Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'bumi'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

  • Ngobas Blog
  • Your World

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 44 results

  1. Manusia mengandalkan ilmu pengetahuan untuk mengungkap banyak misteri di dunia, seperti Segitiga Bermuda hingga alien. Sains pun telah berhasil menjawab banyak mitos yang bertebaran di berbagai belahan dunia. Namun, ada kalanya ilmuwan dan ilmu yang ada belum bisa menyelesaikan teka-teki yang ada di kehidupan tumbuhan, hewan, dan manusia. Tujuh misteri ini buktinya. 1. Sapi tak pernah hadap timur atau barat saat makan Fenomena aneh ini terungkap setelah sebuah tim ilmuwan mengamati ribuan foto dari situs Google Earth. Secara tidak disengaja mereka menemukan fakta unik di mana sapi-sapi yang dilepas di luar kandang hampir selalu menghadap selatan atau utara saat makan. Beberapa hewan memang diketahui mempunyai insting 'magnet' di otaknya. Dengan insting itu, hewan tersebut akan cenderung memposisikan tubuhnya searah dengan kutub utara dan selatan bumi. Namun, hal itu tidak ditemukan di mamalia sebesar sapi. Sampai saat ini ilmuwan terus berdebat apakah sapi melakukannya karena insting itu atau sebagai bentuk perlindungan diri terhadap pemangsa. 2. Tumbuhan narkoba tak disukai binatang Tidak banyak yang mengetahui, tetapi banyak tumbuhan di bumi yang memproduksi senyawa organik yang bersifat basa (kebalikan asam). Menariknya, beberapa senyawa itu terbukti bersifat adiktif seperti narkoba, misalnya morfin. Hal yang membuat ilmuwan heran, morfin biasanya menimbulkan efek penghilang rasa sakit dan disukai oleh pecandu narkoba. Namun, bagi hewan, mereka diketahui menghindari tumbuhan yang memproduksi morfin. Apakah hewan tidak menyukai narkoba? 3. Evolusi super cepat bunga Charles Darwin pernah mengungkapkan kekhawatirannya terkait cepatnya evolusi yang dialami oleh bunga-bunga di bumi. Bagaimana tidak, bunga diyakini berevolusi dan menyebar terlalu cepat, bertentangan dengan teori evolusinya yang menyatakan bila evolusi berlangsung lambat. Ilmuwan sulit untuk mengungkap misteri begitu cepatnya evolusi bunga akibat minimnya fosil bunga yang ada. 4. Plankton dijauhi hewan laut Plankton adalah tumbuhan atau hewan berukuran super kecil yang memenuhi lautan. Mereka adalah sumber makanan bagi hewan-hewan laut. Anehnya, di lautan yang dipenuhi dengan plankton, jumlah hewannya justru sedikit. Padahal, seharusnya di tempat yang banyak tersedia makanan ada banyak pemangsanya. Misteri ini sampai saat ini disebut paradox plankton dan belum bisa dipecahkan oleh ilmuwan. 5. Teka-teki hubungan seksual Hampir semua makhluk hidup di bumi berkembang biak dengan berhubungan seksual. Namun, alasan mengapa 'harus' hubungan seksual untuk berkembang biak masih dipertanyakan sampai saat ini. Sebelumnya, ilmuwan menduga hubungan seksual bisa mengurangi peluang evolusi 'salah' atau mutasi. Tetapi, setelah dilakukan penelitian terhadap 700 gen dari berbagai makhluk hidup, peluang terjadinya mutasi masih bisa terus meningkat saat berkembang biak lewat hubungan seksual. 6.Hewan hidup tanpa oksigen Alasan mengapa hewan dan tumbuhan bisa hidup di bumi adalah keberadaan oksigen. Nah, ilmuwan bertanya-tanya saat mereka menemukan beberapa hewan 'sederhana' yang mampu hidup tanpa oksigen di laut Mediterania. Hewan bernama Loricifera itu awalnya diperkirakan hidup dengan oksigen, namun karena alasan yang belum diketahui, Loricifera akhirnya menggantikan oksigen dengan garam. 7.Asal usul manusia Tidak diragukan lagi, garis 'keturunan' manusia menjadi topik panas sejak lama. Terlebih setelah Charles Darwin mengemukakan teori evolusinya. Salah satu jenis manusia purba yang paling dekat dengan manusia adalah Denisova hominin. Sayangnya, setelah dilakukan penelitian DNA, terungkap bila ada beberapa kejanggalan DNA yang membuat asal usul manusia kembali kembali diragukan.
  2. Sejumlah ahli astronomi, fisikawan, dan ilmuwan menyerukan agar dunia tidak abai dan tidak lupa dengan potensi ‘serangan’ satu juta asteroid dari luar angkasa. “Kita tidak siap untuk mencegah asteroid mematikan (menghantam bumi)” ujar Fisikawan Brian Cox. Seratus nama terkenal, termasuk astronot, astronomer royal hingga gitaris rock Brian May, telah menyerukan peningkatan 100 kali lipat serang asteroid terhadap bumi. Ada satu juta asteroid di tata surya yang memiliki potensi untuk menyerang bumi, tetapi hanya 10.000 telah ditemukan lintasannya.. Para ahli juga meminta agar tanggal 30 Juni menjadi Hari Asteroid. Hal ini untuk selalu mengingatkan manusia sekaligus terus mempromosikan upaya-upaya untuk mencegah dampak serang asteroid. Pada tanggal pada tahun 1908, sekitar 1.287 kilometer persegi hutan di Tunguska, Siberia, hancur oleh serangan asteroid. Para ilmuwan percaya, jika kembali terjadi maka bisa menghapus seluruh kota. Para ahli menyatakan bahwa peristiwa yang terjadi di Tunguska adalah kurang dari 1 persen dari ukuran pada umunya asteroid. Tidak seorang pun yang tahu kapan yang besar berikutnya akan datang menghantam bumi. “Orang-orang dahulu memahami bahwa langit dan gerakan tubuh astronomi mempengaruhi kehidupan di bumi, hanya saja tidak dengan cara yang mereka bayangkan. Inilah sebabnya mengapa kita harus membuat misi untuk menemukan asteroid ,sebelum mereka menemukan kita,” ujar Astronomer Royal Lord Martin Rees Ed Lu, astronot yang telah tiga kali keluar angkasa menjelaskan bahwa persoalan dunia saat ini belum memiliki data akurat soal lintasan asteroid untuk peringatan awal. “Kami memiliki teknologi untuk membelokkan asteroid berbahaya melalui impactors kinetik dan traktor gravitasi tetapi hanya jika kita memiliki peringatan terlebih dahulu lintasan mereka. Sekarang kita perlu sepakat bahwa ini adalah satu-satunya bencana alam yang kita tahu bagaimana mencegah,” ujar Ed Lu
  3. Enam astronaut yang sedang menjalankan misi Expedition 42 sejak November 2014 lalu memisahkan diri. Tiga di antaranya harus kembali ke Bumi. Samantha Cristoforetti, astronaut dari badan antariksa Eropa, ESA, sempat mempublikasikan detik-detik sebelum Barry "Butch" Wilmore dari NASA, Alexander Samokutyaev dan Elena Serova dari Roscosmos, Rusia menyelesaikan tugas mereka di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). "Momen terakhir kami sebagai kru #Exp42. Sangat menyenangkan bertugas di #ISS dengan orang-orang hebat ini," kicau Cristoforetti pada akun Twitternya, @AstroSamantha, Rabu (11/3) kemarin, lengkap dengan foto dengan lima awak lainnya. Ketiganya mendarat di kota Dzhezkazgan, Kazakhstan pada 11 Maret 2015 kemarin pukul 22:07 waktu bagian timur (EDT). Juru bicara NASA, Rob Navias mengatakan bahwa tempat pendaratan dilapisi oleh kabut tebal dan suhunya mencapai minus enam derajat Celsius. "Saya senang bisa kembali (ke Bumi)," ujar Wilmore sebagai komando Expedition 42, setelah berhasil keluar dari kapsul antariksa Soyuz. Selama berada di ISS 167 hari, Wlimore, Samokutyaev, dan Serova meneliti efek mikrogravitasi pada sel, observasi Bumi, serta ilmu pengetahuan seputar fisik, molekular, dan biologis. Expedition 42 memang fokus pada pengelolaan kesehatan manusia untuk perjalanan antariksa berdurasi panjang. Kini tinggal tiga astronaut yang masih mendiami ISS hingga misi ini usai pada akhir tahun 2015. Mereka adalah Cristoforetti dari ESA, Terry Virts dari NASA, dan Anton Shkaplerov dari Roscosmos. Misi selanjutnya, Expedition 43 sedang berada di tahap operasi di mana Virts menjadi komandonya. [tweet]https://twitter.com/AstroSamantha/status/575749797828780032[/tweet]
  4. Sebagai seorang jenius di bidang fisika, Stephen Hawking kini juga dikenal sebagai 'penentang' kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Baru-baru ini Hawking menyatakan kekhawatirannya terhadap kekuasaan para alien. "Jika alien mengunjungi dunia kita, saya rasa akan sama ketika Christopher Columbus mendarat pertama kali di Amerika -- bukan hal yang disenangi oleh penduduk asli sana 'kan," kata Hawking pada acara Into to the Universe with Stephen Hawking. Nyatanya, kekhawatiran Hawking terhadap keberadaan alien sudah pernah ia tuturkan pada 2010. Ia mengatakan, apabila kehidupan alien cerdas betulan ada, kemungkinan mereka tidak akan ramah terhadap manusia. Ia juga menyampaikan bahwa peradaban alien cerdas kemungkinan bersifat nomaden atau berpindah-pindah. Maka, sangat mungkin apabila mereka mencari planet apapun yang bisa dikuasai. "Jika betul, masuk akal bagi mereka untuk mengeksploitasi setiap planet sebagai bahan penciptaan pesawat antariksa agar mereka bisa mobilisasi," kata Hawking. Peradaban manusia di mata Hawking nampaknya semakin suram lantaran ia juga menyatakan bahwa sifat agresif manusia bisa mengancam kehidupan Bumi beberapa waktu lalu. Hawking memaksa bahwa sikap empati sangat dibutuhkan di era serba canggih seperti ini. Malah, ia menyarankan manusia cerdas dengan keadaan mental lebih sehat untuk melarikan diri dari planet ini bersama-sama. "Saya yakin jangka panjang peradaban manusia di masa depan berada di luar angkasa yang memiliki garansi kehidupan. Dengan menguasai planet lain, kehidupan manusia tidak akan musnah," tutur sang jenius. (Baca: Kontroversi Surga Palsu dan Ketiadaan Tuhan) Begitupun untuk perkembangan AI. Hawking berkata kecerdasan buatan yang dikembangkan sejauh ini memang sangat terbukti berguna untuk manusia. Tetapi, ia khawatir peranti lunak tersebut berpikir melampaui manusia dan menandingi umat manusia.
  5. Seorang ulama asal Arab Saudi, Sheikh Bandar al-Khaibari mengklaim bahwa Bumi selama ini sifatnya statis dan matahari sebagai objek yang mengorbit Bumi. Mengutip laporan situs Independent, al-Khaibari yang kala itu sedang ceramah di hadapan para mahasiswa di sebuah kampus Uni Emirat Arab, menyampaikan 'teorinya' mengenai Bumi yang diyakininya selama ini tidak bergerak. Ulama itu menunjukan teorinya dengan menggunakan air yang berada di dalam cangkir guna menghilangkan prasangka mengenai teori dunia itu berputar karena mengorbit matahari. "Fokus bersama saya, jadi ini adalah Bumi," ujar al-Khaibari sambil memegang cangkir air tersebut, di dalam sebuah video. "Anda percaya bahwa Bumi berputar, jika kita meninggalkan bandara Sharjah untuk terbang ke Tiongkok dan bayangkan apabila pesawat berhenti di udara, harusnya Tiongkok akan tetap mendekat ke arah kita jika Bumi betulan berputar. Betul atau tidak?" tutur sang ulama berkacamata itu. Lalu, ia melambaikan cangkir tersebut sembari menggerakkan tangan membentuk arah lingkaran, dan berujar, "jika Bumi berotasi dari arah sebaliknya, pesawat tidak akan mencapai Tingkok karena Tiongkok pun juga pasti ikut berotasi." Tak hanya itu, ia juga mengklaim bahwa astronaut tidak pernah betulan menyambangi bulan dan menganggap rekaman pendataran bulan oleh badan antariksa Amerika Serikat, NASA, sebagai kreasi abal-abal Hollywood. Para pakar dari Universitas Cambridge sempat menanggapi bantahan al-Khaibari soal rotasi Bumi. Mereka menyatakan bahwa atmosfer bergerak dengan permukaan Bumi di bawahnya karena ada gesekan. Makhluk hidup di sini terus bergerak bersama permukaan Bumi sehingga tidak ada perbedaan soal penerbangan dengan rotasi Bumi. Dengan kata lain, rotasi Bumi tidak menimbulkan efek apa-apa terhadap durasi penerbangan yang berasal dari arah manapun. Jadi bulan-bulanan di Twitter 'Teori' baru al-Khaibari tidak diterima oleh sejumlah netizen, khususnya pengguna jejaring sosial Twitter. Banyak yang berkicau menggunakan tanda pagar #cleric_rejects_rotation_of_Earth yang berarti "ulama menolak rotasi Bumi". Kicauan dari pengguna @iFAS_x berbunyi, "Jika Bumi tidak bergerak, bagaimana kami bisa dapat siklus siang dan malam." [tweet]https://twitter.com/iFAS_x/status/566977490149597188[/tweet] Namun adapun yang menjadikannya bahan lelucon dengan berkata, "jika saya terus loncat ke atas dan bawah saya akan tiba di Kanada secara cuma-cuma. Saya bisa mengunjungi Bibi! Yes!" begitu kicauan nama pengguna @leeram. http://youtu.be/68f-BnnKj7U
  6. Menurut studi bari yang dipimpin Dr. Dennis Harries dari Fried Schiller, Universität di Jena, Jerman bahwa ada kemungkinan nitrogen telah ada di setelah bumi terbentuk dalam meterorit kuno. Sebenarnya sudah sejak lama para ilmuwan dibuat bingung tentan asal usul nitrogen di Bumi. Hal ini terjadi karena komposisi isotop yang dihasilkan matahari berbeda dengan yang ditemukan dalam komet. “Untuk waktu lama ada beberapa teori bahwa komet telah membawa air dan nitrogen ke bumi. Namun ada bukti lain yang berkembang bahwa rasio isotop dalam komet sangat berbeda dengan yang ada di atmosfer bumi,” ujar Harries. Dilaporkan dalam jurnal Nature Geoscience penelitian ini menggambarkan bagaimana meteorit sebenarnya merupakan kunci pengembangan hidup di Bumi. Harries telah menemukan mineral biasa nitrogen yang cocok dengan nitrogen bumi. Menurutnya komposisi isotop ini mirip dengan yang ditemukan peneliti selama ini serta yang ada di atmosfer. Mineral tak biasa itu justru terdeteksi pada dua buat meteorit. Mineral tak biasa itu disebutnya bernama carlsbergite merupakan senyawa kromium dan nitrogen. “Kristal ini hanya berukuran 100 nanometer, sehingga tidak bisa terlihat dengan mata telanjang,” paparnya. Harries percaya adanya konsentrasi tinggi amonia di beberapa bagian nebula yang membentuk Matahari dan tata surya —sekitar 4,6 miliar tahun lalu—kemudian nitrogen terbentuk. “Kami berpikir bahwa amonia yang merupakan campuran air es, kemudian diuapkan oleh gelombang kejut atau tabrakan yang terjadi di dalam tata surya,” kata Harries. Ia berspekulasi bahwa asteroid yang mengandung carlsbergite kemudian terlempar karena gangguan gravitasi dan akhirnya berdampak pada Bumi.
  7. Limpet atau siput laut Apa material alami yang terkuat di bumi? Apakah jaring laba-laba, titanium, atau kevlar? Ternyata bukan. Sekelompok ilmuwan mendapati bahwa material yang terkuat di bumi adakah gigi Limpet atau siput laut. Siput laut vegetarian ini biasanya memiliki panjang tubuh sampai lima sentimeter dan memiliki cangkang berbentuk kerucut. Mereka menempel pada batu dan bergerak menggunakan kaki di bawah cangkangnya. Untuk makan, mereka tak perlu menggerakkan tubuh, cukup dengan memperpanjang semacam lidah berpelekat yang disebut juga radula. Lidah ini memiliki sederet gigi kecil yang menggesek dan memindahkan makanan ke dalam mulutnya. Asa Barber, seorang profesor di Fakultas Teknik Universitas Portsmouth, Inggris, yang memimpin studi itu, mengatakan gigi-gigi itu memiliki komposisi frame protein dan kandungan serat-serat goethite yang tersusun rapat. Goethite adalah mineral oksida yang ditemukan di tanah dan lingkungan bersuhu rendah. Ia sudah dikenal sejak zaman prasejarah karena digunakan sebagai pigmen. Mineral ini juga termasuk penyusun bijih besi. Komposisi itu, kata Barber, menghasilkan struktur terkuat, seperti struktur yang digunakan di pesawat terbang, tapi dalam skala yang sangat kecil. Barber pun terinspirasi untuk menguji kekuatannya. Di laboratorium, para ilmuwan pun memisahkan gigi-gigi itu. Hasilnya, untuk memisahkan material gigi itu dibutuhkan tekanan 6,5 gigapascal (GPa). Sebagai perbandingan, kekuatan serat jaring laba-laba adalah 4,5 GPa. Sedangkan kevlar hanya 3-3,5 GPa. Temuan lain, gigi siput itu tetap sama kuatnya, berapapun ukurannya. Biasanya, kalau material lain, semakin besar ukurannya semakin berkurang kandungannya, sehingga semakin rapuh. Barber mengatakan, penemuan itu akan membuka banyak peluang lahirnya material yang tak hanya kuat tapi juga ringan. Ini bermanfaat bagi dunia otomotif. Mobil atau sepeda motor balap biasanya membutuhkan material body yang kuat namun ringan.
  8. Asteroid sebesar gunung sedang mendekati Bumi, dan bukan tidak mungkin akan terjadi tabrakan dalam beberapa dekade ke depan Ilmuwan asal Rusia menemukan sebuah asteroid sebesar gunung yang sedang terbang mendekati Bumi, dan bukan tidak mungkin akan terjadi tabrakan. Asteroid yang diberi nama 2014 UR116 itu ditemukan oleh Vladimir Lipunov, seorang profesor dari Universitas Negeri Moskow. Ia bersama tim kecilnya, memang sudah lama memperhatikan pergerakan asteroid tersebut. Lipunov mengaku bahwa pergerakan asteroid berdiameter 370 meter itu memang masih sulit ditebak, tapi bukan tidak mungkin bisa tiba di Bumi dengan ledakan yang cukup besar. Pun begitu, dengan pergerakan seperti ini asteroid tersebut diperkirakan baru akan mendekati Bumi dalam beberapa dekade ke depan. "Kami masih harus melacak pergerakan asteroid ini secara permanen, karena sedikit salah perhitungan bisa berdampak sangat fatal," kata Lipunov. Menurut Roscosmos, badan antariksa Rusia, mereka memang sedang mengembangkan alat khusus untuk mendeteksi ancaman dari luar angkasa. Hal ini demi mencegah insiden asteroid menabrak Bumi yang terjadi di desa Chelyabinsk pada Februari 2013 lalu. Terkait insiden itu Lipunov menambahkan, jika menabrak Bumi maka letusan yang diakibatkan oleh 2014 UR116 bisa seribu kali lebih hebat dari ledakan di desa Chelyabinsk.
  9. Bagi warga Amerika Serikat (AS) dan negara barat lain, Desember menjadi bulan penuh perayaan karena ada Hari Raya Natal dan Tahun Baru. Gemerlap cahaya lampu menghiasi kota-kota di sana untuk memberi suasana meriah, dan cahaya lampu ini tertangkap dari ruang angkasa. Satelit Suomi National Polar yang dioperasikan oleh badan antariksa Amerika Serikat, National Aeronautics and Space Administration (NASA) dan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menangkap cahaya lampu malam yang menakjubkan dari beberapa kawasan di AS. Sinar lampu pada musim perayaan seperti sekarang meningkat 50 persen lebih banyak dan terang dibanding pada bulan-bulan lain sepanjang tahun. Hal ini juga terjadi di beberapa kota lain di seluruh dunia. Cahaya-cahaya ini ditangkap oleh komponen satelit bernama Visual Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS) berhasil menangkap cahaya infra-merah yang nampak terang di seluruh negara bagian AS. Komponen itu dikembangkan oleh tim peneliti di Goddard Space Flight Center NASA dan Universitas Yale. Algoritma yang disusun oleh mereka dirancang agar bisa melihat sinar lampu tersebut berubah dari malam ke malam. Sejatinya satelit Suomi dirancang bukan untuk memantau cahaya lampu natal, melainkan untuk memelajari penutup awan, vegetasi, es, lapisan ozon, dan polusi udara pada Bumi. Satelit yang diluncurkan pada tahun 2011 ini juga berperan untuk memantau temperatur daratan, laut, dan atmosfer Bumi. Para peneliti ternyata juga sempat menangkap sinar lampu yang terang di kawasan Mesir saat bulan Ramadhan dan perayaan Idul Fitri.
  10. MEMANG hanya Tuhan yang tahu kapan dunia ini bakal berakhir. Namun, penyebab kehancuran di Bumi sudah banyak diprediksikan oleh para ahli. Beberapa di antaranya bahkan sudah mulai terjadi dan tidak menutup kemungkinan akan menjadi puncak kehancuran di kemudian hari. Berikut sembilan penyebab bagaimana dunia ini bisa benar-benar berakhir atau kiamat menurut para ilmuwan : Pemanasan Global Perubahan iklim seperti pemanasan global atau global warming merupakan ancaman terbesar yang dihadapi planet ini. Perubahan iklim bisa membuat cuaca ekstrim sedemikian parah, terjadinya kekeringan, mengubah distribusi hewan dan penyakit di seluruh duni. Bahkan menyebabkan daerah rendah di Bumi tenggelam karena naiknya permukaan air laut. Perubahan iklim secara drastis bisa menyebabkan ketidakstabilan politik, kemarau parah, kelaparan, runtuhnya ekosistem, dan perubahan lain yang membuat Bumi menjadi tempat tidak ramah untuk kehidupan. Ancaman Pandemik Patogen baru yang mematikan ditemukan setiap tahunnya. Mulai dari SARS, flu burung, MERS, hingga yang terbaru Ebola yang diketahui berasal dari Afrika. Karena manusia saling berhubungan erat satu sama lain, penyakit mematikan tersebut bisa menyebar dengan cepat seperti api dan melenyapkan kehidupan di Bumi ini. Penyakit Buatan Penyakit alami bukan satu-satunya ancaman kehidupan. Pada 2011, komunitas ilmiah marah ketika mengetahui ilmuwan merekayasa versi mutan flu burung H5N1 yang menular pada musang dan ditularkan melalui udara. Hal yang memicu kekhawatiran adalah rekayasa penyakit mematikan ini bisa secara tidak sengaja tersebar keluar dari laboratorium dan menyebabkan pandemi global. Asteroid Sejumlah film yang Anda tonton tentang kiamat tidak berbohong. Asteroid adalah ancaman terbesar musnahnya kehidupan di Bumi ini. Jika jatuhnya meteor saja bisa melenyapkan dinosaurus dari muka Bumi, bagaimana dengan asteroid raksasa? Perang Nuklir Ancaman yang cukup klasik dan sudah menjadi bahan pembicaraan sejak dulu adalah perang nuklir. Banyak negara di dunia yang menyimpan senjata pembunuh massal seperti nuklir. Ini bisa menyebabkan kehancuran di Bumi jika jatuh ke tangan yang salah Robot Seiring pesatnya perkembangan teknologi, kecerdasan buatan semakin menyusul kecerdasan manusia. Apalagi jika kecerdasan buatan seperti robot justru jadi mesin pembunuh ketimbang sebagai pembantu manusia. PBB baru-baru ini menyerukan larangan pengembangan robot pembunuh, mungkin karena mereka khawatir mengetahui beberapa negara tengah mengembangkannya. Bayangkan jika di masa depan banyak robot cerdas bersenjata mematikan berkeliaran. Kemudian terjadi suatu kesalahan pada sistemnya yang mengubahnya menjadi mesin pembunuh massal. Populasi Berlebih Ketakutan akan populasi yang berlebih di Bumi sudah muncul sejak abad 18. Dunia semakin sempit dan sumber daya alam semakin berkurang. Tidak mengherankan pencarian tempat tinggal baru di planet lain (misalnya Mars) semakin gencar dilakukan karena berlebihnya populasi manusia di Bumi bisa menjadi ancaman berbahaya bagi kehidupan. Jamur Percayakah Anda jamur bisa melenyapkan kehidupan di Bumi? Menurut David Wake, peneliti di Museum of Vertebrate Zoology di University of California, AS, jamur bisa lebih mematikan dari penyebaran bakteri pada manusia. Baru-baru ini, tersebar jamur yang menyebabkan musnahnya banyak populasi katak di AS. Efek Bola Salju Teori efek bola salju mengartikan gabungan antara cara-cara yang sudah disebutkan tadi bisa mengantarkan Bumi menuju kehancuran. Misalnya, pemanasan global dapat meningkatkan kemungkinan penyebaran pandemik penyakit berbahaya dan juga menyebabkan pergeseran iklim. Di sisi lain, ekosistem yang runtuh bisa menyulitkan alam menghasilkan sumber makanan.
  11. Diperkirakan ada sekitar 8,7 juta spesies tumbuhan, hewan, dan organisme lain di bumi, menurut hitungan terbaru kehidupan di planet kita. Perkiraan sebelumnya mengenai jumlah spesies bumi berkisar antara 3 juta hingga 10 juta. Penelitian ini dilakukan oleh para ilmuwan di Universitas Dalhousie, Kanada, pada tahun 2011, menggunakan model matematika berdasarkan jumlah spesies yang dikenal. Para ilmuwan menghitung bahwa ada sekitar 7,77 juta spesies hewan; 298.000 spesies tanaman; 611.000 jenis jamur; 36.400 spesies protozoa; dan 27.500 spesies chromista (organisme yang menghuni sebagian besar lautan dan membuat makanannya sendiri menggunakan sinar matahari). Namun, hanya sekitar 1,3 juta spesies yang benar-benar telah diberi nama dan diklasifikasikan. Para ilmuwan Dalhousie memperkirakan bahwa 86 persen dari semua spesies darat dan 91 persen dari seluruh spesies laut masih belum diketahui sehingga belum bisa dipelajari atau dikelompokkan. Ahli biologi kelautan, Boris Worm, salah satu penulis dalam studi tersebut, membandingkan bumi dengan sebuah mesin yang memiliki 8,7 juta bagian dalam sebuah artikel tentang penelitian ini di The Washington Post. “Jika Anda menganggap planet sebagai sistem pendukung kehidupan spesies kita, Anda akan ingin mengetahui betapa kompleksnya sistem pendukung kehidupan ini,” kata Worm. The International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources, sebuah federasi global pemerintah dan organisasi konservasi swasta, memperkirakan bahwa sedikitnya sepertiga spesies bumi terancam punah.
  12. Jika Bumi dijual kira-kira berapa nilainya? Sebuah video coba untuk menafsirkan nilainya. Digg melansir, saluran Vsauce di YouTube mencoba untuk menafsirkan harga dari Bumi jika dijual. Meski hal ini cukup konyol, namun setidaknya kita jadi tahu berapa nilai dari hal-hal berharga di Bumi jika dijual. Simak videonya di bawah ini. Sumber : teknologi.inilah.com
  13. Ilmuwan menemukan planet kebumian yang wujudnya 2,3 kali lipat lebih besar. Penemuan Kepler 10c menggugat presepsi umum, bahwa planet batu yang bermassa terlalu besar cuma akan berubah menjadi raksasa gas Astronom Amerika Serikat menemukan "Godzila" dari semua planet batu serupa bumi. Benda langit raksasa tersebut mengorbit sebuah bintang yang berjarak 560 tahun cahaya. Temuan ini mengubah presepsi umum mengenai pembentukan planet dan tata surya. Bumi raksasa yang ditemukan oleh teleskop antariksa Kepler itu memiliki berat 17 kali lipat lebih besar ketimbang Bumi, tulis ilmuwan pada pertemuan Komunitas Astronomi Amerika Serikat di Boston. Penemuan baru itu lantas diberi nama Kepler 10c. Planet tersebut memiliki rentang diameter sekitar 29.000 kilometer atau kira-kira 2,3 kali lipat lebih besar ketimbang Bumi. "Kami sangat terkejut ketika menyadari apa yang kami telah temukan," kata Astronom Xavier Dumusque dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics. Asumsi Prematur soal Massa Planet Batu Hingga kini ilmuwan tidak berasumsi planet batu bisa tumbuh sedemikian besar. Pasalnya gaya gravitasi yang muncul pada planet batu bermassa besar diyakini akan menyedot gas hidrogen dan mengubahnya menjadi raksasa gas, seperti Jupiter. "ini adalah Godzila-nya planet-planet serupa bumi!" kata Direktur Harvard Origins of Life Initiative, DImitar Sasselov. "Tapi berbeda dengan monster di film, Kepler 10c memiliki implikasi positif terhadap kehidupan." Misi Kepler milik Nasa yang bertugas memburu kehidupan asing di antariksa cuma bisa menemukan dan mengklasifikasikan planet melalui jumlah transit di depan bintang induknya. Betapapun canggihnya, teleskop luar angkasa itu tidak bisa mengungkap apakah sebuah planet terbuat dari batuan atau gas. Apa yang mengucilkan Kepler 10c dari kategori Bumi Super dan mini Neptun adalah temuan teleskop khusus di Kepulauan Canaria yang mampu mengukur massanya. "Kepler 10c tidak kehilangan atmosfernya. Jadi ia punya massa yang cukup untuk mempertahankan keutuhan atmosfernya," kata Dumusque. Terbentuk 11 Juta Tahun Silam Karena Kepler 10c lebih padat dari yang diduga sebelumnya, planet itu akan mendapat kategori baru. Sementara planet-planet serupa bumi lain akan dikategorikan berdasarkan karakter Kepler 10c. Kendati begitu Kepler 10c diyakini tidak dapat menampung kehidupan. Ia memutari bintang induknya setiap 45 hari. Artinya planet raksasa tersebut berjarak terlalu dekat dan sebab itu memiliki suhu yang terlalu panas. Bintang Kepler 10 menaungi beberapa planet neraka. Selain 10c, bintang yang terbentuk 3 juta tahun setelah Dentuman Dahsyat itu juga dikelilingi Kepler 10b, planet berlumur lava yang berputar cepat dan cuma butuh waktu 20 jam untuk mengitari bintang induknya. "Menemukan Kepler 10c berarti bahwa planet batu bisa terbentuk lebih dini dari yang kami kira. Dan jika anda bisa membat batu, anda bisa menampung kehidupan," kata Sasselov.
  14. Apakah kita benar-benar sendirian? Sinyal elektronik memancar dari Jet Propulsion Lab milik NASA di California, ke penjelajah robot yang menempel pada sisi bawah es setebal 30 sentimeter di permukaan danau di Alaska. Lampu sorot penjelajah itu mulai menyala. “Berhasil!” seru John Leichty, insinyur JPL muda yang mendekam di dalam tenda di atas es danau di dekat situ. Peristiwa ini memang tidak terkesan seperti prestasi teknologi besar, tetapi sebenarnya ini mungkin langkah kecil pertama ke arah penjelajahan suatu bulan nun jauh. Lebih dari 7.000 kilometer di sebelah selatan, ahli geomikrobiologi Penelope Boston meng­arungi air keruh sedalam betis di gua gelap gulita di Meksiko, lebih dari 15 meter di bawah tanah. Seperti para ilmuwan lain ber­samanya, Boston memakai alat pernapasan kelas industri. Mereka juga membawa tabung udara cadangan, untuk mengatasi gas hidrogen sulfida dan karbon monoksida beracun yang sering memenuhi gua itu. Tiba-tiba, lampu di kepalanya menerangi setetes panjang cairan kental semi-bening yang meleleh dari dinding berkapur yang rapuh. “Imut ya?” serunya. Kedua tempat ini—danau Arktika beku dan gua tropis beracun—dapat memberi petunjuk tentang salah satu misteri tertua yang paling menarik di Bumi: Adakah kehidupan di luar planet kita? Makhluk di dunia lain, baik di tata surya kita atau mengorbit bintang jauh, mungkin harus hidup di samudra berlapis es, seperti di bulan Yupiter bernama Europa, atau di gua tertutup berisi gas, yang mungkin banyak terdapat di Mars. Jika kita mampu memisahkan dan mengenali bentuk kehidupan yang tinggal di lingkungan ekstrem di Bumi, kita sudah maju selangkah dalam pencarian kehidupan di tempat lain, di luar planet yang kita pijak. Sulit dipastikan kapan pencarian kehidupan di tengah bintang-gemintang bergeser dari fiksi ilmiah menjadi ilmu pengetahuan. Tetapi, salah satu tonggak utamanya adalah pertemuan astronomi pada November 1961. Pertemuan itu diselenggarakan oleh Frank Drake, astronom radio muda yang penasaran dengan ide mencari transmisi radio dari makhluk luar angkasa. Ketika dia mengadakan pertemuan itu, pen­carian kecerdasan luar bumi, atau SETI, “boleh dibilang masih tabu dalam astronomi,” kenang Drake, yang kini berusia 84 tahun. Dia mengundang sejumlah astronom, ahli kimia, ahli biologi, dan insinyur, termasuk ilmuwan planet muda bernama Carl Sagan, untuk membahas bidang yang kini dinamai astrobiologi, yakni ilmu tentang kehidupan di luar Bumi. Khususnya, Drake ingin bantuan para pakar untuk memutuskan, apakah bijak jika kita mencurahkan sejumlah besar waktu teleskop radio untuk mencari siaran dari makhluk luar angkasa, serta apa kira-kira cara yang paling menjanjikan untuk mencarinya. Berapa banyak peradaban yang mungkin ada di luar sana? dia bertanya-tanya. Jadi, sebelum para tamu tiba, dia menulis sebuah persamaan. Tulisan itu, yang kini terkenal sebagai per­samaan Drake, menyediakan proses untuk men­jawab pertanyaannya. Kita memulai dengan laju pembentukan bintang mirip-Matahari di Bima Sakti, lalu mengalikan itu dengan persentase bintang seperti itu yang memiliki sistem planet. Kalikan hasilnya dengan rata-rata jumlah planet ramah-kehidupan di setiap sistem tersebut—yakni planet yang kira-kira sebesar Bumi dan mengorbit pada jarak yang tepat dari bintangnya, agar dapat dihuni ke­hidupan. Kalikan itu dengan persentase planet yang dihuni makhluk hidup, lalu dengan per­sentase planet yang memiliki makhluk hidup cerdas, lalu dengan persentase planet yang dapat mengembangkan teknologi untuk memancarkan sinyal radio yang dapat kita deteksi. Langkah terakhir: Kalikan jumlah peradaban yang menguasai teknologi radio dengan rata-rata lama waktu mereka mampu menyiarkan sinyal atau bahkan bertahan hidup. Tetapi ada satu masalah. Tidak ada yang tahu persentase atau angkanya, kecuali variabel paling pertama dalam persamaan itu: laju pem­bentukan bintang mirip-Matahari. Jika para ilmuwan SETI berhasil menangkap sinyal radio dari luar Bumi, tentu saja ketidakpastian angka-angka ini tidak penting lagi. Namun, sampai itu terjadi, pakar dalam setiap butir persamaan Drake harus berusaha mengisinya dengan me­nentukan angkanya—dengan mencari jumlah rata-rata planet di sekeliling bintang mirip-matahari atau mencoba memecahkan misteri bagaimana kehidupan mengakar di Bumi. Untuk memasukkan perkiraan kasar ke dalam persamaan itu pun, para ilmuwan baru mampu melakukannya sepertiga abad kemudian. Pada 1995, Michel Mayor dan Didier Queloz mendeteksi planet pertama yang mengorbit bintang mirip-Matahari di luar tata surya kita. Dunia itu, yang dinamai 51 Pegasi b, sekitar 50 tahun-cahaya dari Bumi, adalah gumpal gas besar sebesar setengah Yupiter, dengan orbit begitu rapat sehingga satu “tahun” di sana hanya empat hari, dan suhu permukaannya lebih dari 1.000 derajat Celsius. Tak ada yang berpikir sedetik pun bahwa ke­hidupan dapat muncul dalam kondisi bagai neraka itu. Namun, penemuan satu planet pun sudah terobosan besar. Awal tahun berikutnya, Geoffrey Marcy memimpin timnya menemukan planet kedua di luar tata surya, lalu ketiga. Hingga kini, astronom telah memastikan hampir dua ribu eksoplanet, demikian sebutannya, dari yang berukuran lebih kecil daripada Bumi hingga lebih besar daripada Yupiter. Masih ada ribuan lagi yang menunggu konfirmasi. Tidak ada yang persis sama dengan Bumi, tetapi para ilmuwan yakin akan menemukannya tak lama lagi. Berdasarkan penemuan planet-planet yang agak lebih besar sejauh ini, para astronom baru-baru ini menghitung bahwa lebih dari seperlima bintang mirip-Matahari me­miliki planet mirip-Bumi yang dapat dihuni. Secara statistik, yang terdekat mungkin hanya berjarak 12 tahun-cahaya, yang praktis bertetangga dengan kita dalam skala kosmis. Namun, tahun-tahun belakangan, para pemburu planet menyadari bahwa tidak ada alasan untuk membatasi pencarian pada bintang yang persis sama seperti Matahari. “Sewaktu saya masih SMA,” kata David Charbonneau, astronom di Harvard, “kami diajari bahwa Matahari yang dikitari Bumi adalah bintang standar. Tetapi itu keliru.” Bahkan, sekitar 80 persen bintang di Bima Sakti adalah benda kemerahan yang kecil, sejuk, redup, yang disebut bintang katai M. Jika ada planet mirip-Bumi yang mengitari bintang katai M pada jarak yang tepat—harus lebih dekat ke bintangnya daripada Bumi ke Matahari, agar tidak terlalu dingin—planet itu juga bisa dihuni makhluk hidup. Selain itu, para ilmuwan kini meyakini bahwa planet tidak perlu berukuran sama dengan Bumi agar dapat dihuni. “Kalau Anda tanya saya,” kata Dimitar Sasselov, astronom lain dari Harvard, “antara satu hingga lima kali massa Bumi masih ideal.” Singkat kata, keragaman planet layak-huni dan bintang yang dikelilinginya mungkin jauh lebih besar daripada yang diasumsikan oleh Drake dan rekan-rekannya. Bukan hanya itu: Ternyata rentang suhu dan lingkungan kimiawi yang dapat menunjang kehidupan organisme ekstremofil juga lebih besar daripada yang dapat dibayangkan orang-orang di pertemuan Drake. Pada 1970-an, para ahli oseanografi menemukan cerobong hidrotermal, yang menyediakan nutrisi bagi ekosistem bakteri yang kaya. Mikrob tersebut, yang makan hidrogen sulfida dan zat kimia lain yang larut dalam air, kemudian menjadi makanan organisme lebih tinggi. Para ilmuwan juga menemukan bentuk kehidupan yang tumbuh subur di mata air panas, di danau beku ratusan meter di bawah permukaan lembar es Antartika, di lokasi yang sangat asam atau sangat basa atau sangat asin atau radioaktif, dan bahkan di retak kecil pada batu padat satu kilometer di bawah tanah atau lebih. “Di Bumi, kondisi-kondisi seperti itu merupakan lingkungan khusus,” kata Lisa Kaltenegger, yang merangkap jabatan di Harvard dan di Max-Planck-Institut für Astronomie di Jerman. “Tetapi, di planet lain, lingkungan seperti ini justru bisa menjadi skenario dominan.” Satu faktor yang diyakini para ahli biologi penting bagi kehidupan yang kita kenal adalah air dalam bentuk cair—pelarut dahsyat yang mampu mengangkut zat hara larut ke semua bagian tubuh suatu organisme. Di tata surya kita, kita sudah tahu sejak misi pengorbit Mariner 9 Mars pada 1971, bahwa air mungkin pernah mengalir bebas di planet merah itu. Jadi, mungkin dulu di sana pernah ada kehidupan, setidaknya dalam bentuk mikrob—dan bisa saja sisa-sisa kehidupan itu masih bertahan. Bulan Yupiter, Europa, juga menampakkan retak-retak pada permukaan es yang relatif muda—bukti bahwa di balik es itu terdapat lautan air cair. Pada jarak sekitar 800 juta kilometer dari Matahari, air Europa semestinya beku padat. Tetapi, bulan ini senantiasa ber­kontraksi akibat tarik-ulur pasang dari Yupiter dan beberapa bulan yang lain, menghasilkan panas yang dapat menjaga wujud air di bawahnya tetap cair. Secara teori, di dalam air itu bisa saja terdapat kehidupan. Pada 2005, wahana antariksa Cassini milik NASA melihat semburan air meletus dari bulan Saturnus, Enceladus. Pengukuran se­lanjutnya oleh wahana itu, yang dilaporkan pada April tahun ini, juga mengonfirmasi bahwa air itu bersumber dari dalam tanah bulan itu. Permukaan Titan, bulan terbesar Saturnus, memiliki sungai, danau, dan hujan. Namun, daur meteorologi Titan didasari oleh hidrokarbon cair seperti metana dan etana, bukan air. Bisa saja ada yang hidup di sana, tetapi bentuknya sulit ditebak. Mars jauh lebih mirip Bumi, dan jauh lebih dekat, daripada bulan-bulan jauh ini. Penjelajah NASA, Curiosity, sekarang sedang men­jelajahi kawah Gale, yang miliaran tahun silam ditempati danau besar. Kini jelas bahwa lingkungan kimiawi danau itu semestinya dapat dihuni mikrob, kalau memang ada. Gua di Meksiko bukanlah Mars, tentu saja, dan danau di Alaska utara bukanlah Europa. Tetapi, pencarian kehidupan luar Bumi-lah yang membawa ahli astrobiologi JPL Kevin Hand dan anggota timnya, termasuk John Leichty, ke Danau Sukok, Alaska. Pencarian seperti itu pula yang menyebabkan Penelope Boston dan para koleganya datang berkali-kali ke Cueva de Villa Luz yang beracun, gua di dekat Tapijulapa di Meksiko. Di kedua tempat itu, para peneliti dapat menguji teknik-teknik baru untuk mencari kehidupan di lingkungan yang setidaknya agak mirip dengan yang mungkin ditemui oleh probe antariksa. Khususnya, mereka mencari ciri kehidupan—petunjuk visual atau kimiawi yang menandakan keberadaan kehidupan, dulu atau sekarang. Misalkan saja gua Meksiko itu. Pesawat anta­riksa yang mengorbit menunjukkan bahwa di Mars memang ada gua, dan di gua seperti itulah mikrob mungkin berlindung saat planet itu kehilangan atmosfer dan air permukaan, sekitar tiga miliar tahun yang lalu. Penghuni gua Mars seperti itu tentu harus hidup dari sumber energi selain sinar matahari—seperti cairan menetes yang begitu memukau Boston. Para ilmuwan menyebut tetes menjijikkan ini ‘snotit’. Salah satu di antara ribuan di gua, tetes-tetes snotit dengan panjang mulai satu sentimeter hingga setengah meter itu memang mirip sekali lendir. Padahal, tetes itu se­benarnya biofilm, suatu komunitas mikrob yang terikat dalam gumpal kental dan lengket. Boston menjelaskan, “Mikrob ini meng­oksidasi hidrogen sulfida—itu satu-satunya sumber energinya—dan menghasilkan lendir ini sebagai bagian gaya hidupnya.” Snotit ini baru satu contoh di antara sekian komunitas mikrob yang ada di sini. Boston ber­kata bahwa total ada belasan komunitas mikrob di gua itu. “Semua memiliki penampilan fisik yang sangat khas. Semua memanfaatkan sistem zat hara yang berbeda-beda.” Salah satu komunitas ini sangat menarik. Komunitas tersebut tidak membentuk tetes atau gumpal, tetapi membuat pola pada dinding gua, termasuk bintik, garis, dan bahkan jaringan garis. Para ahli astrobiologi kini menyebut pola-pola ini biovermikulasi, atau singkatnya bioverm, dari kata ‘vermiculation’, yang berarti ‘pola garis tak beraturan, yang seakan dibuat oleh jejak cacing’. Ternyata, pola seperti ini bukan hanya dibuat oleh mikroorganisme yang tumbuh di dinding gua. “Ini terjadi pada berbagai skala, biasanya di tempat yang kekurangan sumber daya ter­tentu,” kata Keith Schubert, insinyur Baylor University yang berspesialisasi dalam sistem pen­citraan, dan datang ke Cueva de Villa Luz untuk memasang kamera pemantau. Rumput dan pohon di daerah kering juga membentuk pola bioverm, kata Schubert. Demikian pula kerak tanah, yaitu komunitas bakteri, lumut, dan lumut kerak yang meliputi tanah di gurun pasir. Jika hipotesis ini terbukti, ilmuwan yang men­dokumentasikan bioverm mungkin telah me­nemukan sesuatu yang sangat penting. Hingga kini, sebagian besar tanda kehidupan yang dicari ahli astrobiologi adalah beberapa macam gas, seperti oksigen, yang biasa dilepaskan oleh organisme di Bumi. Namun, makhluk hidup yang menghasilkan ciri kehidupan berupa oksigen mungkin hanya satu jenis di antara sekian banyak. “Saya bersemangat soal bioverm,” kata Boston, “karena kita sudah melihatnya pada skala berbeda-beda, dan di berbagai macam lingkungan. Namun, ciri-ciri polanya sangat mirip.” Dia dan Schubert meyakini bahwa pola-pola ini, yang didasari oleh aturan sederhana pertumbuhan dan perebutan sumber daya, sangat mungkin merupakan ciri kehidupan uni­versal secara harfiah. Selain itu, di dalam gua, komunitas mikrob meninggalkan pola, bahkan setelah mati. Jika penjelajah melihat sesuatu seperti ini pada dinding gua Mars, kata Schubert, “pola itu dapat mengarahkan ke tempat yang layak diteliti.” Para ilmuwan dan insinyur yang menggigil di Danau Sukok sedang mengemban misi serupa. Mereka bekerja di dua lokasi di danau itu, satu di sebelah kumpulan tiga tenda kecil yang dijuluki para ilmuwan “Nasaville”, dan satu lagi, hanya satu tenda, berjarak lurus sekitar satu kilometer. Karena gelembung gas metana yang naik dari dasar danau mengaduk air, es sulit terbentuk di beberapa tempat. Untuk mengendarai mobil salju dari kemah ke kemah, ilmuwan harus meng­ambil jalur memutar agar tidak tercebur ke danau, yang bisa berakibat fatal. Metana-lah yang pertama memancing para ilmuwan datang ke Sukok dan danau-danau Alaska lain di dekatnya pada 2009. Gas hidrokarbon umum ini dihasilkan oleh mikrob—dinamai metanogen—yang mem­busuk­kan bahan organik, sehingga metana men­jadi satu lagi ciri kehidupan potensial yang dapat dicari ahli astrobiologi di dunia-dunia lain. Namun, metana juga dihasilkan oleh letus­an gunung berapi dan sumber nonbiologi lain, dan terbentuk secara alami di atmosfer planet raksasa seperti Yupiter maupun di bulan Saturnus, Titan. Jadi, sangat penting ilmuwan mampu membedakan metana biologis dan metana nonbiologis. Jika kita berfokus pada Europa yang diliputi es, seperti Kevin Hand, Danau Sukok yang kaya-metana dan diliputi es masih cukup memadai untuk diteliti. Hand lebih menyukai Europa daripada Mars sebagai tempat untuk mendalami astro­biologi. Misalkan kita jadi ke Mars, katanya, dan menemukan organisme hidup di bawah permukaan yang berbasis DNA, seperti ke­hidupan di Bumi. Itu bisa berarti bahwa DNA adalah molekul kehidupan universal, hal yang memang mungkin. Tetapi, itu juga bisa berarti bahwa kehidupan di Bumi dan kehidupan di Mars memiliki asal-usul yang sama. Kita sudah tahu pasti bahwa batu-batu yang terpecah dari permukaan Mars akibat ditabrak asteroid memang sampai ke Bumi. Batuan Bumi juga mungkin pernah sampai ke Mars. Jika di dalam batu yang melintasi antariksa itu ada mikrob hidup yang terperangkap lalu selamat dalam perjalanan, mikrob itu bisa saja mengawali kehidupan di planet mana pun yang dicapainya. “Jika kehidupan di Mars ternyata berbasis DNA,” kata Hand, “saya rasa kita akan bingung apakah asal-usul DNA itu sama atau tidak.” Tetapi, Europa terletak lebih jauh. Jika di sana ditemukan kehidupan, itu menyiratkan asal-usul lain yang terpisah—sekalipun ke­hidupan itu berbasis DNA. Europa memang sepertinya memiliki bahan-bahan dasar kehidupan. Air cair melimpah, dan di dasar lautnya juga mungkin ada cerobong hidro­termal, mirip dengan di Bumi, yang dapat memberi zat hara bagi kehidupan yang mungkin ada di sana. Di permukaan, Europa sekali-sekali ditabrak komet, yang menyisakan zat kimia organik yang juga dapat menjadi balok penyusun kehidupan. Partikel dari sabuk radiasi Yupiter menguraikan hidrogen dan oksigen pe­nyusun es, membentuk beragam molekul yang dapat digunakan organisme hidup untuk melakukan metabolisme zat hara dari cerobong. Pertanyaan besarnya adalah bagaimana zat kimia itu dapat menembus seluruh es, yang mungkin setebal 15-25 kilometer, sampai bawah. Namun, jelas bahwa es itu penuh retak-retak. Pada awal 2013, Hand dan astronom Caltech, Mike Brown, menggunakan teleskop Keck II untuk menunjukkan bahwa garam dari samudra Europa mungkin sedang menuju permukaan, barangkali melalui retak-retak tersebut. Dan pada akhir 2013, tim pengamat lain, yang menggunakan Teleskop Luar Angkasa Hubble, melaporkan adanya awan air cair menyembur dari kutub selatan Europa. Es Europa rupanya masih dapat ditembus. Ide mengirim wahana penelitian untuk mengorbit Europa pun terasa semakin memikat. Sayangnya, misi pengorbit yang dievaluasi oleh National Research Council dalam laporan 2011 dinilai layak, tetapi dengan biaya 53 triliun rupiah, terlalu mahal. Tim JPL yang dipimpin Robert Pappalardo terpaksa merombak desain misi itu. Probe Europa Clipper mereka akan mengorbit Yupiter saja, bukan Europa, yang mengurangi kebutuhan bahan bakar dan menghemat uang. Misi ini bisa lewat di dekat bulan itu sekitar 45 kali, untuk memahami kimia permukaan dan atmosfernya. Dan, secara tidak langsung, kimia lautnya. Total biaya misi desain ulang itu tidak sampai 23 triliun rupiah. Jika konsep misi ini disetujui, katanya, “kami memperkirakan peluncurannya kira-kira awal hingga pertengahan 2020-an.” Jika peluncuran itu dilakukan dari roket Atlas V, perjalanan ke Europa akan memakan waktu sekitar enam tahun. “Tapi mungkin juga,” katanya, “kami dapat meluncur dari Space Launch System, yang sedang dikembangkan NASA. Roketnya besar, dan dengan itu kami bisa sampai ke sana dalam 2,7 tahun.” Kemungkinan, Clipper tidak akan mampu menemukan kehidupan di Europa. Tetapi, ia mungkin bisa memberi bukti tentang perlunya pendarat lanjutan untuk menggali permukaan bulan itu, mempelajari kimiawinya. Clipper juga dapat mencari tempat pendaratan terbaik bagi pesawat pendarat. Langkah logis berikutnya setelah pendarat—yaitu mengirim probe untuk turun dan menjelajahi samudra Europa—mungkin jauh lebih sulit, tergantung pada ketebalan es. “Ketika penjelajah bawah laut itu kelak terwujud,” kata Hand, “dalam kerangka evolusi, ini ibarat Homo sapiens dibanding Australopithecus yang kami uji di Alaska.” Penjelajah relatif kasar yang diuji Hand dan kru di Danau Sukok merayap di bawah es 30 sentimeter, menekan sisi bawah permukaan beku itu berkat daya apung bawaannya. Sementara sensornya mengukur suhu, salinitas, pH, dan ciri-ciri air lain. Namun, penjelajah itu tidak mencari organisme secara langsung; itu tugas para ilmuwan yang menggarap aspek lain dalam proyek Hand di seberang danau, termasuk John Priscu dari Montana State University, yang tahun lalu mengambil bakteri hidup dari Danau Whillans, 800 meter di bawah lembar es Antartika Barat. Bersama ahli geobiologi Alison Murray, dan mahasiswa pascasarjana bimbingannya Paula Matheus-Carnevali, Priscu menyelidiki ciri-ciri apa yang diperlukan lingkungan dingin agar dapat menunjang kehidupan, dan jenis organisme apa yang memang hidup di situ. Meskipun bermanfaat untuk merenungkan sifat kehidupan di luar planet kita, penelitian tentang ekstremofil hanya menghasilkan petunjuk membumi untuk misteri luar angkasa. Namun, tak lama lagi akan muncul sarana lain untuk mengisi komponen-komponen kosong dalam persamaan Drake. NASA telah menyetujui teleskop pemburu-planet baru yang disebut Transiting Exoplanet Survey Satellite. Dijadwalkan untuk diluncurkan pada 2017, TESS akan mencari planet di sekitar bintang-bintang tetangga terdekat kita, sebagai target bagi para ahli astrofisika yang mencari gas ciri kehidupan dalam atmosfer planet. James Webb Space Telescope, yang dijadwalkan diluncurkan pada 2018, akan jauh mempermudah pencarian itu dibanding sekarang. Semua fokus pada ciri kehidupan dan eks­tremo­fil berasumsi bahwa kehidupan di dunia lain, seperti kehidupan di Bumi, disusun dari molekul-molekul kompleks yang menggunakan karbon sebagai unsur penting strukturnya—dan menggunakan air sebagai pelarut. Salah satu alasannya adalah karbon dan air melimpah di seluruh Bima Sakti. “Jika kita membatasi pencarian seperti ini, kita bisa gagal,” kata Sasselov. “Kita perlu ber­upaya memahami setidaknya beberapa alternatif dan seperti apa kira-kira ciri atmosfernya.” Jadi, kelompok Sasselov mencari biologi alternatif yang, misalnya, memiliki daur sulfur sebagai ganti daur karbon yang mendominasi biologi Bumi. Sementara itu, Frank Drake masih mencari sinyal dari luar Bumi. “Mencoba semua pendekatan adalah sikap yang bijak,” katanya, “karena kita tidak terlalu pandai menebak, apa sebenarnya yang dilakukan oleh makhluk luar angkasa.”
  15. Pertama, penting untuk memahami bahwa setiap bahasa hampir memiliki nama sendiri untuk planet ini. Misalnya disebut 'terra' dalam bahasa Portugis, 'dunya' dalam bahasa Turki, atau 'aarde' dalam bahasa Belanda. Namun, apa pun bahasanya, semua kata tersebut memiliki arti yang sama, yakni: tanah. Kita ambil contoh, bahasa Inggris modern menyebut planet kita dengan 'Earth' dan ini tentu ada kemiripan bunyi dengan 'aarde' dalam bahasa Belanda, atau 'Erde' dalam bahasa Jerman. Karena nenek moyang mereka berasal dari rumpun yang sama yakni Anglo-Saxon (Inggris-Jerman) maka semua kata itu mengartikan 'tanah'. Sekadar catatan, dalam bahasa Inggris lama, bumi disebut 'EOR (th) e' atau 'ertha'. Nah, bagaimana dengan Bahasa Indonesia, mengapa disebut 'bumi' ? Kata 'bumi' diambil dari bahasa Sanskerta: bumi atau bhumi, dan kata ini pun mengartikan: tanah. Fakta menarik Ada sedikit fakta menarik soal planet bumi. Seperti kita ketahui, semua nama planet di tata surya (Merkurius, Mars, Jupiter, dan selanjutnya) diberi nama sesuai mitologi Yunani. Setiap planet tersebut memiliki dewanya masing-masing. Mars adalah dewa perang, Jupiter adalah raja para dewa, ia juga menjadi dewa langit dan petir. Demikian seterusnya. Nah, bumi menjadi satu-satunya planet yang tidak mempunyai padanan dewa dalam mitologi tersebut. Alasannya adalah, penciptaan bumi memiliki kisah sendiri yang berhubungan dengan Gaia (goddes of earth - bunda bumi). Kembali ke asal-usul kata 'bumi' dalam bahasa kita, mungkin ada yang bertanya, "Bila bumi diambil dari bahasa Sanskrit, bagaimana dengan kata 'dunia', dari mana asalnya?" Untuk menjawabnya, coba perhatikan lagi paragraf awal maka kamu akan mengerti etimologi dari kata 'dunia'.
  16. Thales (624-547SM) Pada zaman ini seorang pilosof yunani bernama thales telah mengemukakan beberapa teorinya tentang bumi.Thales adalah seorang murid di salh satu Cos (Perguruan) di Babilonia.Menurut thales alam semesta terdiri atas beberapa kompenen inti yang menjadi dasar kehidupan makhluk di permukaan bumi.Kompenen tersebut berupa : air api bumi udara Dengan demikian ia berpendapat bahwa bumi merupakan benda alam semesta yang sudah ada dan merupakan penyusun alam semesta.Thales berpendapat bahwa bumi merupakan benda yang terapung di atas air.Pendapat ini dikeluarkan untuk menjelaskan bahwa gempa bumi diandaikan sebagai kapal yang terkena ombak sehingga oleng. Anaximander (585-528) Seorang filosof terkenal yang bertempat tinggal di lonia atau tepatnya di Miletus.Ionia terletak di semanjung asia kecil.Pada abad ke 6 dan 7 SM Ionia menjadi pusat kebudayaan pada zaman yunani.Pendapat Anaximander tidak berbeda jauh dengan Thales, meskipun Ia beranggapan bahwa unsur penyusun utama alam semesta yang terdiri atas beberapa komponen dasar.Dari 4 komponen tersebut mengadakan interaksi membentuk senyawa atau bentukkan lainnya: api air bumi udara ada beberapa factor lainnya yang sangat penting yaitu “Apeiron” yang berupa unsur alam lainnya berupa hal-hal yang saling bertentangan: panas – dingin basah – kering peranan dari apeiron adalah sebagai pengontrol dari keempat unsur penyusun alam semesta.Berdasarkan teorinya tersebut, maka ia berpendapat bahwa alam semesta terbentuk karena adanya pemampatan (kondensasi) sebagian dari udara. Setelah memampat diikuti oleh pendinginan dan terbentuklah bumi.Bumi yang terbentuk mirip dengan daun meja yang pipih dan didukung oleh udara, sehinga bumi dapat bergerak. Kepipihan bumi berfungsi sebagai untuk menahan diri agar dapat melayang. Phytagoras (abad ke 6) Phytagoras merupakan salah satu pemikir dan ahli matematika Yunani. Beberapa dalil-dalilnya yang sampai saat ini dipergunakan dalam ilmu ukur yang dikenal dengan rumus/dalil Phytagoras.Selama hidupnya ia mengembara hingga ke Asia dan Mesir. Pada tahun 550 SM ia menetap di Crotona (Italia) & kemudian mendirikan perguruan agama. Pengikutnya dikenal dengan sebutan Phytagorean.Pendapatnya tentang bumi, ia menyatakan bumi berbentuk bulat & berjalan diangkasa. Tetapi kebenaran tentang kebulatan bumi masih simpang siur.Hal ini belum ada kesepakatan & pembuktian-pembuktian secara ilmiah, mengingat kondisi budaya berpikir pada saat itu masih dibelenggu oleh ajaran agama tertentu. Demokritos (460-370) Pemikir ini lahir di Abdera sekitar Babilonia. Ia lebih terkenal dengan teori-teori atomnya. Atom dianggap sebagai substansi material yang memungkinkan terbentuk struktur & keberaturan alam semesta.Hubungan antara atom dengan terbentuknya alam semesta adalah erat, dimana atom-atom yang berbeda bentuk saling memisahkan diri dari masa yang tidak berbentuk & berkumpul disatu ruang kosong yang sangat luas.Di tempat kosong tersebut atom-atom berkumpul & membentuk suatu pusaran. Atom-atom berdesakan, dimana atom-atom cahaya menetap pada bagian luar, sedangkan atom lainnya membentuk rangkaian yang tidak terputus, berbentuk sabit & membentuk kulit luar. Inilah langit.Pada pusatnya terdapat benda-benda yang terbentuk disana & sekarang sudah mulai memisahkan diri dimana sebagian ada yang terbang keatas & berkedudukan pada kulit luar. Inilah yang disebut dengan benda langit.Semua benda tersebut bergerak mengelilingi massa sentral yaitu bumi yang telah terbentuk. Gerakannya disebabkan karena mengeringnya massa sentral ini & menguapnya air sehingga bumi & laut terpisah. Copernicus (1473-1543) Suatu pendapat baru tentang alam semesta dinyatakan oleh Copernicus yaitu HELIOSENTRIS. Teori ini menyatakan bahwa matahari merupakan pusat peredaran dari benda alam.Matahari merupakan pusat dari alam semesta & kedudukannya adalah tetap (stationer). Seluruk gerakan penampakannya hanya merupakan khayalan belaka dari gerakan bumi. Galilei Galileo ( 1564-1642) Galileo dilahirkan di Pisa, seperti halnya Copernicus ia memulai pendidikan tingginya di fakultas kedokteran. Tetapi pada perkembangan pemikirannya ia sangat menaruh perhatian yang cukup bersar pada bidang matematika.Akhirnya ia berhasil mendapatkan gelar gurubesar (professor) dalam bidang matematika dan astronomi (1598).Pemikiran Galileo tentang alam semesta sangat di pengaruhi oleh democritos. Ia berpendapat bahwa alam terrbentuk dari partikel atom dan bergerak bebas di alam raya.Materi-materi yang bebantuk atom itulah yang akhirnya menjadi penyusun alam termasuk bumi.Kemajuan yang dipelopori Galileo adalah dari hasil penelitiannya tentang benda alam dengan menggunakan teropong bintang. Dengan alat tersebut ia dapat mengamati secara jelas tentang benda-benda langit. Isaac Newton (1643-1723) Newton dilahirkan di sebuah tempat bernama woolsthrope, Lincolnshire, inggris Tepat setahun setelah meninggalnya Galileo dan seabad setelah meninggalnya Copernicus.Banyak hasil karya, penelitian dan pemikiran dalam bidang matematika, filsafat maupun ilmu fisika. Dalam kaitanya dengan teori pembentukan alam semesta, Newton barpendapat mirip dengan Galileo.Namun keunggulan dari teori Newton dapat membuktikannya dengan teori kosmologinya. Newton mampu menyelesaikan permassalahan tentang apakah yang memungkinkan sehingga alam semesta berkedudukan sebagai kosmos dan bukan sebagai khaos.Berdasarkan teori Newton tentang gaya gravitasi, maka ia dapat membuktikan suatu kekuatan tentang gaya yang mengatur pergerakan bumi, planet, dan benda lainya yang berputar pada porosnya atau orbiotalnya. Gaya yang bekerja tersebut berbanding terbalik dengan kuadrat dari jaraknya. Albert Einstein (1879-1955) Einstein dilahirkan di ulm, jerman pada tanggal 14 maret 1879. semasa kecilnya ia di kenal anak yang abnormal, karena hingga usia 9 tahun belum dapat berbicara dengan lancar dan nyentrik.Keragu-raguan akan bentuk bumi yang bulat menjadi sirna setelah colombus mengadakan perjalanan panjang, sehingga mereka kembali ke tempat semula (awal pemberangkatan).Untuk membahas tentang kejadian bumi tidak dapat di bahas secara sendiri, melainkan harus di kaitkan dengan filosofis tentang pembentukan/kejadian alam semesta. Suatu ilmu yang mempelajari tentang asal mula dari alam semesta disebut dengan kosmologi. Pembahasan masalah kosmologi tidak terlepas dengan pengertian tentang : 1. Ruang (space) 2. Waktu (time) 3. Gerak (motion) 4. Jarak bintang (magnitute) 5. Gaya (force) 6. Materi (matter) 7. Perubahan (change) 8. Interaksi (interaction) 9. Bilangan (number) 10. Kualitas (quality 11. Kausalitas (qausality) Banyak para pakaryang mengemukakan teori-teorinya tentang alam semesta yang membahas masalah alam semesta di tinjau dari 2 aspek : (1) alam semesta dilihat dari secara keseluruhannya (2) alam semesta dilihat dari unsure-unsurnya. Dari aspek keseluruhan, alam semesta dapat di bahas melalui aspek : asal mula alam semesta tertib alam semesta kesempurnaan alam semesta Dari aspek unsur-unsur alam semesta terbagi atas pokok bahasan : 1. benda mati atau dunia anorganik, mencakup : batuan tanah air 2. benda hidup atau dunia organik, mencakup : dunia tumbuh-tumbuhan dunia hewan dunia manusia Lapplace (1749-1827) Pada tahun 1796 seorang pakar astronomi dan matmatika dari suku bangsa prancis bernama Piere Simon Marquis de lapplace telah merumuskan suatu konsepsi tentang terbentuknya bumi dan jagat raya.Lapplace secara terus menerus mengembangkan konsepsi/pemikiran dari seorang pakar dari jerman bernama Imanuel Kant (1724-1804).Menurut Lapplace,asal mula bumi terbentuk dimulai dari adanya kabut berupa gas yang saling mendekati satu sama lainnya.Pada saat terjadinya suatu pusaran inti kabut.Pusaran semakin lama semakin cepat dank abut di sekitarnya tersedot dan ikut berputar sehingga putaran kabut semakin lama semakin cepat dan bola kabut semakin besar.Dengan kecepatan pusaran yang sangat cepat,menimbulkan gesekan antar massa kabut yang mengakibatkan timbulnya panas.Suhu semakin tinggi sesuai dengan semakin cepatnya gesekan antar massa kabut.Titik kulminasi suhu tersebut menimbulkan kabut tersebut berpijar (nabula) yang berputar secara gaya sentrifugal.Pada kondisi perputaran yang maksimum,sebagian nabula tidak kuat untuk bertahan sehingga terlontar dan terpisakan antara satu dengan lainnya.Pecahan-pecahan nabula itu berputar sendiri-sendiri dengan ukuran dan kecepatan yang berbeda.Pada kondisi suhu maksimum terjadi reaksi inti (nuklir),dimana unsure mengalami pembentukkan dari unsure sederhana menjadi unsure yang kompleks.Dengan menurunnya suhu,maka reaksi nuklir terhenti,maka terbentuklah susunan serta planet dan tata surya lainnya yang kita lihat sekarang ini.Berubahnya pola api dari panas ke dingin,diduga dimulai dari panas menjadi cair,proses ini diduga telah berjalan sekitar 4 milyar tahun yang lalu.Menurut konsep ini matahari dan bintang yang bercahaya merupakan sisa-sisa nabula yang belum padam.Bulan merupakan salah satu contoh pecahan nabula yang telah padam sekitar tahun yang lalu.
  17. Masa Arkeozoikum (4,5 – 2,5 milyar tahun lalu) Arkeozpoikum artinya Masa Kehidupan Purba, Masa Arkeozoikum (Arkean) merupakan masa awal pembentukan batuan kerak bumi yang kemudian berkembang menjadi protokontinen. Batuan masa ini ditemukan di beberapa bagian dunia yang lazim disebut kraton/perisai benua. Coba perhatikan, masa ini adalah masa pembentukan kerakbumi. Jadi kerakbumi terbentuk setelah pendinginan bagian tepi dari “balon bumi” (bakal calon bumi). Plate tectonic / Lempeng tektonik yang menyebabkan gempa itu terbentuk pada masa ini. Lingkungan hidup mas itu tentunya mirip dengan lingkungan disekitar mata-air panas. Batuan tertua tercatat berumur kira-kira 3.800.000.000 tahun. Masa ini juga merupakan awal terbentuknya Indrosfer dan Atmosfer serta awal muncul kehidupan primitif di dalam samudera berupa mikro-organisma (bakteri dan ganggang). Fosil tertua yang telah ditemukan adalah fosil Stromatolit dan Cyanobacteria dengan umur kira-kira 3.500.000.000 tahun. Masa Proterozoikum (2,5 milyar – 290 juta tahun lalu) Proterozoikum artinya masa kehidupan awal. Masa Proterozoikum merupakan awal terbentuknya hidrosfer dan atmosfer. Pada masa ini kehidupan mulai berkembang dari organisme bersel tunggal menjadi bersel banyak (enkaryotes dan prokaryotes). Enkaryotes ini akan menjadi tumbuhan dan prokaryotes nantinya akan menjadi binatang. Menjelang akhir masa ini organisme lebih kompleks, jenis invertebrata bertubuh lunak seperti ubur-ubur, cacing dan koral mulai muncul di laut-laut dangkal, yang bukti-buktinya dijumpai sebagai fosil sejati pertama. Masa Arkeozoikum dan Proterozoikum bersama-sama dikenal sebagai masa Pra-Kambrium. Zaman Kambrium (590-500 juta tahun lalu) Kambrium berasal dari kata “Cambria” nama latin untuk daerah Wales di Inggeris sana, dimana batuan berumur kambrium pertama kali dipelajari. Banyak hewan invertebrata mulai muncul pada zaman Kambrium. Hampir seluruh kehidupan berada di lautan. Hewan zaman ini mempunyai kerangka luar dan cangkang sebagai pelindung. Fosil yang umum dijumpai dan penyebarannya luas adalah, Alga, Cacing, Sepon, Koral, Moluska, Ekinodermata, Brakiopoda dan Artropoda (Trilobit). Sebuah daratan yang disebut Gondwana (sebelumnya pannotia) merupakan cikal bakal Antartika, Afrika, India, Australia, sebagian Asia dan Amerika Selatan. Sedangkan Eropa, Amerika Utara, dan Tanah Hijau masih berupa benua-benua kecil yang terpisah. Zaman Ordovisium (500 – 440 juta tahun lalu) Zaman Ordovisium dicirikan oleh munculnya ikan tanpa rahang (hewan bertulang belakang paling tua) dan beberapa hewan bertulang belakang yang muncul pertama kali seperti Tetrakoral, Graptolit, Ekinoid (Landak Laut), Asteroid (Bintang Laut), Krinoid (Lili Laut) dan Bryozona. Koral dan Alga berkembang membentuk karang, dimana trilobit dan Brakiopoda mencari mangsa. Graptolit dan Trilobit melimpah, sedangkan Ekinodermata dan Brakiopoda mulai menyebar. Meluapnya Samudra dari Zaman Es merupakan bagian peristiwa dari zaman ini. Gondwana dan benua-benua lainnya mulai menutup celah samudera yang berada di antaranya. Zaman Silur (440 – 410 juta tahun lalu) Zaman silur merupakan waktu peralihan kehidupan dari air ke darat. Tumbuhan darat mulai muncul pertama kalinya termasuk Pteridofita (tumbuhan paku). Sedangkan Kalajengking raksasa (Eurypterid) hidup berburu di dalam laut. Ikan berahang mulai muncul pada zaman ini dan banyak ikan mempunyai perisai tulang sebagai pelindung. Selama zaman Silur, deretan pegunungan mulai terbentuk melintasi Skandinavia, Skotlandia dan Pantai Amerika Utara Zaman Devon (410-360 juta tahun lalu) Zaman Devon merupakan zaman perkembangan besar-besaran jenis ikan dan tumbuhan darat. Ikan berahang dan ikan hiu semakin aktif sebagai pemangsa di dalam lautan. Serbuan ke daratan masih terus berlanjut selama zaman ini. Hewan Amfibi berkembang dan beranjak menuju daratan. Tumbuhan darat semakin umum dan muncul serangga untuk pertama kalinya. Samudera menyempit sementara, benua Gondwana menutupi Eropa, Amerika Utara dan Tanah Hijau (Green Land). Zaman Karbon (360 – 290 juta tahun lalu) Reptilia muncul pertama kalinya dan dapat meletakkan telurnya di luar air. Serangga raksasa muncul dan ampibi meningkat dalam jumlahnya. Pohon pertama muncul, jamur Klab, tumbuhan ferm dan paku ekor kuda tumbuh di rawa-rawa pembentuk batubara. Pada zaman ini benua-benua di muka bumi menyatu membentuk satu masa daratan yang disebut Pangea, mengalami perubahan lingkungan untuk berbagai bentuk kehidupan. Di belahan bumi utara, iklim tropis menghasilkan secara besar-besaran, rawa-rawa yang berisi dan sekarang tersimpan sebagai batubara. Zaman Perm (290 -250 juta tahun lalu) “Perm” adalah nama sebuah propinsi tua di dekat pegunungan Ural, Rusia. Reptilia meningkat dan serangga modern muncul, begitu juga tumbuhan konifer dan Grikgo primitif. Hewan Ampibi menjadi kurang begitu berperan. Zaman perm diakhiri dengan kepunahan micsa dalam skala besar, Tribolit, banyak koral dan ikan menjadi punah. Benua Pangea bergabung bersama dan bergerak sebagai satu massa daratan, Lapisan es menutup Amerika Selatan, Antartika, Australia dan Afrika, membendung air dan menurunkan muka air laut. Iklim yang kering dengan kondisi gurun pasir mulai terbentuk di bagian utara bumi. Zaman Trias (250-210 juta tahun lalu) Gastropoda dan Bivalvia meningkat jumlahnya, sementara amonit menjadi umum. Dinosaurus dan reptilia laut berukuran besar mulai muncul pertama kalinya selama zaman ini. Reptilia menyerupai mamalia pemakan daging yang disebut Cynodont mulai berkembang. Mamalia pertamapun mulai muncul saat ini. Dan ada banyak jenis reptilia yang hidup di air, termasuk penyu dan kura-kura. Tumbuhan sikada mirip palem berkembang dan Konifer menyebar. Benua Pangea bergerak ke utara dan gurun terbentuk. Lembaran es di bagian selatan mencair dan celah-celah mulai terbentuk di Pangea. Zaman Jura (210-140 juta tahun lalu) Pada zaman ini, Amonit dan Belemnit sangat umum. Reptilia meningkat jumlahnya. Dinosaurus menguasai daratan, Ichtiyosaurus berburu di dalam lautan dan Pterosaurus merajai angkasa. Banyak dinosaurus tumbuh dalam ukuran yang luar biasa. Burung sejati pertama (Archeopterya) berevolusi dan banyak jenis buaya berkembang. Tumbuhan Konifer menjadi umum, sementara Bennefit dan Sequola melimpah pada waktu ini. Pangea terpecah dimana Amerika Utara memisahkan diri dari Afrika sedangkan Amerika Selatan melepaskan diri dari Antartika dan Australia. zaman ini merupakan zaman yang paling menarik anak-anak setelah difilmkannya Jurrasic Park. Zaman Kapur (140-65 juta tahun lalu) Banyak dinosaurus raksasa dan reptilia terbang hidup pada zaman ini. Mamalia berari-ari muncul pertama kalinya. Pada akhir zaman ini Dinosaurus, Ichtiyosaurus, Pterosaurus, Plesiosaurus, Amonit dan Belemnit punah. Mamalia dan tumbuhan berbunga mulai berkembang menjadi banyak bentuk yang berlainan. Iklim sedang mulai muncul. India terlepas jauh dari Afrika menuju Asia. zaman ini adalah zaman akhir dari kehidupan biantang-binatang raksasa. Zaman Tersier (65 – 1,7 juta tahun lalu) Pada zaman tersier terjadi perkembangan jenis kehidupan seperti munculnya primata dan burung tak bergigi berukuran besar yang menyerupai burung unta, sedangkan fauna laut sepert ikan, moluska dan echinodermata sangat mirip dengan fauna laut yang hidup sekarang. Tumbuhan berbunga pada zaman Tersier terus berevolusi menghasilkan banyak variasi tumbuhan, seperti semak belukar, tumbuhan merambat dan rumput. Pada zaman Tersier – Kuarter, pemunculan dan kepunahan hewan dan tumbuhan saling berganti seiring dengan perubahan cuaca secara global Zaman Kuarter (1,7 juta tahun lalu – sekarang) Zaman Kuarter terdiri dari kala Plistosen dan Kala Holosen. Kala Plistosen mulai sekitar 1,8 juta tahun yang lalu dan berakhir pada 10.000 tahun yang lalu. Kemudian diikuti oleh Kala Holosen yang berlangsung sampai sekarang. Pada Kala Plistosen paling sedikit terjadi 5 kali jaman es (jaman glasial). Pada jaman glasial sebagian besar Eropa, Amerika utara dan Asia bagian utara ditutupi es, begitu pula Pegunungan Alpen, Pegunungan Cherpatia dan Pegunungan Himalaya Di antara 4 jaman es ini terdapat jaman Intra Glasial, dimana iklim bumi lebih hangat. Manusia purba jawa (Homo erectus yang dulu disebut Pithecanthropus erectus) muncul pada Kala Plistosen. Manusia Modern yang mempunyai peradaban baru muncul pada Kala Holosen. Flora dan fauna yang hidup pada Kala Plistosen sangat mirip dengan flora dan fauna yang hidup sekarang. Kesimpulan : Planet kita diperkirakan mulai terbentuk 4,5 miliar tahun yang lalu. Sejak itu penampilan aslinya hampir tidak pernah berubah. bumi ini cocok untuk menciptakan dan mengembangbiakkan bentuk kehidupan sejak pertama kali terbentuk. Tim peneliti barat menolak teori tentang bumi seluruhnya diselubungi samudera sebelum spesies laut pertama menginjak daratan. Sejarah bumi berdasarkan masa/zama terdiri dari: Masa Arkeozoikum (4,5 – 2,5 milyar tahun lalu) Masa Proterozoikum (2,5 milyar – 290 juta tahun lalu) Zaman Kambrium (590-500 juta tahun lalu) Zaman Ordovisium (500 – 440 juta tahun lalu) Zaman Silur (440 – 410 juta tahun lalu) Zaman Devon (410-360 juta tahun lalu) Zaman Karbon (360 – 290 juta tahun lalu) Zaman Perm (290 -250 juta tahun lalu) Zaman Trias (250-210 juta tahun lalu) Zaman Jura (210-140 juta tahun lalu) Zaman Kapur (140-65 juta tahun lalu) Zaman Tersier (65 – 1,7 juta tahun lalu)
  18. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan dengan basic ilmu pengetahuan yang dimiliki, mereka menyimpulkan bahwa Bumi masih dapat mendukung kehidupan untuk setidaknya 1,75 miliar tahun dari sekarang dengan syarat tidak ada kejadian-kejadian yang mengancam kehidupan itu sendiri seperti perang dunia, perang nuklir maupun intervensi dari obyek lain dari luar Bumi seperi asteroid, komet atau apapun yang bisa mengancam berlangsungnya kehidupan di Bumi. Hal itu disampaikan oleh tim ilmuwan yang dipimpin oleh, Andrew Rushby dari University of East Anglia, Inggris. Berdasarkan beberapa perkiraan tantang bagaimana kehidupan Bumi itu berakhir seperti yang diungkapkan oleh ilmuwan, dalam waktu 1,75 - 3,25 miliar tahun dari sekarang, Bumi akan berada dalam zona panas. Itu terjadi seiring dengan bertambah besarnya ukuran Matahari yang semakin tua dan membuat Bumi berjarak lebih dekat dengan Matahari. Zona panas tersebut akan membuat materi utama pendukung kehidupan seperti air akan menguap dan yang membuat peluang berlangsungnya kehidupan semakin tipis. Oleh sebab itu saat ini ilmuwan dan astronom fokus untuk mencari planet-planet terdekat dengan Bumi yang dimungkinkan bisa mendukung kehidupan. Sebagai solusi alternatif yang mudah dan cepat adalah planet Mars yang menurut para ilmuwan meskipun berada di sana akan terasa sangat sulit tapi bisa menjadi solusi paling cepat. Menurut mereka walaupun ketika itu Matahari sudah memasuki masa akhir dari kehidupannya dan menjadi bintang raksasa merah, posisi planet Mars masih berada dalam zona aman. Secara matematis, ilmuwan menghitung bahwa secara keseluruhan Bumi bisa mendukung kehidupan dalam waktu 7,79 miliar tahun dan usianya saat ini sudah 4,5 miliar tahun. Sel sederhana mulai muncul di Bumi 4 miliar tahun lalu, diikuti oleh serangga dalam 400 juta tahun lalu, dinosaurus 300 juta tahun lalu, dan tanaman berbunga 130 juta tahun lalu. "Model manusia modern sudah ada dalam 200 ribu tahun lalu sehingga dibutuhkan waktu yang lama bagia kehidupan cerdas untuk berkembang," ucap Andrew Rushby.
  19. Mempelajari partikel tersebut yang diaanggap merupakan hasil dari penguraian radioaktif dalam Bumi bisa membuat para ilmuwan lebih mengerti bagaimana aliran panas dalam planet kita mempengaruhi kejadian-kejadian di permukaan seperti gunung berapi dan gempa bumi. Partikel-partikel yang disebut geoneutrinos terbuat dari materi aneh bernama antimateri yang keadaannya terbalik dari materi biasa. Ketika partikel biasa seperti elektron bertemu antimaterinya yang disebut positron, keduanya saling menghilangkan diri dalam ledakan yang kuat. Geoneutrino merupakan antimateri dari neutrino yang sangat ringan, partikel yang terbentuk di dalam matahari ketika sinar kosmis mengenai atom normal. Penelitian terdahulu yang disebut KamLAND di Jepang menemukan tanda-tanda permulaan tentang kemungkinan geoneutrinos pada tahun 2005. Para peneliti di kolaborasi Borexino di Laboratorium Nasional Gran Sasso dari Institut Fisika Nuklir Italia menemukan geoneutrino dalam sebuah bola detektor yang berisi 1.000 ton hidrokarbon cair. Bola ini tertutup dalam sebuah bola baja lebih besar di mana susunan detektor foto yang sangat sensitif terfokus pada bagian dalam bola nilon. Kedua lapisan ditutup dengan bola baja berdiameter 13,7 m yang menahan 2.400 ton air murni. Seluruh eksperimen dikubur hampir 1,6 km di bawah permukaan gunung Gran Sasso di Italia. Semua pembentengan ini dilakukan untuk mencegah eksperimen mendeteksi partikel lain di luar neutrino dan geoneutrino. Partikel-partikel ini sangat sulit ditemukan karena mereka melewati hampir segalanya tanpa melakukan interaksi apa pun. Hampir setahun mencari geoneutrino, eksperimen tersebut hanya mendeteksi beberapa sinyal. Deteksi solar neutrino yang dalam pola berbeda lebih banyak. Para peneliti menguraikan hasil dua tahun penelitian mereka dalam sebuah paper yang dipublikasi di journal Physics Letters B edisi bulan April. "Ini merupakan hasil penting," kata rekan peneliti Frank Calaprice yang merupakan fisikawan di Universitas Princeton, New Jersey. "Ini menunjukkan bahwa geoneutrino telah dideteksi dan dengan jelas memperlihatkan alat baru untuk mempelajari bagian dalam Bumi." Geoneutrino diperkirakan terbentuk dari penguraian radioaktif uranium, torium dan potasium dalam kerak Bumi (lapisan terjauh) dan mantel (lapisan di bawahnya yang terbentang sampai 2.90 km di bawah permukaan). Para peneliti berharap bahwa dengan mempelajari geoneutrino, mereka bisa mengetahui lebih tentang bagaimana elemen-elemen sedang terurai menambah panas di bawah permukaan bumi dan mempengaruhi proses-proses seperti konveksi di mantel. Apakah penguraian radioaktif mendominasi pemanasan di lapisan ini atau hanya menambah panas dari sumber lain merupakan pertanyaan terbuka. Konveksi merupakan sebuah proses pencampuran yang dibawa oleh panas yang menekan aliran bebatuan panas dari dalam ke permukaan planet. Hal ini menggerakkan lempeng tektonik, mengubah benua, melebarkan dasar lautan, dan menyebabkan gunung api meletus dan gempa bumi mengguncang. Hasil dari penelitian baru menunjukkan bahwa aktifitas radioaktif dalam Bumi mungkin memberikan kontribusi pada pemanasan di mantel, kata Calaprice.
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy