Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'Health'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

  • Ngobas Blog
  • Your World

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 2 results

  1. Praktis dan murah. Itulah yang biasa dijadikan alasan untuk menggunakanPolystirene Foam atau yang lebih kita kenal dengan nama Styrofoam sebagai kemasan makanan. Si Putih ini dapat dibeli dengan harga yang sangat murah: Rp 200 - Rp 300 per kemasan dengan ukuran standar. Sekarang, bandingkan harga tersebut dengan kemasan plastik yang dapat mencapai harga Rp 400 per kemasan atau kemasan kertas yang dapat mencapai harga Rp 500. Kita coba sedikit berimajinasi. Suatu hari para pedagang ini mencoba peruntungannya dengan berjualan di sebuah Festival Kuliner dengan perkiraan pengunjung lebih dari 10.000 orang. Pada hari itu, hanya dengan memilih menggunakan kemasan styrofoam, tanpa menaikan harga atau trik-trik lainnya, para pedagang tersebut sudah bisa mendapat keuntungan sebesar Rp 1.000.000 - 2.000.000. 1-0 untuk styrofoam. sumber: google.com Sayangnya, hidup tidak bisa hanya ditilik dengan hitungan dagang. Setelah segala perhitungan yang menggiurkan tersebut, potensi bahaya besar mengintip dari balik angka. Berikut hal menakutkan yang mungkin terjadi ketika menggunakan kemasan makanan berbahan styrofoam: 1. Meracuni diri kalian sendiri sumber: google.com Styrene yang terkandung dalam styrofoam dapat menyebabkan reaksi keracunan, sakit kepala kronis, gangguan syaraf, dan potensi menyebabkan kanker (karsinogenik) bila senyawa tersebut terus-menerus masuk ke dalam tubuh meski hanya dalam jumlah sedikit. Pada tahun 1999, di kota Castellón, Spanyol, sekitar 30 warga kota tersebut mengeluh mengalami gejala keracunan bahan kimia: iritasi tenggorokan, pusing-pusing, sesak napas, hingga susah tidur.Mereka mengaku bahwa gejala tersebut muncul setelah tercium bau seperti bahan kimia yang muncul dari saluran air minum mereka. Setelah diselidiki ternyata bahan kimia tersebut adalah styrene yang terkandung juga pada styrofoam. 2. Mempersiapkan bom waktu Menurut penelitian terbaru, timbulan rata-rata sampah per orang di Indonesia telah mencapai 1 Kg/orang dengan proporsi polystirene (styrofoam) mencapai 10%, artinya setiap orang menyumbangkan 0,1 Kg sampah styrofoam setiap hari. Bayangkan jumlah penduduk Indonesia mencapai 237 juta jiwa, itu berarti setiap harinya 237.000 ton styrofoam yang berakhir di TPA dan tidak terolah. Tidak seperti sampah organik seperti sisa makanan atau daun-daunan, jumlah tersebut tidak akan menyusut bahkan sampai 500 tahun ke depan. Dengan menumpuknya sampah styrofoam tersebut, ditambah dengan sampah organik yang telah ada di TPA maka bom waktu pun mulai berdetak. sumber:google.com Penguraian sampah organik oleh bakteri yang menghasilkan gas methan terkumpul sampai batas yang cukup kuat untuk “meledak”. Hal yang sama terjadi pada TPA Leuwi Gajah satu dekade yang lalu. Dan, mungkin akan terulang. sumber:google.com 3. Menjadi agen punahnya satwa liar Sampah Styrofoam yang dibuang sembarangan ke lingkungan tidak akan dapat diurai secara alami. Styrofoam akan pecah menjadi serpihan-serpihan kecil yang, sengaja atau tidak, dapat tertelan oleh binatang-binatang kecil seperti ikan, kura-kura, atau burung. Beberapa kasus kematian binatang massal pernah dicatat dengan indikasi adanya styrofoam dan plastik didalam tubuh binatang tersebut. sumber:google.com 4. Menghancurkan keindahan alam Kalian suka traveling atau jalan-jalan? Bila iya, sebaiknya kalian stop menggunakan produk berbahan styrofoam sekarang juga. Bila tidak, siap-siap kehilangan destinasi wisata untuk dikunjungi dan kalian berperan dalam menghancurkannya. Sampah-sampah styrofoam yang dibuang ke sungai atau selokan akhirnya akan bermuara di laut. Dari laut kumpulan sampah tersebut akan mengapung dan bertambah banyak lalu mengalir mengikuti arus. Tidak jarang kumpulan sampah tersebut akhirnya terdampar di pesisir atau pantai yang masih perawan dan merusak keindahan dan kealamian pantai tersebut. Selain estetika, ekosistem di tempat sampah tersebut terdampar juga akan ikut rusak. sumber:google.com 5. Berperan dalam peningkatan pemanasan global Styrofoam dibuat dari campuran 90-95% polistirena dan 5-10% gas dengan menggunakan blowing agent seperti CFC (freon) yg merusak lapisan ozon. EPA dan WHO bahkan mengkategorikan proses pembuatan styrofoam sebagai penghasil limbah berbahaya ke-5 terbesar di dunia. Pengaruh kerusakan akibat penggunaan styrofoam mungkin tidak langsung kita rasakan kini. Namun, bencana mengintai anak cucu kita. sumber:google.com Itulah 5 Alasan yang kuat untuk berhenti menggunakan kemasan makanan atau produk lain berbahan Styrofoam. Jangan sampai anak cucu kita yang menanggung ketidakpedulian kita.
  2. Tim peneliti di Inggris mengatakan ribuan nyawa dapat diselamatkan setiap tahun jika perokok beralih ke rokok elektrik. Para peneliti mengakui risiko kesehatan jangka panjang yang disebabkan oleh rokok elektronik belum diketahui, tetapi mereka mengatakan rokok elektrik kurang berbahaya jika dibandingkan dengan rokok biasa. Untuk setiap satu juta perokok yang beralih ke rokok elektrik, lebih dari 6.000 jiwa di Inggris dapat diselamatkan, menurut tim University College London. "Kandungan asap rokok elektrik tidak seperti asap rokok yang berisi karsinogen dan racun. Bahkan, kandungan asap rokok elektrik berada jauh di bawah 20 batang rokok," kata Profesor Robert West dari University College London. Temuan itu praktis membantah laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang menyebutkan rokok elektrik dapat meningkatkan kadar racun dan nikotin di udara. Karenanya, WHO menyerukan pelarangan rokok elektrik di tempat umum dan tempat kerja. WHO juga memperingatkan seseorang yang bukan perokok akan mulai mengisap rokok elektrik. Namun, tim University College London menemukan jumlah seseorang bukan perokok yang mulai menggunakan rokok elektrik berjumlah kurang dari 1% dari populasi.
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy