Jump to content

Netflix Diblokir! Gak Sekalian YouTube dan Facebook Ditutup?'


keenion

Recommended Posts

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...
  • Similar Content

    • By DragonJebol
      After being confirmed by none other than Mark Zuckerberg, the long-awaited multi-device support for Whatsapp messenger is now rolling out to selected beta testers on Android.
      The feature was outlined and detailed in a Facebook engineering team blog with plenty of information surrounding just how it has been achieved. For those with no interest on the inner workings of how messages are relayed between devices, code-digger WABetaInfo has also noted that the multi-device feature is now rolling out in a very limited beta to some lucky users.
      We already noted that the multi-device support for WhatsApp is limited to just one smartphone – disappointingly this remains the case with the beta. There are some other limitations though with Facebook’s implementation.
      You won’t be able to view the live location of another device, while calling may be disabled if the version of WhatsApp installed upon one of the four devices linked is outdated. Functionality has also been limited on the Facebook Portal, WhatsApp Web/Desktop, and for those using WhatsApp Business accounts.
    • By Miillando
      Denny Sumargo dahulu dikenal sebagai salah satu atlet basket berprestasi. Kepopulerannya pun kian melejit usai menjajal dunia akting dan membintangi film.
      Salah satu film yang sukses ia bintangi adalah film 5 CM. Kini selama pandemi Covid-19, Denny Sumargo mengaku terkena dampaknya. Larangan syuting film membuat pendapatan Denny Sumargo menyusut.
      Namun Denny Sumargo justru mendapat penghasilan dari YouTube. Ia pun diketahui memiliki dua kanal YouTube yakni Curhat Bang dan Pebasket Sombong.
      Denny Sumargo menceritakan bahwa program pemerintah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) justru membuatnya makin rajin membuat konten.
      "Penghasilan dari YouTube jadi gede waktu PSBB, karena banyak memproduksi video konten," ungkap Denny Sumargo.
      Untuk channel YouTube Pebasket Sombong saat ini sudah memiliki 500 ribu subscriber dan memiliki lebih dari 60 video. Penghasilan di fase awalnya pun diakui memang tak seberapa.
      "Awal itu hanya dapat 100 dolar AS per bulan, kemudian bertambah jadi 200, 300, dan seterusnya. Puluhan juta rupiah tapi prosesnya panjang," jelasnya.
      Namun dengan konsistensi untuk terus menghasilkan konten, Denny Sumargo pun merasakan buah dari kerja kerasnya. Awalnya, jumlah pelanggan kanal YouTube sang aktor sedikit. Tapi usai Denny menggelari diri sebagai Pebasket Sombong, jumlah subscribernya justru naik dengan cepat.
      "Begitu jadi 'pebasket sombong', jumlah subscriber meningkat. Sebulan bisa bertambah 130 ribuan orang," ungkapnya.
      Saat ini pun, Denny menyatakan bahwa penghasilan YouTube miliknya bisa mencapai ratusan juta.
      "Kalau sekarang sih, ratusan juta rupiah dan adsense-nya besar," imbuh Denny Sumargo.
      Ia pun kini mulai tertarik untuk menekuni profesi sebagai YouTuber. Ia juga berniat untuk membuat video podcast di studio baru yang ada di rumahnya.
      "Rumah baru, kan sudah jadi di kawasan Permata Regency, sudah 90 persen lebih," imbuhnya.
      Rumah lain yang rencananya ingin ia beli juga tak jauh dari kediaman Raffi Ahmad.
      "Sekarang mau beli rumah lagi untuk studio kanal Curhat Bang. Mau ke Bintaro atau kawasan Andara, dekat rumah Raffi Ahmad tapi agak ke sana lagi. Andara kayaknya sudah diborong Raffi, haha!" seloroh Denny Sumargo.
      Meski ingin tetap berkarya di YouTube, namun Denny Sumargo juga menegaskan ingin tetap berada di dunia akting.
    • By c0d1ng
      Kasus peretasan akun WhatsApp kembali terjadi. Kali ini menimpa peneliti dan perhati isu sosial Ravio Patra. Kejadian ini diceritakan kembali oleh Direktur Eksekuti SAFEnet Damar Juniarto.
      Damar Juniarto mengatakan kejadian pembobolan akun WhatsApp tersebu terjadi kemarin (22/4/2020) sekitar pukul 14.00 WIB. Ketika itu Ravio Patra menunjukkan kepadanya coba menghidupkan WhatsApp kemudian muncul tulisan 'You've registered your number on another phone.
      "Dicek ke pesan inbox SMS, ada permintaan pengiriman OTP. Peristiwa ini saya minta segera dilaporkan ke Whatsapp, dan akhirnya oleh Head of Security Whatsapp dikatakan memang terbukti ada pembobolan," ujar Damar ketika dihubungi, Kamis (23/4/2020).
      Damar Juniarto mengungkapkan pelaku pembobolan menemukan cara mengakali nomor ponsel untuk bisa mengambil alih Whatsapp yang sebelumnya didaftarkan dengan nomor Ravio Patra.

      "Karena OTP dikirim ke nomor Ravio, besar kemungkinan pembobol sudah bisa membaca semua pesan masuk lewat nomor tersebut. Setelah dua jam, Whatsapp tersebut akhirnya berhasil dipulihkan," ungkapnya.

      Damar Junianto menambahkan selama dikuasai "peretas", pelaku menyebarkan pesan palsu berisi sebaran provokasi dengan plotting untuk menempatkan Ravio sebagai salah satu yang akan membuat kerusuhan.

      Bunyinya pesan tersebut: KRISIS SUDAH SAATNYA MEMBAKAR! AYO KUMPUL DAN RAMAIKAN 30 APRIL AKSI PENJARAHAN NASIONAL SERENTAK, SEMUA TOKO YG ADA DIDEKAT KITA BEBAS DIJARAH

      "Saya minta Ravio untuk mengumpulkan dan mendokumentasikan semua bukti. Agar kami bisa memeriksa perangkat tersebut lebih lanjut," ujarnya.

      "Sekitar pukul 19.14 WIB, Ravio menghubungi saya dan mengatakan "Mas, kata penjaga kosanku ada yg nyariin aku rapi udah pergi. Tsmpangnya serem kata dia."

      "Saya instruksikan Ravio untuk matikan handphone dan cabut batere, lalu pergi ke rumah aman." ungkap Damar Juniarto. "Sudah lebih 12 jam tidak ada kabar. Baru saja saya dapat informasi, Ravio ditangkap semalam oleh intel polisi di depan rumah aman."
    • By black_zombie
      Facebook sedang uji coba menyembunyikan jumlah Like di Instagram yang dilakukan di beberapa negara, termasuk Indonesia. Menyeruak kabar bahwa ada motif tersembunyi soal dilenyapkannya tombol love tersebut.
      "Kami komitmen membangun ekosistem positif dan terus mencari cara agar pengguna Instagram merasa lebih nyaman berekspresi dan fokus pada foto dan video yang mereka bagi dan bukan berapa jumlah 'Like' yang mereka dapat," kata Adam Mosseri, Head of Instagram.
      Sumber mantan karyawan Instagram membocorkan bahwa penyembunyian Like bakal meningkatkan jumlah postingan pengguna di media sosial itu.
      Kenapa demikian? Lantaran jumlah Like sudah tak terlihat, user menjadi tak begitu peduli apakah postingan mereka disukai atau tidak. Maka, tidak perlu cemas posting sebanyak apapun.
      Bagi Instagram, teori itu adalah sesuatu yang bagus karena semakin banyak postingan, makin tinggi pula waktu yang dihabiskan di Instagram. Ujung-ujungnya, lebih banyak iklan dapat ditampilkan.
      Pengguna Instagram juga cenderung meniru kebiasaan teman dekat atau keluarga. Jadi, saat sebagian user mulai lebih sering memposting, diharapkan menciptakan efek viral sehingga user lain mengikutinya.
      Belum ada komentar dari Instagram soal informasi tersebut. Masih menurut sang sumber, eksperimen menyembunyikan Like sudah dilakukan internal Instagram sejak tahun 2018.
    • By Forzaken_DT
      Pengadilan federal Manhattan, Amerika Serikat, memvonis Evaldas Rimasauskas, pelaku penipuan terhadap perusahaan sekelas Google dan Facebook dengan hukuman lima tahun penjara. Kedua raksasa teknologi itu diketahui rugi hingga USD 120 juta atau Rp 1,67 triliun akibat penipuan tersebut.
      Tak hanya menghuni sel tahanan, Rimasauskas juga didenda sebesar USD 26,4 juta sebagai ganti rugi.
      "Evaldas Rimasauskas merancang skema berani untuk menipu perusahaan AS lebih dari USD 120 juta dan kemudian menyalurkan dana itu ke rekening bank di seluruh dunia," kata jaksa penutut Geoffrey Berman.
      Semua itu bermula dari aksi Rimasauskas berpura-pura sebagai karyawan dari perusahaan manufaktur elektronik bernama Quanta Computer di Taiwan. Untuk menyakinkan aksinya, pria ini sampai modal stempel perusahaan yang sesuai dengan aslinya hingga email palsu.
      Dari email palsu tersebut, Rimasauskas mengirimkan ke staf Google dan Facebook meminta pembayaran atas barang dan jasa yang dibeli dari Quanta. Pada saat itu, memang Google dan Facebook bermitra dengan Quanta.
      Rimasauskas pun menginstruksikan agar pembayaran ditransfer ke sejumlah bank di luar negeri yang dikuasainya. Ketahuan menipu, Rimasauskas ditangkap pada 2017 lalu dan pada pekan ini baru diputuskan hukumannya.
      "Rimasauskas melakukan pencurian teknologi tinggi dari belahan dunia, tetapi dia dijebloskan di pengadilan federal Manhattan," pungkas Berman.
×
×
  • Create New...