Jump to content

Gak Kaget kalau Kemungkinan Rem Darurat Ditarik Kata Dokter Tirta


Ricky_06

Recommended Posts

75101612_doktertirta.thumb.jpg.027a84bb167c32d81a0378d70af9fd6c.jpg

Situasi Indonesia yang makin kritis akibat kasus covid-19 melonjak membuat pemerintah maupun tenaga kesehatan bekerja ekstrakeras dalam mengendalikan wabah penyakit. Bahkan saat ini banyak rumah sakit kewalahan karena kehabisan ruang perawatan maupun keterbatasan nakes akibat tidak cukup menampung banyaknya pasien yang terpapar covid-19.

Terkait kondisi ini, dokter relawan covid-19 Tirta Mandira Hudhi membuat unggahan di akun Instagram-nya @dr.tirta. Dokter Tirta mewakili para teman-temannya selaku garda terdepan pengobatan covid-19 untuk menyampaikan situasi yang kritis akibat ledakan kasus yang sedang dialami Indonesia saat ini.

"Melihat cuitan teman-teman nakes di Jakarta, IGD penuh, oksigen menipis, ga kaget kalau ada kemungkinan tiba-tiba rem darurat ditarik. Jika Jakarta melakukan A, otomatis daerah lain yang 'darurat' akan mengikuti dan melakukan A juga. Mari kita lihat dalam 5–6 hari ke depan," tulis Dokter Tirta dalam unggahannya.

763433143_tweetdrTirta.jpg.bd0ce01d547092a687e88d542cbf603d.jpg

Sebagaimana diketahui saat ini kondisi covid-19 di Indonesia sangat tidak terkendali. Per 24 Juni 2021 tercatat kenaikan kasus covid-19 di Tanah Air mencapai lebih dari 20 ribu dalam kurun waktu satu hari saja. Tentunya kenaikan kasus secara drastis ini membuat bed occupancy rate (BOR) atau ketersediaan kamar tidur di rumah sakit makin tipis.

Dokter Tirta pun berharap Indonesia dalam kondisi yang baik-baik saja agar pemerintah tidak mengambil tindakan menarik rem darurat untuk mengatasi ledakan kasus covid-19 ini. Sebab jika hal ini terjadi, maka dampaknya akan terasa kepada masyarakat.

"Semoga semua baik-baik saja. Saya yakin gak ada yang mau rem darurat ditarik. Karena ekonomi akan terdampak, jadi ribet, susah mobilisasi, dan menghambat pelayanan. Akan tetapi jika kita melihat angka kepenuhan IGD, ada potensi sangat besar kebijakan ini diambil. Mari kita tunggu berita 5–6 hari ke depan," tuntasnya.

 

dr Tirta.png

Link to comment
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...
  • Similar Content

    • By ega
      Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira, menilai insentif penurunan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) mobil baru belum tentu mempercepat pemulihan perekonomian Indonesia. Pemerintah disarankan untuk saat ini fokus mengatasi pandemi.
      Dalam penanganan pandemi, kata Bhima, pemerintah bisa sekaligus membantu para pekerja di sektor otomotif.
      "Belum tentu akan mempercepat pemulihan ekonomi, sebaiknya pemerintah saat ini fokus dulu untuk mengatasi pandemi. Secara paralel pekerja di sektor otomotif yang rentan diberikan jaring pengaman seperti bantuan subsidi upah yang nominalnya dinaikkan menjadi setidaknya Rp5-7 juta per pekerja," kata Bhima kepada Liputan6.com pada Selasa (15/2/2021).
      Selain itu, Bhima menilai insentif ini kontradiktif dengan mobilitas yang masih rendah di tengah pandemi. Menurutnya, kebijakan ini juga belum tentu menaikkan angka penjualan mobil.
      Dijelaskan Bhima, prioritas belanja masyarakat untuk saat ini adalah terkait kesehatan, makanan, minuman, dan kebutuhan primer lain. Hal ini jika merujuk pada prediksi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengenai virus Covid-19 bisa terkendali pada September 2021.
      "Saat ini masalah mobilitas penduduk yang masih rendah, membuat prioritas belanja masyarakat bukan beli mobil baru," tutur Bhima. 
    • By ega
      Mutasi virus Corona penyebab Covid-19 yang terjadi di Inggris menjadi kekhawatiran baru bagi sebagai dunia. Lalu, apakah virus ini dapat ditangkal dengan vaksin yang sudah dibeli oleh pemerintah?
      Ahli Biologi Molekuler lulusan Harvard Medical School, Amerika Serikat, Ahmad Rusdan Utomo menjawab kekhawatiran soal mutasi Covid-19 tersebut.
      Dia menjelaskan, konsep vaksinasi sendiri bisa menggunakan beberapa cara. Ada yang menggunakan protein virus yang telah dimatikan. Juga bisa menggunakan adonovirus yang membawa materi genetik virus. Bisa pula menggunakan materi genetik dari protein spike (protein tanduk virus).
      "Jadi setelah diinjeksi ke manusia, manusia akan akhirnya timbul antibodi sebagai reaksi terhadap protein spike yang akhirnya terekspresi ke dalam tubuh manusia. Dan ketika lihat antibodi ini mengenali antigennya, dalam hal ini adalah protein spike itu ada titik yang sangat spesifik pada lokasi spike ini (disebut epitop). Epitop adalah lokasi di dalam antigen di mana titik di mana antibodi itu berikatan," papar Ahmad Utomo dikutip melalui video di akun Instagram pribadinya @ahmadrusjdan, Sabtu (2/1/2021).
      Menurut dia, terdapat empat macam epitop di mana protein spike dikenali oleh antibodi manusia. Dia menerangkan tatkala antibodi manusia mampu mengikat protein spike, maka itu akan menghambat ikatan spike dengan reseptor manusia, tempat jalan masuknya virus ke tubuh.
      "Di sinilah konsep vaksin ini," tegas dia.
      Lantas bagaimana jika Covid-19 telah bermutasi? Terlebih lagi mutasinya pada protein spike, apakah vaksin masih bisa efektif?
      "Nah, kita perlu ingat, katakan ada (satu) protein spike yang termutasi ya. Tentu saja untuk antibodi yang ini dia tidak bisa mengenali (satu spike yang termutasi), akan tetapi ingat ada sekitar tiga antibodi karena tiga ini mengenali epitop yang masih normal yang belum termutasi," tutur Ahmad Utomo.
      Sehingga kendati terdapat mutasi pada gen spike virus, maka antibodi yang awalnya mengenal gen spike yang belum termutasi menjadi tidak efektif lantaran sudah tak dapat dikenali.
      Akan tetapi, kata Ahmad Utomo masih terdapat tiga antibodi yang mengenali spike di sisi lain virus. Sehingga diharapkan antibodi bakal tetap mendeteksi Covid-19 yang masuk ke tubuh dan segera menyerangnya.
      "Dan data-data yang ada sekarang dari berbagai macam variasi mutasi varian dari Covid-19, sejauh ini masih bisa diblok," tutur dia.
      Ketangguhan Vaksin Covid-19
      Ahmad Utomo menyampaikan vaksin yang ada saat ini terbukti mampu mencegah gejala penyakit imbas infeksi Covid-19.
      "Apakah vaksin bisa melakukan pencegahan? Dan vaksin yang ada sekarang itu terbukti bisa mampu mencegah gejala penyakit. Jadi kasus terjadinya Covid-19 pada relawan yang divaksin itu jauh lebih rendah daripada relawan yang menerima placebo," urai Ahmad Utomo.
      Artinya, kata Ahmad Utomo, vaksin memiliki efektivitas cukup tinggi. Bahkan mencapai 95 persen.
      "Vaksin ini memang memiliki efikasi lumayan tinggi, berkisar antara 65 hingga 95 persen," kata dia.
      Lantas apakah vaksin mampu mencegah penularan Covid-19? Ahmad Utomo menegaskan belum ada pihak yang mampu mengetahui hal itu. Oleh karena itu, kendati vaksinasi telah dilaksanakan, patuh terhadap protokol kesehatan tetap merupakan kewajiban.
      "Apakah masih bisa mencegah penularan? Kita tidak tahu, oleh karena itu penting bagi kita semua untuk tetap menggunakan masker bahkan setelah divaksin," pesan Ahmad Utomo.
    • By yhosan
      Kepolisian Resor Kota Sidoarjo memberi efek jera bagi 54 orang pelanggar protokol kesehatan COVID-19 yang kedapatan tidak mengenakan masker saat keluar rumah.
      Sebagai bentuk hukuman, mereka berdoa bersama di makam khusus korban virus corona baru atau COVID-19, di pemakaman Delta Praloyo.
      "Rupanya hukuman sosial dengan membersihkan fasilitas umum yang selama ini diterapkan masih belum mendapatkan efek jera dari pelanggar protokol kesehatan ini, sehingga kami berinisiatif menyuruh para pelanggar itu untuk berdoa bersama di makam khusus korban COVID-19 di Sidoarjo ini," ujar Kepala Kepolisian Resor Kota Sidoarjo Komisaris Besar Polisi Sumardji, di Sidoarjo.
      Dia mengatakan, para pelanggar terjaring razia jam malam, dan mengabaikan protokol kesehatan dengan tidak memakai masker. Razia itu digelar oleh petugas gabungan polisi, TNI, dan Satpol PP di warung kopi dan kafe.
      "Selama ini warga di Sidoarjo masih banyak yang mengabaikan protokol kesehatan. Kedisiplinan warga masih kurang terutama yang tidak menggunakan masker dan melanggar jam malam," katanya lagi.
      "Ini salah satu upaya untuk membuat mereka jera. Selain itu, ini bentuk untuk penyampaian moral ke warga Sidoarjo tentang bahayanya COVID-19 itu nyata," tambahnya. 
      Kapok
      David, warga Sidoarjo yang terjaring razia mengaku sangat kapok tidak akan mengulangi lagi dan berjanji akan menggunakan masker setiap keluar rumah.
      "Saya merasa takut mas malam-malam ngaji bareng baca tahlil di tengah pusara pasien COVID-19," kata David lagi.
      Sementara itu, jumlah pasien COVID-19 di Sidoarjo hingga Jumat, 4 September kemarin tercatat sebanyak  5.327 orang yang dinyatakan positif. 
      Dari jumlah itu yang terkonfirmasi meninggal dunia sebanyak 345 orang.
×
×
  • Create New...