Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'Kartini'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

  • Ngobas Blog
  • Your World

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 5 results

  1. Baru-baru ini sebuah komunitas dangdut di Washington DC menggelar festival budaya yang menampilkan berbagai atraksi budaya, termasuk makanan khas Indonesia dan musik dangdut. Ikuti kemeriahan ajang temu kangen tahunan bernuansa semangat Kartini ini bersama tim VOA dari kota Silver Spring, Maryland.
  2. Pelancong menikmati keindahan alam bawah laut Karimunjawa, Kabupaten Jepara Pemerintah Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, masih mengandalkan obyek wisata bahari dalam menarik minat wisatawan, khususnya selama musim liburan sekolah maupun menjelang Lebaran 2015. Menurut Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jepara Mulyaji melalui Kabid Pariwisata Zamroni Lestiaza di Jepara, Selasa (5/5/2015), obyek wisata bahari yang ada di Jepara selama ini memang menjadi tulang punggung untuk menarik minat pengunjung, termasuk dalam hal mencapai target retribusi. Obyek wisara bahari yang menjadi andalan di Jepara, di antaranya Pantai Bandengan, Pantai Kartini, Pantai Benteng Protugis, dan Pulau Karimunjawa. Menghadapi libur sekolah dan jelang Lebaran, kata dia, tidak ada persiapan khusus, karena selama ini upaya perbaikan maupun penambahan sarana dan prasarana juga diupayakan setiap tahunnya. Untuk saat ini, lanjut dia, masing-masing obyek wisata yang menjadi andalan sudah terpenuhi sarana dan prasarananya. "Kalaupun ada penambahan, tentunya akan diupayakan lewat usulan penganggaran dengan mempertimbangkan ketersediaan anggaran," katanya. Upaya menarik minat wisatawan, lanjut dia, tidak hanya sekadar mempercantik masing-masing obyek wisata yang ada, melainkan ada upaya untuk melakukan promosi ke masyarakat. Dari sejumlah obyek wisata andalan tersebut, lanjut dia, ketika musim kupatan terdapat dua obyek wisata yang biasanya padat pengunjung, yakni Pantai Bandengan dan Pantai Kartini. Adapun target retibusi untuk semua objek wisata yang ada di Kabupaten Jepara selama 2015, kata dia, sebesar Rp1 miliar. "Kami optimistis target tersebut bisa terpenuhi, mengingat tahun lalu juga bisa memenuhi target karena terealisasi sebesar Rp1,1 miliar," katanya. Berdasarkan pengamatan, obyek wisata yang tingkat kunjungannya disesuaikan dengan cuaca, yakni Pantai Bandengan dan Karimunjawa. Khusus untuk Pantai Bandengan, mayoritas pengunjung ingin menikmati mandi di laut, sehingga ketika cuaca tidak mendukung pengunjung cenderung menurun, demikian halnya Karimunjawa juga disesuaikan dengan alat transportasi yang menyeberangkan karena ketika gelombang tinggi biasanya tidak beroperasi. Sementara Pantai Kartini masih bisa dinikmati, meskipun kondisi cuaca laut setempat sedang tidak mendukung.
  3. Wanita cantik asal Malang, Jawa Timur bernama Siti Muzainah (23) ini memang patut diacungi jempol. Jika biasanya turing motor hampir selalu didominasi oleh kaum Adam, sang biker rupawan tersebut justru berani bertaruh nyali menerjang panas dan dinginnya jalanan Malang-Jepara-Jakarta sendirian dengan motor Yamaha Byson pink kesayangannya. Dalam ekspedisi bertemakan 'Habis Gelap Terbitlah Terang' itu, Siti Muzainah yang lebih akrab dipanggil Mouzza Zee menempuh waktu perjalanan selama 15 hari mulai dari tanggal 10-24 April 2015, dengan jarak tempuh mencapai 3.000km. Zee memang paling suka dengan warna pink. Sebagai wanita petualang sejati, ia sama sekali tidak melepaskan corak favorit tersebut dari semua atribut turingnya. Mulai dari motor Yamaha Byson, laburan cat pink merata ke seluruh bagian bodi termasuk aksesoris gear Sinnob sekalipun. Bahkan jaket touring yang ia kenakan cukup mencolok dan senada dengan warna tunggangannya. Soal kemampuan menggeber motor, Zee tentu sudah tidak perlu diragukan lagi. Bukan kali ini saja ia mendapatkan pengalaman turing. Ia pernah menjadi salah satu peserta dalam turing Road Warrior yang digelar oleh sebuah media otomotif tahun 2014 silam dengan rute Jakarta-Padang. Ia bahkan juga sempat melakukan beberapa solo turing Lombok-Madura. Tujuan utama Mouzza Zee dalam melakukan turing ini merupakan ekspresi kebanggaannya sebagai wanita Indonesia, sekaligus bentuk motivasi bagi kaum hawa agar menjadi wanita tangguh seperti R.A Kartini. Selain itu, niat baik Zee juga dibarengi dengan kegiatan mulia untuk mempromosikan lokasi wisata dan kebudayaan dari berbagai daerah sepanjang rute ekspedisi yang ia lewati.
  4. Di Indonesia, tanggal 21 April merupakan hari yang sangat penting bagi wanita dan perempuan Indonesia. Sebab di hari itu wanita Indonesia memperingati Hari Kartini. Hari Kartini dianggap sebagai simbol perjuangan kaum wanita atas hak-haknya di bumi Indonesia. Perjuangan hak-hak wanita ini kemudian dikenal dengan istilah emansipasi wanita. Penetapan Hari Kartini sendiri dilakukan langsung oleh Presiden RI pertama Ir. Soekarno pada tanggal 2 Mei 1964 melalui Keputusan Presiden No.108. Tanggal 21 April dipilih karena pada hari itulah sosok pejuang hak kaum wanita, R.A Kartini lahir ke bumi Indonesia. Namun, banyak orang yang menyangsikan peran sesungguhnya R.A Kartini bagi kaum wanita Indonesia pada masa itu. Bahkan banyak orang meragukan proses pemilihan R.A Kartini sebagai Pahlawan Nasional. Fakta tentang Ibu Kita Kartini ( R.A. Kartini ) 1. Nama Panggilan R.A Kartini Nama asli Kartini adalah Raden Adjeng Kartini. Namun ia tidak suka dengan nama bangsawan yang disandangnya. Oleh sebab itu ia lebih suka dipanggil “Kartini” saja dibanding harus dipanggil Raden Ayu. Awalnya Raden Ayu adalah panggilan dari ayahnya kepada Kartini. Sejak pertama dipanggil dengan Raden Ayu, Kartini sudah merasa tidak nyaman dengan panggilan tersebut. Akhirnya ia mencari tahu apa itu arti Raden Ayu dan ia menganggap nama Raden Ayu bukanlah sesuatu yang pantas dibanggakan. 2. Nama Jalan di Belanda Entah apa hubungannya Kartini dengan Belanda. Namun yang pasti keduanya sepertinya memiliki hubungan yang cukup erat. Hal itu dibuktikan dengan adanya nama Kartini di beberapa jalan protokol di Negeri Belanda. Ada jalan dengan nama Kartini di Kota Armsterdam, Utrecth, Veerlo, dan Harleem. 3. Habis Gelap Terbitlah Terang Buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” dianggap merupakan karya fenomenal dari R.A Kartini. Namun, tahukah anda kalau sebenarnya R.A Kartini tidak pernah menulis buku tersebut. Adalah J.H. Abendannmenamai yang menyusun buku itu. Buku itu sebenarnya merupakan kumpulan surat R.A Kartini kepada temannya yang kemudian dikumpulkan oleh J.H.Abendanonmenamai. Buku itu diberi judul “Door Duisternis tot Licth” yang secara harfiah berarti Habis Gelap Terbitlah Terang. 4. Kontroversi R.A Kartini Sekalipun ia adalah tokoh Pahlawan Nasional, hal itu tidak membuat R.A Kartini sepi dari kontroversi. Banyak kalangan sejarawan yang meragukan keabsahan buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Mereka juga meragukan tentang jasa-jasa Kartini sehingga layak menjadi Pahlawan Nasional. Ada pula yang meragukan originalitas buku tersebut, karena tidak pernah ada orang lain yang melihat naskah asli surat-surat R.A Kartini selain J.H Abendonamenamai.
  5. Raden Adjeng Kartini atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini, (lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 – meninggal di Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904 pada umur 25 tahun) adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi. Raden Adjeng Kartini adalah seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Ia adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Ayah Kartini pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo. Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun. Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit. Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah. Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft, ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. Dari surat-suratnya tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan-catatan. Kadang-kadang Kartini menyebut salah satu karangan atau mengutip beberapa kalimat. Perhatiannya gak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tapi juga masalah sosial umum. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Di antara buku yang dibaca Kartini sebelum berumur 20, terdapat judul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli, yang pada November 1901 sudah dibacanya dua kali. Lalu De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Kemudian karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta de Witt yang sedang-sedang saja, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata). Semuanya berbahasa Belanda. Oleh orangtuanya, Kartini disuruh menikah dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka. Anak pertama dan sekaligus terakhirnya, RM Soesalit, lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini. Selamat Hari kartini, dan selalu tetap bersemangat untuk meningkatkan emansipasi dari kaum wanita! Buat para Ibu-Ibu Indonesia
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy