Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'DKI Jakarta'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

  • Ngobas Blog
  • Your World

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 10 results

  1. KPU DKI Jakarta hari ini akan menggelar pemungutan suara ulang (PSU) di dua TPS. PSU dilakukan karena ditemukan adanya pemilih yang mencoblos menggunakan surat pemberitahuan (C6) milik orang lain. Dua TPS tersebut adalah TPS 01 Gambir, Jakarta Pusat, dan TPS 19 Pondok Kelapa, Jakarta Timur. PSU digelar atas rekomendasi Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). "Bawaslu DKI Jakarta merekomendasikan pemungutan suara ulang di dua TPS. Pertama TPS 01 Gambir dan TPS 19 Pondok Kelapa, Jakarta Timur," ujar komisioner KPU DKI Betty Epsilon Idroos di kantornya, Jl Salemba, Jakarta Pusat, Jumat (21/4/2017) Pemungutan suara ulang dilakukan karena di kedua TPS ditemukan adanya pemilih yang mencoblos menggunakan surat pemberitahuan (C6) milik orang lain. PSU digelar hari ini, Sabtu (22/4). "Mudah-mudahan besok hari Sabtu PSU siap diselenggarakan di dua kota tersebut untuk kemudian dilakukan pemungutan suara ulang dengan KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara) diganti semua di dua KPPS yang dimaksud," kata Betty, Jumat (21/4). Betty memastikan stok surat suara mencukupi untuk menyelenggarakan PSU. Ada 2.000 lembar surat suara yang disiapkan. "Untuk surat suara pemungutan suara ulang memang sudah disiapkan sebanyak 2.000 lembar. Jadi kalau ada dua TPS, rasanya cukup untuk menyelenggarakan PSU tidak perlu lagi menambah jumlah surat suara," ujarnya.
  2. Pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022, Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat sekaligus petahana berdasarkan hasil quick count hasil pemungutan suara dinyatakan kalah. Pemenangnya adalah pasangan nomor urut tiga, Anies Rasyid Baswedan dan Sandiaga Salahuddin Uno. Hasil quick count Lingkaran Survei Indonesia (LSI Denny JA) menunjukkan pasangan Basuki dan Djarot hanya meraih 44,14 persen suara, sedangkan pasangan Anies dan Sandiaga meraih 55,86 persen suara. Data masuk sebanyak 96,29 persen. Hasil quick count Penelitian dan Pengembangan Harian Kompas menunjukkan pasangan Basuki dan Djarot hanya meraih 41,87 persen suara, sedangkan pasangan Anies dan Sandiaga meraih 58,13 persen suara. Data masuk sebanyak 94,7 persen. Kendati dinyatakan kalah, namun pemenang sah adalah yang akan diumumkan Komisi Pemilihan Umum DKI Jakarta berdasarkan hasil real count. Kekalahan pasangan petahana telah diprediksi sejumlah lembaga survei dan konsultan politik, sebelumnya. Saat pemungatan suara putaran pertama, pasangan Ahok, sapaan Basuki dan Djarot malah menang. Lalu, apa sebenarnya penyebab petahana kalah pada Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022? Peneliti dari lembaga survei sekaligus konsultan politik LSI Denny JA, Adjie Alfaraby dan Ardian Sopa pernah membeberkan sebelumnya. Berikut lima penyebab kekalahan pasangan petahana (incumbent) ini berdasarkan hasil riset LSI Denny JA yang dirangkum Tribun-Timur.com: 1. Kesamaan Profil Pemilih Pendukung, termasuk partai politik pengusung pasangan nomor urut satu, Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni yang kalah pada putaran pertama lebih banyak mengalihkan dukungan kepada pasangan Anies dan Sandiaga. Hal ini didasari kesamaan profil pemilih. 2. Kebijakan Tak Pro Rakyat Akibat kebijakan Pemprov DKI Jakarta yang dinilai tak pro kepada rakyat. Kebijakan tersebut, antara lain berupa penertiban kawasan pemukiman dan reklamasi di pantai Jakarta Utara. 3. Sentimen Anti-Ahok Faktor sentimen anti-Ahok karena kapitalisasi isu agama dan primordial. Ahok dianggap tak pas untuk memimpin pemerintahan DKI Jakarta karena bukan pemeluk agama yang mayoritas dipeluk warga DKI Jakarta. Berdasarkan asil riset LSI Denny JA, sekitar 40 persen pemilih yang beragama Islam di DKI Jakarta tidak bersedia dipimpin oleh Ahok yang non-Muslim. Mereka berupaya keras agar Ahok kalah dan tidak memimpin lagi DKI Jakarta. Selain itu, dia juga berasal dari kelompok etnis minoritas. 4. Kasar dan Arogan Karakter Ahok yang kasar dan arogan. Sikap mantan Bupati Belitung Timur itu dianggap bukan tipe pemimpin yang layak memimpin Jakarta karena omongannya kerap dianggap kasar. Puncaknya, ketika dia blunder soal ayat suci Alquran. Belum lagi sikapnya yang dinilai tidak konsisten, suatu ketika mencerca partai politik dan hanya ingin maju lewat jalur independen. Namun, selanjutnya ia berjuang mencari dukungan partai politik. 5. Kompetitor Baru Hadirnya kompetitor baru yang menjadikan pemilih memiliki alternatif dalam memilih pemimpin DKI Jakarta. Pasangan Anies dan Sandiaga, serta pasangan Agus dan Sylviana menjadi alternatif pemilih yang pro maupun kontra Ahok.
  3. Seluruh kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) bertugas untuk memenangkan pasangan calon gubernur-wakil gubernur nomor pemilihan dua DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017. Terutama bagi kader yang merupakan anggota DPRD, DPR RI, serta menjadi Bupati, Wali Kota, dan Gubernur. Anggota DPR RI dari fraksi PDI-P, Charles Honoris mengatakan tiap anggota dewan telah diberikan wilayah pengampuan. Charles sendiri, wilayah pengampuannya di Kecamatan Kebon Jeruk. "Jadi saya punya tugas untuk bisa memenangkan (Ahok-Djarot) di Kebon Jeruk," kata Charles, di Jalan Cemara Nomor 19, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (7/3/2017). Tak hanya anggota dewan yang berasal dari daerah pemilihan DKI Jakarta, namun anggota dewan fraksi PDI-P dari seluruh Indonesia bertugas memenangkan Ahok-Djarot. Selain itu, PDI-P juga menurunkan kadernya yang menjabat Bupati, Wali Kota, dan Gubernur untuk memenangkan Ahok-Djarot. "Jadi kepala daerah, seperti Bupati dan Wali Kota dari PDI-P datang ke Jakarta, serta pimpinan DPRD untuk bekerja demi kemenangan Ahok-Djarot," kata Charles. Ada konsekuensi yang akan diterima tiap kader, jika Ahok-Djarot kalah di wilayah pengampuan. "Jadi itu nanti ada penilaian dari partai dan ibu Ketum (Ketua Umum Megawati Soekarnoputri). Pastinya ada dan bisa menjadi bahan evaluasi kinerja kader," kata Charles. Hasil survei Dari dua hasil survei yang diselenggarakan oleh lembaga survei Median dan Lingkaran Survei Indonesia (LSI), elektabilitas Ahok-Djarot menempati posisi kedua setelah pasangan calon gubernur-wakil gubernur nomor pemilihan tiga DKI Jakarta Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Elektabilitas Ahok-Djarot sebesar 39,7 persen dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno sebesar 46,3 persen. Sedangkan 14 persen responden lainnya masih undecided atau menyatakan belum memutuskan. Responden dalam survei ini sejumlah 800 warga DKI Jakarta yang mempunyai hak pilih. Survei dilakukan pada rentang waktu dari tanggal 21 sampai 27 Februari 2017, dengan margin of error sebesar plus minus 3,4 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen. (Baca: ) Peneliti menentukan sampel dalam survei ini dengan teknik multistage random sampling dan proporsional atas populasi di seluruh kotamadya di Jakarta dan faktor gender. Sumber pendanaan survei berasal dari dana mandiri pihak Median. Sedangkan berdasarkan survei LSI Denny JA terkait pasangan cagub-cawagub yang akan bersaing pada putaran kedua Pilkada DKI Jakarta 2017, elektabilitas Anies Baswedan-Sandiaga Uno dinyatakan mencapai 49,7 persen, sedangkan elektabilitas Ahok-Djarot 40,5 persen. Adapun survei tersebut dilakukan pada periode 27 Februari sampai 3 Maret 2017 terhadap 440 responden dengan cara tatap muka. Metode yang digunakan yakni multistage ramdom sampling, dengan margin of error survei ini kurang lebih 4,8 persen. Survei diklaim dibiayai anggaran internal LSI.
  4. Seorang perempuan yang terserang stroke menangis saat melihat calon gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Perempuan itu bernama Lani (55). Dia tinggal di Jalan Tipar Timur, Semper Barat, Cilincing, Jakarta Utara, daerah yang disambangi Ahok untuk berkampanye jelang Pemilihan Kepala Daerah Jakarta 2017. Lani terserang stroke sejak 2015 lalu. Dia mengaku kerap melihat Ahok di televisi. Lani senang akhirnya bisa melihat mantan Bupati Belitung Timur tersebut secara langsung. "Lihat orangnya biasa di TV," ucap Lani, Senin (2/1/2017). Lani sempat minta didoakan Ahok agar lekas sembuh dari penyakit stroke. Dia juga bersyukur karena mendapat Kartu Jakarta Sehat, sehingga biaya rumah sakit ditanggung Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. "Stroke, ngomongnya belok. Sudah setahun. Biasa berobat di Rumah Sakit Islam. Pakai KJS kalau bayar mahal," ucap Lani. Ahok meminta Lani untuk bersabar menghadapi stroke yang dideritanya. Dia mendoakan Lani untuk lekas sembuh. Ahok mengatakan, Lani bisa mengirimkan pesan langsung ke ponsel genggamnya jika ada keluhan. "Sabar aja Bu. Saya doain biar cepat sembuh. Bisa SMS saya kalau perlu apa-apa ya. Enggak apa-apa, kalau ada apa-apa SMS," ucap Ahok kepada Lani.
  5. Calon Gubernur DKI Jakarta nomor urut dua Basuki Tjahaja Purnama ( Ahok) sempat menyinggung 'Lebaran Kuda' yang pernah diucapkan Presiden RI keenam Susilo Bambang Yudhoyono. Pernyataan tersebut disampaikan Ahok saat dirinya tengah memberikan tanggapan terhadap keluhan warga. Cerita bermula saat Ahok menanggapi masih kurangnya fasilitas kesehatan bagi penderita kanker di ibu kota. Warga bernama Erna itu menyampaikan keinginnya agar Pemprov DKI Jakarta segera menyediakan pelayanan kesehatan tersebut. Mantan Bupati Belitung Timur itu menerangkan, awalnya berniat membangun Rumah Sakit Sumber Waras. Namun sayangnya belum terealisasi karena ada yang mempermasalahkan. Salah satunya karena ada beberapa pihak yang menyulitkan pembangunannya. Akhirnya, Ahok memastikan akan terus membangun RS Sumber Waras dan tak akan dalam rentang waktu yang lama, hingga 'Lebaran Kuda' seperti yang pernah diucapkan SBY. "Yang pasti bukan 'Lebaran Kuda' ya," katanya di Rumah Pemenangan Lembang, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (16/11). Kemudian, mantan politisi Gerindra ini mempertanyakan, kenapa ada pihak yang menyebut 'Lebaran Kuda' tapi tak diproses hukum, seperti dirinya yang tengah terbelit kasus dugaan penistaan agama. "Itu lebaran islam, apa itu tidak menghina agama? Masa lebaran, disebut lebaran kuda. Kalau Ahok yang ngomong, langsung demo lagi," imbuh Ahok. Puluhan pendukung yang memenuhi Rumah Lembang tertawa mendengar pernyataan Ahok tersebut. Tapi, Ahok langsung mengklarifikasi bahwa istilah lebaran kuda bukan datang darinya. "Aku tidak pernah ngomong 'Lebaran Kuda' ya, yang ngomong 'Pak Prihatin'. Bukan saya ngomong ya, saya tak pernah ngomong 'Lebaran Kuda', ini saya dapat dari yang suka ngomong, 'saya prihatin'," tutup Ahok disambut tawa.
  6. Beberapa warga Jalan Ayub di Rawabelong, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, menolak kedatangan Calon Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) saat blusukan untuk kampanye Rabu (2/11). Alasan warga karena calon petahana itu telah melecehkan kitab suci Alquran. Juru Bicara Tim Pemenangan Ahok-Djarot, Ruhut Sitompul mengatakan, yang melakukan penolakan bukanlah warga Jalan Ayub. Melainkan kelompok masyarakat yang menang tidak senang terhadap mantan Bupati Belitung Timur tersebut. "Kan yang nolak-nolak itu gerakan kiri," ujar Ruhut kepada JawaPos.Com, Kamis (3/11). Menurut politikus Partai Demokrat itu, kawasan Jakarta Barat adalah basis massa terbesar yang mendukung Ahok yang berduet dengan Djarot S Hidayat. Karenanya penolakan itu tidak masuk akal sehat. "Daerah Kebon Jeruk itu pendukung Ahok," katanya. Ruhut pun tetap optimistis peristiwa itu tak akan mengegrus dukungan suara untuk Ahok. Bahkan, kata Ruhut, elektabilitas Ahok makin meroket. Dalam pengamatan Ruhut, orang yang dizalimi biasanya akan semakin dicintai. "Itu sudah hukum alam orang dianiaya, terzalimi orang makin cinta. Apalagi orang sudah merasakan hasil kerja Ahok di Jakarta ini," tuturnya.
  7. Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama atau Ahok bakal maju pada Pilkada DKI lewat jalur independen, tidak menggunakan kendaraan partai politik. Meski telah mengambil jalur independen, suara Ahok masih tetap unggul dibanding bakal calon yang lainnya. Hal ini, berdasarkan hasil survei Sinergi Data Indonesia (SDI), yang melibatkan 500 responden di seluruh wilayah DKI, minus Kepulauan Seribu. Ahok unggul dibanding bakal calon gubernur DKI lainnya, yakni Sandiaga Uno, Yusril Izha Mahendra, Adhyaksa Dault, Roy Suryo, Ahmad Dhani, Biem Benyamin, Anis Matta, Djarot Saeful Hidayat, dan Boy Sadikin. "Suara Ahok masih lebih tinggi dibanding akumulasi total suara penantang. Dimana mendapatkan 39,2%. Sedangkan calon lainnya 35,6%, dan yang masih ragu atau memilih tidak menjawab sebesar 25,2%," ujar Direkur SDI Barkah Patimahu di Jakarta, Minggu 13 Maret 2016. Barkah menjelaskan, mantan Bupati Belitung Timur itu meraih suara tertinggi, karena secara umum, Ahok dinilai baik dalam menjalankan birokrasi dan pelayanan publik, serta disiplin kerja. "Sebanyak 72,20%, responden menyatakan baik. Yang mengatakan tidak baik atau buruk hanya sebesar 14,8%. Sedangkan yang menyatakan sangat buruk hanya 10,40%, dan sisanya sebanyak 2,60% memilih tidak tahu atau tidak menjawab," papar dia. Jika mengacu data dari relawan TemanAhok, jumlah KTP yang sudah dikumpulkan sudah terkumpul 784.977 KTP, yang mendukung mantan politikus Partai Golkar dan Gerindra itu.
  8. Jelang pemilihan kepala daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017, mulai muncul nama-nama yang akan bersaing memerebutkan kursi nomor satu di Ibu Kota. Ahmad Dhani digadang-gadang bakal maju sebagai bakal calon Gubernur yang diusung Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Ternyata Farhat Abbas tak mau kalah. Kepada wartawan, Farhat Abbas penuh percaya diri mengumumkan dirinya juga sebagai calon pemimpin DKI. Farhat Abbas yakin popularitasnya lebih tinggi dibanding Ahmad Dhani, bahkan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Yang dia jadikan patokan adalah ajang penghargaan yang digelar salah satu Infotainment beberapa waktu lalu. "Farhat Abbas lebih poluler di antara semuanya. Tahun 2016 Farhat Abbas terpilih sebagai Selebrity Terobsesi dari Global TV. Ahmad Dhani tidak masuk nominasi apa pun. Apalagi Ahok," cetus Farhat Abbas, Kamis 11 Feb 2016. Lebih lanjut, Farhat Abbas sesumbar, dirinya bakal menang jika dilakukan survey lebih lanjut. "Sebaiknya segera dilakukan survey, mana yang terlayak dalam elektabilitas. Farhat Abbas, Ahok, ataukah Ahmad Dhani?" pungkas Farhat Abbas dengan percaya diri.
  9. Gubernur merupakan orang nomor satu di wilayah yang dipimpinnya. Wajar jika setiap gerak-geriknya dikawal ketat dan difasilitasi dengan mewah. Namun apa yang diperlihatkan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, nampaknya berbeda. Pria yang kerap disapa Ahok ini terlihat makan siang dengan lahap dengan hidangan dari warga Rusunawa Marunda, Jakarta Utara, usai acara peresmian Masjid Rusun Marunda dan peluncuran bus pengumpan (feeder) TransJakarta gratis bagi penghuni rusunawa pada Minggu 17 Januaari 2016. Caranya makan, caranya duduk, dan di mana Ahok memilih posisi kursi pun jadi pandangan menarik, yang memperlihatkan dirinya tidak alergian dan tak mengambil jarak dengan masyarakat. "Tidak berpura-pura sudah kenyang, atau terpaksa mengambil makan, tetapi cara makannya celamitan, antara mau, ogah, dan setengah jijik," ujar akun Kartika Santi sembari mengunggah foto tersebut. Meski menunya sederhana, Ahok tetap lahap memakan hidangan yang disediakan. Padahal, Santi menuturkan menu makannya hanya berlaukkan sayur asem, ikan teri, dan tempe goreng. Bahkan Ahok sempat menambah lagi menu sayur asem yang disajikan. "Hidangan yang disajikan oleh penghuni Rusunawa sangat nikmat dan tak kalah dengan sajian di restoran mewah sekali pun," kata Ahok memuji masakan warga rusun ketika berada di lokasi. Potret kesederhanaan Ahok ini pun menuai banyak simpati dari netizen. Banyak yang memuji sikapnya yang sederhana dan tak jaim dengan warga yang dipimpinnya. "Semoga dimuliakan dunia akherat Pak Ahok dan keluarganya," kata akun Manto Cahyo mengomentari. "Beda dengan papa minta lobster hehehehehe," kata akun Daniel Hasan sembari membagikan foto tersebut.
  10. PT Grab Taxi Indonesia melalui layanan Grab Car meluncurkan 10 armada bermerek Lamborghini di Senayan City, Jaksel, kemarin Perusahaan teknologi layanan aplikasi‎ angkutan umum, PT Grab Taxi Indonesia melalui layanan Grab Car meluncurkan 10 armada bermerek Lamborghini di Senayan City, Jakarta Selatan (Jaksel), kemarin. Sayangnya, peluncuran armada mewah berkecepatan tinggi ‎atau supercar itu tidak mendapat restu dari Pemprov DKI. Kepala ‎Dinas Perhubungan dan Transportasi (Dishubtrans) DKI Jakarta Andri Yansyah terkejut mendengar adanya peluncuran tersebut. Karena, pertemuan beberapa waktu lalu pascapenertiban Uber dan GrabCar, pelaku bisnis itu sepakat untuk mengikuti tujuh syarat agar beroperasi seperti angkutan umum lainnya. "Sampai saat ini kami belum menerima kelengkapan prasyarat dari para pebisnis aplikasi, khususnya roda empat ‎tersebut. Kami menyayangkan sikap mereka. Kami akan menindaknya bersama dengan kepolisian," kata Andri Yansyah saat dihubungi, Rabu 21 Oktober 2015. Andri menjelaskan, sebagai regulator yang melayani masyarakat, pemerintah tentunya mendukung segala bentuk cara pelayanan transportasi yang dilakukan oleh berbagai pihak. Namun, kata dia, seyogianya segala bentuk cara tersebut mengikuti aturan-aturan yang berlaku. Sebab, apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, pemerintah tidak dapat mengontrol dan menjamin keselamatan masyarakat. Terlebih faktor keselamatan merupakan faktor utama dalam bisnis transportasi. ‎Untuk itu, apabila pebisnis aplikasi tetap memaksa untuk beroperasi tanpa mau mengurus prasyarat, maka Dishubtransk DKI akan meminta Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) mencabut aplikasi layanan angkutan umum tersebut. "Kami sudah meminta kepolisian untuk terus menindak. Hasilnya akan kami sampaikan ke Kominfo agar segera menutup aplikasi-aplikasi angkutan umum ilegal. Kami tidak tahu, jangan-jangan ‎Lamborghini-nya tidak bersurat seperti yang mayoritas ada di Jakarta," pungkasnya. Selain itu, apabila Kominfo tidak mampu menutup aplikasi tersebut, Dishubtrans akan bergerak cepat membenahi pelayanan transportasi massal untuk menyaingi ‎keberadaan mereka. Salah satunya mengoperasikan 300 unit bus Kopaja di jalur Transjakarta pada akhir bulan ini. "Kami harap dengan banyaknya armada bus di jalur Transjakarta, mobilitas pengguna dapat lebih cepat diwujudkan. Kami akan terus memperbaiki layanan transportasi massal, karena kami yakin transportasi murah, cepat, aman dan nyaman akan menjadi rebutan masyarakat," tuturnya.

About Ngobas

Ngobas is All-in-One website that can be use by everyone for free to find friends and exchange information. The name Ngobas is derived from the abbreviation, which is Ngomong Bebas Originally Sedap, meaning that it is appropriate to speak according to the ethics of socializing.

CEO’s Greeting

I realize that information and communication are the main things in life. Ngobas is the right platform for that. We will always be connected wherever we are and that is the purpose Ngobas was built.

- Samuel Berrit Olam

×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy