Jump to content

There's nothing here yet

  • Similar Content

    • By VOAIndonesia
      Dengan menaati protokol kesehatan ketat, banyak warga AS tak hanya terhindar dari Covid selama 20 bulan terakhir, tapi juga penyakit biasa yang juga menular lewat udara seperti influenza. Tapi ahli medis kini mengkhawatirkan, flu bisa kembali meluas di tengah belum berakhirnya pandemi Covid.
       
    • By BincangEdukasi
      Etihad Airways kini perbolehkan kucing dan anjing mereka masuk ke pesawat bersama pemiliknya. Tentu para pemiliknya harus membayar lebih demi hewan kesayangan terbang bersama mereka.
      Hewan peliharaan yang akan bepergian, akan dikenakan biaya tambahan dari jatah tas kabin, dan para pemilik akan diminta untuk periksa ke dokter hewan dan menunjukkan dokumen resmi untuk hewannya saat check in.
      "Ini adalah kebijakan baru yang mulai berlaku awal tahun ini. Etihad telah menyambut hewan pemandu terlatih, serta kucing dan anjing peliharaan di pesawat sejak 30 September 2021," kata pihak Etihad Airways, seperti yang dikutip dari The National.
      Para pengguna Etihad Airways boleh membawa kucing, anjing, dan hewan peliharaan kecil mereka ke dalam kabin pesawat dari atau ke Uni Emirate Arab, asal persyaratan perjalananya terpenuhi.
      "Satu orang dewasa dapat membawa satu hewan peliharaan per penerbangan. Ini dapat ditingkatkan menjadi dua hewan peliharaan jika dua tamu bepergian bersama, asalkan hewan peliharaan tersebut berasal dari rumah yang sama," tambah pihak Etihad Airways.

      Bagaimana Jika Ingin Bawa Anjing, Kucing, atau Hewan Peliharaan dalam Penerbangan dengan Etihad Airways?
      Para pemilik hewan peliharaan harus mengirimkan formulir pemesanan, yang tersedia di situs web Etihad Airways, setidaknya 72 jam sebelum penerbangan.
      Saat memilih terbang dengan kelas ekonomi, hewan peliharaan akan duduk di bawah kursi pemiliknya atau bisa membeli kursi yang berdekatan dengan orang yang membawanya.
      Selain itu, tas atau kandangnya hewan peliharaan tidak boleh melebihi 40 x 40 x 22 cm agar muat di bawah kursi. Jika pemiliknya telah membeli kursi yang berdekatan, kandanganya tidak boleh melebihi 50 x 43 x 50 cm.
      Jika penumpang memilih kelas bisnis, mereka dapat membeli kursi yang berdekatan untuk hewan peliharaan mereka. Tas atau kandang hewan peliharaan tidak boleh melebihi 50 x 43 x 50 cm.
      Dan hewan peliharaan harus tetap berada di tas perjalanan atau kennel selama penerbangan.

      Kriteria Hewan Peliharaan yang Boleh Ikut dalam Perjalanan
      Kucing atau anjing harus berusia minimal 4 bulan (16 minggu) dengan berat tidak lebih dari 8 kg, jika ditambah dengan tas atau kandangnya. Tas atau kandang hewan harus berventilasi, antibocor, dan anti peluru. Alas atau kandang harus mengandung bahan penyerap.
      Berapa Biaya yang Harus Dikeluarkan?
      Kelas ekonomi biaya yang harus dikeluarkan sekitar 150 dolar Amerika Serikat (Rp 2,1 juta) per hewan dengan waktu penerbangan 6 jam atau kurang. Sedangkan 250 dolar Amerika Serikat (Rp 3,5 juta) per hewan jika waktu penerbangannya lebih dari enam jam.
      Jika transit, harga gabungan untuk setiap penerbangan akan diberlakukan. Untuk kelas Bisnis, para pemilik harus membeli kursi tambahan terlebih dahulu untuk hewan peliharaan.
      Daftar Periksa untuk Hewan Peliharaan yang Akan Masuk ke Kabin Pesawat
      Memeriksa semua aturan masuk dan keluar untuk negara tujuan yang akan dikunjungi. Dan jangan lupa periksa hewan peliharaan sebelum melakukan penerbangan.
      Pastikan semua dokumen resmi yang diperlukan hewan peliharaan terjaga dengan baik dan tidak tercecer. Daftarkan hewan peliharaan ketika ingin bepergian dan menerima konfirmasinya.
      Jangan lupa bawa leash untuk hewan peliharaan dan makanan kering dengan wadah tertutup di dalam bagasi kabin.
      Informasi yang Diperlukan Ketika Akan Mengisi Formulir Pemesanan
      Apakah itu hewan peliharaan atau hewan pembantu Nama, jenis, dan tanggal lahir hewan Nomor microchip Sertifikat kesehatan yang sudah ditandatangani oleh dokter hewan Sertifikat fit-to-travel diberikan dari dokter hewan untuk 10 hari perjalanan Sertifikat vaksin Berat Dimensi Wadah Perawatan parasit internal dan eksternal Izin ekspor dan impor Pastikan sudah divaksin rabies kurang lebih selama 30 hari Tes titer rabies
    • By congek
      Ketua Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies Sulawesi Selatan, Didi Leonardo Manaba, mengatakan aturan wajib tes Polymerase Chain Reaction atau PCR memberatkan wisatawan.
      Tak hanya itu, Didi menyebut masalah PCR ini dapat menghambat kunjungan wisata ke daerahnya. Padahal pergerakan pada sektor pariwisata sudah mulai terlihat. Sebab, persyaratan sebelumnya hanya cukup dengan tes swab antigen, wisatawan bisa masuk ke Sulawesi Selatan.
      "Ini sudah mulai ada pergerakan, akan tetapi pergerakan itu agak tersendat dengan masih diwajibkannya orang PCR dan antigen. Itu bukan hanya berat secara fisik, tapi di finansial juga," ujar Didi.
      Didi menegaskan, pernyataan tersebut bukan bermaksud menentang kebijakan pemerintah terkait pemulihan kesehatan masyarakat melawan pandemi COVID-19. Ia meyakini bahwa hal itulah yang terjadi.
      ASITA Sulsel berharap agar pemerintah membuka keran untuk melakukan aktivitas ke Sulsel yang merupakan destinasi Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE). Sedangkan terkait peningkatan wisatawan, Didi menargetkan peningkatan kunjungan wisatawan domestik.
      Didi mengatakan, salah satu indikator untuk melihat peningkatan jumlah wisatawan adalah dengan melihat kunjungan di Bandara Sultan Hasanuddin. Menurutnya, jumlah penumpang terus bertambah pada satu pekan terakhir.
      PT Angkasa Pura I (AP I) Makassar mencatat terjadi kenaikan volume penumpang hingga 5 persen sejak satu pekan terakhir, dibanding sepekan sebelumnya di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Sulsel.
      Total penumpang pada 8-14 Oktober sebanyak 149.152 orang, sedangkan 15-21 Oktober 156.477 orang.
      Jokowi Minta Harga PCR Rp 300 Ribu
      Presiden Jokowi kemudian meminta agar harga tes PCR dapat diturunkan menjadi Rp 300 ribu. Hal ini disampaikan Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan.
      Harga sekali tes PCR di Jawa-Bali dikenakan tarif tertinggi sebesar Rp 495 ribu. Sementara di luar Jawa-Bali seharga Rp 525 ribu.
      Terkait rencana penurunan harga tes PCR, Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmizi mengatakan, saat ini hal tersebut sedang dalam pembahasan kementerian dan lembaga terkait.
      "Saat ini sedang dikaji bersama dengan Satgas, BNPB, Kemkes, Kemenhub," kata Nadia.
      Penetapan harga baru ini juga melibatkan sejumlah pihak terkait seperti pihak laboratorium yang punya peran besar di lapangan. Apabila telah rampung, maka pemerintah akan segera mengumumkannya.
      "Dan dilakukan konsultasi dengan berbagai pihak dengan organisasi profesi, pihak lab, distributor juga auditor pemerintah. Setelah final akan disampaikan," ungkap Nadia.
      Harusnya Harga PCR Bisa Rp 75 Ribu, Kalau Bisa Gratis
      Anggota Komisi IX dari Fraksi PKS, Alifudin, menyoroti polemik harga tes PCR yang kini diwajibkan untuk perjalanan udara.
      Ia menilai para pengusaha lab tes PCR sudah meraup untung besar sejak awal pandemi COVID-19, sehingga harga tes seharusnya bisa lebih murah lagi.
      "Sejak awal sudah untung besar. Karena pandemi COVID-19 ini tentang kemanusiaan, baiknya semua yang ingin PCR bisa mendapat harga lebih murah lagi, atau kalau bisa gratis" kata Alifudin.
      Harga tes swab PCR sempat menyentuh angka Rp 900.000. Lalu pemerintah meminta harga batas tes swab menjadi Rp 450.000, dan kini diturunkan lagi menjadi Rp 300.000.
      Alifudin juga meminta ketegasan kepada pemerintah jika ada lab atau pengusaha PCR yang mematok harga mahal. Mereka harus diberi sanksi tegas dan juga jangka waktu keluarnya hasil harus disamakan, tidak ada yang kelas ekonomi, express atau yang lain.
      "Kami berharap setelah reses akan meminta pimpinan Komisi IX untuk memanggil pihak terkait, bahwa pandemi COVID-19 ini tidak dijadikan ladang bisnis pihak tertentu" tegas Alifudin.
      Lebih lanjut, ia juga meminta pemerintah serius dalam mengkaji persoalan PCR ini, untuk benar-benar membuktikan pemerintah berpihak pada rakyat dan serius dalam menangani pandemi COVID-19.

      Alvin Lie. Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan
      Alvin Lie Ungkap Keanehan Aturan PCR sebagai Syarat Terbang
      Pengamat penerbangan, Alvin Lie, melihat adanya kejanggalan dalam penetapan syarat PCR ini. Pertama, pemerintah seperti membiarkan harga tes selama ini terlampau tinggi.
      "Bahwa pemerintah dalam waktu singkat dapat memerintahkan biaya PCR turun dari Rp 900 ribu jadi Rp 500 ribu kemudian Rp 300 ribu, ini menunjukkan selama ini pemerintah tau biaya tes PCR overpriced, tinggi diluar kewajaran, tapi dibiarkan. Memberi kesempatan kepada pengusaha mengambil keuntungan besar di luar kewajaran," kata Alvin.
      "Ketika COVID-19 melandai & makin banyak warga yang sudah vaksinasi, kebutuhan PCR juga menurun. Baru saat ini pemerintah menurunkan biayanya," lanjut dia.
      Hal lain yang menurutnya cukup janggal adalah mengapa syarat perjalanan wajib menggunakan hasil tes PCR ketika selama ini Antigen sudah banyak digunakan.
      "Selama ini pemerintah gunakan Antigen untuk deteksi. Mengapa tidak mengakui Antigen sebagai syarat perjalanan?Badan-badan dunia seperti WHO, ICAO, IATA mengakui Antigen sbg standar. Idealnya, hasil tes yang paling valid adalah ketika sampel tersebut diambil," ungkap Alvin.
      Menurut Alvin, hasil tes menggunakan Antigen yang diambil sesaat sebelum terbang akan jauh lebih valid hasilnya.
      Lebih dari 40 Ribu Orang Teken Petisi, Tolak Wajib Tes PCR untuk Penerbangan
      Lewat dua petisi online di platform Change.org, lebih dari 40.000 orang meminta agar pemerintah mengganti kebijakan tersebut.
      Petisi pertama dibuat oleh Dewangga Pradityo Putra, seorang engineer pesawat. Dalam petisinya, ia menganggap bahwa kebijakan yang mengharuskan seseorang melakukan tes PCR walaupun sudah divaksin dua kali, akan menyebabkan penerbangan berkurang sehingga industri penunjangnya pun akan semakin kesulitan.
      “Saya merasakan sekali dampak pandemi ini di pekerjaan. Penerbangan berkurang, teman saya juga ada yang dirumahkan jadinya. Padahal, sirkulasi udara di pesawat sebenarnya lebih aman karena terfiltrasi HEPA, sehingga udaranya bersirkulasi dengan baik, mencegah adanya penyebaran virus,” tulisnya di petisi.
      Permintaan yang sama juga dibuat oleh Herlia Adisasmita, seorang warga yang tinggal di Bali.
      Bagi Herlia, Bali yang bergantung pada pariwisata sangat mengharapkan kedatangan dari turis domestik, sehingga adanya peraturan wajib PCR dianggap akan memberatkan dan malah akan membuat industrinya semakin menghadapi keadaan yang sulit, terutama mengingat harga PCR yang terlampau mahal.
      “Kami harus bagaimana lagi? Bangkrut sudah, nganggur sudah, kelaparan sudah, bahkan banyak di antara kami yang depresi, rumah tangga berantakan karena faktor ekonomi, atau bahkan bunuh diri,” tuturnya.
      Lebih lanjut, Dewangga berharap pemerintah kembali menjadikan antigen sebagai syarat untuk penerbangan, terutama bagi mereka yang sudah divaksin. “Dengan syarat ini, saya yakin industri penerbangan & pariwisata akan bangkit, dan orang yang mau divaksin juga akan bertambah,” katanya.

      Wamenkes Dante Saksono Harbuwono. Foto: Denita BR Matondang/kumparan
      Wamenkes: Permintaan Jokowi Harga PCR Rp 300 Ribu Masuk Akal
      Wamenkes Dante Saksono Harbuwono menyampaikan perkembangan langkah Kemenkes terkait permintaan Jokowi agar harga tes PCR dapat diturunkan menjadi Rp 300 ribu.
      Dante menyebutkan, apa yang diminta Jokowi tersebut sudah berdasarkan perhitungan yang sesuai.
      "Tentu rekomendasi Bapak Presiden memberikan target menurunkan PCR jadi Rp 300 ribu itu bukan tanpa dasar. Bapak Presiden sudah menghitung dan mendapatkan informasi berapa harga reagen, berapa harga pemeriksaan, dan berapa kapasitas yang bisa kita lakukan untuk tes PCR," ujar Dante.
      Dari dasar perhitungan bahan baku dan komponen lainnya, untuk menurunkan harga tes PCR menjadi Rp 300 ribu tersebut, kata Dante, cukup mungkin untuk dilakukan.
      Kemenkes masih melakukan tahap persiapan untuk penyesuaian tarif tertinggi dari tes PCR tersebut. Reagen merupakan salah satu komponen terpenting dalam PCR.
      Sebagian besar reagen diperoleh melalui impor sehingga harganya relatif tinggi dibanding komponen lain.
      "Kita sudah melakukan persiapan antara lain melakukan pemodelan untuk menyederhanakan harga reagen yang masuk. Itu yang paling penting karena itu komponen yang terbesar dalam pembiayaan tes PCR," ungkap Dante.
      Terakhir, Dante mengatakan bahwa PCR ini merupakan hal yang paling penting dalam menghadapi risiko datangnya gelombang corona selanjutnya.
      Sejumlah epidemiolog telah memprediksi bahwa gelombang ketiga akan dihadapi Indonesia pada momen libur natal dan tahun baru 2022 akibat mobilitas yang meningkat tajam.
    • By VOAIndonesia
      Seorang petugas kesehatan memegang vaksin COVID-19 Anhui Zhifei di Shenyang, di Provinsi Liaoning timur laut China pada 21 Mei 2021. (Foto: AFP)
       
      Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menyetujui penggunaan vaksin COVID-19 yang diproduksi oleh unit Produk Biologis Chongqing Zhifei China untuk penggunaan darurat. Vaksin tersebut merupakan vaksin China keempat yang diizinkan untuk digunakan di Indonesia.
      Kepala BPOM Penny Lukito mengatakan, vaksin rekombinan protein yang akan diberikan dalam tiga dosis dengan jeda masing-masing selama tiga bulan ini memiliki tingkat efikasi sekitar 81 persen, dengan efikasi 77,47 persen terhadap varian Delta, lebih rendah dibandingkan varian lainnya, ujarnya.
      Reuters melaporkan uji coba vaksin Zifivax dilakukan di China, Uzbekistan, Pakistan, Ekuador, dan Indonesia, yang melibatkan 28.000 orang, dengan kemanjuran berdasarkan tingkat keparahan.
      Indonesia juga telah menyetujui penggunaan vaksin Sinovac, Sinopharm, dan CanSino.
      Indonesia, yang beberapa waktu lalu sempat menjadi episentrum COVID-19 di Asia, kini telah memvaksinasi seperlima dari populasinya yang berjumlah sekitar 270 juta orang.
      Indonesia telah mencatat lebih dari 4,2 juta kasus virus corona dengan 142.000 kematian secara keseluruhan, tetapi rata-rata infeksi harian telah turun secara dramatis sejak puncak krisisnya pada Juli.
      Mahendra Suhardono, Kepala Industri Biofarmasi Jakarta yang bermitra dengan Zhifei, mengatakan vaksin Zifivax bisa diproduksi di Indonesia tahun ini.
      Zhifei dan unitnya, Anhui Zhifei Longcom Biopharmaceutical, tidak segera menanggapi permintaan komentar. [ah/rs]
    • By VOAIndonesia
      Seorang petugas kesehatan tampak membersihkan tangannya setelah mengambil sampel tes usap (swab test) dari seorang pasien di pusat tes COVID-19 di Hyderabad, India, pada 11 Oktober 2020. (Foto: AP/Mahesh Kumar A.)
      Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada Jumat (9/10) mengumumkan bahwa pihaknya telah menetapkan dan merilis definisi klinis standar pertama dari gejala yang umum dikenal sebagai “long COVID”. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan pengobatan untuk para penderitanya.
      Berbicara secara virtual kepada reporter dari markas besar WHO di Jenewa, Kepala Manajemen Klinis WHO Janet Diaz mengatakan definisi ini disetujui setelah melakukan konsultasi dengan para petugas kesehatan di seluruh dunia.
      Ia mengatakan, kondisi di mana gejala dari sakit yang diderita tetap bertahan melampaui apa yang dialami oleh pasien lainnya, biasanya disebut sebagai “post-COVID,” salah satu dari banyak istilah mirip yang dipakai.
      Gejala ini terjadi pada orang yang sudah terkonfirmasi atau kemungkinan mengidap infeksi virus corona baru, yang “biasanya terjadi tiga bulan sejak mengidap COVID-19 dengan gejala yang berlangsung paling sedikit dua bulan, dan gejala tersebut tidak bisa dijelaskan oleh diagnosa alternatif.”
      Gejalanya mencakup “keletihan, kesulitan bernapas, disfungsi kognitif,” kata Diaz, tetapi ada juga gejala lainnya, yang pada umumnya punya dampak merugikan pada kesehatan sehari-hari.
      Diaz menjelaskan bahwa sampai sekarang, kurangnya kejelasan di kalangan para petugas medis tentang kondisi ini telah mempersulit usaha memajukan penelitian dan pengobatannya. (jm/pp)
×
×
  • Create New...