Jump to content
  1. panji_ukbar

    panji_ukbar

  • Similar Content

    • By eunike_grace
      Gangguan bipolar adalah suatu bentuk gangguan psikiatri, dimana suasana hati seseorang berfluktuasi antara keadaan energi tinggi (disebut juga episode manik/mania) dan depresif secara ekstrim. Gangguan bipolar adalah kondisi serius, yang sangat berpotensi mempengaruhi baik kualitas hidup maupun karir seseorang. Kondisi mania umumnya termanifestasi dengan gejala sulit tidur (kadang selama berhari-hari) disertai halusinasi, psikosis, delusi, atau kemarahan paranoid.
      Apa itu Gangguan Bipolar?
      Gangguan bipolar adalah penyakit kompleks yang kemungkinan berasal dari kombinasi faktor genetik dan non-genetik. Orang dengan Bipolar dapat mengalami periode dimana suasana hati dan energinya normal. Tingkat keparahan saat periode terjadinya gangguan dapat berkisar dari sangat ringan hingga ekstrim, dan dapat terjadi secara bertahap atau tiba-tiba dalam jangka waktu beberapa hari hingga beberapa minggu.
      Seiring dengan episode manik atau depresi, pasien dengan gangguan bipolar mungkin memiliki gangguan dalam berpikir. Mereka mungkin juga memiliki distorsi persepsi dan gangguan dalam fungsi sosial.
      Apa Penyebab Gangguan Bipolar?
      Seperti halnya gangguan psikiatri lainnya, penyebab gangguan bipolar tidak diketahui. Yang diketahui adalah bahwa gangguan bipolar melibatkan disregulasi fungsi otak dan kadang-kadang memiliki komponen genetik (dapat diturunkan dalam keluarga).
      Pada Usia Berapakah Biasanya Gangguan Bipolar Didiagnosis?
      Gangguan bipolar biasanya muncul antara usia 15 dan 24 dan berlanjut sepanjang hidup. Tidak banyak kasus yang baru didiagnosis pada orang dewasa atau lansia di atas usia 65 tahun.
      Tingkat keparahan gejala bervariasi dengan tiap individu yang memiliki gangguan bipolar. Sementara beberapa orang bisa tidak merasakan gejala yang berarti, orang lain dapat mengalami gejala berat yang mengganggu kemampuan mereka untuk bekerja dan hidup normal.
      Gangguan bipolar memiliki tingkat kekambuhan yang tinggi jika tidak diobati secara optimal. Pasien dengan mania berat biasanya memerlukan rawat inap untuk menjaga mereka melakjukan perilaku berisiko. Mereka yang mengalami depresi berat juga mungkin perlu dirawat di rumah sakit agar mereka tidak bertindak berdasarkan idealisme bunuh diri atau gejala psikotik (delusi, halusinasi, pemikiran tidak teratur) mereka.
      Sekitar 90% orang dengan gangguan bipolar I, yang merupakan bentuk yang lebih serius, akan mengalami setidaknya satu periode rawat inap karena keluhan psikiatris. Dua dari tiga akan mengalami dua atau lebih periode rawat inap semasa hidup mereka.
      Apa Gejala Depresi Gangguan Bipolar?
      Gejala-gejala depresi klinis yang terlihat dengan gangguan bipolar adalah sama dengan yang terlihat pada gangguan depresi mayor dan termasuk:
      Nafsu makan berkurang dan / atau penurunan berat badan, atau makan berlebihan dan penambahan berat badan Kesulitan berkonsentrasi, mengingat, dan membuat keputusan Kelelahan, penurunan energi, “melambat” Perasaan bersalah, tidak berharga, tidak berdaya Perasaan putus asa, pesimisme Insomnia, bangun pagi, atau tidur berlebihan Kehilangan minat atau kesenangan pada hobi dan aktivitas yang pernah dinikmati, termasuk hubungan intim Gejala fisik persisten yang tidak berespons terhadap pengobatan, seperti sakit kepala, gangguan pencernaan, dan nyeri kronis Suasana hati yang terus-menerus sedih, cemas, atau “kosong” Gelisah, mudah marah Sering berpikir mengenai kematian atau bunuh diri, pernah melakukan percobaan bunuh diri Apa Tanda-Tanda Mania dalam Gangguan Bipolar? Tanda-tanda mania pada gangguan bipolar meliputi: Pikiran terputus dan sangat cepat (kalap) Keyakinan muluk Kegembiraan atau euforia yang tidak pantas Kemarahan yang tidak pantas Perilaku sosial yang tidak pantas Hasrat seksual meningkat Peningkatan kecepatan atau volume bicara Secara signifikan meningkatkan energi Penilaian yang buruk Kebutuhan tidur yang menurun karena energi tinggi Bagaimana Gangguan Bipolar Didiagnosis?
      Seperti kebanyakan gangguan psikiatri, tidak ada tes laboratorium atau metode pencitraan otak untuk mendiagnosis gangguan bipolar. Setelah melakukan pemeriksaan fisik, dokter akan mengevaluasi tanda dan gejala pribadi yang bersangkutan. Dokter Anda juga akan bertanya tentang riwayat kesehatan pribadi dan riwayat keluarganya. Tes laboratorium dapat dilakukan untuk menyingkirkan penyakit medis lain yang dapat memengaruhi suasana hati.
      Selain itu, dokter juga akan berbicara dengan anggota keluarga untuk melihat apakah mereka dapat mengidentifikasi waktu ketika orang yang bersangkutan merasa gembira dan terlalu bersemangat. Karena episode manik yang ditandai dengan kegembiraan mungkin terasa baik atau bahkan normal jika dibandingkan dengan episode depresif, seringkali sulit bagi seseorang dengan gangguan bipolar untuk mengetahui apakah suasana hatinya terlalu berfluktuasi. Mania sering memengaruhi pemikiran, penilaian, dan perilaku sosial dengan cara yang menyebabkan masalah serius dan membuat malu. Misalnya, keputusan bisnis atau keuangan yang tidak bijaksana dapat dibuat ketika seseorang berada dalam fase manik. Jadi diagnosis dini dan perawatan yang efektif sangat penting dengan gangguan bipolar.
      Bagaimana Gangguan Bipolar Diobati?
      Penting untuk diingat, perspektif terhadap obat-obatan ini hendaknya seperti perspektif kita terhadap penggunaan kacamata; tidak ada yang pernah mengatakan bahwa seseorang “mengalami ketergantungan” terhadap kacamata yang digunakan tiap hari bukan? Demikian pula dengan obat-obatan bipolar; obat-obatan tersebut digunakan setiap hari, persis seperti kacamata. Hanya bedanya, kacamata dikenakan pada wajah, sedangkan obat-oabtan bipolar diminum.
      Perawatan untuk gangguan bipolar biasanya melalui penggunaan penstabil suasana hati seperti lithium. Antikonvulsan, antipsikotik, dan benzodiazepin tertentu juga bisa digunakan untuk menstabilkan suasana hati. Kadang-kadang antidepresan diberikan dalam kombinasi dengan penstabil suasana hati untuk meningkatkan suasana hati yang depresi, meskipun antidepresan sering tidak seefektif beberapa penstabil suasana hati atau antipsikotik atipikal tertentu untuk mengobati depresi pada gangguan bipolar.
      Apa yang bisa kita lakukan?
      Seperti semua penyakit psikiatri pada umumnya, kita perlu menyadari bahwa kelainan Bipolar dapat terjadi pada siapapun tanpa terkecuali; tanpa memandang tingkat pendidikan, status ekonomi, status rohani (ya, bahkan rohaniwan sekalipun bisa mengalami Bipolar, dan itu wajar!), maupun status sosialnya. Sama pula seperti orang yang batuk pilek, patah tulang bahkan kanker, kelainan bipolar tidak ada sangkut pautnya dengan “ketahanan mental” atau “ketenangan batin”; orang dengan gangguan Bipolar memiliki respon kimiawi yang berbeda di otaknya dibanding dengan orang pada umumnya. Oleh sebab itu, kita sebaiknya tidak melabeli penderita Bipolar sebagai “orang dengan mental yang lemah” atau bahkan “cengen”; kita tidak mungkin mengatakan hal seperti “ah, tulang patahmu itu hanya karena batinmu yang tidak tenang” kepada orang yang baru mengalami kecelakaan motor kan?
    • By black_zombie
      Tips yang kamu praktikan agar daging tetap segar.
      Bisa jadi ada beberapa hal yang terlewatkan dan membuat daging tak lagi segar.
      Sudah beberapa hari setelah pemotongan, daging akan mulai mengalami perubahan rasa dan warna.
      Perubahan ini umunya karena proses pembusukan yang mulai terjadi.
      Berikut ini ciri-ciri daging telah membusuk.
      1. Periksa warna daging
      Warna dapat menunjukan kualitas daging.
      Daging unggas yang masih segar bisanya berwarna putih kebiruan hingga kekuningan.
      Daging sapi segar dengan warna merah terang.
      Namun, warna kemerahan bukan warna alami daging sapi segar, tetapi terjadi karena daging telah terpapar udara.
      Itu sebab, daging sapi segar yang disimpan dalam kemasan kedap udara warnanya akan menjadi merah keunguan.
      Daging sapi yang berwarna kecokelatan juga tidak berarti berkualitas buruk.
      Karena daging dari hewan yang lebih tua akan menghasilkan warna lebih gelap dibandingkan dengan hewan yang lebih muda.
      2. Bau
      Cara mengindentifikasi daging masih segar atau tidak bisa dengan cara mencium bau.
      Apapun dagingnya, jika baunya sudah tengik maka itu menandangkan sudah tak layak konsumsi.
      3. Tekstur Daging
      Daging yang telah busuk umumnya memiliki tekstur lebih licin.
      Hal tersebut dikarenakan sudah tumbuh bakteri yang berkembangbiak di permukaan daging.
      Apalagi timbul warna hitam atau hijau, yang menandakan jamur mulai merusak daging.
      Mengonsumsi daging busuk sangat membahayakan kesehatan.
    • By news
      Pasien suspect virus corona meninggal dunia. Pasien dengan inisial D (50) adalah pasien pertama terduga corona yang meninggal dunia di Indonesia pada Selasa (3/3/2020) sekitar pukul 04.00 WIB di Cianjur, Jawa Barat.
      Berdasarkan keterangan PLT Bupati Cianjur, H. Herman Suherman, D merupakan pegawai BUMN. Pasien yang merupakan warga Bekasi tersebut sudah menjalani perawatan sejak Minggu (1/3/2020).
      Informasi dari tim medis mengatakan bahwa pasien D memiliki riwayat perjalanan dari Malaysia.
      “Beliau pegawai Telkom Bekasi, sempat ke Malaysia tanggal 14 sampai 17 Februari 2020,” ujar Herman saat menemui media di lobi RSDH Cianjur, Senin (2/3/2020).
      Pada tanggal 20 Februari, yang bersangkutan mulai merasakan sakit dengan gejala demam dan batuk-batuk. Kemudian pasien mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Mitra Keluarga Bekasi pada tanggal 22-26 Februari.
      "Belum sembuh  100%, pasien meminta pulang," tambahnya.
      Kemudian, D berkunjung ke rumah saudaranya di Kecamatan Ciranjang, Cianjur, sekaligus bermaksud untuk mencari pengobatan lain. Akan tetapi, pada Minggu 1 Maret 2020, kondisi yang bersangkutan ternyata makin menurun dan drop serta merasakan sesak nafas.
      “Beliau berusaha mencari pengobatan alternatif di Cianjur. Tapi tidak ada hasil, akhirnya yang bersangkutan dirawat di RSDH, untuk mendapatkan penanganan medis,” jelas Herman.
      Saat kondisi pasien mulai membaik, ada rencana untuk dirujuk ke Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung pada malam harinya. Namun, belum sempat dibawa, sudah meninggal duni pada dini hari.
      Herman menegaskan, pihak RSDH masih belum bisa memastikan apakah pasien tersebut positif terjangkit virus corona atau tidak.
      "Pihak rumah sakit masih menunggu hasil uji laboratorium yang dikirimkan ke Kementerian Kesehatan RI di Jakarta. Jadi ini masih suspect, belum tentu positif. Tapi memang beliau mengeluhkan sesak nafas,” terang Herman.
      Karena itu, Herman mengimbau masyarakat Cianjur agar tidak panik dan tidak mempercayai informasi yang tersebar di media sosial.
    • By bajigur
      Seringkali kita mengalami cegukan tanpa diduga-duga. Cegukan (singultus) merupakan kontraksi yang tak disengaja pada diagfragma biasanya hingga mengeluarkan bunyi "hik" karena udara yang masuk ke paru-paru menyebabkan ruang antara pita suara menutup.
      Nah cegukan yang sangat mengganggu bisa saja terjadi. Seperti dialami oleh Lisa, ibu dua orang anak dari Amerika Serikat, mengalami cegukan hampir 12 tahun. Dilansir dari Mirror, Lisa telah menjalani hidupnya dengan cegukan sejak hamil anak pertamanya.
      Menurut dokter cegukan yang diderita Lisa kemungkinan bagian dari efek samping dari stroke selama kehamilan. Menurut dokter yang menanganinya, kasus ini termasuk kasus langka yang hanya dialami beberapa orang.
      Menurut The British Society of Gastroenterology massa cegukkan terpanjang adalah 68 tahun. Rekor tersebut dipegang oleh pria bernama Charles Osborne dari Iowa, Amerika Serikat.
      Lisa menuturkan ia mampu mengeluhkan bunyi "hik" lebih dari 100 kali dalam sehari. Beberapa orang yang mendengar cegukannya kerap kali menyamakannya dengan suara anjing peliharaan. Berbagai cara pengobatan telah ia tempuh meski belum ada yang berhasil.
      Meski awalnya malu berpikir akan menjalani hidup dengan cegukan hingga akhir hayat, Lisa mengaku kini sudah bisa menerima kondisi dan tetap melanjutkan hidupnya bersama cegukan.
      "Tapi sekarang, aku sudah terbiasa dengan itu," pungkas Lisa.
    • By jodang
      Menurut WHO, ada 90.000 kasus kematian pada wanita yang disebabkan oleh penyakit kanker. Salah satu jenis kanker yang sering diderita wanita adalah kanker serviks dan kanker rahim.
      Penting untuk diketahui, bahwa penyakit kanker rahim itu jelas berbeda dengan kanker serviks. Namun kedua penyakit tersebut merupakan salah satu penyakit yang dapat mematikan, terutama bagi kaum wanita.
      Kanker rahim adalah kanker yang berkembang dalam lapisan rahim. Rahim terletak di antara kandung kemih dan rektum, termasuk leher rahim dan rahim. Leher rahim berhubungan dengan vagina, sementara badan rahim berhubungan dengan tuba falopi.
      Sementara itu, kanker serviks merupakan kanker leher rahim. Leher rahim merupakan bagian dari saluran reproduksi wanita yang menghubungkan vagina dengan rahim atau uterus. Hampir semua kasus penyebab kanker serviks adalah human papillomavirus (HPV).
      Gejala Kanker Rahim Stadium Awal
      1. Nyeri Pada Perut dan Pinggang
      Kasus kanker rahim yang berkembang pada dinding adenosid rongga rahim biasanya memicu pasien mengeluhkan gejala kanker rahim berupa rasa nyeri yang menekan pada perut hingga pinggang. Gejala kanker rahim ini datang sewaktu-waktu, tetapi kadang muncul cukup kuat pada saat setelah melakukan aktivitas seks. Pada wanita usia subur, rasa nyeri bisa semakin kuat pada saat menstruasi datang.
      2. Perut Membesar
      Jaringan ligamen pada rongga rahim yang mengalami efek inflamasi karena invasi sel kanker biasanya akan membengkak. Ini membuat pasien tampak memiliki perut yang besar dan sedikit terasa keras.
      3. Rasa Nyeri Saat Kencing
      Banyak pasien juga mengeluhkan gejala kanker rahim stadium awal dengan nyeri pada saat kencing kadang juga disertai efek kesulitan untuk kencing. Hal ini dikarenakan lokasi rahim yang berdekatan dengan ginjal dan kandung kemih. Perkembangan sel kanker pada dinding rahim menekan organ-organ lain di sekitarnya.
      4. Menstruasi Berat
      Kebanyakan kasus penyakit ini akan menimbulkan gejala kanker rahim dengan menstruasi yang berat. Darah yang dikeluarkan sangat banyak dengan periode yang panjang. Meski dinding endometrium tidak terinvasi, tetap saja kerusakan pada dinding luar rahim akan mempengaruhi dinding dalam rongga rahim. 
      5. Pendarahan
      Kasus pendarahan rahim memang biasanya lebih banyak terjadi pada kasus kanker endometrium. Tetapi efek dari kerusakan pada dinding luar rahim juga bisa memberi efek tekanan pada dinding dalam rahim dan memicu terjadinya pendarahan. Biasanya gejala kanker rahim berupa pendarahan terjadi relatif lebih ringan hingga hanya muncul bercak darah saja.
      6. Rasa Lelah Berlebihan
      Efek serangan sel kanker banyak pasien juga mengeluhkan masalah kelelahan yang cukup berat. Bukan hanya itu, pasien juga tampak mudah lesu dan lemas. Beberapa pasien juga mengalami gangguan libido akibat efek gangguan fungsi saraf pada area genital wanita.
      7. Masalah Berat Badan
      Gejala kanker rahim pada umumnya juga mudah dikenali dari masalah selera makan yang menurun. Di saat yang sama pasien juga mudah merasa mual dan muntah.
      Di saat yang sama, sel kanker secara agresif menarik lebih banyak nutrisi. Ini akan membuat pasien dengan cepat mengalami penurunan berat badan.
      Faktor yang Meningkatkan Risiko Kanker Rahim
      1. Umur
      Peningkatan risiko kanker rahim berkaitan dengan bertambahnya usia seorang wanita. Sebagian besar kanker rahim menyerang wanita yang sudah mengalami menopause di usia 63 tahun ke atas.
      2. Riwayat kehamilan
      Wanita yang memiliki riwayat hamil di atas usia 35 tahun. Dan wanita yang belum pernah hamil memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami kanker rahim.
      3. Obesitas
      Keterkaitan wanita obesitas dengan kanker rahim dikemukakan oleh beberapa penelitan. Beberapa penelitian tersebut mengungkapkan, wanita yang memiliki indeks massa tubuh di atas 30 memiliki peningkatan risiko terjadinya kanker rahim.
      4. Terapi hormon
      Wanita yang memiliki riwayat terapi hormon estrogen, yang biasanya terjadi pada wanita yang telah menopause, memiliki peningkatan risiko terjadinya kanker rahim.
      5. Riwayat keluarga
      Sebanyak 10% penderita kanker rahim disebabkan faktor genetika. Beberapa kasus kanker rahim disebabkan oleh perubahan gen tertentu, yang dapat meningkatkan risiko terkena kanker rahim.
      Jika ada beberapa kerabat dekat dari keluarga yang memiliki riwayat penyakit kanker usus, payudara atau rahim, maka ada kemungkinan ada genetik diwariskan kepada generasi berikutnya. Kerabat dekat dalam hal ini mencakup orangtua, anak, saudara.
      6. Tamoxifen
      Tamoxifen merupakan obat hormonal yang digunakan untuk mengobati kanker payudara. Obat ini bisa sedikit meningkatkan risiko kanker rahim, bila dikonsumsi dalam waktu jangka panjang.
      Pengobatan untuk Kanker Rahim
      Pengobatan kanker rahim yang umum dilakukan adalah histerektomi atau operasi pengangkatan rahim. Histerektomi dapat dilakukan untuk menyembuhkan kanker rahim stadium awal, namun membuat pasien tidak bisa hamil.
      Kemoterapi dan radioterapi terkadang juga digunakan dan dikombinasikan dengan tindakan pembedahan. Selain itu, terapi hormon juga dapat dilakukan untuk pasien yang belum menopause dan masih ingin memiliki anak.
×
×
  • Create New...