Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'istri'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • CLINIC NGOBAS
    • Coronavirus
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • Ngocol
    • Ngocol Video
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • ABOUT NgobasTV
    • EVENT
    • WESER
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

  • Ngobas Blog
  • Your World

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 26 results

  1. Untuk jadi orang tua itu nggak lah mudah, sebelum memiliki anak , kita mungkin penuh dengan saran dan ide-ide. Tapi sesudah menjadi seorang ibu, terkadang kita merasa kewalahan dan kehabisan akal. Setiap kali, ada saja masalah baru yang timbul seiring pertumbuhan anak yang harus ditangani. Sering kali si Ibu kehilangan kesabaran, membentak, dan berteriak kepada si Anak. Dan kemudian si Ibu pun menyesal karena merasa menjadi ibu yang buruk untuk si Anak. Tapi, kalau kita menyadari kesalahan dan menerima keburukan-keburukan yang telah kita perbuat, maka masih ada kesempatan membenahi diri untuk menjadi orang tua yang baik, dan kemudian mendidik anak-anak untuk menjadi lebih baik pula. Berikut ini adalah beberapa langkah yang bisa ditempuh untuk memperbaiki diri. TURUNKAN BADAN DAN SUARA Saat bicara dengan anak, turunkan badan sampai level mata dan turunkan suara. Terkadang kita terlalu sering menjulang tinggi diatas anak dan bicara dari atas kepada mereka. Atau dengan suara lantang yang nggak ingin didengar siapapun. Memang sulit mengendalikan diri waktu susu coklat tumpah ditempat tidur atau mendengar suara piring yang pecah dilantai. Tapi berteriak atau membentak nggak bakal membantu. Hampir bisa dipastikan, anak nggak menumpahkan susu atau menjatuhkan piring dengan sengaja. Lain kali, kalau ingin menegur kepada anak untuk sesuatu yang terjadi secara nggak sengaja, berjongkoklah sehingga kita setinggi level mata dengan si Anak, dan kemudian bicaralah dengan suara rendah. “piring yang telah pecah itu sangat berbahaya karna bisa melukai tangan kita, ibu bakal membersihkan bagian yang berbahaya ini, sesudah itu kamu bantu ibu membersihkan yang lainnya.” Bagaimana kalau kejadian tersebut disengaja? Sekali lagi, jongkok sampai setinggi level mata si Anak, lalu bicara dengan nada suara rendah dan tegas “ ini nggak baik. Kita menjatuhkan, menendang, melempar atau apapun lainnya”. Lalu tarik perhatian dari anak tersebut selama beberapa saat. KENALI MASALAH DAN SELESAIKAN Sering terjadi perubahan sederhana udah cukup menimbulkan masalah. Sebagai contoh, kalau si Anak kebiasaan lupa nggak membawa pulang buku materi dari sekolah, apakah kita bisa atur untuk menjemputnya selama satu atau dua minggu, dan beri dia kesempatan untuk kembali ke sekolah untuk mengambilnya? Atau kalau si Anak selalu berkelahi karna menonton televisi sesudah makan malam, apakah bisa satu anak main boneka sementara yang lainnya istirahat? Mereka bisa bergantian menonton dan kita bisa lebih tenang. Berpikirlah secara kreatif. Jika celana si Anak dipenuhi semut waktu pulang sekolah dan tak bisa duduk diam untuk menyelesaikan pekerjaan rumahnya, mungkin jalan-jalan disekitar rumah atau main 30 menit di luar bisa member waktu yang diperlukannya untuk duduk diam. Sebaliknya kalau si Anak pulang dengan perut lapar, lalu makan banyak permen, maka siapkan alternative yang lebih sehat. BELAJAR MELEPASKAN Apakah ente perang dengan anak untuk sesuatu hal yang nggak terlalu penting? Contohnya, ente nggak suka sepatu yang diletakkan di anak tangga dan si Anak benci untuk melakukan upaya yang berlebihan untuk menaruh sepatunya di rak sepatu. Ente dapat melaksanakan aturan ente dan siap-siap untuk teriak 15 tahun berikutnya. “ ibu bilang taruh sepatumu di rak!” atau si Ibu dan si Anak dapat berkompromi: sepatu dimaksukkan ke kotak cantik, lalu di simpan di tangga. HENTIKAN HIBURAN Apapun yang dipikirkan anak, kita sebagai orang tua nggak wajib membuat mereka terhibur setiap saat. Hilangkan kebiasaan si Anak dengan menempelkan daftar tugas yang harus diselesaikan dipintu kulkas. Arahkan anak yang bosan untuk mengerjakan tugasnya dan minta mereka untuk melakukan tugas-tugas selanjutnya di daftar. Maka si Anak bakal berpikir dua kali sebelum mengatai dirinya bosan. Biarkan si Anak belajar menghibur dirinya sendiri, bantu mereka untuk menemukan hobinya, libatkan mereka dalam kegiatan-kegiatan apa saja, atau keluarkan kotak besar dan biarkan imajinasi mereka bermain. KENALI si ANAK Cari cara untuk menghabiskan waktu 20 sampai 30 menit yang tak terputus dengan anak setiap minggu. Jika kita punya beberapa anak, tetapkan system giliran waktu kebersamaan dengan masing-masing anak bersama kita dan pasangan. Seperti makan es krim bersama ayah dan ibu di dapur, atau bermain di taman. Berikan sepenuhnya waktu utuk si Anak, kalau perlu matikan ponsel, agar waktu ente benar-benar focus dengan si Anak.
×
×
  • Create New...