Jump to content

Batuk Karena Rokok Itu Bisa Jadi Penyakit Serius!


Recommended Posts

56832919b2427_CewekMerokok-Ngobas.jpg.ee
Terlalu banyak perokok tidak menyadari risiko penyakit paru obstruktif kronik.

Perokok dihimbau untuk tidak mengabaikan gejala sederhana, seperti batuk-batuk, karena bisa jadi pertanda penyakit serius.

Badan Kesehatan Inggris mengatakan, terlalu banyak perokok tidak menyadari risiko penyakit paru obstruktif kronik (COPD).

Penyakit tersebut, yang menyempitkan saluran pernafasan, dapat membuat penderita perlu bersusah payah untuk melakukan aktivitas ringan; misalnya naik tangga.

COPD sebenarnya istilah umum untuk sejumlah penyakit paru-paru serius termasuk bronkitis kronis dan emfisema.

Belum ada penyembuh

Orang dengan penyakit ini akan kesulitan bernapas, yang terutama disebabkan penyempitan saluran napas dan kerusakan jaringan paru.

Gejala umum termasuk kehabisan napas saat beraktivitas, batuk terus-menerus, dan nyeri dada yang sering.

Pakar kesehatan mengatakan, perokok sering mengabaikan gejala awal berupa batuk; namun dengan melanjutkan kebiasaan merokok, kondisi tersebut memburuk dan merusak kualitas hidup.

Sampai saat ini belum ada penyembuh untuk COPD, namun berhenti merokok, olahraga khusus, dan pengobatan dapat memperlambat perkembangan penyakit itu.

Profesor Dame Sally Davies, kepala petugas medis Inggris, menambahkan, "COPD adalah penyakit paru-paru serius dan tidak dikenali dengan baik.

"Satu hal terbaik yang bisa dilakukan perokok untuk mengurangi risiko penyakit ini dan memperpanjang umur mereka ialah berhenti merokok."

Link to post
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...
  • Similar Content

    • By eunike_grace
      Gangguan bipolar adalah suatu bentuk gangguan psikiatri, dimana suasana hati seseorang berfluktuasi antara keadaan energi tinggi (disebut juga episode manik/mania) dan depresif secara ekstrim. Gangguan bipolar adalah kondisi serius, yang sangat berpotensi mempengaruhi baik kualitas hidup maupun karir seseorang. Kondisi mania umumnya termanifestasi dengan gejala sulit tidur (kadang selama berhari-hari) disertai halusinasi, psikosis, delusi, atau kemarahan paranoid.
      Apa itu Gangguan Bipolar?
      Gangguan bipolar adalah penyakit kompleks yang kemungkinan berasal dari kombinasi faktor genetik dan non-genetik. Orang dengan Bipolar dapat mengalami periode dimana suasana hati dan energinya normal. Tingkat keparahan saat periode terjadinya gangguan dapat berkisar dari sangat ringan hingga ekstrim, dan dapat terjadi secara bertahap atau tiba-tiba dalam jangka waktu beberapa hari hingga beberapa minggu.
      Seiring dengan episode manik atau depresi, pasien dengan gangguan bipolar mungkin memiliki gangguan dalam berpikir. Mereka mungkin juga memiliki distorsi persepsi dan gangguan dalam fungsi sosial.
      Apa Penyebab Gangguan Bipolar?
      Seperti halnya gangguan psikiatri lainnya, penyebab gangguan bipolar tidak diketahui. Yang diketahui adalah bahwa gangguan bipolar melibatkan disregulasi fungsi otak dan kadang-kadang memiliki komponen genetik (dapat diturunkan dalam keluarga).
      Pada Usia Berapakah Biasanya Gangguan Bipolar Didiagnosis?
      Gangguan bipolar biasanya muncul antara usia 15 dan 24 dan berlanjut sepanjang hidup. Tidak banyak kasus yang baru didiagnosis pada orang dewasa atau lansia di atas usia 65 tahun.
      Tingkat keparahan gejala bervariasi dengan tiap individu yang memiliki gangguan bipolar. Sementara beberapa orang bisa tidak merasakan gejala yang berarti, orang lain dapat mengalami gejala berat yang mengganggu kemampuan mereka untuk bekerja dan hidup normal.
      Gangguan bipolar memiliki tingkat kekambuhan yang tinggi jika tidak diobati secara optimal. Pasien dengan mania berat biasanya memerlukan rawat inap untuk menjaga mereka melakjukan perilaku berisiko. Mereka yang mengalami depresi berat juga mungkin perlu dirawat di rumah sakit agar mereka tidak bertindak berdasarkan idealisme bunuh diri atau gejala psikotik (delusi, halusinasi, pemikiran tidak teratur) mereka.
      Sekitar 90% orang dengan gangguan bipolar I, yang merupakan bentuk yang lebih serius, akan mengalami setidaknya satu periode rawat inap karena keluhan psikiatris. Dua dari tiga akan mengalami dua atau lebih periode rawat inap semasa hidup mereka.
      Apa Gejala Depresi Gangguan Bipolar?
      Gejala-gejala depresi klinis yang terlihat dengan gangguan bipolar adalah sama dengan yang terlihat pada gangguan depresi mayor dan termasuk:
      Nafsu makan berkurang dan / atau penurunan berat badan, atau makan berlebihan dan penambahan berat badan Kesulitan berkonsentrasi, mengingat, dan membuat keputusan Kelelahan, penurunan energi, “melambat” Perasaan bersalah, tidak berharga, tidak berdaya Perasaan putus asa, pesimisme Insomnia, bangun pagi, atau tidur berlebihan Kehilangan minat atau kesenangan pada hobi dan aktivitas yang pernah dinikmati, termasuk hubungan intim Gejala fisik persisten yang tidak berespons terhadap pengobatan, seperti sakit kepala, gangguan pencernaan, dan nyeri kronis Suasana hati yang terus-menerus sedih, cemas, atau “kosong” Gelisah, mudah marah Sering berpikir mengenai kematian atau bunuh diri, pernah melakukan percobaan bunuh diri Apa Tanda-Tanda Mania dalam Gangguan Bipolar? Tanda-tanda mania pada gangguan bipolar meliputi: Pikiran terputus dan sangat cepat (kalap) Keyakinan muluk Kegembiraan atau euforia yang tidak pantas Kemarahan yang tidak pantas Perilaku sosial yang tidak pantas Hasrat seksual meningkat Peningkatan kecepatan atau volume bicara Secara signifikan meningkatkan energi Penilaian yang buruk Kebutuhan tidur yang menurun karena energi tinggi Bagaimana Gangguan Bipolar Didiagnosis?
      Seperti kebanyakan gangguan psikiatri, tidak ada tes laboratorium atau metode pencitraan otak untuk mendiagnosis gangguan bipolar. Setelah melakukan pemeriksaan fisik, dokter akan mengevaluasi tanda dan gejala pribadi yang bersangkutan. Dokter Anda juga akan bertanya tentang riwayat kesehatan pribadi dan riwayat keluarganya. Tes laboratorium dapat dilakukan untuk menyingkirkan penyakit medis lain yang dapat memengaruhi suasana hati.
      Selain itu, dokter juga akan berbicara dengan anggota keluarga untuk melihat apakah mereka dapat mengidentifikasi waktu ketika orang yang bersangkutan merasa gembira dan terlalu bersemangat. Karena episode manik yang ditandai dengan kegembiraan mungkin terasa baik atau bahkan normal jika dibandingkan dengan episode depresif, seringkali sulit bagi seseorang dengan gangguan bipolar untuk mengetahui apakah suasana hatinya terlalu berfluktuasi. Mania sering memengaruhi pemikiran, penilaian, dan perilaku sosial dengan cara yang menyebabkan masalah serius dan membuat malu. Misalnya, keputusan bisnis atau keuangan yang tidak bijaksana dapat dibuat ketika seseorang berada dalam fase manik. Jadi diagnosis dini dan perawatan yang efektif sangat penting dengan gangguan bipolar.
      Bagaimana Gangguan Bipolar Diobati?
      Penting untuk diingat, perspektif terhadap obat-obatan ini hendaknya seperti perspektif kita terhadap penggunaan kacamata; tidak ada yang pernah mengatakan bahwa seseorang “mengalami ketergantungan” terhadap kacamata yang digunakan tiap hari bukan? Demikian pula dengan obat-obatan bipolar; obat-obatan tersebut digunakan setiap hari, persis seperti kacamata. Hanya bedanya, kacamata dikenakan pada wajah, sedangkan obat-oabtan bipolar diminum.
      Perawatan untuk gangguan bipolar biasanya melalui penggunaan penstabil suasana hati seperti lithium. Antikonvulsan, antipsikotik, dan benzodiazepin tertentu juga bisa digunakan untuk menstabilkan suasana hati. Kadang-kadang antidepresan diberikan dalam kombinasi dengan penstabil suasana hati untuk meningkatkan suasana hati yang depresi, meskipun antidepresan sering tidak seefektif beberapa penstabil suasana hati atau antipsikotik atipikal tertentu untuk mengobati depresi pada gangguan bipolar.
      Apa yang bisa kita lakukan?
      Seperti semua penyakit psikiatri pada umumnya, kita perlu menyadari bahwa kelainan Bipolar dapat terjadi pada siapapun tanpa terkecuali; tanpa memandang tingkat pendidikan, status ekonomi, status rohani (ya, bahkan rohaniwan sekalipun bisa mengalami Bipolar, dan itu wajar!), maupun status sosialnya. Sama pula seperti orang yang batuk pilek, patah tulang bahkan kanker, kelainan bipolar tidak ada sangkut pautnya dengan “ketahanan mental” atau “ketenangan batin”; orang dengan gangguan Bipolar memiliki respon kimiawi yang berbeda di otaknya dibanding dengan orang pada umumnya. Oleh sebab itu, kita sebaiknya tidak melabeli penderita Bipolar sebagai “orang dengan mental yang lemah” atau bahkan “cengen”; kita tidak mungkin mengatakan hal seperti “ah, tulang patahmu itu hanya karena batinmu yang tidak tenang” kepada orang yang baru mengalami kecelakaan motor kan?
    • By news
      Pasien suspect virus corona meninggal dunia. Pasien dengan inisial D (50) adalah pasien pertama terduga corona yang meninggal dunia di Indonesia pada Selasa (3/3/2020) sekitar pukul 04.00 WIB di Cianjur, Jawa Barat.
      Berdasarkan keterangan PLT Bupati Cianjur, H. Herman Suherman, D merupakan pegawai BUMN. Pasien yang merupakan warga Bekasi tersebut sudah menjalani perawatan sejak Minggu (1/3/2020).
      Informasi dari tim medis mengatakan bahwa pasien D memiliki riwayat perjalanan dari Malaysia.
      “Beliau pegawai Telkom Bekasi, sempat ke Malaysia tanggal 14 sampai 17 Februari 2020,” ujar Herman saat menemui media di lobi RSDH Cianjur, Senin (2/3/2020).
      Pada tanggal 20 Februari, yang bersangkutan mulai merasakan sakit dengan gejala demam dan batuk-batuk. Kemudian pasien mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Mitra Keluarga Bekasi pada tanggal 22-26 Februari.
      "Belum sembuh  100%, pasien meminta pulang," tambahnya.
      Kemudian, D berkunjung ke rumah saudaranya di Kecamatan Ciranjang, Cianjur, sekaligus bermaksud untuk mencari pengobatan lain. Akan tetapi, pada Minggu 1 Maret 2020, kondisi yang bersangkutan ternyata makin menurun dan drop serta merasakan sesak nafas.
      “Beliau berusaha mencari pengobatan alternatif di Cianjur. Tapi tidak ada hasil, akhirnya yang bersangkutan dirawat di RSDH, untuk mendapatkan penanganan medis,” jelas Herman.
      Saat kondisi pasien mulai membaik, ada rencana untuk dirujuk ke Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung pada malam harinya. Namun, belum sempat dibawa, sudah meninggal duni pada dini hari.
      Herman menegaskan, pihak RSDH masih belum bisa memastikan apakah pasien tersebut positif terjangkit virus corona atau tidak.
      "Pihak rumah sakit masih menunggu hasil uji laboratorium yang dikirimkan ke Kementerian Kesehatan RI di Jakarta. Jadi ini masih suspect, belum tentu positif. Tapi memang beliau mengeluhkan sesak nafas,” terang Herman.
      Karena itu, Herman mengimbau masyarakat Cianjur agar tidak panik dan tidak mempercayai informasi yang tersebar di media sosial.
    • By BincangEdukasi
      Dingin dan kehujanan seringkali menjadi penyebab seseorang terserang flu yang berakibat hidung jadi mampet dan tersumbat. Namun demikian ada juga sebagain orang yang meski dalam musim dingin atau habis kehujanan dia tidak terkenan flu. Lalu apa sebenarnya penyebab seseorang jadi mudah atau rawan terkena flu?
      1. Kurang tidur
      Memiliki jam tidur lebih sedikit daripada yang dibutuhkan membuat tubuh lelah, kurang aktif dan tak kuat pada cuaca dingin.
      2. Melewatkan makan
      Bila tak mengasup makanan atau makan dalam jumlah tak mencukupi, tubuh akan menghemat energi dan menghasilkan panas lebih sedikit. Akibatnya, tubuh lebih mudah kedinginan.
      3. Penyakit Raynaud
      Penyakit ini membuat pembuluh darah dan arteri mengecil sehingga pasokan darah ke kulit terbatas. Akibatnya kulit mengerut dan lebih berisiko kedinginan.
      4. Anemia
      Sebuah tes darah sederhana dapat mendeteksi jika Anda mengalami anemia. Pada wanita, tingkat estrogen yang berfluktuasi memicu anemia, teruatama saat menstruasi. Inilah yang membuat seseorang lebih sensitif terhadap suhu dingin.
      5. Berat badan rendah
      Rasa dingin yang diderita bisa terkait massa otot dan lemak tubuh. Otot menghasilkan panas dan lemak berperan sebagai insulator yang menjaga tubuh tetap hangat. Mereka yang kekurangan massa tubuh dan lemak lebih cenderung kedinginan.
    • Guest Metrotvnews
      By Guest Metrotvnews
      Metrotvnews.com, Jakarta: Sakit kepala terasa menyiksa. Tak jarang mereka yang mengidap sakit kepala, terganggu aktivitas hariannya.

      Sakit kepala terbagi dalam kategori ringan, sedang, hingga berat. Pada sakit kepala ringan, obat-obatan pereda nyeri bisa menjadi solusi untuk menyembuhkan.

      Namun, bagaimana dengan sakit kepala berat? Selain minum obat, Anda harus beristirahat.

      Sakit kepala bisa dihindari dengan melakukan solusi jangka panjang, berikut ini.

      1. Tidur selama delapan jam setiap hari. Sakit kepala sering muncul jika Anda kekurangan waktu tidur.

      2. Hindari stres. Cobalah rileks dan buat diri sendiri merasa santai, jauh dari pikiran dan tekanan. Lakukan aktivitas yang disukai seperti yoga, berenang, bersepeda, lari dan lainnya.

      3. Makan setidaknya lima kali sehari, setiap tiga hingga empat jam. Hindari makanan yang bisa menurunkan gula darah.

      4. Saat duduk, sebaiknya hindari posisi membungkuk. Selain memicu sakit kepala karena tertekannya tulang leher dan tengkuk, posisi duduk ini dapat menyebabkan kelainan postur tulang.

      5. Hindari dehidrasi dengan minum setidaknya delapan gelas air sehari.

      6. Kurangi konsumsi kafein seperti kopi, teh, dan cola. Kafein yang tidak diimbangi cukup air air putih menyebabkan tubuh dehidrasi.

      7. Batasi asupan alkohol. Hindari pula minum terlalu banyak alkohol sebelum tidur. Minuman alkohol dapat mengganggu waktu  tidur.

      8. Perbanyak asupan makanan alami. Terlalu banyak makan makanan olahan seperti makanan cepat saji, dapat memicu sakit kepala.www.metrotvnews.com
    • Guest Metrotvnews
      By Guest Metrotvnews
      Metrotvnews.com, Jakarta: Influenza merupakan penyakit yang sering menyerang saat musim hujan atau pancaroba. Siapa saja bisa terserang flu. Namun, ada beberapa orang yang lebih mudah terserang.
      Dikuitip dari situs World Health Organization (WHO), kelompok orang yang dimaksud umumnya yang memiliki kekebalan rendah seperti ibu hamil, anak-anak berusia 6-59 bulan, orang tua, orang-orang dengan kondisi medis kronis tertentu seperti HIV/AIDS, asma, penyakit hati kronik, atau penyakit paru-paru dan Kesehatan pekerja.
      Influenza musiman menyebar dengan mudah, dengan cepat bertransmisi di tempat-tempat seperti sekolah dan panti jompo. Ketika orang yang terinfeksi batuk atau bersin, uap yang mengandung virus tersebar ke udara dan menyebar ke orang-orang di dekatnya yang menghirup.
      Virus ini juga dapat menyebar melalui tangan-tangan yang terkontaminasi dengan virus influenza. Jika sudah terinfeksi, penderita akan mengalami demam, batuk, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, hingga hidung tersumbat.
      Kebanyakan orang pulih dari demam dan gejala lain dalam seminggu tanpa memerlukan perhatian medis.
      Mencuci tangan dengan sabun dan memakai masker adalah cara paling mudah dan tepat untuk menghindari flu.
      www.metrotvnews.com
×
×
  • Create New...