Jump to content

Email di Gmail Bisa Bunuh Diri


Recommended Posts

  • ✔ Verified Account

Gmail-banner.thumb.jpg.2bcb8f182304c7f52

Dmail, plugin baru di peramban Google Chrome, menyediakan fitur yang mengontrol berapa lama email yang ada di dalam inbox bisa dilihat penerima. Kalau tiba waktunya, email itu akan ‘bunuh diri’ alias menghancurkan dirinya sendiri. 

Fitur ini diyakini akan membantu komunikasi yang aman atau mencegah bocornya informasi personal kalau email tak terhapus dari kotak surat. 

Fitur ‘bunuh diri’ itu bisa diakses di Chrome extensionmelalui tombol “Send with Dmail” dekat tombol “Send” di email yang dibuat. Dengan mengklik tombol itu, pemilik email bisa mengontrol berapa lama umur email yang dikirim. 

Sebetulnya Gmail sendiri sudah memiliki fitur baru yang membuat pengirim email bisa membatalkan pengiriman seandainya diperlukan. Itu dilakukan dengan tombol “Undo send”.  

Tapi tombol ini hanya efektif dalam waktu kurang dari 30 detik. Lebih dari itu, email akan tersimpan di inboxpenerima. 

Nah, pada Dmail, pengguna bisa lebih leluasa lagi mengatur berapa lama waktu email itu berada diinbox penerimanya. Bisa diatur satu jam atau sepekan. Setelah itu, email akan ‘bunuh diri’. 

Tapi jika belum terpikirkan berapa lama, bisa memilih “Never” dan ‘pembunuhan’ email bisa dilakukan lain kali. 

Semua pesan email sudah dienkripsi dan bila pengirimnya menambahkan restriksi untuk mengakses, maka penerima tidak akan bisa melihat isi email itu lagi. 

Dmail mengklaim, dalam waktu dekat mereka akan menambahkan fitur untuk mencegah email tak bisa di-forward.

Link to post
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...
  • Similar Content

    • By ega
      Google mengganti logo Gmail dari yang semula berbentuk amplop putih dengan tepian merah menjadi sebuah logo yang kini terasa lebih 'Google banget'.
      Logo baru Gmail kini menyerupai huruf M besar dengan bentuk mirip amplop, tetapi hadir dengan empat warna ciri khas Google. Warna warni yang dimaksud ada biru, merah, kuning, dan hijau.
      Logo baru Gmail ini cocok dan senada dengan logo Google, Google Maps, Google Photos, Chrome, dan produk-produk Google lainnya. Dengan logo baru Gmail ini, tak ada lagi amplop lawas khas Gmail.
      Fast Company melaporkan, Google sebelumnya mempertimbangkan untuk menghapus logo bentuk M sama sekali atau menghapus warna merah Gmail sepenuhnya. Namun, mereka yang terlibat dalam riset pengguna tak senang dengan perubahan tersebut.
      Pertahankan Huruf M
      Riset ini kemudian membantu Google menyadari, amplop dari logo Gmail bukanlah elemen desain yang penting. Dengan begitu, memungkinkan tim untuk bereksperimen dengan mempertahankan huruf M serta menambah palet warna tradisional Google.
      Logo baru Gmail ini masih terasa didominasi warna merah, dengan sedikit sentuhan warna kuning, biru, dan hijau di masing-masing lengkungan huruf M.
      G Suite Jadi Google Workspace

      Google juga sebelumnya mengubah logo Kalender, Docs, Meet, dan Spreadsheet agar sesuai dengan desain baru Gmail ini.
      Logo baru ini merupakan bagian dari perubahan lebih luas dari perangkat lunak G Suite Google yang kini diubah namanya menjadi Google Workspace.
      Google pun tengah mencoba menggabungkan Gmail, Chat, dan Docs ke dalam satu lokasi pusat untuk bisa lebih bersaing dengan Microsoft Office, terutama Outlook yang lebih terintegrasi.
    • By Forzaken_DT
      Pengadilan federal Manhattan, Amerika Serikat, memvonis Evaldas Rimasauskas, pelaku penipuan terhadap perusahaan sekelas Google dan Facebook dengan hukuman lima tahun penjara. Kedua raksasa teknologi itu diketahui rugi hingga USD 120 juta atau Rp 1,67 triliun akibat penipuan tersebut.
      Tak hanya menghuni sel tahanan, Rimasauskas juga didenda sebesar USD 26,4 juta sebagai ganti rugi.
      "Evaldas Rimasauskas merancang skema berani untuk menipu perusahaan AS lebih dari USD 120 juta dan kemudian menyalurkan dana itu ke rekening bank di seluruh dunia," kata jaksa penutut Geoffrey Berman.
      Semua itu bermula dari aksi Rimasauskas berpura-pura sebagai karyawan dari perusahaan manufaktur elektronik bernama Quanta Computer di Taiwan. Untuk menyakinkan aksinya, pria ini sampai modal stempel perusahaan yang sesuai dengan aslinya hingga email palsu.
      Dari email palsu tersebut, Rimasauskas mengirimkan ke staf Google dan Facebook meminta pembayaran atas barang dan jasa yang dibeli dari Quanta. Pada saat itu, memang Google dan Facebook bermitra dengan Quanta.
      Rimasauskas pun menginstruksikan agar pembayaran ditransfer ke sejumlah bank di luar negeri yang dikuasainya. Ketahuan menipu, Rimasauskas ditangkap pada 2017 lalu dan pada pekan ini baru diputuskan hukumannya.
      "Rimasauskas melakukan pencurian teknologi tinggi dari belahan dunia, tetapi dia dijebloskan di pengadilan federal Manhattan," pungkas Berman.
    • By paimin
      Kemajuan teknologi saat ini sudah banyak dimanfaatkan untuk memudahkan pekerjaan manusia dalam berbagai hal, tapi siapa sangka bahwa kemajuan ini juga dapat 'memudahkan' manusia untuk menemui ajalnya. 

      Ya, sebuah rancangan teknologi yang dikenal sebagai "mesin bunuh diri" baru saja dipamerkan dalam sebuah ajang pameran pemakaman di Amsterdam, Belanda. Penciptanya adalah seorang pejuang eutanasia asal Australia, Philip Nitschke, yang dibantu seorang perancang asal Belanda, Alexander Bannink. 

      Rancangan mesin yang dinamai 'Sarco' singkatan dari sarkofagus ini, sangat kontroversial karena memungkinkan penggunanya untuk bunuh diri yang dalam banyak pandangan dilarang. 

      Desain pod atau tabung berada di atas sebuah penyangga yang akan menjadi tempat terakhir manusia yang ingin mengakhiri hidupnya. 

      Cara kerja mesin sangat sederhana. Mesin ini memiliki sebuah tombol yang jika ditekan akan mengeluarkan gas nitrogen yang akan secara langsung 'membunuh' orang di dalamnya. 

      “Orang yang ingin mengakhiri hidupnya cukup menekan tombol dan kapsul yang ditempatinya akan diisi dengan nitrogen. Ia akan merasa sedikit pusing tetapi kemudian akan cepat kehilangan kesadaran dan mati,” kata Nitschke, seperti dikutip dari The Guardian. 

      Lebih lanjut, Nitschke mengatakan bahwa Sarco adalah alat "yang disediakan untuk orang-orang yang mengakhiri hidupnya." 

      Dalam pameran di Amsterdam tersebut, Nitschke dan Bannink memberikan kesempatan kepada para pengunjung untuk merasakan sensasi menggunakan "mesin bunuh diri" ciptaannya menggunakan kacamata virtual reality. 

      Nitschke mengatakan ia bertujuan membangun pod yang berfungsi penuh sebelum akhir tahun. Setelah itu, desain mesin ini akan ditempatkan secara online sebagai dokumen terbuka bagi orang-orang untuk mengunduhnya. 

      "Itu berarti siapa saja yang ingin membangun mesin ini dapat mengunduh dan mencetak 3D perangkat mereka sendiri," kata Nitschke. 
      Ketika ditanya tentang kontroversi seputar eutanasia dan rintangan hukum, Nitschke percaya bahwa memilih untuk mati adalah hak asasi manusia. 

      “Saya percaya itu adalah hak asasi manusia yang fundamental untuk memilih kapan harus mati. Ini bukan hanya beberapa hak istimewa medis untuk orang yang sangat sakit. Jika Anda memiliki karunia hidup yang berharga, Anda harus dapat memberikan hadiah itu pada saat Anda memutuskannya,” ungkapnya.

    • Guest News
      By Guest News
      Pihak koroner atau dokter forensik di Los Angeles memastikan salah satu saksi kasus korupsi E-KTP Johannes Marliem meninggal dunia akibat bunuh diri di kediamannya di California, AS. Menurut petugas koroner, jenazah Johannes Marliem masih berada di kamar jenazah menunggu klaim dari pihak keluarga.
       
    • Guest News
      By Guest News
      Surat yang ditulis oleh Direktur FBI James Comey kepada Kongres AS hari Minggu (6/11) yang menyatakan tidak ada indikasi pidana pada peninjauan kembali email-email Hillary Clinton.
      Direktur FBI James Comey mengungkapkan hari Minggu (6/11) bahwa peninjauan kembali terhadap email-email Hillary Clinton saat menjabat sebagai Menlu AS tidak mengungkapkan indikasi tindak pidana.
      Direktur FBI James Comey memberitahu Kongres peninjauan kembali email yang berhubungan dengan masa jabatan Hillary Clinton sebagai menteri luar negeri AS tidak mengungkapkan indikasi kegiatan pidana, sementara capres Demokrat Clinton dan saingannya dari Partai Republik Donald Trump bersiap-siap melakukan usaha terakhir untuk memenangkan suara dalam pemilihan presiden hari Selasa (8/11).
      “Berdasarkan peninjauan kembali, kami tidak mengubah kesimpulan yang kami utarakan bulan Juli mengenai Menteri Luar Negeri Clinton,” tulis Comey hari Minggu (6/11).
      Bulan Juli lalu, Comey menyatakan bahwa sekalipun penggunaan email pribadi oleh Clinton ceroboh, “tidak ada jaksa penuntut yang berpikiran wajar” akan melakukan tuntutan pidana terhadapnya.
      Pekan lalu hal tersebut muncul kembali ketika FBI mengatakan mereka sedang memusatkan perhatian pada email Clinton setelah menemukan sejumlah besar pesan email dalam kasus yang tidak berhubungan, yang melibatkan mantan anggota Kongres Anthony Wiener.
      Kampanye Clinton menyambut baik pengumuman itu, dan kepala komunikasi Jennifer Palmieri mengatakan tim-nya telah yakin sebelumnya bahwa Comey akan mencapai kesimpulan itu.
      “Kami gembira masalah ini telah diselesaikan,” katanya kepada para wartawan.
      Trump mengatakan kepada para pendukungnya di Pennsylvania bahwa Clinton adalah orang yang paling korup yang pernah menjadi calon presiden Amerika Serikat.
      “Penyelidikan mengenai kejahatannya akan terus berjalan dalam waktu yang lama,” katanya, dan menambahkan rakyat pemilih dapat mendatangkan keadilan dengan suara mereka dalam pemilu.
      Ia kemudian mengatakan kepada khalayak di kota Leesburg, Virginia, bahwa pemilihan hari Selasa akan menjadi “Brexit kali 50,”yang membandingkannya dengan hasil yang di luar dugaan referendum Inggris sebelumnya tahun ini untuk keluar dari Uni Eropa. Seperti Trump, pihak yang mendukung keluarnya Inggris dari Uni Eropa, ketinggalan dalam poll atau jajak pendapat sampai Hari Pemilihan.
      Dalam kampanyenya hari Minggu, Clinton berusaha menggambarkan dirinya sebagai calon yang sangat berbeda dari Trump. [www.voaindonesia.com]
×
×
  • Create New...