Jump to content
BincangEdukasi

Kami Mau Sekolah Pak Presiden

Recommended Posts

564fc88f17689_sayamausekolah-ngobas.jpg.

Tema “Jangan Tutup Sekolah Kami” yang diangkat dari kasus yang terjadi di Moro-Moro, Wilayah Register 45, Kabupaten Mesiji, Lampung. Tema ini sepertinya harus lebih menjadi perhatian masyarakat di tengah ramainya pemberitaan politik tanah air. Karena diundang untuk ikut dalam Hangout dalam topik ini, saya pun mencari informasi sebanyak-banyaknya  mengenai kasus tersebut hingga akhirnya menemukan sebuah film dokumenter yang diunggah di Youtube.

Setelah menyaksikan video lengkap, saya mendapat sedikit gambaran bagaimana kondisi siswa dan guru yang ada disana, serta menjadi tahu apa yang menjadi penyebab, hingga 400 siswa terancam harus kehilangan kesempatan mendapatkan hak belajarnya. Dari gambaran yang saya dapatkan tersebut, muncul pertanyaan dalam hati, tidak adakah koordinasi antara lembaga yang berwenang di Indonesia sehingga harus mengorbankan masa depan anak-anak yang merupakan generasi penerus bangsa?

Dari semua referensi yang saya baca dan saya saksikan, berikut informasi yang saya dapatkan sehingga pembaca dapat memiliki gambaran bagaimana kondisi disana.

Sekolah yang dibangun atas dasar swadaya masyarakat ini memang berada di Wilayah Register 45, yang merupakan lahan sengketa dan berada dalam kewenangan Kementerian Kehutanan. Alasan tidak dikeluarkannya izin kelas jauh untuk sekolah yang ada disana, karena Pemkab tidak ingin melanggar Undang-Undang No.18 tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan.

Awal berdiri pada tahun 2000, kelas jauh ini menginduk pada SDN 04 Indraloka II, Kecamatan Way Kenanga, Kabupaten Tulang Bawang yang jaraknya 12 KM dari dusun Morodewe (salah satu dusun di Moro-moro) agar mendapatkan legalisasi dari pemerintah.

Situasi berubah setelah terjadi pemekaran wilayah pada tahun 2008, yaitu pemecahan Daerah Otonomi Baru (DOB) Kabupaten Tulang Bawang Barat dan Kabupaten Mesuji dari Kabupaten Induk Tulang Bawang, karena secara administrasi, letak wilayah kelas jauh di Moro-moro menjadi terpisah dengan sekolah induknya, sehingga sekolah di Moro-moro harus menginduk pada sekolah yang ada di Kabupaten Mesuji.

Dari cerita yang disampaikan di kronologis penutupan sekolah di Morodewe, tergambar susahnya mencari sekolah induk baru untuk sekolah tersebut, hingga akhirnya mereka menemukan SD 2 Boku Poso namun dengan ketentuan kegiatan belajar harus dilaksanakan di Sekolah Induk tersebut, dengan alasan bahwa pelayanan pendidikan kelas jauh sudah tidak diperbolehkan oleh pemerintah.

Menurut keterangan Narasumber, penggerak gerakan #savemoro-moro kemarin, jarak dari Moro-moro ke sekolah induk sekitar 10 kilometer, pulang pergi berarti 20 kilometer, artinya harus ada kendaraan yang mengantar mereka untuk pulang pergi sekolah.

Dari cerita yang saya rangkum diatas, ada beberapa poin yang ingin saya soroti :

Saling Lempar Tanggung Jawab karena alasan kewenangan

Masalah pendidikan ini tentu berada dibawah tanggungjawab Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Lampung, namun karena Dinas Pendidikan ini berpegang pada peraturan bahwa kewenangan untuk pemberian rekomendasi izin pendirian sekolah ada di Pemerintah Daerah, maka seolah menyerahkan solusi penyelesaian masalah ini pada pihak Pemkab (Pemerintah Kabupaten)

Dilain pihak, Pemkab yang memegang kewenangan untuk pemberian rekomendasi pendirian sekolah merasa tidak dapat mengeluarkan izin karena sekolah-sekolah tersebut berada di wilayah kewenangan kementrian kehutanan. Keputusan ini bisa dimaklumi karena pihak Pemkab mungkin takut bila kebijakannya akan melanggar Undang Undang yang dapat menimbulkan sanksi, tetapi seharusnya dilakukan koordinasi dengan Dinas Kehutanan dan diberikan solusi yang berpihak pada pendidikan anak-anak.

Rendahnya Inisiatif Penyelesaian Masalah

Bila kelas jauh sudah tidak diperbolehkan oleh pemerintah, maka seharusnya dinas pendidikan beinisiatif mengajak Pemkab dan Dinas Kehutanan untuk berdiskusi mencarikan solusi yang lebih baik dibandingkan dengan memutuskan agar siswa di Moro-moro mengikuti kegiatan belajar di sekolah induk yang jaraknya sangat jauh.

Dengan jarak tempuh yang jauh berarti harus ada tambahan biaya yang dikeluarkan untuk ongkos pulang pergi, belum lagi waktu dan energi yang harus terbuang lebih banyak dan tentu bisa berakibat pada kemunduran prestasi siswa.

Karena UUD 1945 pasal 31, sudah memberikan jaminan kepada semua warga negara untuk mendapatkan pendidikan, maka seharusnya kasus seperti ini tidak terjadi, karena hal ini berarti pemerintah tidak melaksanakan kewajiban untuk memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anak di Moro-moro.

Kasus yang terjadi di Moro-moro mungkin hanya satu kasus yang terangkat ke media, dan mungkin masih ada kasus-kasus serupa di pelosok tanah air. Belajar dari kasus ini, sangat diharapkan pihak dinas pendidikan lebih berinisiatif untuk berkoordinasi dengan lembaga-lembaga terkait bila menemukan kasus-kasus serupa, dan mencarikan solusi terbaik yang tidak memberatkan siswa.

Semoga masalah pendidikan anak-anak di Moro-moro dapat diselesaikan dengan solusi yang tidak memberatkan siswa sehingga anak-anak bisa kembali ceria dan bersemangat belajar dan menjadi generasi penurus bangsa yang berkualitas.

Share this post


Link to post
Bagikan di situs lain

Buat akun atau masuk untuk berkomentar

Anda harus menjadi anggota untuk memberikan komentar

Buat sebuah akun

Mendaftar untuk account baru dalam komunitas kami. Mudah!

Daftarkan akun baru

Masuk

Sudah mempunyai akun? Masuk disini.

Masuk Sekarang


  • Konten yang sama

    • Oleh celestyn
      Menanamkan pelajaran pada anak agar sifat dan sikap mereka terbentuk secara sempurna ternyata bukan tugas mudah. Orangtua harus tahu bagaimana cara mendidik anak yang baik serta benar. Termasuk di antaranya adalah apa saja nilai-nilai yang harus ditanamkan pada anak agar terus terbawa hingga dewasa. Berikut adalah beberapa cara yang bisa diterapkan.
      Pertama, ajarkan kemandirian serta tanggung jawab sejak dini. Orangtua umumnya akan memiliki rasa khawatir yang berlebihan terhadap anaknya. Jangan lagi merasa khawatir berlebihan dan bersikap over protektif. Ajari anak untuk mengetahui benda apa saja yang menjadi miliknya serta merapikannya kembali setelah bermain. Ajarkan anak juga untuk mempersiapkan barang-barang kebutuhan sebelum berangkat sekolah. Orangtua juga dapat memberi uang saku serta mengajari anak untuk menabung.
      Kedua, ajarkan pada anak juga agar memiliki rasa ingin tahu. Jawab setiap pertanyaan anak mengenai benda yang baru dilihat di sekitarnya. Hindari memberikan jawaban tidak tahu dan apabila anak tidak suka bertanya, berikan umpan terkait benda-benda atau makhluk hidup yang ada di sekitarnya.
      Cara mendidik anak yang baik selanjutnya adalah dengan menumbuhkan kemampuan anak dalam memberi pendapat. Jangan acuh terhadap pendapat anak karena akan membuat anak menjadi minder serta tidak berani dalam menyampaikan pendapatnya. Berikan respon saat anak memberi pendapat dan berikan juga pujian positif.
      Keempat, ajarkan anak agar memiliki rasa sosial serta empati pada orang lain atau kejadian di sekitarnya. Di antaranya, orangtua dapat mengajari anak untuk memberi kepada mereka yang membutuhkan dan berikan penjelasan terkait tindakan tersebut.
      Terakhir, berilah contoh yang baik pada anak. Orangtua tidak hanya memberi arahan namun juga contoh nyata agar anak dapat meniru perbuatan baik yang dilakukan orangtua.
      Demikian adalah beberapa cara mendidik anak yang baik. Untuk semakin meningkatkan pengetahuan orangtua terkait bagaimana mendidik anak, kini tersedia program Wyeth Parenting Club yang diadakan oleh Wyeth. Wyeth sendiri merupakan perusahaan yang memproduksi susu khusus anak-anak serta produk kesehatan lainnya.
    • Oleh celestyn
      Apabila seseorang menyebutkan tentang pendidikan anak usia dini dalam Islam, mungkin pemikiran kita akan tertuju pada sebuah pendidikan yang keras. Namun, sangat jauh berbeda karena pendidikan dalam Islam merupakan pendidikan yang sangat pas sesuai dengan porsi dan aturannya. Lalu, apa saja yang terdapat dalam hal tersbut?

      Pendidikan anak usia dini dalam Islam meliputi banyak hal. Beberapa hal tentang pendidikan anak dalam Islam ini meliputi beberapa hal. Hal-hal dibawah ini tentunya tercantum dalam Quran Surat At-Tahrim ayat 6. Lalu apa saja bentuk pendidikannya? Pendidikan pertama, merupakan pendidikan dalam beribadah.
      Begitulah yang dimaksud dengan pendidikan anak usia dini dalam Islam. Memang tidak mudah, namun semuanya juga tidak sulit karena Islam sudah memberikan porsinya dengan pas dan teratur. Apabila anda seorang yang sibuk, tidak perlu khawatir karena ini pengetahuan cara mendidik anak dengan baik dan benar kini sudah terangkum pada Wyeth Parenting Club. Wyeth Parenting Club ini kita dapat mengetahui tips dan trick mengenai pendidikan anak usia dini. Dalam klub ini, juga terdapat berbagai fitur dalam sebuah web yang memudahkan kita dalam pengasuhan anak. Selain itu, kita tidak perlu repot-repot menuju lokasi parenting club ini, karena parenting club ini bisa kita dapatkan melalui smartphone kita. Cukup sekali klik dan semuanya akan terlihat. Selamat mencoba cara mendidik buah hati melalui cara baru yang lebih modern pada link berikut :
      https://www.parentingclub.co.id/smart-stories/alasan-si-kecil-perlu-mendapatkan-pendidikan-anak-usia-dini
    • Oleh News
      Bagi mereka yang berbakat seni termasuk seni ukir dan seni rupa sekarang terbuka peluang untuk ikut memoles tampilan special effects di Hollywood. Keahlian seperti ini diperlukan untuk memproduksi film-film blockbuster sarat efek visual, termasuk seri film "Avatar" dan "Avengers".
       
  • Kontributor Populer

×

Important Information

Kami menggunakan cookie. Mereka tidak menakutkan, tetapi beberapa orang berpikir mereka. Terms of Use & Kebijakan Privasi