Jump to content

kacau

Member
  • Content Count

    100
  • Joined

  • Last visited

  • Days Won

    1

kacau last won the day on February 12 2015

kacau had the most liked content!

5 Followers

About kacau

  • Rank
    Magang
  • Birthday 03/08/1989

Profile Information

  • Gender
    Male
  • Interest
    teknologi

Recent Profile Visitors

9,271 profile views
  1. Joko Widodo dan Ma'ruf Amin resmi terpilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden pada periode 2019-2024 dalam Pilpres 2019. Setelah pemilihan umum dan berbagai sidang yang menegangkan, kini perhatian masyarakat terfokus pada calon menteri baru dalam kabinet pemerintah 2019-2024. Masyarakat penasaran siapa saja menteri yang akan membantu Presiden dan Wakil Presiden terpilih di masa depan. Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku tidak akan membedakan latar belakang profesional atau partai politik dalam menyusun kabinet pemerintah 2019-2024. "Kabinet diisi oleh orang ahli di bidangnya,” kata Presiden Jokowi. “Jangan sampai dibeda-bedakan ini dari profesional dan ini dari (partai) politik, jangan seperti itulah, karena banyak juga politisi yang profesional.” Bicara soal menteri, siapa sih yang tidak mau dipanggil dengan julukan ”Pak atau Bu Menteri”? Mungkin kita semua mau. Walau tugasnya berat, namun jika bicara soal fasilitas dan tanggungan yang diberikan negara kepada para menteri dan pejabat tinggi negara, ibaratnya ”dari rumah sampai keluar rumah” semuanya sudah tersedia. Gaji pokok menteri Diawali dengan gaji pokok ditambah tunjangan istri dan anak bersih sebulan sekitar Rp19 juta. Adapun gaji pokok dan tunjangan pejabat tinggi negara, termasuk Presiden dan Wapres, Rp45-Rp 60 juta sebulan. Di luar gaji, seorang masih mendapat tunjangan kelebihan jam kerja senilai Rp7,5 juta. Artinya, gaji yang diterima sesuai slip tak selalu sama dengan pendapatannya selama sebulan. Gaji menteri dan pejabat tinggi negara tentu cukup besar jika dibandingkan dengan gaji terendah pegawai negeri sipil (PNS) golongan IA dengan masa kerja nol tahun pada tahun ini yang ditetapkan sebesar Rp1,040 juta per bulan. Bahkan, juga dengan gaji tertinggi PNS golongan IVE yang tercatat sebesar Rp 3,4 juta per bulan. Padahal, gaji menteri Rp19 juta itu juga belum termasuk honor-honor lain apabila si menteri menjadi anggota lembaga lain atau anggota komisi atau badan lain di luar tugas utamanya. Kalau ia tercatat menjadi anggota komisi atau badan atau komisaris sebuah BUMN, minimal ia bisa mengantongi honor dari Rp 1 juta hingga Rp 25 juta lagi. Bisa pakai DOM Untuk melancarkan tugas dan tanggung jawabnya sehari-hari, si menteri masih bisa memanfaatkan dana taktis yang nomenklatur (penamaan)-nya di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disebut Dana Operasional Menteri (DOM). Dana ini jumlahnya berbeda-beda setiap menteri atau kementerian atau pejabat tinggi negara, bergantung pada beban tanggung jawabnya. Ada yang menerima Rp100 juta, tetapi ada juga yang menerima Rp 150 juta. ”Setiap menteri memiliki pembebanan tugas dan tanggung jawab yang berbeda-beda,” kata seorang mantan menteri yang enggan disebutkan namanya, Kamis (29/10/2009). Menurut dia, seperti Menteri Keuangan dan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas mengantongi DOM sebesar Rp150 juta sebulan. Paskah Suzetta, mantan Menneg PPN/Kepala Bappenas membenarkan bahwa ia menerima DOM Rp150 juta. ”Akan tetapi, yang saya pakai hanya 10-20 persen saja. Itu pun untuk pembelian tiket ke daerah ataupun ke luar negeri, bayar polisi untuk pembuka jalan dan lainnya.” “Tetapi, itu semua ada kuitansi sebagai bukti pemakaian,” ungkap Paskah. Itu urusan gaji dan tunjangan serta dana taktis sang menteri. Untuk urusan pelayanan, si menteri juga mendapat ”pelayanan” seorang ajudan yang melekat 24 jam per hari bilamana diperlukan. Ajudan akan siap melayani menteri, mulai dari siap siaga di depan pintu ruang kerja menteri sampai dengan duduk di kursi depan mobil dinas menteri. Sebuah Toyota Camry seharga Rp350 juta, berikut seorang sopir, akan menemani menteri ke mana pun pergi. Ia juga tidak perlu merogoh kantongnya untuk bahan bakar, uang perawatan mobil, dan karcis tol. ”Kalau menteri mau pakai sirene yang ngiung ngiung dan pengawalan, menteri bisa saja meminta bantuan polisi.” “Otomatis DOM-nya akan banyak terpakai karena dananya dari situ,” ujar Paskah, yang menolak menggunakan sirene dan mobil pembuka atau kendaraan bermotor karena risi. ”Hilang” rumah Sebagai menteri yang berasal dari partai politik seperti dirinya, Paskah mengaku harus mengeluarkan dana ekstra yang berasal dari kantong pribadinya. ”Sebagai menteri parpol, kita harus siap mengeluarkan dana apabila ada permintaan sumbangan dari para konstituen di daerah.” “Juga untuk bantuan-bantuan sosial lainnya jika ada proposal. Kalau ditotal, pengeluaran saya cukup besar selama menjadi menteri. Minimal, saya kehilangan satu rumah,” katanya. Mantan Menteri Kehutanan MS Kaban justru mempertanyakan ukuran enaknya menjadi menteri atau pejabat. ”Fasilitas rumah menteri? Lihatlah, rumahnya sudah tua dan lingkungannya juga tidak nyaman lagi. Mobil dinas? Saya kira biasa saja,” tandas Kaban. ”Kalau gaji Rp 19 juta, memang sudah tahu. Akan tetapi, mau main proyek tidak mungkin." "Orang sekarang takut dengan penyadapan. Padahal, permintaan sumbangan luar biasa jumlahnya.” “Sementara beban pekerjaan itu sangat tinggi sekali,” papar Kaban. ”Nombok” Mantan Menneg Pemberdayaan Perempuan Meutia Farida Hatta membenarkan besaran gaji yang diterima menteri setiap bulan sebesar Rp19 juta. Namun, gaji menteri itu sudah lama tidak naik. Sesuai slip gaji, dalam dua tahun gaji itu hanya naik Rp10.000. ”Padahal, sering kali saya mengeluarkan dana yang lebih dari gaji yang diterima. Jumlahnya bisa mencapai Rp10 juta hingga Rp20 juta,” kata Meutia. Setiap kali kunjungan ke daerah, Meutia menghabiskan dana sekitar Rp4 juta untuk bantuan kepada masyarakat. Itu tidak termasuk dana program departemen. Menurut Meutia, sejumlah menteri lain pun pernah mengungkapkan keluhan serupa. Namun, ia tak mempermasalahkan bila harus mengambil uang pribadi karena menjadi menteri adalah sebuah amanah. Seorang menteri di bidang ekonomi disebut-sebut juga mengaku ”kehilangan” tak hanya rumahnya, tetapi juga sebidang tanah dan mobil mewahnya untuk menopang operasionalisasi jabatan menterinya. Inilah sisi tidak mengenakkan untuk menjadi seorang menteri. ”Kalau menteri ingin lebih terhormat dan bergaya, memang semakin besar kocek yang harus ia keluarkan,” ungkap Paskah. Mantan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie, yang akrab disapa Ical, saat ditanya Kompas terus terang mengaku terpaksa menjual sejumlah saham perusahaannya untuk menomboki pengeluaran yang diakuinya sangat besar sekali sebagai menteri senior. ”Jabatan sebagai menko itu hanya untuk berbakti dan terus terang tidak enak. Karena dari segi dana, lebih banyak kekurangan daripada kelebihannya.” “Kalau untuk berbakti kepada negara, tentu enak-enak saja menjadi menteri. Itu sebuah kehormatan,” ujar Ical. Ical menambahkan, ”Menjadi menteri tidak bisa untuk mencari rezeki. Malah uang pribadi yang banyak terpakai. Punya saham terpaksa juga dijual untuk menomboki karena kalau tidak begitu, tidak cukup.” ”Mengapa nombok?” “Misalnya, kalau kita harus cepat sampai ke tempat tujuan seperti Papua, ya terpaksa pakai uang pribadi. Ini yang tidak enak kalau menjadi menteri,” ujar Ical terkekeh. Ical disebut-sebut acap kali menggunakan pesawat pribadinya untuk menjalankan tugas negara ke tempat-tempat yang jauh di pelosok. Terkait itu, ia setuju jika gaji menteri dinaikkan. ”Itu terserah pada hasil kerja. Orang tidak bisa diukur dari jumlah yang diterimanya, tetapi dari hasil kerjanya. Apakah itu kerjanya cukup besar dan setara dengan gaji yang diterimanya.” “Dalam alam reformasi ini, kerja menteri memang bertambah, tetapi juga harus disertai dengan kenaikan gajinya,” papar Ical. Nah, itulah ulasan mengenai enak dan tidak enaknya menjadi menteri. Jika Anda ditawari menjadi menteri, apakah Anda siap menanggung semua risikonya?
  2. Menjelang tahun baru 2017, dunia makin terancam terorisme. Kematian-kematian tragis para gembong teroris seperti Osama bin Laden, Azahari, Noordin M Top, Santoso, Imam Samudera ternyata tidak menyurutkan kelompok-kelompok radikal Islam untuk menghentikan aksi terorismenya. Bahkan belakangan ini, gerakan mereka makin intensif dan mengancam kemanusiaan. Di Indonesia, Rabu 21 Desember 2916, Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri (Densus 88) mengepung sebuah rumah kontrakan di Kampung Curug, Kelurahan Babakan, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan, Banten. Di dalam rumah itu, terdapat tiga teroris yang sudah mempersiapkan bom. Dan polisi kemudian menembak mati ketiganya karena mereka melawan dan melemparkan bom ke arah petugas. Di hari yang sama, polisi juga menangkap tiga terduga teroris di tiga tempat berbeda. Di Kota Payakumbuh Sumbar, Densus 88 menangkap Hamzah yang telah menyiapkan bahan peledak. Lalu di Kabupaten Deli Serdang, Sumut, polisi menangkap Syafii, yang telah lama dipantau gerak-geriknya. Ketiga, di Batam, Densus menangkap Abisya, juga teroris yang lama diamati polisi. Menurut polisi, para teroris yang tewas dan ditangkap Rabu itu adalah anggota Jamaah Ansharud Daulah (JAD), organisasi sayap ISIS di Indonesia pimpinan Bahrun Naim, warga Solo, yang kini bermukim di Suriah. Sebelum tertangkap, mereka berencana akan menusuk polisi di hari pesta akhir tahun, kemudian ketika orang ramai menolong polisi, salah seorang di antara mereka akan meledakkan diri dengan bom. Dengan demikian, di samping polisi, korbannya makin banyak. Bagi kelompok teroris, makin banyak korbannya makin baik karena niatnya untuk mendirikan negara sesuai keinginan mereka makin mulus. Para korban tersebut dianggap orang-orang yang akan merintangi niatnya. Apakah tewasnya tiga teroris di Jawa dan tertangkapnya tiga teroris lain di Sumatera di atas akan bisa menghentikan terorisme di Indonesia? Fakta menunjukkan, aktivitas terorisme tampaknya tidakterganggu dengan penangkapan dan tewasnya mereka. Malah, mereka menyusun strategi baru lagi untuk melakukan aksi-aksi teror dengan modus baru. Di kawasan Eropa, kondisinya lebih parah lagi. Selasa 19 Desember 2016, seperti halnya di Indonesia, tiga teror melanda tiga negara dengan modusyang berbeda. Mungkin ini hanya kebetulan. Tapi ketiganya menunjukkan kepada kita bahwa terorisme tidak pernah mati dan teroris tidak kekurangan akal untuk mengacaukan tatanan dunia yang tidak sesuai keinginannya. Teror pertama adalah pembunuhan Dubes Rusia untuk Turki, Andrei Karlov oleh seorang polisi Turki, Mevlut Mert Altintas. Altintas diduga merupakan anggota jaringan terorisme di Turki. Karlov ditembak mati dalam jarak sangat dekat dari belakang oleh Altintas, ketika memberikan sambutan dalam suatu acara pameran foto bertema ”Rusia dari Pandangan Orang-orang Turki” di Gedung Cagdas Senat Merkezi, Ankara. Terbunuhnya Dubes Rusia ini menyentak para pemimpin internasional. Dunia cemas, kalau-kalau peristiwa tersebut akan memicu perang dunia seperti kasus terbunuhnya Pangeran Ferdinand, putra mahkota Kerajaan Austria oleh teroris Serbia, tahun 1914. Maklumlah, Turki dan Rusia selama ini hubungannya kurang akrab. Apalagi sebelum peristiwa penembakan Dubes Rusia ini, pada November 2015, Turki menembak jatuh pesawat tempur Su-24 Rusia yang dianggap melanggar kedaulatan udara Turki. Alhamdulillah, kedua pemimpin negara tersebut, Erdogan (PM Turki) dan Putin (Presiden Rusia) menyadari bahwa kasus penembakan Dubes Karlov itu ”didalangi” pihak ketiga yang ingin merusak hubungan Rusia-Turki yang baru saja pulih setelah kunjungan Erdogan ke Rusia, Agustus 2016 lalu. Teror kedua, serangan atau teror dengan menggunakan truk besar yang ditabrakkan ke kumpulan massa di sebuah pasar Natal, di Berlin, yang menewaskan 12 dan melukai lebih 50 orang. Serangan ini mirip teror di Kota Nice, Prancis, Juli lalu. Pengemudi diyakini sengaja menabrakkan truknya untuk membunuh orang sebanyak mungkin. Sopir truk itu diduga adalah Anis Amri, pengungsi dari Tunisia yang tidak diterima untuk menetap di Jerman. Surat kabar Jerman Die Welt melaporkan, pelaku diperkirakan datang ke Jerman pada 16 Februari 2016. Teror dan kekerasan ketiga terjadi di sebuah musala di Zurich, Swiss. Kali ini, seorang pria membabi buta menembak kaum muslim yang sedang salat. Kepolisian Zurich, masih mengumpulkan bukti-bukti. Belum dapat disimpulkan motif penembakan yang melukai tiga orang jamaah itu. Meski tidak ada hubungan ketiga aksi teror tersebut, benang merah radikalisme dan terorisme semakin mencemaskan dunia. Perbedaan ideologi dan aliran keagamaan yang mestinya menjadi ”alat untuk saling mengenal dan menghargai pihak lain” justru menjadi alat teror dan kebencian. Padahal, jika dikaji secara mendalam, jangankan aksi teror yang menewaskan banyak orang atau merusak kehidupan, menyakiti orang lain saja dilarang oleh agama manapun. Karena itu semua tokoh agama, baik di Indonesia maupun belahan bumi lainnya, harus bersama-sama membina umat dan mengembalikan kehidupan agama sesuai tujuan yang dikehendaki Allah. Yaitu, agama diturunkan ke bumi untuk kemaslahatan manusia. Dalam bahasa Islam, agama diturunkan untuk memperbaiki akhlak manusia. Aksi terorisme tampaknya sulit dihentikan jika ketimpangan di berbagai lini kehidupan masih terus terjadi. Sangat mungkin aksi-aksi itu dipicu oleh rasa tidak puas pada ketimpangan dan ketidakadilan di sekitar mereka, lalu ketidakpuasan itu diekspresikan melalui ”keyakinan agama mereka yang ekstrem”. Namun demikian, karena basis tindakan terorisme ini umumnya dari ajaran agama, maka peran kaum agamawan tetaplah sangat urgen, di samping, tentu saja peran aparat keamanan menjadi sangat penting. Mereka harus mampu mengendus setiap gerakan yang berpotensi mengancam keamanan masyarakat, baik dilihat dari aspek ideologis maupun aspek keamanan. Noor Huda Ismail, seorang pengamat terorisme, dalam penelitiannya menemukan bahwa para teroris itu umumnya adalah orang-orang yang hidup dalam keretakan rumah tangga; hidup dalam kemiskinan yang kronis; dan berada dalam asuhan yang salah. Intinya, kata Ismail, terorisme hanya tumbuh di masyarakat yang hidup dalam ketidakbahagiaan. Itulah sebabnya, Ismail, mencoba mencari solusi dengan mendirikan ”warung makan dan bistik” di Solo dan Semarang. Melalui Yayasan Prasasti Perdamaiannya, Ismail menjelaskan, para teroris dan calon teroris harus diajari bagaimana memberikan ”servis” kepada para tamu restorannya. Menyervis tamu resto adalah strategi pemasaran yang mengutamakan keramahan dan kepuasan pengunjung. Dari resto bistik inilah, kata Ismail, para mantan teroris belajar bersikap ramah dan memperhatikan keinginan orang lain. Dari metode ini, sedikit demi sedikit karakter radikal dan ekstrem seseorang akan terkikis. Apa yang dirintis Ismail, menurut kami ada benarnya. Apalagi bila dipadukan dengan ajaran-ajaran agama, khususnya yang berkaitan keharusan manusia untuk saling menghargai orang lain. Nabi Muhammad bersabda, sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling banyak manfaatnya untuk kehidupan orang lain. Terkait dengan persoalan di atas, ketika dunia kini cemas melihat perkembangan terorisme, mungkin perlu ada solusi alternatif. Yaitu, bagaimana dunia melalui PBB, kembali menata keadilan baik secara ekonomi maupun sosial, agar kekayaan dunia terdistribusi dengan adil dan merata. Dunia membutuhkan keadilan yang komprehensif sehingga dirasakan oleh seluruh umat manusia. Jika itu terjadi, niscaya terorisme akan berhenti dengan sendirinya.
  3. Jika Anda tahu lagu dari penyanyi Indonesia yang mendunia, Anggun, Anda pasti ingat judul lagunya “Snow on The Sahara” di tahun 90-an yang berarti “salju di sahara”. Judul lagu tersebut nampaknya jadi kenyataan, setelah Anda melihat fenomena salju turun di gunung pasir di Aljazair. Aïn Sefra, sebuah gurun di negara Afrika Utara ini terlihat seperti pintu gerbang surealis untuk musim dingin. Kota ini mengalami hujan salju singkat pada 19 Desember lalu, dan fotografer Karim Bouchetata menangkap fenomena tersebut dalam foto. Ini memang bukan kali pertama salju turun di gurun tersebut. Sebelumnya, salju secara signifikan pernah melapisi Gurun Aïn Sefra pada Februari 1979. Seperti dilaporkan CNN, kasus dulu terjadi setelah badai salju selama setengah jam. Setelah itu, debu salju rutin datang ke kota tersebut kira-kira setiap 10 tahun sekali. Suhu tertinggi di gurun selama musim kering rata-rata adalah 23 derajat Celsius per tahun, dan bisa turun sampai 12 derajat pada Desember. Sedangkan suhu musim panas bisa mencapai 43 derajat Celsius. Curah hujan sendiri rata-rata kurang dari tujuh inci per tahun. Gurun Aïn Sefra sendiri bisa menyajikan pemandangan yang luar biasa ketika Anda datang ke sana. Apalagi dengan turunnya lapisan salju tipis yang membuatnya lebih dramatis.
  4. udah gede kok ngompol. wkwkwkwk
  5. Kacau, real banget

     

  6. parah sampeeek segitunya, kita kan sama sama manusia, knp gak boleh tau segalanya?? toh sama sama makan nasi kan?
  7. akhir akhir ini kacau, banyak yng mati gara gara jantungan

  8. Facebook Paper, aplikasi akses akun Facebook dengan tampilan yang sangat manis dan bebas iklan ini kabarnya akan segera ditutup. Informasi ini diberikan kepada para pengguna Paper melalui sebuah pemberitahuan ketika membuka aplikasi. Kini Paper sudah tidak tersedia di App Store dan layanannya akan diakhiri mulai tanggal 29 Juli 2016. Facebook tetap akan membawa semangat dan ciri khas Paper ke app Facebook for iOS untuk seterusnya. Mereka juga menjelaskan bahwa beberapa fitur di Facebook for iOS adalah buatan dari tim Paper. Salah satunya adalah Instant Articles, mode membaca cepat sebuah tautan dari webstie lain tanpa membuka in-app browser di Facebook.

About Ngobas

Ngobas is All-in-One website that can be use by everyone for free to find friends and exchange information. The name Ngobas is derived from the abbreviation, which is Ngomong Bebas Originally Sedap, meaning that it is appropriate to speak according to the ethics of socializing.

CEO’s Greeting

I realize that information and communication are the main things in life. Ngobas is the right platform for that. We will always be connected wherever we are and that is the purpose Ngobas was built.

- Samuel Berrit Olam

×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy