Jump to content

Search the Community

Showing results for tags '4G LTE'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

There are no results to display.

There are no results to display.

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 7 results

  1. Setiap jaringan baru pasti menjanjikan kecepatan lebih untuk layanan data. Seperti halnya 4G LTE menjanjikan kecepatan transmisi 500 MB per detik. Menariknya belakangan ini, jaringan generasi kelima 5G mulai diperkenalkan. 5G bahkan menjanjikan transfer data hingga 10 GB per detik, mencapai dua puluh kali lipat dari LTE. Jaringan 5G kabarnya tidak hanya berguna untuk layanan data. Bahkan mampu untuk mengendalikan kendaraan yang bisa menyetir sendiri. Pada kecepatan 100 km/jam, mobil menempuh jarak 27,78 meter per detik sehingga setiap bit dihitung dalam hal kecepatan reaksi. Ini juga berlaku untuk kontrol pabrik industri, robot, drone, dan hal-hal lain yang dibuat untuk 5G. Kemudian, jaringan itu sendiri juga akan menjadi lebih fleksibel dengan 5G. Jumlah perangkat yang mungkin dalam suatu jaringan akan secara signifikan lebih tinggi, yang memperhitungkan perkembangan menuju 'hal-hal' yang semakin banyak dalam jaringan. Di sini juga, fokus awalnya pada industri, robot, sensor, kendaraan, wadah dan hal-hal serupa. Jaringan 5G dapat diatur secara berbeda, tergantung pada tujuan yang diinginkan. Hampir tidak pernah terjadi bahwa baik 10 Gbit/s, mini-latency dan ribuan perangkat yang terhubung didukung secara bersamaan. Namun, ini memberi operator jaringan fleksibilitas yang mereka butuhkan. Perluasan jaringan akan cukup mahal, karena antena 5G dalam kebanyakan kasus memiliki jangkauan yang jauh lebih rendah daripada jaringan LTE dan karenanya harus dipasang lebih sering. Namun seperti yang ditunjukkan oleh manfaat 5G, ini akan sangat bermanfaat dalam jangka panjang. Selain itu, pengenalan 5G tidak berarti kepunahan LTE. Sebaliknya, dalam banyak kasus, pengguna tidak akan memerlukan manfaat 5G sama sekali, dan perangkat 5G secara otomatis akan memutuskan jaringan mana yang akan digunakan. Ini juga akan terlihat dalam masa pakai baterai, karena 5G akan mengonsumsi daya lebih besar secara signifikan daripada 4G di sebagian besar situasi.
  2. Khoirul Anwar dianggap gila. Ditertawakan. Bahkan dicemooh. Idenya dianggap muskil. Tak masuk akal. Semua ilmuwan yang berkumpul di Hokkaido, Jepang, itu menganggap pemikiran yang dipresentasikan itu tak berguna. Dari Negeri Sakura, Anwar terbang ke Australia. Tetap dengan ide yang sama. Setali tiga uang. Ilmuwan negeri Kanguru itu juga memandangnya sebelah mata. Pemikiran Anwar dianggap sampah. Pemikiran Anwar yang ditertawakan ilmuwan itu tentang masalah power atau catu daya pada Wi-Fi. Dia resah. Saban mengakses internet, catu daya itu kerap tak stabil. Kadang bekerja kuat, sekejap kemudian melemah. Banyak orang mengeluh soal ini. Tak mau terus mengeluh, Anwar memutar otak. Pria asal Kediri, Jawa Timur, itu ingin memberi solusi. Dia menggunakan algoritma Fast Fourier Transform (FFT) berpasangan. FFT merupakan algoritma yang kerap digunakan untuk mengolah sinyal digital. Anwar memasangkan FFT dengan FFT asli. Dia menggunakan hipotesis, cara tersebut akan menguatkan catu daya sehingga bisa stabil. Ide itulah yang diolok-olok ilmuwan pada tahun 2005. Banyak ilmuwan beranggapan, jika FFT dipasangkan, keduanya akan saling menghilangkan. Tapi Anwar tetap yakin, hipotesa ini menjadi solusi keluhan banyak orang itu. Ilmuwan Jepang dan Australia boleh mengangapnya sebagai dagelan. Tapi dia tak berhenti. Anwar kemudian terbang ke Amerika Serikat. Memaparkan ide yang sama ke para ilmuwan Paman Sam. Tanggapan mereka berbeda. Di Amerika, Anwar mendapat sambutan luar biasa. Ide yang dianggap sampah itu bahkan mendapat paten. Diberi nama Transmitter and Receiver. Dunia menyebutnya 4G LTE. Fourth Generation Long Term Evolution. Yang lebih mencengangkan lagi, pada 2008 ide yang dianggap gila ini dijadikan sebagai standar telekomunikasi oleh International Telecommunication Union (ITU), sebuah organisasi internasional yang berbasis di Genewa, Swiss. Standar itu mengacu prinsip kerja Anwar. Dua tahun kemudian, temuan itu diterapkan pada satelit. Kini dinikmati umat manusia di muka Bumi. Dengan alat ini, komunikasi menjadi lebih stabil. Karya besar ini ternyata diilhami masa kecil Anwar. Dulu, dia suka menonton serial kartun Dragon Ball. Dalam film itu, dia terkesan dengan sang lakon, Son Goku, yang mengeluarkan jurus andalan berupa bola energi, Genkidama. Untuk membuat bola tersebut, Goku tidak menggunakan energi dalam dirinya yang sangat terbatas. Goku meminta seluruh alam agar menyumbangkan energi. Setelah terkumpul banyak dan berbentuk bola, Goku menggunakannya untuk mengalahkan musuh yang juga saudara satu sukunya, Bezita. Prinsip jurus tersebut menjadi inspirasi bagi Anwar. Dia menerapkannya pada teknologi 4G itu. Jadi, untuk dapat bekerja maksimal, teknologi 4G menggunakan tenaga yang didapat dari luar sumber aslinya. *** Ya, karya besar ini lahir dari orang desa. Anwar lahir di Kediri, Jawa Timur, pada 22 Agustus 1978. Dia bukan dari kalangan ningrat. Atau pula juragan kaya. Melainkan dari kalangan jelata. Sang ayah, Sudjiarto, hanya buruh tani. Begitu pula sang bunda, Siti Patmi. Keluarga ini menyambung hidup dengan menggarap sawah tetangga mereka di Dusun Jabon, Desa Juwet, Kecamatan Kunjang. Saat masih kecil, Anwar terbiasa ngarit. Mencari rumput untuk pakan ternak. Pekerjaan ini dia jalani untuk membantu kedua orangtuanya. Dia ngarit saban hari. Setiap sepulang sekolah. Meski hidup di sawah, bukan berarti Anwar tak kenal ilmu. Sejak kecil dia bahkan mengenal betul sosok Albert Einstein dan Michael Faraday. Ilmuwan dunia itu. Anwar suka membaca buku-buku mengenai dua ilmuwan tersebut, padahal tergolong berat. Hobi ini belum tentu dimiliki anak-anak lain. Dan dari dua tokoh inilah, Anwar menyematkan cita-cita menjadi ‘The Next Einstein’ atau ‘The Next Faraday’. Cita-cita tersebut hampir saja musnah. Saat sang ayah meninggal pada tahun 1990. Sang tulang punggung tiada. Siapa yang akan menopang keluarga? Perekonomian sudah tentu tersendat. Padahal kala itu Anwar baru saja menapak sekolah dasar. Anwar tentu khawatir, sang ibu tak mampu membiayai sekolah. Apalagi hingga perguruan tinggi. Tapi Anwar memberanikan diri, mengungkapkan keinginan bersekolah setinggi mungkin kepada sang ibu. Kepada emak. Anwar menyiapkan diri. Sudah siap apabila sang emak menyatakan tidak sanggup. Tapi jawaban yang dia dengar di luar dugaan. Bu Patmi malah mendorongnya untuk bersekolah setinggi mungkin. “Nak, kamu tidak usah ke sawah lagi. Kamu saya sekolahkan setinggi-tingginya sampai tidak ada lagi sekolah yang tinggi di dunia ini,” ucap Anwar terbata, karena tak kuasa menahan haru saat mengingat perkataan emaknya itu. Perkataan itu menjadi bekal Anwar untuk melanjutkan langkah meraih mimpi. Lulus SD, dia diterima di Sekolah Menengah Pertama (SMP) 1 Kunjang. Kemudian dia meneruskan ke Sekolah Menengah Atas (SMA) 2 Kediri. Salah satu sekolah favorit di Kota Tahu itu. Saat SMA itulah dia memilih meninggalkan rumah. Dia tinggal di rumah kost, tidak jauh dari sekolah. Jarak rumah dengan sekolah memang lumayan jauh. Dia sadar pilihan ini akan menjadi beban sang ibu. Masalah itu membuat Anwar harus memutar otak. Dia lalu memutuskan untuk tidak sarapan demi menghemat pengeluaran. Tetapi, itu bukan pilihan tepat. Prestasi Anwar turun lantaran jarang sarapan. “Karena tidak sarapan, setiap jam sembilan pagi kepala saya pusing,” kata dia. Kondisi Anwar sempat terdengar oleh ibu salah satu temannya. Merasa prihatin dengan kondisi Anwar, ibu temannya itu menawari dia tinggal menumpang secara gratis. Anwar tidak perlu lagi merasakan pusing saat sekolah. Sarapan sudah terjamin dan prestasi Anwar kembali meninggi. Lulus dari SMA 2 Kediri, Anwar lalu melanjutkan pendidikan ke Institut Teknologi Bandung (ITB). Dia diterima sebagai mahasiswa Jurusan Teknik Elektro dan ditetapkan sebagai lulusan terbaik pada 2000. Dia kemudian mengincar beasiswa dari Panasonic dan ingin melanjutkan ke jenjang magister di sebuah universitas di Tokyo. Sayangnya, Anwar tidak lolos seleksi universitas tersebut. Dia merasa malu dan tidak ingin dipulangkan. Alhasil, dia memutuskan beralih ke Nara Institute of Science and Technology NAIST dan diterima. Di universitas tersebut, Anwar mengembangkan tesis mengenai teknologi transmitter dan menggarap disertasi bertema sama dalam program doktoral di universitas yang sama pula. Dan Anwar, kini telah menelurkan karya besar. Temuan yang ditertawakan itu dinikmati banyak orang. Termasuk para ilmuwan yang mengolok-olok dulu.
  3. Presiden Direktur dan CEO XL Axiata Dian Siswarini Setelah meraih 3 juta pelanggan 4G LTE pada 2015 di 35 kota, perusahaan telekomunikasi XL Axiata menargetkan punya 9 juta pelanggan 4G LTE sampai akhir 2016 dengan 85 kota yang akan jadi target pasar layanan Internet kecepatan tinggi. Upaya menambah jumlah pengguna 4G LTE ini tentu didukung oleh perluasan infrastruktur 4G di Pulau Jawa dan luar Jawa yang dinilai potensial. Saat ini XL mengoperasikan sekitar 3.134 BTS 4G di Indonesia. XL menganggarkan belanja modal atau Capex Rp 7 triliun di 2016 yang sebagian besar dialokasikan untuk membangun infrastruktur 4G LTE, kata Dian Siswarini, Presiden Direktur dan CEO XL Axiata. Sebanyak 60 persen anggaran untuk infrastruktur itu bakal dipakai untuk memperluas 4G LTE dan 40 persen untuk infrastruktur 3G. Mereka memutuskan tak lagi memperluas jaringan 2G. "Investasi fokus ke 4G LTE. Kita akan banyak bermain di konten video," kata Dian dalam pemaparan kinerja perusahaan di Pulau Belitung, Rabu (17/2). Data atau Internet jadi layanan yang diutamakan karena trafiknya di tahun 2015 tumbuh 54 persen dari tahun ke tahun. Pengguna layanan data XL saat ini sebesar 22,5 juta atau 54 persen dari total pelanggan XL yang mencapai 41,5 juta pengguna. XL mencatat pendapatan turun 2,47 persen menjadi Rp22,88 triliun pada 2015 dari Rp23,46 triliun di 2014. Pendapatan ini disumbang dari layanan suara Rp 8,27 triliun, SMS Rp 3,89 triliun, data dan VAS Rp 7,027 triliun, interkoneksi dan roaming internasional Rp 2,38 triliun. XL mencatat rugi bersih sebesar Rp 25 miliar yang terutama disebabkan dampak forex dari penguatan dolar AS. Kerugian ini menyusut dibandingkan 2014 sebesar Rp 804 miliar. Menyesuaikan dampak itu, XL mencatat laba bersih yang dinormalisasi sebesar Rp 51 miliar di 2015. Untuk mendorong pemakaian 4G LTE, salah satu langkah yang ditempuh adalah meluncurkan aplikasi Tribe untuk layanan streaming video. Di sini XL bakal menyediakan fasilitas pembayaran dengan metode potong pulsa yang sekaligus bakal meningkatkan pendapatan. Dian berkata juga akan mendorong ketersediaan perangkat 4G dengan membundling layanan Internet XL bersama ponsel 4G dari berbagai merek. Penetrasi smartphone XL telah tumbuh dan berkembang sebesar 42 persen pada akhir 2015. Pengguna smartphone XL tumbuh 10 persen dari tahun ke tahun dan mencapai jumlah 17,7 juta pengguna.
  4. Handphone Lumia yang kini telah ada di pasaran ternyata sudah mendukung konektivitas 4G LTE. Dan untuk mengaktifkan konektivitas internet super cepat tersebut, Microsoft pun tinggal mengaktifkannya. Hal ini pun sudah mulai mereka lakukan di negara India. Update software terbaru yang disediakan oleh Microsoft di India pun dimaksudkan untuk mengaktifkan fitur 4G LTE pada ponsel tertentu. Tidak ada daftar ponsel yang secara resmi diungkapkan oleh Microsoft. Namun ponsel-ponsel yang sudah dipastikan antara lain adalah Lumia 930 serta Lumia 1520. Beberapa ponsel lain pun kemungkinan bakal memperoleh update serupa dan pada akhirnya akan mempunyai konektivitas 4G LTE. Ponsel-ponsel tersebut di antaranya adalah Lumia 735, 830, 1320, 1020, 640 serta 640 XL. Dan tak menutup kemungkinan kalau kebijakan ini hanya berlaku di India. Bisa jadi Microsoft juga akan memberlakukan fitur serupa di tanah air.
  5. Game Mat Goceng saat dipamerkan di Essen Spiel '14, Essen, Jerman, 16-19 Oktober 2014. Pelaku industri kreatif digital di Indonesia diyakini tidak akan ketinggalan untuk memanfaatkan infrastruktur yang semakin baik dengan hadirnya 4G. Hal ini pernah dikatakan oleh Lolly Amalia Abdullah, Direktur Kerjasama dan Fasilitasi, Direktorat Jenderal Ekonomi Kreatif Berbasis Media, Desain dan IPTEK, Kemenparekraf. Menurutnya, dengan bandwidth yang besar, butuh konten digital dari berbagai sektor. Industri kreatif digital seperti game, animasi dan video online / web series bisa memenuhi hal ini. Hadirnya telekomunikasi seluler generasi keempat (4G) menyediakan lahan yang lebih luas untuk akses informasi dan produksi konten kreatif digital. Tumbuhnya industri kreatif sedikit-banyak bakal memberikan sumbangsih pada pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Selama 2010-2014 saja, menurut data dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, industri kreatif memberikan kontribusi rata-rata 7,13% terhadap produk domestik bruto (PDB). Data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif juga menunjukkan kian menguatnya peranan sektor tersebut. Pada 2010, sumbangan ekonomi kreatif terhadap PDB tercatat sebesar Rp 473 triliun, sementara pada 2013 jumlahnya meningkat mencapai Rp 641 triliun. Penyerapan tenaga kerja pun cukup tinggi oleh sektor industri ini, mencapai kisaran angka 11 juta hingga 12 juta jiwa. Namun, sektor ekonomi kreatif tersebut masih didominasi oleh produk-produk fisik seperti kuliner, fesyen maupun kerajinan. Sedangkan industri kreatif digital masih kurang nyaring bunyinya. Nah, soal industri kreatif digital, sebenarnya kita bisa belajar dari Korea Selatan. Dalam makalah ‘Hallyu 2.0: The Korean Wave in the Age of Social Media’ disebutkan, industri kreatif telah menjadi motor penggerak perekonomian Negeri Ginseng sejak tahun 2007. Industri game online di Korea Selatan terdongkrak oleh layanan broadband yang boleh dibilang merata di sana. Dari sisi pendapatan pun bisa menyaingi industri film dan musik. Pada 2000, Korea Selatan baru memiliki nilai ekspor game 102 dollar AS. 10 tahun sejak itu, nilainya mencapai 1,6 miliar dollar AS. Peningkatan 15,7 kali lipat, boleh lah dibilang "Wow!" Indonesia sebenarnya punya potensi besar untuk mencontoh, dan mencapai lebih baik, dari Korea Selatan. Developer game di Indonesia saat ini sedang tumbuh, industrinya pun bergeliat. Di sisi lain, Indonesia memiliki kekayaan khazanah budaya lokal yang sangat potensial untuk dikembangkan. Pasar dalam negeri maupun luar negeri seharusnya bisa menerima itu. Sekadar contoh, dalam ajang Essen Spiel '14 di Jerman, pertengahan Oktober 2014, game asli Indonesia mendapatkan sambutan positif. Game Mat Goceng, yang jelas-jelas menampilkan tokoh Betawi dan Sunda, mampu menarik perhatian pengunjung pameran. Game tersebut pun habis terjual dua hari sebelum pameran -- yang berlangsung selama empat hari itu -- berakhir. "Ini menjadi bukti bahwa, value Indonesia pun bisa diterima oleh pasar luar negeri. Saat memasuki pasar luar negeri, perwakilan Indonesia tidak selalu harus membawa produk yang disesuaikan dengan selera asing," ujar Eko Nugroho CEO Kummara yang menerbitkan Mat Goceng di bawah label Manikmaya Games. Meski demikian Eko mengakui bahwa langkah beberapa produsen game dalam membawa game yang sesuai dengan pasar luar negeri juga terbukti jitu. "Apa yang dilakukan teman-teman itu sudah baik. Secara bisnis, memang harusnya demikian," kata Eko. Namun, ia mengaku merasa tertantang untuk membawa konten yang khas Indonesia ke pasar dunia. "Salah satu misi utama kami adalah mengenalkan Indonesia ke pasar dunia," ujarnya. Menyambut hadirnya 4G, pelaku industri kreatif digital di Indonesia seyogyanya harus mampu menyambar peluang yang muncul. Sudah saatnya Indonesia tidak hanya jadi konsumen, tapi juga jadi produsen. Sudah saatnya produk Indonesia, dengan nilai budaya dan keunikan Indonesia, muncul ke permukaan. sumber: tekno.kompas.com
  6. Operator-operator seluler Tanah Air bersiap menggelar layanan jaringan 4G LTE seiring dengan aba-aba dari Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk memberikan izin komersil di frekuensi 900 MHz, menjelang akhir tahun 2014. Sebelum bisa menikmati kecepatan tinggi jaringan LTE, ada persyaratan yang meski dipenuhi oleh pengguna, yakni memakai handset yang mendukung 4G LTE di spektrum 900 MHz dan menggunakan kartu SIM model baru yang memiliki kapasitas memori 128 KB. "Jadi, tidak bisa misalnya dengan asal memotong SIM card lama dalam bentuk micro atau nano-SIM sehingga muat diperangkat baru begitu saja," kata Presiden Direktur dan CEO Indosat Alexander Rusli. Penggunaan SIM card model baru itu, lanjut Alex, diperlukan karena pengaturan konfigurasi jaringan 4G LTE memerlukan ruang lebih besar di kapasitas memori yang tersimpan dalam chip SIM card. Kendati demikian, Alex menambahkan bahwa para pemilik kartu SIM lama bisa mengganti SIM card dengan model baru sambil tetap mempertahankan nomer seluler. Layanan 4G Indosat direncanakan bakal tersedia di semua produk layanan seluler operator itu, baik pasca bayar maupun prabayar. Untuk permulaan, Alex menjelaskan bahwa Indosat akan lebih dulu menggelar layanan 4G di frekuensi 900 MHz sesuai dengan arahan izin komersil Kemkominfo. Dimulainya penggelaran 4G diharapkan akan mendorong pertumbuhan ekosistem secara keseluruhan hingga bisa dinikmati secara merata pada pertengahan 2015 mendatang.
  7. Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan mulai tahun depan (2015) rakyat Indonesia akan merasakan teknologi 4G, atau 4G network, generasi keempat jaringan nirkabel untuk komunikasi seluler. Jaringan ini dimaksudkan sebagai solusi jaringan komunikasi yang komprehensif dan aman dengan kecepatan data yang jauh lebih cepat dari generasi sebelumnya. Berbicara dalam kunjungan kerja ke Bandung (25/11/2014), Rudiantara mengatakan kementeriannya saat ini sedang melakukan persiapan untuk jaringan tersebut dengan sejumlah operator seluler, salah satunya adalah pembangunan infrastruktur penunjang rencana pita lebar untuk mendukung jaringan tersebut. Menkominfo Rudiantara mengatakan, implementasi rencana pita lebar itu bertujuan untuk meningkatkan kecepatan akses Internet. “Kalau misalkan kita bicara sekarang internet lelet, mudah-mudahan sampai dengan 2019 secara bertahap akan ditingkatkan kapasitas (cakupannya). Total dibutuhkan biaya atau dana kurang lebih Rp 270 triliun," ujarnya. Pembangunan infrastruktur penunjang diantaranya pemasangan kabel serat optik, kabel bawah laut, radio akses dan satelit. Teknologi 4G dengan program yang disebut Palapa Ring ini nantinya akan menghubungkan pulau-pulau di seluruh Indonesia. “Kalau Palapa Ring kan bagaimana menghubungkan pulau-pulau. Insya Allah akhir tahun depan di timur sampai dengan Papua sudah terhubung dengan kabel laut," ujarnya. Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika, Freddy Tulung mengatakan, penerapan teknologi informasi yang tinggi harus diimbangi dengan kemampuan daerah dalam menggunakan teknologi tersebut. Menurut Freddy, kebanyakan pemerintah daerah di Indonesia, baik provinsi maupun kota/kabupaten, lebih mengutamakan pembangunan infrastruktur lain daripada yang terkait pembangunan teknologi informasi. “Masih cukup banyak pemerintah daerah di tingkat dua, di tingkat satu, yang lebih mengutamakan infrastruktur. Gak salah-salah amat. Tapi buat apa ada infrastruktur kalau budaya manusianya belum siap, terutama TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi)," ujarnya. Sumber: VOA Indonesia
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy