Jump to content

Informastion

Member
  • Content Count

    9
  • Joined

  • Last visited

  • Days Won

    2

Informastion last won the day on March 14

Informastion had the most liked content!

3 Followers

About Informastion

  • Rank
    Magang
  • Birthday 04/17/1991

Profile Information

  • Gender
    Male

Recent Profile Visitors

1,611 profile views
  1. Ada kisah menggetarkan hati dari sosok yang tak asing di mata publik. Ahmad Sahroni, politisi Partai Nasdem yang kini duduk di kursi DPR RI blak-blakan tentang masa lalunya. Siapa sangka Ahmad Sahroni memiliki pengalaman kelam, yang tak pernah terlupakan. Ia mencurahkan pengakuannya di depan Hotman Paris, dalam program televisi Hotman Paris Show. Ahmad Sahroni harus menikmati masa mudanya untuk mencari uang jajan sendiri. Mulai dari usia remaja hingga 24 tahun, ia menjadi tukang cuci kuali dan tukang sepir sepatu. Ahmad Sahroni bahkan mempraktekan cara menyemir sepatu di depan pengacara kondang, Hotman Paris. Ketika mengenang masa lalunya itu, Ahmad Sahroni bahkan mengaku dulu dihina keluarga besarnya. Ia dan orangtuanya kerap disebut maling oleh saudara mereka sendiri. "Dibilang maling jam tangan, dan lain-lain. Pokoknya keluarga saya tercela," ujarnya. Namun, ia dan orangtuanya tak pernah merasa dendam dan tetap bersahaja. Hotman Paris spontan menyebut itu adalah kisah yang menyedihkan. Ia merasa tak menyangka, nasib Ahmad Sahroni yang sangat terpuruk, kini berubah menjadi seorang pengusaha kaya raya. Ahmad Sahroni merupakan pemilik perusahaan yang memiliki kapal tongkang pengangkut BBM. Kini, ia bahkan dikenal sebagai pengoleksi mobil dan jam tangan mewah. Hal inilah yang menggelitik Hotman Paris atas perubahan hidup bintang tamunya itu. "Kemudian nasibmu berubah bagaimana?" tanya Hotman Paris. Ahmad Sahroni menyebut empat hal yang diyakini membuat dirinya sukses. "Berpikir positif, usaha dan doa, jangan pernah menyerah, dan sayangilah seorang ibu yang melahirkan kita," jawab Ahmad Sahroni. Ucapannya pun mengundang apresiasi dari host dan penonton. Namun, Hotman Paris tampak belum puas atas jawaban Ahmad Sahroni. Ia kembali penasaran dan mengorek perubahan nasibnya secara nyata. "Secara riilnya bisa loncat ke bisnis apa makanya bisa booming, dapet undian atau apa?" tannya Hotman Paris. Ahmad Sahroni pun menjelaskan perjalanan hidupnya menuju kesuksesan. Awalnya, ia bekerja sebagai sopir dari sebuah perusahaan yang berkaitan terhadap bahan bakar minyak. Sehari-hari ia bekerja sebagai sopir orang nomor satu di perusahaan itu. Selain itu, ia pun menjadi sopir adik ipar dari bosnya. Entah apa yang terjadi, hingga kini Ahmad Sahroni masih tak mengerti. "Kalau saya ceirta ini tidak pernah ada percaya yang telah terjadi pada saya," tuturnya. Bak sebuah keajaiban, seorang sopir justru bernasib jungkir balik menjadi pemilik perusahaan. Ia dilimpahi aset perusahaan yang hingga kini ia jalankan. "Wow...," ucap Hotman Paris spontan. Ia menujukan rasa takjub, tapi seolah tak percaya atas pengalaman Ahmad Sahroni. "Saya nggak pernah tahu, tapi selama apa yang saya lakukan sebagai sopir, bos saya yang nggak pernah bawa mobil dan saya bawa mobil, dia perintah sana dan sini, secara ototidak saya mendengar melalui kuping saya," jelasnya. "Ini yang namanya magang," kata Hotman seraya menyilangkan tangannya. "Jadi mungkin Bang Hotman nggak percaya, tapi itu terjadi pada saya," tutur Ahmad Sahroni memandang Hotman Paris. "Benar," ujar Hotman Paris sambil menganggukan kepala. Percaya atau tidak, itu memang nyata. Walaupun dulu hidupnya susah, berkat kerja keras dan kesabarannya, kini Ahmad Sahroni dikenal tajir melintir. Penampilannya yang duku kusut, kini berubah menjadi trendi. Semoga menginspirasi Anda ndral!
  2. Beberapa waktu lalu seorang ibu muda, Prita Mulyasari namanya, menjadi buah bibir karena perkaranya yang unik. Suatu hari ia menulis surat elektronik (surel) kepada beberapa temannya, mengeluhkan perlakuan rumah sakit Omni International terhadap dirinya. Mungkin karena prihatin mendengar cerita itu, beberapa orang meneruskan surel itu ke berbagai milis dan dalam waktu singkat menyebar tanpa kendali. Pihak rumah sakit merasa dirugikan dan membawa Prita ke pengadilan. Perempuan muda itu sempat ditahan di LP Wanita Tangerang sampai akhirnya ‘ditemukan’ oleh media yang membuat kasusnya terangkat ke permukaan. Persis seperti surel yang mengawali perkara ini, berita tentang dirinya dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru. Di jejaring sosial facebook beberapa pengguna membuat laman khusus untuk berkampanye dan menggalang dukungan baginya. Gayung bersambut. Dalam waktu singkat ribuan orang memberikan simpati dan dukungan. Mobilisasi di dunia maya berefek di dunia nyata. Di mana-mana orang mulai mengumpulkan koin yang akan dipakai untuk membayar denda jika akhirnya Prita dinyatakan bersalah oleh pengadilan. Di puncak drama pengadilan akhirnya menyatakan Prita tidak bersalah dan dibebaskan dari tuntutan. Kasus ini memicu diskusi hangat. Prita bukan satu-satunya orang yang mengalami ketidakadilan, tentu saja. Banyak yang lain, dan malah lebih buruk. Tapi mobilisasi melalui jaringan Internet inilah yang dianggap baru. Pertanyaan besarnya, apakah media baru dan jejaring sosial seperti facebook adalah obat mujarab baru yang bisa memicu perlawanan terhadap ketidakadilan? Sebagian menilai gerakan itu berhasil menggalang kepedulian dan membuat orang bergerak walau ‘sebatas’ mengumpulkan koin. Ide mengumpulkan koin juga cemerlang karena ratusan ribu koin itu adalah representasi dari kekuatan rakyat kecil yang besar. Tapi ada juga pendapat bahwa gerakan ini gagal justru karena tidak melawan, tapi menghindari, ketidakadilan. Koin yang dikumpulkan itu akan dipakai untuk membayar denda yang ditetapkan pengadilan, dan karena itu bisa ditafsirkan sebagai pengakuan bahwa apa yang dilakukan oleh Prita itu salah. Apalagi jika melihat dukungan yang tadinya masif langsung menguap setelah ada keputusan pengadilan, padahal masih banyak orang senasib yang tidak terurus. Dunia kembali seperti semula lengkap dengan segala ketidakadilan yang pernah membawa Prita ke penjara. Bagi saya kedua kubu yang berbeda pendapat ini ada benarnya, tapi mungkin terlalu cepat mengambil kesimpulan. Ada beberapa hal dalam kasus Prita ini yang menuntut perhatian lebih cermat. Mobilisasi dukungan yang begitu luas tidak mungkin terjadi di masa Orde Baru, bukan karena represi dan kontrol yang ketat terhadap media, tapi karena teknologi media memang belum memungkinkan penyebaran informasi yang begitu cepat dan efektif. Dalam kasus Prita kita sebenarnya menyaksikan kekuatan dari teknologi media baru – khususnya Web 2.0 – yang memungkinkan interaksi media mainstream dengan jejaring sosial. Berita di media cetak dan elektronik yang pertama membuat perkara ini menjadi publik menyebar melalui jejaring sosial dan memicu perlawanan. Dukungan pun mengalir. Kegiatan dalam jejaring sosial ini kemudian menjadi bahan berita bagi media mainstream dan begitu seterusnya. Dan semua itu berlangsung dalam waktu sangat singkat dan boleh dibilang bersifat spontan. Gerakan ini praktis anonymous dan tanpa tokoh, walaupun banyak elite politik yang berebut menungganginya. Kecuali sejumlah teman dekat atau keluarga saya kira tidak ada lagi yang ingat siapa yang pertama menulis berita tentang Prita ketika mendekam di tahanan. Tidak ada juga yang ingat siapa inisiator yang pertama membuka laman dukungan untuk Prita di facebook. Tentu ini tidak dengan sendirinya berarti hadirnya sesuatu yang lebih baik. Tapi yang jelas pemandangan baru dalam gerakan sosial menuntut pemahaman yang berbeda pula. Cara pandang lama yang menganggap teknologi media semata-mata sebagai alat luhu yang bisa digunakan sekehendak pemiliknya tidak banyak gunanya di sini dan pasti akan muncul dengan pertanyaan usang: apakah jaringan Internet dan jejaring sosial bisa membawa perubahan sosial? Padahal jelas bahwa teknologi media sekarang jelas membawa perubahan dalam masyarakat, seperti halnya teknologi cetak membawa perubahan di tanah jajahan seratus tahun lalu. Soalnya karena itu bukan apakah ada perubahan atau tidak, tapi perubahan ke arah mana? Dari perspektif gerakan sosial hal yang paling penting adalah bagaimana berbagai elemen media baru itu berinteraksi dan memberi jalan bagi munculnya gerakan. Hanya dengan begitu kita bisa lebih produktif memikirkan strategi gerakan sosial yang menjadi fokus utama dari tulisan ini. Revolusi Digital, Ruang dan Waktu Saat TVRI menyiarkan serial Star Trek pada awal 1970-an orang mungkin tidak membayangkan bahwa masa depan yang mereka lihat di layar televisi itu akan datang begitu cepat. Saat ini orang sudah bisa bicara ‘tatap layar’ dengan ponsel atau komputer persis seperti Kapten Kirk saat berkomunikasi dengan Mr Spock dari ruang kendali USS Enterprise. Di Indonesia komunikasi berbasis komputer mulai digunakan publik sekitar pertengahan 1990an saat Kapten Kirk sudah pensiun. Ada beberapa perusahaan dan lembaga yang menyediakan akses ke jaringan Internet dengan pengguna beberapa ribu orang saja. Angka ini kemudian berlipat ganda dengan cepat karena meluasnya layanan dengan adanya berbagai kemungkinan akses mulai dari modem personal, televisi kabel sampai teknologi seluler. Sepanjang dekade pertama abad ini berulangkali terjadi ledakan penggunaan Internet karena perkembangan teknologi. Saat ini diperkirakan ada lebih dari 31 juta pengguna, dan angka ini akan mencapai 94 juta pada 2015.[1] Jika angka ini dihadapkan pada piramida sosial maka bisa dipastikan bahwa akses Internet di Indonesia sudah tumpah ke bawah, tidak lagi terbatas pada kalangan menengah atas saja. Untuk memahami lanskap digital pemisahan sosial yang penting bukan hanya kelas tapi juga usia. Enda Nasution dalam sebuah diskusi baru-baru ini mengklaim bahwa 70% pengguna Internet di Indonesia berusia 35 tahun ke bawah.[2] Artinya ini adalah generasi yang dibesarkan pada era 1980an dan 1990an dan mengenal komputer serta Internet sejak anak-anak atau remaja, dengan pengalaman komunikasi yang sangat berbeda dari orang tua mereka. Jika orang tua mereka baru mengenal televisi saat remaja, atau bahkan dewasa, dan itupun hanya melalui TVRI, maka generasi ini tumbuh bersama layar televisi atau monitor komputer, dengan puluhan saluran. Subyektivitas yang terbentuk dalam jejaring media seperti itu tentu akan berbeda pula. Cara orang melihat dunia pun berubah dengan bertambahnya kemungkinan dalam skala yang nyaris tak terhingga. Di atas kertas tidak ada belahan dunia yang belum atau tidak tersentuh. Jika tidak secara fisik maka pasti akan mungkin dengan perantaraan media. Teknologi membuat semua sudut di dunia seolah transparan, termasuk ruang-ruang yang semula aman terlindung seperti pulau terpencil atau kamar tidur. Pengertian mengenai jarak juga mengalami perubahan drastis. Pada awal abad lalu seorang penulis Hungaria, Frigyes Karinthy, merumuskan teori six degrees of separation yang mengatakan bahwa orang di dunia ini hanya dipisahkan oleh enam orang/langkah saja. Misalnya hubungan antara A, seorang pemuda kampung di Morowali dengan H, seorang penari striptease di Los Angeles. A bertetangga dengan B, yang adalah adik ipar C, seorang perwira militer. C adalah bawahan dari D yang bertugas sebagai atase militer di Washington. Ia akrab dengan E, perwira penghubung dari Pentagon yang masih saudara tiri dari F, pemilik restoran tempat H biasa sarapan setelah semalam suntuk menari di klab malam. Di abad sekarang jarak itu menjadi makin singkat. Ekspansi jaringan telekomunikasi praktis menutupi hampir seluruh wilayah dunia yang berpenghuni padat dan memperkecil jarak antara mereka yang punya akses dan tidak punya akses pada layanan komunikasi digital. Dalam jejaring sosial seperti twitter dan facebook jarak rata-rata orang adalah empat langkah saja, karena – meminjam contoh rekaan di atas – B akhirnya berteman dengan D di facebook, dan E berkencan dengan H setelah diperkenalkan oleh F melalui twitter. Tetapi soal jarak ini juga ada kecenderungan sebaliknya. Di facebook saya menemukan tagline menarik: mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Semakin sering kita melihat pasangan atau kumpulan orang yang duduk mengelilingi meja makan tapi sibuk dengan ponsel masing-masing. Di rumah pun para penghuni akan sibuk dengan komputer atau ponsel tanpa sempat berkomunikasi dengan pantas seperti halnya duapuluh atau tigapuluh tahun sebelumnya. Banyak status di facebook sekarang ini mengumumkan kerinduan akan tempat-tempat yang jauh dan betapa menyenangkannya berada di tempat lain. Komputer atau ponsel menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari sehingga pemisahan ketat antara dunia maya dan dunia nyata sudah semestinya dipertanyakan kembali. Semakin sering kita menjumpai pengendara sepeda motor yang sibuk dengan ponselnya saat berhenti di lampu merah. Beberapa yang super-trampil bahkan melakukannya sambil mengendai sepeda motor dengan helm separuh terangkat. Anak remaja yang dipaksa ikut orang tuanya menghadiri pesta yang membosankan tidak lagi merengek karena sibuk dengan game atau lawan chat di ponselnya. Displacement massal ini menunjukkan bahwa teknologi media punya pengaruh penting terhadap pola hubungan sosial. Komunikasi di jaringan Internet bukan sesuatu yang abstrak di luar sana, tapi merupakan bagian integral dari dunia nyata. Konsepsi dan perilaku terhadap waktu juga berubah drastis. Teknologi digital membuat arus informasi mengalir semakin cepat. Portal berita seperti detik.com menyajikan bermacam informasi secara beruntun yang jika diikuti terus bisa menyedot perhatian seseorang sepanjang hari tanpa jeda sedikit pun. Di Indonesia ada belasan portal berita sejenis, belum terhitung puluhan situs lain yang lebih ambisius dalam hal kedalaman daripada kecepatan. Jika ditambah dengan portal berita internasional, surel yang kita terima, pesan dan bermacam fitur di facebook, twitter dan pesan pendek melalui ponsel, yang kita peroleh ada ledakan informasi. Jika di masa lalu orang mengeluhkan kurangnya informasi maka sekarang kita justru mengalami kelimpahan informasi dan kurangnya waktu untuk mengorganisasi dan mencerna informasi. Waktu sepertinya tidak lagi membentuk bentang yang jelas tapi dipotong-potong dalam unit yang semakin kecil. Tidak ada yang mencerminkan kecenderungan ini lebih baik dari industri pop, terutama saluran MTV. Hampir seluruh tayangan di saluran ini berupa potongan (clips) yang non-linear dengan beragam images yang silih-berganti tanpa koherensi makna. Perhatian kita terarah pada momen yang indah dan bukan keutuhan narasi. Pola ini juga menular ke industri berita yang cenderung mengabaikan koherensi dan kedalaman karena fokus pada kecepatan. Para pekerja media berlomba menjadi yang pertama dan bukan yang utama. Thomas Eriksen menyebut situasi ini sebagai tyranny of the moment, di mana segala sesuatu terancam berubah menjadi rangkaian momen, tanpa sebelum dan sesudah, tanpa sana dan sini, untuk membedakan satu dari yang lain. Di dunia digital pergeseran ini ditandai dengan munculnya Web 2.0 yang menjadikan jejaring (web) Internet sebagai platform. Jejaring ini tidak dibentuk dari satu sumber tunggal tapi sebaliknya mengandalkan keterlibatan orang banyak. Pengguna menjadi produsen informasi sekaligus yang dapat menentukan isi dan bentuk dari informasi yang beredar. Di facebook atau twitter orang bisa menyebarkan link pada informasi tertentu dengan komentar yang mengarahkan. Dalam hitungan detik orang ramai bisa memberikan komentar dan ikut membentuk makna. Informasi tidak lagi disiarkan dari satu sumber ke penerima tapi sudah berinteraksi sedemikian rupa dengan variasi yang jauh dari maksud aslinya. Dengan sedikit kecermatan dan kerajinan tangan kita bisa memilah dan mengkombinasi beberapa potongan informasi menjadi bongkahan informasi baru dengan tafsir dan sudut pandang baru. Keragaman pengolahan informasi menjadi begitu tinggi sehingga praktis tidak ada yang bisa menduga arahnya. Pada akhirnya berita asli tidak lagi penting dan hanya menjadi satu dari banyak elemen yang terlibat dalam proses pembentukan makna. Hirarki sosial dan ikatan komunitas untuk sementara diabaikan karena pertukaran berlangsung terbuka antara semua pihak yang hadir. Ada semacam kekacauan yang produktif karena wacana tidak dibentuk berdasarkan ketaatan tapi melalui pertarungan yang terbuka. Hal ini yang membuat banyak orang menganggap kebudayaan digital ini adalah platform paling tepat bagi demokrasi. Sepintas ada benarnya. Hirarki sosial sepertinya tertunda, setiap orang punya ruang dan kesempatan yang sama, dan yang paling penting selalu ada ruang bagi subversi, menggoyahkan yang mapan. Dan tidak sedikit orang yang menggunakan kesempatan semacam itu seperti serangan bertubi di jejaring twitter terhadap Tifatul Sembiring di sekitar ‘insiden salam tangan’ dengan Michelle Obama saat yang terakhir berkunjung ke Indonesia. Tetapi jika diperhatikan lebih saksama klaim bahwa suasana seperti itu ideal bagi demokrasi juga berlebihan. Kita memang bisa merasakan kehadiran demos dengan sangat, tapi unsur kratos sebaliknya sangat samar. Justru sebaliknya kita seperti melihat runtuhnya kratos dalam pengertian tradisional sebagai kekuasaan yang terhimpun. Pertukaran informasi yang begitu cepat tidak hanya mengguncang grand narrative tapi menghalangi pembentukan narasi yang langgeng. Kebudayaan digital tidak hanya menantang hal-hal yang terlalu lama dianggap mapan tapi justru kemapanan itu sendiri. Subversi dan disruption dimungkinkan setiap saat dari landasan bicara yang sama. Hasilnya bukanlah kesimpulan atau pendapat yang solid melainkan himpunan pendapat yang tidak selalu koheren. Jejaring twitter misalnya, sesuai namanya, adalah forum berkicau dan bukan platform untuk menghimpun sebuah orkestra. Saya sering terkesima mengikuti banjir komentar di jejaring itu: kontroversi politik ditingkahi celetukan cabul, berita gempa atau kultwit tentang pasar bebas atau penodaan agama. Belum lagi satu masalah selesai dibicarakan sudah datang yang lain sehingga lebih banyak hal yang terlewat.[4] Kesan setara dan demokratis dari kebudayaan digital ini lebih jauh ditantang oleh konsentasi kepemilikan dan kontrol. Semua ruas tulang punggung pertukaran informasi ini masih dikuasai oleh beberapa perusahaan besar yang mengeruk keuntungan besar pula. Sering tidak disadari bahwa di balik jejaring sosial yang terlihat partisipatoris dan demokratis ada mesin hitung yang bekerja super cepat menghitung gerak jutaan ujung jari di seluruh dunia. Pengguna jejaring sosial adalah konsumen sekaligus produk. Setiap akses ke jejaring sosial dihitung sebagai kesempatan promosi seperti halnya pembaca suratkabar atau penonton televisi dijual kepada pemasang iklan sebagai pasar potensial. Sebagai konsumen para pengguna menikmati berbagai fasilitas dalam jejaring sosial seperti memuat berita, memasang foto, membentuk berbagai group dan sub-jaringan, semuanya tanpa bayaran. Secara tidak sadar para pengguna ini melakukan kerja sukarela membuat jejaring itu semakin menarik dan dengan begitu terus menyedot pengguna baru yang pada gilirannya akan melakukan hal yang sama. Saat panen tiba massa pengguna ini dengan semua informasi yang mereka tampilkan menjadi komoditi yang ditawarkan oleh para pemilik jejaring sosial ini kepada klien targeted advertising. Semua informasi yang secara sukarela diberikan para pengguna jejaring sosial, mulai dari data sederhana mengenai diri, selera musik dan film, preferensi seksual dan pilihan warna, menjadi komoditi yang sangat berharga dan membuat orang seperti Mark Zuckerberg, pemilik jejaring sosial facebook, bisa menjadi milyarder dalam hitungan bulan. Hubungan teknologi informasi dan politik tidak bersifat deterministik. Teknologi digital memang mempermudah dan memperluas akses sehingga punya potensi demokratik yang jauh lebih besar dari teknologi cetak. Siapa saja bisa berbicara, kapan saja. Tapi di sisi lain teknologi yang sama juga membatasi dan mungkin menimbulkan hirarki baru. Cukup jelas bahwa lanskap digital sekarang ini dikuasai oleh kalangan menengah berusia muda, karena ruas-ruas tulang punggung industri elektronik memang diarahkan kepada mereka. Dan itu adalah keputusan politik yang dibuat tidak lain oleh beberapa perusahaan multinasional raksasa. Tidak ada demokrasi di sana, yang berlaku adalah aritmetika bisnis. Informasi digital karena itu bisa bermuara pada demokrasi dan kesetaraan, tapi bisa juga sebaliknya. Platform baru seperti Web 2.0 memberikan banyak peluang dan kesempatan berpolitik baru tapi sekaligus membatasi. Gerakan Sosial dan Politik Digital Jika diperhatikan ada irisan menarik antara perkembangan teknologi dan sejarah politik di Indonesia. Penggunaan Internet mulai meluas pertengahan 1990an. Pada saat yang sama rezim Soeharto mulai limbung akibat krisis ekonomi dan politik yang terjadi berbarengan. Dan irisan ini tercipta tentu bukan karena kebetulan belaka. Jaringan Internet sejak awal berfungsi sebagai penyalur informasi alternatif yang di masa akhir kekuasaan Soeharto coba dijaga ketat dengan sensor, penutupan media dan pembungkaman jurnalis. Teknologi milis melahirkan forum diskusi seperti mediacare dan Forum Pembaca Kompas yang meramaikan penyebaran informasi dengan diskusi interaktif. Pemikiran yang dihambat seperti mendapat saluran di sini dan tidak dapat disangkal bahwa jaringan Internet adalah situs produksi pikiran kritis yang penting. Di dalam milis orang bisa mengangkat dan mengutarakan pikiran yang paling subversi dan cabul secara politik tanpa resiko yang mungkin diderita seandainya diucapkan dalam pertemuan tatap muka. Walau sering diejek dan direndahkan sebagai ‘tempat buang ludah’, teknologi milis ini mengubah komunikasi sosial secara drastis. Hal yang semula tidak mungkin dikatakan sekarang menjadi hal biasa. Bermacam tabu sosial, budaya dan politik – yang sangat besar pengaruhnya di Indonesia – dipecah seperti tukang batu membobol tembok. Penelitian mendalam harus dibuat untuk memahami transformasi kesadaran dan subyektivitas akibat perkembangan ini, tapi saya kira cukup aman untuk mengatakan bahwa generasi yang lahir dan besar bersama teknologi ini lebih terbuka dan merdeka dalam berpikir dari generasi sebelumnya. Setelah Orde Baru jatuh banyak perubahan yang terjadi. Kekuatan dan pemain baru mulai bermunculan di pentas. Mereka yang semula dimusuhi Orde Baru kini relatif bebas berkumpul, mengutarakan pendapat dan bahkan ikut pemilihan umum. Banyak lembaga negara mengalami perubahan fungsi dan wewenang. Lembaga kepresidenan misalnya, terutama di masa Gus Dur, tidak lagi sangar dan tertutup. Militer walau tidak mundur sepenuhnya dari politik tidak lagi berperan sebagai kesatuan seperti dulu karena kesetiaan pun terbelah-belah mengikuti proses desentralisasi. Pemerintah daerah yang semula hanya perpanjangan tangan pemerintah pusat kini punya suara dan warna tersendiri. Tentu ini tidak berarti segalanya menjadi lebih baik. Praktek korupsi yang semula terpusat dan terpimpin, sekarang semakin menyebar dan liar. Di tengah krisis ekonomi orang berlomba menduduki jabatan penting karena birokrasi negara menjadi situs akumulasi kekayaan yang utama. Korupsi makin menggila. Kepentingan bisnis dan politik tumpang-tindih, ganas menunggangi peristiwa politik apapun, atau lebih tepatnya menjadikan apapun juga sebagai peristiwa politik, mulai dari kedatangan artis porno Miyabi sampai ledakan Merapi. Jika semula gerak politik cenderung menanggapi ritme rezim Soeharto maka sekarang gerak itu berpencar ke segala arah melahirkan ritme-ritme baru yang tidak selalu padu. Perluasan media elektronik, jaringan Internet dan teknologi digital membuat berbagai ritme ini semakin sulit dirangkai. Semua hal bisa menjadi sama penting. Informasi seperti berdesakan menuntut perhatian dan waktu yang semakin terbatas. Di masa sekarang perjuangan untuk demokrasi dan keadilan sosial bukan hanya bertarung dengan sensor atau politik yang anti-demokrasi dan anti-keadilan sosial, tapi terutama dengan ketidakpedulian dan pengalihan. Dalam studi terhadap sekitar seribu forum diskusi di Internet yang beranggotakan lebih dari empat ratus ribu orang, terlihat bahwa mayoritas anggota menggunakan berbagai forum itu untuk keperluan silaturahmi keluarga dan teman, disusul dengan keilmuan (terutama teknologi komputer) dan bisnis. Politik berada di urutan terendah dikalahkan oleh pornografi, agama dan hobi.[5] Saat ini mungkin online gaming yang berkembang sejak pertengahan 2000an sudah ikut menduduki peringkat atas. Di tengah perubahan ini gerakan sosial sepertinya justru meredup. Di mana-mana orang mengeluh soal tidak adanya fokus kerja, lemahnya dukungan publik dan juga keterbatasan daya tahan organisasi dan para penggeraknya. Gerakan mahasiswa yang sempat merajai jalan-jalan raya saat kekuasaan berpindah tangan kini sudah menguap. Sebagian pemimpinnya masuk jalur politik formal sebagai anggota DPR, pejabat pemerintah, mengikuti jejak angkatan sebelumnya. Sebagian lain memilih bekerja sebagai ‘tenaga profesional’ dengan sedikit perhatian dan komitmen pada gerakan sosial. Gerakan buruh dan petani datang silih-berganti seiring dengan pasang-surut advokasi di sekitar keluhan mereka. Berbagai sektor masyarakat lain seperti pedagang kaki lima, guru sekolah, pegawai negeri, bahkan polisi terlibat berbagai aksi protes yang biasanya berumur pendek dan tidak berlanjut menjadi gerakan. Menghadapi semua ini ada dua tanggapan yang muncul. Pertama, upaya pengkhususan dengan membentuk lembaga-lembaga baru yang sangat spesifik cakupan dan tujuan kerjanya, dan (dibayangkan) terhubung satu sama lain melalui jaringan, dan kedua, konsistensi pada strategi membangun basis massa dari daerah sampai pusat (dengan imajinasi Fordist). Sebagian membayangkan adanya intervensi langsung melalui lobbying, advokasi dan kontrak politik, sebagian lain melihat satu-satunya jalan adalah dengan menguasai lembaga negara yang menghasilkan dan melaksanakan kebijakan. Dengan kata lain, berpolitik dalam sistem yang disediakan. Penggunaan teknologi informasi dan media baru di sini hanya sebatas apa yang disebut ‘kampanye publik’, yang tujuan akhirnya adalah menggalang dukungan untuk sebab tertentu. Para pegiat gerakan sosial memikirkan cara-cara baru dan kreatif untuk menyampaikan pesan kepada khalayak karena mengira masalah utamanya adalah kurangnya informasi dan perlunya penyadaran. Padahal di zaman ini masalah utamanya adalah kurangnya perhatian dan waktu. Banyak program kampanye publik ini kandas karena kehabisan napas menghadapi arus informasi yang begitu deras. Riset mutakhir terhadap jejaring sosial twitter menunjukkan lebih dari 70% pesan yang terpampang di timeline akan diabaikan oleh pemiliknya, dan yang bertahan diperhatikan pun tidak akan berumur lebih dari satu jam. Topik yang hangat akan cepat sekali populer dan bahkan mendunia – seperti dalam kasus video pribadi Ariel dan Luna Maya – tapi akhirnya hanya bertahan sekitar satu-dua hari sebelum cepat digantikan oleh yang lain. Strateginya karena itu bukanlah menambah informasi yang sudah berlimpah tapi mengatur arus informasi yang bisa bermanfaat bagi gerakan sosial. Manuel Castells misalnya berbicara tentang framing atau memberi kerangka pemahaman pada berbagai elemen dalam ledakan informasi. Percepatan informasi membuat orang tidak sempat mencerna berita dengan saksama. Pikiran sangat dipengaruhi oleh silih-bergantinya image, dan karena itu pesan yang paling kuat dalam situasi seperti ini adalah pesan sederhana yang dilekatkan pada image.[6] Perang untuk memperebutkan posisi yang berpengaruh juga berlangsung secara diskursif, sehingga tugas terpenting bukanlah sekadar memenangkan perdebatan di televisi atau talkshow tapi menguasai nodes dalam jaringan informasi. Tanpa strategi semacam itu ‘perang suara’ di jejaring sosial hanya akan menyumbang bising (noise) pada jaringan tanpa efek yang berarti. Gerakan sosial di Indonesia saya kira masih beberapa langkah dari strategi semacam itu. Para pemimpin dan aktivis cenderung mengerdilkan cyberactivism dengan bermacam pernyataan seperti “perubahan tidak datang dengan sentuhan ujung jari pada mouse.” Sejauh ini saya belum pernah mendengar adanya konvensi yang membahas dan menentukan strategi gerakan sosial menghadapi revolusi digital dan lanskap kesadaran yang terus berubah ini. Beberapa individu yang menyadari arti pentingnya terjun dan secara sadar menggunakan jejaring sosial sebagai alat ekspresi tapi setahu saya tidak punya mekanisme koordinasi. Masalah lain yang menghalangi keterlibatan gerakan sosial dalam membentuk lanskap kesadaran ini adalah cara pandang lama yang masih secara ketat memisahkan dunia maya dan dunia nyata, tanpa menyadari bahwa dunia maya, terutama produksi makna di dalamnya, menjadi bagian penting dari kehidupan sosial. Basis pendukung dalam sebuah gerakan misalnya tidak hanya dibentuk karena kesamaan pengalaman ditindas oleh kekuasaan atau karena kesamaan keluhan di tempat kerja, tapi juga oleh dan terutama melalui pembentukan wacana. Tidak semua buruh yang berupah rendah mau terlibat dalam aksi mogok. Hanya mereka yang bisa diyakinkan melalui wacana bahwa aksi mogok adalah cara paling efektif untuk mendapatkan hak-hak bersedia berjuang. Dan seperti diuraikan di atas pembentukan wacana di zaman digital ini dilakukan terutama dalam jaringan komunikasi elektronik. Langkah penting bagi gerakan sosial untuk terus bergerak di atas lanskap baru ini adalah meninggalkan paradigma yang melihat teknologi informasi sebagai alat lugu yang bisa dikerahkan sekehendak penggunanya. Jaringan komunikasi yang semakin kompleks sekarang ini tentu mempengaruhi hubungan sosial dan kehidupan kultural penggunanya. Gerakan sosial semestinya terarah pada titik-titik hubung (nodes) dalam jaringan yang rumit dan terus berkembang ini, sehingga bisa ikut menentukan arah dan perkembangannya. Tugas yang sulit memang, apalagi mengingat digital divide yang masih sangat besar di Indonesia, bukan hanya antara mereka yang punya akses dan tidak punya akses, tapi antara segelintir pengguna yang aktif dengan massa pengguna yang pasif. Menghidupi dunia digital secara penuh sehingga muncul kemampuan seleksi, framing dan terlibat dalam produksi makna memerlukan waktu tersendiri. Sejauh ini tidak ada usaha kolektif ke arah itu. Banyak orang yang memilih terjun ke dalam arus informasi yang deras, menjadi virtual celebrity, dan justru memperlebar jurang digital divide itu. Titik-titik hubung (nodes) tidak mungkin dibentuk dan framing mustahil dilakukan tanpa secara sadar memperlambat arus informasi yang begitu cepat. Kombinasi antara produksi makna di dunia maya perlu diimbangi gerak bermakna di dunia nyata. Saya mulai menyusun tulisan ini saat ada macet hebat di Jakarta beberapa waktu lalu. Selama berjam-jam ribuan pengemudi dan penumpang terkurung dalam kendaraan mereka. Sumpah-serapah dan caci-maki melesat dari ponsel, komputer jinjing, dan iPad mereka, menghiasi laman jejaring sosial seperti facebook dan twitter. Teknologi transportasi yang termaju dan teknologi informasi yang paling cepat terperangkap dalam ruang fisik. Perlombaan untuk menjadi yang paling cepat dengan mobil terbaik dan perangkat elektronik mutakhir bermuara pada kemacetan total. Paling cepat tapi berjalan di tempat. Di tengah semua itu seorang teman melesat di sela-sela kemacetan dengan sepedanya, teknologi dari dua abad lalu, yang rupanya sekarang mendapatkan pamornya kembali. Ia sampai di rumah dalam waktu singkat sementara ribuan kendaraan belum lagi beranjak dari tempat mereka semula. Bagi mereka yang masih berharap dunia bisa menjadi tempat hidup yang lebih baik, perlu kiranya meresapi makna pepatah lama, “biar lambat asal selamat.”
  3. hati hati dalam berkendara sepeda motor

  4. kau lah alasan ku mencintaimu. :*

  5. Bagaimana persepsi warga Indonesia terhadap komunisme? Mengenang Peristiwa 30 SeptemberMahasiswa dengan foto Sukarno yang dijarah dari sebuah toko komunis pada 1965. (Getty Images via BBC Indonesia) Selama 14 tahun setiap tanggal 30 September, televisi Republik Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Suharto menyiarkan Pemberontakan G30SPKI. Sebuah film bergenre drama semi dokumenter mengenai kegagalan Partai Komunis Indonesia dalam melakoni kudeta. Film tersebut menggambarkan kalangan komunis sebagai penjahat dan Suharto sebagai penyelamat Indonesia. Gambaran itu mewakili pandangan resmi selama 32 tahun rezim Suharto. Akan tetapi, sejak Indonesia bertransisi ke demokrasi—yang dimulai dengan tumbangnya Suharto pada Mei 1998—rakyat negara ini telah mempertanyakan sejarah era 1960an. Ahli sejarah, wartawan, pembuat film, aktivis dan bahkan pejabat telah mulai menyusun pandangan alternatif terhadap sejarah versi militer. Film Pemberontakan yang dibuat pada 1984 didasari pada sejarah yang dituturkan oleh seorang ahli sejarah militer dan dibiayai oleh rezim Suharto. Film itu banyak digunakan sebagai alat propaganda. Menurut Arifin Noer—selaku salah seorang pembuat film itu—adegan-adegan di film Pemberontakan menggambarkan kekerasan dan kerap dibesar-besarkan tapi merefleksikan pandangan sejarah yang diajarkan di buku pelajaran sekolah. Setelah Presiden Suharto lengser pada 1998, sejarah versi militer mulai dipertanyakan. Pada 2013, rakyat Indonesia bisa mengunduh The Act of Killing, film karya sutradara asal Amerika Serikat, Joshua Oppenheimer. The Act of Killing menyuguhkan pandangan alternatif atas apa yang terjadi selama 1965-1966, periode pembantaian yang disebut Komisi Nasional Hak Asasi Manusia sebagai pelanggaran hak asasi manusia. Selain The Act of Killing, ada pula novel berjudul Pulang karya Leila Chudori yang mengangkat kisah keluarga yang diduga komunis. Novel itu dibuat Leila berdasarkan wawancara yang ia lakukan selama enam tahun tentang periode sesudah 30 September 1965. Di bawah mantan Presiden Suharto, Indonesia memimpin perhimpunan negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) sebagai penentang komunis. Bersamaan dengan masa kepemimpinan Suharto, keberadaan partai-partai komunis dilarang di kawasan Asia Tenggara. Ironisnya setelah Suharto lengser, negara-negara sosialis terbesar di Asia Timur bergerak menjauhi masa lalu komunis mereka dan mengadopsi model kapitalis untuk pembangunan. Kejatuhan Uni Soviet pada 1991 mengirim pesan kuat ke negara-negara Asia yang telah mengadopsi model pembangunan ekonomi negara sentris. "Warisan komunisme adalah bahwa ia telah gagal sebagai sistem ekonomi," kata Don Greenlees, seorang cendekiawan Asia Timur dari jurusan Hubungan Internasional di Australian National University, Canberra. "Mereka hanya bicara, tapi faktanya mereka menjadi negara ekonomi kapitalis,” tambahnya. Partai komunis Tiongkok, selaku partai komunis terbesar Asia mengklaim mengikuti prinsip asli Marx-Lenin. Tetapi sejak akhir 1970-an, Tiongkok secara berangsur merancang kebijakan pasar dan menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia. Pada 2001, Tiongkok bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan siap menjadi ekonomi terbesar dunia pada 2025. Vietnam yang mengejar reformasi Doi Moi pada 1986 pun berada di arah yang sama. Meski Vietnam memberlakukan sensor ketat terhadap media sebagaimana layaknya rezim komunis, Vietnam justru mengejar kebijakan pro investasi kapitalis. Vietnam kini bergantung pada investasi langsung asing untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan merupakan anggota WTO, APEC dan Asean. Sebuah pertanyaan besar menghadapi calon penerus partai berkuasa Tiongkok dan Vietnam, bagaimana generasi kader partai yang lebih muda menginterpretasikan sosialisme begitu para pemimpin di usia 80-an pensiun dan meninggal dunia? Generasi millenia Tiongkok dan Vietnam, seperti juga anak muda di Indonesia, sangat bergantung dengan internet dan tersambung 24 jam dengan telepon genggam serta media sosial dan nyaris tidak tersentuh dengan pesan-pesan revolusi. Indonesia sejak 1998 telah berjuang menghadapi hantu komunisnya sendiri. Apakah kematian komunisme tidak terhindarkan lagi di Asia Timur pada saat ekonomi mereka semakin mengglobal?
  6. Kompleks universitas lengkap akan selesai pada 2020. Tutup 830 Tahun, Universitas Nalanda Kembali DibukaSisa-sisa Universitas Nalanda, India yang berdiri pada abad ke-5 kemudian hancur setelah diserbu Turki pada abad ke-12. Universitas Nalanda, India, salah satu universitas tertua di dunia, kembali memulai perkuliahan, Senin tanggal 1 September 2014. Universitas Nalanda kembali dibuka setelah hampir 830 tahun setelah hancur akibat penyerbuan pasukan Turki. Universitas Nalanda kembali dibuka dengan 15 mahasiswa dan 11 staf yang menghadiri kuliah di tempat sementara, Rajgir Convention Centre, gedung pemerintah di negara bagian Bihar, India timur. Mahasiswa yang akan kuliah di Nalanda dipilih dari sekitar 1.000 pelamar yang mengikuti beberapa ujian, menurut harian The Indian Express. Para mahasiwa mencakup dekan universitas di Bhutan dan seorang mahasiswa S2 dari Jepang. Dua fakultas pertama yang dibuka adalah Ekologi dan Lingkungan serta Sejarah. Pihak universitas telah mendapatkan lebih dari 180 hektare tanah di daerah kaki bukit Rajgir, namun pembangunan baru akan dimulai Februari tahun depan. Kompleks universitas lengkap akan selesai pada 2020. Saat itu universitas ini memiliki tujuh fakultas, semua untuk mahasiswa tingkat master dan doktoral. Nantinya universitas ini akan menawarkan perkuliahan di bidang sains, filsafat dan spiritual serta ilmu-ilmu sosial. Nalanda, adalah salah satu universitas pertama dunia yang memberikan akomodasi berupa asrama bagi anak didiknya. Di masa keemasannya, Nalanda menampung 10.000 mahasiswa dan 2.000 orang guru. Salah seorang cendekiawan Dinasti Tang, Xuanzang menghabiskan waktu selama 15 tahun belajar dan mengajar di Nalanda. Berdasarkan catatan sejarah, Universitas Nalanda tiga kali mengalami penghancuran namun hanya dua kali dibangun kembali. Penghancuran pertama adalah akibat serbuan bangsa Hun yang dipimpin Mihirakula pada masa kekuasaan Raja Skandagupta (455-467). Penerus Raja Skandagupta langsung membangun ulang Nalanda bahkan dibangun dengan jauh lebih megah dan memberikan lebih banyak sumber daya agar universitas itu bisa bertahan lebih lama. Penghancuran kedua adalah akibat serbuan kerajaan Gauda dari Bengal pada awal abad ketujuh. Seperti sebelumnya, Nalanda kembali diperbaiki kali ini oleh Raja Harshavardana (606-648). Kehancuran ketika terjadi pada 1193 ketika bangsa Turki menyerbu di bawah pimpinan Bakhtiyar Khilji. Serangan ini dilihat para pakar sejarah sebagai awal menurunnya pengaruh agama Buddha di India. Sejarawan Persia Mihaj-i-Siraj, dalam babad tulisannya Tabqat-i-Nasiri, melaporkan bahwa ribuan pendeta Buddha dibakar hidup-hidup dan ribuan lainnya dipenggal tak lama setelah serbuan Turki itu.
  7. Saat ular kehilangan kepalanya, ia mati dan fungsi dasar tubuhnya berhenti, namun tetap ada beberapa aksi refleks yang masih bisa dilakukan Mengapa Ular Mati Masih Tetap Bisa Menggigit?Ular yang dipotong kepala namun masih bisa memakan ekornya sendiri (Youtube) Orang bilang karma bisa kembali dan menghukum Anda. Bagi kasus seekor ular copperhead yang direkam dalam sebuah video di YouTube, bukan karma yang kembali dan menggigitnya. Tetapi kepalanya sendiri yang sudah terpenggal dari tubuhnya. Video yang diunggah Selasa pekan lalu menunjukkan kepala seekor ular copperhead yang sudah terpenggal sedang berbaring di dekat tubuhnya. Tetapi dalam detik ke-26, saat kita mengira ular tersebut sudah tewas, kepala yang sudah lepas itu tiba-tiba mengeluarkan taringnya dan menggigit ekornya sendiri. Sam Bulliter, pria asal Huntsville, Alabama, AS, yang membunuh ular dan merekam kematiannya itu terdengar menceritakan kejadian aneh tersebut dalam video. "Ini hal yang gila! Bagaimana kamu menggigit dirimu sendiri, ular?" Ia berteriak secara histeris. "Kamu kini punya ekormu sendiri di mulutmu, kawan. Wow." Video yang menyebar luas ini segera mendapatkan lebih dari 750 ribu view. Untuk memahami bagaimana reptil fleksibel yang tak berkepala ini mampu melakukan pergerakan hingga satu jam setelah kematiannya, National Geographic menghubungi James Murphy, head of the Reptile Discovery Center, Smithsonian's National Zoo, Washington DC, Amerika Serikat. Apa sebenarnya yang terjadi di video ini? Apakah ular itu mati? Saat ular tersebut kehilangan kepalanya, ia mati dan fungsi dasar tubuhnya telah berhenti, namun tetap ada beberapa aksi refleks yang masih bisa dilakukan. Dengan kata lain, ular masih punya kemampuan untuk menggigit dan menyuntikkan bisa meski kepalanya telah putus, bahkan setelah ia mati. Mengapa ia menggigit dirinya sendiri? Itu yang ada. Itu yang berada di sampingnya. Meski Anda telah memenggal kepalanya, ular masih tetap bisa menggigit dan membuka mulut. Ini alasan mengapa ular kadang-kadang menggigit dirinya sendiri, khususnya saat mereka terlalu gembira atau mereka kurang berhati-hati atas apa yang akan mereka gigit. Bisakah ular mati karena terkena racun dari bisanya sendiri? Ini merupakan topik yang sering diperdebatkan. Ada beberapa kasus di mana ular di penangkaran saling menggigit dan menyebabkan kematian ular lain dari spesies yang sama. Tetapi pertanyaannya adalah apakah kematian tersebut disebabkan oleh luka dari mekanisme gigitan - saat taring memasuki tubuh ular lain - atau akibat dari bisa. Jika saya menemukan ular di halaman, apa yang harus saya lakukan? Hindari dan jangan berusaha membunuhnya. Umumnya di sinilah saat-saat di mana gigitan ular terjadi. Dari sudut pandang seorang herpetologis, saya tidak ingin ada ular yang dibunuh. Jika orang berusaha menangkap atau membunuh ular tetapi mereka tidak punya pengalaman, mereka justru malah bisa terkena gigitan.
  8. Seperti sebuah lagu dari dewa19 yang berjudul hadapi dengan senyuman, foto langka dibawah ini akan membuat kita percaya bahwa tak selamanya kekerasan dibalas dengan kekerasan, bagaimana polisi ini dengan tenang menghadapi seorang bapak-bapak yang sedang mancung-acungkan goloknya dalam sebuah kericuhan
  9. Kacamata pintar Google Glass secara resmi telah dijual di kalangan tertentu, khususnya developer. Namun sebelum kacamata pintar ini benar-benar berada di rak toko, tampaknya Google harus melakukan sejumlah penyempurnaan. Karena pada kenyataannya, beberapa orang yang menerima kacamata pintar Google ini memberikan sejumlah catatan terkait kekurangan yang terdapat di perangkatnya. Apalagi dengan membayar USD 1.500 atau hampir Rp 14 juta, tentu saja orang menginginkan kesempurnaan bagi barangnya tersebut. Recananya produk ini dijual massal mulai tahun depan. Catatan pertama yang harus diperhatikan oleh pengembang Google Glass adalah masa daya tahan baterai kacamata ini. Memang Google memberikan catatan, bahwa Google Glass akan memakan baterai yang cukup banyak saat dipakai untuk merekam video dan gambar. Tapi hanya bertahan 4 jam dinilai terlalu cepat juga. Masalah lain adalah, beberapa waktu lalu seseorang mengklaim telah berhasil men-jailbreak Google Glass dengan sangat mudah. Ia dapat mengontrol perangkat dan data di dalamnya. Sebelum dilempar secara komersial, tentu saja orang tidak akan membeli barang seharga Rp14 jutaan tapi data yang ada di dalamnya mudah dijebol. Yang terakhir dan paling penting kebutuhan Google Glass adalah keberadaan aplikasi. Pengguna dinilai tidak bisa berbuat banyak tanpa aplikasi yang tepat. Jika pengembang tidak datang dengan aplikasi yang dibuatnya, maka bukan tidak mungkin orang akan kehilangan minat dalam menggunakan Google Glass.
  10. Media sosial adalah sebuah media online dimana para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, sosial network atau jaringan sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Blog, jejaring sosial dan wiki mungkin merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia. Sementara jejaring sosial merupakan situs dimana setiap orang bisa membuat web page pribadi, kemudian terhubung dengan teman-teman untuk berbagi informasi dan berkomunikasi. Jejaring sosial terbesar antara lain Facebook, Myspace, dan Twitter. Jika media tradisional menggunakan media cetak dan media broadcast, maka media sosial menggunakan akses internet. Media sosial mengajak siapa saja yang tertarik untuk berpertisipasi dengan memberi kontribusi dan feedback secara terbuka, memberi komentar, serta membagi informasi dalam waktu yang cepat dan tak terbatas.Sekarang teknologi sudah mengalami perubahan yang sangat pesat sekali dari tahun ke tahun dan kita sebagai pengguna media sosial bisa dengan mudah mengakses jaringan facebook atau twitter kapanpun dan dimanapun tinggal “klik” sudah tersambung dengan jaringan tersebut. Demikian cepatnya orang bisa mengakses media sosial mengakibatkan terjadinya fenomena besar terhadap arus informasi tidak hanya di negara-negara maju, tetapi juga di Indonesia. Karena kecepatannya media sosial juga mulai tampak menggantikan peranan media massa konvensional dalam menyebarkan berita-berita.Kalau dalam kehidupan sehari-hari kita tidak bisa menyampaikan pendapat secara terbuka karena satu dan lain hal, maka tidak jika kita menggunakan media sosial. Kita bisa menulis apa saja yang kita mau atau kita bebas mengomentari apapun yang ditulis atau diposting orang lain. Ini berarti komunikasi terjalin dua arah. Komunikasi ini kemudian menciptakan komunitas dengan cepat karena ada ketertarikan yang sama akan suatu hal. Negatifnya di dapat dari sosial media adalah banyak sekali terjadi penyimpangan terhadap pemanfaatan situs jejaring sosial tersebut, seperti timbulnya pembohongan publik, penipuan, asusila, transaksi negatif, cyber crime, dsb. Contoh tersebut hanyalah sebagian kecil bagaimana situs jejaring sosial yang seharusnya dimanfaatkan secara optimal melainkan dipergunakan ke arah yang sangat menyimpang, sungguh sangat ironis terhadap generasi muda yang akan menerima perkembangan kemajuan teknologi khususnya internet.
  11. Api lebih berbahaya daripada air

  12. Gen BRCA lebih besar terkena risiko kanker payudara, kanker ovarium, dan kemungkinan besar mengalami risiko menopause dini

  13. buseeeet pusing kepala guaaaaa

×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy