Jump to content

Aplikasi Manajemen Ruang Saat Pandemi


Recommended Posts

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...
  • Similar Content

    • By VOAIndonesia
      Presiden Perancis Emmanuel Macron hari Rabu (31/3) memerintahkan penutupan seluruh wilayah dan penghentian semua kegiatan – atau dikenal sebagai kebijakan lockdown – yang ketiga sejak pandemi merebak Maret tahun lalu. Ia mengatakan seluruh sekolah akan ditutup selama tiga minggu ke depan sebagai upaya mengatasi pandemi virus corona gelombang ketiga yang mengancam akan melumpuhkan rumah-rumah sakit.
      Melihat jumlah kematian akibat COVID-19 yang hampir mencapai 100.000 orang, unit-unit perawatan intensif (ICU) di beberapa kawasan di mana perebakan luas terjadi dan vaksinasi yang berjalan lebih lambat dari yang direncanakan; Macron terpaksa mengesampingkan dulu tujuannya untuk melidungi perekonomian Perancis dengan mempertahankan agar negaranya tetap terbuka.
      “Jika tidak bergerak sekarang kita akan kehilangan kendali,” ujar Macron dalam pidato yang disiarkan seluruh stasiun televisi Perancis.
      Pengumumannya berarti pembatasan wilayah yang sudah berlaku selama lebih dari satu minggu di Paris dan beberapa wilayah di utara dan selatan, kini berlaku di seluruh negara; setidaknya selama satu bulan, mulai Sabtu ini (3/4).
      Memulai pidatonya dengan menyebut janjinya untuk melindungi dunia pendidikan dari pandemi ini, Macron mengatakan seluruh sekolah akan ditutup selama tiga minggu setelah akhir pekan ini.
      Jumlah kasus baru COVID-19 di Perancis berlipat ganda sejak Februari lalu menjadi hampir 40.000 kasus. Jumlah pasien di unit intensif rumah sakit mencapai 5.000 – melebihi jumlah ketika puncak pandemi dan lockdown selama enam minggu akhir tahun lalu. Kapasitas tempat tidur di unit gawat darurat akan ditambah menjadi 10.000 tempat tidur, ujar Macron.
      Pembatasan baru ini akan memperlambat laju pemulihan di negara dengan perekonomian kedua terbesar di blok pengguna mata uang euro itu, dari kemerosotan ekonomi tahun lalu.
      Macron mengatakan program vaksinasi juga perlu diselaraskan. Dalam tiga bulan ini baru 12% dari seluruh penduduk yang divaksinasi. [em/jm]
    • By ega
      Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira, menilai insentif penurunan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) mobil baru belum tentu mempercepat pemulihan perekonomian Indonesia. Pemerintah disarankan untuk saat ini fokus mengatasi pandemi.
      Dalam penanganan pandemi, kata Bhima, pemerintah bisa sekaligus membantu para pekerja di sektor otomotif.
      "Belum tentu akan mempercepat pemulihan ekonomi, sebaiknya pemerintah saat ini fokus dulu untuk mengatasi pandemi. Secara paralel pekerja di sektor otomotif yang rentan diberikan jaring pengaman seperti bantuan subsidi upah yang nominalnya dinaikkan menjadi setidaknya Rp5-7 juta per pekerja," kata Bhima kepada Liputan6.com pada Selasa (15/2/2021).
      Selain itu, Bhima menilai insentif ini kontradiktif dengan mobilitas yang masih rendah di tengah pandemi. Menurutnya, kebijakan ini juga belum tentu menaikkan angka penjualan mobil.
      Dijelaskan Bhima, prioritas belanja masyarakat untuk saat ini adalah terkait kesehatan, makanan, minuman, dan kebutuhan primer lain. Hal ini jika merujuk pada prediksi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengenai virus Covid-19 bisa terkendali pada September 2021.
      "Saat ini masalah mobilitas penduduk yang masih rendah, membuat prioritas belanja masyarakat bukan beli mobil baru," tutur Bhima. 
    • By ega
      Mutasi virus Corona penyebab Covid-19 yang terjadi di Inggris menjadi kekhawatiran baru bagi sebagai dunia. Lalu, apakah virus ini dapat ditangkal dengan vaksin yang sudah dibeli oleh pemerintah?
      Ahli Biologi Molekuler lulusan Harvard Medical School, Amerika Serikat, Ahmad Rusdan Utomo menjawab kekhawatiran soal mutasi Covid-19 tersebut.
      Dia menjelaskan, konsep vaksinasi sendiri bisa menggunakan beberapa cara. Ada yang menggunakan protein virus yang telah dimatikan. Juga bisa menggunakan adonovirus yang membawa materi genetik virus. Bisa pula menggunakan materi genetik dari protein spike (protein tanduk virus).
      "Jadi setelah diinjeksi ke manusia, manusia akan akhirnya timbul antibodi sebagai reaksi terhadap protein spike yang akhirnya terekspresi ke dalam tubuh manusia. Dan ketika lihat antibodi ini mengenali antigennya, dalam hal ini adalah protein spike itu ada titik yang sangat spesifik pada lokasi spike ini (disebut epitop). Epitop adalah lokasi di dalam antigen di mana titik di mana antibodi itu berikatan," papar Ahmad Utomo dikutip melalui video di akun Instagram pribadinya @ahmadrusjdan, Sabtu (2/1/2021).
      Menurut dia, terdapat empat macam epitop di mana protein spike dikenali oleh antibodi manusia. Dia menerangkan tatkala antibodi manusia mampu mengikat protein spike, maka itu akan menghambat ikatan spike dengan reseptor manusia, tempat jalan masuknya virus ke tubuh.
      "Di sinilah konsep vaksin ini," tegas dia.
      Lantas bagaimana jika Covid-19 telah bermutasi? Terlebih lagi mutasinya pada protein spike, apakah vaksin masih bisa efektif?
      "Nah, kita perlu ingat, katakan ada (satu) protein spike yang termutasi ya. Tentu saja untuk antibodi yang ini dia tidak bisa mengenali (satu spike yang termutasi), akan tetapi ingat ada sekitar tiga antibodi karena tiga ini mengenali epitop yang masih normal yang belum termutasi," tutur Ahmad Utomo.
      Sehingga kendati terdapat mutasi pada gen spike virus, maka antibodi yang awalnya mengenal gen spike yang belum termutasi menjadi tidak efektif lantaran sudah tak dapat dikenali.
      Akan tetapi, kata Ahmad Utomo masih terdapat tiga antibodi yang mengenali spike di sisi lain virus. Sehingga diharapkan antibodi bakal tetap mendeteksi Covid-19 yang masuk ke tubuh dan segera menyerangnya.
      "Dan data-data yang ada sekarang dari berbagai macam variasi mutasi varian dari Covid-19, sejauh ini masih bisa diblok," tutur dia.
      Ketangguhan Vaksin Covid-19
      Ahmad Utomo menyampaikan vaksin yang ada saat ini terbukti mampu mencegah gejala penyakit imbas infeksi Covid-19.
      "Apakah vaksin bisa melakukan pencegahan? Dan vaksin yang ada sekarang itu terbukti bisa mampu mencegah gejala penyakit. Jadi kasus terjadinya Covid-19 pada relawan yang divaksin itu jauh lebih rendah daripada relawan yang menerima placebo," urai Ahmad Utomo.
      Artinya, kata Ahmad Utomo, vaksin memiliki efektivitas cukup tinggi. Bahkan mencapai 95 persen.
      "Vaksin ini memang memiliki efikasi lumayan tinggi, berkisar antara 65 hingga 95 persen," kata dia.
      Lantas apakah vaksin mampu mencegah penularan Covid-19? Ahmad Utomo menegaskan belum ada pihak yang mampu mengetahui hal itu. Oleh karena itu, kendati vaksinasi telah dilaksanakan, patuh terhadap protokol kesehatan tetap merupakan kewajiban.
      "Apakah masih bisa mencegah penularan? Kita tidak tahu, oleh karena itu penting bagi kita semua untuk tetap menggunakan masker bahkan setelah divaksin," pesan Ahmad Utomo.
    • By sunfork
      Orang yang terinfeksi Covid-19 tidak semuanya akan menjadi sakit. Bisa saja, orang tersebut tidak mengalami gejala seperti umumnya pasien Covid-19 atau tidak merasakan sakit seperti orang tanpa gejala. Kalau ada anggota keluarga yang terkena virus Corona, jangan panik dulu. Kalian bisa melakukan beberapa hal berikut agar tetap bisa karantina mandiri. Pertama-tama, lakukan PCR test untuk seluruh keluarga agar bisa memastikan tidak ada anggota keluarga lain yang tertular. Nah, selanjutnya ikuti tips berikut ya!

      Ilustrasi orang menggunakan masker. [Michael Amadeus - Unsplash]
      Ruang Terpisah
      Berikan orang yang terpapar ruangan terpisah dari anggota keluarga lain selama 14 hari setelah dinyatakan positif. Usahakan ada di kamar yang punya ventilasi yang cukup, seperti jendela lebar yang bisa dibuka atau pintu. Agar udara yang ada di ruangan tersebut bisa berganti.
      Selain itu, upayakan juga ruangan itu memiliki kamar mandi sendiri yang hanya bisa diakses oleh orang yang terpapar tersebut. Kalau tidak memungkinkan, usahakan untuk menggunakan kamar mandi paling terakhir setelah anggota keluarga lain.
      Protokol Kesehatan di Rumah
      Meski berada di dalam rumah, usahakan untuk memakai masker, menjaga jarak, hindari kontak langsung, dan tidak keluar rumah kecuali untuk keperluan mendesak seperti berobat. Pisahkan baju dan peralatan makan dari anggota keluarga lain, langsung cuci dengan sabun setelah dipakai. Bersihkan secara teratur permukaan benda yang sering disentuh, seperti gagang pintu, sakelar lampu, keran, dan lainnya.
      Beri Vitamin dan Makanan Bergizi
      Meski tidak merasakan sakit, orang yang terpapar Covid-19 tetap harus diberikan perhatian. Semangati mereka agar tidak down atau stres karena berada di dalam ruangan sendirian terus menerus. Sediakan juga hal-hal yang dibutuhkan, seperti hiburan atau makanan bergizi. Jangan lupa untuk rutin minum vitamin yang bisa meningkatkan imun tubuh.
      Konsultasi Dokter
      Anggota keluarga bisa membantu konsultasi dengan dokter secara online, jadi tidak perlu ada kontak langsung dan bisa dilakukan di rumah. Konsultasikan jika mengalami gejala-gejala yang membuat tidak nyaman.
      Nggak perlu khawatir atau sampai panik kalau ada anggota keluarga yang terkena Covid-19.
    • By congek
      Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo keluarga bisa berperan sebagai kunci dari pencegahan COVID-19.
      Pernyataan tersebut disampaikan Hasto dalam siaran dialog dari Graha BNPB.
      "Yang perlu kita sadari bersama, di hari-hari ini, klaster satu dengan klaster yang lainnya sudah bertemu dan bertemunya di keluarga. Oleh karena itu klaster keluarga ini tidak bisa dihindari," ujarnya dikutip Jumat (9/10/2020).
      Ia mengatakan, keluarga merupakan sentral dari pencegahan COVID-19 apabila ingin dilakukan di tingkat hulu.
      "Bagaimana pun juga tempat berkumpulnya mereka yang dari kelompok di mana saja beraktivitas adalah keluarga. Inilah yang tidak bisa kita hindari, mau tidak mau, suka tidak suka, keluarga memang menjadi klaster terakhir setelah klaster-klaster sudah dilewati."
      "Kalau keluarga ini kita kuatkan, anak-anak dalam keluarga ini bisa menjaga orangtuanya atau neneknya yang punya komorbid atau risiko tinggi, maka insyaallah, sukseslah kita mencegah morbiditas dan mortalitas untuk orang-orang dengan komorbid," Hasto menambahkan.
      Risiko dalam Keluarga Berbeda-Beda
      Dwi Listyawardani, Kepala Sub Bidang Sosialisasi Perubahan Perilaku Satgas COVID-19 mengatakan bahwa setiap anggota keluarga harus mengambil peran untuk menjaga dirinya masing-masing.
      Dani, yang juga Deputi Bidang Pengendalian Penduduk BKKBN, mengatakan bahwa keluarga memang menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang bekerja di luar rumah atau mereka yang memiliki tingkat risiko infeksi yang berbeda-beda.
      "Masing-masing punya derajat risiko yang berbeda, di mana mungkin yang usianya lebih tua karena adanya komorbid, maka risikonya untuk menjadi positif, katakanlah demikian, menjadi lebih besar."
      "Mau tidak mau di dalam keluarga diterapkan 3M," tambahnya.
      Meski begitu, Dani juga mengakui adanya tantangan dalam penerapan jaga jarak dalam keluarga, khususnya di perkotaan. Hal ini mengingat seringkali keterbatasan ruang di rumah menjadi kendala untuk melakukan ini.
×
×
  • Create New...