Jump to content

Polemik Wajib Tes PCR untuk Naik Pesawat


congek

Recommended Posts

  • Verified Account

bandara.thumb.jpg.ca19ecd20c657db4678ba096ca31883a.jpg

Ketua Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies Sulawesi Selatan, Didi Leonardo Manaba, mengatakan aturan wajib tes Polymerase Chain Reaction atau PCR memberatkan wisatawan.

Tak hanya itu, Didi menyebut masalah PCR ini dapat menghambat kunjungan wisata ke daerahnya. Padahal pergerakan pada sektor pariwisata sudah mulai terlihat. Sebab, persyaratan sebelumnya hanya cukup dengan tes swab antigen, wisatawan bisa masuk ke Sulawesi Selatan.

"Ini sudah mulai ada pergerakan, akan tetapi pergerakan itu agak tersendat dengan masih diwajibkannya orang PCR dan antigen. Itu bukan hanya berat secara fisik, tapi di finansial juga," ujar Didi.

Didi menegaskan, pernyataan tersebut bukan bermaksud menentang kebijakan pemerintah terkait pemulihan kesehatan masyarakat melawan pandemi COVID-19. Ia meyakini bahwa hal itulah yang terjadi.

ASITA Sulsel berharap agar pemerintah membuka keran untuk melakukan aktivitas ke Sulsel yang merupakan destinasi Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE). Sedangkan terkait peningkatan wisatawan, Didi menargetkan peningkatan kunjungan wisatawan domestik.

Didi mengatakan, salah satu indikator untuk melihat peningkatan jumlah wisatawan adalah dengan melihat kunjungan di Bandara Sultan Hasanuddin. Menurutnya, jumlah penumpang terus bertambah pada satu pekan terakhir.

PT Angkasa Pura I (AP I) Makassar mencatat terjadi kenaikan volume penumpang hingga 5 persen sejak satu pekan terakhir, dibanding sepekan sebelumnya di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Sulsel.

Total penumpang pada 8-14 Oktober sebanyak 149.152 orang, sedangkan 15-21 Oktober 156.477 orang.

Jokowi Minta Harga PCR Rp 300 Ribu

Presiden Jokowi kemudian meminta agar harga tes PCR dapat diturunkan menjadi Rp 300 ribu. Hal ini disampaikan Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan.

Harga sekali tes PCR di Jawa-Bali dikenakan tarif tertinggi sebesar Rp 495 ribu. Sementara di luar Jawa-Bali seharga Rp 525 ribu.

Terkait rencana penurunan harga tes PCR, Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmizi mengatakan, saat ini hal tersebut sedang dalam pembahasan kementerian dan lembaga terkait.

"Saat ini sedang dikaji bersama dengan Satgas, BNPB, Kemkes, Kemenhub," kata Nadia.

Penetapan harga baru ini juga melibatkan sejumlah pihak terkait seperti pihak laboratorium yang punya peran besar di lapangan. Apabila telah rampung, maka pemerintah akan segera mengumumkannya.

"Dan dilakukan konsultasi dengan berbagai pihak dengan organisasi profesi, pihak lab, distributor juga auditor pemerintah. Setelah final akan disampaikan," ungkap Nadia.

Harusnya Harga PCR Bisa Rp 75 Ribu, Kalau Bisa Gratis

Anggota Komisi IX dari Fraksi PKS, Alifudin, menyoroti polemik harga tes PCR yang kini diwajibkan untuk perjalanan udara.

Ia menilai para pengusaha lab tes PCR sudah meraup untung besar sejak awal pandemi COVID-19, sehingga harga tes seharusnya bisa lebih murah lagi.

"Sejak awal sudah untung besar. Karena pandemi COVID-19 ini tentang kemanusiaan, baiknya semua yang ingin PCR bisa mendapat harga lebih murah lagi, atau kalau bisa gratis" kata Alifudin.

Harga tes swab PCR sempat menyentuh angka Rp 900.000. Lalu pemerintah meminta harga batas tes swab menjadi Rp 450.000, dan kini diturunkan lagi menjadi Rp 300.000.

Alifudin juga meminta ketegasan kepada pemerintah jika ada lab atau pengusaha PCR yang mematok harga mahal. Mereka harus diberi sanksi tegas dan juga jangka waktu keluarnya hasil harus disamakan, tidak ada yang kelas ekonomi, express atau yang lain.

"Kami berharap setelah reses akan meminta pimpinan Komisi IX untuk memanggil pihak terkait, bahwa pandemi COVID-19 ini tidak dijadikan ladang bisnis pihak tertentu" tegas Alifudin.

Lebih lanjut, ia juga meminta pemerintah serius dalam mengkaji persoalan PCR ini, untuk benar-benar membuktikan pemerintah berpihak pada rakyat dan serius dalam menangani pandemi COVID-19.

332286291_AlvinLie.jpg.52b125d7c5fc36d3dd3290766085e685.jpg
Alvin Lie. Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan

Alvin Lie Ungkap Keanehan Aturan PCR sebagai Syarat Terbang

Pengamat penerbangan, Alvin Lie, melihat adanya kejanggalan dalam penetapan syarat PCR ini. Pertama, pemerintah seperti membiarkan harga tes selama ini terlampau tinggi.

"Bahwa pemerintah dalam waktu singkat dapat memerintahkan biaya PCR turun dari Rp 900 ribu jadi Rp 500 ribu kemudian Rp 300 ribu, ini menunjukkan selama ini pemerintah tau biaya tes PCR overpriced, tinggi diluar kewajaran, tapi dibiarkan. Memberi kesempatan kepada pengusaha mengambil keuntungan besar di luar kewajaran," kata Alvin.

"Ketika COVID-19 melandai & makin banyak warga yang sudah vaksinasi, kebutuhan PCR juga menurun. Baru saat ini pemerintah menurunkan biayanya," lanjut dia.

Hal lain yang menurutnya cukup janggal adalah mengapa syarat perjalanan wajib menggunakan hasil tes PCR ketika selama ini Antigen sudah banyak digunakan.

"Selama ini pemerintah gunakan Antigen untuk deteksi. Mengapa tidak mengakui Antigen sebagai syarat perjalanan?Badan-badan dunia seperti WHO, ICAO, IATA mengakui Antigen sbg standar. Idealnya, hasil tes yang paling valid adalah ketika sampel tersebut diambil," ungkap Alvin.

Menurut Alvin, hasil tes menggunakan Antigen yang diambil sesaat sebelum terbang akan jauh lebih valid hasilnya.

Lebih dari 40 Ribu Orang Teken Petisi, Tolak Wajib Tes PCR untuk Penerbangan

Lewat dua petisi online di platform Change.org, lebih dari 40.000 orang meminta agar pemerintah mengganti kebijakan tersebut.

Petisi pertama dibuat oleh Dewangga Pradityo Putra, seorang engineer pesawat. Dalam petisinya, ia menganggap bahwa kebijakan yang mengharuskan seseorang melakukan tes PCR walaupun sudah divaksin dua kali, akan menyebabkan penerbangan berkurang sehingga industri penunjangnya pun akan semakin kesulitan.

“Saya merasakan sekali dampak pandemi ini di pekerjaan. Penerbangan berkurang, teman saya juga ada yang dirumahkan jadinya. Padahal, sirkulasi udara di pesawat sebenarnya lebih aman karena terfiltrasi HEPA, sehingga udaranya bersirkulasi dengan baik, mencegah adanya penyebaran virus,” tulisnya di petisi.

Permintaan yang sama juga dibuat oleh Herlia Adisasmita, seorang warga yang tinggal di Bali.

Bagi Herlia, Bali yang bergantung pada pariwisata sangat mengharapkan kedatangan dari turis domestik, sehingga adanya peraturan wajib PCR dianggap akan memberatkan dan malah akan membuat industrinya semakin menghadapi keadaan yang sulit, terutama mengingat harga PCR yang terlampau mahal.

“Kami harus bagaimana lagi? Bangkrut sudah, nganggur sudah, kelaparan sudah, bahkan banyak di antara kami yang depresi, rumah tangga berantakan karena faktor ekonomi, atau bahkan bunuh diri,” tuturnya.

Lebih lanjut, Dewangga berharap pemerintah kembali menjadikan antigen sebagai syarat untuk penerbangan, terutama bagi mereka yang sudah divaksin. “Dengan syarat ini, saya yakin industri penerbangan & pariwisata akan bangkit, dan orang yang mau divaksin juga akan bertambah,” katanya.

1598906066_WamenkesDanteSaksonoHarbuwono..jpg.ef8800c0f7de8bb17260f2b83c86c1d3.jpg
Wamenkes Dante Saksono Harbuwono. Foto: Denita BR Matondang/kumparan

Wamenkes: Permintaan Jokowi Harga PCR Rp 300 Ribu Masuk Akal

Wamenkes Dante Saksono Harbuwono menyampaikan perkembangan langkah Kemenkes terkait permintaan Jokowi agar harga tes PCR dapat diturunkan menjadi Rp 300 ribu.

Dante menyebutkan, apa yang diminta Jokowi tersebut sudah berdasarkan perhitungan yang sesuai.

"Tentu rekomendasi Bapak Presiden memberikan target menurunkan PCR jadi Rp 300 ribu itu bukan tanpa dasar. Bapak Presiden sudah menghitung dan mendapatkan informasi berapa harga reagen, berapa harga pemeriksaan, dan berapa kapasitas yang bisa kita lakukan untuk tes PCR," ujar Dante.

Dari dasar perhitungan bahan baku dan komponen lainnya, untuk menurunkan harga tes PCR menjadi Rp 300 ribu tersebut, kata Dante, cukup mungkin untuk dilakukan.

Kemenkes masih melakukan tahap persiapan untuk penyesuaian tarif tertinggi dari tes PCR tersebut. Reagen merupakan salah satu komponen terpenting dalam PCR.

Sebagian besar reagen diperoleh melalui impor sehingga harganya relatif tinggi dibanding komponen lain.

"Kita sudah melakukan persiapan antara lain melakukan pemodelan untuk menyederhanakan harga reagen yang masuk. Itu yang paling penting karena itu komponen yang terbesar dalam pembiayaan tes PCR," ungkap Dante.

Terakhir, Dante mengatakan bahwa PCR ini merupakan hal yang paling penting dalam menghadapi risiko datangnya gelombang corona selanjutnya.

Sejumlah epidemiolog telah memprediksi bahwa gelombang ketiga akan dihadapi Indonesia pada momen libur natal dan tahun baru 2022 akibat mobilitas yang meningkat tajam.

Link to comment
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...
×
×
  • Create New...