Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'Digital'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

  • Ngobas Blog
  • Your World

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 8 results

  1. Contoh perusahaan yang bangkrut yang diambil disini adalah perusahaan Eastman Kodak Corporation. Setelah Eastman Kodak Corporation tersebut dinyatakan pailit, banyak pihak yang berusaha mencari tahu penyebab dari kebangkrutan perusahaan tersebut. Menurut sejumlah pengamat, seperti dikutip laman timesofindia.com, perusahaan yang merupakan perusahaan pelopor film fotografi tersebut tidak sanggup melawan arus digital yang semakin berkembang setiap tahunnya. Tidak seperti IBM dan Xerox Corp, yang sukses menciptakan arus pendapatan baru saat bisnis mereka menurun. Mereka menilai kesalahan kodak membuang proyek-proyek baru terlalu cepat yang menyebarkan investasi digital terlalu luas, dan puas pada penilaian Rochester, New York, yang membutakan perusahaan untuk berinovasi pada teknologi lain. Sejak 1888, George Eastman menciptakan sebuah mesin yang menangkap gambar pada pelat kaca besar. Tak puas dengan terobosan itu, dia melanjutkan untuk mengembangkan film roll dan kemudian kamera Brownie. Selanjutnya pada 1960, Kodak mulai mempelajari potensi komputer dan membuat terobosan besar di tahun 1975, saat salah satu insinyur, Steve Sasson, menemukan kamera digital. "Ketika (George Eastman) meninggal, ia menyisakan pengaruh pada perusahaan, yang salah satunya Kodak akan terus terikat dalam nostalgia," kata Nancy Westt, seorang profesor yang menulis sejarah Kodak dari University of Missouri. "Nostalgia memang indah, tapi itu tidak memungkinkan orang untuk bergerak maju." tandasnya. Selain itu, penyebab kebangkrutan Kodak karena perusahaan tersebut melewatkan peluang bisnis. Di Consumer Electronics Show di Las Vegas tahunan pekan lalu, Perez dan Kodak memperkenalkan dua kamera baru yang diyakini bisa terhubung secara nirkabel dengan printer dan posting foto ke Facebook. Namun beberapa pengulas gadget mengatakan kamera baru tidak bisa terhubung ke web tanpa membonceng pada smartphone atau koneksi Wi-Fi. Dikatakan pula bahwa dalam beberapa tahun terakhir, pimpinan perusahaan gagal memulihkan keuntungan tahunan. Kas yang terus terkuras membuat Kodak kesulitan memenuhi kewajibannya terhadap karyawan dan pensiunannya. Setelah bertahun-tahun gagal mengikuti era digital, Kodak mengajukan perlindungan pailit. Pemimpin perusahaan Kodak, Antonio Perez menyebutkan, dewan direktur dan segenap tim manajemen meyakini bahwa ini merupakan langkah penting dan tepat dilakukan, demi masa depan Kodak. Ditambahkan Perez, tujuan mendaftarkan diri bangkrut tersebut diambil untuk memaksimalkan nilai pemegang saham, termasuk para karyawan, pensiunan, dan kreditor, serta pengurus dana pensiun. Analis mengatakan Kodak bisa menjadi sebuah kelompok media sosial jika telah berhasil meyakinkan konsumen untuk menggunakan layanan online untuk menyimpan, berbagi, dan mengedit foto-foto mereka. Sebaliknya, Kodak berfokus terlalu banyak pada perangkat dan kalah dalam pertempuran online untuk jaringan sosial seperti Facebook.
  2. Direktur Jenderal Aplikasi dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika, Bambang Heru Tjahjono mengatakan, isu keamanan siber menjadi hal sangat penting dalam era ekonomi digital. Dalam Seminar dan Workshop Cybersecurity Capacity in Indonesia di Hotel Sari Pan Pacific Jakarta pekan lalu, Bambang berkata hal ini harus diantisipasi oleh pemerintah untuk menghadapi perkembangan teknologi informasi yang tidak bisa dibendung. “Tentunya risiko ini yang harus kita hadapi berikutnya ke depan. Pemerintah sudah membuat dan menjalan roadmap tersebut di era online dan era digitalisasi serta antisipasi informasi-informasi dari luar," kata Bambang seperti dikutip dari situs web resmi Kemkominfo. Dalam hal layanan kendaraan panggilan berbasis aplikasi, misalnya, harus dilihat aspek keamanan datanya untuk melindungi data konsumen. Bukan hanya dari sisi jasa kendaraan panggilan, layanan berbasis aplikasi juga semakin luas pemanfaatannya di bidang pemesanan hotel, kesehatan sampai apotek. "Kalau itu semuanya online maka kita harus mengantisipasi yang terkait dengan keamanan data. Begitu juga meningkatnya konsumen internet ke depan,” kata Bambang. Sejauh ini, untuk menjaga keamanan data itu pemerintah memiliki UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2012 tentang Penyelengaraan Sistem dan Transaksi Elektronik (PP PSTE). Khusus UU ITE akan direvisi dan diharapkan rampung tahun ini. Sementara PP PSTE dilaporkan bakal segera direvisi karena tak sehalan dengan irama industri yang kompetitif.
  3. Jakarta, 24 Januari 2016 – Masyarakat dunia dihadapkan dengan berbagai perubahan yang diakibatkan pesatnya perkembangan teknologi informasi dan semakin bertambahnya pengguna internet. Pola transaksi, sosialisasi, interaksi, dan komunikasi dari akademisi, bisnis, dan pemerintah mengalami penyesuaian dari konvensional menuju digital. Dampak dari perubahaan memberikan berbagai peluang baru sekaligus tantangan baru yang berbeda dari sebelumnya. Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi negara berbasis digital economy dengan melihat pertumbuhan E-commerce yang signifikan dalam satu dekade terahir ini. Perubahaan fundamental (transformation) mutlak diperlukan untuk dapat mewujudkan tujuan tersebut. Transformasi memerlukan kreativitas, komitmen, dan integrasi dari semua komponen ekosistem baik dari perspektif sumber daya manusia, bisnis model, teknologi, dan regulasi. Memanfaatkan momentum tersebut, Indonesia E-Commerce Association (idEA) dan Dyandra Promosindo akan menggelar Indonesia E-Commerce Summit and Expo (IESE) pada 27 -29 April 2016 di Indonesia Convention & Exhibition (ICE),Jakarta.Ajang IESE 2016 ini diharapkan menjadi momentum yang penting dalam sejarah perkembangan Indonesia menuju negara digital economy. Mengambil tema, ‘Transforming towards Indonesia Digital Economy’, Indonesia E-Commerce Summit and Expo (IESE) 2016 menghadirkan lebih dari 100 pelaku industri e-commerce seperti online retail, marketplace, classified, daily deals, payment, infrastructure sebagai narasumber baik dari nasional maupun internasional, 200 stand perusahaan yang bergerak diindustri e-commerce dan pendukungnya, serta 100 stand Usaha Mikro Kecil Menengah (UMM). “IESE 2016 menyediakan lebih dari 1.500 kursi untuk pelaku bisnis e-commerce, baik pemain lama maupun pemain baru, yang ingin mencari informasi bisnis, business networking dan belanja onlinedi acara e-commerce ini. 100 pembicara summit siap berbagi pengetahuan dan pengalaman mengenai e-commerce meliputi regulator, pelaku bisnis e-commerce, pelaku bisnis terkait dan UKM” ujar Daniel Tumiwa selaku Ketua Umum idEA. Transformasi E-commerce Pada IESE 2016, transformasi yang dapat terlihat adalah bertemunya para pelaku industri e-commerce dengan teknologi pendukungnya dan juga antara UKM dengan pelaku e-commerce dalam produk dan layanan jasa. “Di IESE 2016, peserta dan pengunjung dapat merasakan transformasi cara berbelanja di online shop yang berbeda dari sebuah konsep pameran itu sendiri. Misi kami yaitu mengedukasi masyarakat luas mengenai potensi industri e-commerce”, ujar Edi Taslim selaku Dewan Pengawas idEA. Indonesia sendiri merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan e-commerce yang sangat berkembang cepat seiring dengan peningkatan penggunaan telepon pintar dan juga infrastruktur telekomunikasi internet. Pertumbuhan ini tidak hanya terjadi di kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, Medan dan lain-lain tetapi juga kota-kota lain dan menyebar hampir seluruh wilayah Indonesia. Hal ini membuat Indonesia menjadi salah satu negara dengan potensi pertumbuhan e-commerce terbesar di Asia Pasifik. Pada tahun ini, nilai bisnis e-commerce di Indonesia diperkirakan bisa mencapai Rp. 120 triliun sampai dengan Rp. 140 triliun dan dalam tiga tahun ke depan diperkirakan akan meningkat menjadi USD 130 miliar. Hal ini didukung oleh potensi yang masih bisa digarap di tahun-tahun mendatang. Saat ini penetrasi Internet di Indonesia baru mencapai 88 juta pengguna namun menurut idEA hanya sekitar 7 persen saja yang melakukan pembelanjaan secara online. Tahun depan penetrasi Internet di Indonesia diperkirakan akan mencapai 102 juta pengguna dan ini tentu akan ikut meningkatkan para pelaku e-commerce di Indonesia. Melihat potensi yang cukup besar tersebut, idEA optimis penyelenggaraan IESE 2016 akan menuai sukses. Hal ini karena IESE bisa menjadi wadah yang menyatukan para pelaku bisnis e-commerce di Indonesia serta masyarakat luas dan menjadi tempat untuk saling berbagi informasi tentang ecommerce.
  4. Pada 2008, mendiang Steve Jobs melontarkan ramalan memakai analogi truk, mobil, dan sepeda motor untuk membaca tren peranti mobile di masa depan. Jobs memprediksi proporsi antara komputer dekstop, laptop, dan peranti mobile seperti telepon genggam. Jauh sebelumnya, tiga dekade lalu, Jobs juga telah meramalkan setiap perangkat teknologi informasi bakal terhubung satu sama lain. Waktu itu, 1985, tak banyak orang bisa membayangkan wujud ramalan Jobs. Teknologi informasi pada medio 1985 baru sampai pada tataran komputer dekstop. Kotak pintar itu pun masih susah dijinjing dan terbatas kapasitas maupun kemampuannya. "Kita baru berada pada tahap awal dari suatu hal besar. Yang akan terjadi berikutnya, seperti terobosan baru saat telepon diperkenalkan," ungkap Jobs. Jobs meramalkan, setiap rumah pada masa depan akan butuh komputer. Menurut dia, konsumen rumahan bakal butuh komputer karena ingin terhubung dengan jaringan komunikasi nasional. Saat ditanya terobosan baru apa yang dia maksud, Jobs mengaku baru berspekulasi. "Banyak hal terjadi di industri ini. Anda tidak tahu pasti seperti apa hasilnya nanti. Namun, (jejaring komputer) ini adalah sesuatu hal yang besar dan banyak manfaatnya," jawab dia. Dan, internet pun mewujud pada awal era 2000-an. Lalu, ramalan soal truk, mobil, dan sepeda motor meluncur dari mulut Jobs, saat telepon genggam masih menjadi mimpi para engineer. Perkiraan pertumbuhan pengguna internet sebagaimana dilansir situs eMarketer pada 2013, yang dikutip di Harian Kompas edisi 10 Maret 2015. Truk merupakan analogi untuk komputer dekstop, sementara mobil adalah peranti komputer mobile, dan sepeda motor adalah gadgetsemacam telepon genggam dan tablet. "Ketika kita tinggal di negara agraris, semua kendaraan terdiri dari jenis truk karena memang itulah yang diperlukan di pertanian," ucap Jobs sebagaimana dikutip olehAllThingsD. Namun, lanjut Jobs, ketika masyarakat menjadi semakin urban, mobil bakal menggantikan truk dan bahkan mendominasi. Ketika mobilitas makin tinggi, sepeda motor pun akan “meliuk-liuk” di jalanan. Analogi Jobs ini tak lepas dari tren di Negeri Paman Sam. Fitur-fitur yang sebelumnya kurang dipandang di kendaraan jenis truk, seperti "power steering"—anggap saja sebagai perumpamaan efisiensi daya dan daya tahan baterai—pun tiba-tiba menjadi sangat penting. Wujud ramalan Jobs Lima tahun sesudah 2008, ramalan Jobs mewujud dalam angka-angka proporsi penjualan komputer dekstop, notebook, dan telepon genggam. Kemudian, hari ini, 2015, internet juga sudah menjadi barang yang terasa lumrah ada di mana saja, dari perkotaan hingga pelosok pedesaan, berikut realisasi ramalan soal “truk”, “mobil”, dan “sepeda motor”. Riset IDC pada 2013 memublikasikan proyeksi pengapalan gabungan komputer dekstop dan notebook akan terlewati angka pengiriman tablet. Pengapalan ponsel cerdas (smartphone) pun diprediksi menembus angka 1,4 miliar unit pada 2015. Soal ramalan Jobs tiga dekade lalu, situs eMarketer.com menyebutkan, jumlah pengguna internet di seluruh dunia pada 2015 mencapai angka 3 miliar, setara 42,4 persen populasi dunia, naik sekitar 6,2 persen dibandingkan pada 2014. Sampai 2018, hampir setengah dari populasi dunia atau sekitar 3,6 miliar orang diperkirakan mengakses internet minimal satu kali dalam satu bulan. Di Indonesia, penetrasi internet dan peranti pendukungnya pun tumbuh sama tinggi. Pada 2013, nilai impor gawai mencapai 2,8 miliar dollar AS. Saat ini, gawai sudah menjadi kebutuhan utama bagi sebagian besar masyarakat perkotaan, baik untuk kepentingan sosial maupun profesional. Lalu, apa kabar kelanjutan ramalan Jobs soal truk? "Mereka akan tetap ada dan tetap bernilai tinggi, tetapi hanya dipakai segelintir orang," imbuh Jobs dalam wawancara pada 2008 itu. Hasil survei Litbang Kompas tentang perilaku pengguna internet di Indonesia, sebagaimana tayang pada edisi 21 Juli 2015. Survei Litbang Kompas menunjukkan, perangkat telepon genggam menjadi media yang paling banyak digunakan untuk mengakses internet. Setiap empat dari sepuluh responden mengaku memiliki perangkat smartphone dan sekitar 85 persen di antaranya menyatakan kerap mengakses internet menggunakan peranti tersebut. [Kompas, 21 Juli 2015]. Pertanyaan berikutnya, seperti apa dunia yang terbentuk dengan dukungan segala kemudahan teknologi informasi seperti ramalan Jobs? Barangkali yang tidak sempat terlontar dari mulut Jobs adalah fakta pada hari ini lompatan besar teknologi informasi sudah mengubah banyak aktivitas keseharian manusia di seantero Bumi. Responden survei Kompas yang mengaku terbiasa mengakses internet adalah kelompok usia di bawah 35 tahun, sekaligus menjadi kelompok pengakses internet paling aktif. Hampir separuh dari mereka mengakses internet setiap hari. Selain untuk kebutuhan mencari informasi lewat situs pencari berita (search engine), tak kurang dari 61 persen responden juga bilang banyak memanfaatkan internet untuk mengakses media sosial, berinteraksi dengan kerabat dan kolega. Gelombang kemajuan internet dan peranti teknologi informasi pun pelan-pelan mengubah pola bisnis. Simak misalnya kisah Rianti,makeup artist, yang cuplikan videonya muncul diindonesiadigitalnation.com. Memulai usaha pada 2006, dia mengaku pengguna layanannya semula bisa dirunut keterkaitan maupun sumber informasinya. “(Dulu) jualan makeup itu benar-benar dari mulut ke mulut. Kalau sekarang si A, besok tantenya si A, seperti garis lurus. Sekarang, dengan internet, sudah silang-silang, saya tidak tahu mereka tahu saya dari mana,” tutur Rianti. Penggunaan telepon genggam untuk aktivitas sehari-hari Berselancar memakai ponsel pintar dan tablet sudah pula menjadi bagian dari gaya hidup. Tidak hanya di kota-kota besar, fenomena ini juga terlihat di kota-kota lapis kedua dan ketiga. Makin banyak orang mencari informasi terkini dari perangkat bergerak mereka. Di antara indikatornya, tempat pengisi daya listrik dan jaringan Wifi gratis sudah menjadi semacam keharusan di kafe dan restoran. Yang juga menarik dicermati adalah berkembangnya bisnis online. Pemesanan tiket dan hotel untuk kebutuhan wisata juga diminati pengguna internet. Pemanfaatan teknologi informasi dan peranti mobile telah pula merambah dunia pendidikan hingga pelayanan publik. Akan menjadi menarik lagi, bila suatu ketika kita bisa melihat para petani berkumpul di dangau persawahan, membahas harga jual gabah lewat gadget canggih. Sebelum sampai ke sana, cita-cita sederhana Rianti dalam video di situs indonesiadigitalnation.com pun layak disambut sebagai asa bagi Indonesia. “Kalau bisa gue ingin sharing ilmu makeup gue lewat internet, supaya wanita-wanita lain bisa mendapati tips makeup cantik dari saya,” ujar Rianti. Bersama dia, puluhan orang lain telah pula tampil dalam video di situs yang sama. Kalau Anda punya visi seperti apa internet dan peranti teknologi informasi bisa menjadi inspirasi, kenapa tak Anda bagi berupa video singkat lewat aneka media sosial yang kini bertebaran? Unggah dan pasang saja tagar #IndonesiaDigitalNation. Barangkali, kali ini giliran Anda yang bisa membuat ramalan jitu tentang masa depan teknologi informasi, selepas sosok visioner Jobs mangkat pada 5 Oktober 2011. Anggap saja Jobs sedang bertanya, "Buat apa internetmu?"
  5. Chris Doten mengetahui betapa bahayanya bagi aktivis demokrasi dan jurnalis yang sedang bekerja di bawah rezim otoriter. Sebagai manager teknologi digital di National Democratic Institute, LSM nonpartisan yang mendukung transparansi dan keterbukaan dalam pemerintahan, tugas Doten adalah untuk membantu jurnalis dan pendukung pro-demokrasi melindungi privasi mereka dari penyadapan pemerintah saat mereka online. “Kami bergerak di tengah masyarakat yang relatif tertutup,” ujar Doten. "Banyak situasi bahaya dan kami selalu mencoba memperhatikan risiko yang ada bagi orang-orang yang bekerja dengan kami.” Risiko-risikonya antara lain penggerebekan pemerintah, penyitaan komputer, pencurian data melalui malware dan paparan narasumber, penduking dan emai pribadi. Pelanggaran-pelanggaran tersebut dapat menyebabkan penangkapan, pengusiran atau hal yang lebih buruk. Namun menurut Doten, ada solusi digital yang dapat membantu semakin banyak jurnalis dan yang lainnya di seluruh dunia menjaga aktivitas daring mereka. Solusi ini bernama “Tails,” dan “Tails” membuatnya mudah bahkan bagi individu yang paling gagap teknologi untuk melindungi komunikasi dan aktivitas internet mereka dari pemerintah manapun di dunia. Keuntungan sistem 'live' “Tails” adalah singkatan dari The Amnesic Incognito Live System. Dalam istilah komputer, sebuah sistem "live” adalah sistem operasi yang berdiri sendiri dan berjalan sendiri menggunakan DVD atau USB. Karena sistem "live" hanya bergantung kepada muatan memori komputer (RAM), berkas sistem operasi tidak tersimpan di mana-mana. Setelah terunduh ke USB, pengguna cukup menancapkan ke komputer manapun dan menyalakannya. Ketika dikeluarkan, sistem "live" Tails sama sekali tidak meninggalkan jejak keberadaannya karena komputer sama sekali tidak memiliki memori bahwa Tails pernah digunakan. Tails juga menggunakan jaringan anonim Tor untuk semua koneksi internet – sehingga Tails tidak terhubung dengan identitas pengguna. Salah seorang pengguna Tails yang meminta agar namanya tidak disebut atas alasan kemanan, mengatakan kepada VOA bahwa tujuan mereka adalah untuk menciptakan alat yang “mengkombinasikan keamanan yang tidak hanya kokoh tapi juga dapat tersedia bagi banyak orang.” Awalnya, pengembang menyadari bahwa sistem "live" atau Tor dengan sendirinya tidak cukup untuk menyembunyikan identitas dan aktivitas online pengguna. Namun, ketika dua-duanya digunakan, developer tersebut mengatakan, mereka dapat menciptakan perisai yang tangguh. Informasi identitas “Semua jenis informasi indentitas dapat dibocorkan, bahkan melalui Tor, seperti jejak peramban Anda, nama mesin atau pengguna atau metadata dari dokumen Anda,” ujar pengambang tersebut. “Sistem-sistem 'live'… sama sekali tidak meninggalkan jejak di komputer.” “Meskipun Tor dapat melindungi Anda dari seseorang yang menyerang jaringan Anda, Tor tidak bisa melindungi Anda dari penyerang yang bisa mengakses komputer anda, menganalisa isnya, seperti yang dapat dilakukan pemerintah yang menindas, atau atasan Anda,” ujar developer tersebut. “Karena sistem-sistem 'live' bergantung kepada RAM, ketika Anda mematikannya, semua jejak aktivitas otomatis menghilang dari komputer,” tambah pengembang tersebut. Baik Doten dan pengembang Tails mengatakan bahwa meskipun Tails menyediakan privasi yang cukup baik dengan sendirinya, Tails juga memiliki sejumlah aplikasi keamanan tambahan yang dapat diakses dengan mudah oleh pengguna. “Tails juga memungkinkan banyak enkripsi – seperti enskripsi end-to-endmelalui PGP langsung - namun ini tidak otomatis,” ujar Doten. “Ada juga klien percakapan multi-protokol yang dapat berbicara dengan Facebook, Google Chat, dan Pidgin. Jadi, orang-orang dapat menggunakan Tails, lalu menambahkan PGP atau Pidgin sementara orang lain menggunakan alat tambahan di sisi sebaliknya.” Ini dan alat-alat lainnya - seperti GnuPG untuk melakukan enkripsi email, dompet Electrum Bitcoin dan KeePassX untuk menyimpan kata kunci - memungkinkan pengguna untuk menyusuaikan level privasi dan tingkat anonimitas. “Tails, pada akhirnya, akan menyediakan sistem operasi; apa yang terjadi setelah itu, terserah Anda,” ujar Doten. Penggunaan beragam 'Tails' Tails bukan teknologi baru; versi pertama diluncurkan sekitar lima tahun yang lalu. Karena Tails gratis dan kebanyakan digunakan oleh individu yang ingin tetap anonim, pengembang Tails mengatakan kepada VOA bahwa sangat sulit untuk mengetahui dengan pasti siapa atau berapa banyak orang yang menggunakan sistem tersebut. Apa yang diketahui adalah bahwa semakin banyak jurnalis dan organisasi advokasi seperti NDI tempat Doten bekerja yang secara terbuka memelopori penggunaan Tails. “Saya cukup yakin dari 100 lebih orang yang saya beri pelatihan PGP, nol menggunakannya secara rutin,” Doten memberitahu VOA. “Tails jauh lebih mudah dan sederhana bagi banyak orang.” “Mitra kami menganggap Tails seperti lingkungan kerjanya: Tails memungkinan Anda melakukan apa yang harus Anda lakukan untuk pekerjaan Anda,” tambahnya. Wartawan Tanpa Tapal Batas, LSM nirlaba yang mendorong kebebasan pers, juga menyarankan Tails bagi jurnalis yang perlu melindungan identitas narasumber mereka. Aktivis Tibet menggunakan Tails untuk mendokumentasi pelanggaran hak asasi manusia oleh pemerintah China dengan aman. Kelompok-kelompok yang bekerja keras untuk melawan kekerasan dalam rumah tangga, sepertiTransition House dan Emerge, sekarang menggunakan Tails untuk melaporkan kekerasan dan melindungi identitas korban. “Saya terutama ingin memastikan saya membawanya ketika sedang berpergian,” ujar Farad Desmukh, seorang wartawan investigatif yang berbasis di Karachi. “Pakistan benar-benar bukan tempat yang paling aman untuk jurnalis.” Pendukung 'Tails' Mungkin dukungan terbesar bagi Tails datang di tahun 2013, ketika mantan kontraktor NSA, Edward Snowden bersikeras meminta jurnalis Glenn Greenwald dan Laura Poitras untuk menggunakannya sebelum ia menyetujui untuk memperlihatkan dokumen apapun mengenai program pengawasan NSA yang sudah ia kumpulkan. Seperti aplikasi enkripsi atau anonimitas lainnya, Tails dapat digunakan untuk kejahatan maupun kebaikan. Perlindungan yang solid dapat membantu melindungi aktivis hak asasi manusia bisa juga digunakan oleh peretas, gerombolan-gerombolan kriminal, bahkan teroris untuk menyembunyikan aktivitas online mereka. Walaupun ia mengakui bahwa hal itu sangat mungkin, Doten mengatakan bahwa hal yang seharusnya dikhawatirkan adalah seberapa sering aktivis online, jurnalis dan orang lain yang bekerja keras untuk menyebarkan demokrasi ditarget di dunia maya dan kemudian dihukum atas aktivitas mereka. Saya terus terang terkejut dengan kondisi keamanan digital di antara wartawan-wartawan di AS; orang-orang yang menghadapi bahaya nyata yang mereka dapat saksikan baik secara eksternal maupun internal,” ujarnya. “Faktanya, kantor-kantor redaksi di negara ini - bahkan bagi media besar -kurang banyak berinvestasi dalam hal ini, dan menurut saya ini adalah kejahatan sebenarnya,” ujar Doten.
  6. Saat sekarang ini digital marketing bisa kita anggap sebagai salah satu solusi yang sangat mumpuni dalam memasarkan produk yang kita miliki. Dengan modal yang tidak terlalu besar dan tingkat efesiensi yang cukup tinggi sangat bermanfaat bagi pelaku bisnis pemula. Namun apakah anda mengerti ada 3 hal yang harus dihadapi oleh pebisnis pemula dalam dunia digital marketing. Berikut ini 3 hal yang akan dihadapi dalam digital marketing: 1. Memahami pentingnya penelusuran web. Banyak orang pasti mengerti akan mesin pencari seperti google, yahoo search atau yang lainnya. Namun apakah anda tahu ada di posisi mana usaha anda dalam pencarian google dengan kata kunci yang anda sematkan? Apakah Anda juga tahu bahwa search engine mengumpulkan begitu banyak informasi terkait pada tren penelusuran dan konsumen menggunakan perangkat selular? SEO adalah jawabannya. Dengan SEO maka kata kunci yang kita sematkan untuk usaha kita bisa secara relevan muncul di halaman muka mesin pencari. 2. Pemasaran dengan sosial media murah bukan berarti gratis. Sosial media memang lah sangat bermanfaat namun anda bukan berarti tidak mengeluarkan biaya saat mengelolanya. Biaya juga harus disediakan untuk jasa penyebaran informasi tentang produk kita jika di facebook anda bisa menggunakan FB Ads atau di twitter anda bisa menggunakan Buzzer. Namun dengan itu semua kita juga harus memperhatikan biaya yang akan timbul apakah sesuai dengan target yang ingin kita capai. 3. SDM yang kompeten dengan digital marketing Untuk hal yang satu ini sangat mempengaruhi sekali karena sdm merupakan senjata atau ujung tombak kita layaknya sales yang langsung menawarkan produknya ke pelanggan. Orang yang mengelola akun sosial kita harus orang yang cakap dalam mengemas kata dan gambar agar mampu membentuk awareness masyarakat akan produk atau jasa kita sehingga bisa meningkatkan point of sales.
  7. Bagaimana rasanya jika telah membuat sebuah karya inovatif tapi kemudian dijiplak sepenuhnya oleh pihak lain? Risiko ini bisa terjadi di segala bidang industri dan dialami oleh perusahaan, termasuk perusahaan rintisan (startup). Kesadaran atas pentingnya sebuah hak kekayaan intelektual ternyata belum dimiliki oleh masyarakat Indonesia. Padahal, hak kekayaan intelektual yang telah dipatenkan bisa menjadi aset berharga di masa Erik Saropie, perwakilan dari Kementerian Hukum dan HAM, Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (HKI) mengimbau para pendiri perusahaan rintisan untuk mendaftarkan hak patennya untuk menghindari penjiplakan. "Mendaftarkan hak paten sangatlah penting. Karena resiko kehilangan nilai ekonomis dapat terjadi jika tidak diantisipasi," ujar Erik Erik mengakui, mengubah pola pikir masyarakat terhadap pendaftaran hak paten adalah kendala yang sangat sulit, termasuk untuk para pendiri perusahaan. Menurutnya, para pelaku bisnis yang punya karya inovatif lebih banyak menunggu dan melihat apakah produk mereka dapat diterima di masyarakat atau tidak. Jika diterima, barulah mereka mendaftarkan hak paten. Padahal, ini adalah kesalahan yang dapat berakibat fatal. "Mindset inilah yang harus kita ubah. Lebih baik daftarkan dahulu. Urusan diterima atau tidak oleh pasar itu belakangan. Yang penting tidak terjadi penjiplakan," kata Erik. Menurutnya, ada banyak hal yang dapat didaftarkan dari sebuah perusahaan rintisan berbasis internet, dari nama hingga sistem yang ada di dalamnya. "Ada banyak yang bisa di daftarkan, kebanyakan mengira hanya nama saja agar tidak ada kesamaan. Sebenarnya hingga sistem yang kecilpun bisa kita daftarkan," lanjutnya. Erik menilai pendaftaran hak kekayaan intelektual oleh perusahaan rintisan masih terbilang sedikit. Ia berharap dengan semakin matangnya industri internet dan digital di Indonesia, kesadaran hak intelektual juga semakin meningkat, guna mengantisipasi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.
  8. Kita di Indonesia masih pakai SIM (surat ijin mengemudi) dalam bentuk kartu plastikiPhone-6. Namun di AS, SIM selalu berbentuk kartu yang bisa dipegang. Sebentar lagi yang perlu dibawa saat berkendara adalah sebuah smartphone. Begitulah rencana negara bagian Iowa, AS. Mulai tahun depan, negara bagian tersebut akan merilis sebuah app khusus yang bertindak sebagai pengganti SIM kartu plastik. Negara-negara bagian lainnya diperkirakan akan segera menyusul. Pihak kepolisian dan sekuriti bandara akan menerima kartu digital tersebut. Sementara ini kartu SIM digital itu masih berupa opsi bagi semua pengemudi Iowa. Namun belum jelas platform apa yang akan didukung. Diperkirakan iOS dan Android akan diutamakan. Oh ya karena masih berupa opsi, pemerintah Iowa tetap akan memproduksi SIM kartu plastik.
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy