Jump to content

Nugroho_S_P

✔ Verified Account
  • Content Count

    243
  • Joined

  • Last visited

  • Days Won

    17

Nugroho_S_P last won the day on December 7 2015

Nugroho_S_P had the most liked content!

About Nugroho_S_P

  • Rank
    Prajurit Dua
  • Birthday 02/04/1997

Contact Method

  • Twitter
    p
  • Facebook
    patra
  • Instagram
    patra

Recent Profile Visitors

8,069 profile views
  1. hahaha iya leh uga
  2. mirip polwan ndral wkwkwk rambutnya pendek
  3. keren ndral, mau liat videonya ndral, share yg bentuk video ndral biar greget :v
  4. selamat ulang tahun kaka. :pesta

    1. Nugroho_S_P

      Nugroho_S_P

      Oke davidbo :), makasih ya ucapannya :)

  5. selamat ulang tahun mas @Nugroho_S_P

    1. Nugroho_S_P

      Nugroho_S_P

      Ok makasih ucapannya mbak monica hehe:D

  6. happy birthday ndral, follow balik ya :ngakak

  7. Sebuah desa dibayangan kita adalah sebuah tempat yang sejuk, penuh dengan canda tawa, udara yang segar, dan kehidupan orang orang disana penuh keakraban. Mungkin itulah gambaran sebagian besar orang orang terhadap sebuah desa. Di Dunia ini terdapat bermacam macam desa yang unik dan akan terasa aneh jika kita mengetahui bahwa ternyata di desa tersebut tidak ada laki laki yang hidup di sana. Nah Lo, kenapa bisa? berikut kami terangkan mengapa bisa terjadi seperti itu. Desa Tanpa Pria Noiva do Cordeiro Brazil indahnya kota Noiva do Cordeiro memang tak dapat dipungkiri lagi. Bukit-bukit yang terhampar dengan cantiknya, pepohonan yang tinggi serta desiran angin yang sejuk membuat masyarakat tak ingin pergi dari kota yang satu ini. Secara kasatmata, kota ini memang terlihat seperti kota biasa. Namun siapa yang menyangka bahwa kota cantik ini ternyata hanya dihuni oleh wanita saja. Noiva do Cordeiro dihuni oleh kurang lebih 600 orang wanita yang berusia antara 20 hingga 35 tahun. Para pria tentu saja ingin mengunjungi kota ini. Namun tak semudah itu, peraturan ketat pun mereka buat agar para pria tak dapat dengan mudahnya dapat berkunjung ke kota ini. Sebenarnya, beberapa di antara mereka sudah berkeluarga. Mereka datang ke kota ini hanya untuk bekerja sementara para suami dapat melepaskan rasa kangen hanya di akhir pekan saja. "Kota ini sangat terorganisir sangat baik. Para wanita mampu bekerja dengan sangat baik sehingga kota kami selalu terlihat sejuk dan aman walaupun Anda harus berjalan di malam hari. Dapat dikatakan, para wanita jauh lebih bertanggung jawab dibandingkan kaum pria," ujar Rosalee Fernandes (49) salah seorang penduduk di Noiva do Cordeiro. Para wanita pun saling bahu membahu satu sama lain. Jika terjadi perselisihan, mereka dapat mengatasinya dengan baik. Hidup dengan rukun sangat terlihat dari masyarakat Noiva do Cordeiro. Kota unik ini mulai didirikan pada akhir abad 19 oleh seorang wanita bernama Maria Senhorinha de Lima. Saat itu, Maria dipaksa menikah oleh orangtuanya dengan seorang pria. Karena dikucilkan akibat dicap sebagai penzina, akhirnya pada tahun 1891 ia pergi ke suatu daerah. Kota yang akhirnya ia beri nama Noiva do Cordeiro ini menjadi tempat tinggal Maria bersama dengan para wanita lajang yang ia rangkul untuk hidup bersamanya. Suatu ketika, ada seorang pria yang menikah dengan salah satu masyarakat Noiva do Cordeiro. Pria tersebut selalu mengatur apa yang harus dilakukan oleh istrinya. Ketika pria itu meninggal, para perempuan di Noiva do Cordeiro memutuskan bahwa mereka tak lagi harus menuruti semua perintah dari pria karena mereka dapat hidup dan membangun kota tanpa bantuan pria. Desa Tanpa Laki Laki Umoja Kenya Seperti yang kita ketahui, yang namanya tempat pemukiman penduduk, pastilah dihuni oleh penduduk dengan berbagai usia dan jenis kelamin. Tapi tidak dengan desa kecil yang terletak di padang rumput Samburu, utara Kenya ini. Penduduk di desa ini semuanya wanita. Bahkan pria dilarang memasuki desa kecil ini. Komunitas yang diberi nama Umoja ini dibuat oleh 15 wanita pada tahun 1990. 15 wanita ini adalah orang-orang yang dulunya pernah diperkosa oleh tentara Inggris. Desa spesial ini menawarkan perlindungan dan harapan untuk wanita yang telah mengalami penganiayaan. Di tempat inilah para wanita mencari perlindungan dari kekerasan yang mereka alami seperti perkosaan, pernikahan yang dipaksakan, female genital mutilation atau mutilasi alat kelamin wanita, serta kekerasan rumah tangga. Seita Lengima, salah satu penduduk tertua di Umoja mengatakan bahwa di luar komunitas tersebut, wanita dikekang dan diatur oleh pria sehingga nasib para wanita tersebut tidak bisa berubah. Di Umoja, wanita punya kebebasan mereka. Rebecca Lolosoli, salah satu pendiri Umoja ini pernah sampai dirawat di rumah sakit setelah dianiaya oleh sekelompok pria saat ia mengungkapkan ide untuk membuat komunitas wanita. Para pria memukulinya untuk memberikan pelajaran karena berani bicara pada wanita lain di desanya tentang hak mereka. Meski begitu sahabat anehdidunia.com, jangan dikira para wanita yang berlindung di Umoja hanya sekedar wanita yang mencari kebebasan. Bukan. Di sini mereka punya cerita masa lalu menyakitkan yang sayangnya tidak didengar oleh para pria di tempat tinggal mereka dulu. Salah satu contohnya adalah Mamusi, penyambut tamu desa Umoja. Ia mengatakan bahwa dirinya ditukar dengan beberapa ekor sapi oleh ayahnya saat masih berusia 11 tahun untuk dijadikan istri bagi seorang pria berusia 57 tahun. Salah seorang wanita lainnya, Jane yang berusia 38 tahun diperkosa oleh 3 orang pria. Saat itu ia sedang menggembala kambing dan domba milik suaminya sambil membawa kayu bakar. Tiba-tiba ia diserang oleh tiga orang pria yang kemudian memperkosanya. Karena merasa malu dan terluka, ia tidak berani berkata apa-apa. Namun saat suaminya mengetahui apa yang terjadi, Jane justru dipukuli dengan tongkat oleh suaminya. Akhirnya ia membawa anaknya dan pergi dari desa asalnya menuju Umoja. Kabar tentang desa ini lama kelamaan semakin menyebar. Seita mengingat bagaimana ia mendengar kabar tentang Umoja dari gosip yang beredar di desanya. Ketika ia tiba di Umoja, ternyata situasi lebih baik dari yang diharapkannya. Ia diberi seekor kambing, diberi air, dan mulai merasa aman di sana. Saat ini, ada 47 wanita dan 200 anak-anak yang tinggal di Umoja. Para wanita mendapatkan penghasilan dengan menyediakan kemah bagi turis serta menjual perhiasan tradisional. Desa tersebut juga memasang tarif yang kecil untuk turis yang ingin mengunjungi desa mereka. Dengan penghasilan tersebut, para wanita di Umoja mampu bertahan untuk beutuhan sehari-hari mereka. Tidak hanya itu saja, para wanita di sini juga belajar banyak hal yang biasanya dilarang dilakukan seperti bekerja dan menghasilkan uang sendiri. Di Umoja, mereka bisa mendapatkan penghasilan mereka sendiri dan saat turis membeli perhiasan yang mereka buat, para wanita tersebut merasa sangat bangga. Hingga saat ini, usaha mendapatkan keadilan terutama bagi mereka yang diperkosa oleh tentara asing tidak membuahkan hasil. Namun bagi para wanita Umoja, hal yang terpenting bagi mereka adalah memiliki tempat aman yang bisa mereka sebut rumah. Desa Tanpa Cowok Sakakah Arab Saudi Desa kecil di pinggir Kota Sakakah, Provinsi al-Jawf, barat daya Arab Saudi memang unik karena seluruh penduduknya perempuan. Hanya saja, jangan bayangkan di pemukiman ini perempuan bebas sesuka hati melakukan apa yang mereka mau. Baru-baru ini, pengurus desa itu malah mengeluarkan larangan agar gadis-gadis tidak berpenampilan tomboi. Desa ini memang kebanjiran perempuan dari kota lain di Saudi karena keunikannya yang cuma berisi kaum hawa. Namun, penduduk asli mengaku tidak suka dengan para pendatang membawa budaya asing seperti pakaian yang memperlihatkan aurat serta musik-musik bising.. Berkebalikan dari bayangan para feminis, pemukiman itu bukan tempat wanita mencari suaka di Saudi. Alasan penghuninya cuma kaum hawa, karena ada pemisahan tegas antara hunian laki-laki dan perempuan di wilayah al-Jawf yang sangat puritan dalam beragama. Pengurus desa mengeluarkan ancaman bakal mengusir perempuan di desa itu yang tidak bersikap baik. Sasaran awal mereka adalah gadis berpenampilan seperti lelaki atau tomboi, serta yang memakai pakaian seronok. "Fenomena pendatang itu tidak mencerminkan budaya asli di desa ini. Sehingga perlu bagi kita buat membasminya," seperti tertulis di selebaran pengurus desa. Ke depan, aturan di desa itu bakal semakin tegas. Pengunjung dari luar daerah tidak boleh membawa kamera atau telepon seluler. Bukan hanya gadis tomboi yang dianggap melawan tradisi. Perempuan dengan dandanan 'punk' juga bakal diharamkan. Bahkan, dewan adat lokal di Sakakah bersiap melarang kaum hawa yang nyeleneh itu memasuki sekolah umum atau universitas. sumber : anehdidunia
  8. Biar anda yg menilai mana yg salah dan yg mana yg benar, lihat video di bawah:
  9. Teknologi virtual reality (VR) tak mesti mensyaratkan perangkat keras yang mahal. Itulah pesan yang hendak disampaikan oleh Google lewat Cardboard, sebuah headset VR yang terbuat dari bahan kardus. Sepintas Cardboard terdengar meragukan. Benarkah ia bisa menyajikan visualisasi 3D layaknya perangkat headset Oculus Rift yang lebih kompleks? KompasTekno berkesempatan menjajal Google Cardboard yang dibawa pulang oleh Chief Executive Kibar, Yansen Kamto, seusai mengunjungi konferensi Google I/O di San Francisco, 25 Juni lalu. Berikut ulasan singkatnya. Origami Google Cardboard adalah sebuah konsep unik. Headset ini mesti dirakit atau do-it-yourself (DIY) dari potongan kardus, dibentuk dan dilipat sedemikian rupa sehingga menjadi sebentuk kacamata. "Unit" Cardboard yang dibagikan kepada pengunjung Google I/O berupa kardus yang telah dipotong mengikuti pola dan tinggal dilipat layaknya origami. Namun, Cardboard juga bisa dibuat sendiri dari kardus biasa dengan mengikuti pola rancangan yang disediakan oleh Google. Cardboard tak memiliki unit display khusus yang memproyeksikan gambar 3D ke mata pengguna. Sebagai gantinya, digunakanlah sebuah ponsel Android biasa dan sepasang lensa yang juga bisa dibeli sendiri. Smartphone disisipkan ke dalam Cardboard sehingga layarnya menghadap ke pasangan lensa, yang akan memproyeksikan tampilan layar itu ke mata pengguna. Ponsel yang digunakanbisa apa saja, asalkan memakai sistem operasi Android. Bentuk jadi Google Cardboard setelah selesai dirakit Namun tak semua ukuran smartphone pas untuk disisipkan ke dalam Cardboard. Perangkat sederhana ini agaknya sengaja dirancang untuk memuat Nexus 5 yang juga besutan Google. Tanpa sentuhan Sebelum memasang smartphone, pengguna bisa menjalankan aplikasi demo Cardboard yang disediakan Google di toko aplikasi Play Store. Setelah aplikasi berjalan, pemakai Cardboard tak perlu lagi menyentuh layar smartphone untuk navigasi. Bagaimana caranya? Untuk memilih aneka macam demo di aplikasi Cardboard, pengguna tinggal menolehkan kepala ke arah kiri dan kanan. Goyangan kepala dideteksi oleh aneka macam sensor pada smartphone, dan tampilan menu akan mengikuti arah pandangan mata pengguna. Pilihan yang terseleksi di menu akan di-highlight, kemudian bisa dijalankan dengan menggeser magnet berbentuk bulat yang ada di sisi samping Cardboard. Tombol magnet di sisi kiri Google Cardboard digunakan untuk memilih menu Magnet ini digeser ke arah bawah menggunakan jari. Smartphone akan mendeteksi pergeseran magnet tersebut dan menafsirkannya sebagai perintah untuk menjalankan (“klik”) menu yang dipilih. Begitu jari dilepas, magnet akan kembali terdorong dengan sendirinya ke arah atas karena di sisi bawah terdapat magnet lain dengan kutub yang sama sehingga keduanya saling "menolak". Metode input yang cerdik tersebut sengaja dibikin oleh Google agar pengguna tak perlu bolak-balik membuka smartphone untuk menjalankan menu aplikasi Cardboard. Headset ini pun bisa dipakai tanpa menyentuh layar smartphone. Penggunaan smartphone sebagai penampil gambar dan pusat pemrosesan membuat Cardboard tak perlu memiliki hardware khusus. Untuk menjalankan fungsi “back” atau kembali ke menu utama, headset berikut smartphone cukup digeser dari orientasi landscape (horizontal) ke portrait (vertikal). Tiga dimensi Seperti halnya teknologi VR lain, Cardboard menyajikan dua buah gambar terpisah pada layar smartphone. Lensa pada Cardboard memproyeksikan tampilan ini pada mata pengguna sehingga mencakup semua bidang pandang mata. Kedua gambar masing-masing ditujukan buat mata kiri dan kanan pengguna, dan secara otomatis disatukan oleh otak sehingga menjadi sebuah tampilan tiga dimensi utuh. Hasilnya sungguh luar biasa. Memakai Cardboard tak ubahnya “terjun” ke dalam sebuah dunia lain. Pengguna bisa bebas menoleh ke segala arah di alam VR, 360 derajat, kanan-kiri ataupun atas-bawah. Aplikasi Cardboard menyajikan dua tampilan pada area yang berbeda pada layar smartphone. Dua tampilan ini diproyeksikan masing-masing untuk mata kiri dan kanan Tampilan museum Versailles dalam salah satu demo di aplikasi Cardboard akan mengikuti pandangan arah pengguna. Begitu pula jalanan Paris pada demo bertajuk Street Vue dan kontur-kontor bumi pada demo Google Earth. Google memang menyediakan beberapa demo VR di aplikasi Cardboard yang tiap-tiapnya dirancang untuk skenario berbeda. Selain sejumlah demo yang disebut di atas, ada pula demo Photo Sphere, YouTube, dan animasi 3D bernama Windy Day. Mereka seakan menunjukkan bahwa visualisasi 3D Cardboard bisa dipakai untuk berbagai keperluan, tak hanya game. Sensasi 3D yang dihasilkan membuat semua demo itu seolah tampak benar-benar di depan mata. Sangat mirip dengan efek yang dihasilkan headset VR Oculus Rift, yang juga pernah dicoba KompasTekno tahun lalu. Bedanya, Google Cardboard bisa dibuat sendiri oleh peminat, dengan hanya bermodal smartphone Android, kardus, dan sejumlah komponen lain yang harganya relatif tak mahal. Kisaran harga keseluruhan diperkirakan antara 20 dollar AS dan 40 dollar AS (antara Rp 230.000 dan Rp 460.000).

About Ngobas

Ngobas is All-in-One website that can be use by everyone for free to find friends and exchange information. The name Ngobas is derived from the abbreviation, which is Ngomong Bebas Originally Sedap, meaning that it is appropriate to speak according to the ethics of socializing.

CEO’s Greeting

I realize that information and communication are the main things in life. Ngobas is the right platform for that. We will always be connected wherever we are and that is the purpose Ngobas was built.

- Samuel Berrit Olam

×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy