Jump to content

Instamic Diklaim Sebagai GoPro-nya Microphone


c0d1ng

Recommended Posts

  • Verified Account

Instamic-01-620x400.thumb.jpg.9cbc9d0480

Setelah menyiapkan kamera, faktor krusial lain yang harus Anda pikirkan dalam pembuatan video adalah penyediaan microphone. Untuk spesifikasi tertentu, harganya cukup mahal, belum lagi pemakaiannya kurang fleksibel karena berat dan memakan tempat. Lewat device bernama Instamic, seorang inventor bernama Michele Baggio mencoba memberi solusi.

Instamic (tidak mempunyai kaitan apa-apa dengan Instagram) ialah sebuah mic kecil nan pintar buat membantu Anda dalam kegiatan rekam-merekam. Sang developer menganalogikan devicesebagai GoPro-nya perangkat microphone. Selain ukuran dan harga yang terjangkau, Instamic dijanjikan kompatibel untuk segala kebutuhan, dan dibantu kemudahan serta kesederhanaan penggunaan.

Baggio meracik Instamic supaya ia menjadi alternatif all-in-one, menggantikan perangkat-perangkat berukuran besar, misalnya mic lav/level, serta boom. Bentuknya sangat mungil, seperti perpaduan kubus dan kapsul. Anda bisa mudah menggenggam atau menyelipkannya ke kantong baju. Mayoritas mic jenis lama memerlukan baterai AAA, cukup menggangu jika tiba-tiba habis. Namun baterai Instamic dapat diisi ulang melalui kabel USB, dan ketika siap, tinggal diaktifkan dengan sentuhan.

Instamic-02.thumb.jpg.166dffcd4d962250ae

Kecil tidak berarti kapabilitas Instamic terbatas – malah justru sebaliknya. Ia diklaim mempunyai kualitas sekelas perangkat profesional, dipadu sejumlah fitur pintar. Instamic mampu merekam di 48khz/24 bit, mempunyai fungsi mono dan dual-mono (stereo pada versi Pro), merespon frekuensi dari 50 sampai 18.000 Hz dalam sudut yang luas. Device dapat terinkronisasi kesmartphone melalui aplikasi mobile dan koneksi Bluetooth 4.0.

Fleksibilitas Instamic tidak berhenti di sana. Ia dapat dipasang di hampir semua jenis permukaan objek berkat jenis clip berbeda: lem 3M, magnet, serta velcro. Model Go aman sewaktu terkena cipratan air, tapi Pro lebih canggih lagi karena tetap bekerja meskipun tercemplung hingga kedalaman 1,5 meter selama tiga jam. Dan dengan sekali charge, Anda memperoleh waktu rekam empat jam. Instamic akan sangat membantu end-user biasa sampai kelas musisi danvideographer profesional.

Cara menggunakannya? Charge terlebih dahulu via port USB, aktifkan, unduh aplikasi companion(gratis), dan sinkronisasi. Selanjutnya Anda tinggal mulai merekam dan men-transfer file-nya. Instamic sendiri kompatibel ke perangkat Android maupun iOS.

Untuk sekarang, pemesanan Instamic bisa dilakukan lewat website crowdfunding Indie Gogo. Varian Instamic Go dibanderol seharga US$ 110, sedangkan Pro dijajakan hanya US$ 150. Dan saya yakin kata ‘Go’ dan ‘Pro’ di sana bukanlah sebuah kebetulan…

Link to comment
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...
  • Similar Content

    • By dugelo

      Bicara tentang perkembangan teknologi dalam bidang #fotografi, nama brand kamera Gopro tentu sudah sangat familiar di telinga kita. Brand yang mengambil celah bisnis action camera ini memang sudah sangat terkenal seantero dunia. Unggul dalam kualitas serta moncernya upaya branding, menjadikan brand GoPro menjadi salah satu merek dengan perkembangan paling pesat dalam industri perangkat fotografi.
      Nah yang juga menarik untuk dibahas adalah kisah dari sang kreator kamera mungil ini yang tak kalah inspiratif. Ialah Nicholas Woodman, seorang pengusaha muda yang kini bercokol di deretan 10 miliader muda dunia versi Forbes. Lebih menarik lagi, kesuksesan Nicholas mengembangkan bisnis #kamera GoPro ternyata ada kaitannya dengan negara Indonesia juga lo. Ingin tahu kisah selengkapnya? Berikut telah kami siapkan ulasan tentang kisah dan profil founder GoPro, Nicholas Woodman.
      Awal Karir Nicholas Woodman
      Lahir dan besar di kawasan di Silicon Valley, California, Nicholas sejak kecil dikenal sebagai pribadi yang aktif dan gemar dengan kegiatan luar ruangan. Salah satu yang menjadi favoritnya adalah olahraga berselancar. Bahkan ketika masih duduk di bangku sekolah dasar ia pernah mendirikan klub selancar bersama kawan-kawannya.
      Menginjak usia dewasa, selepas lulus dari Universitas California, anak dari seorang bankir investasi tersebut mulai menata jalan karirnya. Yang pertama kala itu Nicholas membuat sebuah situs online yang menjual beragam produk elektronik bernama EmpowerAll.com. Mengusung konsep unik yakni hanya mengambil keuntungan $2 dollar untuk setiap produk yang dijual, awalnya bisnis tersebut memang nampak menjanjikan. Namun belum genap setahun situs tersebut akhirnya gulung tikar akibat menderita banyak kerugian.
      Tak berlama terpuruk, ia yang mempunyai basic di bidang IT kemudian membangun sebuah perusahaan game bernama FunBug di tahun 1999. Tak tanggung-tanggung, bisnisnya tersebut bahkan sempat mendapatkan kucuran pendanaan sebesar $3,9 juta dollar. Namun pukulan telak kembali menerjang bisnis Nicholas, hingga perusahaan tersebut tak lagi bisa diselamatkan.
      Mencari Pencerahan Sembari Berselancar
      Ternyata cobaan usaha yang kedua tersebut cukup keras menggedor mental bisnis seorang Nicholas Woodman. Ia bahkan tak bisa langsung move on dan memutuskan untuk menenangkan diri terlebih dahulu. Keputusan besar ia ambil ketika hijrah ke Australia untuk menenangkan diri. Dan seperti saya sampaikan di atas, ia sempat juga pindah ke Indonesia tepatnya di Bali selama tak kurang dari 5 bulan. Dan siapa sangka justru di Pulau Dewata tersebutlah Nicholas dipertemukan dengan takdir kesuksesan besarnya.
      Ini bermula ketika ia sangat ingin memiliki sebuah alat perekam kegiatan berselancar. Jika menggunakan kamera pocket atau kamera profesional tentu tidak memungkinkan untuk di bawa secara bebas selama berselancar. Jadilah ia memodifikasi semacam sabuk agar bisa menjadi pengikat kamera pada papan selancar atau pada lengan penggunanya.
      Dari sini ia menemukan bahwa perangkat pelengkap kamera tersebut ternyata banyak dibutuhkan dan dicari para peselancar lain. Akhirnya ia membulatkan tekat untuk mulai mengembangkan sabuk kamera tersebut sebagai awalan bisnisnya.
      Totalitas Mengembangkan Produk
      Berbekal 600 buah ikat pinggang yang ia beli di Bali, ia kembali ke Amerika dan mulai melakukan eksperiment. Terdapat fakta yang cukup ekstrim dalam proses tersebut, yakni Nicholas mengasingkan diri dengan hidup di sebuah mobil VW Combi tua di sebuah daerah yang jauh dari keramaian penduduk. Tak hanya itu untuk menuntaskan karyanya tersebut, ia berkisah terus bekerja selama 12 jam sehari di dalam mobil tersebut. Waktu keluar hanya ia gunakan untuk mengisi perut dan beberapa keperluan lain.
      Waktu berlalu dan sabuk kamera ciptaannya usai dibuat. Tak butuh waktu lama, sabuk biasa yang awalnya berharga hanya $2 dollar berhasil ia jual seharga $60 dollar dan laris manis di kalangan peselancar. Dari situ, Nicholas mulai berfikir kembali, jika ia bisa membuat produk kamera yang kompetibel dengan kegiatan outdoor dan olahraga ekstrim tentu akan lebih menjanjikan.
      Lantas ia mulai mencari produsen kamera film yang bisa ia dapatkan lisensinya dan ia kembangkan sendiri. Bertemulah Nicholas dengan sebuah brand kamera asal China bernama Hotax. Dengan harga kamera $3.05 dollar perbuah, ia mulai menguatak-atik kamera tersebut agar sesuai dengan konsep action camera yang ada dalam benaknya.
      Brand GoPro Menuai Kesuksesan Besar
      Pada tahun 2002, purwarupa kamera dengan brand GoPro yang pertama berhasil ia ciptakan. Bermodal kan patungan dengan sang kekasih dan juga modal dari orang tuanya, produk kamera action tersebut dirasa sudah mampu memuaskan angan-angan Nicholas Woodman. Tak disangka baru 2 tahun dikembangkan di tahun 2004 produk GoPro sudah memiliki banyak peminat serta mencatatkan angka jual fantasitis yakni $521 juta dollar dari hasil penjualan 2,3 juta unit GoPro.
      Ekspansi bisnis Nicholas nampak semakin menjadi-jadi ketika sebuah perusahaan besar Foxcom membeli 8.88 % saham GoPro senilai $200 juta dollar. Dan puncaknya yakni saat saham GoPro dilepas di publik. Saat itu kekayaan pria eksentrik tersebut melonjak hingga $3,9 miliar dollar dan menempatkan dirinya dalam jajaran pengusaha muda paling sukses sejagat.
      Dari sebuah ide sederhana, seorang Nicholas Woodman berhasil meraih kesuksesan luar biasa. Yang diperlukan adalah keseriusan untuk menindak lanjuti ide tersebut dan juga kerja keras untuk mempertahankannya. Siap menjadi Nicholas berikutnya? Cari dan wujudkan mimpi mu!
    • By dugelo
      Entah gimana, rencananya pake GoPro gak cuma buat selfie, tapi malah narsis jadinya. Tadinya orang yang akan lu tonton, dia pengen liburan terus pake gopro buat rekam pemandangannya tapi alhasil gara gara gaptek, ya you knwo lah what I mean.
       
    • By berita_semua
      Yi Action Camera
       
      Kesan produsen perangkat murah makin melekat saja ke diri Xiaomi. Tak hanya smartphone, perusahaan asal Tiongkok ini coba memperluas segmennya ke area kamera aksi.
       
      Yi Action Camera adalah kamera aksi berbentu kompak yang dimaksud. Dari bentuk dan fiturnya, jelas piranti ini datang untuk menyaingi GoPro yang mendominasi pasar kamera aksi.
       
      Dibandingkan dengan kamera aksi GoPro, tentu saja Yi Action Camera menawarkan harga yang sangat terjangkau. Untuk bisa memboyong perangkat tersebut, konsumen hanya perlu merogoh kocek US$ 65 atau setara Rp 850 ribu. Hampir setengah dari harga GoPro paling murah yang dbanderol US$ 130 atau sekitar Rp 1,5 juta.
       
      Kendati dihargai murah, nyatanya tak membuat Yi Action Camera ini kalah bersaing. Beberapa fitur yang disematkan misalnya kemampuan mengirim file melalui jaringan WiFi.
       
      Yi Action Camera dipersenjatai dengan prosesor gambar Ambarella A7LS yang terhubung dengan sensor gambar Sony back-illuminated Exmor R BSI CMOS.
       
      Selain itu, kamera aksi ini mampu meringkus gambar di resolusi 16 megapiksel dengan merekam video 1080p di 60 fps. Kamera aksi Xiaomi ini juga diklaim lebih ringan 72 gram dibandingkan GoPro 111 gram.
       
      Sejauh ini Yi Action Camera ini baru tersedia di pasar Tiongkok saja, dan belum diketahui kapan akan dilempar ke pasar luar negeri seperti Indonesia.
    • By Sam
      Demi dapat bersaing dengan GoPro dalam pasar kamera mungil untuk aktivitas olahraga ekstrem, Sony meluncurkan Action Cam yang mendukung resolusi gambar 4K. Produk ini diungkapkan Sony dalam konferensi pers di acara pameran Consumer Electronic Show (CES) 2015.
       
      Patrick Huang, Direktur Bisnis Divisi Kamera Rekam Sony, menyatakan bahwa kamera ini memiliki desain dan teknologi yang inovatif dan berkomitmen untuk memperkuat penetrasi pasar kamera yang biasa digunakan untuk menunjukkan suatu aksi.
       
      "Saya senang untuk membawa ketajaman dan kejelasan yang tidak tertandingi dengan Sony Action Cam ini," kata Huang.
       
      Kamera ini memiliki spesifikasi yang cukup tinggi. Action Cam hadir dengan lensa ultra wide angle 170 derajat yang dapat merekam gambar dengan pembingkaian yang sangat luas. Selain itu, kamera ini mampu merekam gambar pada resolusi 3.840 x 2.160 dengan kecepatan 30 frame per detik.
       
      Action Cam juga menggunakan full-pixel technology, di mana dengan teknologi ini kamera dapat menggunakan semua sensor ketika melakukan pengambilan gambar. Sehingga gambar yang dihasilkan sangat halus dan rinci.
       
      Selain itu, ada pula teknologi SteadyShot untuk meredam guncangan ketika kamera terpasang pada helm pengguna atau bahkan pada sebuah drone. Alhasil, dengan teknologi ini Action Cam dapat menghasilkan gambar sangat tajam, halus dengan guncangan yang minimal.
       
      Dengan spesifikasi yang tinggi, kamera ini akan dipasarkan dengan harga US$ 499 atau sekitar Rp 6,3 juta. Harga ini tidak terpaut jauh dengan produk GoPro yang memiliki kemampuan serupa. 
    • By h4ck3r1nd0
      Kamera berbagai medan seperti GoPro memang sudah mulai banyak pesaing, dan salah satunya baru saja dibawa distributor Datascrip ke Indonesia.
       
      Mio MiVue M300 dan M350 disebut-sebut sebagai action camera yang tak kalah hebat. Dengan desain ringkas dan tangguh, kedua kamera ini menawarkan kualitas video full HD yang mudah digunakan dalam kondisi dan medan apa pun. Mirip seperti GoPro.
       
      “Mio Mivue M300 dan M350 cocok bagi Anda yang gemar berpetualang atau olahraga ekstrem,” ujar Gatot Priyo Laksono - CAD & System Survey Division Manager pt. Datascrip, dalam keterangan yang diterima CNN Indonesia, Rabu (24/12).
       
      Meskipun bentuknya kecil dan kompak, kedua kamera ini sanggup merekam video dengan kualitas gambar full HD (1920 x 1080) dan kecepatan frame maksimal 30 fps dan format codec H.264. Untuk media penyimpanannya menggunakan MicroSD card hingga kapasitas 32 GB.
       
      Didukung sensor CMOS dengan resolusi 5 megapiksel membuat kualitas gambar yang dihasilkan menjadi cukup tajam. Dengan bukaan lensa yang besar hingga f/2.8 pada Mio M350, pengguna lebih nyaman untuk merekam dalam kondisi minim cahaya.
       
      Bagi Anda yang senang dengan olahraga snorkeling, Mio Mivue M300 dan M350 memiliki sertifikat IPX8 yang mampu merekam di bawah kedalaman 3 meter hingga jangka waktu 1 jam, tanpa perlu tambahan pelindung atau aksesoris lainnya. Selain itu, kedua kamera ini juga tahan hingga suhu ekstrem -10 sampai dengan 60 derajat celcius.
       
      Kedua action camera ini sangat mudah dioperasikan dan dilengkapi dengan mounting yang fleksibel untuk ditempatkan dimana pun, ditempel pada helm, dipasang di setang sepeda/sepeda motor atau diikat di lengan pengguna.
       
      Untuk mendapatkan jangkauan pengambilan gambar yang luas, Mio MiVue M300 menggunakan lensa sudut lebar 120°, sedangkan Mio MiVue M350 hingga mencapai 170°. Keduanya sudah dilengkapi dengan fitur fixed focus. 
×
×
  • Create New...