Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'Nepal'.

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • CLINIC NGOBAS
    • Coronavirus
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • Ngocol
    • Ngocol Video
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • ABOUT NgobasTV
    • EVENT
    • WESER
    • LAPOR KOMANDAN

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Categories

  • Files
    • Website
    • Smartphone
  • Games
  • E-Book

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 4 results

  1. Banyak pasangan homoseksual di Israel melancong ke luar negeri untuk mendapatkan anak dari ibu wali. Beberapa pasangan homoseksual asal Israel berhasil membawa pulang anak hasil pembuahan ibu pengganti dari Kathamandu, Nepal, pada Senin 27 April 2015. Menteri Dalam Negeri Israel, Gilad Erdan, menyambut dengan bahagia bayi-bayi yang selamat dari bencana gempa bumi 7,9 skala Richter di Nepal ini. "Sangat menyenangkan menyambut Anda. Saya bangga menjadi warga Israel," ujar Erdan kepada para ayah yang menggendong bayi dan balita mereka saat menuruni tangga pesawat di Bandar Udara Tel Aviv, Israel. Tak hanya satu, tapi ada delapan rombongan pasangan yang mendarat di bandara tersebut dalam dua gelombang terpisah. Sesampainya di Israel, bayi-bayi tersebut akan menjalani tes DNA untuk menentukan siapa orang tua mereka. Makhluk mungil ini pun dipastikan akan mendapatkan kewarganegaraan Israel. Di bawah hukum Israel, hanya pasangan heteroseksual yang dapat memiliki anak dari ibu pengganti. Hal ini yang menyebabkan banyak pasangan homoseksual melancong ke luar negeri untuk mendapatkan anak dari hasil pembuahan buatan. Nepal memang merupakan tujuan utama bagi para pasangan homoseksual untuk mendapatkan ibu pengganti. Banyak ahli mengecam aksi tersebut karena dianggap mengeksploitasi kemiskinan, angka kelahiran dari ibu pengganti di Nepal terus meningkat.Merujuk pada data Kementerian Luar Negeri Israel, ada 25 bayi dari ayah homoseksual Israel yang lahir di Kathmandu. Pemerintah Israel mengatakan mereka akan terus mengupayakan pemulangan 17 bayi lainnya. Mereka rencananya akan dibawa pulang bersama 600-700 warga Israel lain dengan pesawat yang diberangkatkan pada Selasa 28 April 2015. Sementara itu, salah satu penyedia jasa ibu pengganti Israel, Tammuz, mengirimkan tim dari India untuk memastikan proses kehamilan dan kelahiran bayi klien mereka berjalan lancar. Mendukung warganya, Kementerian Hukum Israel mengizinkan para ibu pengganti di Kathmandu untuk hijrah ke Israel selama masa kehamilan.
  2. Alain Robert mengibarkan bendera Nepal ketika memanjat gedung setinggi 210 meter di pusat kota Paris. Ia menunjukkan solidaritasnya terhadap korban gempa saat melakukan aksinya yang terkenal, memanjat bangunan pencakar langit. Spiderman alias manusia laba-laba asal Perancis, Alain Robert, kembali melakukan aksinya untuk memanjat bangunan pencakar langit. Kini yang menjadi sasarannya adalah Gedung Montparnasse yang memiliki tinggi 210 meter dari permukaan tanah di pusat kota Paris (29/4). Pria yang tahun ini akan genap berusia 53 tahun itu memanjat Montparnasse dengan tujuan menunjukkan dukungan terhadap para korban gempa bumi berkekuatan 7,9 SR di Nepal. Ia juga memaparkan secara khusus aksinya tersebut untuk menunjukkan solidaritas terhadap para pendaki di Gunung Everest yang terjebak dan meninggal longsor gunung akibat gempa tersebut. "Saya ingin melakukan sesuatu untuk menghormati mereka yang kehilangan nyawanya karena gempa di Nepal dan juga mereka yang terjebak di pegunungan. Ada beberapa orang yang melakukan perjalanan, pendakian di Gunung Everest dan pegunungan lainnya dan mereka terkena dampak dari gempa tersebut," tutur Robert. Selain membawa bendera Nepal saat mendaki sebuah pencakar langit perkantoran yang dibangun sejak tahun 1969 tersebut, Robert juga bendera doa Buddha dalam aksinya tersebut. Hingga berita ini ditulis jumlah korban gempa di Nepal yang berlangsung pada akhir pekan lalu, 25 April 2015, korban tewas yang ditemukan mencapai 4768 dan lebih dari 9600 orang terluka. Sementara itu ada lebih dari 80 orang yang tewas di India dan Tibet. Perdana Menteri Nepal, Sushil Koirala, memperkirakan jumlah korban tewas dapat mencapai 10 ribu jiwa. Angka tersebut melebihi korban jiwa akibat gempa besar yang terjadi di Nepal pada 1934 silam yang menewaskan 8.500 jiwa.
  3. Seorang pria di Nepal berhasil diselamatkan dari reruntuhan puing bangunan yang roboh akibat gempa setelah terkubur 80 jam. Kisah pria ini hanya satu dari cerita korban selamat yang menakjubkan dalam bencana di Nepal. Pria bernama Rishi Khanal itu diselamatkan dari reruntuhan di pinggiran kota Kathmandu, di tengah hari Selasa 28 April 2015, empat hari setelah gempa 7,8 skala richter. Para ahli takjub, pasalnya sangat langka seorang yang terluka bisa bertahan lebih dari 72 jam di dalam reruntuhan tanpa makan dan minum. Khanal diselamatkan oleh tim pencari dari Perancis yang melakukan pencarian dengan alat khusus untuk mendeteksi kehidupan di bawah puing bangunan. Namun untuk mengeluarkannya bukan perkara mudah. Butuh waktu 10 jam untuk menggali reruntuhan dan mengevakuasi Khanal. Sebuah video polisi memperlihat upaya penyelamatan yang melibatkan alat bor untuk melubangi beton bangunan. Setelah lubang dibuat, Khanal diangkat dari atas lalu tubuhnya yang lemah dibawa dengan tandu. "Sepertinya dia selamat karena tekad hidup yang luar biasa," ujar Akhilesh Shrestha, dokter yang merawatnya, dikutip dari Reuters. Pria 28 tahun itu mengalami patah kaki. Kisah Khanal bukan satu-satunya yang membuat takjub dalam insiden yang telah menewaskan lebih dari 5.000 orang tersebut. Sebelumnya bayi berusia empat bulan diselamatkan dari reruntuhan di kota Bhaktapur, 22 jam setelah gempa terjadi, seperti diberitakan koran Kathmandu Today. Awalnya, tim pencari dari militer tidak menyadari adanya bayi tersebut. Namun mereka kembali setelah mendengar suara tangisan. Bayi bernama Sonit Awal itu kini berada dalam kondisi yang stabil tanpa adanya luka berarti. Ada lagi Maya Sitoula, ibu empat anak berusia 40 tahun yang terkubur 36 jam setelah bangunan lima lantai ambruk. Dia diselamatkan tanpa luka setelah tim pencari dari India menemukannya. Sitoula mengatakan, dia memiliki semangat yang tinggi untuk tetap hidup saat terjebak reruntuhan. "Saya dengar suara orang-orang di luar, jadi saya kira saya akan diselamatkan," kata Sitoula. Menghabiskan waktu 18 jam untuk menemukan Sitoula, dan 18 jam lagi dihabiskan untuk mengeluarkannya. Apa yang dia lakukan selama 36 jam? "Saya hanya berbaring. Tidak ada ruang untuk bergerak," ujar dia. Pengalaman yang sama terjadi pada Jon Keisi yang terkubur lebih dari 60 jam di bawah reruntuhan bangunan tujuh lantai di Kathmandu. Dia diselamatkan setelah tim penyelamat dari Turki membuat terowongan untuk mencapai lokasinya. Keisi dalam keadaan kesakitan saat dikeluarkan, mengalami luka dan dehidrasi. Beruntung, nyawanya berhasil diselamatkan.
  4. Lebih dari 4000 orang tewas, bangunan-bangunan bersejarah di lembah Kathmandu luluh lantak oleh gempa bumi berkekuatan 7,9 skala ritcher Menara Dharahara dan Candi Kasthamandap merupakan beberapa di antara situs bersejarah yang berubah menjadi puing-puing akibat gempa dahsyat di Nepal. Lebih dari 4000 orang tewas, bangunan-bangunan bersejarah di lembah Kathmandu luluh lantak oleh gempa bumi berkekuatan 7,9 skala richter pada Sabtu (25/4). Namun, para ahli sejarah mengatakan, masih ada secercah harapan. Dharahara, menara putih setinggi 60 meter tersebut dibangun pada 1932, telah hancur. Sementara, Kasthamandap, kuil kayu bertingkat tiga di Durbar Square, kini berubah menjadi tumpukan kayu dan puing-puing. “Barangkali kuil ini tidak setenar menara, tetapi secara historis mungkin ini adalah bangunan paling signifikan di Kathmandu yang hancur,” kata Michael Hutt, profesor yang juga direktur Institut Asia Selatan di Soas, dan penulis buku tentang seni dan arsitektur lembah Kathmandu. Hutt mengatakan, dia berduka usai mengikuti berita-berita dan informasi di Twitter pada akhir pekan ini. “Foto pertama yang saya lihat adalah Kathmandu Durbar Square, dan kesan pertama saya adalah kehancuran total.” Dua candi pagoda paling mengesankan juga sudah hancur. Namun, karena lebih banyak gambar yang diposting online, beberapa candi dan kuil bersejarah bisa selamat dari bencana. Lembah Kathmandu memiliki tiga kota utama, Kathmandu, Patan, dan Bhaktapur. Masing-masing dibangun di kompleks istana abad pertengahan, masing-masing dengan alun-alun yang memiliki candi dan kuil. Hutt mengatakan, “Anda akan memiliki lapangan dengan 10 atau 12 struktur abad ke-17 ini, dan tiga atau empat dari bangunan tersebut runtuh sepenuhnya. Beberapa rusak parah atau retak penutup atas akan jatuh, tetapi beberapa tampaknya bertahan.” “Melihat gambar dari kompleks istana utama, ada beberapa bagian yang jatuh dan runtuh, tetapi sebagian besar selamat.” Terlalu dini menyebut sejauh apa kerugian, meskipun empat dari tujuh situs warisan dunia Unesco di lembah ini rusak parah. Meski demikian, para ahli berharap ada beberapa bangunan dapat dipulihkan, menunjuk Menara Dharahara yang direkonstruksi setelah gempa bumi pada 1833 dan 1934 yang lampau. Selain bangunan bersejarah, lembah Kathmandu juga kehilangan banyak perumahan abad pertengahan. Ini lebih sulit untuk menggantikannya. Orang-orang tidak ingin hidup di dalamnya, dan tidak ada orang pemerintah yang memerintah dilakukan konservasi. “Adalah hal biasa di lembah Kathmandu untuk melihat seseorang menghancurkan bangunan tua cantik dari kayu dan menggantikannya dengan beton raksasa. Ini akan mempercepat proses tersebut dan agak menyedihkan,” kata Hutt seperti dilansir dari laman Guardian. Bhaktapur mempertahankan banyak bangunan dari abad pertengahan. Kendati gempa menyebabkan kerusakan berat, beberapa bangunan penting tetap berdiri, termasuk salah satu dari dua candi berjenjang lima. Hutt berkata, Patan adalah istana dan lapangan paling spektakuler serta museum indah yang selamat dari bencana tersebut, meskipun beberapa kuil pagoda rubuh. Dia merasa lega, tidak banyak korban tewas di daerah tersebut. Kekhawatiran paling mendesak adalah krisis kemanusiaan. Akan ada penilaian, bangunan bersejarah apa yang hilang dan apa mereka bisa dibangun kembali. “Membangun kembali adalah tugas besar, dan akan dibutuhkan waktu cukup lama. Nepal tidak memiliki uang untuk melakukannya sendiri,” katanya. “Ini adalah tempat yang putus asa dalam politik, sangat rapuh, kurang sumber daya, dan sangat tergantung pada bantuan internasional. Sumber daya yang ada tidak untuk melakukan pekerjaan restorasi ini, dan mereka akan membutuhkan banyak bantuan.” Peter Stone, ketua Komite Nasional Inggris dari Blue Shield, lembaga warisan budaya setara dengan Palang Merah, mengatakan bahwa banyak rekan-rekan internasional berusaha mengkoordinasi rencana aksi menanggapi bencana, tapi terbukti sulit. “Masalah yang kita hadapi di Nepal adalah, kita tidak tahu apakah orang-orang tersebut masih hidup, kita tidak punya cara berhubungan dengan mereka secara cepat, dengan cara mudah.” Prioritas utama adalah pencarian dan penyelamatan.
×
×
  • Create New...