Jump to content

Males

Pengguna
  • Jumlah konten

    14
  • Bergabung

  • Terakhir berkunjung

Tentang Males

  • Rank
    Magang
  • Ulang Tahun 06/04/1989

Informasi Profil

  • Jenis Kelamin
    Male
  1. Kotak hitam (black box) belum ditemukan, penyelidikan soal penyebab pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 610 juga masih jauh dari kesimpulan. Namun, data satelit yang dimuat situs pemantau lalu lintas udara, FlightRadar24 dijadikan petunjuk awal terkait insiden kapal terbang yang jatuh 13 menit setelah lepas landas itu. Berdasarkan data yang diungkap FlightRadar24, sejumlah keanehan terpantau dalam pergerakan pesawat yang membawa 189 orang tersebut. Salah satunya, ketika sebuah pesawat umumnya akan naik dalam beberapa menit pertama penerbangan, Lion Air JT 610 justru mengalami penurunan 726 kaki (setara 221 meter) selama 21 detik. Ahli penerbangan Phillip Butterworth-Hayes mengatakan bahwa data tersebut tidak biasa. Apalagi, saat lepas landas seperti itu, pilot biasanya dibantu oleh kendali otomatis pesawat. "Ini tidak sesuai dengan profil penerbangan otomatis," kata Butterworth-Hayes saat mempelajari data. "Kecuali, jika sistem pesawat itu memberikan koreksi untuk sejumlah alasan." Butterworth-Hayes mengatakan bahwa mengingat pesawat yang digunakan Lion Air JT 610 baru berusia dua bulan, alasan di balik kecelakaan tersebut "sangat tidak mungkin" berasal dari kesalahan mekanis. "Pesawat terbang tidak jatuh begitu saja dari langit," katanya. "Saya tidak bisa membayangkan masalah mekanis apa pun selain kehilangan tenaga mesin yang tiba-tiba dan tidak dapat dijelaskan, atau kegagalan listrik menyeluruh. Ini jauh lebih mungkin disebabkan faktor eksternal," lanjutnya menjelaskan. Dia mengatakan bahwa masalah lingkungan bisa jadi adalah penyebabnya, misalnya ledakan mikro (microburst), atau pesawat yang menabrak sesuatu seperti kawanan burung. "Ledakan mikro sangat sulit untuk dideteksi, bisa berubah menjadi angin kencang, seperti pusaran, dan Anda tidak bisa melihatnya. Tiba-tiba pesawat tidak berfungsi sebagaimana mestinya, pilot kemudian mulai melakukan segala macam upaya pemulihan dan kemudian sudah terlambat, pesawat jatuh," jelas Butterworth-Hayes. Ditambahkan olehnya bahwa pilot Boeing 737 MAX 8 meminta izin pada air traffic controller (ATC) melakukan return to base atau kembali ke bandara asal, sekitar 22 kilometer setelah lepas landas. Namun, saat itu belum terlihat pertanda kondisi darurat.
  2.  

  3. Airbus A380 berbeda dengan tipe pesawat lainnya. Jika Anda belum yakin kenapa harus mencoba naik pesawat ini, berikut adalah 5 alasan utamanya. 1. Kapasitas Besar Airbus A380 adalah sebuah pesawat berbadan lebar dengan dua tingkat yang mampu memuat hingga 850 penumpang dalam konfigurasi satu kelas atau 555 penumpang dalam konfigurasi tiga kelas. Pesawat ini merupakan pesawat komersial terbesar yang pernah dibuat dan dijuluki “Superjumbo”. Hingga saat ini, setidaknya ada 13 maskapai yang menggunakannya, yaitu Air France, Asiana Airlines, British Airways, China Southern, Emirates, Etihad, Korean Air, Lufthansa, Malaysia Airlines, Qantas Airlines, Qatar Airlines, Singapore Airlines, dan Thai Airways. 2. Desain Kabin Umumnya, pesawat Airbus A380 didesain oleh maskapai dengan konfigurasi 2-3 kelas, yaitu Ekonomi, Bisnis, dan First Class. Desain dan konfigurasi tempat duduk pada kelas Ekonomi tampak seperti pada umumnya, hanya saja kursi dan layar di kursi terlihat lebih mewah, serta ruang kaki lebih lebar. Namun apabila Andamemasuki ruang Bisnis dan First Class, Anda akan terkesima. Di First Class maskapai Etihad dan Singapore Airlines misalnya, terdapat kamar tidur dan kamar mandi pribadi yang akan membuat Anda merasa sangat nyaman saat menempuh penerbangan panjang. Anda pun tidak akan kekurangan hiburan dengan adanya entertainment center dengan layar datar yang lebar. 3. Fasilitas Mewah Kemewahan akan terasa sejak Anda memasuki kabin. Selain layar entertainment center yang berkualitas bagi setiap kursi, 8 dari 13 maskapai di atas menyediakan Wi-Fi dan membolehkan Anda menyalakan telepon genggam. Selain kompartemen bagasi kabin yang biasa ada di atas kepala Anda, maskapai seperti Korean Air dan Asiana Airlines bahkan menyediakan kompartemen ekstra untuk tas tangan bagi Anda yang duduk di dekat jendela. Untuk bagian penutup jendela, jika Anda biasa menutupnya dengan manual (menggeser ke atas/bawah), maskapai seperti Qantas membuat Anda melakukannya hanya dengan satu sentuhan kecil saja. 4. Lounge, Bar, Social Area Fasilitas seperti hotel bintang 5 ini umumnya ada di bagian atas (upper deck). Anda bisa menikmati semua fasilitas, termasuk makanan dan minuman, yang ada secara gratis. Setiap maskapai bahkan punya tema sendiri dalam mendesain lounge, bar, social area, spa, hingga ruang gantinya. Ingin mencari teman baru selama penerbangan? Bersantai menghilangkan penat dengan teman dan keluarga Anda selama di pesawat? Itu semua bisa Anda lakukan di pesawat Airbus A380! 5. Wisata Kuliner dan Belanja Tak hanya fasilitas dan desainnya saja yang seperti hotel bintang 5, begitu pula dengan menu makanan dan minuman yang tersedia. Menu yang disajikan oleh tiap maskapai memang berbeda, tapi mereka sama-sama dimasak oleh chef hebat yang kualitas bahan, rasa, dan tampilannya sama dengan chef dari hotel-hotel mewah. Selain makanan yang disajikan, Anda bisa menikmati makanan dan minuman yang ada di area self-service. Fasilitas ini ada di maskapai Air France, China Southern, dan Qantas. Untuk Anda yang suka berbelanja di atas pesawat, beberapa maskapai bahkan membuat area duty-free shop. Anda akan bisa merasakan pengalaman berbelanja seperti di toko pada umumnya namun kali ini toko itu berada di udara! Itulah 5 alasan utama Anda, setidaknya sekali dalam seumur hidup, harus mencoba naik pesawat jenis Airbus A380.
  4. Pernahkah Anda sedang berada di dalam penerbangan tapi Anda harus segera mengirim pekerjaan melalui email atau Anda ingin segera berbagi momen istimewa di media sosial? Jika Anda terbang dengan salah satu maskapai ini, hal ini tidak akan lagi menjadi persoalan, Anda bisa melakukan semuanya dengan fasilitas Wi-Fi onboard. 1. Emirates (EK) Maskapai yang berkantor pusat di Dubai, Uni Emirat Arab ini bukan hanya menjadi maskapai terbesar di Timur Tengah, tapi juga salah satu maskapai terbaik di tingkat dunia. Jika Anda terbang dengan maskapai ini, terutama di tipe pesawat Airbus A380, Anda bisa menikmati fasilitas inflight Wi-Fi gratis di semua kelas penerbangan dengan kuota sebesar 10 MB. Masih kurang? Anda bisa membeli kuota tambahan dengan harga mulai dari 1 USD per 500 MB. 2. Aer Lingus (EI) Maskapai terbesar kedua di Irlandia ini menawarkan fasilitas Wi-Fi onboard gratis bagi penumpang Business Class-nya di pesawat Airbus seri A330 di seluruh rute transatlantik. Tapi jika Anda tidak terbang di kelas bisnis, Anda juga bisa membayar biaya Wi-Fi onboard dengan harga sekitar 14,95 USD untuk 1 jam atau seharga 24,95 USD untuk durasi 24 jam pemakaian. 3. Garuda Indonesia (GA) Maskapai terbesar dan kebanggaan masyarakat Indonesia ini menawarkan fasilitas Wi-Fi gratis jika Anda terbang di First Class pada jenis pesawat Boeing 777-300ER atau Airbus 330-200/300. Apabila Anda terbang di kelas bisnis atau ekonomi di pesawat Boeing 777-300ER, Anda bisa membeli paket inflight Wi-Fi dengan harga 11,95 USD untuk durasi 1 jam atau seharga 21,95 USD untuk durasi 24 jam. Sedangkan jika Anda terbang dengan pesawat Airbus 330-200/300 di kelas bisnis dan ekonomi, Anda bisa membeli paket Wi-Fi onboard dengan harga 2,49 USD untuk perangkat mobile kuota 3 MB dan 9,95 USD untuk perangkat mobile kuota 10 MB atau dengan harga 9,95 USD untuk perangkat laptop kuota 10 MB dan 21,95 USD untuk perangkat laptop kuota 25 MB. 4. Air China (CA) Memiliki lebih dari 289 rute penerbangan di 30 negara, mulai dari Asia ke Timur Tengah, Eropa Barat, hingga Amerika Utara, maskapai asal Tiongkok ini menawarkan fasilitas Wi-Fi gratis bagi seluruh pelanggannya. Namun demikian, sementara ini fasilitas Wi-Fi hanya bisa digunakan di perangkat laptop dan belum bisa digunakan di smartphone. 5. Hong Kong Airlines (HX) Jika Anda berencana terbang dengan maskapai ini, pastikan Anda mencari penerbangan yang menggunakan jenis pesawat Airbus A330-200. Mengapa demikian? Karena seluruh penumpang Hong Kong Airlines di pesawat itu akan mendapatkan fasilitas Wi-Fi onboard gratis! Pastikan Anda terhubung dengan provider OnAir saat di pesawat untuk dapat menikmatinya. 6. JetBlue Airways (B6) Jika Anda memiliki rencana terbang keliling Amerika Serikat, Anda bisa menggunakan maskapai JetBlue Airways. Jika kebetulan Anda naik pesawat dengan tipe Airbus A321, maka Anda bisa menikmati fasilitas Wi-Fi onboard gratis di paket Simply Surf basic version. Jika paket itu dirasa kurang, Anda bisa upgrade ke plan Fly-Fi Plus dengan harga 9 USD per jam pemakaian. 7. Norwegian (DY) Maskpai low-cost terbesar ketiga di Eropa dan terbesar kedua di daratan Skandinavia ini menawarkan fasilitas Wi-Fi gratis jika Anda terbang di rute short dan medium-haul di wilayah Eropa. Saat ini, Anda bisa menikmati fasilitas ini di lebih dari 61 pesawat Boeing 737-800 yang mereka operasikan. Namun demikian, maskapai Norwegian masih belum menawarkan fasilitas Wi-Fi untuk rute penerbangan jarak jauhnya. 8. Thai Airways (TG) Maskapai asal Thailand ini telah mengoperasikan 75 rute penerbangan di 35 negara. Jika Anda terbang dengan Thai Airways di kelas bisnis, Anda bisa menikmati fasilitas Wi-Fi gratis dengan plan 3 bulan trial. Saat ini, fasilitas ini hanya dapat Anda nikmati di pesawat Airbus A330-300 dan A380-800 khusus untuk rute penerbangan jarak jauh. Bagi Anda yang terbang di kelas bisnis, Anda bisa membeli paket THAI Sky Connect Smartphone users dengan harga 4,50 USD untuk kuota 3 MB atau 14,5 USD untuk kuota 10 MB. Jika Anda ingin menggunakan laptop/tablet, biaya Wi-Fi-nya adalah sebesar 14,5 USD untuk kuota 10 MB dan 28,5 USD untuk kuota 20 MB. Selain 8 maskapai tersebut, masih ada puluhan maskapai lain yang juga menawarkan fasilitas Wi-Fi onboard, meski tidak gratis. Inflight Wi-Fi bisa jadi solusi pengusir rasa bosan, terutama bagi Anda yang mudah bosan dan akan melakukan penerbangan jarak jauh
  5. Males

    Cara Wi-Fi Bekerja di Dalam Pesawat

    Sejak dulu, penggunaan barang elektronik di dalam pesawat sangat terbatas. Jangankan mendapatkan sinyal untuk menerima panggilan, mengaktifkan gadget saja tidak bisa dilakukan dengan sembarangan. Apa lagi berharap bisa mendapatkan jaringan internet ketika sedang berada pada ketinggian 30.000 kaki di udara? Kini, hal itu bukan hal yang mustahil. Teknologi semakin berkembang dan sekarang mendapatkan akses internet di dalam pesawat sangatlah memungkinkan. “Wi-fi on board” kini bisa dinikmati di penerbangan jarak jauh dari beberapa maskapai full-service. Namun pertanyaan yang menggelitik bagi sebagian orang – terutama yang sangat menyukai dunia aviasi dan teknologi – adalah: sebenarnya, apa yang membuat kita sekarang bisa mengakses wi-fi dalam penerbangan? Bagaimana cara kerja wi-fi di dalam pesawat? Ada dua teknologi yang memungkinkan penumpang pesawat bisa mendapatkan wi-fi dalam penerbangan, yaitu teknologi Air-to-Ground (ATG) dan satelit. Air-to-Ground (ATG) Sistem ATG ini membutuhkan dua antena yang tertanam di perut pesawat untuk menangkap sinyal dari menara seluler yang ada di darat. Ketika pesawat sudah mencapai ketinggian tertentu dan pramugari/a sudah menyalakan tombol ATG ke “On”, maka pesawat akan mulai “menarik” sinyal dari berbagai menara seluler yang ada di daratan. Setelahnya, penumpang pun bisa beraktivitas dengan menggunakan sinyal Wi-Fi selama berada di dalam pesawat. Saat ini, sistem ATG baru bisa menawarkan kekuatan Wi-Fi hingga 3 Mbps. Artinya, Anda baru dapat menggunakannya untuk mengakses email dan mengecek beberapa akun media sosial Anda. Satelit Keterbatasan sistem ATG adalah jika pesawat keluar dari jangkauan menara seluler di darat ataupun sedang terbang di atas lautan, maka sinyal akan otomatis hilang. Sistem penerimaan sinyal Wi-Fi berbasis satelit yang lebih kuat bisa mengatasi hal itu, sehingga Anda bisa tetap terhubung ke jaringan internet dengan cakupan area yang lebih luas. Dengan menggunakan satelit, ada antena yang harus diarahkan ke satelit tertentu ketika pesawat terbang. Ada tiga jenis antena yang biasa digunakan di pesawat-pesawat yang menyediakan fasilitas wi-fi dan menggunakan system satelit, yaitu Ku-Band, Ka-Band, dan Ku/Ka-Band. Antena Ku-Band bisa memberikan Wi-Fi dengan kecepatan hingga 30-40 Mbps. Walau demikian, kecepatan Wi-Fi akan tergantung seberapa banyak pesawat yang juga mengambil sinyal dari satelit tersebut. Semakin banyak pesawat yang terhubung ke satelit yang sama, maka kecepatan yang bisa didapat masing-masing pesawat pun semakin sedikit. Selain tipe Ku-Band, ada pula antena tipe Ka-Band yang memberikan servis Wi-Fi tercepat, dengan kecepatan hingga 70 Mbps per pesawat. Dengan kecepatan ini, Anda bisa mengunggah foto ke berbagai media sosial hingga streaming video favorit Anda. Saat ini, baru Virgin America yang menggunakan antena gabungan Ka-/Ku-Band dalam pesawat-pesawat Airbus A320 terbarunya untuk penerbangan di Amerika Serikat. Sementara di benua lain, seri Airbus A350 dari Qatar Airways dan Ethiopian telah menggunakan antena Ka-Band yang akan memberikan sinyal Wi-Fi yang lebih kuat.
  6. Males

    Saipul Jamil Akan Sampai ke Meja Hijau

    nah yang benar harus dibenarkan, yang salah harus diberi pelajaran
  7. Happy birthday @Ngobas!

  8. nimkmatin aja puasanya

  9. Sergey Brin, salah satu pendiri Google Agustus 2013, sudut-sudut kantor pusat Google ramai seperti biasanya. Beberapa karyawan ada yang asyik bekerja dan ada juga yang bercengkrama sambil mengobrol. Agak berbeda saat itu adalah bahan obrolan yang diperbincangkan, karena kasak-kusus yang mereka bicarakan adalah bos mereka sendiri, Sergey Brin. Brin merupakan salah satu pendiri Google digosipkan telah meninggalkan istrinya Anne Wojcicki dan berselingkuh dengan karyawannya sendiri yang bernama Amanda Rosenberg. Wanita itu diketahui menjabat sebagai marketing untuk Google Glass. Intrik tidak hanya berkutat pada Brin, istrinya dan Rosenberg. Karena diketahui, saat itu, ternyata Rosenberg sedang menjalin asmara dengan Hugo Barra, yang notabene merupakan eksekutif di Android. Barra dikatakan sempat kecewa dengan sikap bosnya tersebut. Dan dia pun memilih menghindari pusara konflik dengan hengkang dari Google ke perusahaan ponsel asal Tiongkok, Xiaomi. Di sana, Barra mendapat posisi yang cukup mentereng. Hugo Barra yang kini menjabat sebagai Vice President Xiaomi Kepergian Barra dari Google tak menyurutkan intrik dari cinta terlarang Brin. Sebab diketahui, saat awal Google berdiri, adik Anne yakni Susan meminjamkan garasi rumahnya untuk bekerja. Mungkin tanpa Susan, tidak akan ada Google dan Brin tak pernah bertemu Anne. Ketika pertama kali istri Brin mencium perselingkuhan dengan anak buahnya tersebut, Anne Wojcicki marah luar biasa. Apalagi diketahui Rosenberg pernah menghabiskan waktu saat malam Natal dengan keluarganya. Brin bahkan pernah membelikan Rosenberg hadiah saat berkumpul tersebut. Tak lama setelah itu, Anne menemukan beberapa pesan antara Brin dan Rosenberg yang membangkitkan kecurigaan dan mengatakan sesuatu kepada Rosenberg. Di bulan April, Brin telah pindah dari rumahnya ke tempat sendiri. Sampai Agustus keributan semakin sering terjadi dan Rosenberg diketahui terus bekerja di tim Google Glass bersamanya. Salah satu sumber mengatakan kepada Vanity Fair, bahwa kondisi ini membuat kondisi internal Google sempat memanas."Larry (Page-red) begitu keras. Bahkan dia saya dengar marah besar dengan situasi ini. Di lingkup internal, mereka menuding keduanya tak akan bisa profesional dan memisahkan keduanya." Walaupun dalam lingkup di Google, tidak ada larangan formal kencan dengan sesama rekan kerja dan sering terjadi. Amanda Rosenberg, eksekutif Google yang diduga menjadi selingkuhan Sergey Brin Epilog cerita tidak terlalu cantik. Karena antara Rosenberg dan Brin menurut sumber Business Insider tidak lagi berhubungan. Sementara itu antara Wojcicki dan Brin sejak perpisahan mereka, mereka tetap tinggal dekat dengan satu sama lain di Los Altos dan terus membesarkan anak-anak mereka sebagai sebuah tim. Kini biduk rumah tangga mereka sudah berakhir setelah mengarungi enam tahun perjalanan.
  10. CEO BlackBerry Jhon Chen BlackBerry nyatanya masih belum beranjak dari kondisi tak mengenakkan. Ini bila dikaitkan dengan penjualan handset milik mereka. Dalam laporan terbaru, produsen asal Kanada itu hanya menjual sedikit ponsel pintar saja. Laporan keuangan terbaru memperinci BlackBerry hanya mampu menjual 1,1 juta ponsel dengan nilai rata-rata device adalah US$ 240 atau setara Rp 2,7 juta. Jumlah ini turun dibandingkan kuartal sebelumnya, yang berkutat pada angka 1,3 juta unit Pendapatan BlackBerry di kuartal terbaru ini berjumlah US$ 658 juta turun dari triwulan sebelumnya US$ 768 juta dan anjlok dibandingkan akhir tahun lalu yang mencapai US$ 976 juta. Kendati laporan keuangannya masih memerah, CEO BlackBerry Jhon Chen masih mengambil sisi positifnya. "Saya senang dengan kinerja kuat dari perangkat lunak dan teknologi bisnis kami. Ini adalah kunci untuk pertumbuhan BlackBerry di masa depan." "Keuangan kami mencerminkan peningkatan investasi untuk penjualan dan dukungan pelanggan untuk bisnis perangkat lunak kami. Selain itu, kami mengambil langkah-langkah untuk membuat bisnis handset menguntungkan. Kami percaya tindakan ini bijaksana dan diperlukan untuk mengembangkan bisnis dan kami percaya tonggak yang tersisa dalam rencana strategis kami dapat dicapai," Chen optimisis. Dalam rincian pendapatan untuk triwulan yang berakhir 30 Mei 2015 ini berasal dari sekitar 40 persen untuk hardware, 38 persen untuk layanan dan 21 persen untuk perangkat lunak dan lisensi teknologi. BlackBerry memiliki 2.600 pelanggan perusahaan di kuartal ini. Sekitar 45 persen dari lisensi yang terkait dengan transaksi ini adalah cross-platform.
  11. Selamat berbuka puasa

  12. 40 menit lagi buka

×

Important Information

Kami menggunakan cookie. Mereka tidak menakutkan, tetapi beberapa orang berpikir mereka. Terms of Use & Kebijakan Privasi