Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'ISIS'.



More search options

  • Pencarian Berdasarkan Tag

    Jenis tag dipisahkan dengan koma.
  • Pencarian Berdasarkan Penulis

Jenis Konten


Forum

  • NGOBAS ANSWERS
    • Pertanyaan Umum
  • MEDIA MUDA
    • Berita Muda
    • Muda Anonim
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • KEUANGAN
    • Bukan-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • GAYA HIDUP
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • TEMPAT ISTIRAHAT
    • LAPOR KOMANDAN

Blog

There are no results to display.

There are no results to display.

Categories

  • Topik Berita
  • Acara
    • Dokumentasi Event
  • Officer

Cari hasilnya di...

Cari hasilnya yang...


Tanggal Dibuat

  • Mulai

    End


Pembaruan Terakhir

  • Mulai

    End


Saring dari jumlah...

Joined

  • Mulai

    End


Group


Situs


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Minat

Ditemukan 68 results

  1. Direktur Wahid Foundation, Zanuba Ariffah Chafsoh (Yenny Wahid) mengatakan jumlah warga Indonesia yang terlibat menjadi pejuang Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) meningkat 60 persen. Awalnya WNI yang menjadi penjuang ISIS cuma 500 orang. Sekarang sudah 800 orang menjadi pejuang ISIS di Irak dan Suriah," kata Yenny di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Depok, Kamis, 16 Februari 2017. Menurut Yenny, bahkan dari hasil survei Wahid Foundation bersama Lingkar Survei Indonesia pada 2016 mengungkapkan 11 juta dari 150 juta penduduk muslim Indonesia siap melakukan tindakan radikal. Jumlah tersebut mencapai 7,7 persen dari total penduduk muslim Indonesia. Sedangkan, 600 ribu atau 0,4 persen penduduk muslim Indonesia pernah melakukan tindakan radikal. Adapun karakteristik kelompok radikal di Indonesia, kata Yenny, pada umumnya masih muda dan laki-laki. Mereka banyak mengkonsumsi informasi keagamaan yang berisi kecurigaan dan kebencian. Selain itu, mereka memahami ajaran agama secara literatur bahwa jihad sebagai perang dan dalam isu muamalah. Bahkan, kelompok yang terpapar radikalisme membenarkan serta mendukung tindakan dan gerakan radikal. "Mereka juga menentang pemenuhan hak-hak kewarganegaraan," katanya. Aktivis Islam Yenny Wahid (kiri), Terpidana kasus terorisme Umar Patek (3 kiri) dan mantan narapidana kasus terorisme Jumu Tuani (kanan) saat menjadi pembicara dalam seminar Resimen Mahasiswa Mahasurya Jawa Timur, di Hotel Savana, Malang, Jawa Timur 25 April 2016. TEMPO/Aris Novia Hidayat. Survei tersebut didesain menggunakan multi-stage random sampling dengan perkiraan margine of error 2,6 persen dan tingkat keyakinan 95 persen. Sampel terdiri dari 1.520 responden dari 34 provinsi di Indonesia. Responden adalah dari orang dewasa berusia setidaknya 17 tahun. "Pengumpulan data dilakukan di keempat Maret dan pekan ketiga April 2016," ujarnya. Dari survei tersebut 72 persen atau mayoritas muslim Indonesia menolak tindakan radikal. Namun, dari hasil survei tersebut mengungkapkan tantangan munculnya dan meningkatnya gerakan radikalisme yang perlu mendapatkan tanggapan serius baik dari pemerintah maupun masyarakat. "Aksi radikal di Indonesia mencakup pemberian dana atau materi sampai melakukan penyerangan terhadap rumah agama. Gejala ini patut mendapatkan perhatian, ungkapnya.
  2. Presiden AS Donald Trump hari Jumat (27/1) datang ke Pentagon, kantor Departemen Pertahanan AS, guna mengadakan pembicaraan dengan petinggi militer tentang pilihan-pilihan yang ada untuk mengalahkan Negara Islam ISIS. Menurut pejabat-pejabat Pentagon kepada VOA, di bawah pemerintahan lalu, hal ini tidak boleh dibicarakan. Misalnya, kata seorang pejabat Pentagon kepada VOA pemerintahan Obama berpegang pada dua prioritas yaitu membuat Turki puas dan ISIS dikalahkan. Di lain bagian, Pentagon berharap mendapat prioritas yang jelas dalam mengarahkan tindakan untuk mengalahkan ISIS. Satu pilihan untuk mengalahkan ISIS yang mungkin diusulkan kepada Trump ialah mempersenjatai atau memperkuat kelompok Kurdi-Suriah yang dikenal dengan singkatan YPG. Dukungan Amerika kepada kelompok ini menjadi peka, karena Turki yang anggota NATO menganggap kelompok ini kelompok teroris. Namun, pasukan Kurdi merupakan inti dari pasukan untuk merebut Raqqa dan sudah terbukti sangat efektif dalam mengalahkan ISIS di Suriah timur dan utara. Pentagon besar kemungkinan minta wewenang yang lebih luas dari Trump supaya para komandan militer mempunyai ruang lebih luas dalam manuver untuk mengalahkan ISIS. [www.voaindonesia.com]
  3. Guest

    Trumph Akan Berantas ISIS

    Presiden Donald Trump menegaskan tekad AS untuk menyingkirkan kelompok teroris ISIS. Presiden Trump menyampaikan pernyataan itu di depan para anggota intelijen di Markas CIA di Langley, Virginia.
  4. Pemimpin kelompok teroris Filipina yang telah berbaiat ke kelompok teroris ISIS tewas dalam operasi gabungan polisi di kota Kiamba, provinsi Sarangani. Mohammad Jaafar Maguid atau Tokboy yang tewas ditembak polisi pada Kamis dini hari, 5 Januari 2017 merupakan pemimpin kelompok Ansar al-Khilafah yang mendukung ISIS. "Dia tewas dalam operasi gabungan yang dipimpin oleh Badan Koordinasi Intelijen Nasional dan polisi," kata Hermogenes Espereon, penasihat Keamanan Nasional seperti dilansir dari Straits Time. Kepala Kepolisian Daerah Sarangani, Cedrick Train menjelaskan, Maguid diserang saat ia hendak meninggalkan resor pantai dengan mennggunakan sedan Toyota Wigo. Dia tewas di tempat, sementara tiga anak buahnya ditangkap. Polisi juga menyita barang-barang termasuk dua senapan serbu AR-15 dan granat. Maguid dilaporkan mendapatkan pelatihan oleh teroris Malaysia, Zulkifli bin Hir, yang juga dikenal sebagai Marwan yang dibunuh oleh polisi pada Januari 2015. Di bawah Maguid, Ansar al-Khilafah telah membangun jaringan dengan kelompok-kelompok militan di Indonesia terutama Mujihidin Indonesia Timur, yang dipimpin oleh Santoso, seorang Indonesia yang dilatih di Filipina. Santoso tewas ditembak aparat satuan tugas Tinombala pada pertengahan Juli 2016. Maguid, adalah mantan komandan Komando Pangkalan 105 dari Front Pembebasan Islam Moro (MILF), yang sekarang mengadakan pembicaraan damai dengan pemerintah untuk membentuk otonomi Muslim di kelompok pulau selatan yang dilanda perang di Mindanao. Maguid ditangkap pada 2009 atas tuduhan pembunuhan, pembakaran, dan perampokan. Dia melarikan diri penjara pada tahun 2010. Ansar al-Khilafah adalah salah satu dari segelintir kelompok ekstremis yang telah berjanji setia atau berbaiat kepada ISIS. Kelompok itu beberapa kali terdeteksi hendak melakukan seragan, termasuk pada pertemuan puncak APEC di Manila tahun 2015. Baru-baru ini mereka juga telah memberikan dukungan untuk kelompok Maute, yang bertanggung jawab atas pemboman sebuah pasar malam populer di kota Davao pada September lalu. Ledakan ini menewaskan 14 orang. Rencananya pelaku juga akan membom kedutaan besar AS di Manila.
  5. Kawasan Kompleks Pendidikan Cikokol, tepatnya di Jl Perintis Kemerdekaan Raya, Kota Tangerang digegerkan oleh aksi nekat seorang pria di sekitar Pos Lantas, Kamis (20/10). Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 07:30 WIB. Dalam peristiwa ini tiga anggota polisi terluka karena tusukan senjata tajam. Kapolres Metro Tangerang Komber Pol Irman Sugema menjelaskan, peristiwa ini bermula ketika pria misterius tersebut akan menempelkan sebuah stiker bertuliskan arab gundul warna hitam di Pos Polantas. Namun, aksi tersebut dicegah oleh seorang anggota polisiAipda Bambang, sehingga terjadi percekcokan. Tak lama berselang, pelaku menyerang korban menggunakan senjata tajam. Setelah melukai Aipda Bambang, pelaku langsung menyerang Aiptu Sukardi, yang juga terluka akibat tusukan pisau pelaku. Melihat dua anggotanya terluka, Kapolsek Kota TangerangKompol Effendi, langsung mendatangi pelaku dan terjadi perkelahian. "Kapolsek paling parah, karena sempat berkelahi dengan pelaku. Terkena tusuk pada bagian perut, sekarang dilarikan ke rumah sakit," ungkap Kombes Pol Irman Sugema. "Petugas sudah berupaya memberikan tembakan peringatan, tetapi tidak dihiraukan. Dilumpuhkan, dengan tembakan kaki dan perut," sambungnya. Saat ini petugas dari Polres Metro Tangerang sedang menunggu Tim Gegana Brimob, Polda Metro Jaya. Karena, dari tas pelaku polisi menemukan 3 buah benda yang diduga bom.
  6. ISIS di mana-mana dan Amerika harus lumpuh dengan rasa takut. ISIS adalah di Ferguson, mereka berada di Twitter, mereka berada di Irak dan Suriah, dan mereka menyeberangi perbatasan selatan dipertahankan kami. Mereka bisa membawa Ebola ke negara itu. Berhenti, berhenti, berhenti! Berikut adalah ungkapan yang saya ingin semua orang Amerika untuk menghafal dan melafalkan sering: ISIS Apakah Classic PSYOPS PSYOPS atau Psikologis Operasi: "operasi yang direncanakan untuk menyampaikan informasi yang dipilih dan indikator untuk penonton asing untuk mempengaruhi emosi mereka, motif, alasan obyektif, dan akhirnya perilaku pemerintah asing, organisasi, kelompok, dan individu Tujuan dari operasi psikologis untuk menginduksi. atau memperkuat sikap dan perilaku yang menguntungkan asing dengan tujuan pencetus ini juga disebut PSYOP Lihat juga operasi psikologis konsolidasi,.. damai terbuka program operasi psikologis, manajemen persepsi. Apa terletak Depan? ISIS, ciptaan CIA, sedang diperjuangkan baik sebagai perencana dan eksekutor dari serangkaian operasi bendera palsu yang dirancang untuk mengobarkan publik Amerika untuk menerima pergi ke Suriah. Apakah ini tidak hanya bau seperti pos 9/11 Amerika ketika kami menggunakan emosi acara untuk menjual orang-orang Amerika pada kebutuhan untuk menyerang Irak, yang tidak ada hubungannya dengan 9/11 serangan?
  7. As Iraqi and Kurdish forces close in on the Islamic State (IS) stronghold of Mosul, IS suicide bombers attacked the oil-rich city of Kirkuk.
  8. Kelompok ISIS mengklaim telah memenggal sejumlah pasukan pemberontak Suriah dari faksi Tentara Pembeban Suriah (FSA). Alasannya, FSA bekerjasama dan dididik CIA, Amerika Serikat, untuk menggulingkan rezim Suriah. Klaim kelompok Islamic State atau ISIS itu muncul dalam video yang dirilis hari Rabu. Kelompok yang menjalankan eksekusi terhadap para tentara FSA sejatinya kelompok “Wilayat Furat”. Namun, kelompok itu telah bersumpah setia kepada ISIS. Video eksekusi yang dirilis berdurasi 19 menit. Seorang anggota ISIS dengan menutup wajahnya mengeluarkan ancaman akan melakukan banyak eksekusi lagi. ”Setiap Muslim yang berpikir untuk bergabung kelompok yang didukung AS yang ingin menyingkirkan rezim (Presiden Suriah Bashar) Assad,” bunyi ancaman anggota ISIS itu, mengacu pada target yang akan akan dieksekusi selanjutnya. Kelompok itu mengatakan bahwa mereka ditangkap para pasukan FSA setelah bertempur di dekat Kota Al-Bukamal, perbatasan Suriah dengan Irak. “Kami memperkuat saudara-saudara kita di ISIS,” kata seorang militan kelompok itu di video, yang dikutip Al Arabiya, semalam (5/10/2016). FSA yang beranggotakan sekitar 60 ribu mantan tentara Suriah sudah lama berusaha menggulingkan rezim Assad. Beberapa anggotanya telah menerima pelatihan dari agen CIA.
  9. Dari mana ISIS mendapatkan dana operasional? Di antaranya dari hasil tebusan penculikan dan penyelundupan narkoba.
  10. Abu Muhammad al-Adnani adalah juru bicara, ahli strategi, dan salah satu pendiri ISIS. Pada akhir Agustus lalu ISIS mengatakan bahwa Adnani telah tewas di provinsi Aleppo. Rusia mengaku telah menewaskan Adnani setelah AS mengakui melakukan serangan yang menyasar Adnani tapi tidak mengkonfirmasikan kematiannya. Adnani adalah salah satu tokoh paling penting ISIS, yang kepalanya dihargai $5 juta (Rp65 milyar). "Serangan dekat al Bab, Suriah, telah menyingkirkan para pemimpin ISIS, kepala propaganda, perekrut, dan pemimpin operasi teroris eksternal," kata juru bicara Pentagon, Peter Cook. "Ini merupakan bagian dari serangkaian serangan yang sukses terhadap para pemimpin ISIS, termasuk mereka yang bertanggung jawab atas keuangan dan perencanaan militer, yang akan menyulitkan operasi kelompok ini." Rusia sebelumnya mengaku telah menewaskan Abu Muhammad al-Adnani. Serangan 30 Agustus itu dilakukan oleh pesawat tak berawak, yang menembakkan rudal terhadap mobil yang ditumpangi Adnani, katanya. Tidak jelas mengapa AS perlu dua pekan untuk mengkonfirmasi kematian Adnani ini. Rusia sebelumnya mengatakan Adnani adalah salah satu dari 40 militan yang tewas dalam serangan udara oleh jet-jet Su-34 di desa Umm Hawsh, utara dari Aleppo - klaim yang disebut pejabat Pentagon sebagai 'lelucon.' Adnani - yang juga juru bicara ISIS - "mati syahid saat mengawasi operasi untuk menangkal serangan militer terhadap Aleppo," kantor berita Amaq yang terkait ISIS memberitakan tanpa memberikan rincian tentang bagaimana dia tewas. Adnani lahir dengan nama Taha Sobhi Falaha di kota Banash, Suriah, pada tahun 1977, adalah salah satu pendiri ISIS. Pada bulan Juni 2014, ia menyatakan pembentukan kekhalifahan ISIS di bawah kepemimpinan Abu Bakr al-Baghdadi yang membentang di bagian Suriah dan Irak.
  11. Mantan pegawai badan intelijen Amerika Serikat, National Security Agency (NSA), serta juga sebagai mantan agen CIA, Edward Snowden, pembocor rahasia intelijen AS yang kini bermukim di Rusia mengungkapkan bahwa bahwa Islamic State of Irak and Syria (ISIS) bukan murni organisasi militan Islam. Organisasi ini merupakan bentukan kerjasama dari badan intelijen Inggris (MI6), Amerika (CIA) dan Israel (Mossad). Snowden mengatakan badan intelijen ketiga negara itu secara khusus menciptakan sebuah organisasi teroris yang mampu menarik semua ekstremis dunia untuk bergabung di suatu tempat, dengan menggunakan strategi yang disebut "the hornet's nest" atau sarang lebah. Menurut Snowden, dokumen NSA itu terlihat mengimplementasikan strategi sarang lebah untuk melindungi entitas Zionis dengan menciptakan slogan-slogan keagamaan dan Islam. Menurut media-media di Iran, sepeti dikutip Moroccantimes, pemimpin ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi dilatih secara khusus oleh badan intelijen Israel, Mossad. Badan intelijen tiga negara tersebut sengaja membentuk kelompok teroris untuk menarik kelompok-kelompok garis keras di seluruh dunia dalam satu tempat. Dengan strategi ini, kelompok-kelompok yang merupakan musuh Israel dan sekutunya itu jadi lebih mudah terdeteksi. Tujuan lainnya, untuk merawat instabilitas di negara-negara Arab. Menurut dokumen yang dirilis oleh Snowden, disebutkan juga, "Satu-satunya solusi untuk melindungi negara Yahudi adalah dengan menciptakan musuh di dekat perbatasannya ". Dokumen yang dibocorkan itu mengungkapkan bahwa pimpinan tertinggi ISIS yang juga seorang ulama, Abu Bakr al-Baghdadi telah dilatih secara militer yang intensif selama satu tahun di bawah kendali Mossad. Selain latihan militer dan pengorganisasiannya, dia juga dilatih dalam masalah teologi dan seni berbicara. Global Research, sebuah lembaga peneliti independen dari Canada menyebutkan bahwa seorang Rusia, pakar dalam studi oriental, Vyacheslav Matuzov, mengatakan pemimpin dari Negara Islam Irak dan Levant (ISIL) Abu Bakr al-Baghdadi memiliki hubungan sangat dekat dan terus bekerja sama dengan Badan Intelijen Pusat AS (CIA). Matuzov menyatakan, “All facts show that Al-Baghdadi is in contact with the CIA and during all the years that he was in prison (2004-2009) he has been collaborating with the CIA,” katanya di Suara Radio Rusia, Selasa, 8 Juli 2014. Dia mengatakan bahwa AS tidak perlu menggunakan drone untuk mengamati ISIL, karena sudah memiliki memiliki akses ke para pemimpin ISIL. Matuzov juga meyakini sejak komandan teroris merupakan sekutu AS, maka Washington tidak akan memerangi mereka. Mereka adalah bagian dari rencana besar dari AS, tegas Mantuzov. Dalam penelitiannya, menurut Global Research bahwa ISIL adalah kelompok ekstremis Takfiri yang awalnya adalah para pemberontak yang berjuang melawan invasi pimpinan AS ke Irak pada tahun 2006. Kemudian ISIL sejak Tahun 2012 berkembang menjadi lebih besar di Suriah. Kelompok ini dikenal bertanggung jawab atas pembunuhan massal dan tindakan ekstremis kekerasan di seluruh Suriah dan Irak. Dalam catatan Global Reserarch, pemimpin ISIL adalah Abu Bakr Al-Baghdadi, yang pernah menjadi seorang tahanan di penjara milik AS Bucca pada tahun 2004, kemudian dilepaskan pada tahun 2009 dan mengumumkan dirinya sebagai khalifah dari negara Islam. Beberapa informasi menyebutkan bahwa pejuang suku Kurdi mengungkapkan bahwa mereka telah menemukan bahan makanan kemasan buatan Israel di tempat persembunyian ISIL di Mosul dan kota Kirkuk. Beberapa laporan pengamat militer juga menyebutkan bahwa rumah sakit milik Israel telah merawat militan ISIL yang terluka dalam pertempuran. Bahkan Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu juga telah melakukan kunjungan ke rumah sakit lapangan yang didirikan oleh otoritas Israel di wilayah Suriah yang diduduki ISIL untuk mengobati pemberontak yang luka akibat bertempur dengan pasukan Suriah. Informasi lain yang memperkuat adanya kaitan antara kelompok ISIL (ISIS) dengan badan intelijen AS, disampaikan oleh pejabat Yordania, bahwa anggota ISI telah dilatih disebuah markas rahasia di Yordania oleh instruktur dari Amerika Serikat. Pada minggu pertama bulan Juni 2014 mingguan Jerman Der Spiegel menulis bahwa militer AS telah melatih pemberontak Suriah di Yordania. Latihan di Yordania dilaporkan terutama pada penggunaan senjata anti-tank. Majalah Jerman itu melaporkan sebelumnya sekitar 200 orang pemberontak telah menerima pelatihan selama tiga bulan. Harian Inggris Guardian juga melaporkan bahwa AS pada bulan Maret membantu pelatihan militer kepada pemberontak Suriah di Yordania bersama dengan instruktur Inggris dan Perancis. Reuters melaporkan juru bicara Departemen Pertahanan AS menolak berkomentar langsung pada laporan majalah Jerman itu. Kementerian luar negeri Prancis dan kementerian luar negeri dan pertahanan Inggris juga tidak mau berkomentar kepada Reuters. Kontroversi info intelijen Abu Bakr al-Baghdadi Abu Bakr al-Baghdadi dalam rangka upaya klaim sebagai keturunan Nabi Muhammad, melengkapi namanya menjadi Abu Bakr Al-Baghdadi Al-Hussein Al-Qurashi. Setelah AS melakukan Invasi ke Irak pada tahun 2003, al-Baghdadi membantu mendirikan kelompok militan, Jamaat Jaysh Ahl al-Sunnah wal-Jamaah (JJASJ), di mana ia menjabat sebagai kepala Komite penilaian kelompok. Menurut catatan Departemen Pertahanan AS, Bakr al-Baghdadi kemudian ditangkap oleh pasukan AS dan ditahan di Camp Bucca diobawah kontrol pasukan AS dari awal Februari 2004 hingga awal Desember 2004. Dari catatan yang ada, al-Baghdadi setelah itu tidak pernah ditahan lagi (Wiki). Camp Bucca adalah fasilitas penahanan militer AS di dekat Umm Qasr, Irak. James Skylar Gerrond, mantan pasukan keamanan perwira Angkatan Udara AS dan seorang komandan di Camp Bucca pada tahun 2006 dan 2007, mengatakan awal bulan Juli 2014 bahwa tempat tahanan itu untuk "menciptakan pressure cooker untuk ekstremisme." Selain itu, Dr Kevin Barrett mengatakan, “Circumstantial evidence suggests that al-Baghdadi may have been mind-controlled while held prisoner by the US military in Iraq.” Al -Baghdadi dan kelompoknya bergabung dengan Mujahidin Shura Council (MSC) pada tahun 2006, di mana ia menjabat sebagai anggota Komite hukum MSC. Setelah mengubah nama MSC sebagai Negara Islam Irak (ISI) pada tahun 2006, al-Baghdadi Menjadi pengawas umum Komite penghakiman ISI dan anggota dari kelompok Dewan Konsultatif senior. Negara Islam Irak (ISI) juga dikenal sebagai Al-Qaeda di Irak atau AQI-Irak, bagian dari organisasi militan Islam internasional Al-Qaeda. Al-Baghdadi diumumkan sebagai pemimpin ISI pada tanggal 16 Mei 2010, setelah tewasnya pendahulunya Abu Omar al-Baghdadi dalam serangan bulan April. Antara Maret dan April 2011, ISI mengklaim 23 serangan di selatan Baghdad, semua menuduh telah dilakukan di bawah komando al-Baghdadi. Setelah serangan pasukan AS, Navy SEALs X-Team pada tanggal 2 Mei 2011 di Abbottabad, Pakistan yang menewaskan pemimpin tertinggi Al-Qaeda Osama bin Laden, al-Baghdadi merilis pernyataan memuja Osama bin Laden dan mengancam akan melakukan pembalasan atas kematiannya. Pada 15 Agustus 2011, gelombang serangan bunuh diri ISI dimulai di Mosul yang mengakibatkan 70 orang tewas. Tak lama kemudian, ISI berjanji pada situs web untuk melakukan 100 serangan di seluruh Irak sebagai pembalasan atas kematian bin Laden. Baghdadi menyatakan bahwa kampanye ini akan menampilkan berbagai metode serangan, termasuk razia, serangan bunuh diri, bom pinggir jalan dan serangan senjata ringan, di semua kota dan daerah pedesaan di seluruh negeri. ISI terus melakukan teror di Irak. Pada 8 April 2013, al-Baghdadi mengumumkan pembentukan Negara Islam Irak dan Levant (ISIL) yang diterjemahkan dari bahasa Arab sebagai Islamic State of Iraq and Syria. Sebagai pemimpin ISIS, al-Baghdadi menjalankan dan memimpin semua aktivitas ISIS di Irak dan Suriah. ISIS kemudian terlibat konflik dengan Jabhat al-Nusra (Al-Nusra Front) yang diketahui sebagai perwakilan Al-Qaeda di Suriah. Ketika mengumumkan pembentukan ISIS, al-Baghdadi menyatakan bahwa faksi jihad perang saudara Suriah, Jabhat al-Nusra juga dikenal sebagai Al-Nusra Front adalah bagian dari ISIS. Pemimpin Jabhat al-Nusra, Abu Mohammad al-Jawlani, mengajukan keberatan ke Emir Al-Qaeda, Ayman al-Zawahiri, yang kemudian mengeluarkan pernyataan agar ISIS harus membatasi operasinya hanya di Irak dan keluar dari Suriah. Pada bulan Januari 2014 Al-Nusra berhasil menmaksa ISIS keluar dari kota Raqqa, pada bulan Februari 2014 Al-Qaeda memutuskan hubungan dengan ISIS. Tetapi ISIS dengan berani menentang seruan Al-Qaeda tersebut. Pada tanggal 29 Juni 2014, ISIS mengumumkan pembentukan khilafah, al-Baghdadi meresmikan dirinya sebagai Khalifah, dikenal sebagai Khalifah Ibrahim, dan ISIL (ISIS) berganti nama menjadi Islamic State (Negara Islam). Deklarasinya itu banyak dikritik oleh pemerintahan negara-negara dan kerajaan di Timur Tengah serta kelompok-kelompok jihad lainnya, serta juga oleh para teolog Muslim Sunni dan sejarawan. Yusuf al-Qaradawi, seorang pengajar terkemuka yang tinggal di Qatar menyatakan: "Deklarasi yang dikeluarkan oleh Islamic State itu tidak sah menurut hukum dan memiliki konsekuensi yang berbahaya bagi Sunni di Irak dan pemberontakan di Suriah." Dia menambahkan bahwa gelar Khalifah "hanya dapat diberikan oleh seluruh bangsa dan kaum muslim di dunia, bukan oleh satu kelompok." Al-Baghdadi sebagai khalifah menyatakan mendesak umat Islam di seluruh dunia untuk pindah dan bergabung ke Negara Islam baru itu. Catatan khusus : Pada tanggal 4 Oktober 2011, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat memasukan Abu Bakr al-Baghdadi sebagai teroris global yang khusus dicari dan mengumumkan hadiah hingga US $ 10 juta untuk informasi yang mengarah pada penangkapannya atau kematiannya. Dalam pemberian hadiah besar lainnya bagi kalangan teroris, hanya Ayman al-Zawahiri, pimpinan tertinggi Al-Qaeda yang tercatat lebih tinggi dihargai kepalanya yaitu US $ 25 juta. Analisis Dari beberapa fakta diatas, terlihat adanya perbedaan informasi penahanan pimpinan ISIS Abu Bakr al-Baghdadi yang kini mengangkat dirinya menjadi Khafilah Negara Islam. Pakar dari Rusia dalam studi oriental, Vyacheslav Matuzov menyatakan Baghdadi telah ditahan di AS selama empat tahun dan kemudian dilepas dan menjadi agen CIA. Sementara informasi lain (Wiki) menyebutkan referensi Departemen Pertahanan AS menyatakan al-Baghdadi hanya ditahan selama 10 bulan di penjara (Camp Bucca) dari bulan Februari-Desember 2004. Nampaknya informasi Matuzov tidak akurat, karena sejak 2006 Baghdadi diketahui kembali aktif di kawasan Irak. Tetapi nampaknya ada kemungkinan pada tahun 2005 selama setahun Al-Baghdadi menghilang, dia sedang menjalani latihan di Yordania dibawah pelatih dari Mossad, karena Baghdadi baru diberitakan muncul dan aktif pada 2006 bergabung pada Mujahidin Shura Council (MSC). Baghdadi kemudian mengubah nama MSC menjadi Negara Islam Irak (ISI), dan pada 16 Mei 2010 dia menjadi pimpinan tertinggi. Selama aktif di ISI diketahui Baghdadi ikut beroperasi sebagai organisasi militant Al-Qaeda di Irak atau AQI-Irak. Kiprah al-Baghdadi kemudian mulai bersinar setelah ISIS melebarkan sayap ke Suriah dan melakukan serangan bom bunuh diri di Mosul pada 15 Agustus 2011. ISIS dibawah kepemimpinan Abu Bakr al-Baghdadi kemudian terus melakukan serangan bom bunuh diri di Irak dan Baghdadi mengeluarkan pernyataan akan membalas kematian Osama bin Laden yang ditembak mati Pasukan Khusus AS Navy SEALs pada 2 Mei 2011. Nah, pada tanggal 4 Oktober 2011 itu, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengumumkan memasukkan nama Baghdadi sebagai teroris global yang namanya dicari dan kepalanya dihargai US $ 10 juta. Pengumuman ini yang sangat menarik perhatian, karena seperti dikatakan oleh pakar Rusia Matuzov, Baghdadi adalah agen binaan CIA yang dilatih oleh Mossad. Apakah ini merupakan upaya pengamanan agen seperti yang biasanya dilakukan badan intelijen? Biasa disebut sebagai upaya desepsi pengamanan agen agar tidak terbaca oleh counter intelligence lawan. Kiprah al-Baghdadi kemudian semakin menjadi-jadi. Pembentukan ISIS (ISIL) pada 8 April 2013 semakin menunjukkan kepercayaan diri dan anak buahnya. Dikabarkan di daerah operasi Suriah, sebagian besar milisi asing kemudian bergabung ke ISIS. Al-Baghdadi tidak perduli, siapapun yang dianggap bertentangan akan diserangnya. ISIS ini telah mendapatkan reputasi untuk aturan brutal di daerah yang dikendalikannya. Semua diatur dengan hukum syariat Islam yang sangat keras, mereka yang beragama selain Islam dipaksa masuk Islam atau membayar pajak, dan apabila menolak akan dipenggal kepalanya. Konflik ISIS dengan pemerintahan negara-negara di Timur Tengah semakin menjadi-jadi terutama setelah dia mengumumkan Negara Islam versi Baghdadi, dimana dia menjadi Khalifah pada tanggal 29 Juni 2014. Al-Baghdadi mendesak umat Islam di seluruh dunia untuk pindah dan bergabung dengannya. Kini, Islamic State bentukan Al-Baghdadi semakin kuat, mempunyai ribuan pasukan bersenjata, memiliki peralatan perang hasil rampasan dari pasukan Irak di Mosul. Dengan idenya membentuk negara Islam yang menerapkan syariat Islam dengan keras, disatu pihak dia tidak disukai, tetapi dilain pihak dia dipuja. Sebagai contoh, di Indonesia ada kelompok yang melakukan ba'iat kepada al-Baghdadi tidak peduli apa yang dilakukannya dan dimanapun dia berada, yang penting kata mereka, ada tokoh yang menyuarakan negara Islam dan telah membuktikan keberhasilan langkah militernya untuk menguasai sebuah negara. Jadi memang benar, ISIS bukanlah aliran agama yang berisi ajaran teologi dan ritual keagamaan. ISIS atau faham Islamic State Baghdadi adalah gerakan politik yang bisa mengancam kedaulatan dan konstitusi. ISIS termasuk dalam kategori gerakan transnasional politik agama. Itulah sebabnya organisasi ini dinilai sangat berbahaya apabila terbentuk dan kemudian membesar. Tujuannya apabila berkembang di Indonesia hanya satu, yaitu akan merebut dan mengubah dasar negara Pancasila dan UUD 1945. Nah, kini yang menjadi pertanyaan, apakah memang ISIS dan Abu Bakr al-Baghdadi adalah bentukan tiga badan intelijen dari tiga negara? Memang bisa diakui bahwa keberadaan ISIS yang kemudian berkembang menjadi IS (Islamic State) telah menimbulkan konflik kepelbagai pejuru. al-Baghdadi telah menabrak semua pihak yang bertikai, dan ada satu dimana dia tidak terlibat, yaitu dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Disinilah point penting, pada masa mendatang kita akan melihat apakah mereka justru merupakan bemper dari Israel? Kesimpulannya, antara politik dan intelijen memang merupakan dua komponen intelijen strategis yang sangat erat kaitannya di wilayah konflik Timur Tengah itu. Kini si principle agent memasukkan komponen sosial sebagai bumbu penyedap dan komponen militer sebagai unsur penekan dan diplomasi. Kita harus siap jangan sampai kemasukan atau terjadi infiltrasi komponen militer, karena komponen sosial politik sudah mulai melakukan infiltrasi kedalam negeri. Walau target ISI pada awalnya hanya untuk menimbulkan gelombang kejut serta penciptaan instabilitas di kawasan Timur Tengah, penulis agak khawatir al-Baghdadi akan menjadi bola liar memantul ke pejuru dunia. Indonesia mereka pasti ketahui masih banyak kaum muslim yang tidak faham apabila dimanfaatkan untuk sebuah kepentingan politik sepihak. Banyak pasti yang akan terkejut dan kecewa apabila memang benar informasi Snowden itu, ISIS juga buatan Mossad yang dibuat untuk melindungi Israel. Disinilah intelijen dan aparat keamanan sebaiknya mewaspadainya, karena faham ini sudah merembes lebih dari empat bulan tanpa adanya langkah counter yang pasti dan tegas. Kata teman penulis, "untung ada video Youtube itu, kita jadi tersadar."
  12. Warga Suriah menginspeksi kerusakan setelah dua bom meledak di kota Qamishli Paling sedikit 31 orang tewas dan puluhan lainnya cidera di Qamishli, sebuah kota di Suriah timurlaut, setelah dua bom meledak dekat perbatasan Turki, Rabu 27 Juli 2016. Kelompok Pengamat HAM Suriah yang berbasis di Inggris mengatakan, salah satu serangan bom mobil itu ditujukan untuk menarget sebuah gedung pemerintah yang menjadi markas besar keamanan pemerintah Kurdi yang mengontrol Qamishli dan kawasan sekitarnya. Termasuk korban cedera dalam insiden itu. Beberapa anggota keluarganya juga terluka. Rumahnya yang terletak dekat lokasi pemboman hancur sepenuhnya. Kelompok ISIS mengaku bertanggung jawab atas serangan itu melalui sebuah pernyataan di situs berita Aamaq yang mengungkapkan bahwa serangan itu menarget pasukan keamanan Kurdi. ISIS sedang memerangi pasukan pertahanan rakyat Kurdi yang juga dikenal sebagai milisi YPG dan telah melakukan serangan-serangan bom serupa di kawasan itu pada masa lalu. Sebuah bom bunuh diri menewaskan enam anggota pasukan keamanan internal Kurdi, yang disebut Asayish, April lalu. Pada Juli, seorang anggota ISIS meledakkan dirinya di Hasaka dan menewaskan sedikitnya 16 orang. [www.voaindonesia.com]
  13. Kejadian penembakan pada salah satu klub di Orlando membuat banyak orang patah hati. Banyak yang tidak menyangka, kejadian yang dikira hanya terjadi di film, dapat juga terjadi di kehidupan nyata, tepatnya di kota Orlando. Begitu juga dengan seorang ibu bernama Mina Justice, sudah berjam-jam sejak Mina Justice mendapat kabar terakhir dari Eddie, anaknya yang berumur 30 tahun. Terakhir, putranya memberi kabar kepada Mina jam 2.06 subuh, mengatakan "Ibu, aku mencintaimu". Berikut pesan anaknya Tak lama setelah itu, Eddie mengirim pesan kembali, mengatakan ada penembak di klub yang ia datangi. Ia menyuruh ibunya untuk menelepon polisi Orlando, dan mengatakan ia bersembunyi di kamar mandi dengan orang lain. "Ia datang" tulisnya, "Aku akan mati". Pesan berikutnya tertulis: "Ia menangkap kami, dia disini bersama kami" Ungkap Mina, saat diwawancara oleh The Associated Press. "Itu percakapan terakhir" Jelas Mina saat menguraikan kejadian TragediOrlando. Penembakan dini hari itu terjadi di klub malam Pulse, Orlando, yang di situsnya tertulis sebagai "Orlando Premier Gay Night Club". Pihak berwenang menyatakan setidaknya 50 orang tewas dan 53 lainnya terluka. Tragedi Orlando ini dinilai serangan teror paling mematikan kedua setelah peristiwa 11 September 2011 dalam sejarah AS. Seorang ibu lain bernama Christine Leinonen, juga sangat khawatir saat belum mendengar kabar dari anaknya Christopher, yang berada di dalam klub pada saat penembakan. "Tolong, agar kita semua mencoba untuk menyingkirkan kebencian dan kekerasan," katanya sembari menangis terisak-isak, dalam sebuah wawancara dengan ABC News. Leinonen kemudian mengatakan kepada ABC News bahwa dia menerima konfirmasi bahwa anaknya adalah salah satu korban yang telah mati. Penyelidik telah mengidentifikasi penembak bernama Omar Mateen dari St. Lucie County, Florida, seorang warga negara AS dengan orang tua berdarah Afghanistan. Pendukung ISIS telah memuji pembantaian tersebut secara online. Dari pihak ISIS juga telah mengaku bahwa penembak tersebut adalah salah satu "pejuang" mereka. FBI mengatakan bahwa Omar telah mempersiapkan penyerangan ini dengan sangat teratur dan terencana. Sebenarnya, Omar sendiri telah di bawah pengawasan petugas, namun tidak sebagai target investigasi. Awalnya, petugas polisi yang bekerja di klub malam tersebut telah melakukan baku tembak dengan Omar di luar gedung jam 02:02 pagi. Lalu kemudian Omar masuk ke klub, di mana ada sekitar 320 orang di dalam, dan melepaskan tembakan. Tak lama Omar mulai mengambil sandera, ia membawa senapan serbu, pistol, dan beberapa jenis perangkat lainnya. Berita penembakan di sebuah klub Orlando segera menyebar setelah pukul 2 pagi. Setelah klub malam Pulse mengunggah pesan "Semua orang keluar dari pulsa dan segera berlari." di halaman Facebook-nya, Polisi Orlando mengikuti dengan mengirim pesan di Twitter "Penembakan terjadi pada klub malam Pulse di S Orange. Banyak yang cedera. Hindari area ini." Tim SWAT masuk untuk menyelamatkan para sandera pada sekitar pukul 5 pagi. Penembak tewas dalam baku tembak dengan petugas, jelas salah satu juru bicara FBI. Kemudian, pada pukul 5:53 polisi Orlando menulis di Twitter, "Penembak dalam klub malam sudah mati".
  14. Kaum muda Nahdaltul Ulama Indonesia aktif di dunia cyber melawan propaganda kebencian yang disebarkan ISIS.
  15. Jejaring sosial Facebook dijadikan wadah penjualan senjata api oleh para teroris di negara-negara ISIS. Sebuah penelitian anyar memaparkan, "pasar senjata" secara online dirancang ke dalam grup Facebook yang diatur agar hanya anggotanya saja yang bisa mengakses, alias 'grup terlarang'. Diketahui penelitian ini berdasarkan data melalui studi pada penjualan senjata di media sosial di Libya yang dilakukan perusahaan konsultan Armament Research Services, serta laporan New York Times di Suriah, Irak, dan Yaman. Di grup Facebook tersebut, mereka menjual barang mulai dari pistol, granat, hingga senapan mesin berat, rudal, dan peluru kendali. Senjata-senjata yang didistribuskan oleh Amerika Serikat kepada pasukan keamanan dan kelompok pemberontak pun tersedia di Facebook. Di Libya sejak 2014 terdapat 94 aksi pemindahan ilegal rudal, peluncur granat, roket, dan beragam senapan melalui grup Facebook. Sementara di Irak ada sejumlah grup gelap Facebook yang menjual kembali berbagai senjata yang aslinya disediakan oleh Pentagon untuk pemerintah negara setempat. Ragam senjata tersebut terdiri dari senapan, senapa serbu, dan pistol yang kemungkinan masih memiliki stiker khusus. Hal serupa juga terjadi di Suriah. Ada satu sampel penjual di Facebook menyediakan nomor teleponnya yang terhubung ke aplikasi WhatsApp. Penjual ini menggunakan dua layanan -- Facebook dan WhatsApp -- untuk menjual sistem anti-tank missile (ATM) yang tipenya sama dengan apa yang disediakan AS untuk kelompok pemberontak. Saat si pelaku ditanya oleh New York Times, ia mengklaim telah menjual peluncur rudal dan tidak ingat berapa harga yang dipatok. Satu hal yang pasti, penjualan senjata adalah aksi yang melanggar kebijakan Facebook yang dibentuk pada Januari. Meski telah menambah fitur e-commerce dan sistem pembayaran pada aplikasi Messenger, juru bicara Facebook menekankan bahwa "perusahaan secara jelas menyatakan, tidak ada ada situs yang mau memfasilitasi penjualan tertutup senjata api." Mengutip Digital Trends, sejak penelitian ini berlangsung, sekitar enam sampai tujuh sampel grup gelap Facebook yang mengoperasikan penjualan ilegal senjata telah diblokir.
  16. Background The Islamic State (IS), also known as the Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) or the Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL) is a brutal Sunni Muslim terror organization that gained traction and came to prominence in 2012-2014 during and after Syria's civil war. ISIS had close ties with Al-Qaeda until early 2014 and have made direct threats against the United States and Britain, including beheading US journalists James Foley and Steven Sotloff and British aid worker David Cawthorne Haines. ISIS poses a direct threat to international safety and security, as they are the largest in land control and fighting size, and wealthiest terrorist organization in history. ISIS now controls more territory and resources than any terrorist organization that has ever existed. The leader of ISIS is Abu Bakr al-Baghdadi. ISIS claims authority over all Muslims in the world and seeks to establish a Caliphate, bringing all of the Muslim inhabited regions of the world under their control. They are an extremist group who adhere to hard-line jihadist ideology, taking influence from other groups including the grandfather of all modern terror organizations, the Muslim Brotherhood. Those who do not agree with their radical ideas about the world (including fellow moderate Muslims) are subject to barbarism, torture, and murder at their hands and are labelled as infidels. According to ISIS fighters their ideology represents "pure Islam" and embraces the very roots of the religion, shunning later changes made. Their goal is to establish a Caliphate and a "pure Islamic state", encompassing much of the Middle East. The group is the richest terrorist group in history, with assets totalling over $2 billion. An analysis into where ISIS funds come from undertaken by the RAND Corporation in 2014 found that the vast majority of ISIS money comes from within Iraq, with only 5% coming from outside sources. They raise funds by imposing taxes on the citizens of the towns they capture, abducting people and collecting ransoms, extortion rackets, intercepting aid meant for the suffering Syrian and Iraqi people, and pillaging. A report released by IHS in December 2015 detailed the various funding sources that ISIS uses, and concluded that they take in an estimated $80 million per month. Half of their income comes from various taxes levied on people living in the areas under their control and an estimated 40% of their income comes from oil sales. ISIS looted $429 million from Mosul's central bank after capturing the city, and also took gold and other valuables from other banks and deposit boxes. The Islamic State also holds control over oil and natural gas fields, and it is estimated that they make over $2 million per day from black market oil sales. According to workers at Syrian oil refineries operated by the ISIS militants, $1 million of oil per day was smuggled out of Syria in water tankers and fire trucks alone. Experts predict that if they continue to seize more Syrian old fields, they could eventually be raking in $100 million per month. The U.S. led bombing campaign against the Islamic State slowed their oil revenue, as the oil refineries were attacked from above. The United States upped the bombing campaign against ISIS oil refineries and tankers in November 2015, using bank records to assess which oil refineries were generating revenue for the terrorist organization. In addition to this oil revenue, the Islamic State makes millions of dollars in the black market trade of archaeological items. Items sold by ISIS have made their way from Iraq and Syria to auction houses in Europe, the United States, and Asia. Ancient artifacts are notiriously hard to track because they often change hands multiple times, are smuggled across borders, and often come with false or unidentifiable paperwork. From 2011 to 2013 US imports of art, artifacts, and collectibles from the Middle East jumped 86% according to the US International Trade Commission. Experts say that an increase such as this in a time of conflict surely means that most of these imports are illegal items. ISIS keeps records of it's finances like a well-run business and began to release yearly reports in 2012. Illegal immigration also provides millions of dollars per year in revenue for the Islamic State. Smuggling migrants from Africa to the Middle East and Europe is a lucrative business for individuals affiliated with ISIS in Libya and other African countries. The refugees pay thousands of dollars to have the opportunity to cross the Mediterranean sea to Europe, and a good portion of these funds go towards funding terrorist activities. Individuals who are looking to escape their brutal African countries and make their way to Europe often have to pay multiple militant organizations protection and transport fees along the way, and these militant groups as a general statement often extort and exploit these refugees. The border surveilance organization of the European Union, Frontex, published a report on migrant smuggling and the Islamic State in May 2015,which stated that ,“The value of this trade dwarfs any existing trafficking and smuggling businesses in the region, and has particularly strengthened groups with a terrorist agenda, including the Islamic State. This growing business now provides what is possibly the largest and most easily accessible threat finance opportunity for both organized crime networks and armed groups to purchase arms, establish larger and more regular armies, and demand taxation.” (Time, May 13, 2015) The Islamic State learned from their terrorist predecessors, improving on the financial methods of Al-Qaeda and the Muslim Brotherhood and making their finances less vulnerable. The United States has successfully attacked the funding sources of terrorist organizations before, targetting foreign individuals who supply the money to the organizations and the banks who hold and move it. The Islamic State is different however, recieving only 5% of their funds from outside sources, with the vast majority of their funds coming from within Iraq. The United States plan to degrade the financing of the Islamic State is hampered by their unorthodox financing methods. The Islamic State's financing is not reliant on the formal financial system, which makes it difficult to target banks that they deal with. The Islamic State deals almost strictly in cash and most of their financing comes from black market oil sales, kidnapping, dealing stolen antiquities, extortion, illegal taxation, and drugs. The United States is worried about the greater financial impact on the areas civilian population if they take drastic actions against banks that may be funding the Islamic State. According to US Treasury Department anti-terrorism finance chief David Cohen, "Our interest is not in shutting down all the economic activity in the areas where ISIL normally operates. They are subjugating huge swaths of the population, millions of people, who are still trying to live their lives. And banks, as everybody knows, are important lubricants for the economy." (Foreign Policy, November 12 2014) Most money flowing through the Islamic State is done through third party money exchange officers, who transfer large sums of money around the country and then smuggle banknotes through warzones to the office that paid out the sum. Conventional banks and development agencies believe that more than half of all trade and money-transfer business in Iraq is done through these third-party, non-affiliated money transfer services. These money transfer services “move the wheels of Iraq's economy,” according to a former Iraqi politician. According to a report released by the CIA on September 11, 2014, the Islamic State has between 20,000 and 31,500 fighters spread throughout the region. This is significantly higher than the previous estimates which had placed the Islamic State military might at about 10,000 fighters. The Islamic State experienced some battlefield successes in mid 2014 which bolstered it's credibility and therefore recruitment ability, and caused their numbers to drastically inflate over a short period of time. Despite airstrikes levied by coalition forces against the Islamic State during late 2014 and 2015, it was revealed in August 2015 that the Islamic State's recruiting efforts had effectively offset their battle casualties. As of an August 2015 assessment provided by U.S. government officials, the Islamic State still boasts a fighting force of 20,000-31,500 fighters. Defense Secretary Chuck Hagel reffered to the Islamic State as "an iminent threat to every interest we have, whether it's in Iraq or anywhere else" and claimed that the Islamic State is "beyond anything we have ever seen". The poor, unneducated Islamic State fighters are lured in by promises of glorious battle and well paying jobs, but they rarely receive what they expect. During 2014 and 2015 an Islamic State soldier could expect to make anywhere from $400-$1,200 per month. In January 2016 however, following a change in strategy by allied forces begining to focus on attacking the financial infrastructure of the group, Islamic State leaders issued an announcement that pay for all fighters was to be cut in half regardless of position or rank. The fighters have seized firearms, ammo, military artillery and vehicles from multiple places including from weapons stockpiles around Iraq left over from Sadam Hussein's regime, and from air bases they have captured. The ISIS fighters have also seized nuclear material from Mosul University, but these materials are apparently low-grade and cannot be weaponized in any dangerous fashion according to an IAEAspokesperson. According to Abu Yusaf, a high-ranking Islamic State commander, "When the Iraqi Army fled from Mosul and the other areas, they left behind all the good equipment the Americans had given them." (The Washington Post, August 18 2014). In early March 2016 Islamic State militants siezed the Mahin arms depot, claiming hundreds of guns, 30 tanks, multiple cars and trucks, 2 million rounds of ammunition, 9,000 grenades, and hundreds of anti-tank guided missiles as their own. This was the largest weapons depot capture in Syrian history. As the Islamic State continued their conquest across the Middle East, they desecrated and ruined many historical and culturally significant sites in their way. The United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) met in December 2014 in France to formulate a plan to save the significant cultural and historical sites from the hands of ISIS. The sites in danger include Ezekiel's tomb outside of Baghdad, Daniel's tomb in Mosul, Nahum's tomb near the city of Kush, and many other ancient Jewish heritage sites all over Syria and Iraq. The Director-General of UNESCO Irina Bokova stated that "Islamic, Christian, Kurdish and Jewish heritage … is being intentionally destroyed or attacked in what is clearly a form of cultural cleansing." (Israel Hayom, December 1 2014) According to the UN High Commissioner for Refugees, more than 13 million people have been displaced by the Islamic State's campaign of terror as of November 2014. The situation is being referred to as a "mega-crisis" by international aid and human rights organizations. Due to this conflict, the total number of refugees in the world currently stands at over 50 million, the largest number since World War II. A United Nations report released on October 2, 2014 contained evidence that militants from the Islamic State had been carrying crimes against humanity and war crimes on a massive scale. These egregious offenses included carrying out mass executions, abducting women and selling them as sex slaves, and using child soldiers. Although the international community had known that these things were happening, this was the first comprehensive report featuring witness interviews that was published. The report said that at least 9,347 civilians had been killed at the time of publication due to air strikes and general conflict. Based on eyewitness reports and other evidence collected by the United Nations, experts suggest that the Islamic State's use of child soldiers is widespread. These children as young as 6 are indoctrinated with the extreme idealogy of ISIS and taught fighting skills, brainwashing them into becoming a jihadi. US Army Lt General H.R. McMaster believes that because of this, the Islamic State will become a "multigenerational problem", and will be something that the world will be dealing with for years to come. Officials believe that there is a large, sophisticated, and extensive recruitment program that pulls youth away from traditional schools and forces jihadist ideals onto them. According to Syrian News sources, the Islamic State fighters bring the children to camps where they are taught the application of their strict version of Sharia law, and taught to shoot guns as well as behead "American" dolls. A report from Human Rights Watch released on November 4 detailed how the Islamic State members beat and tortured Kurdish children with hoses, electrical wire, and metal rods during the seige of Kobani. The Syrian Observatory for Human Rights published a report in March 2015 that detailed how in the first 3 months of 2015, ISIS recruited over 400 children under the age of 18 from local schools and Mosques in Syria. The United Nations Committee on the Rights of the Child released a report in early February 2015, after evaluating the situation in Iraq for the first time since 1998. The report details the horrifying things that the committee uncovered, including but not limited to: members of the Islamic State staging mass executions of teenage and adolescent boys, burying children alive, crucifying them in public, using them as informants, and using mentally handicapped children as suicide bombers. Committee member Renate Winter told Reuters “We are really deeply concerned at torture and murder of those children, especially those belonging to minorities, but not only from minorities. The scope of the problem is huge.” She also detailed how the committee received reports of “children, especially children who are mentally challenged, who have been used as suicide bombers, most probably without them even understanding.” The report described the killing of these children belonging to minority groups as “systematic,” and accused the militants of perpetrating “extreme sexual violence” against the young children. Iraqi authorities were called upon by the panel of eighteen experts to use all necessary measures to rescue the children. (Al Arabiya, February 4, 2015) The Combatting Terrorism Center at West Point (CTC) published an article on February 18, 2016, in which the authors contend that the Islamic State is recruiting children “on a scale rarely associated even with violent extremist organizations.” (CTC, February 18, 2016) The data gathered by the CTC showed that from January 1, 2015, to January 31, 2016, 89 children were eulogized in Islamic State propaganda videos, with 51% having been killed in Iraq, 36% killed in Syria, and the remainder killed in Yemen, Libya, and Nigeria. Out of these 89 cases, 39% were killed in suicide attacks upon detonating a vehicle-born IED, and 4% were killed while carrying out a mass casualty suicide attack against civilians. The authors concluded that the Islamic State's recruitment and use of child soldiers is accelerating: six children were killed in Islamic State suicide operations in January 2015, compared to eleven killed during these operations in January 2016. There were also three times as many attacks involving two or more children in January 2016 as there were in January 2015. Child soldiers are tactically attractive for ISIS to use in bombings and attacks because they are perceived as innocent, they are small and can easily maneuver into small areas and through crowds, and above all else they are impressionable and naive. To read the full report from the CTC, titled “Depictions of children and youth in the Islamic State's martyrdom propaganda 2015-2016," please click here. To read the report “The Children of the Islamic State,” published in March 2016 by the Quilliam Foundation, please click here. Echoing international concerns, Australian Foreign Minister Julie Bishop announced during a press conference in early June 2015 that, “Daesh [ISIS] is likely to have amongst its tens of thousands of recruits the technical expertise necessary to further refine precursor materials and build chemical weapons.” The Foreign Minister stated that ISIS had most likely made “serious efforts in chemical weapons development.” (Defense News, June 7, 2015) In August 2015 U.S. officials reported that the Islamic State had likely used the chemical agent mustard gas against Kurdish forces fighting against them in Iraq during the previous week. Kurdish fighters were tended to by local medical personnel and displayed wounds to their throats and faces consistent with a mustard gas attack. Blood samples from several members of Iraqi militias tested positive for mustard gas during October 2015. On November 5, 2015, the Organization for the Prohibition of Chemical Weapons released a report confirming that indeed mustard gas was used by the Islamic State on multiple occasions against citizens of Marea during August 2015, and other Syrian cities. The Islamic State militants likely acquired the mustard gas in Syria, leftover from Assad's hidden stockpiles. The international intelligence community believes that the Islamic State has also used chlorine gas in attacks. In November 2015, the Islamic State announced the creation of branches of their organization dedicated to experiments, research and development of chemical weapons. CIA director John Brennan told CBS News on February 12, 2016 that the Islamic State has the capacity to manufacture cholrine and mustard gas, and has without a doubt used chemical weapons on the battlefield. Brennan cited recent reports that revealed ISIS has access to precursors for chemical weapons production, as well as munitions with which they can distribute said chemical weapons. National Intelligence director James Clapper testified before Congress prior to Brennan's interview, confirming that ISIS has “used toxic chemicals in Iraq and Syria, including the blister agent sulfur mustard.”(Al Arabiya, February 12, 2016) On February 15, 2016, officials from the Organization for the Prohibition of Chemical Weapons (OPCW) confirmed that the samples they had tested had come back positive, and thus they could say with 100% certainty that ISIS had used banned chemical weapons in combat. Samples were taken after soldiers became ill in August 2015. U.S. Special Forces operating in Northern Iraq captured an ISIS commander in charge of developing chemical weapons, including mustard gas, in February 2016. Sulayman Dawud al-Bakkar, the captured chemical weapons expert, allegedly worked for the regime of Saddam Hussein before it's collapse. Based on information gathered from interrogations with al-Bakkar, the United States struck and destroyed two ISIS chemical weapons production facilities in early March 2016. Islamic State fighters used the chemistry lab at the University of Mosul to make chemical weapons and carry out experiments, officials said in March 2016. Top Iraqi officers confirmed that ISIS was using the lab to develop peroxide-based explosives as well as chemical agents, and exporting bomb-making instructions to field operatives. The Islamic State's terror tactics range from brutal torture to throwing individuals off of buildings. The group has been known to most commonly slaughter their victims via beheading or firing squad, but they have also drowned and burned prisoners while they were helplessly locked in cages. In June 2015 it was reported that for the first time the Islamic State militants were beheading women, accusing them of sorcery. ISIS executions are filmed and disseminated to world via ISIS social media accounts, and the militants have a sophisticated and widely influential social media presence. Gangs with Russian ties have been interrupted four times since 2010 trying to sell various radioactive materials to Islamic extremists in the Middle East. In October 2015 Modovan police revealed that they had thwarted an attempt in February by a group to sell a large amount of cesium, specifically to the Islamic State. Wiretapped conversations that led to these busts revealed talk of attacks on the United States: the cesium seller was recorded saying, “I really want an Islamic buyer, because they will bomb the Americans.” (Washington Post, October 5, 2015) From July to September 2015, attacks by the Islamic State jumped in frequency 42% when compared to the previous 3-month period. Although ISIS did not necessarily gain any new territory during this time, the frequency of their attacks signalled a troubling trend of ever increasing violence and barbarism. According to the October 2015 report disseminated by IHS Jane’s Terrorism and Insurgency Centre, the group carried out attacks in Egypt, Libya, Yemen, Afghanistan, Pakistan, Nigeria, Saudi Arabia, the North Caucasus and Algeria, during that three month period. F.B.I. Director James Comey referred to the presence of the Islamic State in the U.S. as “the new normal,” during a press conference in July 2015. The terror group's territory shrunk by 14% in 2015, according to an analysis done by Institute for Homeland Security released in December. Substantial losses for the group during 2015 included the Iraqi city of Tikrit, the Baiji oil refinery, and a large area of Syria's Northern border with Turkey. While the Islamic State lost territory, the Syrian Kurds expanded area under their control by 186%. During the first three months of 2016 the Islamic State lost a further 8% of it's territory, according to an analysis by the same organization. A United Nations report released in January 2016 estimated that 3,500 individuals, mainly women and children, were being kept as slaves in Iraq by the Islamic State. Most of these slaves come from the Yazidi community. The report claims that at least 18,800 civilians had been killed and 3.2 million people had been displaced internally by the conflict at the time of publication. UN Secretary General Ban Ki-moon issued a report on February 11, 2016, in which he forecast that the Islamic State's caliphate is likely to expand during the coming year as jihadi combat veterans from the Middle East make their way around the globe. The report concluded that 34 groups around the globe had pledged their allegiance to the Islamic State. Ban wrote that the Islamic State, “represents an unprecedented threat to international peace and security. It is able to adapt quickly to the changing environment and to persuade or inspire like-minded terrorist groups in various regions of the world to facilitate and commit acts of terrorism... It is expected that [its] affiliates will increase in number and that its membership will grow in 2016.” To read the PDF report, titled “Report of the Secretary-General on the threat posed by ISIL (Da’esh) to international peace and security and the range of United Nations efforts in support of Member States in countering the threat,” click here. The Islamic State slashed soldier salaries, increased civilian utility taxes on areas it controls, and began releasing detainees for cash in early 2016; signs that the jihadi group was running into financial troubles. Thanks to airstrikes carried out by the U.S. led coalition targetting ISIS equipment, oil production facilities, and cash storage buildings, Islamic State leaders were forced to cut salaries of every member, including commanders, in half. A dramatic drop in global oil prices during late 2015 and early 2016 was a significant contributor to the Islamic State's financial issues as well. The United States State Department estimated in mid-February 2016 that air strikes in Iraq and Syria have destroyed over $500 million in Islamic State cash. European Supreme Allied Commander of NATO Allied Command Operations, General Philip Breedlove, warned on March 2, 2016, that ISIS terrorists were using the cover of the ongoing Middle East refugee crisis to infiltrate Europe and the United States as unassuming refugees looking for safe haven. Breedlove stated during an address to the Senate Armed Services Committee that the Islamic State was “spreading like cancer” throughout the refugee population. The four-star General testified that approximately 1,500 ISIS fighters have returned to Europe after training with the terror group in Syria and Iraq. News organizations received data files containing names of more than 20,000 jihadis from 51 countries fighting for ISIS, in March 2016. The fighters filled out a 23 part questionnaire upon recruitment, in which they were asked whether they would be willing to participate in suicide attacks, among other things. Files with the answers to these questions and other personal information were presented during a secret meeting on a memory stick stolen by a disillusioned jihadi from a top ISIS security officer's computer. Well-known names were included on the list such as the infamous “Jihadi John,” who had been recently killed, but the list also included names of previously unknown fighters from across the UK, Northern Europe, the Middle East, North Africa, the United States, and Canada. The U.S. House of Representatives voted 393-0 to classify the crimes of the Islamic State against minorities as genocide on March 13, 2016. A State Department representative revealed later that week that the department however, needed, “additional time... in order to reach a more fact-based, evidence-based decision,” as to whether genocide had been carried out against minority communities in ISIS territory. On March 17, 2016, Secretary of State John Kerry announced the State Department had indeed concluded that ISIS has been carrying out genocide against minority communities, “including Yazidis, Christians and Shiite Muslims,” in regions it controls. (The Atlantic, March 17, 2016) The White House stated that they would cooperate with all efforts by independent organizations to investigate the acts of genocide committed by the Islamic State. According to the 8th annual Asda'a Burson-Marsteller Arab Youth Survey, compiled via face-to-face interviews with 3,500 Arabs aged 18-24, support for the Islamic State is dwindling. The survey results, released in April 2016, suggest that the Arab youth have an extremely negative view of the Islamic State and it's actions, and are convinced that the “Caliphate” will fail. Arab youth surveyed overwhelmingly named the Islamic State as the #1 obstacle facing the Middle East, and 50% said that they are “very concerned” about the rise of the terror group. Twenty-four percent of the survey respondents pinned lack of jobs and opportunities as the top reason young people join the Islamic State group. Faith in the future success of the Caliphate is minimal amogst the survey respondents, with 75% stating that they believe the Islamic State group will fail in it's mission to establish an Islamic Caliphate in Iraq and Syria. History and Roots The roots of ISIS can be followed back to Abu Musab al-Zarqawi in 1999, with the establishment of Jama'at al-Tawhid wal-Jihad (JTJ). Zarqawi was Jordanian and arrived in Afghanistan in 1989 to fight the Soviet Union, and met Osama Bin Laden while setting up a training camp for terrorists in 1999. Bin Laden attempted to recruit him but Zarqawi chose not to join Al-Qaeda. When the Taliban fell, Zarqawi fled to Iraq where he remained under the radar for a period of time, planning his terrorist ideals and plotting to establish the terror organization to be known as the JTJ. After assassinating US Diplomat Laurence Folley in 2002, Zarqawi's group gained notoriety as a resistance group during the US invasions of Afghanistan and Iraq. Zarqawi was successful with this group because they recruited foreign fighters, who then used his contacts to expand their terror network and fight the United States occupiers. The goals of the JTJ were to drive the US out of Iraq, overthrow the Iraqi government, and then purge the land of all Shia Muslims and establish a pure Islamic state. Eventually in the mid-2000's the group merged with Al-Qaeda in Iraq and other local terrorist organizations and formed the Islamic State of Iraq (ISI). The group pledged allegiance to Osama Bin Ladin'sAl-Qaeda officially in a letter sent in October 2004, and were rebranded as Al Qaeda in Iraq (AQI). AQI was a focused and coordinated organization, carrying out complex suicide attacks and abducting multiple people including 2 US soldiers whom they tortured and beheaded on video. The AQI raised funds by taxing people they terrorized, robbing banks, abductions and ransoms, stealing trucks, and various other methods. They attempted many high-profile attacks and assassinations and gained notoriety as a ruthless terror force, and in 2006 they merged with other small local terror organizations and formed the Mujahadeen Shura Council. The formation of the Mujahadeen Shura Council was a calculated move by Zarqawi to distance himself fromAl-Qaeda, but Zarqawi was killed in June 2006 shortly after the Council was formed. His death allowed for the group to change directions once again, this time with the support of the other organizations involved in the Mujahadeen Shura Council. After Zarqawi's death the Mujahadeen Shura Council took an Arab oath of allegiance with even more local terror groups and tribal leaders, and in October 2006 the group announced that the Islamic State in Iraq (ISI) had been established. The ISI brought the Southern Baghdad neighborhood of Dora under their control from 2006-2007, harassing and imposing a jizya tax on the citizens that they could not afford. By November 2007 ISI fighters had been beaten back from the Dora neighborhood by US forces. In June 2007 open gun battles raged on the streets of Iraq between members of ISI who were foreign influenced Jihadists and those who were nationally born Sunni Muslims. The Sunni tribes and insurgents battled for weeks before the violence came to a halt, but not before it significantly weakened ISI to the point where their spokespeople described ISI as being in a state of crisis. The United States began it's withdrawal from Iraq in 2009, leaving the governance and security to the Iraqi military and police forces. ISI used this time to regroup and rethink their strategy as many moderate Iraqis had feared, and in mid to late 2009 there was a significant spike in terror activity including suicide bombings and other mass casualty attacks. After regaining their strength and engaging in fundraising activities ISI began a campaign targetted at toppling the Iraqi government. In late 2009 ISI attacked 5 government buildings inBaghdad including the Ministry of Foreign Affairs and Finance, and the Ministry of Justice, killing 256 people total. As opposed to targetting Shia Muslims like they had in the past, this resurgence represented a shift in tactics, to targetting government buildings and general terrorism instead of attempting to incite sectarian violence. General Ray Odierno, commander of US forces in Iraq in 2009 stated that ISI has changed over the last 2 years and "what once was dominated by foreign individuals has now become more and more dominated by Iraqi citizens". This change in membership caused this shift in tactics and policy of the terror organization. (Reuters, November 18 2009) It was reported in April 2010 that through US calculated strikes and other missions the leadership structure of ISI had been crippled, with 80% of the organization's top 42 individuals having been captured or killed. It was also announced that they had been completely cut off from communication with Al-Qaeda in Afghanistan. The Syrian Civil War During the Syrian civil war which began in Spring 2011, ISI played an integral role in the conflict as a large opposition force to the Syrian army of the Assad regime. In August 2011 members of ISI were sent into Syriawith the mission to spread out and recruit fighters for their terror cells. After recruiting, in January 2012 the members of ISI in Syria announced their name as Jabhat al-Nusra l’Ahl al-Sham, more commonly known as the al-Nusra Front. Due to their connections with Al-Qaeda they quickly spread and became a formidable fighting force against the Free Syrian Army (FSA). After months of involvement in the conflict, ISI leader Abu Bakr al-Baghdadi released a statement that the al-Nusra Front had been financed by ISI and that the two groups were about to merge, forming the Islamic State of Iraq and Al-Sham (ISIS). Abu Muhammad al-Jawlani, the leader of the Al-Nusra Front however denied the validity of the announcement claiming that he nor any leaders of the Al-Nusra Front had been consulted about the merger. A letter to both groups was released from Al-Qaeda leader Ayman al-Zawahari in June 2013, in which he expressed dissaproval of the merger and appointed an envoy to oversee relations between Al-Nusra and ISI. ISI leader al-Baghdadi blatantly disregarded the statement made by Al-Qaeda's leader and contested that the merger was going to be proceeding as planned. After 8 months of tension between the groups, Al-Qaeda cut all ties to ISI and the Al-Nusra front in February 2014. Throughout 2014 there was much hostility shown between ISI and Al-Nusra, with the rival groups attacking each other regularly. April 2013 saw the Islamic State make considerable territorial gains in Northern Syria, where they quickly became the strongest group in the region. In July 2013 ISIS strategically planned and carried out a prison break from Iraq's Abu Ghriab prison in which over 500 ISIS members escaped including senior commanders. ISIS began playing a major role in the civil war after they captured the border town of Azaz in Northern Syriafrom the Syrian army through the most intense fighting the conflict had seen so far. They next overran the town of Atme and attempted to continue their conquest but were beaten back by the Army of the Mujahadeen, a branch of the Syrian army. This victory did not last though and in January 2014 ISIS had captured the stronghold city of Raqqa, though they were beaten and retreated out of Aleppo. Through subsequent fighting between ISIS and other rebel groups, ISIS was eventually also chased out of Azaz and the other areas they had shortly conquered during the civil war, but retained their base in Raqqa. Raqqa was the first province in Syriato completely fall under ISIS rule, and as of February 2015 Raqqa is still their base of operations. ISIS declared an Islamic state in Fallujah on January 3, 2014, and Syria's main army and it's counterparts launched an offensive aimed at the ISIS held Syrian provinces of Aleppo and Idlib. January saw multiple clashes between ISIS and the Syrian army, with intense fighting over Aleppo and Raqqa. By March, ISIS had been forced out of Aleppo. Iraq's second most populous city, Mosul, fell to ISIS control on June 9 after they took over the government buildings, airports, and police stations. The militants also reportedly looted the bank, taking $429 million. In order to avoid persecution or death, half of a million people fled from Mosulafter ISIS gained control. Mosul is strategically relevant because it is a main crossroad between Syria andIraq, and sits on top of an oil fortune. International humanitarian group and watchdog organization Human Rights Watch reported on October 30 that ISIS had carried out a massacre of 600 Shiite prison inmates at Mosul's Badoosh prison after taking the city. The Syrian army declared an offensive against ISIS in Raqqa on April 26, 2014, and were able to take back border towns in the surrounding area but not completely beat ISIS out of Raqqa. Mid 2014 saw ISIS expand their presence inside of Syria, using the chaos of rebuilding after a civil war as a chance to grab land and stake their claim. According to an August 7 2014 statement from ISIS, at that time they controlled: All of Sinjar municipality and the areas belonging to it. All of Talkif municipality and the areas belonging to it. All of al-Hamdaniya municipality and the areas belonging to it. All of Makhmour municipality and the areas belonging to it. Zammar township and all the villages belonging to it. Rabee'ah township and all the villages belonging to it. Bartala township and all the villages belonging to it. Karam Lays township and all the villages belonging to it. Al-Kweir township and all the villages belonging to it. Wana township and all the villages belonging to it. Large areas in Filfeel township. Large areas of Ba'ashiqa township. Some of the al-Shalalat areas in Mosul. The Sada and Ba'wiza area of Mosul. The oil-rich 'Ayn Zalah area. The strategic Mosul dam The large Tumarat base
  17. Presiden Obama berada di Riyadh guna mengikuti KTT Dewan Kerjasama Teluk yang beranggotakan sejumlah negara Arab. Fokus pembahasan adalah strategi menghadapi ISIS termasuk pengiriman pasukan. Selengkapnya ikuti laporan VOA berikut ini.
  18. Penyelundupan artefak diorganisir oleh divisi barang antik dalam tubuh ISIS, yang setara dengan sebuah kementerian sumber daya alam. Kuil Baal Shamin di kota kuno Palmyra, Suriah, yang sempat dikuasai kelompok Negara Islam (ISIS). Kelompok militan Negara Islam (ISIS) di Suriah dan Irak menjaring antara US$150 juta dan $200 juta per tahun dari perdagangan ilegal barang-barang antik hasil jarahan, menurut Duta Besar Rusia untuk PBB dalam sebuah surat yang dirilis Rabu (6/4). "Sekitar 100.000 benda budaya bernilai global penting, termasuk 4.500 situs arkeologis, sembilan diantaranya termasuk daftar Warisan Dunia UNESCO, ada di bawah kontrol Negara Islam di Suriah dan Irak," tulis Dubes Vitaly Churkin dalam suratnya untuk Dewan Keamanan PBB. "Laba yang didapat kelompok Islamis itu dari perdagangan ilegal barang antik dan harta karun arkeologis diperkirakan mencapai $150-$200 juta per tahun," ujarnya. Penyelundupan artefak, tulis Churkin, diorganisir oleh divisi barang antik dalam tubuh ISIS, yang setara dengan sebuah kementerian sumber daya alam. Hanya mereka yang memiliki izin dengan stempel dari divisi ini yang bisa menggali, memindahkan dan mengirim barang-barang antik. Beberapa detail dari departamen kelompok itu sebelumnya telah diungkap kantor berita Reuters, yang mengkaji beberapa dokumen yang disita Pasukan Operasi Khusus AS dalam sebuah razia bulan Mei 2015 di Suriah. Namun banyak detail dalam surat Churkin tampaknya baru. Dubes Rusia tersebut, yang berulangkali menuduh Turki mendukung ISIS dengan membeli minyak dari kelompok itu, mengatakan bahwa barang-barang antik hasil jarahan sebagian besar diselundupkan lewat wilayah Turki. "Pusat utama penyelundupan barang warisan budaya adalah kota Gaziantep di Turki, tempat barang-barang curian dijual di lelang-lelang ilegal dan kemudian lewat sebuah jaringan toko antik dan di pasar lokal," tulis Churkin. Para pejabat Turki tidak dapat dimintai komentar mengenai tuduhan Rusia tersebut. Hubungan Rusia-Turki telah menegang sejak Turki menembak jatuh pesawat Rusia dekat perbatasan Suriah November lalu. Churkin mengatakan perhiasan, koin dan barang curian lainnya dibawa ke kota-kota Izmir, Mersin dan Antalya di Turki, di mana kelompok-kelompok kriminal membuat dokumen palsu mengenai asal-usul benda-benda tersebut. "Barang-barang antik tersebut kemudian ditawarkan kepada kolektor-kolektor dari beragam negara, umumnya lewat situs lelang internet seperti eBay dan toko-toko daring khusus," ujarnya. "Baru-baru ini ISIS telah mengeksploitasi potensi sosial media lebih sering lagi untuk memangkas makelar dan menjual artefak langsung kepada pembeli," tambahnya. EBay mengatakan tidak tahu menahu mengenai tuduhan menjual benda-benda jarahan tersebut dan sama sekali tidak memiliki ketertarikan menjual barang seperti itu. www.voaindonesia.com
  19. Usai teror Paris, salah satu yang banyak menjadi perbincangan yaitu bagaimana pelaku berkoordinasi dalam menyusun serangan. Sebagaimana diketahui, kelompok ekstrimis ISIS yang mengklaim bertanggungjawab atas serangan teror tersebut diduga menggunakan platform teknologi komunikasi yang terenkripsi. Dikutip dari Reuters, Kamis 19 November 2015, pengamat keamanan menuding ISIS memakai aplikasi messaging yang terenkripsi, Telegram, untuk mengkoordinasi serangan dan merekrut anggota. Alex Kassirer, analis kontra terorisme Flashpoint, perusahaan intelijen swasta berbasis si New York, menuding ISIS memakai saluran broadcast Telegram untuk menggelar rekruitmen, propaganda, inspirasi, sampai motivasi. Bahkan menurut Direktur Bethesda, Rita Katz, layanan monitoring ekstrimis di AS, ISIS disebutkan punya tiga sampai empat saluran di Telegram. Beberapa saluran Telegram dikatakan menarik puluhan ribu pengikut. Selain memakai Telegram, kelompok ekstrimis itu juga menggunakan Twitter untuk menyebarkan propagandanya. Namun Katz mengatakan Telegram lebih aman dibanding Twitter sehingga para ekstremis tak khawatir ketahuan dalam merencanakan aksinya. "Saluran itu menunjukkan perubahan posisi Telegram dalam gerakan jihadis online," kata Katz. Memang sejak teror Paris, pengelola Telegram mengaku telah memblokir 78 saluran yang terkait dengan ISIS. Sejarah Telegram Jejak Telegram pertama kali muncul didirikan oleh dua bersaudara. Pavel Durov dan Nicolay. Awalnya mereka membentuk VKontakte, situs jejaring sosial Rusia yang ingin menyaingi Facebook. Telegram sendiri muncul pertama kali pada 2013. Namun pendiri VKontakte mengalami masalah pada 2014, saat pemerintah Rusia meminta situs jejaring sosial itu untuk memblokir akun pemimpin oposisi Rusia terkait isu Ukrania. Merasa tak setuju dengan tekanan pemerintah, akhirnya kedua bersaudara itu kemudian melepaskan kendali VKontakte. Selanjutnya keduanya pindah ke Berlin, Jerman untuk menjalankan Telegram. Guna mendirikan aplikasi ini, mereka mengaku mendanainya sendiri. Dalam situsnya Telegram menegaskan tidak ada tujuan untuk mendapatkan keuntungan dan jika aplikasi ini kehabisan dana untuk pengembangan layanan, maka Telegram akan meminta donasi dan biaya sukarela. Salah satu daya tarik yang ditawarkan Telegram yaitu memungkinkan pengguna untuk mengirim pesan enkripsi yang kuat. Telegram juga memiliki fitur messaging grup yang memungkinkan penggunanya untuk berbagi banyak video, pesan suara ataupun banyak tautan dalam satu pesan. Komunikasi itu pun dijamin tanpa bisa dideteksi oleh pengguna luar grup, sebab aplikasi ini mengklaim tak berjalan melalui komputasi awan. Hassan Hassan, salah satu pakar negara Islam dari lembaga think tank Chatham House mengatakan ketertarikan militan kelompok ekstrimis terhadap Telegram karena fitur teknik aplikasi messaging tersebut untuk berbagi media. Selain itu, fitur Telegram itu bebas dari pengawasan pemerintah. Saat ini Telegram punya 60 juta pengguna dan untuk sebuah layanan enkripsi angka itu menunjukkan aplikasi tersebut sangat populer. Sebab jumlah pengguna Telegram itu sama dengan total jumlah pengguna tiga layanan enkripsi yaitu Signal, Silent Circle dan Wickr. Durov bersaudara itu mengaku menghadirkan aplikasi messaging aman itu karena terinspirasi mantan kontraktor Badan Keamanan Nasional AS (NSA), Edward Snowden. Pada profil akun VKontakte, Pavel Durov menggambarkan dirinya sebagai seorang libertarian, invidividualistik dan pandangan dunia tanpa campur tangan. Dia juga dikenal dengan kritik pesasnya di media sosial. Pavel Durov dilaporkan sempat menentang permintaan legislator Rusia menyerukan dinas kemanan negara Rusia untuk melarang Telegram. Alasannya, Telegram dianggap sebagai platform yang mengakomodasi propaganda untuk ISIS. Menanggapi ancaman itu, Pavel Durov membalasnya melalui akun VKontakte. Dalam perlawananya, dia yakin pemerintah hanya akan memblokir kata-kata saja. Pendiri Telegram itu juga mengomentari teror Paris yang terjadi akhir pekan laku melalui akun Facebook dan Intagramnya. Dia menuliskan turut berduka cita dengan korban dan teror Paris. Tapi dia kemudian menyalahkan Prancis yang membuat tragedi itu muncul. "Pemerintah Prancis adalah yang bertanggung jawab atas ISIS karena kebijakan dan kecerobohan pemerintah yang menyebabkan tragedi ini," kata dia. Pavel mengatakan pemerintah dianggap terlalu banyak mengambil pajak dari pekerja di Prancis dan menghabiskannya untuk mengobarkan perang tak berguna di Timur Tengah. Pemerintah dituding juga menciptakan surga bagi imigran Afrika Utara. "Saya berharap mereka dan kebijakannya bisa dicabut selamanya dan kota ini akan sekali lagi bersinar dalam penuh kemuliaan, aman, kaya dan indah," kata dia.
  20. Perang siber terhadap Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) yang dilancarkan kelompok peretas Anonymous menuai protes. Serangan Anonymous disebutkan berantakan sebab tak mengenai sasaran yang sebenarnya. Sasaran Anonymous disebut tak akurat. Ironisnya, serangan Anonymous menyasar beberapa akun media sosial Twitter yang tak terkait dengan ISIS. Sebelumnya, sepekan setelah teror Paris, Anonymous mengklaim berhasil melumpuhkan 20 ribu akun media sosial yang terkait dengan ISIS. Kelompok radikal ini mengklaim setengah dari puluhan ribu akun itu adalah akun aktif terkait ISIS. Soal salah sasaran itu pertama kali disampaikan oleh karyawan Twitter. Situs jejaring sosial 140 karakter itu mengaku senantiasa mengulas tweet yang berpotensi mengandung konten yang melanggar aturan. "Kami tidak mengulas daftar anonim yang diunggah online tapi ulasan pihak ketiga telah menemukan mereka (Anonymous) secara liar tak akurat dan banyak dari akun itu adalah (milik) akademis dan jurnalis," tulis juru bicara Twitter yang meminta ditulis anonim dikutip dari Daily Dot. Sementara dikutip dari The Verge, Selasa, 24 November 2015, penyelidikan laman Ars Technica menemukan banyak anggota akun non ISIS yang menjadi korban serangan Anonymous. Parahnya, mereka yang jadi korban itu diserang Anonymous hanya karena mereka mengunggah postingan sarkastis di akun ISIS. Ada juga akun Twitter yang jadi salah sasaran karena mereka mengunggah postingan dalam bahasa Arab. Temuan lain mengungkapkan ada akun Twitter pengguna dari Kurdi, Iran, Palestina, Chechnya juga menjadi korban serangan Anonymous. "Saya tak mengatakan semua yang ada di (daftar) atas adalah orang yang baik, tapi mereka bukanlah ISIS," tulis salah satu pengulas. Akun Twitter @TorReaper pun memberikan 'peringatan' atas opetasi serangan Anonymous yang salah sasaran. "Jika anda membantu dengan #OpISIS. Tolong ambil momen untuk mempelajari siapa target yang sebenarnya. Ingat bahwa #PpISIS telah (mengrobankan) terdiri dari orang dari banyak negara dengan keyakinan agama yang mana beragam bahasa yang disampaikan," tulis akun tersebut. The Verge menuliskan banyak aktor serangan Anonymous kemudian mulai menyadari salah sasaran tersebut. Disebutkan, kemudian kelompok Anonymous mulai memberikan perhatian ke internal mereka agar lebih teliti dalam menyasar korbannya. "Hanya karena sebuah website atau posting dalam bahasa Arab atau orang dengan keyakinan Muslim tidak seharusnya menjadi target," kata pesan imbauan tersebut. Sementara, pesan berantai itu diyakini susah untuk diterima secara seragam oleh kelompok penyerang Anonymous tersebut. Sehingga hal ini membuat kelompok Anonymous lain mulai menjauhkan diri dari operasi serangan bertajuk #OpISIS.
  21. Seorang perempuan di negara bagian Mississippi, Amerika Serikat telah mengaku bersalah mencoba untuk bergabung dengan kelompok militan ISIS di Suriah. Warga AS di di negara bagian Mississippi, Jaelyn Young, berusia 20 tahun , mengaku kepada seorang hakim federal di kota Aberdeen, Mississippi hari Selasa (30/3), bersalah atas satu butir tuduhan berkonspirasi untuk memberikan dukungan kepada organisasi teroris. Pacarnya, Muhammad Dakhlalla, mengaku bersalah pada tanggal 11 Maret atas tuduhan yang sama dan juga menunggu hukuman. Keduanya menghadapi hukuman maksimal 20 tahun penjara, dan denda sebesar 250.000 dolar, dan masa percobaan seumur hidup. Pasangan ini ditahan tanggal 8 Agustus tahun lalu, sebelum naik pesawat dari Columbus, Mississippi, dengan membawa tiket untuk pergi ke Istanbul, Turki. Menurut pengaduan pidana, keduanya berulang kali mengatakan dalam komunikasi melalui internet dengan agen FBI yang menyamar, bahwa mereka berencana untuk pergi ke Suriah untuk mendukung kelompok teroris. Selama beberapa bulan, Jaelyn Young mengatakan kepada agen FBI itu lewat berbagai media sosial bahwa kekurangan dana adalah alasan yang membuat mereka tidak bisa berangkat untuk bergabung ISIS. Waktu itu, Young mengatakan dia cakap dalam matematika dan kimia dan mengatakan dia dan Dakhlalla ingin menjadi petugas medis mengobati mereka yang luka-luka. Keduanya adalah bekas mahasiswa Universitas Mississippi. Young mengambil jurusan kimia dan putri seorang perwira polisi. Dakhlalla lulus pada bulan Mei dan berencana akan memulai kuliah di bidang psikologi.
  22. Anggota ISIS asal Amerika Serikat yang menyerahkan diri ke pasukan Kurdi di utara Irak awal pekan ini menceritakan bagaimana ia bisa bergabung ke pemberontak. Mohamad Jamal Khweis mengungkapkan bagaimana ia harus melewati perjalanan panjang dari Amerika serikat ke London, Amsterdam, Turki sebelum sampai ke Suriah dan Mosul, Irak. Sesampainya di Mosul yang dikuasai ISIS sejak 2014, Khweis dipindahkan ke sebuah rumah bersama puluhan milisi asing lain. Khweis selama beberapa bulan belajar ideologis ISIS. Ia mengaku bisa ke Mosul setelah bertemu dengan seorang wanita Irak yang memiliki hubungan dengan pemberontak saat di Turki. Ia mengaku keinginannya bergabung dengan ISIS merupakan keputusan buruk. "Saya tidak setuju dengan ideologi mereka," ujar Khweis menjelaskan alasan ia kabur dari Mosul. "Saya membuat keputusan buruk pergi bersama wanita itu dan pergi ke Mosul." Menurut Khweis ia kabur berkat pertolongan temannya. Setelah keluar dari Mosul ia menuju kota terdekat Tal Afar. Saya ingin ke Kurdi karena mereka baik dengan warga Amerika." Khweis pun menyerah ke Kurdi di garis depan dekat Kota Sinjar yang direbut dari ISIS akhir tahun lalu.
  23. Waduh! Kenapa orang ini? Dan gimana endingnya ya? Mending ditonton daripada dipertanyakan.
  24. Peneliti menemukan 89 anak berusia delapan hingga 18 tahun meninggal dalam pertarungan. Jumlah anak-anak yang tewas karena bertarung untuk kelompok militan yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS meningkat, seperti terungkap dalam sebuah laporan. Para peneliti dari Georgia State University, Amerika Serikat, menulis laporan itu setelah menelusuri propaganda ISIS dan pujian bagi yang tewas selama 13 bulan. Mereka menemukan 89 anak berusia delapan hingga 18 tahun meninggal dalam pertarungan dengan peran yang berbeda. Angka itu berarti tiga kali lebih tinggi dari anak-anak yang terlibat dalam operasi militer ISIS sepanjang 2014. Data yang diterbitkan Pusat Perlawanan Terorisme Amerika Serikat itu menunjukkan dalam periode Januari 2015-Januari 2016, sebanyak 39% anak-anak tewas dalam serangan bom bunuh diri dan 33% dalam perang. "Hampir dipastikan lebih banyak lagi yang meninggal. Jumlah itu adalah yang diumumkan ISIS tahun lalu," jelas salah seorang penulis laporan, Charlie Winter, kepada wartawan BBC, Victoria Derbyshire. Sebagian besar warga Suriah Walau ISIS tidak mengungkapkan nama dan rincian dari yang tewas itu, peneliti mencoba mendapatkan usia dan kewarganegaraan yang tewas. Diyakini 60% yang tewas berusia antara 12 hingga 16 tahun dan 6% berusia delapan hingga 12 tahun. Salah seorang pengebom bunuh diri -disebut praremaja berusia delapan hingga 12 tahun- tewas bulan lalu dalam serangan di Provinsi Aleppo. ISIS menerbitkan fotonya yang menyampaikan 'selamat berpisah' kepada ayahnya. Laporan menyebutkan sebagian besar pergerakan anak-anak itu adalah antara Irak dan Suriah dengan lebih dari setengah kematian di Irak namun banyak yang tewas adalah anak asal Suriah. Hal tersebut mengindikasikan ISIS melatih mereka di Suriah dan mengerahkannya ke Irak. Negara asal lainnya adalah Yaman, Arab Saudi, Tunisia, dan Libya dengan jumlah yang kecil dari Inggris, Prancis, Australia, serta Nigeria.
  25. Kelompok militan ISIS telah menguasai Mosul sejak tahun 2014. Pasukan Kurdi Irak menyelamatkan seorang gadis Swedia berumur 16 tahun dari kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS di dekat kota Mosul pada hari Rabu lalu (17 Februari), kata para pejabat Kurdi. Pernyataan Dewan Keamanan Wilayah Kurdistan (KRSC) menyebutkan remaja tersebut berasal dari kota Boras. Dia "dikelabuhi anggota ISIS di Swedia untuk mengunjungi Suriah dan kemudian ke Mosul," tambahnya. Juru bicara kementerian luar negeri Swedia mengatakan kepada sebuah koran Swedia bahwa mereka tidak memiliki informasi tentang kasus ini. Pernyataan KRSC, yang menyebut nama dan foto anak tersebut, menyatakan mereka meminta pemerintah Swedia dan anggota keluarganya untuk membantu menemukan lokasinya dan menyelamatkannya dari ISIS. Kelompok militan tersebut telah menguasai Mosul sejak tahun 2014. "Dia saat ini berada di Wilayah Kurdistan dan diberikan perawatan sesuai dengan hukum internasional," tambahnya. "Dia akan dipindahkan ke pemerintah Swedia untuk kembali ke rumahnya begitu hal semua hal siap."
×
×
  • Membuat baru...

Important Information

Kami menggunakan cookie. Mereka tidak menakutkan, tetapi beberapa orang berpikir mereka. Terms of Use & Kebijakan Privasi