Jump to content
  • Popular Contributors

    Nobody has received reputation this week.

  • Our picks

    • Wanita Ini Baru Tau Pekerjaan Suaminya Setelah Suaminya Meninggal
      Seorang wanita menemukan fakta mengejutkan tentang suaminya yang telah dinikahinya selama 64 tahun.

      Kenyataan mengejutkan tersebut bahkan baru diketahuinya setelah sang suami yang bernama Glyn meninggal dunia.
      • 0 replies
    • Kamu Harus Tau Tentang Amnesia
      Apa itu Amnesia?

      Amnesia atau dikenal juga sebagai sindrom amnesik, adalah kondisi yang menyebabkan kehilangan memori. Hal ini meliputi kehilangan informasi, fakta-fakta, dan pengalaman personal. Ada banyak kondisi kesehatan yang dapat menyebabkan amnesia, seperti dementia, stroke, atau cedera kepala.
      • 0 replies
c0d1ng

Kata Petinggi ZTE kalau Indonesia Masih Punya Tiga Tantangan Besar Untuk Wujudkan LTE

Recommended Posts

post-100-0-91994200-1401119729_thumb.jpg

 

Teknologi jaringan 4G-LTE, yang kerap dinyatakan sebagai teknologi komunikasi masa depan Indonesia, nyatanya hingga kini masih menemui beberapa tantangan dan kendala yang menghambat pertumbuhannya di Indonesia. Dalam pertemuan eksklusif dengan para awak media di Jakarta kemarin malam (22/5), para petinggi perusahaan teknologi asal Tiongkok ini sepakat mengutarakan tiga tantangan besar yang menghadang penerapan LTE di Indonesia.

Penerapan teknologi LTE memang menjadi “drama” tersendiri di Indonesia. Seperti yang diungkapkan oleh Alex Wang selaku Vice President ZTE Corporation, pihaknya mengungkapkan penerapan LTE di Indonesia memiliki sejumlah tantangan yang disimpulkan dapat menghambat perjalanan Indonesia menuju koneksi jaringan internet cepat di masa mendatang.

Perlu diketahui, ZTE sendiri merupakan vendor telekomunikasi yang melayani dukungan perangkat teknologi bagi para operator telekomunikasi di Indonesia untuk menerapkan jaringan LTE. Sebagai contoh, perangkat modem nirkabel BOLT! juga diketahui menggunakan perangkat mereka. Secara global, ZTE telah membantu mewujudkan teknologi LTE di lebih dari 40 negara.

Penerapan LTE tergantung keputusan pemerintah Indonesia

Dalam sesi wawancara eksklusif yang diadakan di bilangan Senayan, Jakarta Selatan. Alex Wang mengungkapkan tantangan yang pertama ada pada koneksi dan penyebaran jaringan internet di Indonesia yang dinilainya masih sangat lambat dan belum menjangkau ke seluruh pengguna. Ia mengatakan, penerapan LTE akan sangat terbantu apabila koneksi internet yang mumpuni telah mampu menjangkau ke seluruh wilayah, menurutnya jika hal itu telah diterapkan teknologi LTE akan sangat dengan mudah masuk secara masif di Indonesia.

Tantangan kedua, ia menilai dari segi kesiapan infrastruktur jaringan di Indonesia yang dinilainya juga masih belum siap. Ia mengaku secara dukungan infrastruktur, ZTE siap untuk mengakomodir kebutuhan tersebut, namun pihaknya harus menunggu kesiapan Indonesia secara keseluruhan.

“ZTE telah sangat siap mendukung penerapan LTE dengan segala infrastruktur yang telah kami siapkan, namun kembali lagi pertanyaannya seberapa cepatkah infrastruktur LTE yang bisa digunakan di Indonesia? Lalu seberapa siap penyedia infrastruktur lain dapat menyediakannya dalam waktu dekat?” ujar Alex kepada wartawan.

Melanjutkan tantangan yang dimiliki Indonesia, Jess Li, Vice President Global Marketing and Research ZTE USA mengatakan kepada DailySocial, tantangan yang hingga kini “masih saja” dihadapi oleh Indonesia dalam penerapan LTE yakni kesiapan regulasi pemerintah yang hingga detik ini tak kunjung matang. Ia menyimpulkan, jika infrastruktur dan segala bentuk investasi telah siap, jika tak didukung dengan regulasi yang jelas dari pemerintah maka penerapan LTE di Indonesia tak akan bisa berjalan mulus.

“Dalam mewujudkan LTE di Indonesia, kami telah menjajaki kerja sama dengan beberapa pihak operator lokal, namun hingga saat ini kami masih harus tetap menunggu regulasi dari pemerintah akan aturan main LTE yang jelas, jika dalam beberapa waktu mendatang regulasi tak kunjung tiba maka Indonesia akan semakin tertinggal dengan negara-negara lain,” papar Jess Li.

Melihat tantangan yang terakhir dipaparkan, tak aneh jika penerapan LTE di Indonesia sangat lambat dan sangat tertinggal jauh dengan negara lain. Beberapa kendala yang dipaparkan tadi juga mau tak mau bisa berimbas kepada bisnis telekomunikasi di Indonesia, sepeti yang salah satunya telah terjadi ialah beberapa pemain industri telekomunikasi di Indonesia masih fokus berinvestasi dalam teknologi jaringan 3G yang dianggap sudah uzur di beberapa negara maju dan berkembang lainnya. Semoga saja tantangan yang dipaparkan tadi dapat menjadi perhatian bersama baik dari pihak pemerintah maupun para pemangku bisnis telekomunikasi Indonesia.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...

  • Similar Content

    • By ngesotin

      Khoirul Anwar dianggap gila. Ditertawakan. Bahkan dicemooh. Idenya dianggap muskil. Tak masuk akal. Semua ilmuwan yang berkumpul di Hokkaido, Jepang, itu menganggap pemikiran yang dipresentasikan itu tak berguna.
      Dari Negeri Sakura, Anwar terbang ke Australia. Tetap dengan ide yang sama. Setali tiga uang. Ilmuwan negeri Kanguru itu juga memandangnya sebelah mata. Pemikiran Anwar dianggap sampah.
      Pemikiran Anwar yang ditertawakan ilmuwan itu tentang masalah power atau catu daya pada Wi-Fi. Dia resah. Saban mengakses internet, catu daya itu kerap tak stabil. Kadang bekerja kuat, sekejap kemudian melemah. Banyak orang mengeluh soal ini.
      Tak mau terus mengeluh, Anwar memutar otak. Pria asal Kediri, Jawa Timur, itu ingin memberi solusi. Dia menggunakan algoritma Fast Fourier Transform (FFT) berpasangan.
      FFT merupakan algoritma yang kerap digunakan untuk mengolah sinyal digital. Anwar memasangkan FFT dengan FFT asli. Dia menggunakan hipotesis, cara tersebut akan menguatkan catu daya sehingga bisa stabil.
      Ide itulah yang diolok-olok ilmuwan pada tahun 2005. Banyak ilmuwan beranggapan, jika FFT dipasangkan, keduanya akan saling menghilangkan. Tapi Anwar tetap yakin, hipotesa ini menjadi solusi keluhan banyak orang itu.
      Ilmuwan Jepang dan Australia boleh mengangapnya sebagai dagelan. Tapi dia tak berhenti. Anwar kemudian terbang ke Amerika Serikat. Memaparkan ide yang sama ke para ilmuwan Paman Sam.
      Tanggapan mereka berbeda. Di Amerika, Anwar mendapat sambutan luar biasa. Ide yang dianggap sampah itu bahkan mendapat paten. Diberi nama Transmitter and Receiver. Dunia menyebutnya 4G LTE. Fourth Generation Long Term Evolution.
      Yang lebih mencengangkan lagi, pada 2008 ide yang dianggap gila ini dijadikan sebagai standar telekomunikasi oleh International Telecommunication Union (ITU), sebuah organisasi internasional yang berbasis di Genewa, Swiss. Standar itu mengacu prinsip kerja Anwar.
      Dua tahun kemudian, temuan itu diterapkan pada satelit. Kini dinikmati umat manusia di muka Bumi. Dengan alat ini, komunikasi menjadi lebih stabil.
      Karya besar ini ternyata diilhami masa kecil Anwar. Dulu, dia suka menonton serial kartun Dragon Ball. Dalam film itu, dia terkesan dengan sang lakon, Son Goku, yang mengeluarkan jurus andalan berupa bola energi, Genkidama.
      Untuk membuat bola tersebut, Goku tidak menggunakan energi dalam dirinya yang sangat terbatas. Goku meminta seluruh alam agar menyumbangkan energi. Setelah terkumpul banyak dan berbentuk bola, Goku menggunakannya untuk mengalahkan musuh yang juga saudara satu sukunya, Bezita.
      Prinsip jurus tersebut menjadi inspirasi bagi Anwar. Dia menerapkannya pada teknologi 4G itu. Jadi, untuk dapat bekerja maksimal, teknologi 4G menggunakan tenaga yang didapat dari luar sumber aslinya.
      ***
      Ya, karya besar ini lahir dari orang desa. Anwar lahir di Kediri, Jawa Timur, pada 22 Agustus 1978. Dia bukan dari kalangan ningrat. Atau pula juragan kaya. Melainkan dari kalangan jelata.
      Sang ayah, Sudjiarto, hanya buruh tani. Begitu pula sang bunda, Siti Patmi. Keluarga ini menyambung hidup dengan menggarap sawah tetangga mereka di Dusun Jabon, Desa Juwet, Kecamatan Kunjang.
      Saat masih kecil, Anwar terbiasa ngarit. Mencari rumput untuk pakan ternak. Pekerjaan ini dia jalani untuk membantu kedua orangtuanya. Dia ngarit saban hari. Setiap sepulang sekolah.
      Meski hidup di sawah, bukan berarti Anwar tak kenal ilmu. Sejak kecil dia bahkan mengenal betul sosok Albert Einstein dan Michael Faraday. Ilmuwan dunia itu. Anwar suka membaca buku-buku mengenai dua ilmuwan tersebut, padahal tergolong berat.
      Hobi ini belum tentu dimiliki anak-anak lain. Dan dari dua tokoh inilah, Anwar menyematkan cita-cita menjadi ‘The Next Einstein’ atau ‘The Next Faraday’.
      Cita-cita tersebut hampir saja musnah. Saat sang ayah meninggal pada tahun 1990. Sang tulang punggung tiada. Siapa yang akan menopang keluarga? Perekonomian sudah tentu tersendat. Padahal kala itu Anwar baru saja menapak sekolah dasar.
      Anwar tentu khawatir, sang ibu tak mampu membiayai sekolah. Apalagi hingga perguruan tinggi. Tapi Anwar memberanikan diri, mengungkapkan keinginan bersekolah setinggi mungkin kepada sang ibu. Kepada emak.
      Anwar menyiapkan diri. Sudah siap apabila sang emak menyatakan tidak sanggup. Tapi jawaban yang dia dengar di luar dugaan. Bu Patmi malah mendorongnya untuk bersekolah setinggi mungkin.
      “Nak, kamu tidak usah ke sawah lagi. Kamu saya sekolahkan setinggi-tingginya sampai tidak ada lagi sekolah yang tinggi di dunia ini,” ucap Anwar terbata, karena tak kuasa menahan haru saat mengingat perkataan emaknya itu.
      Perkataan itu menjadi bekal Anwar untuk melanjutkan langkah meraih mimpi. Lulus SD, dia diterima di Sekolah Menengah Pertama (SMP) 1 Kunjang. Kemudian dia meneruskan ke Sekolah Menengah Atas (SMA) 2 Kediri. Salah satu sekolah favorit di Kota Tahu itu.
      Saat SMA itulah dia memilih meninggalkan rumah. Dia tinggal di rumah kost, tidak jauh dari sekolah. Jarak rumah dengan sekolah memang lumayan jauh. Dia sadar pilihan ini akan menjadi beban sang ibu.
      Masalah itu membuat Anwar harus memutar otak. Dia lalu memutuskan untuk tidak sarapan demi menghemat pengeluaran. Tetapi, itu bukan pilihan tepat. Prestasi Anwar turun lantaran jarang sarapan.
      “Karena tidak sarapan, setiap jam sembilan pagi kepala saya pusing,” kata dia.
      Kondisi Anwar sempat terdengar oleh ibu salah satu temannya. Merasa prihatin dengan kondisi Anwar, ibu temannya itu menawari dia tinggal menumpang secara gratis. Anwar tidak perlu lagi merasakan pusing saat sekolah. Sarapan sudah terjamin dan prestasi Anwar kembali meninggi.
      Lulus dari SMA 2 Kediri, Anwar lalu melanjutkan pendidikan ke Institut Teknologi Bandung (ITB). Dia diterima sebagai mahasiswa Jurusan Teknik Elektro dan ditetapkan sebagai lulusan terbaik pada 2000. Dia kemudian mengincar beasiswa dari Panasonic dan ingin melanjutkan ke jenjang magister di sebuah universitas di Tokyo.
      Sayangnya, Anwar tidak lolos seleksi universitas tersebut. Dia merasa malu dan tidak ingin dipulangkan. Alhasil, dia memutuskan beralih ke Nara Institute of Science and Technology NAIST dan diterima.
      Di universitas tersebut, Anwar mengembangkan tesis mengenai teknologi transmitter dan menggarap disertasi bertema sama dalam program doktoral di universitas yang sama pula.
      Dan Anwar, kini telah menelurkan karya besar. Temuan yang ditertawakan itu dinikmati banyak orang. Termasuk para ilmuwan yang mengolok-olok dulu.
    • By RendyGunawan
      4G/LTE, bagaimana kabarnya di Indonesia? Seperti yang kita ketahui, teknologi jaringan seluler berkecepatan tinggi ini masih belum lama hijrah di tanah air, dan cakupannya pun masih belum seluas jaringan 3G. Namun apakah pertumbuhannya akan terus berjalan lambat seperti itu?
      Sama sekali tidak. Buat yang sudah lebih dulu pesimis, ketahuilah bahwa seminggu ini saja ada begitu banyak kabar seputar perkembangan jaringan 4G/LTE di Indonesia. Tanpa perlu berbasa-basi, simak ringkasan yang kami ambil dari beberapa sumber berikut ini.
      4G/LTE 1800 MHz menggantikan 900 MHz
      Mulai awal bulan Juli kemarin, sejumlah operator telah melangsungkan uji coba jaringan 4G/LTE di frekuensi 1800 MHz. Menkominfo Rudiantara sendiri menegaskan bahwa ekosistem di band(pita) 1800 MHz ini lebih optimal ketimbang 900 MHz. Pada kesempatan lain, perwakilan XL Axiata juga sempat memaparkan bahwa implementasi jaringan 4G/LTE di frekuensi 1800 MHz ini memungkinkan pelanggan untuk mencapai kecepatan akses data hingga 100 Mbps.
      Pertanyaan yang terpenting, kapan kita bisa menikmatinya? Sang Menkominfo sendiri memastikan bahwa pembangunan infrastruktur 4G/LTE 1800 MHz akan selesai akhir tahun ini juga. Dengan kata lain, awal tahun 2016 semua kawasan Indonesia sudah bisa dijangkau oleh jaringan 4G/LTE dalam frekuensi tersebut.
      Selagi membahas soal implementasi teknologi 4G/LTE, silakan Anda simak survei pendapat masyarakat terkait hal tersebut. Versi singkatnya: hampir semua responden melihat implementasi 4G/LTE sebagai hal yang positif, meski baru seperempat dari mereka yang sudah menjajalnya.
       
      Gerak cepat tiga besar operator GSM

      Menyambung soal jaringan 4G/LTE 1800 MHz di atas, rupanya ada keputusan menarik yang diambil Telkomsel dan XL. Keduanya memilih menguji layanannya di kawasan Indonesia Timur;Telkomsel di Makassar, sedangkan XL di Lombok. Tentu saja ada pertimbangan khusus terkait tingkat penggunaan dan semacamnya, namun saya melihat langkah ini bisa jadi merupakan cara mereka menunjukkan bahwa tidak cuma Indonesia bagian barat saja yang ‘diperlakukan seperti raja,’ mengingat performanya di bagian barat sudah cukup oke, seperti yang sempat TRL coba langsung awal bulan Juni kemarin.
      Di saat yang sama, XL rupanya juga punya ‘jurus’ untuk menggaet lebih banyak konsumen layanan 4G/LTE-nya. Di kawasan-kawasan yang masih didominasi perangkat 2G, XL menawarkan program bundling handset 4G. Intinya, mengarahkan konsumen agar beralih dari 2G langsung ke 4G LTE.
      Bagaimana dengan Indosat? Selain berupaya untuk terus memperluas jaringan 4G/LTE-nya, Indosat juga punya cara tersendiri untuk menarik minat konsumen. Caranya adalah denganmenyediakan berbagai macam konten yang bisa di-stream dengan maksimal menggunakan layanan 4G/LTE. Konten-konten tersebut dikemas dalam tiga fasilitas khusus yang mereka namai Arena Musik, Arena Video dan Arena Game.
      Lain halnya dengan Tri. Operator bermaskot robot tersebut hingga kini belum menawarkan layanan 4G/LTE. Kendati demikian, petinggi Tri menjelaskan bahwa mereka lebih memilihmenunggu proses penataan frekuensi 1800 MHz rampung secara menyeluruh di akhir tahun 2015. Barulah setelah itu, mereka akan segera menjalankan komersialisasi layanan 4G/LTE secara bertahap di sejumlah kota.
      Beralih ke pemain yang dulunya menjalankan layanan CDMA, Smartfren akan beralih dari CDMA dengan menghadirkan layanan 4G/LTE, memanfaatkan dua frekuensi yaitu 2300 MHz dan 850 MHz. Pelanggan CDMA akan tetap dilayani sampai beralih ke 4G/LTE. Meski berbeda sendiri, performanya tidak kalah, terbukti dari hasil pengujian TRL beberapa minggu yang lalu. Menurut rencana layanan 4G/LTE Smartfren ini akan rilis komersil pada semester 2 2015 di 22 kota.
       
      Bangkitnya operator non-mainstream

       
      Nama-nama besar operator di atas memang selangkah lebih awal, tapi bukan berarti monopoli pasar bisa diterapkan begitu saja. Sekedar mengingatkan, layanan 4G/LTE pertama di Indonesia justru berasal dari operator non-mainstream, yakni Bolt, pada akhir tahun 2013 kemarin.
      Nah, kesuksesan Bolt ini mungkin saja memicu sosok-sosok baru lain untuk mengikuti jejaknya. Yang terbaru adalah PT Berca Hardayaperkasa. Mereka baru saja memperkenalkan layanan 4G/LTE yang mereka beri nama Hinet. Sebelum ini, perusahaan yang sama telah memiliki layanan berteknologi WiMAX, akan tetapi pada akhirnya mereka harus mengikuti tren dan mengadopsi teknologi 4G/LTE yang memang dinilai jauh lebih baik ketimbang WiMAX.
      Hinet sendiri memanfaatkan teknologi 4G/LTE berbasis time-division duplex (TDD) di frekuensi 2,3 GHz, lain daripada yang lain. Terlepas dari itu, Hinet menawarkan kecepatan internet maksimum 125 Mbps dalam harga yang kompetitif. Satu catatan tambahan, Hinet hanya menawarkan layanan 4G/LTE dalam bentuk data saja, tanpa fungsi seluler, sama seperti yang diterapkan Bolt.
      Kalau Hinet menyasar konsumen perangkat mobile, tidak demikian dengan MyRepublic. Perusahaan asal Singapura ini sudah resmi beroperasi di tanah air dan menawarkan layanan internet rumahan dengan harga yang amat sangat berani. Yang paling murah, ada paket 10 Mbps dengan harga Rp 200 ribu – tidak terlalu istimewa – namun Anda akan terkejut melihat paket termahalnya, yaitu 300 Mbps seharga Rp 900 ribu saja!
       
      Regulasi TKDN disahkan
      Diwacanakan pada awal tahun ini, regulasi Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) akhirnya disahkan. Apa artinya? Gampangnya, mulai 1 Januari 2017, smartphone 4G/LTE berbasisfrequency-division duplex (FDD) yang ingin masuk ke pasar Indonesia haruslah memiliki nilai TKDN sebesar 30%.
      Masih bingung? Well, pada dasarnya, smartphone–smartphone tersebut haruslah mengemas komponen-komponen buatan dalam negeri. Meski demikian, komponen-komponen yang dimaksud tidak harus berupa hardware, tetapi juga software. Dengan demikian, langkah yang diambil vendor pun bisa bermacam-macam.
      Jadi, kalau memang membangun pabrik perakitan di sini tidak memungkinkan, suatu vendor bisa saja berfokus pada pengembangan software dengan cara menanamkan investasi atau menuntun dan membimbing para developer lokal sehingga ekosistem aplikasi buatan dalam negeri bisa semakin berkembang.
      Smartphone 4G/LTE tidak lagi mahal

      Kalau beberapa tahun yang lalu 4G/LTE adalah salah satu fitur unggulan smartphone kelas atas, sekarang anggapan itu sudah tidak berlaku lagi. Tidak percaya? Coba lihat Bolt Powerphone E1. Spesifikasinya lumayan, dan sistem operasi Android yang dijalankan pun sudah merupakan versi terbaru. Namun yang terpenting, dukungan 4G/LTE ia kemas dalam harga hanya Rp 1 juta.
      Oke, Bolt mungkin bisa melakukannya karena memiliki layanan internet sendiri, bagaimana dengan vendor lainnya? Well, Anda bisa melirik Himax, yang baru saja menggebrak pasar dengan smartphone 4G/LTE berharga amat terjangkau. Himax Pure 3S namanya, dan pemasarannya baru saja dimulai pada tanggal 8 Juli 2015 ini. Berapa harganya? Rp 1,4 juta, dan saya yakin Anda akan sedikit tidak percaya melihat spesifikasi hebatnya. (kalo yang ini cari sendiri ya)
       
      Sumber : trenologi.com
    • By c0d1ng
      ZTE Corporation dan Telkom Indonesia baru saja mengumumkan komitmennya untuk membangun sebuah Pusat Inovasi Bersama yang akan berfokus pada pengembangan teknologi video berbasis Internet Protocol (IP-based video). MOU yang melandasi kerja sama ini sendiri telah ditandatangani  pada saat Mobile World Congress yang berlangsung di Barcelona tanggal 2 Maret 2015 lalu.
       
      Pusat Inovasi Bersama tersebut akan menghadirkan kolaborasi antara teknologi ZTE dalam solusi IPTV (Internet Protocol Television) dan OTT (Over the Top Technology) dengan layanan telekomunikasi yang dimiliki Telkom. Pusat penelitian ini juga akan berfokus pada penelitian pengembangan teknologi IPTV dan OTT, membangun kerja sama dengan penyedia teknologi terkait, dan mengembangkan layanan baru dengan teknologi IPTV dan OTT.
       
      Sebelumnya ZTE juga telah mendapatkan kontrak untuk jaringan IPTV Telkom Indonesia, di bawah merek dagang UseeTV Cable. Dalam kontrak kerja sama tersebut, ZTE akan mendukung Telkom Indonesia dalam pembangunan, pengoperasian, dan perawatan jaringan IPTV tingkat bit rendah (low-bit-rate) hingga tahun 2016 mendatang. Selain itu ZTE juga memberikan dukungan berupa pengoperasian, perawatan, hosting peralatan serta menyediakan layanan end-to-end untuk optimalisasi jaringan.
       
      Sistem IP-based video milik ZTE sendiri saat ini diklaim telah melayani 26 juta lebih pengguna aktif di lebih dari 60 titik penyebaran di seluruh dunia. Tak heran jika Telkom cukup menyambut baik kerja sama ini. Dalam laporan survei yang dilansir oleh IDC dan Ovum, produk IPTV dan OTT milik ZTE berada pada peringkat pertama di pasar Tiongkok.
       
      Seiring dengan makin diminatiinya produk berbasis IPTV dan OTT di Indonesia, membuat para vendor penyedia layanan tersebut makin sigap dalam menghadapi persaingan. Telkom menjadi salah satu dari beberapa penyedia layanan besar yang terdapat di Indonesia. Banyak hal yang harus dioptimalkan untuk menjadikan layanan ini benar-benar bisa dinikmati secara maksimal dan menyeluruh di Indonesia.
      Sebagai sebuah produk berbasis managed services, banyak pekerjaan rumah yang harus dihadapi oleh para vendor. Penyediaan jaringan yang lebih stabil, dengan tantangan geografis dan transisi pengguna dari layanan tradisional menuju yang lebih modern harus segera ditata untuk benar-benar bisa menghasilkan value layanan yang optimal.
       
      Pusat Inovasi Bersama tersebut diharapkan tidak hanya menjadi wujud formalitas saja, tetapi bisa memberikan dampak baik dengan hadirnya berbagai solusi dan inovasi layanan IP-based video yang berasal dari kreativitas pengembang dalam negeri.
    • By RendyGunawan
      Tak dapat dipungkiri, layanan Bolt yang menawarkan kecepatan 4G sukses menyita perhatian pengguna internet Indonesia. Namun karena belum meratanya coverage, di beberapa titik kecepatan 4G Bolt terkadang masih di bawah standar. Atas kejadian ini, petinggi Bolt pun menyampaikan penyataan maaf.

      "Atas beberapa kejadian terkait menurunnya kecepatan 4G Bolt di beberapa area, kami meminta maaf. Yang pasti kami tengah berusaha memperbaiki masalah tersebut agar layanan berjalan konsisten di seluruh wilayah," ujar Devid Gubiani, CTO Internux, perusahaan di balik layanan Bolt dalam acara di SCBD, Jakarta, Senin (20/1/2014).

      Guna mengurangi keluhan tersebut, Bolt menyatakan mulai menggeber penambahan BTS di berbagai tempat di Jabodetabek. Selain berusaha menjaga konsistensi layanan, cara ini adalah usaha Bolt yang sekaligus ingin memperluas jangkauannya.

      "Kami telah menambah lagi 100 BTS guna menjangkau seluruh wilayah Jabodetabek," tambah Liryawati, CMO Bolt.

      Pun begitu, Devid mengutarakan alasan kemungkinan terjadinya drop kecepatan tersebut. Menurutnya, pengguna yang mengalami hal tersebut berada pada posisi blind-spot dimana coverage tidak begitu kuat menjangkaunya.

      "Jadi, BTS kita memiliki radius coverage sekitar 200 hingga 300 meter antara tiap BTS-nya. Kemungkinan pengguna yang mengalami turunnya kecepatan dikarenakan berada di posisi yang tidak terjangkau antara tiap BTS tersebut," pungkas Devid.
       
       
       
       
      Sumber: inet.detik.com
    • By RendyGunawan
      ZTE bikin KEPO Ndral. Vendor asal China itu telah menyiapkan ponsel terbarunya dengan mengusung nama Nubia X6. Konon, ponsel ini dibekali kamera 75 megapixel.    Wow! itulah kata pertama yang mungkin terlontar dari orang yang mendengar rencana ini. Tentu saja resolusi kamera ponsel sebesar itu belum pernah ada yang membuatnya.    Alhasil, seperti dilansir GSM Arena, ketika kabar ini dilontarkan pertama kali oleh analis dari firma Mobile China banyak yang dibuat penasaran. "Apa benar?" demikian pertanyaan banyak orang di benaknya.   Sayang, ZTE sejauh ini masih belum memberi konfirmasi. Dalam bocoran yang didapat, Nubia X6 hampir pasti memang bakal diluncurkan.    Ponsel ini mengusung slogan 'unstoppable metal temptation', lantaran bakal dikemas dengan material metal mumpuni.   Namun untuk urusan kekuatan kamera yang bakal digunakan, ZTE masih bermisteri. Alhasil, isu seputar ZTE Nubia X6 yang bakal dibenamkan kamera 75 MP semakin liar.   Sebelumnya, Oppo juga telah membuat banyak penggila gadget terkaget-kaget. Produsen ponsel asal Negeri Tirai Bambu itu dilaporkan bakal membuat ponsel dengan kamera 50 megapixel   Kabar tersebut beredar setelah tersebarnya sebuah foto yang diklaim diambil dari Oppo Find 7. Foto tersebut memiliki ukuran 9,7 MB, dengan resolusi mencapai 8160x6120.   Foto yang mengambil objek sebuah mobil itu diklaim Oppo diambil di salah satu jalan di Barcelona, tapi dilihat dari nomor kendaraannya jelas mobil tersebut berasal dari Florida.    Layar Oppo Find 7 memang sudah pasti membentang dengan ukuran 5,5 inch, namun selain hadir dengan resolusi 2K juga akan hadir versi Full HD alias 1920x1080 pixel.   Isu lain mengenai spesifikasi Find 7 adalah penggunaan prosesor yang dikatakan bakal mengandalkan Snapdragon 805 yang merupakan prosesor terbaru Qualcomm. kita tunggu aja ndral kebenaran kabar burung yang satu ini 
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy