Jump to content

Search the Community

Showing results for tags '3d'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

  • Ngobas Blog
  • Your World

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 20 results

  1. Masa depan mirip Star Trek dengan hidangan makan malam siap saji hanya dengan perintah kepada mesin mungkin masih beberapa tahun lagi menjadi kenyataan. Tapi cikal bakal teknologi tersebut sudah ada. Belakangan teknologi ini juga digunakan membuat daging sintetis mirip daging asli.
  2. Google telah membuat sebuah protokol baru untuk mengompresi konten tiga dimensi (3D). Protokol baru itu disebut Draco dan dirilis ke dunia luar sebagai software open source. Perusahaan raksasa mesin peramban ini menunjukkan power Draco dengan meletakkan sebuah video yang menunjukkan Draco dan protokol kompresi umum GZIP memuat serangkaian jala sisi demi sisi. Masing-masing dari 12 jala memiliki 2,4 juta wajah dan dimuat melalui koneksi kecepatan tinggi di Google Chrome. Ketika GZIP berhasil memuat hanya tiga model rumit, Draco telah menyelesaikan beban kerja seluruhnya. Pada posting-an blog pengumuman Draco mereka, Google juga mencakup beberapa grafis. Konten 3D di website merupakan sebuah bentuk seni yang berkembang. Namun, sekarang baru untuk mencapai tingkat yang bisa diterima dari kemajuan VR dan konten game high-end, meskipun telah ada selama bertahun-tahun dalam berbagai bentuk.
  3. Atlet Jerman Denise Schindler akan membuat lompatan besar dalam Paralympic di Rio De Janeiro September mendatang. Atlet sepeda yang kehilangan saku kakinya tersebut akan mengayuh sepedanya dengan kaki buatan yang diproduksi menggunakan mesin cetak 3 dimensi.
  4. German athlete Denise Schindler will take a giant stride at the Summer Paralympic games for disabled athletes in Rio de Janeiro. The cyclist, who is an amputee, will be powering her bicycle with a leg made by a 3-D printer. Jessica Berman reports.
  5. Tahun 2015 dijuluki sebagai tahun film IMAX dan 3D karena film beranggaran besar yang dibuat dengan kamera IMAX dan disajikan di layar raksasa terbukti meraup banyak laba. Hasil penjualan tiket menunjukkan penonton bersedia membayar lebih mahal demi mendapatkan pengalaman menonton yang luar biasa.
  6. Seorang pria mencoba game 3D Nintendo Co Ltd di toko elektronik di Tokyo, 7 Mei 2014. Saat Natal dan libur panjang, saatnya video games bagi anak-anak. Meskipun video games kerap dikecam luas oleh banyak ilmuwan sosial, orang tua dan guru sebagai permainan yang tidak bernilai atau hanya sedikit bernilai, beberapa pakar psikologi dan ilmu kognitif mulai mendebat pandangan itu. Ilmuwan yang mempelajari dampak video games mengklaim mereka mungkin melatih otak, latihan kekuatan, memulihkan ketajaman mental dan kecepatan pemain yang meluas ke bidang-bidang kehidupan lainnya. Apa yang disebut “first person shooter games” menghendaki para pemain untuk senantiasa sigap dan bergerak cepat ketika secara tiba-tiba menghadapi musuh. Kini permainan video itu telah bergeser ke tingkat tiga dimensi, yang membuat para pemain merasa berada dalam kekacauan dunia virtual. Menurut studi yang dipublikasikan di Journal of Neuroscience, beberapa penelitimelaporkan bahwa mereka yang bermain video games tiga dimensi tampil lebih baik dalam tugas-tugas yang diberikan. Permainan itu memperkuat fungsi dalam “hippocampus,” struktur otak yang terkait dengan daya ingat. Mereka yang bermain video games tiga dimensi tampil lebih baik dalam uji daya ingat dibanding mereka yang bermain video games biasa. Mereka yang melakukan penelitian ini ingin mengetahui apakah video games memperbaiki penuaan otak pada orang dewasa, seperti yang dilansir dari voaindonesia.com
  7. Tahun 2015 dijuluki sebagai tahun film IMAX dan 3D karena film beranggaran besar yang dibuat dengan kamera IMAX dan disajikan di layar raksasa terbukti meraup banyak laba. Hasil penjualan tiket menunjukkan penonton bersedia membayar lebih mahal demi mendapatkan pengalaman menonton yang luar biasa.
  8. Pernah lihat gambar 3D yang seperti nyata mendekati kamu? Tapi sebelumnya kamu tau 3D? 3 dimensi atau biasa disingkat 3D atau disebut ruang, adalah bentuk dari benda yang memiliki panjang, lebar, dan tinggi. Lalu gimana gambarnya? Unik kok sepertinya
  9. Dewasa ini kita mengenal satu dunia yang disebut dunia maya sebagai hasil rekayasa imajinasi manusia. Dunia maya ini memiliki karakteristik yang menembus batas-batas kenormalan yang ada di dunia nyata. Berdasarkan ide kreatif dan pola pikir maka terciptalah sebuah dunia virtual yang seharusnya tidak ada menjadi ada. Berbagai contohnya adalah dunia film animasi, dunia game, dan dunia internet. Lalu bagaimana hubungannya dengan augmented reality (AR)? Augmented reality adalah penggabungan dua dunia, yaitu dunia nyata dan dunia maya. Tetapi di sini kita lebih berfokus pada penambahan objek dunia maya pada dunia nyata. Augmented reality (AR), sesuai namanya, adalah teknologi yang mampu menyuguhkan informasi dan gambaran tambahan secara virtual (virtual computer-generated imagery) mengenai suatu obyek fisik di dunia nyata ketika obyek tersebut dapat dikenali melalui metode computer vision dan object recognition, dan dianalisis oleh komputer menggunakan perangkat lunak aplikasi AR. Komponen perangkat keras (hardware) utama untuk melayani penerapan augmented reality meliputi display, tracking, peralatan masukan data (input devices), dan CPU. Dalam bidang medis, AR digunakan dalam hal yang cukup penting. Contoh penggunaannya adalah pada pemeriksaan sebelum operasi, seperti CT Scan atau MRI, yang memberikan gambaran kepada ahli bedah mengenai anatomi internal pasien. Dari gambar-gambar ini kemudian pembedahan direncanakan. Realitas tertambah dapat diaplikasikan sehingga tim bedah dapat melihat data CT Scan atau MRI pada pasien saat pembedahan berlangsung. Penggunaan lain adalah untuk pencitraan ultrasonik, di mana teknisi ultrasonik dapat mengamati pencitraan fetus yang terletak di abdomen wanita yang hamil. Ar juga sedang marak digunakan dalam bidang advertising. Salah satu contoh produk yang menggunakan Augmented Reality di Indonesia adalah Sosro Heritage, di mana pada kemasan teh tersebut kita dapat melihat keindahan alam Indonesia dalam bentuk digital, misalkan kemasan teh yang bergambar Candi Borobudur, maka yang terjadi adalah di kemasan teh akan muncul sebuah Candi Borobudur dalam bentuk digital 3D. Harian Kompas juga telah memperkenalkan fitur baru yang mampu meng-‘kolaborasi’-kan pengalaman nyata membaca Kompas versi cetak dengan “pengalaman virtual” menjelajahi konten tambahan pada edisi Kompas AR yang berada di dunia maya melaluiteknologi Augmented Reality (AR). Pembaca Kompas cetak yang menemukan berita atau iklan yang dilengkapi fitur AR (dapat dikenali dari adanya ikon Kompas AR) tinggal mengarahkan konten tersebut menghadap webcam yang terpasang pada PC atau laptopnya. Aplikasi AR akan mengenali konten tersebut, yang lantas me-load konten tambahan pada layar komputer mereka. Lalu bagaimana dengan manfaat aplikasi ini di dunia pendidikan? Tentunya sangat banyak sekali. Dengan penggabungan konsep dunia nyata dan dunia maya, seorang guru yang menggunakan software berbasis AR akan dengan mudah menjelaskan suatu objek 3D dalam pembelajaran secara mudah dan fun kepada siswanya. Misalkan dalam pembelajaran “Planet dan Galaksi”, Guru dengan mudahnya menampilkan visual beberapa planet, ukurannya dan pergerakannya terhadap matahari. Berikut contoh video aplikasi Augmented Reality yang dipasarkan oleh PT WinnerTech Lintas Nusa. Informasi lebih lanjut tentang software ini silahkan kontak CS kami pada jam kerja.
  10. Sebuah proyek terbaru milik laboratorium riset Disney ini akan membuat aktivitas mewarnai menjadi lebih menarik. Apa sebabnya?Disney Research tengah mengembangkan sebuah aplikasi buku mewarnai interaktif untuk perangkat iOS dan Android menggunakan Unity game engine yang nantinya bisa mengubah gambar yang diwarnai menjadi obyekaugmented-reality pada layar.Aplikasi ini bisa menghasilkan bagian dari obyek dalam tekstur yang sama dengan yang telah diwarnai. Contoh, apabila Anda mewarnai seekor gajah dari depan dengan corak dan warna tertentu, maka aplikasi juga akan menunjukkan bagian belakang yang menyerupainya. Hal ini dilakukan dengan menyalin piksel dan menyesuaikannya untuk digunakan pada bagian gambar yang lain. Aplikasi juga akan mengubah gambar menjadi obyek tiga dimensi (3D) secara real time, sehingga Anda pun bisa melihat ketika obyek dalam wujud 3D ketika sedang diwarnai. Belum ada informasi mengenai jadwal perilisan aplikasi menarik ini untuk dapat diunduh. Seraya menunggu, Anda dapat mengetahui detailnya dengan membaca langsung di situs resmi Disney Research. Simak juga tayangan videonya di bawah:
  11. Dunia perfilman merupakan pionir dalam penyuguhan konten 3D berkat dukungan modal besar dan teknologi teranyar. Perlahan-lahan teknologi di belakangnya menjadi kian terjangkau dan praktis. Aksesori kamera 3D untuk smartphone kini memang bukan lagi barang baru, namun buat sekarang level penyajian tercanggih dipegang oleh Matter and Form melalui Bevel. Setelah sukses menjual ribuan unit 3D Scanner, Matter and Form beralih ke bidang fotografi tiga dimensi dan bermaksud merevolusi ranah itu. Bevel adalah sebuah aksesori pertama di kelasnya, menambahkan kemampuan 3D camera sejati ke perangkat begerak kesayangan Anda. Sejati di sini perlu digarisbawahi karena produk attachment lain hanya menciptakan ilusi dengan meningkatkan level depth of field. Masalahnya, mereka gagal menangkap file yang kita maksudkan. Prinsip kerja Bevel berbeda. Selain mengubah benda menjadi versi digital, ia dapat menopang fungsi 3D printing. Bevel mengombinasi sinar laser (aman bagi mata) dengan kamera dismartphone, memungkinkan perangkat Android atau iOS Anda mengabadikan objek – orang, peliharaan, makanan, mainan – dalam sebuah dimensi baru. Developer menamai teknik ini fotografi Genuine 3D. Genuine 3D dapat dianalogikan seperti membekukan momen. Hasil foto bisa diputar-putar, atau di-convert ke format GIF supaya gampang dibagi-bagikan. Via aplikasi, kita dimudahkan melakukan sharing ke Twitter, Facebook, Tumblr, blog WordPress, Instagram, Pinterest dan lain-lain. Anda juga bisa membubuhkan gambar tambahan pada background foto 3D, sebuah fitur yang sangat menarik. Bevel berpenampilan mirip balok mungil berukuran panjang 5 sentimeter dengan modul lensa menonjol. Ia tersambung ke smartphone atau tablet melalui jack audio 3,5 milimeter. Tinggal instal app, selanjutnya ia siap dipakai. Pengoperasiannya tidak rumit, benar-benar menyerupai kamera biasa. Selain 3D printing, developer menjelaskan objek-objek yang Anda jepret bisa dimanfaatkan sebagai dasar dalam pembuatan animasi serta video game. Karena masih berada di tengah-tengah periode pengembangan, Matter and Form belum mengungkap info detail mengenai perangkat bergerak apa saja yang kompatibel dengan Bevel. Dalam kolom FAQ, developer menjelaskan tidak ada ukuran megapixel minimum, tapi tentu foto akan lebih bagus seandainya menggunakan device model terbaru. Jarak optimal laser sendiri kira-kira sejauh satu meter, tergantung dari performa sensor handset Anda. Matter and Form membutuhkan modal minimal US$ 200 ribu untuk merampungkan Bevel. Anda dapat memesannya di website crowdfunding Kickstarter, dijajakan seharga hanya US$ 50. liat videonya di https://www.kickstarter.com/projects/matterandform/bevel-3d-photography-for-any-smartphone-or-tablet?ref=video
  12. Spritam menjadi pil pertama yang dicetak dengan mesin cetak tiga dimensi. Badan pengawas obat dan makanan Amerika (FDA) telah memberi izin untuk produksi pil yang dibuat dengan mesin cetak tiga dimensi (3D). Obat ini, dijuluki Spritam, dikembangkan oleh Aprecia Pharmaceuticals merupakan obat untuk mengendalikan serangan epilepsi. Sebelumnya FDA juga menyetujui penggunaan peralatan medis -termasuk bagian tubuh palsu- yang dibuat dengan mesin cetak 3D. Obat yang dicetak dengan alat seperti ini memungkinkan obat itu dibuat dengan ketepatan dosis yang lebih tinggi. Para ahli memperkirakan, teknologi cetak tablet dengan mesin cetak 3D ini memungkinkan membuat obat pesanan berdasarkan kebutuhan khusus pasien, ketimbang membuat obat yang 'cocok untuk semua' seperti yang ada selama ini. "Selama 50 tahun terakhir, kita memproduksi obat di pabrik dan mengirimkannya ke rumah sakit, dan untuk pertamakalinya proses itu diubah. Kita bisa membuat obat lebih dekat dengan pasien," kata Dr. Mohamed Albed Alhnan, pengajar ilmu farmasi di University of Central Lancashire. Ini artinya, rumah sakit bisa menyesuaikan dosis untuk masing-masing pasien hanya dengan membuat perubahan di perangkat lunak sebelum melakukan pencetakan. Sebelumnya, obat yang dibuat khusus seperti itu memakan biaya yang amat mahal, kata Dr. Alhnan. Menurut Aprecia, Spritam akan diluncurkan pada kuartal pertama tahun 2016.
  13. Hasil studi baru dari Goldsmiths University, London, Inggris menyatakan bahwa kerja otak dapat ditingkatkan melalui film 3D. Riset dari neurosaintis Patrick Fagan dan Prof Brendan Walker melalui Thrill Laboratory ini sampai pada kesimpulan bahwa film 3D dapat mendorong otak untuk bekerja. Para subjek riset sekaligus para penonton film menunjukkan peningkatan kemampuan kognitif sebesar 23 persen setelah menonton film 3D. Reaction Time (RT) mereka juga meningkat sebesar 11 persen dan kinerja otak para subjek membaik selama 20 menit setelah menonton film 3D. Peningkatan Reaction Time (RT) pada subjek yang menonton film 3D ini lebih besar lima kali dari pada subjek penonton 2D. "Hasil ini lebih signifikan dari yang Anda kira," kata Fagan. "Faktanya, orang-orang hidup lebih lama dan terjadi penurunan nyata di fungsi kognitif pada otak di usia tua, yang akan mengurangi kualitas hidup di masa depan. Sekarang adalah saat yang tepat untuk mencari bagaimana cara meningkatkan fungsi otak. Hasil awal pada studi ini mengindikasikan bahwa film 3D berpontesi memiliki peran dalam melambatkan penurunan ini," ujar Fagan menjelaskan. Fagan menggunakan tes kognitif otak, sementara Walker menggunakan headset untuk memonitor otak, dua alat ini lah yang menjadi sumber informasi riset. Riset ini dilakukan terhadap penonton di Vue Cinema di London. Kini Fagan dan Walker percaya bahwa film 3D dapat digunakan untuk meningkatkan kinerja dokter bedah dan pekerja sektor lain yang mengharuskan fungsi kognitif otak superlatif seperti olahragawan. Studi ini juga menemukan bahwa film 3D membuat penonton lebih larut dalam film ketimbang 2D, terbukti keterlibatan para subjek meningkat sebanyak 7 persen. Dalam riset ini Fagan dan Walker tidak menguji tingkat kepuasan menonton lewat stereoskop atau 3 dimensi. Sebuah studi tahun 2011 oleh L Mark Carrier dari California State University menemukan bahwa stereoskop tidak menghadirkan reaksi emosional yang lebih intens dan tidak membuat para subjek lebih mengingat detail film.
  14. Perangkat lunak pembuat film 3D yang dipakai untuk Toy Story, Monsters Inc, dan Harry Potter akan diberikan secara gratis kepada pengguna non-komersial. RenderMan -yang dikembangkan Pixar- kini menghadapi makin banyak persaingan dari perangkat lunak animasi lain seperti VRay dan Arnold. Meskipun Pixar -yang kini dimiliki oleh Disney- memproduksi sendiri film-filmnya, perusahaan itu memberi lisensi RenderMan ke studio-studio saingan. Mereka juga mengurangi harga perangkat lunak untuk penggunaan komersial. Dalam pernyataannya, Pixar mengatakan akan mengeluarkan versi gratis RenderMan 'tanpa batasan fungsi, tanda merek, atau batasan waktu.' "RenderMan nonkomersial tersedia secara gratis untuk pelajar, lembaga, peneliti, dan penggunaan pribadi," kata Pixar. Ian Dean -editor majalah grafis komputer 3D World- mengatakan kepada BBC bahwa tindakan ini bisa dilihat sebagai reaksi atas program alternatif seperti Arnold, tetapi Disney/Pixar juga berusaha 'membangun komunitas'. Dia menambahkan RenderMan sangat penting di jajaran kelas atas dunia industri hiburan, animasi, dan efek visual. Versi baru perangkat lunak ini direncanakan akan dirilis sebelum konferensi Siggraph atau Kelompok Peminat Teknologi Grafis dan Interaktif pada bulan Agustus.
  15. Semakin berkembanganya teknologi, maka aktivitas manusia juga akan sangat terbantu. Seperti misalnya perkembangan dalam teknologi printer yang semakin ke sini semakin canggih aja. Jika dulu printer hanya berguna untuk mencetak dokumen/gambar dari komputer ke media kertas atau media lainnya, sekarang printer juga udah bisa dipakai untuk membangun sebuah gedung, atau dalam hal ini adalah apartemen. Tentunya bukan printer sembarangan aja yang dipakai untuk membangun apartemen tersebut, melainkan menggunakan printer 3D gais. Kalau dulu sih untuk membangun sebuah bangunan dibutuhkan waktu yang lama dengan tenaga kerja yang tidak sedikit, maka dengan printer 3D waktu yang dibutuhkan untuk membangun sebuah apartemen bisa tergolong singkat, dan tentunya tidak membutuhkan tenaga kerja yang banyak. Apartemen yang dibangun menggunakan printer 3D tersebut ada di China sana gais, lebih tepatnya sih di Suzhou Industrial Park. Perusahaan yang membangun apartemen tersebut adalah WinSun, dimana pada bulan Maret tahun lalu, perusahaan ini mampu membuat 10 rumah menggunakan printer 3D hanya dalam waktu 24 jam. Sangar. Ukuran printer 3D tersebut juga tidak main-main gais, karena ukurannya sangat besar. Yaitu mempunyai tinggi 6.6 meter, lebar 10 meter, dan panjangnya 40 meter. Dengan printer 3D tersebut maka WinSun sudah berhasil membangun rumah, apartemen, dan villa yang semuanya terletak di Suzhou Industrial Park. Apartemen yang dibangun WinSun sendiri mempunyai 5 lantai gais, dimana apartemen tersebut adalah apartemen pertama di dunia yang dibangun menggunakan printer 3D. Ini gais foto-foto dari apartemen tersebut. Apartemen Belum Jadi Apartemen Belum Jadi Apartemen Udah Jadi WinSun juga menyatakan bahwa penggunaan teknologi printer 3D untuk membangun sebuah bangunan/gedung juga sangat menghemat biaya dan waktu penyelesaiannya lebih cepat apabila dibandingkan dengan pembangunan secara konvensional. Menurut WinSun, penggunaan printer 3D bisa menghemat biaya belanja material bangunan antara 30-60%, waktu penyelesaiannya sendiri juga lebih cepat antara 50 – 70%, sedangkan biaya untuk pekerja bisa dihemat antara 50-80%. Wah bener-bener bisa irit biaya dan waktu ya gais kalau membangun pakai teknologi printer 3D. Sebagai contoh, biaya yang dikeluarkan WinSun untuk membangun villa ‘hanya’ menghabiskan $161.000 atau sekitar 2 miliar rupiah, bandingkan aja dengan biaya yang dikeluarkan jika membangun dengan cara konvensional, bisa habis lebih dari 2 miliar gais. Kapan ya di Indonesia juga ada teknologi printer 3D yang bisa dipakai untuk membangun rumah/bangunan? Kan kalau pakai printer 3D bisa menghemat biaya pembangunan, apalagi saat ini harga tanah kian melambung tinggi.
  16. Semakin berkembanganya teknologi, maka aktivitas manusia juga akan sangat terbantu. Seperti misalnya perkembangan dalam teknologi printer yang semakin ke sini semakin canggih aja. Jika dulu printer hanya berguna untuk mencetak dokumen/gambar dari komputer ke media kertas atau media lainnya, sekarang printer juga udah bisa dipakai untuk membangun sebuah gedung, atau dalam hal ini adalah apartemen. Tentunya bukan printer sembarangan aja yang dipakai untuk membangun apartemen tersebut, melainkan menggunakan printer 3D gais. Kalau dulu sih untuk membangun sebuah bangunan dibutuhkan waktu yang lama dengan tenaga kerja yang tidak sedikit, maka dengan printer 3D waktu yang dibutuhkan untuk membangun sebuah apartemen bisa tergolong singkat, dan tentunya tidak membutuhkan tenaga kerja yang banyak. Apartemen yang dibangun menggunakan printer 3D tersebut ada di China sana gais, lebih tepatnya sih di Suzhou Industrial Park. Perusahaan yang membangun apartemen tersebut adalah WinSun, dimana pada bulan Maret tahun lalu, perusahaan ini mampu membuat 10 rumah menggunakan printer 3D hanya dalam waktu 24 jam. Sangar. Ukuran printer 3D tersebut juga tidak main-main gais, karena ukurannya sangat besar. Yaitu mempunyai tinggi 6.6 meter, lebar 10 meter, dan panjangnya 40 meter. Dengan printer 3D tersebut maka WinSun sudah berhasil membangun rumah, apartemen, dan villa yang semuanya terletak di Suzhou Industrial Park. Apartemen yang dibangun WinSun sendiri mempunyai 5 lantai gais, dimana apartemen tersebut adalah apartemen pertama di dunia yang dibangun menggunakan printer 3D. Ini gais foto-foto dari apartemen tersebut. Apartemen Belum Jadi Apartemen Belum Jadi Apartemen Udah Jadi WinSun juga menyatakan bahwa penggunaan teknologi printer 3D untuk membangun sebuah bangunan/gedung juga sangat menghemat biaya dan waktu penyelesaiannya lebih cepat apabila dibandingkan dengan pembangunan secara konvensional. Menurut WinSun, penggunaan printer 3D bisa menghemat biaya belanja material bangunan antara 30-60%, waktu penyelesaiannya sendiri juga lebih cepat antara 50 – 70%, sedangkan biaya untuk pekerja bisa dihemat antara 50-80%. Wah bener-bener bisa irit biaya dan waktu ya gais kalau membangun pakai teknologi printer 3D. Sebagai contoh, biaya yang dikeluarkan WinSun untuk membangun villa ‘hanya’ menghabiskan $161.000 atau sekitar 2 miliar rupiah, bandingkan aja dengan biaya yang dikeluarkan jika membangun dengan cara konvensional, bisa habis lebih dari 2 miliar gais. Kapan ya di Indonesia juga ada teknologi printer 3D yang bisa dipakai untuk membangun rumah/bangunan? Kan kalau pakai printer 3D bisa menghemat biaya pembangunan, apalagi saat ini harga tanah kian melambung tinggi.
  17. Teknologi printer 3D memang tengah mewabah di kalangan masyarakat. Printer 3D sendiri memang bisa diandalkan untuk membuat berbagai macam benda, bahkan bisa juga dipakai untuk membuat apartemen. Dan kali ini kita akan berbicara tentang penggunaan printer 3D untuk membuat perhiasan. Gak kebayang ya bagaimana bisa printer 3D dipakai untuk membuat perhiasan. Perhiasan yang dibuat dengan menggunakan printer 3D pastinya akan mempunyai bentuk yang keren-keren dengan tingkat detail yang sangat tinggi. Maklum, kalau pakai printer kan hasilnya sudah pasti sama dengan desainnya. Hal ini tentu berbeda jika dibandingkan dengan membuat perhiasan menggunakan cara konvensional, dimana hasilnya bisa aja kurang rapi dan bentuk serta ukurannya juga bisa berbeda-beda walaupun modelnya sama. Kembali lagi dengan printer 3D, ada sebuah perusahaan yang memanfaatkan teknologi printer 3D untuk menghasilkan berbagai bentuk perhiasan yang keren-keren. Perusahaan tersebut adalah Shapeways. Yuk kita lihat bagaimana hasil jadinya perhiasan yang dibuat menggunakan printer 3D tersebut. 1. Cincin Dari Bahan Platinum 2. Gelang Dari Bahan Nylon Putih 3. Cincin Berwarna Emas 4. Kalung Dari Bahan Plastik 5. Anting Dari Bahan Plastik 6. Anting Dari Bahan Nylon Putih 7. Cincin Yang Berbentuk Melingkar 8. Cincin Yang Berbentuk Gurita 9. Anting Berbentuk Manusia 10. Cincin Berwarna Emas 11. Kalung Berwarna-warni Berbentuk Bola 12. Kalung Dengan Bentuk Yang Gak Jelas Keren-keren kan ndral perhiasan-perhiasan yang dibuat menggunakan printer 3D tersebut. Kalau kalian mau beliin perhiasan-perhiasan seperti di atas buat pasangan kalian, tinggal beli aja di website Shapeways.
  18. Banjir merupakan salah satu masalah besar di Indonesia, terutama di daerah seperti Jakarta. Infrastruktur yang buruk dan perencanaan tata kota yang tidak optimal, jika disertai dengan musibah banjir dapat menyebabkan tanah longsor, dan mengakibatkan kerusakan jalan, bangunan, perumahan, dan fasilitas umum. Hal ini dapat berujung dengan terganggunya kemajuan ekonomi dan kehidupan sehari-hari. Melihat kenyataan tersebut, pemerintah harus menemukan cara baru untuk mencegah dan mengurangi kerusakan akibat banjir. Ini termasuk pembangunan infrastruktur, pemeliharaan jangka panjang, serta kesiapsiagaan pada saat terjadi bencana. Saat ini, teknologi dapat memberikan masukan yang penting kepada pemerintah dan para insinyur, yaitu cara yang lebih baik untuk memprediksi perilaku lingkungan yang telah terbentuk–atau akan segera terbentuk–pada saat terjadinya krisis. Teknologi canggih menyediakan metode proaktif yang secara lebih efektif membantu mewujudkan masyarakat yang tahan terhadap bencana. Desain atau rancang bangun yang tidak terencana dengan baik adalah penyebab utama dari banyak kerusakan yang terjadi pada saat bencana, termasuk banjir, gempa bumi, atau bencana alam lainnya. Bangunan dan infrastruktur penting hancur karena bangunan tersebut memang tidak dirancang dengan kekuatan untuk menahan gempuran alam yang kini kian kuat. Teknologi maju dari Autodesk atau perusahaan lainnya yang mengakomodasi arsitektur, desain teknik serta data geospasial dapat membantu pemerintah menyelesaikan permasalahan yang ada. Kota-kota tersebut dapat menggunakan data geospasial yang tepat dan menerapkannya pada seluruh siklus infrastruktur, termasuk operasional dan pemeliharaan. Integrasi ini memungkinkan terjadinya perubahan signifikan untuk memenuhi kebutuhan perencanaan dan pengaturan tata kota. Model Digital 3D Sebuah Kota Kita dapat membayangkan betapa sulitnya perencanaan dan pengaturan tata kota, terutama bila data yang tersedia tidak lengkap atau usang. Atau bahkan ketika berbagai sistem penyimpanan data tidak dapat tersambung satu sama lain. Tantangan besar yang dihadapi pemerintah adalah bagaimana seefektif mungkin mengatasi masalah yang timbul dari kelangkaan lahan, pengembangan lahan yang cepat, dan meningkatnya permintaan data yang berkaitan dengan tanah oleh sektor publik dan swasta. Proyek-proyek pengelolaan fasilitas, perencanaan perkotaan, dan konstruksi publik memerlukan pengambilan keputusan yang cepat. Pengambilan keputusan seperti ini mengharuskan organisasi-organisasi pemerintah mengumpulkan berbagai macam data dari sumber internal dan eksternal. Tidak hanya itu, mereka juga diharapkan benar-benar memahami data tersebut, dan mengetahui keterkaitan antara struktur, aset, dan audiens yang berlainan. Pada skala besar, penciptaan model virtual kota secara 3D dapat membantu pemilik, kontraktor, arsitek, insinyur, dan bahkan masyarakat umum memahami bagaimana dan hal apa saja yang perlu diprioritaskan dalam upaya pemulihan setelah bencana, sehingga perbaikan dapat dilakukan secepat mungkin. Hal ini terutama sangat relevan untuk perbaikan fasilitas yang keberadaannya sangat vital untuk mendukung kehidupan masyarakat dan bisnis dapat berlangsung normal kembali. Selain itu, model tersebut dapat digunakan untuk merencanakan pembangunan kota secara lebih efektif di masa mendatang. Las Vegas misalnya, menciptakan model 3D digital kota tersebut dengan bantuan VTN Consulting dan Autodesk. Model ini mencakup infrastuktur atas dan bawah permukaan tanah. Model ini akan dapat diakses oleh perencana kota, surveyor, insinyur, dinas pekerjaan umum, dan pihak lainnya yang membutuhkan. Para pemimpin kota menginginkan sebuah sistem yang memperlihatkan pembangunan kota dan membantu menunjukkan di mana daerah terbaik untuk pembangunan selanjutnya. Model ini diciptakan dengan Autodesk InfraWorks, Autodesk Civil 3D, dan Autodesk Navisworks Manage, dengan tujuan untuk memiliki model 3D kota yang “hidup”. Selanjutnya, jika semua unsur disatukan dalam model tersebut, ini akan memungkinkan dilakukannya simulasi bencana alam nyata pada model 3D. Simulasi tersebut dapat memvisualisasikan bagaimana struktur tertentu bereaksi terhadap bencana. Simulasi seperti ini memungkinkan kita untuk memperoleh lebih banyak informasi mengenai lingkungan terkait sehinga dapat membuat rencana perawatan dan penanganan yang sesuai. Pada saat terjadinya bencana yang sebenarnya, tenaga tanggap darurat pun dapat lebih siap dan mampu menangani situasi darurat dengan cepat dan efektif. Kota seperti Seattle telah menggunakan model 3D skala kota sesungguhnya untuk menyimulasikan gempa bumi. Salah satu contoh adalah Alaskan Way, jembatan bebas hambatan dan dinding pemisah laut. Untuk tenaga tanggap darurat awal seperti polisi dan pemadam kebakaran, model 3D yang akurat membuat mereka tidak perlu lagi membahayakan dirinya dengan menjelajahi tempat-tempat yang terkena dampak bencana tanpa pedoman. Sebaliknya, mereka memiliki simulasi digital area sekitar yang menyediakan data desain teknik dan arsitektur dari bangunan tersebut dan tata ruang lingkungan sekitarnya, termasuk infrastruktur bawah tanah. Jika tenaga tanggap darurat dilengkapi dengan iPad yang menampilkan model-model 3D yang menunjukkan letak pipa gas sebelum mereka memasuki bangunan yang rusak tersebut, ini merupakan informasi penting yang dapat menghindarkan mereka dari maut. Kembali ke topik banjir, perencana darurat yang mempersiapkan dampak banjir dapat menyimulasikan model 3D kota yang mencakup bangunan, contoh lahan digital, dan badan-badan layanan publik serta jaringan telekomunikasi. Hal ini akan membantu perencana untuk dapat mengetahui fasilitas listrik, jaringan komunikasi, air, dan limbah cair yang mungkin terkena dampak banjir, dan dapat menggunakan fasiltas publik dan jaringan komunikasi pintar tersebut untuk menentukan lokasi listrik, jaringan komunikasi, air, dan layanan lainnya yang mungkin terganggu. Jika Model Kota 3D Digital Tidak Tersedia Bahkan jika pemerintah belum bersedia berinvestasi untuk membuat model kota 3D digital seutuhnya, tetap ada harapan untuk pencegahan bencana alam yang lebih baik. Kita telah melihat bagaimana solusi Autodesk berhasil digunakan oleh para profesional, pembuat kebijakan, dan masyarakat untuk secara akurat mengantisipasi dampak gempa bumi pada infrastruktur utama sebelum terjadinya bencana. Teknologi Autodesk juga dapat digunakan untuk memahami dampak potensial dari badai dan banjir. Autodesk Infrastructure Design Suite 2014 misalnya, menawarkan teknologi yang membantu perencana kota mencegah banjir. Modul River dan Flood pada suite ini dapat menganalisis sungai sehingga dapat memperkirakan lokasi banjir pada masa mendatang. Modul Storm dan Sanitary Analysis memungkinkan analisis performa pada tahap awal proses perancangan desain untuk berbagai macam proyek, meliputi jaringan sistem drainase air badai perkotaan, saluran penampung air di jalan raya dan gorong-gorong, manajemen air badai yang berkesinambungan, kolam penahan, dan sistem pembuangan sanitasi. Visualisasi yang realistis berdasarkan data teknis yang akurat menjadikan bencana alam yang luar biasa dapat dipahami oleh semua orang. Software sejenis Autodesk InfraWorks 360 Pro dan Autodesk 3ds Max Design dapat digunakan untuk memvisualkan bagaimana sebuah struktur akan bereaksi ketika terjadi bencana. Apa tindakan kita selanjutnya? Dengan meningkatnya jumlah penduduk perkotaan di Asia, risiko yang disebabkan oleh bencana alam juga terus meningkat. Meskipun kita memahami dinamika bencana alam lebih baik setiap harinya, kita tetap tidak akan bisa memprediksi dengan akurat kapan dan di mana bencana alam akan terjadi. Tetapi kita tahu bahwa bencana alam pasti akan datang dan kita dapat mempersiapkannya dengan lebih baik. Untungnya kini kita memiliki teknologi yang memungkinkan kita membuat model dan menyimulasikan performa konstruksi ketika bencana alam terjadi. Kita memiliki daya komputasi awan yang hampir tidak terbatas untuk mengumpulkan data-data berharga dan melakukan simulasi konstruksi untuk berbagai macam situasi. Kita memiliki kemampuan untuk menempatkan data konstruksi yang berharga tersebut ke dalam bentuk model 3D yang mudah untuk dinavigasikan ke dalam perangkat bergerak dan memberikannya kepada tenaga tanggap darurat awal serta pejabat pemerintah yang membutuhkannya pada saat terjadi krisis. Tetapi jika kita menyia-nyiakan ketersediaan data dan kemampuan yang baru ini, hal tersebut tidak bermanfaat bagi kita. Bagaimana kita bisa membantu masyarakat dan pemerintah menyepakati hal yang diperlukan untuk perbaikan konstruksi yang sudah ada maupun yang akan dibuat nanti? Visualisasi adalah bagian dari jawabannya. Kita memiliki kemampuan untuk memvisualkan dan menganimasi bagaimana struktur konstruksi bangunan tersebut akan bereaksi terhadap banjir besar atau gempa bumi. Tidak ada hal yang lebih menggugah jiwa seperti ketika kita melihat jembatan tua, atau yang dirancang buruk, runtuh ketika terjadi gempa bumi dengan kekuatan guncangan yang sangat dasyat. Hal ini sangatlah mungkin terjadi tidak lama lagi. Oleh karena itu, sudah waktunya bagi kita untuk beraksi dan melihat Indonesia yang lebih baik.
  19. Banyaknya film impor berformat 3D tampaknya mempengaruhi perfilman nasional juga. Dua film 3D buatan Indonesia sudah muncul: Jendral Kancil dan Petualangan Singa Pemberani. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang tekonologi 3D ini, ada baiknya kita mulai melihat sejarah awal dan perkembangannya. Kaca mata anaglyph Teknologi 3D sebenarnya sudah muncul tak lama sejak teknologi fotografi muncul pertama kali. Pada tahun 1856, JC d’Almeida memberikan demonstrasi di Academie de Sciences tentang gambar-gambar stereoscopik (dua gambar foto yang sama dengan perspektif sedikit berbeda satu sama lain berjarak sekitar dua setengah inci yang merepresentasikan jarak antara kedua mata manusia) yang diproyeksikan secara bergantian dengan cepat melalui slides cahaya lentera berwarna merah dan hijau. Sementara itu penonton memakai kaca mata merah dan hijau sehingga mereka bisa melihat gambar foto itu secara tiga dimensi. Setelah itu pada tahun 1890an, Ducos du Hauron mematenkan temuannya berupa dua warna, sistem anaglyph: dua lembar film positif transparan stereoscopik di-superimpose (ditumpuk). Ketika diproyeksikan, penonton bisa melihat efek tiga dimensi dengan memakai kacamata anaglyph (lensa merah di satu sisi dan lensa biru di sisi yang lain). Pada masa sekarang kaca mata anaglyph memakai lensa merah dan cyan. Pada tahun 1897, C. Grivolas mengadaptasi sistem anaglyph ini untuk memutar film bergerak (motion pictures) secara 3D namun pengaplikasian teknologi ini baru dipakai pertama kali untuk film layar lebar di tahun 1922 dengan film The Power of Love yang dibuat oleh Harry K Fairall. Secara teknis selain memakai sistem anaglyph, film ini juga memakai dual film strip projection. Artinya, dibutuhkan dua strip film yang diputar secara bersamaan dengan dua proyektor film sejajar. Setelah itu banyak bermunculan film-film lain dengan format 3D sistem anaglyph yang lain. Anaglyph sendiri memiliki kelemahan, yaitu untuk menghasilkan efek tiga dimensi, sistem ini melakukan pemblokiran warna-warna tertentu dari gambar stereoscopik yang diproyeksikan ke layar untuk mendapatkan efek 3D. Akibatnya tidak tercapai full colour. Hal ini tidak bermasalah di zaman film hitam-putih. Ketika muncul film berwarna di tahun 1935 maka ini menjadi sebuah problem. Sebuah gebrakan teknologi muncul ketika ilmuwan bernama Edwin Land mematenkan temuannya berupa filter Polaroid di tahun 1932. Filter Polaroid dibentuk dengan tumpukan lapisan-lapisan filter tipis transparan yang dimiringkan dengan sudut tertentu untuk meniadakan silau (glare) cahaya yang dilewati filter itu. Di kemudian hari filter ini bisa diaplikasikan untuk teknologi 3D dan kamera instan Polaroid. Dibandingkan dengan sistem anaglyph, Polaroid 3D (Polarized 3D) lebih baik karena prinsip kerjanya mempolarisasi (memfilter) gelombang cahaya tertentu tanpa memblokir warna apapun agar tercapai efek 3D ketika diproyeksikan di layar dan ditonton dengan kaca mata anaglyph. Di Uni Soviet pada tahun 30an, seorang insinyur Rusia berhasil menyempurnakan teknologi film 3D dengan sistem yang disebut parallax stereogram. Sistem ini sebelumnya dikembangkan secara terpisah oleh A. Berhtier, E. Estenave dan Frederick Ives. Tidak seperti anaglyph ataupun polirized 3D, sistem ini berfungsi menghasilkan proyeksi gambar film tiga dimensi tanpa penonton memakai kacamata anaglyph atau apapun. Kekurangan sistem ini adalah apabila duduk miring atau melihat dari perspektif yang miring maka efek stereoscopi atau 3D film itu buyar. Masa Keemasan Tahun 1950an menjadi masa keemasan pertama bagi film 3D di Hollywood. Perintisnya: Bwana Devils (1952). Film ini ditulis dan disutradarai oleh Arch Oboler dan dianggap sebagai film layar lebar pertama berwarna dengan sistem Polaroid 3D dual strip. Setelah itu banyak muncul film-film 3D lainnya seperti Man in The Dark, House of Wax, It Came From Outer Space, Dial M For Murder, Creature From The Black Lagoon, Inferno, dan lain-lainnya. Kemudian popularitas film 3D secara tak disangka menurun. Ada beberapa faktor kenapa hal ini terjadi: 1. Distributor film beranggapan, karena film 3D menggunakan dual strip untuk setiap pemutaran, berarti harga sewa copy film menjadi dua kali lipat. Kenyataannya penonton tidak mau membayar harga tiket dua kali lipat. 2. Karena memakai sistem dual strip dengan proyektor ganda yang saling terkait, maka setiap pemutaran film harus dipastikan gambar dari kedua proyektor sinkron setiap saat agar penonton tidak mengalami efek pusing atau mata pegal. Hal ini sulit untuk dijaga terus-menerus karena setelah pemutaran berkali-kali copy film dapat mengalami kerusakan di beberapa bagian. Biasanya, proyeksionis menangani copy cacat dengan membuang frame yang rusak. Pada dual strip, jumlah frame dan panjang print film harus sama untuk kedua copy. 3. Di samping itu, tidak fokusnya gambar pada salah satu proyektor akibat kecerobohan proyeksionis juga dapat membuat penonton mengalami pusing dan mata pegal. Akibat kendala-kendala di atas, setelah 1955, tren film 3D cenderung menurun dan era keemasan tahun 50an berakhir. Era Single Strip 3D Film Setelah tahun 1955 dunia film lebih tertarik dengan format 2D widescreen yang merupakan hal baru pada waktu itu. Walaupun demikian, film 3D tidak benar-benar total menghilang. Beberapa film masih diproduksi dengan menggunakan format 3D di tahun 1960an sampai pertengahan 1980an. Salah satu film 3D yang terkenal di masa 60an adalah The Mask (1961) produksi Kanada. Film ini unik karena gambar 3D hanya dipakai di beberapa segmen saja dan sebelum segmen dimulai ada instruksi untuk penonton untuk memakai kacamata anaglyph. Selain itu, teknik 3D mulai digunakan dalam beberapa film porno baik jenis semi maupun hardcore. Salah satu judul film porno format 3D yang terkenal adalah The Stewardess buatan 1970. Perkembangan paling penting di masa ini adalah munculnya sistem kamera baru untuk 3D yang disebut Spacevision. Spacevision adalah inovasi oleh insinyur dan fotografer stereoskopik berlatar belakang militer Amerika, Kolonel Bernier. Dengan bantuan Arch Oboler, sutradara Bwana Devil, Bernier berhasil menciptakan Lensa Trioptiscope, komponen penting di sistem Spacevision. Lensa ini berfungsi untuk menumpuk gambar kiri dan kanan dalam satu film strip dalam proses syuting sehingga bisa dipakai satu kamera saja dibandingkan dengan dua kamera dengan rigging khusus. Arch Oboler memakai teknologi ini dalam film berjudul Bubble (1966). Untuk penayangan, juga hanya digunakan satu copy film yang diputar di satu proyektor yang memakai lensa khusus. Setelah itu banyak bermunculan sistem kamera 3D dengan satu film strip. Salah satu yang terkenal adalah Stereovision. Sistem single film strip memberikan kesempatan bagi dunia perfilman untuk memproduksi film 3D dengan bujet jauh lebih rendah dibanding sistem dual strip. Bangkitnya Film 3D di Era Digital Teknologi digital baik untuk pengambilan gambar (kamera), pasca produksi maupun untuk penayangan (sistem proyektor) telah memberikan kemudahan bagi pengadaan film 3D. Dari tahun pertengahan 1980an sampai awal 2000an berbagai film 3D banyak diproduksi namun sebagian besar tidak tayang sebagai film komersial melainkan sebagai tontonan di wahana taman hiburan seperti Disneyland, Universal Studios, dan sebagainya sampai munculnya sistem digital cinema yang standar dan universal di awal 2000an. Di tahun 2000an ini para pembuat film di Hollywood melihat bahwa teknologi digital memberikan mereka kendali yang lebih baik dalam membuat dan menayangkan film 3D sebagai tontonan mainstream. Sutradara James Cameron, salah satu pelopor 3D di era digital, membuat film IMAX 3D berjudul Ghost From Abyss di tahun 2003. Film ini adalah dokumenter tentang kapal karam Titanic yang terkenal. Robert Rodriguez, sutradara terkenal lainnya, membuat dua film 3D berjudul Spy Kids 3-D: Game Over (2003) dan The Adventure of Sharkboy and Lavagirl in 3D (2005). Kedua film menggunakan teknologi anaglyph 3D. Setelah itu banyak film 3D yang diproduksi namun kebanyakan merupakan film animasi seperti Polar Express (2004), Open Season (2006), dan Ant Bully (2006). Di tahun 2009, James Cameron kembali merilis sebuah film 3D berjudul Avatar. Film dengan budget US$ 237 juta yang sukses di seluruh dunia ini menghasilkan uang sebesar US$ 2,782,275,172 dan menjadikan film ini terlaris sepanjang masa sampai sekarang. Sukses ini membuat Hollywood berlomba-lomba memproduksi film 3D dan mempercepat konversi sinema digital secara global. Pembuatan Film 3D Sekarang Pembuatan film 3D pada dasarnya bisa dibagi menjadi tiga jenis, live action, animasi, dan konversi 2D ke 3D. Pembuatan film live action membutuhkan dua tahapan: syuting dengan kamera 3D dan pasca produksi (editing, colorgrading, mastering, dan sebagainya). Pembuatan animasi 3D dianggap lebih sederhana dengan menggunakan kamera virtual di komputer dan kesalahan efek 3D lebih bisa dihindari daripada pembuatan film 3D live action. Konversi 2D ke 3D merupakan proses alternatif. Pengambilan gambar dilakukan secara 2D namun dalam pasca produksi dilakukan keputusan bahwa film juga diedarkan secara 3D. Proses konversi 2D ke 3D merupakan proses yang sangat intensif karena dilakukan duplikasi semua frame film agar didapat gambar ganda untuk mata kanan dan kiri sehingga biaya paska produksi membengkak. Biasanya konversi dilakukan terhadap film-film lama yang dirilis ulang ke format 3D seperti Nightmare Before Christmas dan Titanic (90an). Sistem kamera side-by-side (kiri) dan mirror rig Pengambilan Gambar Biasanya proses pengambilan gambar (optik atau digital) memerlukan dual camera rig. Ada dua macam rig 3D yang umum yaitu side by side dan mirror rig. Side by side rig adalah penempatan dua kamera identik secara berdampingan. Sistem ini lebih sederhana dibandingkan sistem mirror rig namun mempunyai kelemahan. Rig ini hanya ideal untuk kamera kecil. Pada kamera besar jarak kedua kamera menjadi terlalu dekat hingga bisa muncul masalah: interocular/interaxial (perspektif paralel jarak kedua lensa dari kedua kamera) tidak bisa cukup kecil untuk shot close up. Akibatnya kedalaman gambar terdistorsi memanjang. Mirror rig berhasil mengatasi masalah itu namun mempunyai kelemahan lain: polarisasi gambar; pantulan atau refleksi pada sebuah objek di satu mata tidak ditemukan di mata lain. Problem ini bisa dikoreksi dengan menggunakan filter polarizer di lensa yang terdapat pantulan. Akibatnya cahaya yang masuk ke kamera berubah. Selain menggunakan dual camera rig, ada pilihan ketiga, yaitu dengan menggunakan satu kamera dengan sistem dua lensa. Panasonic merupakan perusahaan pertama yang membuat kamera video digital berkualitas resolusi HD dengan dua lensa untuk membuat film 3D. Kamera ini menjadi alternatif bagi orang yang mau membuat film 3D dengan bujet lebih murah karena hanya menggunakan satu kamera. Kabarnya kamera ini digunakan pertama kali untuk membuat film Sex and Zen 3D: Extreme Ecstacy (Hongkong, 2011), yang merupakan film semi porno 3D pertama di dunia yang dibuat dengan teknologi digital. Sistem kamera paralel dan convergence Selain memilih sistem kamera yang cocok, ada dua metode yang harus diperhatikan dalam pengambilan gambar 3D yaitu parallel dan convergence. Parallel adalah cara mengambil dua gambar dari kamera yang perspektifnya paralel lurus ke depan. Cara ini adalah cara yang sangat aman namun memerlukan usaha dan waktu banyak dalam penanganan paska produksi. Convergence, adalah cara menyilangkan perspektif kedua kamera sehingga kamera kanan mengambil gambar ke kiri sedang kamera kiri mengambil gambar ke kanan. Hasil dari pengambilan gambar ini lebih gampang diolah di tahap pasca produksi namun apabila terjadi over-convergence (penyilangan berlebihan), hasil syuting sulit untuk diproses menjadi gambar 3D yang baik. Pasca Produksi Pengerjaan pasca produksi untuk film 3D membutuhkan perangkat yang mendukung materi 3D. Alat-alat yang dimaksud adalah display monitor atau proyektor, sistem color grading, dan online editing/special effect. Monitor atau proyektor yang digunakan harus memiliki kemampuan untuk melihat gambar film 3D. Ada dua jenis sistem yang bisa digunakan, aktif dan pasif. Sistem aktif adalah dengan menggunakan kacamata 3D dari LCD (Liquid Crystal Display) yang secara berganti-gantian berkedip-kedip antara mata kanan dan kiri. Kaca mata ini merupakan perangkat elektronik yang terkoneksi dengan infra merah ke display monitor. Selain mahal, kaca mata ini membutuhkan tenaga baterai dan biasanya hanya dijual sebagai satu set dengan alat display merek yang sama dan umumnya tidak kompatibel dengan monitor atau proyektor 3D merek lain. Sementara sistem pasif menggunakan kaca mata polarized 3D biasa yang tidak mahal haganya dan bisa dipakai dengan display monitor atau sistem proyektor 3D profesional merek apa saja. Berbagai merek alat color-grading maupun online editing di masa sekarang memiliki fitur untuk pengerjaan film 3D yaitu kemampuan untuk mengerjakan dua track gambar untuk mata kanan dan mata kiri dengan mengatur axis x, y, dan z (sistem koordinat Cartesian). Pada pengerjaan film 2D, pengaturan dimensi gambar direpresentasikan dengan menggunakan fitur axis x dan y yang merepresentasikan panjang dan tinggi gambar film. Sedang untuk pengerjaan film 3D ditambahkan axis y yang mengatur depth (kedalaman persepektif) untuk mendapatkan efek tiga dimensi. Quantel Pablo merupakan salah satu contoh merek gabungan sistem color-grading dan online editing yang pertama keluar. Beberapa merek alat terkenal lain juga sekarang memiliki model terbaru dengan fitur untuk 3D seperti Scratch, Davinci Resolve, Autodesk, Nuke, dan sebagainya. Sistem Penayangan Sinema Digital Untuk Film 3D Sepasang proyektor IMAX Penayangan film 3D di bioskop digital memerlukan dua proyektor interlocking atau satu proyektor dengan dua lensa. Merek-merek proyektor terkenal yang biasa digunakan untuk sinema digital adalah Christie, Barco, Sony, dan Kinoton. Selain itu diperlukan alat untuk mengatur agar proyektor optik bisa memutar film 3D. Ada beberapa merek terkenal yang membuat peralatan ini seperti RealD, Dolby 3D, dan IMAX 3D. Real D merupakan sistem 3D bioskop yang paling banyak digunakan pada saat ini karena efek tiga dimensi yang dihasilkan tetap stabil walaupun penonton melihat dalam posisi kepala mendongak atau menunduk. Ini disebabkan karena teknologi circular polarization yang ada di lensa kaca mata dan sebuah perangkat untuk mengatur pencahayaan yang dipasang di proyektor optik. Selain itu dari faktor ekonomis, harga kaca mata circular polarization lebih murah daripada kaca mata berteknologi lain seperti LCD. Dolby 3D memakai teknologi colorwheel yang memiliki sejumlah filter berwarna yang berfungsi mentransmisikan gambar dengan berbagai level gelombang cahaya untuk menampilkan efek gambar 3D. Metode ini disebut wavelength multiplex visualization. Kaca mata untuk sistem Dolby 3D lebih mahal dari buatan RealD dan rapuh. Namun kelebihan Dolby 3D dibanding kompetitor seperti RealD adalah bisa berfungsi di proyektor konvensional. IMAX 3D adalah perusahaan di bidang teknologi bioskop yang awalnya berkecimpung dalam pengambilan gambar dan penayangan film dengan format film resolusi lebih tinggi dari 35mm, yaitu 65mm film negatif dengan kamera IMAX dan 70mm proyektor IMAX untuk penayangan. Karena resolusi yang dihasilkan sistem ini besar maka ukuran layar bioskop IMAX berukuran sangat besar dibandingkan di bioskop konvensional. IMAX sudah terlibat dalam penanganan 3D sejak zaman analog dengan membuat proyektor untuk copy film 70mm dengan dua lensa yang berjarak 64mm (jarak rata-rata antara kedua mata manusia). Ketika IMAX mulai menggunakan teknologi digital di tahun 2008, mereka mendapatkan bahwa resolusi yang dihasilkan oleh dua proyektor 2K tidak bisa menyamai kualitas print 70mm analog. Mereka menemukan bahwa kualitas gambar dari dua proyektor 2K tetap lebih rendah dari satu proyektor 4K. Semenjak 2012, IMAX bekerja sama dengan Barco menghasilkan dua buah proyektor 4K dan menurut laporan hasilnya cukup bagus. Masa Depan Film 3D Untuk perfilman Hollywood bisa dipastikan dalam waktu beberapa tahun ke depan masih akan banyak film-film blockbuster yang dibuatkan versi 3D untuk mendampingi format 2D. Perfilman negara-negara lain juga akan mencoba untuk membuat beberapa produksi film tiga dimensi. Namun, berlebihan apabila dikatakan bahwa dalam waktu dekat film 3D akan menggantikan film 2D yang selama ini menjadi tontonan konvensional di bioskop. Kesimpulan ini didasarkan pada catatan sejarah bahwa tren film 3D selama ini naik dan turun dan terbukti bahwa teknologi 3D tidak menjamin suksesnya sebuah film di pasaran. Di tahun 2011 terdapat laporan data bahwa ada kecenderungan penurunan minat penonton terhadap film-film 3D. Sebagai contoh, Kungfu Panda 2 mendapatkan persentase pendapatan 3D sebesar hanya 45% di minggu pertama penayangan, lebih kecil dibandingkan Shrek Forever After di tahun 2010 yang sebesar 60%. Film Harry Potter and The Deadly Hallows Part 2 sendiri hanya mendapatkan pendapatan 34% dari versi 3D. Eksekutif Studio Dreamworks, Jeffrey Katzenberg, menyatakan penurunan ini disebabkan karena terlalu banyaknya film 3D yang muncul terutama dari yang dipaksakan untuk dibuatkan versi 3D, khususnya yang diproduksi secara 2D dan di pasca produksi dikonversi ke 3D. Kritikus terkenal Robert Ebert menyatakan bahwa dia membenci film 3D karena menurut dia film 2D sudah memberikan efek 3D di alam pikiran penonton. Film 3D juga menurut dia tidak menambahkan pengalaman sinematik, merupakan distraksi dan bisa menimbulkan sakit kepala dan rasa mual. Di Indonesia sendiri telah muncul sebuah film dengan format 3D tahun ini berjudul Jendral Kancil the Movie dan animasi Petualangan Singa Pemberani. Film terakhir ini juga merupakan bagian dari promosi es krim Wall’s Paddle Pop. Tren film 3D Indonesia ke depan sepertinya tidak jelas dengan kondisi perfilman nasional yang masih terjebak dengan masalah-masalah klasik seperti sistem tata edar yang dianggap tidak berpihak ke perfilman nasional, apresiasi penonton yang kurang, risiko tinggi secara finansial yang harus ditanggung produser, pola kerja industri yang serba instan, dan sebagainya.
  20. perbedaan maya dan 3d max Perbedaan 3ds max & Maya Software 3D di dunia sangat banyak. Beberapa yang populer di antaranya adalah max, Maya, Softimage, Lightwave, Cinema 4D, dll. Setiap software tentu memiliki kelebihan dan kekurangan. Pada akhirnya, tentu user yang akan menentukan pilihannya. Secara umum, saat ini 3ds max adalah software 3d paling populer untuk berbagai aplikasi. Salah satu industri yang paling banyak menggunakan adalah industri game. Kelebihan max daripada Maya adalah simplifikasinya. Sangat banyak fitur otomatis yang tidak kita temukan di Maya, seperti modeling objek (pintu, tangga, dll). Max juga lebih mudah untuk kebutuhan motion graphic dan visualisasi arsitektur. Maya dibuat oleh perusahaan yang dulunya merupakan merger dari TDI, Alias & Wavefront. Software ini merupakan market leader di industri film. Kelebihan Maya terletak pada workflownya. Maya dirancang untuk workflow berukuran besar di mana seluruh proses modeling, animasi, texturing, lighting, bisa dikerjakan secara independen dan bisa digabungkan belakangan. Kelebihan lain dari Maya adalah animasi karakter yang lebih fleksibel. Bagi pemula, saya sarankan untuk belajar max karena populer, mudah didapatkan tutorial maupun supportnya, banyak usernya serta relatif mudah. Bagi animator serius yang ingin terjun ke animasi karakter, baru Maya sesuai digunakan. Untuk kelas workshop di Digital Studio saat ini menggunakan 3ds max sedang untuk program College yang kita rancang untuk kebutuhan professional, kita menggunakan Maya.

About Ngobas

Ngobas is All-in-One website that can be use by everyone for free to find friends and exchange information. The name Ngobas is derived from the abbreviation, which is Ngomong Bebas Originally Sedap, meaning that it is appropriate to speak according to the ethics of socializing.

CEO’s Greeting

I realize that information and communication are the main things in life. Ngobas is the right platform for that. We will always be connected wherever we are and that is the purpose Ngobas was built.

- Samuel Berrit Olam

×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy