Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'Bohong'.

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • CLINIC NGOBAS
    • Coronavirus
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • Ngocol
    • Ngocol Video
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • ABOUT NgobasTV
    • EVENT
    • WESER
    • LAPOR KOMANDAN

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Categories

  • Files
    • Website
    • Smartphone
  • Games
  • E-Book

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 6 results

  1. Dalam sebuah hubungan, dibohongi pasangan tentu bisa menjadi hal yang paling menjengkelkan sekaligus mengecewakan, terlebih jika sedari awal hubungan kalian sudah bersepakat untuk saling terbuka satu sama lain. Jika hal ini terjadi, maka tak heran jika kebohongan yang dianggap sepele pada awalnya ternyata membawa dampak yang cukup merugikan bagi hubungan. Nah, daripada kamu uring-uringan dan kecewa berat karena tertipu oleh pacarmu, coba kenali beberapa bahasa tubuh pasanganmu. Disebutkan dalam laman www.gurl.com, berikut ini beberapa bahasa tubuh yang dapat menandakan bahwa pasanganmu (mungkin) sedang berbohong. Yuk, simak! Menghindari Tatapan Langsung. Salah satu cara mengetahui bahwa pasanganmu sedang berbohong, dapat dilakukan dengan memperhatikan gerakan matanya. Coba perhatikan apakah pasanganmu sering menghindari kontak mata denganmu saat berbicara, dan apakan gerakan matanya terlihat tidak tenang? FYI, Gerakan mata ke kiri dan kanan pada saat berbicara dapat menandakan bahwa seseorang sedang menyembunyikan sesuatu. Menyeka Hidung. Sering menyeka hidung pada saat berbicara dapat menjadi indikasi pasanganmu sedang berbohong. Perhatikan apakah sebelumnya ia sudah sering melakukan gerakan tersebut atau hanya dilakukan pada saat sedang berbicara padamu. Melakukan Gerakan Tangan Tak Beraturan. Saat seseorang berbohong pada pasangannya, maka akan terlihat bahasa tubuh yang gelisah, salah satunya akan terlihat dari melakukan gerak tangan yang tak beraturan seperti meremas-remas tangan dan menyentuh benda-benda yang ada di sekeliling. Ekspresi Marah. Ekspresi yang terlihat mudah marah atau emosi lebih dari biasanya, dapat menjadi salah satu tanda bahwa perselingkuhan sedang terjadi. Contohnya pada saat kamu melontarkan pertanyaan-pertanyaan ringan, tapi yang tampak dari ekspresinya justru ekspresi marah yang seolah tidak beralasan. Menggaruk Leher. Berbohong akan membuat seseorang semakin sering menggaruk lehernya. Perhatikan berapa kali dia menggaruk lehernya pada saat berbicara dengan kamu. Jika hal ini sering dilakukan, dapat dilihat bahwa dia menunjukkan rasa ragu dengan ucapan yang dilontarkan. Jika demikian, kamu bisa mulai mencurigainya dan meminta penjelasan darinya. Nah, itulah beberapa bahasa tubuh yang menunjukkan si dia sedang berbohong kepadamu. Jika kamu menangkap dia melakukan hal-hal ini saat berbicara denganmu, kamu bisa menanyakan kepadanya untuk mendapatkan kejelasan. So, semoga bermanfaat!
  2. Sebuah studi yang digelar oleh University of East Anglia, Inggris menemukan bahwa kejujuran orang berbeda di setiap negara. Mereka menemukan bahwa warga Inggris adalah yang paling jujur di dunia, sementara Cina adalah yang paling gemar berbohong. Studi yang diuraikan dalam konferensi London Experimental Workshop di London, Inggris pada 16 November kemarin itu digelar dengan melibatkan 1500 responden dari 15 negara, yang mewakili seluruh kawasan di dunia. Negara-negara itu adalah Brasil, Cina, Yunani, Jepang, Rusia, Swiss, Turki, Amerika Serikat, Argentina, Denmark, Inggris, India, Portugal, Afrika Selatan, dan Korea Selatan. Studi itu sendiri digelar dengan melakukan dua eksperimen online. Dalam eksperimen pertama, para peserta diminta untuk mengundi koin dan memberitahukan gambar kepala atau ekor yang muncul. Sebelumnya mereka telah diberitahu bahwa jika gambar kepala yang muncul, maka mereka akan mendapatkan imbalan sebesar 3 sampai 5 dolar AS. Nah, jika di satu negara ada lebih dari 50 persen yang melaporkan bahwa koin yang diundi menunjukkan gambar kepala, maka itu adalah indikasi mereka berbohong. Dalam eksperimen kedua, para responden diminta bermain kuis tentang musik. Jika benar mereka juga akan mendapat hadiah berupa uang, tetapi syaratnya mereka tak boleh mencari jawabannya di internet. Adapun pertanyaan yang diberikan sangat sukar, sehingga para responden akan cenderung menggunakan di internet untuk menemukan jawaban yang tepat. Hasil dua eksperimen itu, kata peneliti David Hugh-Jones, menunjukkan bahwa di semua negara ada kecenderungan untuk berbohong, tetapi tingkatnya bervariasi. Negara paling jujur dalam eksperimen pertama adalah Inggris, dengan tingkat ketidakjujuran 3,4 persen dan tertinggi Cina pada 70 persen. Dalam eksperimen kedua, negara paling jujur adalah Jepang, diikuti oleh Inggris. Berada di daftar terbawah adalah Turki dan Cina di urutan kedua dari terakhir.
  3. Apakah Anda punya balita tapi dia sudah mulai berkata bohong? Jangan langsung mengecapnya sebagai anak nakal. Anak-anak cenderung mulai berbohong di usia muda terutama karena mereka memiliki imajinasi yang aktif dan sering tenggelam dalam fantasi sendiri. Inilah alasan lain mengapa anak berbohong. Pertama, balita mungkin tidak tahu perbedaan antara mengatakan kebenaran dan berbohong. Hal ini tidak berbahaya, tapi orangtua tetap harus memonitor terutama menjelang usia masuk sekolah. Kedua, setelah anak duduk di bangku sekolah, ia terpapar lingkungan baru dan bertemu banyak teman baru. Anak-anak berbohong untuk menyembunyikan hal-hal yang mereka pikir salah. Si kecil melakukannya karena mereka takut konsekuensi saat ketahuan bersalah. Ketiga, perilaku berbohong juga sering dikaitkan dalam rangka mencari perhatian di antara anak-anak yang merasa diabaikan. Memberikan perhatian, kasih sayang, dan mengatakan bahwa Anda memercayai mereka akan membantu si kecil menyingkirkan kebiasaan ini. Keempat, berbohong juga disebabkan karena si kecil merasa rendah diri dan tidak aman dengan lingkungannya.
  4. Anak kecil memang suka berbohong, suka tidak suka, itulah kenyataan yang harus “ditelan” oleh para orangtua. Nah, apabila Anda adalah tipe orangtua yang tidak bisa menerima fakta bahwa anak kecil cenderung suka berbohong pada orangtua. Sebaiknya, jangan melanjutkan membaca uraian berikut ini. Menurut studi yang dihelat oleh McGill University in Montreal, mengatakan bahwa anak mulai berbohong pada usia mereka mencapai dua tahun dan terus berlanjut demikian. Kebohongan yang diutarakan anak memiliki ragam tujuan. Entah untuk menutupi kesalahan mereka, takut dimarahi orangtua, atau untuk membela teman-teman sebayanya. Tugas Anda sebagai orangtua adalah membimbing, memberikan teladan dan contoh pada buah hati agar tidak membiarkan sifat buruk tersebut menjadi kebiasaan di masa mendatang. Sejumlah ilmuwan yang terlibat pada studi tersebut di atas, mendokumentasikan 372 anak berusia empat dan delapan tahun sebagai materi penelitian. Mereka ditempatkan dalam sebuah ruangan dengan mainan di belakang kursi tempat mereka duduk. Sebelum beberapa ilmuwan keluar ruangan, mereka meminta anak-anak untuk tidak mengintip mainan yang berada di belakang kursi. Hasilnya, dua dari tiga anak ditemukan mengintip dan melihat mainan di belakang kursi. Kemudian, dua dari tiga anak yang mengintip berbohong kalau mereka tidak melakukannya. Ternyata, hal menarik dari hasil studi ini adalah apa yang memicu anak untuk tidak disiplin dan kemudian berbohong. Ternyata, masalahnya ada pada apa yang diucapkan oleh para ilmuwan sesaat sebelum meninggalkan ruangan. Sejumlah anak diberi tahu apabila mereka mengintip, mereka diancam mendapatkan hukuman. Beberapa anak lainnya diberi tahu bahwa jika mereka tidak mengintip, mereka membuat orangtua bahagia. Lalu, sejumlah anak dinasehati baik-baik bahwa mereka lebih baik jujur karena itu adalah perilaku yang baik. Kemudian, sisanya, tidak diberitahu atau diancam sama sekali. Ternyata grup anak-anak yang lebih banyak berbohong adalah mereka yang sebelumnya diancam akan mendapatkan hukuman. Kemudian, anak-anak dengan usia yang lebih muda, mengaku berbohong supaya orangtua merasa bahagia. Hal lain terjadi pada anak-anak berusia lebih tua yang mengatakan mereka berbohong karena itu sesuatu yang harus dilakukan agar tidak dihukum. Kesimpulan dari studi ini mengatakan bahwa ancaman dan cara didik terlalu disiplin tidak membuat anak tumbuh menjadi seseorang yang jujur dan berani bertanggung jawab. “Kenyataannya, hukuman dan ancaman menurunkan keberanian anak untuk berkata jujur. Hasil studi ini bertujuan untuk memberikan pandangan pada orangtua dan pekerja profesional di dunia pendidikan, supaya mereka tidak mudah memberikan ancaman dan hukuman pada anak,” ujar ketua penelitian, Victoria Talwar. Talwar menyarankan para orangtua dan guru untuk jangan buru-buru memarahi dan menghukum anak saat mereka ketahuan berbohong. Sebab, cara yang demikian justru membuat mereka semakin takut dalam berperilaku jujur dan bicara terus terang.
  5. Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata, "Makanlah nak, aku masih kenyang!" Kebohongan Ibu yang Pertama Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di sungai dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingannya, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhanku. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disampingku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpit, aku berikan sedikit bagianku dan memberikannya kepada ibu. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata, "Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan!" Kebohongan Ibu yang Kedua Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah ku dan kakak, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api. Aku berkata, "Ibu, tidurlah, sudah malam, besok pagi ibu masih harus kerja." Ibu tersenyum dan berkata, "Kamu tidurlah duluan, aku belum mengantuk." Kebohongan Ibu yang Ketiga Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menungguku selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai, Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Melihat Ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk Ibu sambil menyuruhnya minum. Namun Ibu menjawab, "Minumlah nak, aku tidak haus!" Kebohongan Ibu yang Keempat Setelah kepergian Ayah karena sakit, Ibu yang malang harus merangkap sebagai Ayah dan Ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati Ibuku untuk menikah lagi. Tetapi Ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, Ibu berkata, "Saya lebih senang sendiri bersama kalian anak-anakku." Kebohongan Ibu yang Kelima Setelah aku sudah tamat dari sekolah dan bekerja, Ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi Ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakak ku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan Ibu, tetapi Ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata, "Terima kasih Nak, Ibu masih punya duit." Kebohongan Ibu yang Keenam Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa dari sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa Ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi Ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku, "Aku lebih suka disini." Kebohongan Ibu yang Ketujuh Setelah memasuki usianya yang tua, Ibu terkena penyakit kanker, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang Samudera Atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat Ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuhnya sehingga Ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku menatap Ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat Ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi Ibu dengan tegarnya berkata, "Jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan." Kebohongan Ibu yang Terakhir Setelah mengucapkan kebohongannya yang terakhir, Ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya. Coba pikirkan lagi, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon Ayah dan Ibu kita? Berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan Ayah Ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan Ayah Ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan Ayah dan Ibu yang ada di rumah. Jika dibandingkan dengan kekasih kita, kita pasti lebih peduli dengan kekasih kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar kekasih kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum. Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari kedua orang tua kita? Cemas apakah mereka sudah makan atau belum? Cemas apakah mereka sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi. Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi Ayah dan Ibu kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata menyesal di kemudian hari.
  6. Para ahli mengatakan sebenarnya insting kita bisa mendeteksi suatu kebohongan yang dikemukakan orang lain, sayangnya pikiran sadar menghalangi insting alami tersebut. Dengan kata lain bagi orang awam mendeteksi kebohongan cukup sulit. Nah ternyata ada cara lain yang bisa kita lakukan untuk mendeteksi kebohongan, yaitu dengan mengamati kebiasaan atau bahasa tubuh si pembohong. Dr. Lillian Glass, ahli analisa bahasa tubuh yang pernah bekerja untuk FBI ini menjabarkan apa saja yang dilakukan seseorang ketika berbohong. 1. Perubahan posisi kepala Jika Anda mengajukan suatu pertanyaan, dan orang yang Anda tanya itu merubah posisi kepala seperti memiringkan, menunduk, menarik kepala ke belakang sebelum dia menjawab berarti dia sedang berbohong. 2. Perubahan pola bernafas Jika seseorang mulai berbohong mereka cenderung menarik nafas lebih berat, ini karena detak jantung dan aliran darah berubah (menjadi tegang dan gugup). 3. Berdiri diam Secara reflek Anda akan berbicara sambil menggerakkan anggota tubuh, namun jika seseorang berbicara dengan posisi diam ini patut diwaspadai karena posisi kaku ini menandakan orang tersebut sedang dalam kondisi "bertahan". 4. Mengulang kata Mengulang kata menandakan kalau orang tersebut sedang meyakinkan kebohongan kepada dirinya sendiri. Selain itu bisa juga dia sedang mengulur waktu untuk menyusun kebohongan selanjutnya. 5. Berbicara terlalu banyak Jika Anda mengajukan pertanyaan dan orang tersebut berbalik memberondong Anda dengan jawaban-jawaban yang panjang, yang bahkan detail informasinya tidak berkaitan dengan pertanyaan Anda, bisa jadi dia sedang berbohong, pembohong biasanya memberondong Anda dengan informasi agar Anda percaya. 6. Menyentuh mulut Memegang mulut atau bibir pada dasarnya menunjukkan kalau orang tersebut enggan untuk berbicara. Fakta yang keluar dari mulut orang yang enggan berbicara bisa jadi tidak valid. 7. Menutupi bagian rawan tubuh Ketika orang berbohong dan menjadi gugup mereka cenderung menutupi bagian tubuhnya yang dianggap rawan seperti tenggorokan, perut, dan dada. 8. Menggerakkan kaki Ketika orang berbohong mereka cenderung menggerakkan/menggoyang kaki, tingkah ini menunjukkan orang tersebut tidak nyaman dengan situasi yang ada dan ingin segera pergi. 9. Sulit berbicara Untuk kasus ini biasanya ketika orang dalam kondisi stress, sistem saraf secara otomatis mengurangi produksi air liur, efeknya adalah mulut terasa kering dan susah bicara. 10. Menatap terlalu lama Perhatikan apakah lawan bicara menatap mata Anda terlalu lama tanpa berkedip, bisa jadi dia sedang berusaha mempengaruhi Anda lewat tatapan matanya.
×
×
  • Create New...