Jump to content

Temuan baru nih! Laser Pertama Berwarna Putih


Recommended Posts

hqdefault.thumb.jpg.1bc97413ceaa42a0abe2

Peneliti dari Arizona State University telah menciptakan sinar laser berwarna putih pertama di dunia yang berpotensi menjadi sumber cahaya alternatif untuk pencahayaan hingga perangkat elektronik.

Para peneliti meyakini sinar laser putih bisa dimanfaatkan untuk memberi penerangan pada rumah tangga hingga layar perangkat elektronik konsumen. Laser putih dapat menutupi 70 persen lebih warna pada standar layar saat ini.

Apalagi, laser diklaim mampu lebih hemat daya dibandingkan light-emitting diode (LED).

Lebih hebat lagi, laser putih disarankan dipakai pada Li-Fi, sebuah teknologi berbasis cahaya yang sedang dikembangkan untuk akses Internet nirkabel kecepatan tinggi.

Sekarang LED digunakan untuk mengembangkan Li-Fi, sebuah teknologi yang bisa bekerja 10 kali lebih cepat dari koneksi Wi-Fi saat ini berbasis spektrum radio.

Li-Fi yang memakai laser putih disebut bisa memberi kecepatan 10 sampai 100 kali lebih cepat dari Li-Fi yang berbasis LED.

Profesor di Sekolah Teknik Elektro Arizona State University, Cun-Zheng Ning, menulis penelitian mereka berjudul "A monolithic white laser" bersama mahasiswa doktoralnya, Fan Fan, Sunay Turkdogan, Zhicheng Liu, dan David Shelhammer. Penelitian ini dipublikasi di Nature Nanotechnology pada 27 Juli 2015.

Laser, yang diciptakan pada 1960, selama 50 tahun terakhir memancarkan setiap panjang gelombang cahaya tunggal, kecuali putih.

Untuk membuat cahaya putih laser, para peneliti Arizona State University memproduksi tiga laser semikonduktor tipis, masing-masing setebal seperseribu rambut manusia dan berbaris sejajar satu sama lain.

Setiap semikonduktor memancarkan salah satu dari tiga warna premier dan kemudian digabungkan bersama untuk membentuk warna putih. Seluruh perangkat juga dapat disetel untuk membuat warna dalam spektrum yang terlihat mata telanjang.

Link to post
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...
  • Similar Content

    • By c0d1ng
      Produk yang mengandung antimikroba Triclosan telah digunakan sejak 1964, diklaim menjadi salah satu dari 10 pencemaran lingkungan teratas di sungai negara bagian Amerika Serikat, Nevada. Akibatnya, produk tersebut dapat mengganggu sistem endokrin margasatwa dan menyebabkan efek toksik terhadap reproduksi dan perkembangannya.
      Sebuah studi baru di University of Nevada, telah menemukan cara potensial untuk mengurangi adanya antimikroba yang juga terkait dengan masalah resistensi antibiotik.
      "Hasilnya menjanjikan bahwa kita mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana triklosan terdegradasi di lingkungan alami, dan berpotensi menemukan cara untuk menghilangkan kontaminan dari lingkungan dan dalam jangka panjang melawan masalah resistensi antibiotik," kata Yu Frank Yang, Asisten profesor teknik lingkungan di Universitas Nevada dikutip dari Eurekalert.
      Triclosan biasanya digunakan untuk hal-hal seperti pembersih tangan, deterjen, sabun dan cat, yang dapat terdegradasi lebih cepat di lingkungan melalui proses kombinasi bakteri pengurang logam dan bahan organik alami.
      Tim yang menguji matriks dari bakteri strain yang dicampur dengan bahan organik untuk mengetahui kondisi triclosan yang terdegradasi paling cepat. Para peneliti juga menemukan sebuah campuran yang mengurangi waktu penyebaran triclosan menjadi sekira 10 jam.
      Hasil keseluruhan ditentukan oleh konsentrasi bahan organik aktivitas mikroba dan kimia air. Penelitian tersebut masih memerlukan studi dan pengembangan lebih lanjut, terlebih faktor biaya yang dibutuhkan juga tak sedikit.
      Sebagai informasi, Yang dan timnya telah mempresentasikan proyek ini dan pekerjaan lainnya dalam sembilan presentasi di pertemuan musim semi American Chemical Society di San Francisco, California pada awal April.
    • Guest News
      By Guest News
      Pesawat tanpa awak (drone) telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di banyak wilayah dunia. Dengan semakin banyaknya drone yang terbang, kemungkinan tabrakan antar drone atau dengan pesawat terbang lain menjadi masalah serius, karena itu para ilmuwan mencoba mencari solusinya.
       
    • By sandyiktibal
      Apa yang dirasakan manusia saat akan meninggal? Ilmuwan berupaya menjelaskan apa yang dirasakan ketika saat tersebut tiba.
      Ajal adalah sesuatu yang dialami manusia sekali seumur hidupnya dan sangat jarang kita mendengar kesaksian bagaimana saat itu tiba. Kendati begitu ilmuwan dari The American Chemical Society membuat video mengenai apa yang dirasakan saat kematian tiba.
      Menurut asosiasi tersebut, menyaksikan seseorang dikejar-kejar pembunuh yang membawa kampak dalam film horor menciptakan perasaan yang sama seperti Anda yang tengah dikejar pembunuh tersebut.
      Dalam video tersebut ilmuwan The American Chemical Society menjelaskan bagaimana perubahan kimia dalam otak beberapa saat sebelum seseorang dibunuh oleh pembunuh berkampak.
      Rasa takut - seperti dijelaskan ilmuwan - merupakan respon kognitif yang memperingatkan kita saat berada dalam bahaya. Dari berbagai sudut pandang ilmuwan medis, Anda bisa meninggal karena ketakutan.
      Rasa takut tersebut dikirimkan ke bagian otak yang disebut Thalamus dimana pesan itu menjelaskan kepada tubuh bahwa kita dalam kondisi bertarung.
      "Saat sinyal rasa takut itu mencapai otak di bagian periaqueductal, kondisi itu memerintahkan otak untuk bersiaga," papar ilmuwan.
      Lalu mengapa kita berteriak saat kita ketakutan? Ilmuwan menjelaskan bahwa perilaku tersebut merupakan respon otomatis dari tubuh. Kita akan berusaha memberitahu orang lain dengan berteriak sekaligus menyatakan apa yang tengah dirasakan dengan harapan mendapatkan bantuan.
      "Berbeda dengan saat kita berbicara biasa, suara teriakan yang diterima telinga langsung menuju daerah Amygdala dimana itu adalah pusat darurat otak. Hal itu seperti halnya seseorang yang berteriak berusaha berbagi dengan Anda bagaimana kondisi otaknya," jelas ilmuwan.
      Saat pembunuh berkampak dalam film horor tersebut berhasil menangkap korban dan membunuhnya secara brutal serta menghentikan teriakan otomatis tadi.
      Rasa sakit menurut ilmuwan merupakan perasaan yang sangat berbeda dari sentuhan dan rasa tersebut memberitahukan tubuh bahwa apa yang baru terjadi tidak boleh terulang.
      Dengan mengasumsikan tidak terjadi kerusakan otak, sesuatu yang menarik terjadi saat ajal menjelang. Ketika jantung berhenti berdenyut dan Anda tak lagi bernafas saat itulah yang disebut kematian klinis.
      Ketika itu otak masih terus bekerja dan memasuki kondisi aktivitas perseptual-neural. Langkah terakhir dari kematian adalah saat otak berhenti bekerja dan itu yang disebut kematian biologis. Ketika itu seseorang benar-benar disebut meninggal dunia.
    • Guest News
      By Guest News
      Analis teknologi banyak mengkhawatirkan terjadinya 'capacity crunch' yakni macetnya jaringan internet dan mobile akibat kelebihan lalu lintas data. Salah satu teknologi yang sedang dikembangkan adalah laser dan partikel cahaya yang bisa mengangkut data.
       
    • Guest News
      By Guest News
      Arief telah bekerja di Orion Genomics sejak lulus program pasca doctoral dari Clemson University Genomics Institute tahun 1999.

      Muhammad Arief Budiman, seorang ilmuwan senior di Orion Genomics, perusahaan bio teknologi di St. Louis, Missouri berhasil mengundang rasa kagum rekan kerjanya.
      Jared M. Ordway, Phd., Wakil Direktur Riset dan Pengembangan Orion Genomics mengatakan, "Arief punya talenta luar biasa sebagai seorang ilmuwan, dan ia adalah salah satu ilmuwan paling berbakat yang pernah bekerjasama dengan saya. Ia punya keahlian memecahkan masalah yang tidak dapat dilakukan orang lain, dan membantu orang lain untuk mengerjakannya. Arief benar-benar menggalinya dan membedah masalahnya hingga akhirnya berhasil dikerjakan."
      Arief telah bekerja di perusahaan ini sejak lulus program pasca doctoral dari Clemson University Genomics Institute tahun 1999.
      "Sebagai senior scientist, saya lebih ke menyiapkan genome. Jadi genome itu ilmu dispilin yang mempelajari gen-gen, apakah itu di tanaman, apakah itu di manusia untuk kanker misalkan. Jadi saya lebih ke men-setup, kemudian menyiapkan DNA-DNA yang akan kita analisa untuk gen-gen nya, sehingga kita bisa mengetahui mana gen-gen yang bermanfaat untuk tanaman, atau penanda untuk penyakit kanker dan lain sebagainya," ujarnya.
      Arief kini banyak terlibat dalam pengembangan tes kelapa sawit untuk mengetahui kandungan minyak yang dimiliki sejak usia dini. Ia memulai program pemetaan gen-gen kelapa sawit sejak 10 tahun yang lalu.
      Nathan D. Lakey, MBA, Presiden & CEO Orion Genomics, mengatakan, "Selama sepuluh tahun terakhir, Arief telah memimpin tim sains yang membuat banyak terobosan dan terobosan ini akan dikomersialisasikan di Indonesia oleh Orion Bio Science, sebuah perusahaan di mana Arief adalah presidennya.
      Bukan hanya kelapa sawit, menurut Arief, banyak tanaman asli Indonesia dapat mengambil manfaat dari teknologi genomics, seperti tanaman Akasia yang digunakan untuk industri bubur kertas, serta tanaman tebu.
      "Kita terletak di antara dua benua, Asia dan Australia, dengan kekayaan alam yang hebat sekali dan memang benar sebetulnya itu, dan salah satu cara, salah satu teknologi yang bisa memining, misalkan enzim-enzim yang ada, kemudian kekayaan hayati yang ada itu, salah satunya adalah dengan teknologi genomics. Saya kira banyak orang yang kompeten, kemudian perlu disinergiskan saja dan pemerintah harus benar-benar serius ya, serius untuk menyediakan dana dan untuk memberikan tempat untuk mereka berkarya," tambahnya.
      Arief sendiri melihat keberadaannya di Amerika dapat membantu mengurangi kesenjangan informasi dan kemajuan teknologi yang amat cepat.
      Bapak tiga putri yang bersama timnya juga mengembangkan tes untuk mendeteksi penyakit kanker usus ini berharap ilmu yang dimilikinya dapat memberi manfaat bagi umat manusia.
      "Ketika kita bekerja dengan DNA, ini suatu hal yang mungkin kita tidak bisa melihat secara langsung, secara makro gitu ya, tapi saya merasakan apa yang saya lakukan itu, saya berharap semoga kita menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain," ujarnya menutup wawancara dengan tim VOA. (www.voaindonesia.com)
×
×
  • Create New...