Jump to content
  • Popular Contributors

  • Our picks

    • Kartu SIM Card ada celah keamanan nya
      Celah keamanan dalam kartu SIM disebut mengancam lebih dari satu miliar ponsel. Celah keamanan ini disebut dengan Simjacker.
      • 0 replies
    • Telegram Sindir Whatsapp
      WhatsApp dan Telegram adalah dua aplikasi pesan yang populer saat ini. Bahkan, bisa dibilang mereka sedang saling bersaing untuk mendapatkan jumlah pengguna lebih banyak.

      Keduanya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing dalam hal fitur yang dihadirkan. Tapi, ada hal yang unik terkait fitur mereka. Telegram secara terang-terangan menyindir fitur transfer file yang dimiliki WhatsApp.
      • 4 replies
    • Pernah Menang Lotre Rp. 33 Miliyar Wanita Inggris Ini Kini Jatuh Miskin
      Seorang perempuan Inggris menceritakan kisahnya sempat menjadi seorang miliarder di usia muda setelah memenangkan lotre bernilai miliaran namun kini jatuh miskin.

      Callie Rogers, asal Cumbria, Inggris, pernah memenangkan hadiah lotre pada 2003 lalu, saat dia masih berusia 16 tahun.

      Ketika itu Callie memenangkan lotre senilai hampir 1,9 juta poundsterling (setara Rp 33 miliar untuk kurs saat ini). Berkat hadiah lotre itu, Callie pernah menjadi jutawan termuda di Inggris.
      • 0 replies
    • Malam ini, gw akan bercerita sebuah cerita dari seseorang, yang menurut gw spesial. kenapa?

      karena gw sedikit gak yakin bakal bisa menceritakan setiap detail apa yang beliau alami,

      sebuah cerita tentang pengalaman beliau selama KKN, di sebuah desa penari.

      sebelum gw memulai semuanya. gw sedikit mau menyampaikan beberapa hal.
      • 0 replies
    • Kesuksesan Jobs dengan Apple nya dunia sudah gak meragukan lagi, makanya gak sungkan-sungkan dunia menyematkan gelar "Bapak Revolusi Digital" pada Steve Jobs.
      • 1 reply
Blaster

Karena terobsesi mati, malah lolos dari kematian

Recommended Posts

Julukan "literary he-man" atau "perkasa" tidak begitu saja disematkan kepada jurnalis dan penulis kenamaan yang hari jadinya diperingati setiap 21 Juli, Ernest Hemingway.

hemingway.thumb.jpg.523a6f61008aa3c4a3f7
Ernest Hemingway

Sejak pertama kali menghirup udara dunia pada 1899 hingga mengembuskan napas terakhirnya pada 1961, Hemingway sudah beberapa kali berhadapan sangat dekat dengan maut layaknya tokoh fiksi karangannya.

Hemingway memang sangat terobsesi dengan kematian. Semua karyanya pun dilumuri kisah mengenai kematian tokoh di tangan tentara hingga ditanduk banteng.

Apa yang ia tulis ternyata juga tersirat dalam penampilannya sehari-hari. Dalam sebuah laporan pada 1961, TIME menuliskan, "Semua yang ada dalam diri Hemingway terlihat seperti apa yang dilihat pada seorang pria di hari di mana ia tahu akan meninggal."

Rangkaian kata tersebut dirasa sangat tepat menggambarkan sosok Hemingway. Setiap harinya, ia seakan sudah berkemas dan siap kapan pun ajal menjemputnya.

Sebelum akhirnya ia tewas akibat luka bunuh diri, Hemingway tercatat lima kali lolos dari jurang kematian. Berikut daftarnya seperti dilansir TIME.

1. Tersambar peluru meriam Austria

Hemingway pernah ambil andil dalam Perang Dunia I. Tak angkat senjata, Hemingway memegang kemudi ambulans Palang Merah.

Pada 8 Juli 1918, ia tersambar pecahan peluru yang terlontar dari meriam pasukan Austria dengan kecepatan tinggi. Seketika itu juga, Hemingway merasa nyawanya hampir keluar dari tubuhnya. Dengan 237 pecahan peluru bersarang di tubuhnya, Hemingway berhasil lolos dari maut untuk pertama kalinya.

2. Tertembak saat berhadapan dengan hiu

Dalam salah satu artikel di Esquire, pada 1935, Hemingway pernah menuliskan sebuah kiat membunuh hewan buas di depan mata. "Tembak bagian otak jika jaraknya sangat dekat, jantungnya jika jauh, atau tulang punggungnya jika Anda harus menghentikannya dengan segera," tulisnya.

Hemingway yakin cara paling jitu adalah menyerang tubuh hiu tepat sasaran. Anjuran ini pun dianggap sangat dapat dipercaya. Pasalnya, Hemingway menuliskan kiat tersebut setelah mengalami sendiri kejadian menegangkan berhadapan langsung dengan hiu di perairan Key West, California.

Panik menghadapi hewan buas, Hemingway melepaskan tembakan ke arah hiu yang ternyata tak tepat sasaran. Alih-alih menewaskan sang hiu, Hemingway pulang dengan peluru tertanam di pahanya.

3. Memburu kapal selam Jerman

Pada era 1942-1943, Hemingway tidak produktif menulis. Ia lebih memilih mengarungi perairan Gulf Stream dengan kapal kayu sepanjang 11,5 meter. Bersenjatakan granat dan senapan ringan, Hemingway memburu satu kapal selam milik Jerman.

Dalam benaknya, Hemingway berpikir bahwa jika ia telah menemukan lokasi kapal selam tersebut, Angkatan Laut akan lebih mudah menghancurkannya.

"Solusinya sangat berkarakter. Ia akan menyerang kapal tersebut secara tiba-tiba dan tak terduga dan mengejarnya," ujar penulis buku The Hemingway Patrols, Terry Mort.

Rencana ini dianggap kurang matang oleh beberapa kalangan. Untungnya, Hemingway pun tidak pernah berkesempatan menjalankan misi tersebut.

4 (dan 5). Dua kali menjadi korban pesawat jatuh

Saat sedang berkunjung ke Afrika, Hemingway memacu adrenalin dengan bersafari. Dalam dua hari itu pula, jantung Hemingway berdebar kencang ketika pesawat yang ditumpanginya jatuh.

Insiden pertama terjadi ketika pesawat Cessna yang membawa Hemingway dan istrinya sedang berupaya menghindari iringan unggas melintas. Sang pilot pun harus memilih menukikkan pesawat ke arah enam buaya yang sedang berjemur atau sekelompok gajah di tengah hutan.

Pilot tersebut lebih memilih melakukan pendaratan mendadak tak sempurna di tempat gajah berkerumun. Mereka pun menghabiskan malam di tengah hutan bersama gaja-gajah.

Keesokan harinya, Hemingway mempertaruhkan nyawanya dengan menaiki pesawat yang sama. Belum lama lepas landas, pesawat tersebut terbakar.

Melihat luka bakar yang begitu serius, berbagai media pun mulai memberitakan kematian Hemingway dan istrinya. Namun Hemingway menampik semua rumor tersebut hanya dengan keluar dari hutan membawa beberapa tandan pisang dan sebotol gin.

"Keberuntungan saya bekerja sangat baik," katanya.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...

  • Similar Content

    • By Tania
      Pasien penderita penyakit komplikasi yang lama terbaring di rumah sakit tak jarang membuat harapan untuk kembali sembuh kian tipis. Tak jarang dokter tak mampu berbuat banyak, lantaran kondisi pasien yang sudah di penghujung kematian.
      Dalam kondisi ini, Google mengembangkan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI) untuk memprediksi waktu kematian seseorang.
      Algoritme Google membaca 175.639 poin data dari seorang pasien pengidap kanker payudara stadium lanjut. Penyakit ini membuat cairan memenuhi paru-paru dan organ vital lainnya sehingga dokter memperkirakan ia hanya memiliki peluang hidup sebesar 9,3 persen.
      Sebaliknya, algoritme Google justru memperkirakan harapan hidup sedikit lebih besar. Dari data yang diperoleh, Google memperkirakan peluang kematian perempuan itu mencapai 19,9 persen. Meski beberapa hari kemudian pasien dinyatakan meninggal dunia.
      Belajar dari kasus tersebut, Google mengembangkan alat untuk memperkirakan peluang hidup pasien, termasuk berapa lama ia harus dirawat di rumah sakit, hingga kemungkinan pasien perlu dirawat kembali, dan waktu meninggal yang mungkin terjadi dalam waktu dekat.
      Kecerdasan buatan ini mengolah semua informasi dan menghasilkan prediksi, jauh lebih cepat dan akurat dari teknik-teknik yang telah ada sebelumnya. Algoritme Google bahkan menunjukkan data mana yang akan berujung pada penarikan konklusi.
      Nigam Shah, profesor dari Stanford University sekaligus salah satu penulis dalam riset ini menyebut metode yang ada sekarang menghabiskan 80 persen waktu untuk membuat data laik saji. Sementara pendekatan yang digunakan Google justru menghindari hal tersebut.
      Kemampuan Google dalam menyaring data, termasuk catatan yang terkubur dalam dokumen dan grafik lama tak dipungkiri membuat rumah sakit, dokter dan penyedia layanan kesehatan kagum. Mengingat sejauh ini lembaga kesehatan telah berupaya bertahun-tahun untuk menggunakan rekam jejak kesehatan dan data pasien untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa.
      Jeff Dean, kepala bagian kecerdasan buatan Google kepada Bloomberg mengatakan tahap berikutnya yang akan ditempu yakni mengintegrasikan sistem yang memprediksi gejala penyakit ke klinik-klinik. Ia menyebut tingkat akurasi prediksi penyakit diharapkan bisa menjadi harapan dan alarm.
      "Mereka memahami masalah apa yang perlu segera dicarikan solusinya. Sejauh mereka (Google) telah melakukan cukup eksperimen kecil untuk mengetahui hasil yang berbeda-beda dari setiap pengujian," ungkap Jeff.
      Ia berharap kecerdasan buatan ini mampu mengarahkan para dokter kepada pengobatan tertentu dan membantu mendiagnosa penyakit pasien dengan lebih tepat.
    • By suatmiko_sutioso
      Masih penasaran, waktu kita mati itu apa yg dirasain?
    • By dugelo
      Banyak orang meninggal karena pembuluh darah pecah, apa penyebabnya? ANgka kematian ini sangat banyak
    • By sandyiktibal
      Apa yang dirasakan manusia saat akan meninggal? Ilmuwan berupaya menjelaskan apa yang dirasakan ketika saat tersebut tiba.
      Ajal adalah sesuatu yang dialami manusia sekali seumur hidupnya dan sangat jarang kita mendengar kesaksian bagaimana saat itu tiba. Kendati begitu ilmuwan dari The American Chemical Society membuat video mengenai apa yang dirasakan saat kematian tiba.
      Menurut asosiasi tersebut, menyaksikan seseorang dikejar-kejar pembunuh yang membawa kampak dalam film horor menciptakan perasaan yang sama seperti Anda yang tengah dikejar pembunuh tersebut.
      Dalam video tersebut ilmuwan The American Chemical Society menjelaskan bagaimana perubahan kimia dalam otak beberapa saat sebelum seseorang dibunuh oleh pembunuh berkampak.
      Rasa takut - seperti dijelaskan ilmuwan - merupakan respon kognitif yang memperingatkan kita saat berada dalam bahaya. Dari berbagai sudut pandang ilmuwan medis, Anda bisa meninggal karena ketakutan.
      Rasa takut tersebut dikirimkan ke bagian otak yang disebut Thalamus dimana pesan itu menjelaskan kepada tubuh bahwa kita dalam kondisi bertarung.
      "Saat sinyal rasa takut itu mencapai otak di bagian periaqueductal, kondisi itu memerintahkan otak untuk bersiaga," papar ilmuwan.
      Lalu mengapa kita berteriak saat kita ketakutan? Ilmuwan menjelaskan bahwa perilaku tersebut merupakan respon otomatis dari tubuh. Kita akan berusaha memberitahu orang lain dengan berteriak sekaligus menyatakan apa yang tengah dirasakan dengan harapan mendapatkan bantuan.
      "Berbeda dengan saat kita berbicara biasa, suara teriakan yang diterima telinga langsung menuju daerah Amygdala dimana itu adalah pusat darurat otak. Hal itu seperti halnya seseorang yang berteriak berusaha berbagi dengan Anda bagaimana kondisi otaknya," jelas ilmuwan.
      Saat pembunuh berkampak dalam film horor tersebut berhasil menangkap korban dan membunuhnya secara brutal serta menghentikan teriakan otomatis tadi.
      Rasa sakit menurut ilmuwan merupakan perasaan yang sangat berbeda dari sentuhan dan rasa tersebut memberitahukan tubuh bahwa apa yang baru terjadi tidak boleh terulang.
      Dengan mengasumsikan tidak terjadi kerusakan otak, sesuatu yang menarik terjadi saat ajal menjelang. Ketika jantung berhenti berdenyut dan Anda tak lagi bernafas saat itulah yang disebut kematian klinis.
      Ketika itu otak masih terus bekerja dan memasuki kondisi aktivitas perseptual-neural. Langkah terakhir dari kematian adalah saat otak berhenti bekerja dan itu yang disebut kematian biologis. Ketika itu seseorang benar-benar disebut meninggal dunia.
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy