Jump to content
  • Popular Contributors

    Nobody has received reputation this week.

  • Our picks

    • Wanita Ini Baru Tau Pekerjaan Suaminya Setelah Suaminya Meninggal
      Seorang wanita menemukan fakta mengejutkan tentang suaminya yang telah dinikahinya selama 64 tahun.

      Kenyataan mengejutkan tersebut bahkan baru diketahuinya setelah sang suami yang bernama Glyn meninggal dunia.
      • 0 replies
    • Kamu Harus Tau Tentang Amnesia
      Apa itu Amnesia?

      Amnesia atau dikenal juga sebagai sindrom amnesik, adalah kondisi yang menyebabkan kehilangan memori. Hal ini meliputi kehilangan informasi, fakta-fakta, dan pengalaman personal. Ada banyak kondisi kesehatan yang dapat menyebabkan amnesia, seperti dementia, stroke, atau cedera kepala.
      • 0 replies
  1. qbonk

    qbonk

  • Similar Content

    • By ginseng
      Tsunami Selat Sunda membuat 430 orang meninggal dunia, ribuan orang luka-luka, 159 orang hilang dan 21 ribu orang mengungsi seperti disampaikan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho.
      Bisa jadi, salah satu korban adalah saudara, rekan kerja, atau kolega Anda. Memberikan dukungan dan bantuan kepada saudara atau teman yang jadi korban tsunami Selat Sunda adalah hal yang amat baik. Lalu, bagaimana cara membuat mereka nyaman pascabencana dengan apa yang kita lakukan?
      Pertama, memberikan bantuan. Selain materi, bisa juga memberikan bantuan psikologis seperti disampaikan psikolog Rena Masri.
      Bantuan psikologis bisa dilakukan dengan mengajak teman atau saudara yang sudah memiliki anak mengajak buah hati mereka beraktivitas. Bisa dengan bermain atau membacakan buku yang menarik serta hal-hal lain yang membuat mereka bahagia.
      Rena juga mengingatkan jangan menanyakan terus menerus kejadian tsunami Selat Sundakemarin. Hal itu malah berdampak buruk bagi mereka. 
      "Jangan terus-terusan tanya kejadian kemarin. Hal ini akan membuat mereka ingat terus kejadian kemarin. Kejadian menakutkan itu akan diingat terus oleh mereka," kata Rena.
      Lebih baik, menambah pengalaman-pengalaman membahagiakan bagi mereka. Sehingga, pengalaman yang kemarin bisa 'ditutupi' dan diterima oleh mereka.
      Mendengarkan secara aktif
      Biasanya orang yang baru saja melewati kejadian bencana ingin bercerita tentang kesedihan atau ketakutannya. Biarkan mereka bercerita dan tugas kita adalah mendengarkan secara aktif.
      "Dengarkan saja, yang penting aktif. Misalnya usai dia bercerita, 'Oh iya, lalu gimana perasaan kamu sekarang?'," kata Rena.
      Hindari memberikan penghakiman atas tindakan mereka. Lebih baik besarkan hati mereka pascabencana. Jika memang apa yang dilakukan oleh teman atau saudara itu salah, jangan disalahkan saat itu.
    • By chyntia_irawan
      Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan, korban meninggal akibat tsunami di Selat Sunda terus bertambah. Data terbaru pada Selasa (25/12/2018) pukul 13.00 WIB menyatakan, korban meninggal berjumlah 429 orang.
      "429 orang meninggal, 1.485 luka-luka, 154 hilang," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho saat konferensi pers di Kantor BNPB, Jakarta, Selasa.
      Sutopo juga menyampaikan, 16.082 orang mengungsi akibat tsunami. Korban meninggal terdapat di wilayah Pandeglang, Serang, Lampung Selatan, Pesawaran, dan Tanggamus.
      Sutopo menyatakan, dari data terbaru akibat tsunami disebutkan 882 unit rumah rusak, 73 penginapan rusak, 60 warung rusak, 434 perahu dan kapal rusak, 24 kendaraan roda empat rusak, 41 kendaraan roda 2 rusak, 1 dermaga rusak, dan 1 shelter rusak.
      Pencarian Korban
      Sementara itu, TNI mengerahkan kapal untuk membantu pencarian korban tsunami di Selat Sunda. Penyisiran dilakukan dari wilayah Carita sampai dengan wilayah Sumur bagian selatan, Banten.
      "KRI Torani menyisir wilayah laut dari Labuhan sampai dengan Sumur bagian selatan, untuk menyisir sepanjang pantai untuk menemukan kemungkinan korban yang berada di laut," ujar Kapendam III Siliwangi Kolonel Arh Hasto Respatyo melalui pesan singkat kepada Liputan6.com, Selasa (25/12/2018).
      Tak hanya KRI Torani, TNI Angkatan Laut juga mengerahkan kapal KAL Sanca-815 dari Lantamal III Jakarta, dan dua KAL lainnya dari Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Banten, serta prajurit untuk membantu penanganan korban tsunami Selat Sunda, Minggu 23 Desember 2018.
      TNI AL juga mempersiapkan KRI Teluk Cirebon-543 untuk dikerahkan ke lokasi bencana. Hal tersebut disampaikan Kadispenal Laksamana Pertama TNI Mohammad Zaenal dalam siaran pers.
      "TNI AL mengerahkan sejumlah kapal dan prajurit ke lokasi terdampak tsunami sebagai reaksi awal penanggulangan bencana tersebut," kata dia seperti dilansir Antara.
    • By abas
      Musibah gempa dan tsunami di Donggala dan Palu kini tengah menjadi sorotan. Apalagi jumlah korban jiwa mencapai lebih dari 1.500 orang.
      Banyaknya korban akibat musibah bencana alam biasanya yang menjadi perhatian. Meski sejumlah orang berhasil menyelamatkan diri.
      Beberapa orang yang selamat menceritakan bagaimana mereka bisa selamat di tengah kepungan bahaya bencana tersebut. Terdengar seperti mukjizat dan keajaiban, tapi nyata bahwa orang-orang itu lolos maut dari gempa atau tsunami dahsyat.
      Seperti warga Prancis yang selamat dari gempa dan tsunami Palu, Jean Marc Pareja. Ia menceritakan perjuangan dirinya bersama istri dan seorang teman selamat dari gempa dan tsunami Palu yang terjadi pada 28 September 2018.
      Jean Marc Pareja bersama istrinya, Pascale dan seorang teman bernama Joelle Girey tengah berada di sebuah hotel di Palu saat gempa melanda. Mereka kemudian berlindung di bawah meja restoran. Lalu saat tsunami terjadi, ketiganya mengaku berpegangan pada sebuah pohon.
      Kisah keajaiban bisa selamat dari musibah gempa dan tsunami dahsyat tersebut juga pernah terjadi di sejumlah negara.
      3.000 Siswa yang Selamat dari Tsunami Jepang

      Gempa berkekuatan 9 skala Richter yang memicu tsunami melanda kawasan utara Jepang pada 11 Maret 2011. Peristiwa itu menewaskan lebih dari 15.800 jiwa dan 2.600 orang dinyatakan hilang.
      Namun, hampir 3.000 siswa sekolah dasar dan menengah di Kota Kamaishi, Prefektur Iwate, berhasil selamat dari bencana dahsyat itu. Keajaiban tersebut membawa harapan bagi banyak orang.
      Segera setelah gempa berkekuatan 9 skala Richter mengguncang, para siswa di Kamaishi East Junior High School keluar dari gedung sekolah dan berlari menuju tempat yang lebih tinggi. Respons cepat mereka membuat siswa dan guru di sekolah dasar Unosumai mengikutinya dan membuat penduduk setempat mengikuti langkah tersebut.
      Saat mereka berlari, siswa yang lebih tua membantu mereka yang lebih muda. Secara bersama-sama mereka mencapai lokasi aman, sementara tsunami besar menelan sekolah dan kota.
      Dilansir dari website Kantor Hubungan Masyarakat Pemerintah Jepang, sekitar 1.000 orang di Kamaishi menjadi korban jiwa akibat peristiwa tersebut. Namun hanya lima di antara mereka yang berusia sekolah dan memang tidak berada di sekolah ketika gempa itu terjadi. Kisah evakuasi sukses tersebut dikenal sebagai "the miracle of Kamaishi".
      Faktanya, respons cepat mereka merupakan hasil dari pendidikan pencegahan bencana yang dilakukan sekolah-sekolah di Kamaishi selama beberapa tahun di bawah bimbingan seorang profesor teknik sipil di Gunma University, Toshitaka Katada.
      Katada mulai fokus dalam pencegahan bencana tsunami setelah ia menyaksikan bencana gempa dan tsunami dahsyat yang menimpa Aceh pada 2004. Ia merasa khawatir melihat fakta bahwa tingkat siaga masyarakat masih rendah, meski wilayah pesisir Jepang telah memperingatkan akan gempa bumi.
      Katada ingat betapa terkejutnya ia ketika beberapa anak di wilayah Sanriku yang pernah terdampak dari gempa besar dan tsunami sebelumnya, mengatakan tanpa ragu bahwa mereka tidak akan mengungsi jika orang-orang dewasa di keluarga mereka tidak melakukannya.
      "Anak-anak melihat contoh orang dewasa dan apa yang mereka lakukan. Aku berpikir apabila anak-anak kehilangan nyawa karena tsunami, kesalahan tak hanya harus ditanggung oleh orang tua, tetapi juga orang dewasa dan masyarakat. Saya tahu saya harus melakukan sesuatu, sehingga anak-anak dapat menyelamtkan nyawanya sendiri," ujar Katada.
      Antusiasme Katada menggerakkan para guru di Kamaishi untuk bekerja bersama-sama. Mereka pun melakukan berbagai macam kegiatan di ruang kelas dan aktivitas bagi anak-anak untuk belajar mengenai tsunami dan pentingnya evakuasi.
      Namun Katada tidak hanya memberi informasi mengenai tsunami kepada anak-anak, tapi juga menekankan pada pengembangan sikap yang benar untuk menangani bencana alam. "Ini tentang menghormati alam dengan perasaan kagum, dan menjadi proaktif untuk menyelamatkan nyawa," ujar Katada.
      Untuk memudahkan anak-anak dalam memahami hal tersebut, Katada menciptakan tiga prinsip evakuasi, yakni jangan menaruh kepercayaan terlalu besar terhadap asumsi usang, berusaha sebaik mungkin dalam menghadapi situasi, dan mendorong anak-anak untuk mengambil inisiatif dalam evakuasi apa pun.
      Tersangkut Pohon Bakau Saat Tsunami

      26 Desember 2004, gempa berkekuatan 9,1 skala Richter menghentikan dia dan temannya yang sedang bermain sepak bola, ia pun berlari mencari Ayahnya Sarbini yang bekerja di sebuah tambak yang tak jauh dari rumahnya. Setelah bertemu, ayahnya meminta ia untuk pulang ke rumah lebih dahulu.
      Sesampai di rumah, Martunis bersama ibunya, Salwa kakaknya, adiknya Nurul A'la dan adik bungsunya, Annisa, berupaya menyelamatkan diri. Mereka menumpang mobil pikap tetangganya.
      Tak seberapa lama kemudian mobil yang ditumpanginya dihantam gelombang raksasa hingga ia terpisah dengan ibu dan 3 saudaranya. Setelah timbul tenggelam dalam pekat gelombang, Martunis kemudian meraih sebuah kasur dan naik ke atasnya. Namun tidak bertahan lama, kasur pun tenggelam, Ia terus berusaha bertahan hingga bergelantungan pada batang pohon yang hanyut.
      Arus pun membawa Martunis berputar-putar hingga dirinya pingsan. Begitu tersadar, ia telah tersangkut di atas pohon bakau di kawasan Deah Raya, Kecamatan Syiah Kuala. "Semuanya rata, saya tak tahu di mana letak kampung saya, yang tampak hanya mayat-mayat," kenang Martunis.
      Martunis bertahan selama 21 hari di atas pepohonan dengan ngelimpangan mayat di sana-sini. Untuk bertahan hidup ia memungut makanan dan air mineral yang terseret gelombang. Matanya berkaca-kaca saat mengisahkan dirinya bertahan dari hempasan gelombang raksasa yang mewewaskan puluhan ribu jiwa itu.
      Pada hari ke-21, 2 pria yang sedang mencari keluarganya di kawasan tersebut menemukan Martunis. Lantas, Martunis diserahkan kepada wartawan Sky News yang saat itu meliput bencana tsunami di kawasan Deah Raya.
      Pemberitaan penemuan Martunis yang menggunakan kostum Portugal menghebohkan dunia dan mengundang simpati. Hingga Cristiano Ronaldo pemain sepak bola timnas Portugal ini juga turut memberikan perhatiannya pada sang bocah.
      Diangkat Anak oleh Cristiano Ronaldo
      Setelah mendapatkan perawatan dan kembali bertemu dengan ayahnya, beberapa bulan kemudian, Martunis diundang khusus ke Portugal bersama ayahandanya, dengan sambutan hangat oleh segelintir bintang sepak bola timnas Portugal.
      "Di Portugal saya diajak jalan-jalan dan bermain bola," tutur Martunis.
      Namun Ibu dan ketiga saudaranya lenyap ditelan gelombang, hingga jasadnya pun tidak ditemukan lagi.
      Ketenaran bocah tsunami ini terus melejit, hingga sederetan orang-orang penting mengundangnya untuk bertemu, seperti halnya Presiden RI saat itu Susilo Bambang Yudhoyono, artis Celine Dion, Presiden FIFA Sepp Blatter dan beberapa bintang sepak bola dunia lainnya.
      Martunis bahkan diundang sebagai tamu kehormatan pada laga Portugal versus Slovakia di Stadion Da Luz, Lisbon, dalam pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2006.
      "Itu menjadi kisah yang luar bisa bagi saya, saya sangat ngembira saat itu," ungkap dia.
      Pada 2013, Cristiano Ronaldo kembali menemui Martinus di Aceh. Ia pun diangkat Ronaldo sebagai anak. Saat itu dirinya sering berkomunikasi dengan Cristiano Ronaldo melalui telepon selular dengan bantuan penerjemah bahasa.
      Minum Air Urine
      Pablo Cordova adalah salah satu yang berhasil lolos dari maut. Ia selamat gempa dahsyat berkekuatan 7,8 skala Richter (SR) mengguncang Ekuador, meski hotel tempatnya bekerja rubuh hingga rata dengan tanah.
      "Mereka sudah mempersiapkan pemakaman saya, lengkap dengan peti matinya. Tetapi saya hidup kembali," kata Pablo saat ditemui awak media di rumah sakit, seperti dikutip dari Belfast Telegraph, 20 April 2016.
      Pablo terkurung di bawah puing-puing, namun ia cukup beruntung karena tidak sampai terjepit reruntuhan bangunan. Ada cukup ruang baginya untuk bergerak.
      Selama kurang lebih satu setengah hari itu, dia bertahan hidup dengan meminum urine atau air kencingnya sendiri. Seraya berdoa agar regu penyelamat menemukannya di balik bongkahan bangunan yang ambruk, sebelum baterai ponselnya habis.
      Alhasil, dia selamat dari bencana alam yang menewaskan lebih dari 480 orang tersebut.
      Segera setelah ditarik keluar oleh regu penyelamat dari Kolombia, Pablo segera menghubungi istrinya pada Senin 18 April 2016 siang.
      Betapa riang sang istri mendengar suaminya masih hidup dan bersuara. Setelah sebelumnya sempat pingsan dan sedih akibat mengetahui sang suami tertimbun reruntuhan hotel bertingkat lima di Portoviejo.
    • Guest News
      By Guest News
      Gempa yang terjadi Rabu (13/4) malam itu berpusat di hutan sekitar 220 kilometer dari Mandalay, kota kedua terbesar di Myanmar.

      Warga Kolkata, India, bergegas keluar rumah setelah gempa yang berpusat di Myanmar terasa hingga India dan Bangladesh, Rabu malam (13/4).
      Gempa kuat melanda Myanmar utara hari Rabu (13/4) malam dan dirasakan di beberapa bagian China dan India. Belum ada laporan tentang adanya korban.
      Gempa berkekuatan 6,9 skala Richter itu berpusat di hutan sekitar 220 kilometer dari Mandalay, kota kedua terbesar di Myanmar. Daerah itu jarang penduduknya dan rawan gempa, dan kebanyakan rumah dibangun rendah.
      Warga Yangon, kota utama Myanmar bergegas ke jalan-jalan dalam kepanikan, ketika mereka merasakan gempa itu. Seorang wartawan kantor berita Associated Press berada di sebuah rumah sakit Yangon ketika itu dan melaporkan, rumah sakit berlantai enam itu berguncang keras dua kali selama paling tidak satu menit.
      Orang juga merasakan gempa itu di Dhaka, ibukota Bangladesh, 484 kilometer dari pusat gempa, dan di Lhasa, Tibet, di mana banyak warga dilaporkan telah bergegas panik ke jalan-jalan.
      Meskipun gempa bumi lazim di Myanmar, negara di Asia tenggara itu belum merasakan gempa sekuat itu sejak gempa berkekuatan 6,8 SR melanda bagian tengah negara itu pada November 2012, menewaskan hampir 40 orang. (www.voaindonesia.com)
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy