Jump to content
davidbo

Menghadapi Orang Yang Dimensia

Recommended Posts

566050c930845_Lansia-ngobas.jpg.d4930a3d

Menurut data yang dimiliki Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, masyarakat Indonesia yang mengalami demensia atau kepikunan, per 2015 sudah lebih dari 1 juta jiwa. Kondisi ini semakin diperparah dengan kemungkinan penderita yang akan meningkat hingga 2 juta jiwa pada 2030.

Namun sayangnya, tidak banyak masyarakat Indonesia yang mengerti dan bahkan mengetahui apa arti dari demensia, dan bagaimana menghadapinya. 

Dalam hal ini, dapat dilihat dari kacamata si penderita. Berdasarkan hasil penelitian dari Alzheimer's Desease International pada 2012, banyak penderita mengalami demensia atau kepikunan yang dipicu oleh beberapa hal seperti malu, terisolasi, kehilangan kemampuan melakukan kegiatan, hingga kehilangan status di dalam masyarakat.

"Hal ini tentunya berkaitan dengan bagaimana lingkungan memperlakukan si penderita," ujar Nicole Batschc, seorang peneliti Alzheimer dari Kings College, di London, Inggris. 

Untuk itu, menurut Nicole, ada beberapa hal yang bisa dilakukan dalam menghadapi orang dengan demensia atau ODD, agar gejala demensia tidak semakin parah dan menyebabkan gangguan lain seperti Alzheimer, salah satunya. 

Kunci utamanya, menurut Nicole, ialah pemberdayaan lansia. "Buatlah lansia lebih aktif, dengan hobi atau kegiatan yang banyak. Berbicara di depan publik, dan melakukan kegiatan yang melatih kerja otak seperti main catur, teka teki silang," ujar dia, di sela presentasinya mengenai penyakit Demensia Alzheimer di Pusat Kebudayaan Belanda, Selasa, 7 April 2015. 

"Semua kegiatan yang disukai itu bisa membuat otak serta tubuh penderita tidak mati karena usia senja," tuturnya. 

Nicole juga menjelaskan, memperlakukan ODD bukan berarti harus menjauhkannya dari semua kegiatan yang biasa dilakukannya sebelum terkena demensia. Berikanlah kepercayaan pada ODD dalam melakukan semua kegiatan. "Namun, jangan lepaskan dampingan Anda," ujarnya. 

Yang terakhir yang tak kalah penting ialah menjaga koneksi dengan ODD di mana pun dan kapan pun dibutuhkan. Selalu ajak berkomunikasi dan berikan perhatian serta dukungan kepada ODD, agar penderita tidak semakin merasa terpojok, dan semakin memperburuk kondisi kesehatannya.

"Periksakan ke dokter dan selalu dampingi dengan kasih sayang," kata Nicole. 

Share this post


Link to post
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...

  • Similar Content

    • By keenion
      "Ini kan gak boleh kata broadcast di grup!" kata seorang ibu. Sang anak menimpali, "Hoax itu, Bu."
      Pernah dengar atau alami kejadian serupa? Hoax memang salah satu masalah yang muncul dari era digitalisasi karena ya, siapa sih yang tidak punya smartphone? Kita semua bisa mengakses informasi apapun dengan mudah lewat smartphone.
      Semua informasi ada di genggaman, tapi apakah benar atau tidak informasi tersebut, menjadi tugas kita untuk menyaringnya terlebih dahulu. Hal ini dijelaskan Benny Prawira, SPsi, Ketua Komunitas Pencegahan Bunuh Diri, Into The Light.
      "Ada yang bilang terkait dengan kecerdasan, ada yang bilang nggak juga. Ada yang bilang itu karena belief system kita, jadi kalau kita percaya sama satu hal sama satu sosok hoax itu bener karena itu muncul dari sosok itu," ungkapnya.
      Benny tak menampik ada juga hal lain, misalnya kurangnya kemampuan kita untuk berpikir kritis yang membuat kita jadi mudah 'pusing' melihat informasi secara lebih mendetail dari segala sisi.
      "Seringkali kita juga harus lihat generasi yang lebih tua menganggap berita yang beredar kayak di WhatsApp sama validnya dengan yang disiarkan di TV, padahal nggak. So itu masalah literasi digital lagi," sambungnya.
      "Ada banyak hal yang membuat hoax itu marak banget di Indonesia. Aku nggak percaya itu soal intelligence, tapi ya itu apa yang kita percayai, kemampuan kita berpikir kritis, literasi digital, itu semua yang mempengaruhi semuanya sih," tutupnya.
    • By abas
      Di film-film, sosok yang haus kekuasaan sering digambarkan licik bak Count Olaf, jenius seperti Littlefinger, atau tampil paling sempurna ala Marisa Coulter. Siapa pula yang mau memiliki rekan kerja seperti mereka di kantor?
      Tetapi, nyatanya para peneliti menemukan sebuah ciri yang sepenuhnya berbeda dari sifat-sifat yang disebutkan di atas terkait ciri orang yang haus kekuasaan.
      Sebuah studi yang diterbitkan di Personality and Social Psychology Bulletinmenemukan bahwa ciri orang yang haus kekuasaan adalah terlalu sering memberikan nasihat.
      "Kamu bisa meraih sebuah rasa kekuasaan dengan memberikan saran ke orang lain," kata Li Huang, asisten profesor di INSEAD dan salah satu penulis studi tersebut.
      Studinya menemukan, memberikan nasihat menaikan rasa kekuasaan di dalam diri seseorang, meskipun sebetulnya tidak ada yang meminta nasihat dari orang tersebut. Si pemberi nasihat pun merasa lebih penting bila omongannya diikuti.
      Masih dalam rangkaian eksperimen, grup yang ditugaskan menjadi pemberi nasihat condong merasa lebih berkuasa. Memberikan nasihat bisa mengangkat rasa berkuasa seseorang sebanyak 10 persen, kecuali bila si penerima nasihat secara eksplisit menolak nasihat yang diberikan.
      Huang mengingatkan agar jangan memberikan nasihat apabila tidak diminta. "Hanya sedikit orang yang bisa tahan dengan pemberi nasihat kronis yang membuat orang tidak tahan," jelasnya.
      Curhat ke Bos Bikin Karyawan Depresi Lebih Produktif Bekerja
      Karyawan yang mampu berbicara terbuka tentang depresi yang dialami ke bos ternyata punya pengaruh positif. Orang-orang ini bakal lebih produktif di tempat kerja daripada mereka yang menghindari berbicara soal depresi dengan bosnya.
      Fakta soal depresi ini diketahui lewat studi yang dipublikasikan di BMJ Open pada Senin, 23 Juli 2018. Para peneliti London School of Economics (LSE) menganalisis depresi di tempat kerja di 15 negara yang berbeda, termasuk Inggris. Jumlah partisipan sekitar 1.000 bos dan karyawan.
      Hasil penelitian menemukan, karyawan depresi lebih banyak mengambil cuti libur kerja jika bos mereka tidak memberikan solusi dan dukungan yang memadai.
      Penelitian sebelumnya menunjukkan, lebih dari 70 persen karyawan depresi menyembunyikan kondisi mereka dari orang lain.
      Sebagian besar karyawan depresi cenderung menyembunyikan kondisi tersebut karena takut mengalami diskriminasi saat mencari atau sedang bekerja di suatu perusahaan.
      Penelitan ini juga menguak, reaksi dari bos terkait depresi yang dialami karyawan sangat memengaruhi produktivitas kerja.
      “Penelitian kami menunjukkan, para bos yang menghindari karyawan yang curhat tentang depresi, maka karyawan sendiri akhirnya menghindari pekerjaan. Bahkan ketika mereka kembali bekerja (setelah libur atau cuti), mereka tidak seproduktif biasanya,” kata peneliti Sara Evans-Lacko
    • By rani
      Masalah terbesar para lansia untuk berlibur adalah kesehatan. Makanya penting bagi para lansia untuk memahami kondisi kesehatan dirinya. Berikut beberapa tips yang harus diperhatikan bagi para lansia saat berlibur.
      Periksa kondisi ‎kesehatan setidaknya setiap pagi dalam perjalan liburan. Hal ini penting agar bisa merancang kegiatan sepanjang hari. Bila merasa tak sehat, segera konsultasi ke dokter. Bila mampu tak ada salahnya membawa serta perawat khusus. Jangan melakukan kegiatan yang padat agar badan tidak terlalu lelah. Satu hari cukup dua tempat atau dua atraksi. Pilihlah atraksi yang tidak menyita banyak tenaga dan memacu adrenalin. Penting adalah melakukan kegiatan yang menyenangkan hati dan tidak dipaksakan. Jangan melakukan perjalanan jauh. Carilah destinasi yang jaraknya dekat. Idealnya bagi lansia perjalanan maksimal adalah 12 jam. Carilah tempat penginapan, transportasi, dan atraksi yang ramah lansia. Misal: tangganya tidak tinggi, jaminan makanannya yang bersih dan sehat, cuaca tidak ekstrem, dan lain sebagainya. Terakhir, jika pergi bersama grup, hindari grup besar. Satu grup maksimal 20 orang. Grup kecil akan mempermudah koordinasi dan ‎komunikasi. Grup kecil juga mempermudah penanganan bila terjadi sesuatu kecelakaan atau sakit tertentu.
    • By sulistian_setiawan129
      Salah satu permasalahan yang dihadapi oleh mereka yanag telah lanjut usia adalah kepikunan. Beberapa cara diketahui dan terbukti efektif mencegah dan memperlambat kepikunan.
      Salah satu yang paling sering didengar adalah dengan memberikan teka teki silang pada orang tua untuk mempertajam daya ingat. Ini juga disebut brain exercise atau olahraga otak. Hal tersebut dibenarkan oleh Ketua PERGEMI (Persatuan Gerontologi Medik Indonesia) Prof. Dr. Siti Setiati,SpPD.KGer.
      "Olahraga atau bergerak dapat membuat aliran darah ke otak mendapat cukup oksigen, selain itu juga konsumsi makanan sehat. Selain itu juga perlu diberikan aktivitas yang merangsang aktivitas otak,” kata Siti saat ditemui di kantor Kementerian Kesehatan RI, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis, 26 Mei 2016.
      Ia juga menyarankan agar Anda selalu meminta orang tua untuk terus belajar. Dengan begitu otak akan dirancang untuk terus beraktivitas.
      “Baca sesuatu yang baru, jangan hal yang sama tapi diulang-ulang. Kalau perlu orang tua bisa sekolah lagi. Kalau sudah mulai malas belajar itu tanda mulai tua,” ujar dia.
      Tidak hanya belajar, ternyata memainkan permainan online dan penggunaan laptop pun bisa membantu orang tua mencegah dan memperlambat terjadinya kepikunan.
      "Intinya itu jangan berhenti belajar, belajar bermain game di ponsel juga bisa, atau ajari orang tua untuk menggunakan laptop," imbuhnya.
    • By kotawa
      Siapa yang nggak pengen punya pasangan hidup yang langgeng sampai tua? Rasanya semua orang pasti mendambakannya. Ketika usia sudah lanjut, tetap menjadi pasangan yang romantis tentu sangat membahagiakan.
      Nah, seorang fotografer pernikahan Stephanie Jarstad berhasil mengabadikan momen istimewa kemesraan 12 pasangan kakek dan nenek. Seperti lupa dengan usia, pasangan-pasangan ini bagaikan remaja yang sedang dimabuk asmara.
      1. Doug dan Fran, usia pernikahan 55 tahun

      2. Steve dan Cheryl, usia pernikahan 49 tahun

      3. Ray dan Tess, usia pernikahan 54 tahun

      4. Lloyd dan Helen Fay, usia pernikahan 64 tahun

      5. Robert dan Patricia, usia pernikahan 23 tahun

      6. Chancey dan Bertha, usia pernikahan 71 tahun

      7. Jan dan Richard, usia pernikahan 69 tahun

      8. Larry dan Darylnn, usia pernikahan 44 tahun

      9. Andrew dan Norma, usia pernikahan 57 tahun

      10. Alan dan Melanie, usia pernikahan 11 tahun

      11. George dan Diane, usia pernikahan 60 tahun

      12. Mervin dan Carolyn Beckstrand, usia pernikahan 56 tahun

×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy