Jump to content

haji34

Member
  • Content Count

    20
  • Joined

  • Last visited


Reputation Activity

  1. Like
    haji34 reacted to panji_ukbar in Siapa yang ga ssetuju AHOK dipenjara?   
    Pagi ini hari Rabu tanggal 16 November 2016, Ahok ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penistaan agama. Namun belum ada pengadilan di kejaksaan penuntut umum berapa lama bapak Ahok dipenjara.

    Menurut saya sebagai orang yang objektif, Ahok gak bersalah, siapa yg yakin Ahok gak bersalah? Dan saya tidak mau ahok di penjara
  2. Like
    haji34 reacted to ITC in 7 Artis ini pernah kuliah di ITB loh!   
    Selama ini banyak orang yang beranggapan untuk menjadi seorang artis hanyalah modal tampang dan akting yang mumpuni saja tanpa pendidikan yang kuat. Padahal itu salah besar, banyak lho artis-artis yang tetap mementingkan pendidikannya bahkan lulus dari universitas negeri ternama di Indonesia.
    Salah satunya adalah dari Institut Teknologi Bandung. Ternyata banyak artis Indonesia lho yang mengenyam pendidikan di sana. Tak tanggung-tanggung jurusannya berat-berat lho. Siapa saja mereka?
    1. Aming

    Siapa sangka jika komedian yang kerap tampil heboh di layar kaca ini ternyata lulusan ITB. Yap, Aming berhasil lulus dari jurusan Kriya Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB setelah menempuh studi 7 tahun. Skripsinya saat itu berjudul “Eksplorasi serat pandan dengan teknik tenun/anyaman pada fashion apparel.”
    2. Sujiwo Tejo

    Dalang nyentrik satu ini memang selalu membuat orang kagum dengan pemikirannya yang out of the box. Tak heran sih ternyata Sujiwo Tejo pernah mengenyam pendidikan di ITB bahkan dua jurusan sekaligus yakni Matematika (1980-1985) dan Teknik Sipil (1981-1988). Sayang kuliahnya tidak sampai lulus karena keburu mendapat surat DO.
    3. Purwacaraka

    Musisi yang juga terkenal sebagai komposer ini ternyata juga lulusan ITB lho. Awalnya Purwacaraka masuk jurusan Teknik Industri ITB karena tuntutan orangtuanya. Meski saat kuliah sibuk melebarkan sayapnya di dunia musik tak membuat musisi berumur 56 tahun ini lupa studinya. Purwacaraka tetap bisa lulus tepat waktu dengan IPK di atas 3.00 lho.
    4. Sammy NotASlimBoy

    Pria yang terkenal lewat Stand Up Comedy ini ternyata juga lulusan ITB lho. Tak tanggung-tanggung pria bertubuh tambun ini mengambil studi yang cukup sulit yakni Teknik Informatika. Dari jurusannya itulah Sammy berhasil mendapat pekerjaan sebagai profesional IT di berbagai perusahaan nasional sebelum terjun ke dunia stand up comedy.
    5. Indra Herlambang

    Memiliki darah seni lukis dari kakeknya membuat Indra Herlambang memutuskan untuk masuk ITB. Di sana dia mengambil jurusan desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa dan Desain. Meski begitu setelah lulus Indra justru berkarir di dunia hiburan sebagai presenter sampai sekarang.
    6. Pandji Pragiwaksono

    Nama Pandji terkenal di dunia hiburan Tanah Air setelah menjadi presenter di acara “Kena Deh!” Pandji ini bisa dibilang artis yang multitalenta, selain menjadi presenter doi juga terkenal sebagai aktor, penyiar radio, penyanyi dan penulis. Untuk saat ini dia fokus sebagai komika stand up comedy. Namun siapa sangka di balik lawakannya yang cerdas, Pandji ternyata lulusan jurusan Desain Produk Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB angkatan 1997. Wah keren ya?
    7. Prabu Revolusi

    Siapa yang tak kenal dengan presenter berita ganteng Prabu Revolusi? Suami dari Zee Zee Shahab ini ternyata dulunya adalah lulusan ITB jurusan Fisika. Setelah lulus kuliah, Prabu sempat bekerja di perusahann perminyakan. Namun merasa tidak sesuai passion, Prabu justru mencoba hal baru yakni dunia jurnalistik dan kini membawakan acara di CNN Indonesia.
    Posting 7 Artis ini pernah kuliah di ITB loh! ditampilkan lebih awal di IT Care Indonesia.
    itc.web.id
  3. Like
    haji34 got a reaction from desipermatakenz in Dokter Boleh Tolak Tes Keperawanan! Karena Alasan Ini   

    Ketika dokter diminta melakukan tes keperawanan, mereka mesti menolak karena secara medis tidak perlu dan dapat menimbulkan bahaya psikologis, demikian pendapat sejumlah pakar etika Amerika Serikat. 
    Pemeriksaan seputar panggul ini dilakukan di banyak negara di dunia sebelum seorang perempuan menikah. Namun dokter tak setuju adanya pemeriksaan tersebut, seperti dilansir Reuters. Pasalnya ada tiga hal dalam etika profesi yang dilanggar, yakni melindungi kesejahteraan pasien, menghormati kedaulatan tumbuh perempuan, dan mendukung keadilan, demikian ditulis kelompok ahli etika dalam jurnal The Lancet.
    “Tes keperawanan tidak melindungi dan mendukung kesehatan pasien perempuan. Karenanya tes keperawanan sangat tak kompatibel dengan tiga prinsip etika profesional obstetri dan ginekologi,” kata Laurence McCullough, peneliti kebijakan etika dan kesehatan di Baylor College of Medicine di Houston, AS, sekaligus co-author esai tersebut. 
    Tes keperawanan bisa menyakitkan dan membuat perempuan merasa dipermalukan atau direndahkan, ujar McCullough menambahkan lewat email.
    "Tak ada manfaat kebersihan klinis dan risiko pencegahan dari bahaya biopsikososial,” ujar McCullough.
    Dalam tes tersebut, yang kerap disebut tes “dua jari”, dokter melakukan pemeriksaan dalam vagina untuk merasakan adanya selaput dara, membran tipis yang dipercaya beberapa budaya akan tetap utuh hingga perempuan melakukan hubungan seksual.
    Padahal ada perempuan yang terlahir tanpa selaput dara, dan membran tersebut juga dapat robek atau meregang akibat aktivitas, seperti olah raga atau menggunakan tampon.
    Sejumlah organisasi HAM mengutuk tes keperawanan, menyebutnya tak berperikemanusiaan dan tak beretika. Menurut WHO, “tak ada tempat bagi tes keperawanan (atau 'dua jari'). Tak ada validitas ilmiahnya.”
    Walau begitu, praktik ini tetap diberlakukan di banyak negara, antara lain India, Turki, Afganistan, Mesir, Libya, Yordania, Indonesia, dan Afrika Selatan. Tes keperawanan di tempat-tempat tersebut dilakukan karena budaya atau agama bahwa perempuan harus perawan hingga pernikahan.
    Tes keperawanan juga dilakukan di kondisi lain untuk memastikan perempuan tersebut, misalnya, masih perawan ketika masuk militer; serta ketika perempuan dituduh atas kejahatan moral atau lari dari rumah.
    Di Afrika Selatan, tes keperawanan awalnya menimbulkan pro-kontra. Namun  kemudian jadi umum dilakukan bersamaan meningkatnya epidemik AIDS, ujar Louise Vincent, peneliti dalam tes keperawanan dan isu kesehatan reproduksi perempuan di Rhodes University di Afrika Selatan yang tak dilibatkan dalam penelitian.
    Dalam konteks AIDS, di negara yang banyak perempuan mudanya melaporkan pengalaman seksual pertama mereka bukan suka sama suka, momok tes keperwanan dapat berfungsi sebagai pencegah hubungan seksual yang tak diinginkan di masa depan, ujar Vincent. 
    Walau dalam kondisi seperti ini, tes keperawanan tak etis dilakukan dokter, ujar McCullough. “
    Tak ada situasi di mana pasien perempuan dapat dianggap lebih baik melakukan tes keperawanan,” kata McCullough.
  4. Like
    haji34 got a reaction from Markus46_pangaribuan in Dokter Boleh Tolak Tes Keperawanan! Karena Alasan Ini   

    Ketika dokter diminta melakukan tes keperawanan, mereka mesti menolak karena secara medis tidak perlu dan dapat menimbulkan bahaya psikologis, demikian pendapat sejumlah pakar etika Amerika Serikat. 
    Pemeriksaan seputar panggul ini dilakukan di banyak negara di dunia sebelum seorang perempuan menikah. Namun dokter tak setuju adanya pemeriksaan tersebut, seperti dilansir Reuters. Pasalnya ada tiga hal dalam etika profesi yang dilanggar, yakni melindungi kesejahteraan pasien, menghormati kedaulatan tumbuh perempuan, dan mendukung keadilan, demikian ditulis kelompok ahli etika dalam jurnal The Lancet.
    “Tes keperawanan tidak melindungi dan mendukung kesehatan pasien perempuan. Karenanya tes keperawanan sangat tak kompatibel dengan tiga prinsip etika profesional obstetri dan ginekologi,” kata Laurence McCullough, peneliti kebijakan etika dan kesehatan di Baylor College of Medicine di Houston, AS, sekaligus co-author esai tersebut. 
    Tes keperawanan bisa menyakitkan dan membuat perempuan merasa dipermalukan atau direndahkan, ujar McCullough menambahkan lewat email.
    "Tak ada manfaat kebersihan klinis dan risiko pencegahan dari bahaya biopsikososial,” ujar McCullough.
    Dalam tes tersebut, yang kerap disebut tes “dua jari”, dokter melakukan pemeriksaan dalam vagina untuk merasakan adanya selaput dara, membran tipis yang dipercaya beberapa budaya akan tetap utuh hingga perempuan melakukan hubungan seksual.
    Padahal ada perempuan yang terlahir tanpa selaput dara, dan membran tersebut juga dapat robek atau meregang akibat aktivitas, seperti olah raga atau menggunakan tampon.
    Sejumlah organisasi HAM mengutuk tes keperawanan, menyebutnya tak berperikemanusiaan dan tak beretika. Menurut WHO, “tak ada tempat bagi tes keperawanan (atau 'dua jari'). Tak ada validitas ilmiahnya.”
    Walau begitu, praktik ini tetap diberlakukan di banyak negara, antara lain India, Turki, Afganistan, Mesir, Libya, Yordania, Indonesia, dan Afrika Selatan. Tes keperawanan di tempat-tempat tersebut dilakukan karena budaya atau agama bahwa perempuan harus perawan hingga pernikahan.
    Tes keperawanan juga dilakukan di kondisi lain untuk memastikan perempuan tersebut, misalnya, masih perawan ketika masuk militer; serta ketika perempuan dituduh atas kejahatan moral atau lari dari rumah.
    Di Afrika Selatan, tes keperawanan awalnya menimbulkan pro-kontra. Namun  kemudian jadi umum dilakukan bersamaan meningkatnya epidemik AIDS, ujar Louise Vincent, peneliti dalam tes keperawanan dan isu kesehatan reproduksi perempuan di Rhodes University di Afrika Selatan yang tak dilibatkan dalam penelitian.
    Dalam konteks AIDS, di negara yang banyak perempuan mudanya melaporkan pengalaman seksual pertama mereka bukan suka sama suka, momok tes keperwanan dapat berfungsi sebagai pencegah hubungan seksual yang tak diinginkan di masa depan, ujar Vincent. 
    Walau dalam kondisi seperti ini, tes keperawanan tak etis dilakukan dokter, ujar McCullough. “
    Tak ada situasi di mana pasien perempuan dapat dianggap lebih baik melakukan tes keperawanan,” kata McCullough.
  5. Like
    haji34 got a reaction from monica_pendong in Dokter Boleh Tolak Tes Keperawanan! Karena Alasan Ini   

    Ketika dokter diminta melakukan tes keperawanan, mereka mesti menolak karena secara medis tidak perlu dan dapat menimbulkan bahaya psikologis, demikian pendapat sejumlah pakar etika Amerika Serikat. 
    Pemeriksaan seputar panggul ini dilakukan di banyak negara di dunia sebelum seorang perempuan menikah. Namun dokter tak setuju adanya pemeriksaan tersebut, seperti dilansir Reuters. Pasalnya ada tiga hal dalam etika profesi yang dilanggar, yakni melindungi kesejahteraan pasien, menghormati kedaulatan tumbuh perempuan, dan mendukung keadilan, demikian ditulis kelompok ahli etika dalam jurnal The Lancet.
    “Tes keperawanan tidak melindungi dan mendukung kesehatan pasien perempuan. Karenanya tes keperawanan sangat tak kompatibel dengan tiga prinsip etika profesional obstetri dan ginekologi,” kata Laurence McCullough, peneliti kebijakan etika dan kesehatan di Baylor College of Medicine di Houston, AS, sekaligus co-author esai tersebut. 
    Tes keperawanan bisa menyakitkan dan membuat perempuan merasa dipermalukan atau direndahkan, ujar McCullough menambahkan lewat email.
    "Tak ada manfaat kebersihan klinis dan risiko pencegahan dari bahaya biopsikososial,” ujar McCullough.
    Dalam tes tersebut, yang kerap disebut tes “dua jari”, dokter melakukan pemeriksaan dalam vagina untuk merasakan adanya selaput dara, membran tipis yang dipercaya beberapa budaya akan tetap utuh hingga perempuan melakukan hubungan seksual.
    Padahal ada perempuan yang terlahir tanpa selaput dara, dan membran tersebut juga dapat robek atau meregang akibat aktivitas, seperti olah raga atau menggunakan tampon.
    Sejumlah organisasi HAM mengutuk tes keperawanan, menyebutnya tak berperikemanusiaan dan tak beretika. Menurut WHO, “tak ada tempat bagi tes keperawanan (atau 'dua jari'). Tak ada validitas ilmiahnya.”
    Walau begitu, praktik ini tetap diberlakukan di banyak negara, antara lain India, Turki, Afganistan, Mesir, Libya, Yordania, Indonesia, dan Afrika Selatan. Tes keperawanan di tempat-tempat tersebut dilakukan karena budaya atau agama bahwa perempuan harus perawan hingga pernikahan.
    Tes keperawanan juga dilakukan di kondisi lain untuk memastikan perempuan tersebut, misalnya, masih perawan ketika masuk militer; serta ketika perempuan dituduh atas kejahatan moral atau lari dari rumah.
    Di Afrika Selatan, tes keperawanan awalnya menimbulkan pro-kontra. Namun  kemudian jadi umum dilakukan bersamaan meningkatnya epidemik AIDS, ujar Louise Vincent, peneliti dalam tes keperawanan dan isu kesehatan reproduksi perempuan di Rhodes University di Afrika Selatan yang tak dilibatkan dalam penelitian.
    Dalam konteks AIDS, di negara yang banyak perempuan mudanya melaporkan pengalaman seksual pertama mereka bukan suka sama suka, momok tes keperwanan dapat berfungsi sebagai pencegah hubungan seksual yang tak diinginkan di masa depan, ujar Vincent. 
    Walau dalam kondisi seperti ini, tes keperawanan tak etis dilakukan dokter, ujar McCullough. “
    Tak ada situasi di mana pasien perempuan dapat dianggap lebih baik melakukan tes keperawanan,” kata McCullough.
×
×
  • Create New...