Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'IPK'.

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • CLINIC NGOBAS
    • Coronavirus
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • Ngocol
    • Ngocol Video
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • ABOUT NgobasTV
    • EVENT
    • WESER
    • LAPOR KOMANDAN

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Categories

  • Files
    • Website
    • Smartphone
  • Games
  • E-Book

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 3 results

  1. Siapa bilang mereka yang sukses adalah orang yang selalu punya nilai bagus dan IPK tinggi di bangku kuliah? Pada kenyataanya orang yang pernah di drop out pun juga bisa sukses di masa depan selama dia punya kemauan yang keras. Drop Out dari kampus atau universitas tempat kita menimba ilmu adalah sebuah hal yang sangat menakutkan. Seolah perjuangan kita selama beberapa tahun ini sia-sia belaka. Tapi beberapa orang sukses di bawah ini membuktikan bahwa mereka bisa bangkit dan lebih sukses. Bahkan mengalahkan mereka yang ber-IPK tinggi sekalipun: 1. Bill Gates Dari kampusnya, dia mendapatkan julukan “Harvard’s Most Successful Dropout“ atau orang ter-drop out yang paling sukses. Bill Gates adalah salah satu orang yang terkaya di dunia. Dia masuk Harvard pada tahun 1973, selanjutnya di-DO dua tahun kemudian. DO tidak membuat semangatnya pudar, malahan dia kemudian mendirikan Microsoft bersama teman masa kecilnya Paul Allen. Siapa yang sangka Pada tahun 2007, co-pendiri Microsoft ini akhirnya menerima gelar (gelar doktor kehormatan) dari almamaternya. Dia bahkan menjadi orang yang terkaya di dunia berkat maha karyanya ini. 2. Jose Mourinho Siapa yang tidak kenal dengan pelatih sepakbola kontroversial ini? Dia dulunya adalah seorang mahasiswa di Universitas ternama di London dan memilih jurusan Ekonomi. Namun, dia memilih berhenti kuliah dan menekuni karirnya sebagai pelatih di salah satu klub Liga Inggris. Hasilnya, dia pun bisa sesukses ini sekarang. 3. Frank Lloyd Wright Frank Lloyd Wright diterima di University of Wisconsin-Madison tahun 1886, tetapi meninggalkannya setelah satu tahun. Wright telah berhasil menciptakan lebih dari 500 karya arsitek, yang paling terkenal di antaranya adalah Fallingwater dan New York City Solomon R. Guggenheim Museum. 4. Steve Jobs Jika Steve Jobs masih tetap bersekolah dan melanjutkan kuliahnya, gadget Mac, iPod, Pixar, bahkan Buzz Lightyear mungkin tidak akan pernah ada. Dia di-DO dari Reed College setelah hanya kuliah selama enam bulan karena masalah keuangan. Berhenti kuliah, dia memutuskan menciptakan Apple. Siapa yang sangka Apple kini menjadi sebuah brand perangkat keras yang terkenal di seluruh dunia dengan kualitas yang amat membanggakan. 5. Buckminster Fuller Buckminster Fuller adalah seorang arsitek dan penemu. Diusir dari Harvard tidak hanya sekali, tetapi dua kali, periode pasca-DO Fuller sama sekali tidak berhasil. Semua tidak berhenti di situ, bahkan semua bisnis yang dijalaninya mengalami kegagalan. Tapi di usianya yang ke-32, Fuller ditetapkan sebagai satu orang yang bisa mengubah dunia menjadi lebih baik. Idenya yang paling lazim seperti rumah dymaxion dan mobil dymaxion dapat memikat perhatian banyak orang. 6. Mark Zuckerberg Banyak mahasiswa yang menggunakan kamar asrama mereka untuk tidur, belajar, atau melakukan hal-hal yang mungkin tidak ingin diketahui orang tua mereka. Namun, Mark Zuckerberg mendirikan Facebook dari dalam kamarnya. Awalnya hanya dimaksudkan untuk mahasiswa Harvard, namun situs jejaring sosial ini menjadi populer dengan cepat dan menyebar ke seluruh perguruan tinggi lainnya di seluruh negara. Luar biasa, bukan? 7. James Cameron Pria ini lahir dan dibesarkan di Kanada. Dia kemudian pindah ke Brea, California pada 1971. Di sanalah Cameron mendaftarkan diri di Fullerton College untuk mempelajari fisika. Kehidupan akademiknya tidak berlangsung lama. Dia di-dropout, menikahi seorang pelayan dan akhirnya menjadi sopir truk untuk sebuah sekolah di distrik setempat. Kisahnya dimulai ketika ia melihat Star Wars pada tahun 1977 yang menginspirasinya untuk menciptakan beberapa film fiksi ilmiah yang paling menakjubkan (dan mahal) di abad ke-20 akhir seperti Avatar. Sutradara ini telah memenangkan serangkaian penghargaan, seperti Academy Award dan lain sebagainya. 8. Harrison Ford Harrison Ford awalnya mengambil jurusan filsafat di Ripon College, namun keluar sesaat sebelum lulus. Ia kemudian bekerja di beberapa bagian kecil dalam produksi Hollywood. Hampir sepuluh tahun kemudian, pada tahun 1973 dia menjadi bintang di acara komedi “American Graffiti” dan Film blockbuster, Star Wars. 9. Tom Hanks Tom Hanks dikenal sebagai “most famous dropout”. Dia sukses menjadi aktor terkenal di dunia. Aktor ini meninggalkan bangku kuliah untuk magang di Great Lakes Theater Festival di Cleveland, Ohio. Di sana, ia belajar berbagai aspek teater dari pencahayaan untuk mengatur desain, menciptakan awalan untuk karirnya sebagai aktor Hollywood, produser sutradara, dan penulis. 10. Tiger Woods Tiger Woods memilih untuk terus bermain sebagai pegolf amatir di Stanford University di jurusan Ekonomi. Setelah dua tahun di sana, dia memilih mengakhiri karir di perguruan tinggi. Dia pergi untuk menjadi salah satu atlet yang memiliki bayaran tertinggi di dunia, dengan penghasilan lebih dari 100 juta dolar AS per tahun di puncak karirnya. 11. Lady Gaga Nama aslinya adalah Stefani Angelina Germanotta Joanne, artis yang lebih dikenal sebagai Lady Gaga ini sempat mengikuti kuliah di New York University’s Tisch School of Arts, namun keluar setelah satu tahun. Pasca keluarnya Lady Gaga dari universitas itu, ia mengejar karir di dunia musik. Pilihannya untuk drop out sangat tepat karena kemudian Interscope Records mengontraknya pada usia 20. Debut albumnya dimulai tahun 2008 dan sukses besar sampai sekarang. Ketika kamu mengalami sebuah kejatuhan atau kegagalan, jangan melihatnya hanya sebagai hal yang merugikanmu. Kamu nggak akan pernah tahu apa yang terjadi di depan. Jadi tetaplah semangat dan optimis bahwa ada jalan terbuka untukmu.
  2. Mungkin saya sebagai mahasiswa selalu ingin mendapatkan IP (indeks Prestasi) atau GPA (Grade Point Average). kembali ke pernyataan tadi apa sih IP itu dan apa pengaruhnya bagi kesuksesan di masa depan ? Oke saya akan membahas sejarah IP, Keith Hoskin seorang professor dari The University of Warwick berargumen bahwa IP atau GPA ini dikembangkan oleh seorang professor pada tahun 1792 yang bernama William Farish dari University of Cambridge dan pertama kalinya diimplementasikan di universitas tersebut. Penilaian IP atau GPA yang dilakukam William Farish tersebut didasarkan pada test seperti lisan ataupun tulisan. Nah sejarah sudah dan kita tahu apa itu IP atau GPA, nah sekarang apa sih implikasinya terhadap kehidupan kita ? Jika kita lulus kelak dan mencari pekerjaan banyak perusahaan yang menetapkan nilai IP/GPA bagi lulusan sarjana atau diploma, rata-rata perusahaan tersebut menetapkan IP/GPA 2.75 sebagai syarat untuk melanjutkan kepada test berikutnya seperti psikotes, tes kemampuan, wawancara, dll. Nah permasalahannya disini ketika kita "sebenarnya" pintar tetapi IP/GPA kita dibawah syarat minimal tadi biasanya perusahaan akan langsung menolak, disinlah ketidaksetujuan saya "JUDGE BY ALPHABET" jadi menilai seseorang hanya dari huruf atau angka-angka tanpa tahu kapasitas orang tersebut, tapi ya inilah dunia kerja zaman sekarang. sehingga banyak mahasiswa yang kuliah hanya mencari nilai atau angka-angka tersebut selebihnya ya... nongkrong, main dll. Bahkan saya pernah membaca ada dosen yang menjual nilai, WTF !!! Tapi apakah sebegitu besar ya pengaruh IP atau GPA pada kehidupan kita kelak ? kalau pendapat saya sih jelas TIDAK.Mengapa saya begitu yakin dengan menjawab tidak karena jika mahasiswa hanya "mengejar" nilai maka ketika ada di "REAL WORLD" nilai-nilai itu hanya akan menjadi alphabet atau angka-angka saja, tidak lebih. Oke analoginya seperti ini anda mendapat nilai A di mata kuliah yang sangat sulit, tetapi sebenarnya anda tidak mengerti selama perkuliahan berlangsung apa yang sedang dibicarakan ? atau apa yang bisa anda pahami ? apa anda bisa mempertanggungjawabkan nilai anda itu ? ,untuk pertanyaan terakhir ini yang sebenarnya vital. mengapa ? karena di dunia kerja anda akan dianggap ahli pada mata kuliah terebut, orang-orang akan menggangap anda expert pada bidang itu, tetapi bila anda hanya mengejar "nilai" saja, apa anda bisa memenuhi ekspektasi orang-orang terhadap nilai anda ? , bagaimana anda bisa memenuhi ekspektasi orang-orang tersebut ketika anda hanya mengandalkan "nilai" anda tesebut. tapi ya inilah yang realita terjadi bukan hanya di Indonesia tetapi juga seluruh Dunia. Bukti pengaruh IP/GPA anda pada pekerjaan Penelitian oleh National Association of Colleges and Employers (NACE), Amerika Serikat pada tahun 2002. NACE melakukan survei terhadap 457 pimpinan perusahaan mengenai karateristik unggul seorang calon pekerja. Dari survei tersebut, diperoleh 20 kepribadian unggul (Winning Charateristic) lulusan yang paling dicari oleh perusahaan (diurutkan berdasarkan skor tertinggi) yakni sebagai berikut : Kemampuan Komunikasi – 4.69 Kejujuran/Integritas - 4.59 Kemampuan Bekerja Sama – 4.54 Kemampuan Interpersonal – 4.5 Beretika - 4.46 Motivasi/Inisiatif - 4.42 Kemampuan Beradaptasi - 4.41 Daya Analitik - 4.36 Kemampuan Komputer – 4.21 Kemampuan Berorganisasi – 4.05 Berorientasi pada Detail- 4.0 Kepemimpinan - 3.97 Kepercayaan Diri – 3.95 Ramah - 3.85 Sopan - 3.82 Bijaksana – 3.75 Indeks Prestasi (>=3.0) – 3.68 Kreatif – 3.59 Humoris – 3.25 Kemampuan Berwirausaha – 3.23 Bisa dilihat bahwa IP/GPA bukan jadi jaminan anda akan dilirik oleh perusahaan untuk bekerja, tetapi Kemampuan berkomunikasi lah yang dianggap penting oleh para pimpinan perusahaan. SO ? saya yakin anda bisa menilai diri anda sendiri melebihi orang lain karena hanya anda sendiri yang tahu sejauh mana potensi dan kapasitas anda yang sebenarnya, orang lain hanya sebagai pemberi peringkat, tidak lebih.
  3. Selain sebagai ukuran kinerja seorang mahasiswa di kampus, Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) kerap dianggap sebagai faktor penting saat melamar pekerjaan karena dapat menjadi ukuran kinerja seseorang ketika bekerja. Benarkah? Ternyata tidak juga. Tidak percaya? Berikut ini 6 alasan IPK tinggi bukan segalanya saat bekerja. 1. IPK tidak menjamin pekerjaan Pandangan umum yang menyatakan bahwa rajin belajar dan IPK tinggi akan menjamin diraihnya pekerjaan impian nyatanya tidak selalu tepat. Tidak semua lulusan dengan IPK tinggi memperoleh pekerjaan seperti impiannya, justru terkadang mereka yang lulus dengan IPK pas-pasan­-lah yang meraih pekerjaan impian. 2. Memiliki IPK tinggi tidak menjamin keterampilan berkomunikasi interpersonal yang baik IPK mungkin menjadi alasan kita mendapat panggilan wawancara, namun bukan pekerjaan. Saat wawancara, kemampuan komunikasi interpersonal-lah yang menjadi penentu. Sayangnya, IPK tidak berkorelasi positif dengan kemampuan komunikasi interpersonal seseorang. 3. IPK tidak menentukan seberapa pintar seseorang Alasan IPK tinggi bukan segalanya saat bekerja adalah karena bukan kepintaran yang membuat kita mampu menjawab soal ujian (yang menjadi faktor penentu IPK), namun kemampuan mengingat pelajaranlah yang menjadi penentunya. Kenyataan pahitnya, kebanyakan dari kita melupakan 95% apa yang kita pelajari. 4. Mempertahankan IPK tinggi berarti mengorbankan waktu bersosialisasi Setuju atau tidak, jika kita ingin mendapat IPK tinggi, maka kita perlu rajin belajar, apalagi menjelang ujian. Sayangnya, kondisi ini memaksa kita untuk mengurangi waktu berkumpul bersama teman-teman. Bukankah saat ini networking lebih penting dibandingkan IPK kala melamar kerja. 5. Pengusaha tidak bertanya tentang IPK kita Bos kita tidak peduli seberapa tinggi IPK kita, melainkan seberapa baik kita di tempat kerja. Tunjukkan padanya apa yang dapat kita kerjakan di atas meja, bukan berapa tinggi IPK yang kita peroleh saat kuliah. 6. Faktor lain di luar IPK Jangan mengabaikan IPK, tetapi ada banyak hal lain yang sama pentingnya dengan IPK. Jadi, pastikan kita tidak kehilangan mereka hanya karena kita ingin “angka yang baik pada selembar kertas” yang mungkin tidak akan peduli kepada kita setelah 10 tahun.
×
×
  • Create New...