Jump to content

Apakah Vaksin Covid-19 Masih Efektif Mutasi Virus Corona


Recommended Posts

1346601161_vaksincovid.thumb.jpg.e45a6132763c7a0574fd3604a7df7455.jpg

Mutasi virus Corona penyebab Covid-19 yang terjadi di Inggris menjadi kekhawatiran baru bagi sebagai dunia. Lalu, apakah virus ini dapat ditangkal dengan vaksin yang sudah dibeli oleh pemerintah?

Ahli Biologi Molekuler lulusan Harvard Medical School, Amerika Serikat, Ahmad Rusdan Utomo menjawab kekhawatiran soal mutasi Covid-19 tersebut.

Dia menjelaskan, konsep vaksinasi sendiri bisa menggunakan beberapa cara. Ada yang menggunakan protein virus yang telah dimatikan. Juga bisa menggunakan adonovirus yang membawa materi genetik virus. Bisa pula menggunakan materi genetik dari protein spike (protein tanduk virus).

"Jadi setelah diinjeksi ke manusia, manusia akan akhirnya timbul antibodi sebagai reaksi terhadap protein spike yang akhirnya terekspresi ke dalam tubuh manusia. Dan ketika lihat antibodi ini mengenali antigennya, dalam hal ini adalah protein spike itu ada titik yang sangat spesifik pada lokasi spike ini (disebut epitop). Epitop adalah lokasi di dalam antigen di mana titik di mana antibodi itu berikatan," papar Ahmad Utomo dikutip melalui video di akun Instagram pribadinya @ahmadrusjdan, Sabtu (2/1/2021).

Menurut dia, terdapat empat macam epitop di mana protein spike dikenali oleh antibodi manusia. Dia menerangkan tatkala antibodi manusia mampu mengikat protein spike, maka itu akan menghambat ikatan spike dengan reseptor manusia, tempat jalan masuknya virus ke tubuh.

"Di sinilah konsep vaksin ini," tegas dia.

Lantas bagaimana jika Covid-19 telah bermutasi? Terlebih lagi mutasinya pada protein spike, apakah vaksin masih bisa efektif?

"Nah, kita perlu ingat, katakan ada (satu) protein spike yang termutasi ya. Tentu saja untuk antibodi yang ini dia tidak bisa mengenali (satu spike yang termutasi), akan tetapi ingat ada sekitar tiga antibodi karena tiga ini mengenali epitop yang masih normal yang belum termutasi," tutur Ahmad Utomo.

Sehingga kendati terdapat mutasi pada gen spike virus, maka antibodi yang awalnya mengenal gen spike yang belum termutasi menjadi tidak efektif lantaran sudah tak dapat dikenali.

Akan tetapi, kata Ahmad Utomo masih terdapat tiga antibodi yang mengenali spike di sisi lain virus. Sehingga diharapkan antibodi bakal tetap mendeteksi Covid-19 yang masuk ke tubuh dan segera menyerangnya.

"Dan data-data yang ada sekarang dari berbagai macam variasi mutasi varian dari Covid-19, sejauh ini masih bisa diblok," tutur dia.

Ketangguhan Vaksin Covid-19

Ahmad Utomo menyampaikan vaksin yang ada saat ini terbukti mampu mencegah gejala penyakit imbas infeksi Covid-19.

"Apakah vaksin bisa melakukan pencegahan? Dan vaksin yang ada sekarang itu terbukti bisa mampu mencegah gejala penyakit. Jadi kasus terjadinya Covid-19 pada relawan yang divaksin itu jauh lebih rendah daripada relawan yang menerima placebo," urai Ahmad Utomo.

Artinya, kata Ahmad Utomo, vaksin memiliki efektivitas cukup tinggi. Bahkan mencapai 95 persen.

"Vaksin ini memang memiliki efikasi lumayan tinggi, berkisar antara 65 hingga 95 persen," kata dia.

Lantas apakah vaksin mampu mencegah penularan Covid-19? Ahmad Utomo menegaskan belum ada pihak yang mampu mengetahui hal itu. Oleh karena itu, kendati vaksinasi telah dilaksanakan, patuh terhadap protokol kesehatan tetap merupakan kewajiban.

"Apakah masih bisa mencegah penularan? Kita tidak tahu, oleh karena itu penting bagi kita semua untuk tetap menggunakan masker bahkan setelah divaksin," pesan Ahmad Utomo.

Link to post
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...
  • Similar Content

    • By VOAIndonesia
      Banyak pengelola bangunan kesulitan menjaga keselamatan penghuni atau pengunjung dari penularan virus korona. Sebuah aplikasi manajemen ruang membantu pengelola gedung menata ulang ruang agar lebih aman bagi penggunanya.
       
    • By helenefriani
      Kehadiran vaksin Covid-19 dinanti jutaan orang di Indonesia. Perlahan tapi pasti, optimisme melawan pandemi semakin meningkat yang mana tidak hanya berpengaruh terharap kasus Covid-19, namun terhadap pemulihan ekonomi.
      Bagi pengusaha, datangnya vaksin berarti sedikit demi sedikit membangun kepercayaan para konsumen untuk kembali membelanjakan uang mereka. Pengusaha pun mengapresiasi kedatangan vaksin sebagai langkah awal imunisasi masal untuk mencegah penularan virus.
      "Dunia usaha menyambut baik dan mengapresiasi pemerintah yang sudah mulai menyediakan vaksin di Indonesia. Kami yakin ini bisa jadi game changer untuk pemulihan ekonomi di 2021," ujar Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang Hubungan Internasional Shinta Widjaja Kamdani saat dihubungi Liputan6.com, Selasa (8/12/2020).
      Alasannya, tentu karena adanya vaksin menjadi pendorong bagi pengendalian Covid-19 sehingga dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk beraktivitas secara fisik dan meningkatkan permintaan melalui konsumsi.
      Kendati, Shinta menyoroti keamanan dan efektivitas vaksin yang harus divalidasi dan benar-benar terjamin kualitasnya. Hal itu juga harus dikomunikasikan dengan baik kepada masyarakat.
      Kemudian, skema distribusi dan operasional harus berjalan cepat dan efektif dengan skala prioritas sesuai ketentuan pemerintah. Insentif terhadap pembiayaan vaksinasi juga harus sesuai dengan tingkat ekonomi masyarakat Indonesia.
      Terakhir, Shinta menekankan agar masyarakat dapat terus diingatkan untuk mematuhi protokol kesehatan meskipun sudah dilakukan vaksinasi.
      "Kalau vaksin bisa efektif untuk mengendalikan Covid-19, maka pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen bisa tercapai," ujarnya.
      Kehadiran Vaksin Covid-19 Gairahkan Industri Pariwisata, Ekonomi Kreatif dan UMKM
      Upaya pemerintah menghadirkan vaksin COVID-19 di Indonesia mendapat sambutan positif dari berbagai dunia usaha. Para pengusaha menilai vaksinasi adalah salah satu jawaban untuk kembali menggairahkan kembali roda perekonomian nasional menyongsong 2021.
      “Tentunya harapan dengan adanya vaksin ini akan menimbulkan rasa aman, rasa percaya dan mengurangi ketidakpastian, sehingga akan membantu orang mulai spending dan mengaktifkan kembali roda perekonomian,” harap Rosan Roeslani, Ketua Kamar Dagang Indonesia (Kadin) dalam Webinar KPCPEN dengan tema ‘Kesiapan Infrastruktur Data Vaksinasi COVID-19’, Selasa (1/12/2020).
      Optimisme yang sama juga disampaikan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Hariyadi Sukamdani, yang mengatakan, “Kami juga perlu menggarisbawahi bahwa efektivitas vaksin ini apabila sesuai harapan kita, tentunya akan membawa perbaikan kepada kita semua,”.
      Namun pengusaha meminta pemerintah kembali meninjau kewajiban pengusaha menyediakan anggaran untuk vaksinasi mandiri, karena terpuruknya kondisi finansial banyak perusahaan sebagai dampak dari wabah COVID-19.
      “Karena bagaimanapun juga, kita pada kondisi yang terdampak cukup berat, pada situasi seperti ini,” ungkap Hariyadi.
      Kehadiran vaksin nantinya diperkirakan akan dapat segera memulihkan dunia usaha seperti pariwisata, ekonomi kreatif dan juga usaha-usaha kelompok UMKM yang banyak menyandarkan pada pertemuan fisik.
      Pemerintah sendiri saat ini sudah memberi isyarat akan segera menghadirkan vaksin secara bertahap mulai akhir tahun ini. Sementara itu, data survei yang dilakukan Kementerian Kesehatan, ITAGI, dan UNICEF menyebutkan sekitar 64,8 persen masyarakat Indonesia percaya dan menerima vaksinasi.
    • By congek
      Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo keluarga bisa berperan sebagai kunci dari pencegahan COVID-19.
      Pernyataan tersebut disampaikan Hasto dalam siaran dialog dari Graha BNPB.
      "Yang perlu kita sadari bersama, di hari-hari ini, klaster satu dengan klaster yang lainnya sudah bertemu dan bertemunya di keluarga. Oleh karena itu klaster keluarga ini tidak bisa dihindari," ujarnya dikutip Jumat (9/10/2020).
      Ia mengatakan, keluarga merupakan sentral dari pencegahan COVID-19 apabila ingin dilakukan di tingkat hulu.
      "Bagaimana pun juga tempat berkumpulnya mereka yang dari kelompok di mana saja beraktivitas adalah keluarga. Inilah yang tidak bisa kita hindari, mau tidak mau, suka tidak suka, keluarga memang menjadi klaster terakhir setelah klaster-klaster sudah dilewati."
      "Kalau keluarga ini kita kuatkan, anak-anak dalam keluarga ini bisa menjaga orangtuanya atau neneknya yang punya komorbid atau risiko tinggi, maka insyaallah, sukseslah kita mencegah morbiditas dan mortalitas untuk orang-orang dengan komorbid," Hasto menambahkan.
      Risiko dalam Keluarga Berbeda-Beda
      Dwi Listyawardani, Kepala Sub Bidang Sosialisasi Perubahan Perilaku Satgas COVID-19 mengatakan bahwa setiap anggota keluarga harus mengambil peran untuk menjaga dirinya masing-masing.
      Dani, yang juga Deputi Bidang Pengendalian Penduduk BKKBN, mengatakan bahwa keluarga memang menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang bekerja di luar rumah atau mereka yang memiliki tingkat risiko infeksi yang berbeda-beda.
      "Masing-masing punya derajat risiko yang berbeda, di mana mungkin yang usianya lebih tua karena adanya komorbid, maka risikonya untuk menjadi positif, katakanlah demikian, menjadi lebih besar."
      "Mau tidak mau di dalam keluarga diterapkan 3M," tambahnya.
      Meski begitu, Dani juga mengakui adanya tantangan dalam penerapan jaga jarak dalam keluarga, khususnya di perkotaan. Hal ini mengingat seringkali keterbatasan ruang di rumah menjadi kendala untuk melakukan ini.
    • By yhosan
      Kepolisian Resor Kota Sidoarjo memberi efek jera bagi 54 orang pelanggar protokol kesehatan COVID-19 yang kedapatan tidak mengenakan masker saat keluar rumah.
      Sebagai bentuk hukuman, mereka berdoa bersama di makam khusus korban virus corona baru atau COVID-19, di pemakaman Delta Praloyo.
      "Rupanya hukuman sosial dengan membersihkan fasilitas umum yang selama ini diterapkan masih belum mendapatkan efek jera dari pelanggar protokol kesehatan ini, sehingga kami berinisiatif menyuruh para pelanggar itu untuk berdoa bersama di makam khusus korban COVID-19 di Sidoarjo ini," ujar Kepala Kepolisian Resor Kota Sidoarjo Komisaris Besar Polisi Sumardji, di Sidoarjo.
      Dia mengatakan, para pelanggar terjaring razia jam malam, dan mengabaikan protokol kesehatan dengan tidak memakai masker. Razia itu digelar oleh petugas gabungan polisi, TNI, dan Satpol PP di warung kopi dan kafe.
      "Selama ini warga di Sidoarjo masih banyak yang mengabaikan protokol kesehatan. Kedisiplinan warga masih kurang terutama yang tidak menggunakan masker dan melanggar jam malam," katanya lagi.
      "Ini salah satu upaya untuk membuat mereka jera. Selain itu, ini bentuk untuk penyampaian moral ke warga Sidoarjo tentang bahayanya COVID-19 itu nyata," tambahnya. 
      Kapok
      David, warga Sidoarjo yang terjaring razia mengaku sangat kapok tidak akan mengulangi lagi dan berjanji akan menggunakan masker setiap keluar rumah.
      "Saya merasa takut mas malam-malam ngaji bareng baca tahlil di tengah pusara pasien COVID-19," kata David lagi.
      Sementara itu, jumlah pasien COVID-19 di Sidoarjo hingga Jumat, 4 September kemarin tercatat sebanyak  5.327 orang yang dinyatakan positif. 
      Dari jumlah itu yang terkonfirmasi meninggal dunia sebanyak 345 orang.
    • By keenion
      Jumlah pasien rawat inap terkait virus corona Covid-19 di Rumah Sakit Darurat (RSD) Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta dan Rumah Sakit Khusus Infeksi (RSKI) Pulau Galang, Kepulauan Riau, berkurang.
      Pada hari ini, Selasa (18/8/2020), terjadi pengurangan 21 pasien rawat inap di RSD Wisma Atlet. Sehingga total pasien rawat inap yang masih menghuni RSD Wisma Atlet sebanyak 1.312 orang. Data ini diterima hingga pukul 08.00 WIB.
      "Pasien rawat inap di RS Darurat Wisma Atlet berkurang 21 orang, dari semula 1.333 menjadi 1.312 pasien," ujar Kepala Penerangan Kogabwilhan-I Kolonel Marinir Aris Mudian dalam keterangannya, Selasa (18/8/2020).
      1.312 pasien rawat inap di RSD Wisma Atlet terdiri dari 731 pria dan 581 wanita. Dari jumlah tersebut, pasien yang terkonfirmasi positif sebanyak 1.306, sementara pasien suspek 6 orang.
      "Pasien terkonfirmasi positif berkurang 22 dari semula 1.328 menjadi 1.306 orang. Pasien suspek bertambah 1 menjadi 6 orang," kata Aris.
      Aris mengatakan, sejak dibuka 23 maret 2020, pasien yang terdaftar di RSD Wisma Atlet secara keseluruhan mencapai 10.903 orang. Sementara pasien yang sudah keluar sebanyak 9.127.
      "Dari 9.127 pasien keluar, yang dirujuk ke RS lain sebanyak 235 orang, sembuh 8.888 orang, meninggal 3, dan tanpa izin 1 orang," kata Aris.
      RS Pulau Galang Rawat 222 Pasien
       
      Sementara pasien rawat inap di RSKI Pulau Galang sebanyak 222, terdiri dari 172 pria dan 50 wanita. Dengan rincian pasien terkonfirmasi positif sebanyak 55 orang, pasien suspek sebanyak 167 orang.
      "Pasien rawat inap sebanyak 222 orang, terkonfirmasi Positif 55 orang, pasien suspek 167 orang," kata Aris.
×
×
  • Create New...