Jump to content

Google Bikin Keyboard Untuk Perangkat iOS?


muh_obeje3

Recommended Posts

Google dikabarkan tengah mengembangkan sebuah keyboard pihak ketiga untuk perangkat iOS yang merupakan rival terberatnya. Google dinilai cerdik karena menghadirkan produknya pada interface yang sangat sering sekali digunakan, yakni bagian keyboard.

Menurut orang-orang yang terlibat dalam pengerjaan keyboard ini, keyboard tersebut telah dirancang sedemikian rupa, sehingga dapat terhubung dengan berbagai macam pilihan pencarian. Keyboard ini telah dikembangkan selama berbulan-bulan, namun belum tahu kapan Google akan meluncurkan keyboard untuk perangkat iOS ini.

Berbicara masalah fitur, keyboard untuk perangkat iOS ini dikatakan menggabungkan mengetik berbasis gesture serta gambar dan GIF pencarian melalui tombol yang disediakan. Selain itu, bisa juga tekan logo Google dan Anda dapat mengakses pencarian web tradisional.

Menurut laporan tersebut, secara visual keyboard untuk iOS berbeda dari keyboard Google pada Android, dan dikatakan keyboard ini sudah diuji secara internal oleh karyawan perusahaan yang berbasis di Mountain View, California, Amerika Serikat ini.

Android-Google.png.37e25959d8bc4822d5109

Jika keyboard ini resmi meluncur dan mendapatkan banyak perhatian dari penguna perangkat iOS, maka Apple harus lebih waspada karena sepertinya Google ingin memanjakan pengguna iOS melalui produk buatannya, meski secara virtual. Bagaimana, tertarik menggunakan keyboard buatan Google di perangkat iOS Anda?

Link to comment
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...
  • Similar Content

    • By peter_hutomo
      Halaman YouTube berbahasa Jerman milik Rusia ''RT'' dihapus pada Selasa (28/09) karena dianggap melanggar kebijakan tentang misinformasi COVID-19. Rusia mengancam akan ''membalas'' dengan memblokir YouTube.
      YouTube menghapus saluran berbahasa Jerman milik Rusia, Rusia Today (RT), pada Selasa (28/09), karena channel itu melanggar kebijakan misinformasi COVID-19.
      "YouTube selalu memiliki pedoman komunitas yang jelas yang menguraikan apa yang diizinkan di platform," kata juru bicara YouTube kepada DW.
      Awalnya saluran Jerman RT mendapat teguran karena mengunggah konten yang melanggar kebijakan misinformasi COVID-19 YouTube. Akibatnya RT dilarang posting selama seminggu.
      RT kemudian menggunakan channel kedua yang juga berbahasa Jerman, "Der Fehlende Part" (DFP/Bagian yang Hilang), untuk menghindari penangguhan.
      RT DE (nama RT dalam bahasa Jerman) "mencoba untuk menghindari penegakan hukum dengan menggunakan saluran lain, dan akibatnya kedua saluran tersebut dihentikan karena melanggar Persyaratan Layanan YouTube," kata juru bicara tersebut.
      Rusia mengancam akan blokir YouTube
      Kementerian Luar Negeri Rusia mengancam akan "membalas" YouTube dengan memblokir platform tersebut. Kemenlu Rusia mengatakan penghapusan RT dari YouTube sebagai ‘'agresi informasi yang belum pernah terjadi sebelumnya''.
      Roskomnadzor, badan eksekutif federal Rusia yang bertanggung jawab untuk mengawasi media massa di negara itu, mengirim surat ke Google, ‘‘menuntut agar semua pembatasan dicabut.‘‘
      Layanan pers agensi Rusia itu juga meminta adanya penjelasan alasan penerapan larangan tersebut.
      Google menghadapi ancaman denda hingga 1 juta rubel (Rp196 juta) jika menolak untuk membuka blokir saluran YouTube RT, kata Roskomnadzor.
      Margarita Simonyan, pemimpin redaksi RT, menanggapi larangan tersebut dalam sebuah twit: "Ini adalah perang media nyata yang dideklarasikan oleh negara Jerman kepada negara Rusia," katanya.
      Dia kemudian meminta Rusia untuk merespons dengan melarang media pemerintah Jerman, termasuk DW.
      Menanggapi hal itu, pemerintah Jerman mengatakan "tidak ada hubungannya" dengan keputusan YouTube.
      "Siapa pun yang menyerukan pembalasan seperti itu tidak menunjukkan hubungan yang baik dengan kebebasan pers," kata juru bicara Kanselir Angela Merkel, Steffen Seibert, seraya menambahkan bahwa tindakan YouTube "bukanlah tindakan negara."
      YouTube dimiliki oleh konglomerat teknologi AS Alphabet Inc, yang juga memiliki Google. 
      YouTube blokir konten anti-vaksin
      YouTube mengatakan "tidak mengizinkan konten tentang COVID-19 yang menimbulkan risiko bahaya serius yang mengerikan."
      Selain itu, YouTube mengatakan tidak mengizinkan konten yang menyebarkan misinformasi medis yang "bertentangan dengan informasi medis otoritas kesehatan setempat atau Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tentang COVID-19."
      YouTube akan melarang video apa pun berisikan konten anti-vaksin, serta yang mengklaim bahwa vaksin yang disetujui oleh otoritas kesehatan tidak efektif atau berbahaya. 
      YouTube sebelumnya memblokir video yang membuat klaim tentang vaksin virus corona, tetapi tidak untuk vaksin lain seperti campak atau cacar air.
      YouTube juga melarang konten dari tokoh anti-vaksin terkenal, termasuk Robert F. Kennedy Jr. dan Joseph Mercola.
    • By ega
      Google mengganti logo Gmail dari yang semula berbentuk amplop putih dengan tepian merah menjadi sebuah logo yang kini terasa lebih 'Google banget'.
      Logo baru Gmail kini menyerupai huruf M besar dengan bentuk mirip amplop, tetapi hadir dengan empat warna ciri khas Google. Warna warni yang dimaksud ada biru, merah, kuning, dan hijau.
      Logo baru Gmail ini cocok dan senada dengan logo Google, Google Maps, Google Photos, Chrome, dan produk-produk Google lainnya. Dengan logo baru Gmail ini, tak ada lagi amplop lawas khas Gmail.
      Fast Company melaporkan, Google sebelumnya mempertimbangkan untuk menghapus logo bentuk M sama sekali atau menghapus warna merah Gmail sepenuhnya. Namun, mereka yang terlibat dalam riset pengguna tak senang dengan perubahan tersebut.
      Pertahankan Huruf M
      Riset ini kemudian membantu Google menyadari, amplop dari logo Gmail bukanlah elemen desain yang penting. Dengan begitu, memungkinkan tim untuk bereksperimen dengan mempertahankan huruf M serta menambah palet warna tradisional Google.
      Logo baru Gmail ini masih terasa didominasi warna merah, dengan sedikit sentuhan warna kuning, biru, dan hijau di masing-masing lengkungan huruf M.
      G Suite Jadi Google Workspace

      Google juga sebelumnya mengubah logo Kalender, Docs, Meet, dan Spreadsheet agar sesuai dengan desain baru Gmail ini.
      Logo baru ini merupakan bagian dari perubahan lebih luas dari perangkat lunak G Suite Google yang kini diubah namanya menjadi Google Workspace.
      Google pun tengah mencoba menggabungkan Gmail, Chat, dan Docs ke dalam satu lokasi pusat untuk bisa lebih bersaing dengan Microsoft Office, terutama Outlook yang lebih terintegrasi.
    • By jeruk_purut
      Kapan lagi pakai iPhone buat buka pintu mobil
      Sebagai perusahaan teknologi ternama, Apple terus menerus memperbarui sistem operasi mereka. Kali ini, Apple telah mempersiapkan iOS 14 yang akan segera diluncurkan pada September 2020 mendatang ke para pengguna iPhone.
      Pihak Apple mengatakan bahwa pembaruan iOS 14 ini adalah update terbesar yang pernah mereka lakukan. Hal ini karena Apple akan menghadirkan Home Screen yang telah di-desain ulang menjadi lebih menarik.

      “iOS 14 mengubah elemen paling ikonik dari pengalaman iPhone, dimulai dengan pembaruan terbesar yang pernah kami buat di Home Screen,” kata Wakil Presiden Senior Apple, Craig Federighi dilansir dari CNBC Indonesia.
      Tidak hanya Home Screen yang akan dipercantik, banyak fitur baru yang akan dihadirkan Apple demi memberikan kenyamanan lebih dalam menggunakan perangkat iPhone.
      Apa saja fitur barunya?
      Widget

      Mungkin Widget sudah lo temukan di iPhone pada iOS sebelumnya. Kali ini Apple mendesain ulang Widget iPhone persis dengan cara kerja di Apple Watch.
      Jadi lo bisa menempatkan Widget di Home Screen dalam berbagai ukuran.
      App Library

      Kalau yang ini adalah fitur baru untuk mengorganisir aplikasi ke dalam file berbeda secara otomatis. Terlebih pengguna iPhone bisa mengakses tanpa harus menampilkannya di Home Screen.
      App Clips

      Katanya sih fitur ini bakal memudahkan pengguna mengunduh banyak file besar. Bahkan Apple pun mengklaim prosesnya yang ringan dan cepat.
      Siri

      Siri terkadang bisa jadi teman ngobrol lo saat sedang kesepian. Namun, kali ini Apple membuat Siri datang 20 kali lebih cepat dari biasanya.
      Bahkan kini Siri bisa membantu lo mengirim pesan dalam format audio.
      Messages

      Aplikasi Messages kali ini akan menghadirkan memoji berdasarkan usia, fitur pin untuk mengutamakan chat paling penting selalu berada di paling atas, dan fitur group yang membentuk percakapan dalam sebuah ruang kelompok tertentu.
      Maps

      Maps juga mungkin sudah lama dalam iOS Apple sebelumnya. Namun sekarang Maps ada fitur baru berupa Guides yang memberikan panduan berbagai tempat dengan informasi paling update.
      Selain itu juga ada fitur Cycling yang membantu pesepeda memberikan panduan jalur sepeda.
      Terakhir ada EV Routing yang memberikan informasi tentang tempat pengisian daya untuk mobil listrik.
      Translate

      Buat lo yang suka gak ngerti kalau temennya ngobrol pakai bahasa Inggris, sekarang Apple akan memudahkan lo mengerti apa yang dibicarakan teman lo dengan menerjemahkan percakapan tersebut.
      CarPlay

      Apple memberikan wallpaper supaya tampilan CarPlay bisa lebih menarik. Fitur paling unik adalah kini iPhone lo bisa berfungsi sebagai kunci mobil.
    • By theblue
      Virus Corona COVID-19 telah dinyatakan sebagai wabah yang pandemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Perusahaan teknologi besar seperti Google dan Twitter memperbolehkan karyawannya dari rumah.
      Sejak Kamis (12/3/2020) Google sudah memandatkan 300.000 karyawannya untuk bekerja dari rumah. Khususnya untuk karyawan yang berbasis di Inggris, Eropa, Timur Tengah, dan Afrika. Sebagai antisipasi penyebaran covid-19 atau virus corona.
      Pemberlakuan kerja dari rumah itu akan dilakukan sampai pemberitahuan lebih lanjut oleh Google.
      Google mengatakan, satu-satunya wilayah yang tersisa menjalankan bisnis seperti biasanya pada saat ini adalah Amerika Latin.
      Selain itu, Google juga telah memberi tahu lebih dari 100.000 karyawannya di Amerika Utara untuk tetap di rumah di tengah virus itu hingga setidaknya 10 April.
      CEO Google, Sundar Pichai dan CFO Google, Ruth Porat, mendesak karyawan untuk tetap termotivasi untuk menjalankan infrastruktur global Google di tengah perubahan besar dan kekhawatiran seputar penyebaran virus.
      "Kami tahu ini adalah waktu yang sangat meresahkan bagi semua orang," kata Pichai dalam email internal, pekan lalu. Ia menambahkan bahwa perusahaan memiliki tim keamanan dan ketahanan yang siap menjalankan pusat komando 24 jam untuk membantu para eksekutif memantau situasi penyebaran corona.
      Perusahaan teknologi Twitter juga menerapkan hal yang seperti Google. Twittermemutuskan untuk mewajibkan 4.900 karyawan bekerja dari rumah untuk menghadang penyebaran virus corona COVID-19 yang telah menyebar ke banyak negara.
      Dalam postingan di blog resmi perusahaan, Twitter mengatakan, "Kebijakan kerja dari rumah ini bersifat wajib karena perusahaan memiliki tanggung jawab untuk mendukung komunitas perusahaan dan mereka yang rentan," ujar perusahaan seperti dilansir dari CNBC International, Kamis (12/3/2020).
      "Kami memahami bahwa ini adalah langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya, tetapi ini adalah saat yang belum pernah terjadi sebelumnya," lanjutnya.
      Twitter mengatakan mereka akan terus membayar kontraktor dan membayar karyawan per jam yang tidak dapat melakukan tugas mereka saat bekerja dari rumah.
    • By VOAIndonesia
      SAN FRANCISCO - Seorang mantan eksekutif Google yang mencalonkan diri untuk menjadi anggota Senat Amerika, Kamis (9/1/20), menyerukan pemberlakuan regulasi yang keras terhadap raksasa-raksasa teknologi, dan menuduh raksasa internet tempat dia pernah bekerja itu telah keluar dari jalur “jangan jahat.”
      Ross LaJeunesse membidik Google dan perusahaan-perusahaan teknologi besar lainnya di Amerika dengan menyatakan bahwa kini keuntungan lebih diutamakan daripada hak asasi manusia.
      “Moto perusahaan dulu adalah “jangan jahat,” kata LaJeunesse, yang meninggalkan pekerjaannya sebagai kepala hubungan internasional di Google tahun lalu setelah 11 tahun mengabdi di perusahaan itu. “Banyak hal telah berubah,” tambahnya.
      Kini dia mencalonkan diri ikut bersaing memperebutkan kursi Senat Amerika untuk negara bagian asalnya, Maine. Dia bersaing melalui jalur Partai Demokrat.
      Google menolak kritikan tersebut, dan mengatakan pernyataan LaJeunesse itu disampaikan dalam konteks kampanye pemilihan.
      “Kami memiliki komitmen yang tak tergoyahkan untuk mendukung berbagai organisasi dan upaya-upaya hak asasi manusia," kata juru bicara Google ketika menanggapi pertanyaan kantor berita AFP. “Kami mendoakan yang terbaik untuk Ross dengan ambisi politiknya,” tambah juru bicara itu.
      LaJeunesse bergabung dengan Google pada tahun 2008 dan menjadi kepala kebijakan publik perusahaan itu untuk Asia Pasifik sebelum mengambil posisi sebagai kepala hubungan internasional.
      Dia mengatakan dia adalah orang yang melaksanakan keputusan Google untuk tidak lagi menyensor hasil pencarian lewat Internet di China seperti yang diminta oleh pemerintah negara itu.
      “Keputusan itu membuat marah tidak hanya pemerintah China, tetapi juga membuat frustrasi sebagian eksekutif produk Google yang mengincar pasar yang besar dan keuntungan yang menyertainya,” kata LaJeunesse.
      “Faktanya, dalam waktu satu tahun sejak keputusan 2010 itu, eksekutif untuk Maps dan produk Android mulai berusaha meluncurkan produk mereka di China,” tambahnya.
      Dia menyatakan terkejut ketika mengetahui pada tahun 2017 tentang adanya proyek “Dragonfly” di Google untuk menyesuaikan versi mesin pencari untuk China. Proyek itu kemudian ditinggalkan karena menuai kritik masyarakat.
      LaJeunesse juga menyuarakan keprihatinan tentang upaya Google untuk menjalin kerja sama komputasi awan (cloud computing) dengan pemerintah Arab Saudi dan membangun pusat intelijen buatan (AI) di sana.
      “Tepat ketika Google perlu menggandakan komitmen pada hak asasi manusia, Google memutuskan untuk mengejar keuntungan yang lebih besar dan harga saham yang bahkan lebih tinggi,” kata LaJeunesse. “Itu tidak berbeda dalam budaya tempat kerja di Google,” tambahnya.
      Dia berpendapat bahwa karena pendiri Google, Larry Page dan Sergey Brin menyerahkan operasi perusahaan kepada para eksekutif yang digaji, maka semangat mencari keuntungan lebih besar daripada bertahan pada prinsip-prinsip yang semula diutamakan.
×
×
  • Create New...