Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'Antartika'.

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • CLINIC NGOBAS
    • Coronavirus
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • Ngocol
    • Ngocol Video
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • ABOUT NgobasTV
    • EVENT
    • WESER
    • LAPOR KOMANDAN

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Categories

  • Files
    • Website
    • Smartphone
  • Games
  • E-Book

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 5 results

  1. Tim peneliti dari University of Manchester menemukan batuan meteorit di bawah es Antarktika, Kutub Selatan yang diduga menyimpan informasi tata surya. Batu-batu meteorit di sana diyakini mengandung banyak zat besi dan diperkirakan memiliki ukuran antara 10 dan 50 sentimeter. Diketahui bahwa dari total jumlah batuan meteorit yang jatuh secara merata di seluruh permukaan Bumi, selama ini dua pertiganya telah ditemukan di kawasan Antarktika. Mengutip The Telegraph, sebagian diyakini karena kontras antara permukaan Antarktika yang putih dan meteorit yang biasanya berwarna gelap. Pemimpin penelitian Geoff Evatt dan timnya menyatakan bahwa temuan meteorit tersebut hilang sebagai akibat dari sinar Matahari yang menembus es jernih dan memanaskan meteorit tersebut lebih parah dari bahan non logam. Pemanasan dan es yang meleleh di sekitar meteorit kemudian diyakini menyebabkan mereka tenggelam dan secara permanen meteorit tersebut terperangkap di bawah permukaan. Batu meteorit yang mereka temukan itu dianggap berasal dari dalam tubuh planet raksasa yang pada akhirnya mengalami kehancuran. Tim Evatt lalu mengklaim bahwa informasi tersebut bisa membantu para peneliti memahami asal-usul meteorit. "Dengan kemungkinan kuat bahwa tempat persembunyian meteorit ini di bawah permukaan es Antarktika, maka menemukan bukti jelas mengenai eksistensinya tentu penting bagi pemahaman kami dalam mengungkap misteri pembentukan tata surya," ungkap Evatt. Menurutnya, tantangan utama bagi tim peneliti adalah menjadi yang pertama untuk menempatkan meteorit itu dan mengambil sampelnya. Para peneliti gabungan percobaan laboratorium dengan model matematik untuk melakukan mekanisme saringan yang bisa mengidentifikasi lapisan bawah es yang menampung meteorit kaya akan zat besi selama ribuan tahun. Selain meneliti kandungan dan seberapa banyak 'peleburan' bahan meteorit dengan es Kutub Selatan, mereka mengklaim bahwa mengobservasi lapisan es di sana juga bisa meningkatkan informasi yang dibutuhkan mengenai awal pembentukan tata surya.
  2. Ilmuwan memproyeksikan setengah dari volume lapisan es di Antartika Barat dapat hilang dalam 200 tahun. Beberapa tebing es Antartika terus mencair bahkan menjadi lebih tipis 18 persen sejak dua dekade lalu. Science daily melaporkan, peneliti yang tergabung dalam studi tentang pengaruh cahaya pada perubahan iklim ini mendapatkan hasil, lapisan es terus menipis dengan cepat. Pada 1994 hingga 2003, jumlah volume es Antartika mengalami sedikit perubahan. Namun tak berselang lama penipisan terus terjadi, bahkan dalam beberapa tahun terakhir mancapai tingkat tertinggi. “Dalam waktu delapan tahun, 18 persen tebing es di Antartika benar-benar mengalami perubahan substansial,” tutur peneliti Fernando Paolo. “Secara keseluruhan, kami melihat tidak hanya volume lapisan es yang menurun. Tapi juga adanya percepatan dalam satu dekade ini.” Penyusutan es memang tidak langsung memengaruhi naiknya permukaan air laut. Meski demikian, pemanasan global benar-benar telah mengurangi volume es di Antartika. Bahkan, ilmuwan memproyeksikan setengah dari volume lapisan es di Antartika Barat dapat hilang dalam 200 tahun.
  3. Udara yang memanas memicu robohnya bidang es besar di Antartika pada 2002, menurut sebuah laporan yang dapat membantu para ilmuwan memprediksi peristiwa yang sama di masa yang akan datang di benua beku tersebut. Antartika merupakan kunci pada kenaikan tingkat permukaan laut, yang mengancam wilayah pesisir di seluruh dunia. Benua itu memiliki cukup es untuk menaikkan permukaan laut 57 meter jika semua es mencair, yang berarti bahwa bahwa sedikit es saja meleleh merupakan masalah. Sampai penemuan ini, sebab pasti robohnya bidang es Larsen-B, sebuah massa es yang mengambang dan lebih besar dari Luksemburg di ujung gletser di Semenanjung Antartika, tidak diketahui. Beberapa ahli memperkirakan bahwa dataran es itu menipis akibat air laut dari bawah. Menulis di jurnal Science, satu tim ilmuwan menyalahkan kenaikan suhu udara, mengatakan bahwa air lelehan dan hujan pada musim panas singkat di Antartika telah mengalir ke dalam retakan-retakan yang dalam. Robohnya bidang es Larsen-B kemungkinan besar merupakan respon terhadap pemanasan di permukaan. Sejak 2002, beberapa bidang lain telah patah di sekitar Semenanjung Antartika, yang ada di bawah Amerika Selatan.
  4. Suhu udara sekitar Arktik yang bikin tubuh mengigil dilaporkan sudah mulai menghangat, bahkah naik dua kali lipat dibanding area manapun di Bumi. Bulan Desember sebagai penanda memasuki musim dingin malah tidak terlalu dirasakan di area Kutub Utara. Salju di sana turun dengan intensitas di bawah rata-rata dan cukup membuat beruang kutub menderita. Penelitian ini berasal dari National Oceanic and Atmospheric Administration sejak 2006 yang berjudul Arctic Report Card dan terus dipublikasikan tiap tahun. Di dalam Arctic Report Card tercantum bahwa perubahan berskala besar tersebut adalah dampak dari kenaikan suhu yang berasal dari gas emisi rumah kaca. Tak hanya lapisan salju, suhu permukaan laut juga semakin meningkat khususnya di Laut Chukchi sebelah barat laut Alaska, di mana airnya mengalami pemanasan tiap 1 Fahrenheit atau -17 Celcius per dekade. Luasnya es laut Arktik yang semakin berkurang sejak musim panas lalu tidak mencapai rekor terendah di tahun 2014 ini, namun berada di enam terendah sejak satelit mengukurnya sejak 1979. Dengan berkurangnya es laut dan banyaknya volume air laut, sinar matahari bisa semakin menembus masuk ke lautan yang nantinya bisa mengarah kepada suburnya tanaman laut. Sementara di daratan, kehijauan tundra terus meningkat 20 persen sejak 1982. Hal itu mengindikasikan daerah yang tertutup oleh salju juga semakin sedikit. Yang mengenaskan, merosotnya jumlah es laut mempengaruhi populasi beruang kutub di area barat Hudson Bay, Kanada dari tahun 1987 sampai 2011 karena beruang kutub mengandalkan es laut untuk berkelana dan berburu. Para ilmuwan menyampaikan, runtuhnya lapisan es Antartika kemungkinan sifatnya permanen yang berujung pada peningkatan permukaan laut sebanyak 3 meter atau lebih. Permukaan laut meningkat, sinar matahari semakin mudah masuk yang menjadikan tundra semakin tumbuh namun beberapa spesies di sana akan kehilangan habitat murninya. Lantas akankah Kutub Utara menjadi wilayah serba hijau yang tak lagi dingin?
  5. Data satelit menunjukkan bahwa jumlah penguin kaisar di Antartika ternyata jauh lebih banyak dari dugaan para ilmuwan selama ini. Ketika musim dingin menyerang Antartika, hampir semua binatang meninggalkan benua putih ini, kecuali penguin kaisar. Burung-burung lucu ini ternyata merupakan salah satu spesies paling kuat di muka bumi. Penguin kaisar adalah satu-satunya hewan yang tinggal di atas es selama musim dingin ekstrem di Antartika, saat suhu bisa anjlok hingga -57 ºC dan kecepatam angin menjadi sekitar 161 km/jam. Berapa banyak jumlah penguin kaisar yang bertahan di benua paling selatan bumi ini? Sampai saat ini, tidak seorangpun yang benar-benar tahu. Namun pada tahun 2009, sebuah tim peneliti internasional mulai bekerja untuk mencari tahu jumlah penguin kaisar. Mereka menggunakan satelit untuk memperkirakan populasi hewan ini. Apa yang mereka temukan cukup mengejutkan: Jumlah penguin kaisar yang hidup di Antartika hampir dua kali lipat dari yang sebelumnya diperkirakan. Untuk mengetahui jumlah penguin, peneliti memulainya dengan mempelajari foto Antartika beresolusi tinggi yang diambil oleh satelit observasi bumi milik swasta. Gambar-gambar yang kita digunakan sama seperti yang Anda lihat di Google Earth. LaRue dan timnya dengan teliti memeriksa foto-foto itu. Mereka memfokuskan diri pada garis pantai Antartika, dimana penguin kaisar hidup dalam kelompok besar yang disebut koloni selama musim kawin. Untuk menemukan koloni itu, para ilmuwan mencari bintik-bintik cokelat besar pada es yang merupakan guano atau kotoran yang ditinggalkan oleh penguin. Kemudian para peneliti memperbesar gambar bintik-bintik coklat itu untuk menemukan koloni penguin. Komputer membantu memperkirakan jumlah penguin di setiap koloni. Dengan memeriksa setiap piksel (titik-titik kecil yang membentuk gambar) komputer bisa memutuskan apakah suatu piksel mewakili es, guano, atau seekor penguin. Dari penghitungan jumlah piksel “penguin” di komputer, para ilmuwan bisa memperkirakan jumlah burung tersebut. Dengan menggunakan metode sensus satelit terbaru, para ilmuwan menemukan 10 koloni penguin kaisar yang belum pernah terlihat sebelumnya. Dalam salah satu koloni terdapat hampir 30.000 ekor penguin. Secara keseluruhan, tim memperkirakan ada sekitar 595.000 ekor penguin kaisar hidup di Antartika, jauh lebih banyak daripada sekitar perkirakan sebelumnya, yakni 300.000 ekor. Berkat metode satelit-sensus, para ilmuwan sekarang memiliki gambaran yang lebih akurat tentang jumlah populasi penguin di bumi. “Ini adalah alat yang hebat.
×
×
  • Create New...