Jump to content

Vaksinasi Macan hingga Gorila di Kebun Binatang


Recommended Posts

  • Verified Account

Seiring semakin banyaknya warga AS yang divaksinasi melawan Covid, satwa penghuni kebun binatang juga mulai diberi vaksin, mengingat virus korona bisa juga tulari primata hingga keluarga kucing. Tapi ini tak patut menimbulkan rasa iri dari warga yang belum mendapat giliran vaksinasi. Mengapa?

 

Link to comment
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...
  • Similar Content

    • By peter_hutomo
      Program vaksinasi COVID-19 masih terus berjalan di Indonesia, sehingga diharapkan bisa segera menjangkau seluruh masyarakat di berbagai daerah.
      Seiring proses pemberian vaksin ke 1 dan ke 2 yang masih berlangsung, kini muncul istilah lain dalam program vaksinasi COVID-19 yakni vaksinasi booster. Apa yang dimaksud dengan hal tersebut?
      Vaksinasi booster dalam praktiknya adalah pemberian vaksin ke-3 dengan jenis vaksin yang sama seperti sebelumnya.
      Hal ini dilakukan karena adanya keluhan penurunan efikasi yang dialami oleh mereka yang sudah menjalani vaksin ke-1 dan ke-2 setelah jangka waktu tertentu.
      Dilansir dari laman Indianexpress, Pfizer saat ini telah menghubungi regulator Amerika untuk mengesahkan dosis booster vaksin COVID-19 bulan depan.
      Sementara negara-negara di Uni Emirat Arab, Thailand dan Bahrain telah menginokulasi sebagian besar warganya untuk pemberian booster vaksin dari Astra Zeneca, produksi Oxford Inggris.
      Inggris sendiri sudah berencana memberikan booster vaksin bagi mereka yang berusia 50 tahun ke atas sebelum musim dingin datang.
      Negara ini diketahui menyetujui penggunaan vaksin dari Pfizer, Moderna, Johnson & Johnson, serta Astra Zeneca.
      Sementara itu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention) Amerika belum memberikan rekomendasi tentang pemberian booster vaksin kepada warga negaranya.
      Pengertian vaksinasi booster
      Suntikan vaksinasi booster adalah sarana untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh seseorang terhadap patogen tertentu.

      Biasanya jenis vaksinnya sama saja seperti vaksin sebelumnya, karena tujuannya juga sama yaitu untuk meningkatkan daya tahan tubuh agar memproduksi lebih banyak antibodi.
      Vaksin umumnya mengandung bentuk virus atau bakteri penyebab penyakit yang sudah dilumpuhkan atau bisa juga tiruan genetik dari virus yang diubah sehingga tak lagi terlalu berbahaya.
      Booster vaksin memicu sistem kekebalan seseorang untuk menyerang jenis virus yang sama bila masuk ke dalam tubuh.
      Ini membantu antibodi untuk mengingat jenis virus dan sudah menyiapkan diri melawannya. Termasuk jika virus tersebut ternyata sudah bermutasi.
      Yang dilakukan oleh vaksinasi booster adalah memberi sel memori sinyal penting untuk kembali saat virus menyerang.
      Termasuk melatih sel antibodi untuk mengenali fitur baru dari virus, bila sudah bermutasi, dan menghasilkan antibodi yang lebih kuat.
      Siapa yang membutuhkan booster vaksin
      Siapa yang membutuhkan vaksinasi booster? Perlu diingat bahwa suntikan ini hanya bisa diberikan bagi yang sudah menjalani vaksinasi ke-1 dan ke-2, untuk vaksin COVID-19, merujuk laman Medicalnewstoday.
      Booster bisa sangat membantu bagi orang tua (lansia) dan orang dengan gangguan kekebalan yang tubuhnya tidak dapat memproduksi antibodi setelah dua vaksinasi sudah dilakukan.
      Booster juga disarankan jika ada penelitian yang menunjukkan bahwa varian baru sudah tidak bisa diatasi lagi oleh antibodi yang terbentuk dari vaksin sebelumnya, misalnya varian Delta.
      Di Indonesia, booster vaksin atau vaksinasi dosis ketiga saat ini hanya diberikan kepada tenaga kesehatan maupun tenaga pendukung kesehatan yang sudah menjalani vaksinasi lengkap sebelumnya.
      Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan sekaligus Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, dr.Siti Nadia Tarmidzi mengatakan seperti dilansir laman sehatnegeriku.kemenkes.go.id.
      Jumlahnya diperkirakan mencapai 1,5 juta orang di seluruh wilayah Indonesia. Karena jumlah vaksin dosis ketiga, dalam hal ini adalah dari Moderna, yang terbatas, maka peruntukkannya tidak untuk khalayak umum.
      Keputusan pemberian dosis ketiga kepada tenaga kesehatan tersebut diatur dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Nomor: HK.02.01/1/1919/2021 tentang Vaksinasi Dosis Ketiga Bagi Seluruh Tenaga Kesehatan, Asisten Tenaga Kesehatan dan Tenaga Penunjang yang Bekerja di Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
       
    • By dugelo

      LadyJek, aplikasi pemesanan ojek namun dikemudikan untuk wanita dan hanya menerima penumpang wanita 
      Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menilai pelarangan ojek atau taksi daring Kementerian Perhubungan terlambat dikeluarkan. Oleh karena itu, keputusan ini diperkirakan tidak akan efektif berjalan. 
      Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi mengatakan larangan ini muncul di saat ojek atau taksi daring sudah tumbuh subur. 
      "Bak cendawan di musim hujan, bukan hanya ojek pangkalan tetapi justru yang menjadi fenomena adalah ojek yang berbasis aplikasi. Oleh karena itu Kemenhub tidak bisa serta merta melarang," kata Tulus melalui pernyataan yang diterima CNN Indonesia, Jumat (18/12). 
      Tulus melihat tumbuh suburnya sepeda motor dan ojek dilatarbelakangi dari kegagalan pemerintah dalam menyediakan angkutan umum yang layak dan terjangkau. 
      Tulus mengatakan jika pemerintah belum mampu menyediakan akses memadai angkutan umum, termasuk menjamin keamanan dan keselamatan bagi penggunanya, larangan ini lebih baik tidak dikeluarkan. 
      Keberadaan ojek, katanya, mampu mengatasi persoalan transportasi bagi warga di tengah kemacetan lalu lintas yang semakin meningkat. 
      "Oleh karena itu, YLKI mendesak Kemenhub dan pemerintah daerah untuk memperbaiki pelayanan angkutan umum. Jangan sampai hanya bisa melarang tapi tak bisa kasih solusi," kata Tulus. 
      Sementara itu, Direktur untuk Indonesia dari Institute for Transportation and Development Policy, Yoga Adiwinarto, mengatakan keputusan pelarangan tersebut bukti pemerintah menutup mata dengan munculnya fenomena baru, penggunaan ojek atau taksi berbasis daring. 
      "Policy tentang angkutan umum minimal beroda tiga yang berbadan hukum itu sudah lama sebenarnya. Sekarang mau menerapkan, kesannya, kok dipaksakan," kata Yoga.
      Yoga menduga ada kepentingan pihak lain yang didesakkan di balik keputusan pemerintah melarang ojek dan taksi daring. 
      "Saya melihatnya ada konteks kepentingan di sini. Adanya ojek dan taksi daring mematikan bisnis usaha lainnya, makanya mereka mati-matian mendorong pemerintah untuk melarang," ujar Yoga. 
      Sebelumnya, pemerintah, melalui Kementerian Perhubungan melarang seluruh ojek maupun taksi berbasis daring karena dinilai tidak memenuhi ketentuan sebagai angkutan umum. 
      Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Djoko Sasono dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis mengatakan pelarangan beroperasi tersebut tertuang dalam Surat Pemberitahuan Nomor UM.3012/1/21/Phb/2015 yang ditandatangani oleh Menteri Perhubungan Ignasius Jonan, tertanggal 9 November 2015.
      "Sehubungan dengan maraknya kendaraan bermotor bukan angkutan umum dengan menggunakan aplikasi internet untuk mengangkut orang dan/atau barang, perlu diambil langkah bahwa pengoperasiannya dilarang," katanya.
      Djoko mengatakan surat tersebut juga ditujukan untuk Korps Lalu Lintas Polri, para kapolda dan gubernur di seluruh Indonesia.
      Pelarangan tersebut, katanya, sesuai dengan ketentuan Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan serta Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2014 tentang Angkutan Jalan.
    • By Sam
      Salah besar jika Anda berpikir naluri keibuan itu hanya milik makhluk bernama manusia. Karena sesungguhnya Tuhan Maha Adil, naluri keibuan adalah fitrah, bahkan hewan buas pun memilikinya. Tak peduli apakah sang induk dan sang anak berasal dari jenis yang sangat jauh berbeda, tak peduli jika salah satunya adalah predator bagi yang lainnya, naluri keibuan itu akan tetap muncul untuk menyayangi satu sama lainnya.
       

      Video dokumenter Natgeo 2006 (Eye Of The Leopard)
       
      Seperti yang tersirat dalam video dokumenter National Geographic 2006 berjudul “Eye Of The Leopard” ini, yang menangkap momen luar biasa ketika naluri keibuan seekor macan tutul melebihi sifat predatornya.
       
      Adalah Legadema, sosok leopard alias macan tutul yang hidup di padang savana Afrika. Di umurnya yang beranjak 3 tahun, Legadema adalah sosok predator utama di habitatnya. Instingnya sebagai pembunuh pun tak terbantahkan. Sekali terkam, mangsa pun tak lagi sanggup hidup. Namun pada suatu ketika, saat matanya menatap seekor bayi baboon yang induknya baru saja meregang nyawa karena cengkramannya, hukum rimba pun tertulis ulang!
       
      Dalam video tersebut, nampak Legadema telah memburu sang baboon dari kejauhan. Ia pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk menerkam saat baboon itu lengah. Sayangnya, Legadema tak mengetahui bahwa baboon itu sedang menyusui bayinya. Setelah mencabik-cabik sang baboon, Legadema pun membawa mangsanya ke atas pohon. Ia pun terperanjat, saat menyadari ada seekor bayi baboon yang masih tersangkut di payudara sang induk baboon, sang bayi baboon yang sedang menyusui itu pun jatuh ke bawah.
       
      Legadema menghampirinya, namun ajaibnya, predator buas itu bukannya memangsa si bayi baboon, Legadema malah menatapnya lekat, lalu ia pun merebahkan diri sejenak di samping si bayi, seakan tak tahu apa yang harus dia lakukan. Terpancar raut penyesalan di wajah buasnya.
       
      Yang terjadi kemudian, tentu akan membuat Anda menitikkan air mata. Bagaimana seekor predator buas memilih untuk merengkuh tangan kecil dan merawat serta melindungi sang bayi baboon tersebut. Seandainya Legadema bisa bicara, mungkin ia akan berkata “Inilah wujud penyesalan terdalam atas apa yang baru saja aku lakukan terhadap induknya”
       
      Legadema pun membawa sang bayi baboon ke sebuah batang pohon yang lebih terlindung dari predator lain yang dapat memangsa si bayi baboon. Bahkan saat seekor hyna datang untuk memangsa, Legadema sigap melindungi sang baboon kecil. Bahkan saat malam tiba, ketika sang bayi berkali-kali jatuh dari batang pohon, Legadema pun segera turun dan menjemputnya sebelum hyna berhasil memangsanya,
      Legadema pun kembali merengkuh sang bayi baboon dalam dekapannya. Seperti seorang ibu meninabobokan anaknya. Sayangnya, takdir berkata lain. Saat pagi tiba, sang kameramen pun menyadari bahwa sang bayi baboon tak bernafas lagi. Menurutnya, sulit bagi seorang bayi baboon hidup tanpa sentuhan induknya kala itu. Dan saat menyadari bayi baboon itu mati, Legadema pun beranjak pergi dengan tatapan sendu.
       
      Para kru film pun meninggalkan Legadema di habitatnya. Beberapa bulan terlewati, sebuah kabar baik pun sampai ke telinga para kru film.
       
      Dereck Joubert, sang pembuat film tersebut mengatakan bahwa Legadema tengah mengandung bayinya.
      "Kami baru saja mendengar bahwa ia akan segera memiliki bayi sendiri untuk dirawatya , ya seperti saat dia merawat si babon kecil dengan penuh kasih," ujar Joubert.
       
      Kisah nyata di alam liar ini tentu membuat suatu pelajaran berarti bagi kita manusia, dimana  pemberitaan miris tentang bayi-bayi yang dibuang ibunya seperti tak ada habisnya, tentang bayi-bayi yang dibunuh orang tuanya secara kejam karena himpitan ekonomi. Maka, berkacalah pada Legadema, seekor predator buas sepertinya pun masih memiliki rasa penyesalan yang mendalam. Ia bahkan sanggup membunuh insting pembunuh di otaknya untuk memertanggungjawabkan kesalahannya tersebut. Lalu bagaimana dengan kita, makhluk bernama manusia?
×
×
  • Create New...