Jump to content

kacau

Pengguna
  • Jumlah konten

    99
  • Bergabung

  • Terakhir berkunjung

  • Days Won

    1

kacau last won the day on Februari 12 2015

kacau had the most liked content!

5 Followers

Tentang kacau

  • Rank
    Magang
  • Ulang Tahun 08/03/1989

Informasi Profil

  • Jenis Kelamin
    Male
  • Minat
    teknologi

Pengunjung Profil Terakhir

8.946 profile views
  1. Menjelang tahun baru 2017, dunia makin terancam terorisme. Kematian-kematian tragis para gembong teroris seperti Osama bin Laden, Azahari, Noordin M Top, Santoso, Imam Samudera ternyata tidak menyurutkan kelompok-kelompok radikal Islam untuk menghentikan aksi terorismenya. Bahkan belakangan ini, gerakan mereka makin intensif dan mengancam kemanusiaan. Di Indonesia, Rabu 21 Desember 2916, Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri (Densus 88) mengepung sebuah rumah kontrakan di Kampung Curug, Kelurahan Babakan, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan, Banten. Di dalam rumah itu, terdapat tiga teroris yang sudah mempersiapkan bom. Dan polisi kemudian menembak mati ketiganya karena mereka melawan dan melemparkan bom ke arah petugas. Di hari yang sama, polisi juga menangkap tiga terduga teroris di tiga tempat berbeda. Di Kota Payakumbuh Sumbar, Densus 88 menangkap Hamzah yang telah menyiapkan bahan peledak. Lalu di Kabupaten Deli Serdang, Sumut, polisi menangkap Syafii, yang telah lama dipantau gerak-geriknya. Ketiga, di Batam, Densus menangkap Abisya, juga teroris yang lama diamati polisi. Menurut polisi, para teroris yang tewas dan ditangkap Rabu itu adalah anggota Jamaah Ansharud Daulah (JAD), organisasi sayap ISIS di Indonesia pimpinan Bahrun Naim, warga Solo, yang kini bermukim di Suriah. Sebelum tertangkap, mereka berencana akan menusuk polisi di hari pesta akhir tahun, kemudian ketika orang ramai menolong polisi, salah seorang di antara mereka akan meledakkan diri dengan bom. Dengan demikian, di samping polisi, korbannya makin banyak. Bagi kelompok teroris, makin banyak korbannya makin baik karena niatnya untuk mendirikan negara sesuai keinginan mereka makin mulus. Para korban tersebut dianggap orang-orang yang akan merintangi niatnya. Apakah tewasnya tiga teroris di Jawa dan tertangkapnya tiga teroris lain di Sumatera di atas akan bisa menghentikan terorisme di Indonesia? Fakta menunjukkan, aktivitas terorisme tampaknya tidakterganggu dengan penangkapan dan tewasnya mereka. Malah, mereka menyusun strategi baru lagi untuk melakukan aksi-aksi teror dengan modus baru. Di kawasan Eropa, kondisinya lebih parah lagi. Selasa 19 Desember 2016, seperti halnya di Indonesia, tiga teror melanda tiga negara dengan modusyang berbeda. Mungkin ini hanya kebetulan. Tapi ketiganya menunjukkan kepada kita bahwa terorisme tidak pernah mati dan teroris tidak kekurangan akal untuk mengacaukan tatanan dunia yang tidak sesuai keinginannya. Teror pertama adalah pembunuhan Dubes Rusia untuk Turki, Andrei Karlov oleh seorang polisi Turki, Mevlut Mert Altintas. Altintas diduga merupakan anggota jaringan terorisme di Turki. Karlov ditembak mati dalam jarak sangat dekat dari belakang oleh Altintas, ketika memberikan sambutan dalam suatu acara pameran foto bertema ”Rusia dari Pandangan Orang-orang Turki” di Gedung Cagdas Senat Merkezi, Ankara. Terbunuhnya Dubes Rusia ini menyentak para pemimpin internasional. Dunia cemas, kalau-kalau peristiwa tersebut akan memicu perang dunia seperti kasus terbunuhnya Pangeran Ferdinand, putra mahkota Kerajaan Austria oleh teroris Serbia, tahun 1914. Maklumlah, Turki dan Rusia selama ini hubungannya kurang akrab. Apalagi sebelum peristiwa penembakan Dubes Rusia ini, pada November 2015, Turki menembak jatuh pesawat tempur Su-24 Rusia yang dianggap melanggar kedaulatan udara Turki. Alhamdulillah, kedua pemimpin negara tersebut, Erdogan (PM Turki) dan Putin (Presiden Rusia) menyadari bahwa kasus penembakan Dubes Karlov itu ”didalangi” pihak ketiga yang ingin merusak hubungan Rusia-Turki yang baru saja pulih setelah kunjungan Erdogan ke Rusia, Agustus 2016 lalu. Teror kedua, serangan atau teror dengan menggunakan truk besar yang ditabrakkan ke kumpulan massa di sebuah pasar Natal, di Berlin, yang menewaskan 12 dan melukai lebih 50 orang. Serangan ini mirip teror di Kota Nice, Prancis, Juli lalu. Pengemudi diyakini sengaja menabrakkan truknya untuk membunuh orang sebanyak mungkin. Sopir truk itu diduga adalah Anis Amri, pengungsi dari Tunisia yang tidak diterima untuk menetap di Jerman. Surat kabar Jerman Die Welt melaporkan, pelaku diperkirakan datang ke Jerman pada 16 Februari 2016. Teror dan kekerasan ketiga terjadi di sebuah musala di Zurich, Swiss. Kali ini, seorang pria membabi buta menembak kaum muslim yang sedang salat. Kepolisian Zurich, masih mengumpulkan bukti-bukti. Belum dapat disimpulkan motif penembakan yang melukai tiga orang jamaah itu. Meski tidak ada hubungan ketiga aksi teror tersebut, benang merah radikalisme dan terorisme semakin mencemaskan dunia. Perbedaan ideologi dan aliran keagamaan yang mestinya menjadi ”alat untuk saling mengenal dan menghargai pihak lain” justru menjadi alat teror dan kebencian. Padahal, jika dikaji secara mendalam, jangankan aksi teror yang menewaskan banyak orang atau merusak kehidupan, menyakiti orang lain saja dilarang oleh agama manapun. Karena itu semua tokoh agama, baik di Indonesia maupun belahan bumi lainnya, harus bersama-sama membina umat dan mengembalikan kehidupan agama sesuai tujuan yang dikehendaki Allah. Yaitu, agama diturunkan ke bumi untuk kemaslahatan manusia. Dalam bahasa Islam, agama diturunkan untuk memperbaiki akhlak manusia. Aksi terorisme tampaknya sulit dihentikan jika ketimpangan di berbagai lini kehidupan masih terus terjadi. Sangat mungkin aksi-aksi itu dipicu oleh rasa tidak puas pada ketimpangan dan ketidakadilan di sekitar mereka, lalu ketidakpuasan itu diekspresikan melalui ”keyakinan agama mereka yang ekstrem”. Namun demikian, karena basis tindakan terorisme ini umumnya dari ajaran agama, maka peran kaum agamawan tetaplah sangat urgen, di samping, tentu saja peran aparat keamanan menjadi sangat penting. Mereka harus mampu mengendus setiap gerakan yang berpotensi mengancam keamanan masyarakat, baik dilihat dari aspek ideologis maupun aspek keamanan. Noor Huda Ismail, seorang pengamat terorisme, dalam penelitiannya menemukan bahwa para teroris itu umumnya adalah orang-orang yang hidup dalam keretakan rumah tangga; hidup dalam kemiskinan yang kronis; dan berada dalam asuhan yang salah. Intinya, kata Ismail, terorisme hanya tumbuh di masyarakat yang hidup dalam ketidakbahagiaan. Itulah sebabnya, Ismail, mencoba mencari solusi dengan mendirikan ”warung makan dan bistik” di Solo dan Semarang. Melalui Yayasan Prasasti Perdamaiannya, Ismail menjelaskan, para teroris dan calon teroris harus diajari bagaimana memberikan ”servis” kepada para tamu restorannya. Menyervis tamu resto adalah strategi pemasaran yang mengutamakan keramahan dan kepuasan pengunjung. Dari resto bistik inilah, kata Ismail, para mantan teroris belajar bersikap ramah dan memperhatikan keinginan orang lain. Dari metode ini, sedikit demi sedikit karakter radikal dan ekstrem seseorang akan terkikis. Apa yang dirintis Ismail, menurut kami ada benarnya. Apalagi bila dipadukan dengan ajaran-ajaran agama, khususnya yang berkaitan keharusan manusia untuk saling menghargai orang lain. Nabi Muhammad bersabda, sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling banyak manfaatnya untuk kehidupan orang lain. Terkait dengan persoalan di atas, ketika dunia kini cemas melihat perkembangan terorisme, mungkin perlu ada solusi alternatif. Yaitu, bagaimana dunia melalui PBB, kembali menata keadilan baik secara ekonomi maupun sosial, agar kekayaan dunia terdistribusi dengan adil dan merata. Dunia membutuhkan keadilan yang komprehensif sehingga dirasakan oleh seluruh umat manusia. Jika itu terjadi, niscaya terorisme akan berhenti dengan sendirinya.
  2. Jika Anda tahu lagu dari penyanyi Indonesia yang mendunia, Anggun, Anda pasti ingat judul lagunya “Snow on The Sahara” di tahun 90-an yang berarti “salju di sahara”. Judul lagu tersebut nampaknya jadi kenyataan, setelah Anda melihat fenomena salju turun di gunung pasir di Aljazair. Aïn Sefra, sebuah gurun di negara Afrika Utara ini terlihat seperti pintu gerbang surealis untuk musim dingin. Kota ini mengalami hujan salju singkat pada 19 Desember lalu, dan fotografer Karim Bouchetata menangkap fenomena tersebut dalam foto. Ini memang bukan kali pertama salju turun di gurun tersebut. Sebelumnya, salju secara signifikan pernah melapisi Gurun Aïn Sefra pada Februari 1979. Seperti dilaporkan CNN, kasus dulu terjadi setelah badai salju selama setengah jam. Setelah itu, debu salju rutin datang ke kota tersebut kira-kira setiap 10 tahun sekali. Suhu tertinggi di gurun selama musim kering rata-rata adalah 23 derajat Celsius per tahun, dan bisa turun sampai 12 derajat pada Desember. Sedangkan suhu musim panas bisa mencapai 43 derajat Celsius. Curah hujan sendiri rata-rata kurang dari tujuh inci per tahun. Gurun Aïn Sefra sendiri bisa menyajikan pemandangan yang luar biasa ketika Anda datang ke sana. Apalagi dengan turunnya lapisan salju tipis yang membuatnya lebih dramatis.
  3. udah gede kok ngompol. wkwkwkwk
  4. kacau

    Siapa yang ga ssetuju AHOK dipenjara?

    GUE AKAN MATI BUAT AHOK !!!
  5. Kacau, real banget

     

  6. kacau

    Kisah Mbah Gotho Pria Tertua Di Dunia

    Semoga makin dewasa mbaah
  7. kacau

    Teori Bumi Datar (Flat Earth Theory)

    parah sampeeek segitunya, kita kan sama sama manusia, knp gak boleh tau segalanya?? toh sama sama makan nasi kan?
  8. kacau

    Kemeriahan Konser Peabo Bryson

    Lumayan lah suaranya
  9. akhir akhir ini kacau, banyak yng mati gara gara jantungan

  10. Facebook Paper, aplikasi akses akun Facebook dengan tampilan yang sangat manis dan bebas iklan ini kabarnya akan segera ditutup. Informasi ini diberikan kepada para pengguna Paper melalui sebuah pemberitahuan ketika membuka aplikasi. Kini Paper sudah tidak tersedia di App Store dan layanannya akan diakhiri mulai tanggal 29 Juli 2016. Facebook tetap akan membawa semangat dan ciri khas Paper ke app Facebook for iOS untuk seterusnya. Mereka juga menjelaskan bahwa beberapa fitur di Facebook for iOS adalah buatan dari tim Paper. Salah satunya adalah Instant Articles, mode membaca cepat sebuah tautan dari webstie lain tanpa membuka in-app browser di Facebook.
  11. kacau

    Update Spotify Ditolak Sama Apple

    Spotify kabarnya murka terhadap Apple karena menolak update versi terbaru dari aplikasinya diApp Store. Pihak Spotify juga sudah mengirimkan surat kepada tim badan hukum Apple dan membagikan salinannya kepada staf Kongres di Washington DC. Dalam surat tersebut dijelaskan bahwa Spotify mengalami kerugian sangat serius. Masalah yang terjadi sebetulnya cukup kompleks. Yaitu dalam update terbaru yang gagal rilis, Spotify ingin para penggunanya untuk memilih berlangganan Spotify Premium lewat pendaftaran web – diluar fitur in-app purchase. Cara yang dilakukan adalah membuat promosi dengan akses tombol cepat untuk melakukan pendaftaran. Tidak hanya itu, kabarnya mereka juga ingin menghilangkan tombol berlangganan Spotify Premium yang menghubungkan fitur ini ke in-app purchase di App Store. Wajar rasanya jika Apple menjadi geram dan menyebutkan bahwa business model yang dilakukan Spotify sudah menyalahi aturan. Jawaban tersebut yang diberikan oleh Apple, pada informasi penolakan aplikasi Spotify terbaru di App Store. Sementara beberapa pihak lain meyakini bahwa Apple takut kehilangan pelanggan Apple Music. Bagi kamu yang belum tahu, Apple mematok pembagian hasil 30% dari setiap belanja in-app purchase. Ini membuat Spotify harus memberikan harga berlangganan $12.99 perbulan jika kamu memilih berlangganan lewat App Store – sedangkan jika membayar lewat web Spotify hanya $9.99. Keberanian Spotify untuk terus mengkritisi masalah ini sebetulnya sudah berlangsung cukup lama, yaitu sejak Apple merilis layanan pesaing – Apple Music.
×

Important Information

Kami menggunakan cookie. Mereka tidak menakutkan, tetapi beberapa orang berpikir mereka. Terms of Use & Kebijakan Privasi