengejar pekerjaan, karena takut tidak bisa bersaing dengan mereka yang telah berpendidikan lebih tinggi. Pada akhirnya pendidikan hanya sebagai alat untuk mempermudah mereka saja, tanpa memahami makna dan manfaat sebenarnya dari pendidikan tersebut. Padahal pada zaman dahulu, saat pendidikan sangat susah untuk diperoleh, pendidikan merupakan sarana untuk mendapatkan ilmu. Orang-orang berusaha untuk mendapatkan pendidikan agar tidak tertinggal, dari mereka yang telah mendahului mereka dalam mendapatkan pendidikan. Contohnya saja, para nenek moyang kita, pada saat zaman penjajahan Belanda, berjuang dengan susah payah untuk bisa bersekolah di sekolah-sekolah para kolonial Belanda. Mereka tidak dituntut untuk mendapatkan pendidikan agar dapat bekerja. Tapi sebagian besar dari mereka mencari pendidikan untuk sekedar memuaskan rasa ingin tahu. Memang pada saat itu belum ada standar minimum pendidikan untuk melamar pekerjaan. Namun tetap saja, mereka kan belajar atas kemauan mereka sendiri, tanpa ada tuntutan apapun. Saya secara pribadi pun menempuh pendidikan saya sampai saat ini hanya karena "rasa ingin tahu" saya yang begitu besar. Saya hanya belajar karena saya ingin tahu. Apapun itu. Saya bahkan tidak pernah memikirkan kemana saya nanti akan bekerja (mohon jangan ditiru). Saya hanya memikirkan sejauh mana pendidikan tersebut dapat memuaskan rasa ingin tahu saya. Kalau ditanya mengapa saya mengambil jurusan saya saat ini (yaitu Sosiologi), jawabnya "Saya Tidak Tahu". Saya hanya sekedar ingin mencari pengalaman, mendapatkan pendidikan, mendapatkan teman, membentuk kepribadian, hidup mandiri, dan lain-lain, yang meurut saya itu lebih penting dari pada merisaukan kemana, atau seperti apa, pekerjaan yang akan kita dapat dari kuliah tersebut. Saya yakin, meskipun saya tidak melakukan penelitian secara langsung, 80% mahasiswa saat ini, atau bahkan di Kampus saya, lebih merisaukan ke mana pendidikan mereka itu dapat membantu mereka dalam mendapatkan pekerjaan, daripada merisaukan mampukah saya memiliki pengetahuan lebih banyak lagi. Orang yang berada di pihak yang menempuh pendidikan untuk mendapatkan pekerjaan akan membela diri seperti ini, "Kita kan butuh pendidikan minimal S1 untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, agar bisa mendapat penghasilan tetap, dan tentunya akan hidup bahagia dengan kecukupan tersebut, tentu saja pendidikan itu untuk mendapat pekerjaan, jangan munafik-lah". Saya mengakui bahwa pindidikan memang alat untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik. Namun bukan berarti itulah inti dari manfaat pendidikan. Masih sangat banyak manfaat yang bisa kita ambil dari pendidikan tersebut, jurusan apapun yang anda ambil. Pendidikan itu lebih dari sekedar alat untuk mendapatkan uang, namun lebih dari itu, pendidikan bisa membuka pikiran kita dari ketidak tahuan kita mengenai apapun yang terjadi di dunia ini, agar kita tidak menjadi orang yang buta di tengah keluasan dan ketidak terbatasan pengetahuan di dunia ini. Kalau masalah pekerjaan, itu tergantung dari anda bisa atau tidaknya menggunakan dan memanfaatkan pengetahuan yang telah diperoleh untuk mendapatkan pekerjaan yang kita inginkan.
  10. Perpustakaan menjadi jaminan pendidikan di Jepang untuk memajukan generasi muda. Makanya, perpustakaan dengan koleksi komplet menjadi andalan bagi sekolah-sekolah di Jepang untuk menggaet calon-calon siswa. “Perpustakaan adalah salah satu ciri sekolah di Jepang,” tutur School System Coordinator untuk Hikari Japanese School, Wiginy Kusliawan. Media massa di Tokyo, Jepang, Yoshiko Shimbun, dalam wartanya beberapa waktu silam menunjukkan bahwa kebiasaan membaca di Jepang berawal dari sekolah. Sebelum memulai pelajaran, guru mewajibkan siswa membaca selama sepuluh menit. Menariknya, kebiasaan ini berlangsung lebih dari 30 tahun. Jam masuk sekolah di Jepang dimulai pada pukul 07.00 waktu setempat. Tetapi gerbang sekolah mulai ditutup 15 menit sebelum pelajaran formal dimulai. Pada jam inilah biasanya peraturan tersebut dilaksanakan. Dengan demikian, pada lima belas menit pertama anak-anak sekolah dasar diwajibkan membaca buku apa pun yang dipilihnya dari perpustakaan sekolah. Cahaya Lebih lanjut, imbuh Wiginy, pihaknya akan membuka sekolah Hikari mulai April tahun ini. Sekolah tersebut berada di kawasan Orange County CBD Lippo Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Luas lahan Orange County mencapai 322 hektare. “Untuk tahap awal, kami membuka sekolah taman kanak-kanak,” tuturnya sembari menambahkan pembukaan pada April menyesuaikan diri dengan sistem sekolah di Jepang. Wiginy mengatakan, untuk sementara waktu, sekolah akan memanfaatkan lahan seluas 2.100 meter persegi. Di situ, akan ada delapan ruang kelas, termasuk perpustakaan. Menurutnya, ke depan, bakal dibangun pula lapangan sepak bola, stadion tertutup, lintasan bersepeda, serta sarana lainnya sesuai standard pendidikan di Jepang. “Kami memang menyasar anak-anak para ekspatriat Jepang,” tuturnya. Masih menurut Wiginy, jumlah ekspatriat Jepang, khususnya, di kawasan Timur Jakarta, ada sekitar 5.000 orang. Kebanyakan dari mereka bekerja di industri-industri penanaman modal asing (PMA) Jepang. Sekolah Hikari yang berarti cahaya atau terang akan menggunakan dua bahasa pengantar yakni Jepang dan Inggris. Sementara, kata Wiginy, sekolah rerata memungut uang bulanan per siswa sebesar 300 dollar AS.
  11. Sebagai satu-satunya BUMN telekomunikasi, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) berkomitmen untuk memajukan dunia pendidikan Indonesia. Sebelumnya Telkom turut serta mensukseskan program Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (KemenristekDikti) melalui penyediaan fasilitas jaringan dalam pelayanan pendaftaran SNMPTN dan SBMPTN Online 2015. Kali ini komitmen tersebut diwujudkan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) sinergi pemanfaatan sumber daya bersama antara Executive General Manager Divisi Enterprise Service Telkom Siti Choiriana dengan Rektor Universitas Terbuka Prof. Ir. Tian Belawati, M.Ed., Ph.D yang disaksikan oleh Direktur Enterprise & Business Service Telkom Muhammad Awaluddin. Salah satu bentuk implementasi dari MoU tersebut adalah peresmian Sentra Layanan Universitas Terbuka (SALUT) yang diresmikan hari ini oleh MenristekDikti M.Nasir dan Menkominfo Rudiantara. Langkah ini sejalan dengan program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) yang telah dicanangkan oleh pemerintah. Telkom dan Universitas Terbuka sepakat untuk melakukan kerjasama pengembangan sarana dan prasarana pendidikan Perguruan Tinggi Terbuka dan Jarak Jauh (PTTJJ) berbasiskan Teknologi Informasi dan Komunikasi, dimana saat ini sistem PTTJJ relatif masih dirasakan baru kehadirannya di Indonesia. Kerjasama ini dapat mendukung Universitas Terbuka untuk mendekatkan layanan serta memfasilitasi peningkatan akses dan keterampilan pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi mahasiswa dalam pembelajaran dan menjadi institusi PTTJJ berkualitas dunia dalam menghasilkan produk pendidikan tinggi dan dalam penyelenggaraan, pengembangan, dan penyebaran informasi PTTJJ. “Sejalan dengan visi KemenristekDikti untuk mewujudkan pendidikan tinggi yang bermutu serta berkemampuan IPTEK dan inovasi untuk meningkatkan daya saing bangsa, Telkom siap mendukung kemajuan dunia pendidikan Indonesia melalui penyediaan sarana dan prasarana pendidikan berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK),” ungkap Direktur Enterprise & Business Service Telkom Muhammad Awaluddin di Cirebon (3/3). Sentra Layanan Universitas Terbuka (SALUT) merupakan fasilitas ruang belajar bersama berbasis TIK yang digunakan sebagai pendukung proses pembelajaran jarak jauh mahasiswa Universitas Terbuka dan dapat dimanfaatkan oleh Alumni Universitas Terbuka serta masyarakat umum. Saat ini, SALUT Tahap I yang sudah siap beroperasi adalah SALUT Cirebon, SALUT Cibinong (Bogor) dan SALUT Rangkas Bitung (Banten). Awaluddin menambahkan, sebagai bukti nyata keseriusan Telkom dalam mendukung dunia pendidikan di Indonesia, Telkom melalui anak perusahaannya Graha Sarana Duta (GSD) bekerjasama dengan Universitas Terbuka akan mengembangkan lebih banyak lagi lokasi Sentra Layanan Universitas Terbuka (SALUT) yang tersebar di seluruh daerah di Indonesia untuk dapat menjangkau dan mendekatkan layanan Universitas Terbuka kepada mahasiswa di daerah. Dengan kehadiran Telkom melalui berbagai layanan ICT baik connectivity, aplikasi maupun manage service untuk Universitas Terbuka serta berbagai PTN dan PTS diharapkan dapat menjadi enabler percepatan pendidikan Indonesia. Kerjasama antara Telkom dengan Universitas Terbuka untuk bersama sama membuat terobosan terobosan layanan kepada masyarakat merupakan salah satu langkah maju bagi dunia pendidikan Indonesia untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. “Telkom Indonesia untuk Pendidikan Indonesia”.
  12. Menteri Pendidikan Cina meminta universitas-universitas untuk menghindari buku pelajaran yang mempromosikan nilai-nilai Barat. Kantor berita resmi Xinhua melaporkan Yuan Guiren mengatakan universitas harus mempertahankan integritas politik dan menjaga agar kritik atas kepemimpinan atau sistem politik Cina tidak masuk ke ruang kuliah. Hal itu disampaikannya dalam sebuah forum pendidikan. Dalam beberapa bulan belakangan, pemerintah Beijing tampaknya meningkatkan pembatasan atas kehidupan akademis. Pada bulan Desember, ahli hukum Profesor Zhang Xuehong diberhentikan dari Universitas Ilmu Hukum dan Politik di Shanghai setelah menolak untuk meminta maaf terkait tulisannya yang mengkritik pemerintah. Ilham Tohti (berdiri di latar belakang) dihukum penjara dengan dakwaan separatisme. Sebelum itu, seorang ekonom yang memperjuangkan kebebasan mengungkapkan pendapat, Xia Yeliang, juga dipecat dari Universitas Peking di Beijing. Xia merupakan salah satu penanda tangan dokumen yang menyerukan reformasi demokrasi yang terkenal, yang disebut dengan Piagam 08. Sementara itu seorang akademisi dari suku Uighur, Ilham Tohti -yang mendesak agar adanya dialog lebih baik antara pemerintah Beijing dan warga minoritas Uighur di Xinjiang- dihukum penjara karena dakwaan separatisme tahun lalu. Beberapa mahasiswanya juga dipenjara. Akhir tahun lalu, Presiden Xi Jinping, menyerukan pengawasan ideologis yang lebih besar di universitas-universitas dan mendesak pihak berwenang meningkatkan kepemimpinan serta arahan partai.
  13. Memang 40 tahun bukanlah waktu yang sebentar, namun dalam tahun tersebut Finlandia mampu menerapkan reformasi pendidikan besar. Reformasi pendidikan tersebut mengantarkan sistem pendidikan Finlandia, secara konsisten, menempati posisi atas untuk peringkat internasional untuk sistem pendidikan. Jadi bagaimana mereka melakukannya? Sederhana dengan melawan, model evaluasi terpusat yang banyak dari dunia Barat gunakan. Berikut fakta-fakta menarik mengenai pendidikan Finlandia: Anak-anak yang menjadi penduduk disini tidak memulai sekolah sampai usia mereka 7 tahun. Yang pastinya akan sangat disukai pelajar kita, pendidikan disini tidak ada ujian dan pekerjaan rumah hingga usia mereka remaja. Kepintaran anak-anak tidak diukur sama sekali selama enam tahun pertama pendidikan mereka. Hanya ada satu tes standar wajib di Finlandia, yang diambil ketika anak-anak berada di usia 16 tahun. Semua anak, pintar atau tidak, diajarkan di kelas yang sama. Sejumlah 30 persen anak-anak menerima bantuan tambahan selama sembilan tahun pertama mereka sekolah. Sebanyak 66 persen siswa disini masuk ke perguruan tinggi. Kelas sains maksimal 16 siswa sehingga mereka dapat melakukan eksperimen praktis setiap kelas. Kelulusan pelajar di Finlandia dari sekolah tinggi mencapai 93 persen. Persentase ini 17,5 persen lebih tinggi dari Amerika Serikat. Siswa SMA Finlandia yang meneruskan ke sekolah kejuruan sebanyak 43 persen. Siswa sekolah dasar di Finlandia mendapatkan 75 menit dari istirahat dalam sehari dibandingkan rata-rata 27 menit di Amerika Serikat. Guru hanya menghabiskan 4 jam sehari di dalam kelas dan mengambil 2 jam seminggu untuk “pengembangan profesional”. Finlandia memiliki jumlah yang sama dengan guru diNew York City, namun siswanya jauh lebih sedikit. Sekitar 600.000 siswa dibandingkan dengan 1,1 juta di NYC. Sistem sekolah adalah 100% didanai negara. Semua guru di Finlandia harus memiliki gelar master, yang sepenuhnya disubsidi. Kurikulum nasional hanya menjadi pedoman luas. Guru dipilih dari 10% lulusan terbaik. Pada tahun 2010, 6600 pelamar bersaing untuk 660 kursi pada pelatihan sekolah dasar Gaji awal rata-rata untuk seorang guru Finlandia adalah $ 29.000 pada tahun 2008. Dibandingkan dengan $ 36.000 di Amerika Serikat. Namun, guru-guru SMA dengan 15 tahun pengalaman membuat 102 persen dari apa yang lulusan perguruan tinggi lain buat. Di AS, angka ini 62%. Tidak ada manfaat membayar guru Guru secara efektif diberi status yang sama seperti dokter dan pengacara Dalam pengukuran standar internasional pada tahun 2001, anak-anak Finlandia memiliki kecerdasan di atas atau sangat dekat dengan puncak untuk ilmu pengetahuan, dalam membaca dan matematika. Hasil pengukuran ini berjalan konsisten sama selalu sejak saat itu. Dan meskipun Finlandia, dengan mudah mengalahkan negara-negara dengan demografi yang sama Tetangganya, Norwegia, dengan ukuran yang sama dan menampilkan budaya homogen yang sama, mengikuti strategi yang sama yang sama dan mencapai peringkat yang sama dalam studi internasional.
  14. Pendiri dan CEO Facebook Mark Zuckerberg tampaknya sangat menaruh minat yang besar untuk berinvestasi di lembaga pendidikan startups bernama Panorama Education yang menawarkan solusi analisis data untuk meningkatkan mutu sebuah pendidikan. Menurut Mashable, Panorama Education baru saja mengumumkan pada hari Senin ini kalau modal perusahaannya kini telah meningkat sebesar 4 Juta USD berkat adanya penambahan dana yang berasal dari yayasan Zuckerberg. Tak hanya itu saja, ternyata ada sekelompok investor lain dengan nama-nama terkenal, seperti Google Ventures, SoftTech VC, A-Grade Investments (yayasan milik Ashton Kutcher) dan Universitas Yale, yang juga turut berpartisipasi menanamkan modalnya di Panorama Education. Yayasan Zuckerberg didirikan pada tahun 2010 yang lalu dengan kepemilikan dana sebesar 100 juta USD yang didedikasikan khusus untuk meningkatkan pendidikan, sedangkan Panorama Education sendiri termasuk salah satu lembaga/perusahaan startup yang bertujuan untuk menyediakan sebuah platform yang sedang digunakan oleh lebih dari 4.000 sekolah dan bahkan mencapai lebih dari 1 juta siswa.
  15. Para aktivis pendidikan di Trenggalek mengingatkan dinas pendidikan dan pemerintah kabupaten Trenggalek untuk berpikir ulang jika menyerahkan pengadaan buku perpustakaan SD sebesar Rp. 4,1 milyar pada CV Galaxy Nusantara, suplier yang berasal dari Bantul. Karena suplier tersebut diduga terlibat pada peredaran buku pornografi & sadisme di kota Bandung dan di beberapa daerah lain di Indonesia. Sampai saat ini kasus tersebut masih dalam pengusutan pihak yang berwajib Untuk itu mereka juga menyerahkan copy berita dari JPNN.Com (Jawa Pos Group) yang memuat berita tersebut. Para Aktifis pendidikan itu berharap agar pemerintah kabupaten Trenggalek dalam mengisi perpustakaan SD tidak hanya berpikir kegiatan itu sebagai proyek, tapi harus berpikir bagaimana masa depan para siswa. Buku Porno & Sadisme Beredar di Sekolah Dasar Bandung Suplier CV Galaxy Nusantara Dari Bantul Masih Bungkam BANDUNG - Dunia pendidikan tercoreng. Buku berbau porno serta sadisme beredar di tiap sekolah dasar di Kota Bandung, salah satunya SD Cempaka Arum. Dua buku itu merupakan bantuan dana alokasi khusus (DAK) untuk perpustakaan sekolah Kepala SD Cempaka Arum, Ahmad Taufan mengaku tidak mengetahui ada buku di perpusatakaan yang isinya tidak sesuai dengan peruntukan siswa sekolah dasar. Namun ketika ada imbauan dari pengawas dan Kabid SD Kota Bandung untuk melakukan pengecekan terhadap buku-buku hasil DAK, dia langsung memeriksa semua buku diperpustakaan dan juga buku bahan mengajaran. "Saya sangat kaget ketika membacanya ada nenerapa judul buku yang menurut saya benar-benar tak pantas untuk diberikan ke sekolah," kata Ahmad yang ditemui di sekolahnya, Ia mengatakan, sebetulnya buku itu sudah ada di sekolahnya sejak Januari lalu. Namun dikarenakan Ahmad baru menjabat Maret lalu dan pemberitahuan tentang pengecekan buku DAK tersebut baru Kamis (7/6)lalu, sehingga ia pun meminta seluruh gurunya untuk segera memeriksa semua buku yang ada dari hasil DAK. "Saya langsung tugaskan guru untuk membaca seruruh buku hasil DAK baik itu jenisnya umum atapun buku pelajaran, dan kami pun menemukan dua buku yang tak menurut saya hanya pantas disimpan diperpusatakaan umum bukan sekolah apalagi sekolah dasar," paparnya. Meski demikian ia tidak mengetahui apakah sudah ada siswa yang membaca buku tersebut atau belum. Sebab buku tersebut memang sudah terpajang beberapa bulan di perpusatakaan sekolah. "Saya tidak mengetahui berapa siswa yang sudah membaca, namun upaya kami yakni langsung melaporkan ke Dinas Pendidikan Kota Bandung dan menarik buku tersebut dari perpustakaan," tegasnya. Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung Oji Mahroji menegaskan pihaknya sudah menginstruksikan melalui pengawas dan Kabid TK/SD untuk segera melakukan penarikan buku tersebut. "Kepsek pun diimbau untuk melakukan pengecekan terhadap seluruh buku yang memang tidak pantas dikonsumsi siswa SD, apapun jenisnya," paparnya. Hal senada diungkapkan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat Wahyudin Zarkasyi. Dikatakan dia, seharusnya guru dan kepsek di sekolah harus langsung menarik buku itu dan tidak diberikan ke siswanya atau disimpan di perpustakaan," tuturnya. Wahyudin juga mengaku belum menerima laporan sekolah mana saja yang memperoleh DAK buku tersebut. "Justru saya baru dapat laporannya sekarang dari media. Mudah-mudahan sekolah yang lain bisa langsung melakukan penyortiran jika memang ada yang dianggap tidak pantas," terangnya. Hasil penelusuran Federasi Guru Independen Indonesia (FGII) melalui Ketuanya Iwan Hermawan dikatakan, jika suplayer buku tersebut merupakan CV Galaxi Nusantara yang beralamat di Bantul Jogjakarta. "Dari surat keterangan yang kami dari salah satu sekolah lainnya yang juga mengatakan menerima jenis buku serupa CV tersebut menyebarkan sekitar 900 buku dengan judul yang sama di seluruh sekolah penerima DAK," tegasnya. Oleh karenannya ia menilai buku tersebut kini sudah tersebar di seluruh sekolah penerima DAK. "Ini harus segera ditindak lanjuti , jangan hanya DAK ini mengejar proyeknya saja tapi tidak dilihat dulu isi buku tersebut," tegasnya yang ditemui di Sekretariat Koalisi Pendidikan Kota Bandung Jalan Keliningan. (tie)
  16. Kita boleh memandangnya sekarang sebagai konglomerat, pengusaha sukses yang kaya raya. Namun lika-liku hidupnya bisa memotivasi kita, bahwa apa pun yang terjadi, kesalahan apa pun yang kita perbuat, bila kita sadar dan mau berjuang dari titik nadir, Insya Allah bisa menggapai impian. Bob Sadino lahir dari sebuah keluarga yang hidup berkecukupan. Ia adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Sewaktu orang tuanya meninggal, Bob yang ketika itu berumur 19 tahun mewarisi seluruh harta kekayaan keluarganya karena saudara kandungnya yang lain sudah dianggap hidup mapan. Bob kemudian menghabiskan sebagian hartanya untuk berkeliling dunia dan tidak melanjutkan kuliah. Dalam perjalanannya itu, ia singgah di Belanda dan menetap selama kurang lebih 9 tahun. Di sana, ia bekerja di Djakarta Lylod di kota Amsterdam dan juga di Hamburg, Jerman. Ketika tinggal di Belanda itu, Bob bertemu dengan pasangan hidupnya, Soelami Soejoed. Pada tahun 1967, Bob dan keluarga kembali ke Indonesia. Ia membawa serta 2 Mercedes miliknya, buatan tahun 1960-an. Salah satunya ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan sementara yang lain tetap ia simpan. Setelah beberapa lama tinggal dan hidup di Indonesia, Bob memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya karena ia memiliki tekad untuk bekerja secara mandiri. Pekerjaan pertama yang dilakoninya setelah keluar dari perusahaan adalah menyewakan mobil Mercedes yang ia miliki, ia sendiri yang menjadi sopirnya. Namun sayang, suatu ketika ia mendapatkan kecelakaan yang mengakibatkan mobilnya rusak parah. Karena tak punya uang untuk memperbaikinya, Bob beralih pekerjaan menjadi tukang batu. Gajinya ketika itu hanya Rp.100. Ia pun sempat mengalami depresi akibat tekanan hidup yang dialaminya. Suatu hari, seorang teman menyarankan Bob memelihara dan berbisnis telur ayam negeri untuk melawan depresinya. Bob tertarik dan mulai mengembangkan usaha peternakan ayam. Ketika itu, di Indonesia, ayam kampung masih mendominasi pasar. Bob-lah yang pertama kali memperkenalkan ayam negeri beserta telurnya ke Indonesia. Bob menjual telur-telurnya dari pintu ke pintu. Saat itu hanya orang-orang tertentu dan golongan ekspatriat yang membeli produknya, namun seraya telur ayam negeri mulai dikenal, bisnis Bob pun berkembang hingga sukses.
  17. Pendidikan di indonesia di zaman yang udah modern ini udah semakin berkembang. mulai dari gedung sekolah yang udah bertingkat sampai fasilitas yang serba modern. tapi bagaimana dengan keadaan pendidikan di pelosok negeri kita indonesia?apakah sama dengan pendidikan di kota kota besar? Di daerah perkotaan, sebagian siswa siswa nya dengan mudah menempuh jarak sekolah dengan menggunakan alat transportasi yang serba mewah. siswa siswa disana nggak perlu mencari biaya untuk sekolah mereka, karena orang tua mereka udah mapan untuk membiayai pendidikan anak anaknya. Sangat berbeda dengan keadaan pendidikan di perkotaan. Di daerah Pelosok negeri ini , banyak sekali para siswa yang kebanyak tinggal di pelosok negeri yang harus berjuang bertaruh nyawa melewati jembatan yang hampir roboh untuk menuju sekolahnya. para siswa ini pasti ada rasa takut yang mendera ketika melewati jembatan yang roboh yang jika terpeleset maka akan terjatuh ke sungai, tapi karena tekad yang kuat untuk bisa sekolah, meraka harus berani mengambil resiko yang sangat besar kayak ini. Peristiwa lain di bidang pendidikan yaitu masih banyak gedung sekolah yang nggak layak guna, kayak belajar di kandang kambing. apakah siswa siswa ini bisa belajar dengan nyaman jika ditempat kayak ini? jawabannya pasti nggak, karena belajar di tempat sperti itu pasti menggangu karena mungkin pasti tercium bau nggak enak dari kandang tersebut. lalu biaya BOS yang pemerintah dikasih itu apakah sampai ke sekolah di daerah pelosok? apakah dana BOS itu hanya ada di daerah perkotaan saja. Nggak hanya masalah itu saja, siswa siswa disana kebanyakan harus mencari uang agar tetap bisa sekolah. dengan umur mereka yang masih dibawah umur dalam hal bekerja, mereka punya keinginan besar untuk bisa tetap sekolah. selain untuk sekolah, mereka membantu orang tuanya untuk kebutuhan hidupnya sehari hari. begitu besar keinginan mereka untuk tetap sekolah walaupun dengan keadaan yang sangat kekurangan. agar tetap sekolah, diantara mereka harus berjualan di sekolah. mungkin sebagian siswa lain akan merasa malu dengan teman teman yang lainnya, takut di ejek, takut ga punya temen dll. yang harusnya masa anak anak itu diisi dengan bermain dengan teman temannya, justru mereka harus bekerja untuk bisa menggapai cita cita nya. Lalu apakah pemerintah setempat udah turun tangan dalam kasus kayak ini? Kasus pendidikan diatas nggak sepadan dengan meningkatnya pejabat yang korupsi , apakah pejabat yang korupsi itu memikirkan bagaiamana keadaan pendidikan di negeri tercinta ini? mengapa mereka lebih memikirkan untuk berkorupsi daripada memperbaiki pendidikan di indonesia? mungkin jika para pejabat nggak korupsi dan hanya memikirkan diri sendiri, maka pendidikan di pelosok negeri ini akan lebih baik. pembangunan fasilitas fasilitas yang nggak penting akan lebih baik jika digunakan untuk memperbaiki jembatan di pelosok negeri ini untuk kepentingan pendidikan. Dalam hal ini peran pemerintah sangat dibutuhkan. karena pendidikan itu hak setiap warga negara indonesia. anak anak Indonesia berhak mendapatkan pendidikan yang layak kayak yag tercantum dalam UUD 1945. Kemajuan bangsa indonesia ditentukan oleh generasi muda yang punya potensi yang membanaggakan. anak anak di indonesia pasti menginginkan bisa memajukan bangsa nya dan membawa nama indonesia dalam berbagai bidang ke dunia internasional. marilah bersama sama memajukan kualitas pendidikan di negeri ini agar anak anak indonesia bisa menjadi manusia yang bermanfaat untuk negerinya dan secara global mereka bisa membawa harun negeri ini di tingkat internasional.
  18. Tarik-menarik dan perdebatan tentang Kurikulum 2013 telah membuka 2013 dengan amat menguras energi. Menjelang 2014 pun, dialektika tentang implementasi kurikulum baru itu masih panas. Padahal, kurikulum ibarat hanya sebuah kendaraan yang amat bergantung kepada siapa sopirnya. Perumpamaan antara kendaraan dan sopir itu muncul ketika Dewan Pendidikan Jatim mengadakan refleksi akhir tahun pendidikan pada medio Desember lalu di Batu. Dewan pendidikan dari kabupaten/kota menghadiri acara tersebut bersama kepala sekolah, pengamat, maupun media. Meski format forum lebih banyak ke regional, fokus pembahasan masalah-masalah justru lebih mengarah ke kebijakan nasional. Busur dan anak panah paling tajam membidik implementasi kurikulum baru, yakni Kurikulum 2013. Kebijakan pendidikan pada 2013, termasuk di dalamnya kurikulum baru tersebut, dinilai menghasilkan hal-hal yang paradoksial dengan tujuan utama. Misalnya, tujuan pendidikan yang semestinya mengarah pada humanisasi justru menghasilkan fabrikasi, komodifikasi dan kapitalisasi pendidikan. Ingin meningkatkan mutu, yang terjadi malah menurunkan mutu. Karena itulah, pakar pendidikan Prof. Joko Saryono menyebut tahun 2013 sebagai tahun penuh paradoks. Guru besar UNiversitas Negeri Malang itu berpendapat, salah satu penyebab paradoks tersebut adalah kecenderungan kebijakan pendidikan yang sibuk meniru dan mengadopsi pendidikan asing. Kebijakan pendidikan seperti mengikuti bayang-bayang yang tidak pernah tergapai. Berlari-lari terus, tetapi tidak mampu mengajar apa yang harus dikejar. Negara-negara lain terus bergerak maju dengan konsep pendidikan yang terus berubah. Pengambil kebijakan pendidikan Indonesia malah masih seperti remaja yang hobi otomotif. Yaitu, suka bongkar pasang onderdil. Pergantian kurikulum bertubi-tubi yang mirip bongkar pasang onderdil itu membingungkan sopirny. Yakni, guru. Mereka disodoro barang matang [sic: mungkin maksudnya belum matang] tanpa tahu cara memasaknya. Yang muncul kemudian adalah kepatuhan semu pada kurikulum yang instruktif. Guru, kepala sekolah, sampai kepala dinas pun memilih menurut meski ragu. Ganti-ganti kurikulum itu juga menunjukkan bahwa Indonesia seperti tidak punya pijakan pendidikan yang jelas. Djoko mencontohkan negara-negara Tiongkok yang kini menduduki peringkat atas dalam peringkat Programme for International Student Assessment [PISA]. Sebut saja, Hong Kong, Cina Taipei dan Singapura. Di sisi lain, negara-negara yang ekarang unggul dalam PISA, seperti Singapura, justru mengajarkan nilai-nilai pendidikan Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia. Karena itulah, kiblat pendidikan semestinya berkiblat pada diri sendiri, kekayaan tata nilai bangsa sendiri. Karena tidak mau menengok kekayaan sendiri itulah, yang terjadi malah kebingungan, harus meniru siapa. Djoko memastikan tidak ada negara yang mutu pendidikannya baik membuat kebijakan yang tiruan, penuh sulapan dan akrobatik. Ketua Dewan Pendidikan Jatim Prof. Zainudin Maliki mengajak pemangku pendidikan kembali pada substansi tujuan pendidikan menurut UU Sisdiknas. Yaitu, menjadikan manusia Indonesia takwa, cerdas, kreatif, mandiri, demokratis, berakhlak mulia, serta memiliki keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Semua pendidik selayaknya menjadikan tujuan itu sebagai starting point. Guru memulai prosesnya dengan nawaitu tersebut. Dengan tujuan itu, seharusnya pendidikan mengarahkan pada memanusiakan manusia, bukan justru dehumanisasi. Salah satu indikator memanusiakan manusia itu adalah tercapainya semua kecerdasan [multiple intelligences]. Tidak boleh lagi didikotomikan yang didahulukan adalah kecerdasan kognitif, afektif atau psikomotor. Dia mencontohkan kebijakan Ujian Nasional [uN] yang cenderung hanya membidik kecerdasan kognitif. Yang didahulukan adalah lulus UN dengan nilai baik, tetapi dengan cara licik dan tidak jujur. Karena itulah, sebenarnya harus disiapkan kurikulum yang menghasilkan anak pintar sekaligus jujur dan tulus. Zainudin berpendapat, sebenarnya Kurikulum 2013 memiliki ruang untuk itu. Sayangnya, Kurikulum 2013 terburu-buru diterapkan. Kurikulum 2013 ibarat nasi yang belum matang, tetapi sudah dimakan seolah-olah sedang kelaparan. Akibatnya, yang terjadi justru perut kembung. Di masa mendatang, Zainudin berharap pemegang kebijakan pendidikan mau terbuka menerima pikiran-pikiran alternatif yang tulus. Harus terbuka dengan temuan-temuan pikiran baru.
  19. Pendidikan masih jadi isu serius di Indonesia. Bagi warga yang tinggal di perkotaan mungkin relatif lebih mudah untuk mendapatkan pendidikan yang layak namun bagi yang tinggal di daerah dan pelosok akan jadi hal yang sangat sulit bagi guru maupun dan muridnya. Selain ketersediaan guru mungkin akan jadi pe er jangka panjang ya, namun menjadikan guru-guru yang ada untuk bisa mendapatkan materi pendidikan jadi hal lain yang juga masalah. Intinya distribusi materi pendidikan pun masalah. Secara general bahwa pendistribusian materi sampai dengan penyampaian materi langsung itu sebenarnya bisa dilakukan dengan menggunakan teknologi yang kebanyakan dari kita sudah jadi hal yang biasa, yaitu social media. Saya sengaja tidak masuk ke hal-hal yang bersifat how-to karena saya pikir untuk mempraktekkannya tentu membutuhkan praktek langsung/workshop sederhana. Bagi pengguna fanatik social media, saya yakin pasti sudah langsung terbayang bagaimana menjalankannya.
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy